BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 12

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal

When you cried I’d wipe away all of your tears
When youd scream I’d fight away all of your fears
And I’ve held your hand through all of these years
But you still have all, of me (Evanescence – My Immortal)

Chapter 12

Anehnya, hari itu berubah menjadi hari yang menyenangkan setidaknya katakanlah begitu, dan hal itu berarti segalanya bagi Tiffany. Setelah empat tahun lamanya ia terus menerus hidup di bawah bayang-bayang bahwa Taeyeon membenci segala sesuatu yang berhubungan dengan dirinya, dalam beberapa hal, dia memang benar. Namun kebencian itu tak lagi ada di hati mereka yang pernah saling mencintai dengan sungguh-sungguh dan tulus, setidaknya tidak untuk waktu yang lama.

Tiffany mengambil segengam pasir kemudian menjatuhkannya ke tanah seperti jam pasir. Ia merasa terabaikan, dan memang, sungguh, karena sekarang ia tengah menatap Taeyeon yang sedang menggendong Juhyun di sampingnya. Dan ia tahu, tak seharusnya ia merasa entah mengapa cemburu.

Ia cemberut layaknya bocah kecil yang tidak mendapatkan apa yang ia inginkan. Namun disaat yang sama, ia tak dapat berbuat apapun kecuali menunggingkan seulas senyum melihat interaksi keduanya. Tiffany tahu Taeyeon menyukai anak-anak dan sebaliknya namun ia tak pernah berkesempatan untuk melihatnya secara langsung.

‘Jika saja kau menikah dengannya…’

Tiffany tertawa pahit saat ia bersandar di bawah lapik. Matahari sudah mulai terbenam dan mereka berdua masih menikmati waktu bersenang-senang seolah mereka baru saja tiba disini. Ia memejamkan matanya selama beberapa saat, menggunakan kedua lengannya untuk menutupinya dan mendesah saat ia mendengarkan suara apapun yang ada disekitarnya.

“Fany-ah, jangan tertidur. Mataharinya akan segera terbenam.”

Ia mendengar suara lembut Taeyeon tepat di telinganya dan secara tidak sadar ia tersenyum. Ia menyukainya, tidak, ia mencintainya, kapanpun Taeyeon berbicara dengan lembut padanya, kesempurnaan nada suaranya yang selalu terdengar rendah untuk dapat ia dengar. Ia suka bagaimana napas Taeyeon mengelitik daun telinganya saat ia membisikkan tiap kata. Kata-kata itu pun tetap ia simpan dalam hatinya tak peduli betapa sederhana dan sepelenya kata-kata tersebut.

“Tapi, aku mengantuk TaeTae..” Rengeknya.

“Tidak akan lama, Fany, aku janji. Lalu, kita dapat pulang dan tidur setelahnya.”

Tiffany bergeser dan mendongak ke arah Taeyeon yang tengah tersenyum manis padanya, wajahnya terlihat jelas tengah mengantuk. Tiffany melihatnya, tepat di matanya, dan tak melihat apapun hanya cinta dan kepuasan hati. Tanpa sadar Tiffany ikut tersenyum.

“Mengapa kau terlihat begitu bahagia?” Tanya Tiffany, agak berbisik saat ia menjangkau wajah Taeyeon untuk membelai lembut pipinya.

“Begitukah?” Ia merasa Taeyeon bersandar menikmati sentuhannya.

“Yeah. Aku dapat melihatnya dari matamu.”

Taeyeon melihatnya dengan sungguh dan Tiffany merasa gelisah akibat tatapannya. Ia melihat wajahnya semakin mendekat, dan Tiffany perlahan menutup kedua matanya saat merasakan sepasang bibir yang menyentuh keningnya.

Saat ia membuka kedua matanya,  Tiffany masih melihat seapasang mata yang sama tetap menatapnya, kali ini lebih lembut.

“Tatap kembali kedua mataku dan kau akan tahu mengapa.”

Tiffany tersenyum, lebar, karena ia tidak melihat apapun dalam kedua mata Taeyeon kecuali refleksi dirinya.

