BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 14

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

Just close your eyes
The sun is going down
You’ll be alright
No one can hurt you now
Come morning light
You and I’ll be safe and sound

(Taylor Swift – Safe And Sound)

It’s gonna be a long chapter~ so, just enjoy the rest of the story ^^

Chapter 14

Taeyeon terjaga di tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit, pikirannya melayang di suatu tempat. Kata-kata Juhyun masih menggema dalam pikirannya, memantul di dinding-dinding kepalanya, menahan ia dari tidur lelapnya. Dirinya merasa bodoh, frustasi dan penipu.

Ia tak pernah berharap bahwa Tiffany akan bercerita padanya tentang hidupnya selama empat tahun yang lalu namn dia akan menghargai apapun itu, atau bahkan sedikit mengangkat kepala.

Ia berbalik ke samping dan menatap di depan jendela, bersyukur bahwa ia telah memutuskan utnuk membukanya sebelum pergi ke tempat tidur. Taeyeon menatap langit yang bersinar dan mendesah.

Malam-malam gelisah, seperti sebelum-sebelumnya.

_____

“Selamat pagi.”

Tiffany menempatkan mangkuknya kembali di atas meja dan menyapa gadis kusut itu. Ia mengernyitkan alis saat melihat Taeyeon berjalan ke dapur saat ia tengah mengaduk kopi.

“Apa kau baik-baik saja?”

“H-Huh?”

Ia mengerutkan alis pada gadis yang tengah kebingungan itu.

“Oh, Yeah, aku baik-baik saja. Kupikir. Hanya… kurang tidur.”

Tiffany mendapati bagaimana Taeyeon menghindari tatapannya dan itu membuatnya bingung. Ia mencoba untuk berpikir kembali apakah ia pernah melakukan sesuatu yang membuat gadis itu marah.

Tidak ada yang salah.

“Oh,” Tiffany menyembunyikan kekecewaannya, “Okay.”

Tiffany berusaha untuk menyibukkan diri dengan sarapannya namnun ia mendapati dirinya sendiri tidak dapat berkonsentrasi. Tidak ketika Taeyeon duduk di depannya sambil meminum kopi, terlihat sangat sexy dengan rambut kusutnya.

Tidak ketika Tiffany dapat melihat dengan jelas cincin pernikahan Taeyeon yang berkilauan seolah mengejeknya.

Percakapannya dengan Sunny waktu itu tidak benar-benar mengatasi kebingungannya. Ia benci saat semua orang menempatkannya dalam sebuah lingkaran, namun Tiffany tak dapat sepenuhnya menyalahkan Sunny. Ia telah menyakiti sahabatnnya dan dia pasti akan melakukan hal yang sama jika dia menjadi Sunny.

Jadi satu hal yang dapat ia lakukan hanyalah bertanya langsung kepada Taeyeon.

“Hey, Tiffany…”

Ia kembali dari lamunannya dan melihat gadis yang duduk dengan diam di hadapannya.

“Ya?”

“Uh, a-apakah kau sedang sibuk na-nanti?” Tanya Taeyeon gugup.

“Tidak. Kurasa tidak. Mengapa? Apa kau yakin kau baik-baik saja? Mengapa kau gugup?” Tiffany mencoba untuk meraih kening Taeyeon untuk mengecek temperatur suhunya namun Taeyeon malah mengalihkan mukanya bahkan sebelum Tiffany dapat menyentuhnya. Tiffany tersadar apa yang hampir saja ia lakukan dan menarik kembali tangannya segera. Namun tidak dapat menyembunyikan kenyataan bahawa ia merasa kecewa.

“Aku… aku minta maaf.” Bisik Tiffany saat ia melihat kembali pada piringnnya seolah itu adalah hal yang paling menarik sedunia.

“Tidak masalah, aku hanya terkejut. Uhm, ngomong-ngomong, bisa kita bertemu nanti? Aku masih memiliki pemotretan dengan Yuri untuk sekarang tapi akan selesai  siang atau mungkin sore nanti.”

“Okay.” Dia mengangguk lemah, masih merasa malu akan hal yang hampir saja ia lakukan, “aku dan Juhyun akan menunggumu di—.”

