BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 13

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

Cause every night 
I’m talking to the moon
Still trying to get to you

(Bruno Mars – Talking to The Moon)

Chapter 13

Taeyeon menggenggam kedua cincin itu, ia tak pernah merasa sebahagia ini dalam hidupnya. Kedua ukiran yang akan mengesahkan janji mereka satu sama lain sekarang sudah berada di telapak tangannya dan ia tidak sabar untuk menujukkannya pada Tiffany.

Untuk memakainya.

“Aku menemukan cinta…”

“… dan cinta itu adalah kau.”

Taeyeon meletakkan cincin itu kembali pada kotaknya dan berjalan keluar dari toko dengan hati berbunga-bunga.

Taeyeon mendapati dirinya tak henti memainkan satu cincin yang ia kalungkan di lehernya, membalik-balikkan logam dingin itu pada rantainya, menarik dan menggelindingkannya hingga terjerat.

Dengan napas berat, Taeyeon menarik cincin yang terjerat itu di depan wajahnya dan bertanya-tanya bagaimana jika Tiffany menggunakannya. Dia tertawa kecil menyadari kenyataan pahit itu. Jika dia ingin memulai segalanya kembali dari awal bersama Tiffany, maka akan lebih baik jika dia membuang jauh masa lalu dan perasaannya. Namun bagaimana bisa, jika hanya dengan melihat Tiffany berdiri di atas batu dan pergi darinya sudah membuatnya khawatir.

Taeyeon mengayunkan cincin itu menembus sinar matahari dan ukiran yang ada di dalamnya terefleksi di matanya, membuatnya sedikit mengernyih, membuat hatinya sedikit sakit.

‘Cinta itu tidak lagi aku, huh?’

Taeyeon tertawa pahit sebelum memasukkan kembali kalung itu di dalam kemejanya. Ia kemudian menatap cincin yang ada di jarinya dan mendesah.

‘Meskipun kau tidak menikah denganku, aku akan selalu mencintaimu, Fany.’

Taeyeon berdiri dan membersihkan celananya. Empat tahun sudah sejak ia menemukan jurang sepi yang berhadapan langsung dengan horison dan ia bersyukur bahwa ia telah menemukan tempat yang sungguh menentramkan hatinya. Tempat ini benar-benar membantunya menyembuhkan luka hatinya, ia tak pernah membayangkan akan kembali ke tempat ini selama bertahun-tahun lamanya.

Taeyeon menyeret kakinya di atas pasir. Ia tak peduli walaupun kerikil-kerikil kecil mulai menggarut telapaknya. Ia merasa kaku dan hatinya sudah mati dan ia merasa tak ada lagi di dunia ini yang dapat menyakitinya sedemikian rupa. Kedua tangannya menggantung di sampingnya, dan walaupun kedinginan, Taeyeon masih dapat merasakan ada lubang di hatinya dan terbakar.

Ia melewati berpuluh-puluh turis, sepertinya, namun ia tidak tersenyum seperti yang ada di wajah mereka. Sudah tiga hari berlalu, namun sakit di hatinya tak ingin pergi. Ia berpikir mungkin, walaupun sedikit, alam dapat membantu menyembuhkannya, namun ketika kau berdiri di tempat yang sama di tempat seharusnya kau menikahi orang yang kau cintai, di tempat yang sama saat dia meninggalkanmu, bahkan mungkin surgapun takkan mampu melakukan apapun untuk membawa pergi luka itu.

Taeyeon tak berhenti melintasi sepanjang pantai hingga kakinya terasa letih. Telapak kakinya mulai terasa sakit, dan ia tertawa kering, ironis, karena ia merasa takkan lagi dapat merasakan sakit. Ia mengenakan sandal jepit selop yang ia bawa sedari tadi, dan napasnya terhenti ketika ia menyadari kemana kakinya membawanya pergi.

Ia maju selangkah, dengan hati-hati dan mengusut dengan kasar jajaran batu-batu dengan kedua matanya. Sangat indah, bagaimana batu besar itu muncul dari balik pasir, membentuk benteng batu-batu abstrak.

Taeyeon menemukan jalan sempit, dan mengikutinya hingga ia sampai ke atas bukit.

Ia kembali menatap ke langit biru yang mewarnai horison sebelum bersiap kembali menuruni bebatuan.