Tiffany merasakan setuhan di sampingnya.

“Hmm?”

Perlahan ia membuka kedua matanya, mengerjapkannya beberapa kali sebelum memfokuskan pemandangan kabur di hadapannya.

“Hi..” Ia mendengar bisikan Taeyeon.

Tiffany melihat Taeyeon dan anaknya dengan aman terkunci di lengan wanita di sampingnya. Taeyeon tengah berjongkok di sebelahnya ketika Juhyun dengan tenang tertidur di pundaknya. Tanpa sadar, ia tersenyum.

“Aku minta maaf, apa aku ketiduran?” Tanya Tiffany.

“Yeah, kurasa begitu. Aku kembali karena matahari sudah hampir tenggelam dan kupikir kau ingin melihatnya namun kau tertidur dan aku benar-benar tidak tega untuk membangunkanmu jadi…. Yeah, kita ketinggalan matahari terbenamnya.”

Ia melihat mulut Taeyeon yang bergerak-gerak namun sepertinya ia tidak dapat mendengar apapun. Seolah telinganya seketika tertutup dan yang dapat ia fokuskan hanya wajahnya, bibirnya, matanya.

Mata Taeyeon.

“Tiffany, apa kau baik-baik saja?”

Ia tersadar dari lamunannya dan melihat Taeyeon mengerutkan alis. Tiffany tidak menyadari betapa dalam ia telah menatapnya sampai ia melihat Taeyeon bergerak dengan gugup dan gelisah akibat tatapannya.

“Yeah, aku, uh, aku baik-baik saja.”

Tiffany hampir saja berdiri saat Taeyeon menggeser tubuh Juhyun dan mengulurkan tangan untuk membantu Tiffany.

“Terimakasih,” Tiffany tersenyum, masih memengang tangan Taeyeon.

“Tidak masalah,” Taeyeon melihatnya, lembut, seperti biasa.

Dan Tiffany bersumpah, ia dapat melihat bayangan dirinya dalam mata Taeyeon.

Ia hampir saja melepas tangan Taeyeon sampai ia merasa sesuatu yang dingin menyentuh telapak tangannya.

Sebuah cincin.

‘Taeyeon… menikah?’

_____

Taeyeon mengeser Juhyun dengan lengannya dan memopongnya dengan baik saat ia berjalan bersisian dengan Tiffany. Matahari sudah tenggelam dan langit menyembur dengan corak biru dan ungu, menyelimuti pantai tenang itu dengan warna yang indah. Dia tersenyum saat melihat sekelilingnya bercorak warna yang ia suka. Namun ia mengernyih saat melirik ke arah Tiffany lalu mendapatinya cemberut dan agak terganggu.

“Kau baik-baik saja?” Ia hanya dapat bertanya.

“Yeah.”

Ia sedikit terkejut dengan jawaban ketus Tiffany, namun walau bagaimanapun Taeyeon tetap menerimanya. Tiffany dapat benar-benar kasar saat ia tengah murung, dan Taeyeon tidak ingin berada di tengah-tengahnya.

“Okay.”

Suasana berubah sedikit canggung dan Taeyeon merasa bersyukur ia tengah menggendong gadis kecil di lengannya. Setidaknya Juhyun membuat perhatiannya sedikit terabaikan, walaupun hanya untuk berpikir bagaimana menggendong gadis itu dengan baik dan benar tanpa membangunkannya.

Sudah mulai dingin di luar, dan keduanya benar-benar ingin menyelamatkan diri dari angin dingin, mereka memutuskan untuk kembali ke hotel dan meletakkan gadis kecil itu untuk tidur di tempat yang lebih baik. Mereka telah melewatkan makan malamnya namun bersyukur bahwa mereka telah mengambil sesuatu sebelum Juhyun kembali tertidur.

Mereka telah sampai di depan pintu kamar saat Taeyeon akan meraih kuncinya. Namun Tiffany seketika menghentikannya.

“Biarkan aku yang melakukannya.” Seulas senyum.

Canggung. Pikir Taeyeon, namun ia lega melihat senyuman itu, tak peduli betapa kecilnya.