“Tidak!”

Tiffany merasa terkejut dengan volume suara Taeyeon hingga ia hampir saja menjatuhkan sendoknya. Dia melihat Taeyeon dengan tatapan yang tak dapat terbcaca. Ia merasa gadis itu gelisah di tempat duduknya.

“A—aku… minta maaf, aku, aku tidak bermaksud untuk berteriak seperti itu. Aku-aku minta maaf…”

“Taeyeon, kau membuatku takut.”

“Aku hanya bertanya-tanya, apa kita bisa makan malam bersama? Maksudku, hanya kita berdua? Tanpa Juhyun?”

Tiffany menatap Taeyeon seolah dia adalah anak remaja yang memintanya untuk pergi berkencan. Ia tidak tahu bagaimana perasaannya sekarang, seketika ia merasa diliputi berbagai macam emosi dalam satu waktu dan dia tidak dapat berpikir dengan jernih.

“Kau… Kau memintaku untuk makan malam bersamamu? Nanti? Hanya kita berdua?” Tanya Tiffany perlahan, membiarkan kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutnya sedangkan otaknya masih berusaha untuk mencerna, “Kim Taeyeon…” Sekarang ia menatap Taeyeon dengan mata yang berkilat-kilat.

“N—Ne?” Ia mendengar Taeyeon berbisik dari balik cangkir kopinya saat gadis itu menyesapnya.

“Apa kau mengajakku pergi berkencan?” Tiffany akhirnya menyemburkan kata-katanya.

Uhuk!

“Oh Tuhan, Taeyeon! Apa kau baik-baik saja?”

Tiffany tiba-tiba berdiri saat ia seketika berada di samping Taeyeon untuk menepuk punggungnya. Taeyeon hanya tersedak kopinya.

Mianhae, aku hanya bercanda…” Tiffany meminta maaf sambil mencoba untuk menenangkan Taeyeon dengan mengusap punggungnya.

“-Uhuk!- Aku—Aku baik-baik saja –uhuk!- jangan khawatir.” Taeyeon berkata sebelum mengusap mulutnya, “Uhm… Jadi?”

Taeyeon menatapnya seolah ia adalah seonggok arwah membosankan dan hal itu membuatnya gemetar. Ia tidak dapat menemukan alasan yang masuk akal di balik permintan Taeyeon, namun ia juga tak ingin kehilangan kesempatannya. Disamping itu, Tiffany juga ingin menanyakannya tentang cincin menyebalkan itu.

“Tentu.” Tiffany tersenyum, matanya berubah menjadi bulan sabit, “katakan saja dimana kita akan bertemu dan jam berapa.”

Taeyeon tersenyum dan mengangguk.

_____

Taeyeon merasa telapak tangannya berkeringat dan seluruh tubuhnya gemetar saat ia menunggu Tiffany di depan restoran sambil menatap laut.

Matahari akhirnya terbenam dan malam ini bulan bersinar penuh saat ia menyelesaikan pemotretan. Meskipun semua gambar yang ia potret menakjubkan, Taeyeon tidak dapat menyembunykan kenyataan bahwa ia merasa gelisah sepanjang waktu, ia mendapatkan beberapa tatapan aneh dari Yuri yang merasa khawatir saat berapa kali Taeyeon hampir menjatuhkan kameranya atau hampir tersandung batu saat mengambil gambar. Sesungguhnya, itu pemandagan yang lucu.

‘Tarik napas, Taeyeon”

Saat ini ia tengah berdiri di depan pagar restoran, menunggu Tiffany yang tengah berpamitan ke kamar madi. Anehnya, semua rasa gugupnya mendadak menghilang dan mereka mencoba untuk berbicara dengan natural. Tak ada saat-saat canggung, sama seperti dua teman yang sedang berbincang-bincang.

Taeyeon menyandarkan punggungnya pada pagar dan menatap langit malam. Ia bersidakep dan mengepalkan kedua tangannya yang tak berhenti gemetar. Ia mencoba untuk menghitung bintang yang terlihat, segala kemustahilan yang membuat pikirannya tetap terjaga.