_____

“Hey, S-Sunny. Uhm,” Tiffany tidak mengerti mengapa dia tergagap seperti itu. “Apa kau melihat Taeyeon?”

“Uh, tidak. Sekarang karena kau mengatakannya, aku belum melihatnya seharian ini.”

Tiffany melangkahkan kakinya memasuki kamar hotel Sunny setelah gadis itu melangkah ke samping untuk mempersilahkannya masuk. Pikirannya membuatnya terjaga sepanjang malam setelah tamasya di pantai kemarin dan Tiffany tidak dapat menahan rasa penasarannya. Sunny mengisyaratkan Tiffany untuk duduk di sofa sebelum menawarinya minum.

“Air saja, terimakasih.”

Dia meminum langsung dari botolnya dan ia dapat merasakan tatapan Sunny menusuk tulangnya.

“Ku rasa kau tidak benar-benar sedang mencari Taeyeon. Apa yang kau butuhkan, Fany?”

Tiffany tersenyum.

Ia hampir lupa betapa prespektifnya Sunny, sangat jauh berbeda dengan sahabatnya Jessica, dan dia merasa lebih lega. Tak ada lagi alasan untuk menyembunyikannya, karena jika ia ingin membangun kembali bersama Taeyeon maka empat tahun sudah cukup untuk ia habiskan.

“Dapatkah aku bertanya padamu? Dan bisakah kau jawab dengan jujur?” Mulainya.

Sunny menaikkan alisnya pada Tiffany. Dia tidak ingin mengakuinya namun dia sangat penasaran dengan permintaan Tiffany.

“O-Okay. Selama aku tahu jawabannya, mengapa tidak? Katakan.”

Tiffany menghela napas dalam.

“Apakah Taeyeon sudah menikah?”

Sunny tersedak.

“W-What?!”

Tiffany  menghindari tatapan Sunny yang seolah berkata ‘Apa yang salah denganmu.’ Dan entah mengapa ia merasa bodoh telah menanyakan pertanyaan itu. Sebuah kejujuran, pikirnya, namun mengapa Sunny menatapnya seolah ia adalah makhluk yang berasal dari planet lain.

‘Mengapa? Memangnya Taeyeon tidak bisa menikah?’

“Mengapa kau menanyakan hal itu?!”

Sunny masih sedikit terbatuk saat Tiffany berdiri dari tempat duduknya untuk mengusap punggung Sunny. Lagipula dia yang membuatnya batuk, walaupun tanpa disengaja.

“Aku… Aku hanya ingin tahu saja.” Bisik Tiffany.

Ia melihat Sunny mengangkat alisnya setelah batuknya mereda.

“D-Dan… Aku melihat—Aku melihat cincinnya.” Gagap Fanny saat ia mencoba untuk mengelak dari tatapan Sunny.

“Fany…”

Tiffany menatap mata Sunny dan dia merasakan detak jantungnya berpacu atas apa yang ia lihat.

_____

Taeyeon merasa seolah apa yang telah ia lakukan selama ini semakin menjemukkan, memotret dan kembali ke hotel dengan kondisi kelelahan, kelaparan, kebingungan dan menyedihkan.

Tak seharusnya ini menjadi liburan baginya, ia tahu dengan pasti, namun ia merasa ini adalah satu-satunya proyek yang paling melelahkan. Dan harus ia akui, sebagian besar dikarenakan kehadiran seseorang yang ia pikir telah lama menghilang bersama masa lalunya.

Taeyeon mendengar Juhyun tertawa kecil segera ketika ia membuka pintu dan hal itu membuatnya hampir semerta-merta tersenyum. Gadis kecil itu sudah mengambil penuh hatinya, seperti sebagaimana ibunya melakukan hal yang sama saat pertamakali mereka bertemu dan entah mengapa ia pikir, memilukan, jika setiap orang yang telah membuat kesan di hidupnya akan meninggalkannya.

“Tae… Tae-Taeyeon! Tolong!”

Fotografer itu tersenyum hangat pada gadis kecil yang tengah tersenyum sambil mencoba untuk meraihnya dari sofa, tubuh mungilnya dipegangi oleh Yuri saat Jessica dengan nakal mengelitiki pinggangnya. Dia terkikik melihat pemandangan manis itu.