“Terimakasih.”

Mereka hampir memasuki ruangan saat terdengar suara yang tak asing menghentikan langkah mereka.

“Hey Tiff, ingin pergi ke—Oh hi Taeyeon!”

_____

“Sssh!”

Tiffany ingin tertawa saat ia melihat Taeyeon menyuruh Jessica untuk diam. Taeyeon dapat begitu protektif pada siapapun namun ia tak pernah membayangkan akan terjadi pada anaknya sendiri. Ia menelan ludah.

“Woops, maaf.”

Ia hampir tidak mendengar suara Jessica.

Tiffany tetap menatap Taeyeon saat ia mulai mengayunkan kakinya perlahan-lahan, mengayun Juhyun sambil menyenandungkan nada lembut di dekat telinga gadis kecil itu. Pemandangan itu membakar tenggorokannya dan membuat matanya mulai terasa perih.

“Ngomong-ngomong Tiff, ingin pergi makan malam bersamaku? Aku sangat lapar dan tak ingin makan sendirian. Yuri sudah tertidur setelah mengurung dirinya di pusat kebugaran.”

Semua ucapan Jessica terdengar sangat pelan namun Jessica mencoba menangkap tatapan yang sahabatnya berikan pada sang fotografer pernikahannya tersebut. Ia menatap bolak balik ke arah Tiffany lalu kembali pada Taeyeon.

Terlalu menyakitkan untuk diamati, bahkan untuk Jessica.

_____

“Kau harus berterimakasih karena aku telah meyeretmu kemari. Jika dia melihat tatapanmu padanya seperti itu…. Aku tidak mengerti karena jika aku jadi dia, aku akan memesan kamar terpisah saat itu juga.”

Tiffany terkikik mendengar pengakuan Jessica namun ia tahu bahwa sahabatnya itu benar. Ia harus bersyukur bahwa Jessica telah menghalau tatapannya yang seperti orang bodoh dan ia benar-benar tidak ingin dijuluki seperti itu sekarang. Tidak ketika ada sesuatu yang harus diketahuinya.

“Bersedia untuk menjelaskan padaku apa yang terjadi?” Ia mendengar permintaan Jessica.

“Apa maksudmu?” Ia menyesap wine di gelasnya dan berbalik menghadap sisi terjauh restoran itu.

“Oh, please Tiff, kau tahu taktik seperti itu tidak mempan untukku. Katakan saja mengapa kalian bertiga terlihat seperti keluarga bahagia yang baru saja pulang dari jalan-jalan yang menyenangkan? Dan tak lupa menyebutkan tatapan yang kau berikan padanya. Aku benar-benar tak memahaminya sampai sekarang.”

Kebodohan Jessica cukup menghiburnya, hampir setiap waktu, namun selalu ada umpamannya, misalnya sekarang, sangat menyakitkan karena kenyataannya memang menyakitkan dan Tiffany sudah lelah merasakan sakit karena kenyataan.

Karena kenyataannya ia tidak pernah mendapatkan ‘keluarga’ seutuhnya.

Tiffany mendesah dan Jessica menggigit lidahnya. Ia tahu ia telah menyelipkan kata-kata itu.

“Aku minta maaf Tiff, aku hanya—.”

“Aku tahu Jessi, aku mengerti.” Katanya sambil meraih dan menepuk tangan Jessica.

“Jadi, jelaskan padaku?”

“Aku dan Taeyeon akhirnya berbicara.” Kali ini Tiffany tersenyum, tulus.

“Menarik….”

Ia melihat Jessica bersandar pada kursinya saat ia mengisyaratkan pada pelayan untuk membawakannya lagi sebotol wine. Ini akan menjadi malam yang panjang, pikir Tiffany.

_____

-TBC-

Iklan

35 thoughts on “Back For Good Chapter 12”

  1. Pany mrnyesal meninggal tae stelah apa yg terjadi Dan kel kecilnya yg ga akan terfikir ke2 kali klo yg di ambil fany salah?,
    Karma berlaku bagi siapa aja yg menyakiti hati tulips seorang Kim taeyeon😑

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s