One Shoot, SNSD, SOSHI FF

SAY YES [ONE SHOOT]

tumblr_lpwiazzPqT1r04ya7o1_500

Tiffany terus berguling di tempat tidurnya. Sudah berkali-kali ia mencoba memejamkan mata namun tetap saja ia tidak bisa tertidur. Sudah berbagai cara ia lakukan, memakai kaca mata tidur, menyemprot aromatherapy di sekitar

tempat tidurnya hingga menyetel musik klasik pun tetap sama sekali tidak membantunya tertidur.

Sudah beberapa hari ini ia selalu seperti itu, matanya terasa berat untuk melihat namun pikirannya masih terus mengajaknya berargumentasi. Ada banyak hal yang mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. Taeyeon…

Yeah, sahabatnya sendiri…

Beberapa hari yang lalu, sahabatnya Jessica memberitahukan satu hal yang begitu ingin ia dengar namun tak pernah sebelumnya ia duga akan terjadi. Taeyeon… Gadis itu benar-benar membuatnya gila.

Jessica berkata bahwa ia secara tidak sengaja mendengar percakapan Taeyeon dan Yuri di ruang ganti selepas pertandingan baseball minggu lalu. Yeah, ia memang tak perlu menanyakan alasan Jessica perihal mengapa ia bisa berada (menguping) dalam satu ruangan dengan mereka. Terlalu jelas baginya untuk melihat betapa Jessica menggilai captain baseball kampus mereka itu…  Kwon Yuri. Namun, gadis itu terlalu ‘dingin’ untuk mau mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan.

Kembali pada percakapan, Jessica secara tidak sengaja mendengar Taeyeon berkata bahwa ia akan menyatakan perasaannya  kepada sahabatnya, Tiffany. Walaupun, Tiffany sendiri sempat bertanya-tanya perasaan macam apa yang akan di ungkapkan Taeyeon padanya. Bahkan, seisi kampus pun takkan bertanya dua kali dengan –perasaan macam apa yang akan Taeyeon ungkapkan pada Tiffany- sudah sangat jelas dan mereka semua mengetahuinya, semacam rahasia umum. Justru yang sangat mengejutkan adalah mengapa membutuhkan waktu yang begitu lama bagi mereka untuk menyadari perasaan mereka satu sama lain.

Tidak seperti Tiffany, Jessica tak begitu terkejut mendengar hal itu. Ia hanya bertanya-tanya kapan namanya akan disebut oleh sang kapten. Kwon Yuri. Lagipula, Jessica di sisi lain tidak begitu pandai dalam mengungkapkan perasaannya. Ia lebih memilih memakai topeng dengan cara berpura-pura bersikap dingin dan cuek pada sang kapten. Oleh karena itu, tak banyak yang tahu perihal hal spesial yang sudah lama ia pendam dalam diam. Hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya, salah satunya adalah Tiffany.

Sejak kecil, mereka memang berteman akrab. Setelah terpisah saat duduk di Sekolah Atas, mereka akhirnya kembali berada di kampus yang sama bersama Taeyeon dan Yuri dan keduanya adalah gadis paling popular di kampus itu.

Baik, memangnya siapa di kampus yang tak kenal mereka? Keduanya charming dengan gayanya masing-masing dan yang paling penting mereka berada dalam satu club yang sama. Klub baseball yang sangat terkenal di Sowon University.

Sementara Taeyeon dan Yuri sangat terkenal dengan –prince charming- mereka, Tiffany dan Jessica di lain pihak terkenal dengan –princess effect- mereka. Tiffany dengan smiling princess nya dan Jessica dengan ice princess nya.

Taeyeon adalah teman sekelas Tiffany semasa SMA. Mereka memang sudah sangat dekat, dan seperti itulah kesehariannya. Kedekatan mereka awalnya bermula dari Tiffany yang kesepian karena ia tak berada di satu sekolah yang sama dengan Jessica. Taeyeon menemukannya saat ia tengah kesepian, menata kembali hatinya di tempat yang tepat dengan posisi yang pas sempurna.

Awalnya, ia hanya menganggap Taeyeon sahabat dekatnya sendiri seperti Jessica. Namun, tanpa ia sadari perasaan yang tumbuh dalam dirinya kian hari kian membesar untuk dapat ia abaikan begitu saja. Setiap kali ia mencoba untuk memikirkan pria lain atau setidaknya gadis hot lain yang ada di sekolah mereka, namun ia selalu gagal. Ia tahu ia takkan pernah bisa berpaling dari Kim Taeyeon. Pesonannya begitu charming untuk dapat ia tolak. Menyedihkan, bukan?

Bertahun-tahun ia hidup dengan perasaan aneh itu, benar… ia selalu menganggap hal itu aneh, menyedihkan. Taeyeon selalu dikelilingi oleh gadis-gadis cantik dan sexy yang ada di sekolah atau pun kampus mereka dan hal itu tidak pernah membuatnya tenang. Berkali-kali ia mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa hal itu takkan berpengaruh apa pun dengan persahabatan mereka saat ini, namun tetap saja ia tak berhasil. Hal itu hanya akan membuatnya semakin menginginkan Taeyeon lebih dari apapun juga. Menyakitkan memang baginya, saat Taeyeon semakin popular dan semakin banyak gadis yang mengelilinginya.