Menghangatkan hatinya.

“Hey, Taeng!”

“Hi, Taeyeon!”

“Hi, Yuri, Jessica.”

Dia memutari sofa dan berlutut di sampingnya, menghadap Seohyun yang tengah tertawa sambil terengah-engah di atas bantalan sofa. Keduanya berhenti menyiksa gadis kecil yang malang itu dan ketiga orang dewasa itu menatapnya dengan seringai di wajah mereka.

“Dari mana saja kau, Taeng?” Ia mendengar Yuri bertanya saat gadis itu melingkarkan lengannya di pundak Jessica.

“Mencari angin segar, mengambil beberapa gambar, dan mengotori telapak kakiku dengan pasir. Kau tahu, seperti biasa,” ia tersenyum pada pasangan yang tengah bersinar itu. Ia benar-benar bahagia dengan mereka.

Taeyeon merasakan sesuatu yang merarik tangannya dan melihat ke arah Juhyun yang tengah meregangkan tangan kearahnya.

“Ia sekarang milikmu Taeng. Waktuku untuk membawa tunanganku makan malam.”

“Ap—Tunggu! Dimana Tiffany?” Taeyeon mengangkat Juhyun dari sofa dan mengikuti mereka berdua ke arah pintu.

“Ia pergi keluar. Dia memangil kita pagi-pagi sekali dan meminta kita untuk mengasuh Juhyun sebentar. Dah, Taeyeon!”

Dan dengan itu, baik Jessica maupun Yuri menghilang, meninggalkan dirinya untuk mengurus anak kecil yang tengah melingkarkan di tubuhnya sambil bermain dengan kalung yang berada di batas kerah kemejanya.

“Cincin! Berkilau!”

Taeyeon menunduk ke arahnya dan tersenyum. “Yup, benar. Kau sangat pintar.”

Mereka kembali ke ruang tamu dan Taeyeon memutuskan untuk menonton Televisi sembari menunggu Tiffany. Ia meneliti benda berbentuk kubus itu untuk mencari acara kartun dan berhenti memindah channelnya ketika ia sudah menemukannya.

“Apa kau sudah makan?” Tanya Taeyeon pada gadis kecil yang sedang duduk di pangkuannya.

“Uhuh.”

“Okay.”

Satu setengah jam sudah acara itu ditayangkan dan Taeyeon masih belum tahu isi acara tersebut. Ia mengamati ekspresi serius di wajah Juhyun yang tengah menonton kartun dan ia hanya dapat terkikik. Ia menarik kembali perhatiannya pada Televisi yang menayangkan seekor bayi singa sedang berbicara dengan ayahnya.

‘H-Haruskah aku?….’

Rasa ingin tahunya mengalahkannya.

“Juhyun?”

“Hmm?” Gadis kecil itu menatapnya dengan tatapan penuh tanya.

“Dimana ayahmu?”

Taeyeon melihat Juhyun menundukkan kepala. Gadis kecil itu menggelengkan kepalanya perlahan untuk beberapa alasan yang tidak jelas, Taeyeon merasa bersalah karena telah menanyakan hal tersebut.

“Kau tidak tahu dimana dia?” Taeyeon bertanya dengan lembut.

Lagi sebuah gelengan.

“Bolehkan aku bertanya, siapa namanya?”

Ia mengangkat kedua pundaknya.

“Apa kau baik-baik saja, sayang?” Taeyeon bertanya saat ia mengerutkan kedua alisnya.

Kehidupan seolah terhenti, gadis yang biasanya hipper itu berubah diam dan Taeyeon mulai memerhatikannya.

“Tidak.” Bisik Juhyun.

“Tidak? Mengapa?”

Taeyeon mengangkat gadis itu ke pangkuannya dan memeluk tubuhnya, menimang di lengannya. Juhyun seketika menjulurkan lengan untuk melingkarkannya ke leher Taeyeon dan mengamit tubuh mereka.

“Tidak ada daddy, hanya mommy.”

Bisik gadis kecil itu namun cukup jelas di telinga Taeyeon.

_____

-TBC-

Iklan

38 thoughts on “Back For Good Chapter 13”

  1. lihatlah apa yang kau perbuat fany.. kehilangan satu dan yang lainnya.. juhyun tak berhak mengalami masa itu..

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s