“Taeyeon?”

Ia sedikit terkejut dan kegugupannya semakin bertambah, sekarang Tiffany kembali ke tempatnya, terlihat sangat cantik dan sempurna di bawah sinar rembulan, pikiran Taeyeon semakin meliar dan ia merasa ingin kabur saja.

“Apa kau baik-baik saja?”

“H—Huh? Oh! Yeah, aku baik-baik saja, aku hanya…” Taeyeon menelan saliva dengan pemikirannya yang melayang entah kemana, “Yeah, Uh, apa kau sudah siap?”

Disamping itu, agenda hari ini masih belum semua terpenuhi.

“Yeah,” Ia mendengar Tiffany berkata.

______

Taeyeon bertingkah sangat aneh dan Tiffany menyadari segalanya. Dimulai dari gelisah, menggigit bibir bawahnya dan tangannya yang gemetar, tak ada yang tak disadarinya. Ia merasa khawatir, sungguh, karena terakhir kali dia melihatnya seperti ini adalah ketika Taeyeon meminta untuk menikahinya.

Tiffany menelan salivanya.

‘Dia tidak mungkin melakukannya, kan? Bagaimana mungkin dia bahkan…’

“Hey, Tiffany…”

“Apa?”

“Apa kau baik-baik saja? Aku sudah memanggilmu sudah dari sepuluh detik yang lalu,” Dia mendengar Taeyeon terkikik, “Aku hanya ingin bertanya apakah kau kedingainan?” Ia melihat Taeyeon menunjuk ke arah tubuhnya.

Tiffany kemudian menyadari bahwa ia tengah membekap tubuhnya, tangannya tanpa sadar menggosok lengannya untuk menghangatkan tubuhnya.

“A—Aku..”

“Sini.”

Ia menatap Taeyeon kemudian ke arah jaket yang ia tawarkan.

“Pakai ini. Kau lebih membutuhkannya daripada aku.” Sebuah senyuman.

“Terima kasih.”

Tiffany dengan hati-hati mengambil jaket itu dan menyaputkan pada pundaknnya, seketika kehangatan merasuk ke kulitnya. Ia dapat merasakan parfum Taeyeon menguar dari jaketnnya dan membuatnya tersenyum.

‘Kau masih menggunakannya, huh…’

Keduannya berjalan dalam diam di sepanjang bibir pantai, dan entah mengapa hal itu membuat Tiffany merasa damai. Hingga sekarang, ia tidak mengerti bagaimana ia dapat berjalan di samping Taeyeon dengan cara yang anggun. Untuk sekali, jika Tiffany adalah orang yang di tinggalkan saat di altar, ia akan membalas dendam dan mungkin membunuh tunangannya.

Diam-diam, ia bersyukur bahwa Taeyeon tidak sepertinya. Ia tertawa kecil.

“Apa?” Ia mendengar Taeyeon bertanya dan tawa itu masih belum lenyap dari bibirnya.

“Mengapa kau tertawa?”

Tiffany melihat ke arah Taeyeon dan menemukan gadis itu menyeringai. Hal itu membuat kikikkannya berubah menjadi tawa lebar.

“Hey, apa kau menertawakanku?”

“Tidakkah kau berpikir ini lucu?” Tiffany menyeka air mata yang keluar dari sudut matanya saat ia berusaha untuk berhenti tertawa.

“Apa yang lucu?”

“Ini. Kita.” Seketika ia berubah menjadi melankolis. “Maksudku, tidakkah seharusnya kau melarikan diri dariku?” Tiffany tersenyum sedih saat ia melihat ke arah Taeyeon.

Mereka masih berjalan, kaki mereka yang telanjang menyentuh pasir yang dingin dan suara ombak dengan lembut menghantam bibir pantai menemani malam mereka.

Tiffany mendengar desahan.

“Aku membencimu, kau tahu,” Ia mendengar Taeyeon berbisik, “Baik, setidaknya aku berusaha untuk itu….”

Tiffany berbalik ke arah Taeyeon dengan terkejut.