Diam-diam, ia dan Jessica akan datang dan menonton setiap pertandingan mereka. Walaupun Jessica kerap kali mengelak bahwa ia hanya datang untuk menemani Tiffany, namun ia tak pernah mempermasalahkannya. Ia cukup senang Jessica dapat kembali membuka hatinya setelah seseorang telah menyakitinya. Donghae… Tiffany takkan pernah melupakannya, pria brengsek itu telah menghancurkan hati sahabatnya. Memporak-porandakan hidupnya yang semula sempurna. Baginya, Yuri seolah mengembalikan sosok Jessica yang sudah lama menghilang.

Tak kurang ia bermimpi tentang seperti apa jadinya jika mereka berempat dapat berkencan bersama. Dengan Taeyeon-Tiffany dan Yuri-Jessica tentunya. Membayangkan betapa romantisnya hari-hari mereka di kampus, dengan label King-Queen dan Prince-Princess yang ditujukan pada mereka. Hanya dengan membayangkan itu setiap hari pun dapat membuat hatinya berbunga-bunga. Tiffany terlalu delusional.

Setelah sekian lama ia memikirkan hal yang –tak berani- ia khayalkan sebelumnya, perlahan Tiffany pun mulai terlelap dalam tidurnya. Beberapa jam berlalu sebelum alaram di samping tempat tidurnya berbunyi nyaring. Mengganggu mimpi indahnya. Di dalam tidur –singkatnya- ia bermimpi tengah asyik makan malam romantis bersama Taeyeon di pinggir pantai, merasakan (dan tersesat) dalam tatapan Taeyeon di tengah dinginnya angin dan kerasnya ombak. Sungguh hangat dan menenangkan.

Namun hal itu tak berlangsung lama setelah jam berisik itu mengkandaskan meja makan malam mereka dan Tiffany bangun dengan tergesa meskipun harus menunggu benda itu berdering untuk kelima kalinya pagi ini.

Menyebalkan… 4 jam memimpikan Taeyeon terasa hanya 4 menit baginya. Terlalu singkat untuk momen yang begitu monumental.

Dengan malas, ia menyeret langkahnya menuju kamar mandi. Mengusung serta handuk dan sikat gigi yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.

Semoga hari ini adalah hari keberuntunganku.

*

Dengan gemetar, ia menaruh kembali surat itu di lokernya. Mungkin, jika ia tidak membaca bagian terakhir di surat itu ia takkan menjadi segelisah ini. Surat itu hanyalah surat cinta sederhana, namun saat Tiffany tahu siapa nama pengirim yang tertera di surat itu, ia langsung ketakutan. Bagaimana tidak, jika nama sang kapten, Kwon Yuri yang seharusnya adalah nama yang begitu ia harapkan Kim Taeyeon.

Bagaimana bisa? Itu juga masih menjadi tanda tanya besar dalam benaknya. Apakah Jessica salah mendengar atau salah mengartikan percakapan Taeyeon dan Yuri minggu lalu? Ataukah Jessica sudah merencanakan hal ini sebelumnya? Dan jika tidak, bagaimana reaksi Jessica saat ia membaca surat itu? Bagaimana dengan persahabatan mereka? Hal itu terus menghantui dirinya.

Dan saat yang paling mengerikan ialah, saat ia tak dapat menceritakan hal itu pada siapapun terlebih pada Jessica. Hal ini akan menyakiti keduanya. Lalu, apa yang harus ia lakukan? Sampai sekarang ia masih belum berhasil menemukan jawabannya.

Seharian ia duduk dengan gelisah di samping Jessica, meskipun mata kuliah mereka pagi ini begitu ia sukai namun tetap saja ia tak dapat memfokuskan dirinya pada dosen mereka yang sedang bercerita di depan kelas. Pikirannya hanya tertuju pada satu hal yaitu Jessica. Walau gadis disampingnya itu tampak tak menyadari kegelisahannya, namun tetap saja ia tak berhenti mengkhawatirkannya. Bagaimana bisa?

Pada saat kelas usai, tak satu pun dari mereka yang memulai pembicaraan atau pun berdiri dari tempat duduk mereka. Tiffany mulai merasa khawatir. Keduanya hanya saling menatap dengan gelisah sebelum Jessica berinisiatif untuk membuka mulutnya.

“Sebelumnya aku minta maaf Tiffany, lihat… aku sama sekali tak bermaksud untuk menyakiti atau menghkhianatimu—a—aku…”

“Aku tahu! Kau hanya berusaha untuk membantuku, namun justru sekarang kaulah yang harus merasakan seperti ini… ”

“Aku benar-benar minta maaf, aku takkan menerimanya Tiffany, sungguh… Jika aku harus memilih, aku akan lebih memilih kau..” Jessica menatap lekat kedua mata Tiffany.