“Percaya padaku, Tuhan tahu betapa aku berusaha untuk membencimu. Namun aku… aku tidak bisa…” Taeyeon tersenyum padanya, dengan sedih, dan itu membuat perutnya teraduk.

“Harusnya itu menjadi hari paling bahagia dalam hidup kita namun… Yeah. Aku tidak berpikir aku dapat menyalahkanmu juga. Aku sudah mengatakan, ini bukanlah kesalahanmu, dan…” Taeyeon berdeham, “aku membenci diriku sendiri karena tidak sempurna untukmu dan lagi, aku meminta maaf untuk hal itu—.”

Tiffany tidak membiarkan Taeyeon menyelesaikan kata-katanya. Ia melangkah, mempersempit jarak yang memisahkan mereka berdua kemudian memeluk Taeyeon dengan erat, seperti yang ia lakukan malam itu. Ia mendekapnya, dengan kuat, dan berharap bahwa gesturnya sudah cukup untuk menyembuhkannya dari segala luka dan kesedihan yang ia sebabkan.

Ia merindukan hal seperti ini, ia rindu segalanya tentang mereka. Seperti bagaimana cara Taeyeon memeluknya, satu lengan melingkar di pinggangnya dan sebelahnya tergantung di sekitar pundaknya sambil tangannya dengan lembut mengusap kepalannya.

Hal itu takkan pernah sama. Setiap waktu sudah berbeda dari sebelumnya. Karena setiap kali Taeyeon memeluknya, ia merasa lebih dan lebih aman, ia merasakan lebih dan lebih cinta darinya.

“Bisakah kau berhenti meminta maaf?” Suara Tiffany membuatnya gemetar saat gadis itu memeluk Taeyeon semakin erat. “Kau membuatku merasa semakin buruk.” Ia tertawa menyedihkan, air mata mulai menggenangi sudut matanya.

“Okay.”

Ia membenamkan wajahnya pada lekuk leher Taeyeon dan merasakan gadis itu mengeratkan pelukannya. Mereka berdiri di bawah langit malam, saling berpelukan ditemani dengan suara ombak yang menghantam bibir pantai sebagai latar belakang mereka.

“Baumu harum,” Ia berkata jujur.

Tiffany merasakan pipinya memanas saat mengatakan hal itu dan merasa lega saat ia mendengar Taeyeon terkikik.

“Selalu.” Goda Taeyeon.

Tiffany tertawa sebelum mendorong Taeyeon perlahan menjauh darinya, “Yeah, benar.”

Taeyeon tertawa kemudian melangkah mundur dan mengangkat tangannya berpura-pura melawan Tiffany.

Mereka berdua sekarang menatap horizon dan menghirup udara yang terasa asin.

“Hey,” Ia mendegar Taeyeon berbicara. “Ingin melihat sesuatu yang keren?”

“Uhm, tentu..”

Taeyeon menyeringai kuda padanya dan hal itu membuat Tiffany tersenyum.

‘Kau sungguh seperti anak kecil.’

“Ayo..”

Tiffany mengulurkan tangannya dan membiarkan Taeyeon membawa dirinya entah kemana.

_____

“Wow..”

Taeyeon bersandar dengan menopang telapak tangannya dan melihat bulan yang bersinar menembus awan, dengan malas berarak di atas langit. Hampir semua bintang menampakkan dirinya malam ini, membuat langit terlihat seperti sebuah selimut berkerak berlian. Itu membuatnya tersenyum.

Berada di atas bukit membuat segalanya tampak semakin bersinar dimatanya, namun tak satupun dari bintang-bintang itu lebih bersinar dari wanita disampingnya.

“Bagaimana kau dapat menemukan tempat seperti ini?” Ia dapat merasakan Tiffany duduk di sampingnya.

Taeyeon tersenyum sedih saat ia mengingat kenangan itu. “Aku tengah… mencari tempat dimana aku dapat berpikir.”

“Oh…” Ia mendengar keraguan dalam suaranya, “Okay. Apakah ini tempat dimana kau dan Yuri melakukan pemotretan?”

“Tidak,” Taeyeon mempertimbangkan apakah ia harus mengatakan lebih lagi, “Uhm, kau adalah satu-satunya orang yang pernah kubawa kemari.”

Ia tidak melihatnya namu ia tahu bahwa Tiffany tengah tersenyum.

‘Terus-terusan mengenang masa lalu takkan membuat segalanya membaik. Ia telah berubah. Kau juga harus…’

“Jadi, ceritakan padaku ada apa denganmu?” Taeyeon tersenyum saat ia akhirnya melihat ke arah Tiffany. Ia harus melanjutkan percakapan ini langsung pada intinya. Ia masih harus tahu sesuatu. “Dan jangan bilang kalau tak banyak hal yang terjadi karena empat tahun adalah waktu yang lama.”

Masih terasa sakit namun ia berusaha untuk tertawa, sekalipun dipaksakan.

“Tapi memang tak banyak yang terjadi, Taeyeon. Aku pindah ke Amerika de-dengan…” Taeyeon bergeser mendekat untuk mendengarkan suaranya yang gemetar, “Dan disitulah aku bertemu dengan Jessi! Sebenarnya ceritanya sangat lucu, Aku—.”

“Fany…”

Ia mendengar Tiffany berhenti dan mendesah. Tiffany tengah menyembunyikan sesuatu darinya.

“Bisakah kau jujur padaku?”

Tiffany mengangguk.

“Apa yang terjadi dengan ayah Juhyun?”

Yang Taeyeon dapatkan hanya sebuah keheningan. Ia tahu ia tidak sopan namun ia benar-benar penasaran. Melihat Juhyun kebingungan dan sedih tentang orang tuanya benar-benar membuatnya hancur dan dia tak peduli lagi jika ia harus menekan Tiffany untuk mengatakan yang sesungguhnya.

Sekali lagi hanya sebuah desahan yang keluar dari bibirnya. Sudah larut malam dan Taeyeon menganggap kediaman ini sebagai tanda untuk mereka kembali ke hotel.

“Ini sudah malam, ku pikir kita harus—.”

Ia hampir saja akan berdiri saat suara tenang Tiffany menembus dinginnya angin malam.

“Ia pergi.”

“A—Apa?” Taeyeon berbalik dengan mimik terkejut.

“Saat dia.. saat dia tahu bahwa aku tengah hamil Juhyun, dia pergi begitu saja.” Cahaya redup di mata Tiffany sudah hilang dan Taeyeon merasa sedikit ketakutan. Ia tak pernah melihat kebencian yang begitu mendalam di wajah Tiffany sebelumnya.

Empat tahun berlalu telah banyak merubahnya.

_____

“Aku… Aku minta maaf, aku tidak bermaksud untuk…”

Setelah mengungkapkan semua yang telah membebani hati dan pikirannya, Tiffany tak pernah merasa se-lega ini.

“Tak masalah, kau tidak tahu sebelumnya.”

“Jadi… Kau tidak menikah?” Ia mendengar Taeyeon bertanya dengan malu-malu.

Tiffany tertawa kecil. “Baiklah, apakah kau melihat cincin?” Ia mengangkat tangan dan menunjukkannya pada Taeyeon sambil tersenyum.

Tiba-tiba ia mengingat sesuatu.

“Ngomong-ngomong soal menikah..” Ia menatap tangannya yang terkelu di lututnya. “D-dimana istrimu?”

Tiffany mendengar suara derikan dan bersumpah suara itu berasal dari leher Taeyeon. Ia melihat gadis di sampingnya dan mendapati Taeyeon menatapnya seolah dirinya adalah makhluk dari galaxy lain.

“Istri apa?”

Tiffany menatapnya tak percaya, alisnya mengerut dan bibirnya mberengut.

“Apa maksudmu dengan ‘istri apa’? Istrimu, dimana dia?” Ia kembali bertanya.

“Aku tidak punya istri,” Taeyeon menjawabnya datar.

“Baiklah, suami.”

“Suami? Apa kau serius?!”

Tiffany memutar bola matanya mendengar reaksi Taeyeon.

“Hal ini semakin menggelikan.” Taeyeon kembali menatap langit gelap sebelum menggelengkan kepalanya.