“Jadi kau menerimanya?” Tiffany masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar barusan. Jessica membiarkannya bersama Yuri? Apa ia tidak salah dengar?

“Tidak! Aku tidak akan pernah menerimanya demi kau!”

“Tadi kau bilang kau menerimanya? Lagi pula aku tidak menyukainya, jadi aku tidak akan menerimanya sebagai kekasihku.” Tiffany semakin bingung dengan jawaban Jessica.

“Kekasih?”

“Yeah kekasih..”

Namun, keduanya tak menyadari bahwa mereka terjebak dalam percakapan paling bodoh yang pernah mereka lakukan.

“Memangnya tadi aku bilang apa?”

“Kau bilang, kau lebih memilih aku jadi kau mengizinkanku bersama Yuri. Namun aku takkan pernah melakukannya.”

“Hah? Yuri?”

“Y—yeah..”

“Tunggu-tunggu, jadi sebenarnya apa yang kita berdua bicarakan disini?” Jessica mencoba untuk mencairkan suasana. Keduanya tertawa sebelum Tiffany menyodorkan suratnya pada Jessica “Mianhae..”

Dengan perlahan, Jessica membuka surat itu. Hanya satu paragraf saja. Satu paragraf yang dapat membuat jantungnya berdetak kencang. Dan hal itu benar-benar terjadi, saat ini ia tak lagi dapat mengontrol detak jantungnya, tidak sebelum ia tahu untuk siapa surat itu ditujukan. Hatinya seakan melorot seketika. Kemudian, ia menyodorkan pada Tiffany surat yang juga ia dapatkan pagi ini, surat yang mirip seperti itu namun sangat berbeda, baik isi maupun maknanya.

Tiffany membacanya dengan mata berkaca-kaca.

I know we’ve been known each other for so long. Im sorry for asking you this just now, would you be my girlfriend? –Kim TaeYeon-

Dan yeah, jika saja surat itu diperuntukkan padanya. Jika saja itu bukan Jessica. Jika saja ia yang menerimanya.

Sekarang, dunia mereka seolah terasa berbalik. Mereka tak tahu apa yang harus di lakukan. Keduanya begitu gelisah, apa yang mereka bayangkan selama ini tak sesuai harapan.

Mereka termenung dalam diam, semua kebisingan yang ada di sekitar mereka seolah lenyap, menghilang dengan sendirinya. Segalanya terasa sunyi, mereka tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Baik Tiffany dan Jessica tak pernah menyangka hal ini akan terjadi. Takkan pernah. Ia terlalu mencintai Taeyeon, begitu juga dengan Jessica pada Yuri.

Mereka terus seperti itu hingga tak menyadari seseorang telah berdiri di samping pada masing-masing dari mereka.

Semua lamunan itu terbuyarkan saat suara deham Yuri membawa kembali keduanya pada kenyataan, pahit memang namun kenyataan memang tak selalu seindah harapannya.

So, how is your answer miss?” Jessica shock saat justru Yuri yang bertanya padanya, bukan Taeyeon. “Yes or no?

What?” Ia menatap Yuri kemudian Taeyeon.

And then how about you princess?” Ekspresi Tiffany tak lebih baik dari Jessica. Keduannya benar-benar kehabisan kata-kata, tak tahu apa yang harus dikatakan.

Yuri dan Taeyeon bertukar pandang, kemudian menyadari apa yang tengah digenggam oleh kedua gadis incaran mereka itu.

Damn letter! Damn Girl tryin to fool us! Taeyeon mengutuk dalam hatinya. Kemarin, ia bertanya pada seorang gadis teman sekelas Tiffany dan Jessica. Ia menanyakan tentang dimana letak loker Jessica dan Tiffany namun gadis itu justru menyesatkan mereka.

“Uhm, aku rasa ada sedikit kekeliruan disini.” Taeyeon mencoba untuk membereskan segalanya, mengungkap segala kesalah pahaman yang terjadi diantara mereka.

Im so soory miss but this letter weren’t belongs to you, it hers.” Taeyeon mengambil surat di tangan Jessica lalu menyodorkannya pada Tiffany. “And it not yours darl…” Dan begitu pula dengan surat yang ada di tangan Tiffany.

So, which is the answer princess?” Yuri kembali bertanya.

“Uh—uh?” Jessica masih kebingungan sebelum menengar bisikan dari Tiffany ‘surat kita tertukar’. “Yeah..” Dengan malu-malu ia mengangguk. Mukanya sudah semerah buah tomat.

So, is it Yes?

Yeah.. I—I guess…” Yuri akhirnya memeluk Jessica. Tiffany dan Taeyeon pun tersenyum melihatnya, jarang-jarang mereka melihat Jessica tersenyum seperti itu.

So, how about you darling?

Tiffany tak menjawab, namun ia mengangguk pada akhirnya.

So, I guess it is a yes…

 ~Fin (for Finish and for Finnaly) lol

Iklan

43 thoughts on “SAY YES [ONE SHOOT]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s