“Apa yang semakin menggelikan?” Tiffany memukul lengan Taeyeon pelan, “Kau yang menggelikan!”

“Apa?! Kenapa aku?!”

Dan seperti itulah, kedua gadis yang sama-sama tidak tahu apa-apa itu dengan nakal beradu teriakan, suara mereka semakin lama semakin meninggi.

“Aku hanya menanyakan pasanganmu! Mengapa kau terlalu defensif?!” Tiffany kembali meneriaki Taeyeon, senyum lebar terplester di wajahnya.

“Ugh, suaramu, Tiffany! Dan mengapa kau berteriak-teriak seperti itu?!” Taeyeon berusaha untuk melindungi tubuhnya dari pukulan-pukulan Tiffany, Taeyeon tertawa karena Tiffany gagal memukulnya.

“Kau yang berteriak duluan!” Tiffany kembali berusaha untuk kembali memukul lengannya.

“Tiffany! S-Stop! Aw—Hentikan! Aku,” Ia merasakan genggaman di pergelangan tangannya, “Aku belum menikah!”

“Apa maksudmu dengan kau belum menikah?! Kau sudah punya cincin!”

Tiffany terus mencoba untuk memukulinya hingga Taeyeon menghentikannya.

“Fany!”

Tiffany masih berjuang untuk membebaskan pergelangan tangannya sampai ia mendengar Taeyeon memanggil namanya. Ia mendongak dan menelan saliva saat menyadari seberapa dekat wajah mereka saat ini.

Taeyeon menatapnya seolah ia adalah satu-satunya hal yang ada di dunia ini. Mata cokelatnya menusuk relung jiwanya dan Tiffany merasa dirinya kaku di bawah tatapan itu. Ia hendak mengatakan sesuatu saat Taeyeon memiringkan kepalanya sedikit, melepaskan kedua pergelangan tangannya secara bersamaan.

“Tae—.”

Taeyeon mendengus.

Sekali.

Dua kali.

Tiga kali.

Seketika seisi bukit dipenuhi dengan tawanya yang cetar membahana. (lol :D)

“A—apa?”

Tiffany melihat Taeyeon yang tengah berguling di atas rumput saat ia kembali menyemburkan tawanya. Katakanlah bahwa ia tengah kebingungan dengan segala sesuatu yang tak dapat dimengerti.

Dan benar-benar mengerikan.

Setelah seolah terasa berjam-jam, Taeyeon akhirnya kembali tenang. Ia masih berada di atas tanah, lengannya sekarang berada dibawah kepalanya. Tiffany melihat senyumnya, pipinya yang merona karena tertawa, matanya yang lembut dan fokus, dan ia masih berpikir bahwa Taeyeon adalah gadis yang paling cantik yang pernah ia temui sebelumnya.

Seolah kau tak pernah menua, pikir Tiffany.

“Benar… aku hampir lupa, kau tak pernah benar-benar melihatnya,” Ia mendengar Taeyeon berbisik pada dirinya sendiri. Ia mendengarnya, namun tak benar-benar memahami maksudnya.

Ia melihat Taeyeon mengulurkan tangannya di atas langit, membiarkan cincin itu membiaskan sinar remang rembulan.

_____

Taeyeon menatap ukiran pada benda metal yang melingkari jarinya dan tersenyum menyedihkan. Sedikit bersinar di atas bukit daripada di pinggir pantai, dan membuatnya dapat melihat dengan jelas goretan yang bertahun-tahun ia kenakan sebagai kalung.

Tak masalah, pikirnya, daripada melihatnya tak tersentuh dengan kondisi masih sempurna di dalam kotak, selamanya mengejek pernikahannya yang seharusnya terjadi. Setidaknya cincin tak berguna itu sekarang telah menemani setiap harinya, setiap kegagalan dan keberhasilannya, setiap air mata dan tawanya.

Ia melepaskan cincin itu dari jarinya perlahan dan menggenggamnya erat sebelum berdiri. Ia mendapati Tiffany menatapnya penuh tanda tanya dan hal itu membuatnya tersenyum.

“Ini,” Taeyeon berkata dengan sedih, “Ku pikir kau layak untuk melihatnya. Lagipula sebenarnya itu milikmu.” Ia membuka tangan Tiffany dan meletakkan cincin itu dalam telapak tangannya.

Ia melihatnya dengan sedih saat Tiffany dengan hati-hati sekali menyelipkan cincin itu ke dalam jarinya, mengamatinya dengan sungguh sungguh setiap sudut dan selanya. Ia juga melihat ukiran yang tergores di dalamnya.

“Apa ini…” Tiffany berbisik sebelum berbalik menatap Taeyeon dengan penuh tanda tanya.

“Yep.”

“Ini sungguh idah…” Tiffany mengusapnya saat ia memutar cincin itu di jarinya.

“Gomawo, aku memesannya sendiri lagipula.” Dia tersenyum.

“Tapi mana yang lain—.”

“Ini.”

Taeyeon mengeluarkan kalung dari dalam kausnya dan menunjukkannya pada Tiffany. Gadis itu membungkuk dan napas Taeyeon tercekat saat wajah Tiffany hanya berjarak beberapa inci darinya. Ia dapat mencium aroma yang menguar dari rambutnya, menghitung kilau di matanya, dan melihat kelembutan di bibirnya, hal itu membuatnya pusing.

Setelah beberapa saat kemudian, Tiffany akhirnya melepaskan kalung itu, membuat Taeyeon menghembuskan napas yang secara tak sadar telah ia tahan. Ia mengembalikan cincin itu tak lama setelahnya.

Keheningan kembali menyelimuti mereka, keduanya hanya duduk bersisian dalam diam. Taeyeon tidak tahu apa yang ada di kepala Tiffany dan diapun tidak yakin apa ia benar-benar ingin tahu. Ia merasa lelah dengan semua percakapan dan kejujuran yang telah terungkap malam ini dan tak ada hal lain lagi yang ia inginkan sekarang daripada mandi dengan air hangat dan tidur tenang di kasurnya yang nyaman.

Taeyeon berdiri dan menepuk debu di celanya sebelum meraih tangan Tiffany. Sudah larut malam dan udaranya semakin dingin, ia tak ingin mereka terkena flu, terutama Tiffany.

“Hey, Taeyeon…?”

“Hmm?” Ia berhenti berjalan dan berbalik ke arah Tiffany.

Keduanya sekarang berjalan dengan hati-hati menuruni bukit dengan external camera flash milik Taeyeon yang menerangi jalan mereka.

“Mengapa… Mengapa kau masih memakainya?”

_____

Tiffany menggigit bibirnya dan menunggu jawaban, apapun, hanya diam. Pikiran bahwa ia akan mengomelihnya bahkan sejak ia menguak kebenaran tentang cincin pernikahan Taeyeon dan dia ingin tahu mengapa gadis itu memilih untuk memenjarakan dirinya sendiri bahkan saat dia, dirinya, telah menghancurkan apa yang telah mereka bina dengan serampangan, tanpa pikir panjang.

Ia tak layak untuk mendapatkan Taeyeon, ia tahu itu sekarang, sekalipun itu menyakitinya karena ia berharap, bagaimanapun juga, jika mungkin Taeyeon berpikir sebaliknya.

“Aku tidak ingin menikah dengan orang lain.” Taeyeon mulai menjawab, “Aku telah berusaha untuk berkencan, namun…”

Tiffany meyakinkan dirinya untuk tetap diam, fokus dengan setiap ucapan Taeyeon dan menangkap setiap pikirannya yang tak berguna.

“Aku bersumpah aku telah mencoba untuk berubah namun… mereka tetap bukan dirimu.”

Tiffany diam-diam menghela napas.

“Panggil aku bodoh, menyedihkan, namun hanya kau satu-satunya orang yang pernah kuinginkan untuk menghabiskan sisa waktuku. Satu-satunya yang kuinginkan, satu satunya yang kan pernah kuinginkan.”

Tiffany merasakan air mata menetes di pipinya saat senyum tulus Taeyeon terukir di pikirannya.

_____

-TBC-

Iklan

39 thoughts on “Back For Good Chapter 14”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s