BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 15

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

Cause we had a beautiful magic love there
What a sad beautiful tragic love affair

(Sad Beautiful Tragic-Taylor Swift)

Chapter 15

Taeyeon mulai terbiasa dengan insomnia setiap malam.

Semakin hari semakin meningkat namun anehnya, malam ini tidak seperti malam-malam sebelumnya, dia tidak merasa keberatan. Tidak saat dia masih dapat merasakan kehangatan bibir Tiffany yang menyentuh pipinya.

Ia meletakkan telapak tangan di wajahnya dan menyentuh pipinya sebelum tertawa kecil. Taeyeon merasa seperti bocah kecil yang baru saja mendapat mainan baru, atau remaja yang baru saja menyatakan perasaannya pada gadis yang ia suka dan ia diterima. Ia sangat gembira, ia terlalu senang dan terasa sangat menggembirakan.

Taeyeon berguling di atas kasurnya dan memegangi perutnya. Ia mencengkeram bantal yang menyundul dan hampir memekik.

Hal ini mulai terasa menggelikan, bahkan baginya.

Sebuah ketukan yang terdengar dari arah pintu mengembalikan kesadarannya dari bayangan mabuk cintanya. Terdengar pelan, malu-malu, dan dia harus meyakinkan dirinya sendiri bahwa ia benar-benar mendengarnya. Ia melirik jam di mejanya dan mengerutkan alis.

Disitu tertera, jam dua pagi.

Walau bagaimanapun ia berdiri, mengabaikan lantai yang dingin saat ia melangkahkan telapak kakinya dengan kuat, karena tak ada orang lain lagi dalam ruangan ini yang akan mengetuk pintu kamarnya selarut ini selain Tiffany.

Pikiran itu membuatnya gusar. Mendadak ia merasa gugup.

Sambil mengirup napas dalam, Taeyeon berdiri, sekalipun sedikit gemetar, dan terus melangkah ke arah pintu.

Engsel pintu terlalu dingin untuk ia sentuh, sama seperti lantai di telapak kakinya, dan seketika rasa dingin yang merambat di tulangnya membuat suasana memburuk. Beberapa detik, ia mempertimbangkan apakah ia harus membuka pintunya. Akankah itu membuat perubahan? Apa hal baik yang akan terjadi jika ia melakukannya?

Beribu pertanyaan memenuhi kepalanya saat ia memutar engsel itu perlahan sebelum membuka pintu, sesaat sebelum  Tiffany mundur dan pergi.

_____

Ide buruk.

Namun godaan itu terlalu besar untuk di abaikan begitu saja jadi Tiffany mendapati dirinya mengetuk pintu kamar Taeyeon pada jam 2 pagi, ia bahkan tak yakin, atau mungkin tanpa berpikir jika gadis di dalam kamar itu bahkan masih terjaga.

Beberapa jam yang lalu, ia bersandar di samping anaknya yang tertidur pulas, menyentuh bibirnya yang masih menyisakan sensasi setelah ia mencium Taeyeon tepat di pipinya. Beberapa pikiran terus membebani pikirannya dan membuat kepalanya sakit.

Ia bingung, katakan sedikit namun lebih dari itu, ia harus tahu. Rasa penasarannya semakin menjadi dan membuatnya lelah.

“Aku datang pada saat yang tepat,” Suara Tiffany menggema saat Taeyeon berjalan di depan kamarnya.

Hal ini sedikit bodoh, karena mereka tinggal dalam ruangan yang sama, walaupun demikian Tiffany tetap menghargai sikapnya. Sebenarnya, ia menyukainya. Dan sekali lagi, ia bersyukur karena mereka mendapat kamar tidur yang terpisah.

“Bagus…” Taeyeon tersenyum manis padanya.

Tiffany tahu dirinya kini tengah berseri-seri, dan meskipun masih ada rasa canggung yang melingkupi mereka, hatinya terasa lega. Ia tidak membumbung tinggi, tak ada hal yang seperti itu, namun itu cukup untuk membuatnya merasa senang, bebas.

Tiffany perlahan membuka pintu dan mengintip anaknya yang tengah tertidur. Gadis kecil itu tengah tertidur dengan pulas di impit dua bantal. Entah mengapa ia berpikiran untuk menambah satu anggota lagi pada keluarga kecil mereka.

Mereka bahkan belum menikah, tapi…

Tiffany mendesah.

Baru saja ia berpikir semuanya mulai membaik, pikiran tentang pernikahan dan keluarga semakin memenuhi kepalanya. Ia seperti terjebak di lumpur hidup. Semakin ia bergerak semakin ia terjebak. Tak ada gunanya berusaha untuk keluar.

“Hey, apa kau baik-baik saja?”

Ia merasakan genggaman tangan di lengannya dan kehangatan mulai merambah ke seluruh tubuhnya, sampai ke hatinya. Baru saja ia dapat berpikir, bahwa satu-satunya cara untuk dapat keluar dari perangkap lubang emosi adalah dengan ditarik oleh seseorang.

“Aku baik-baik saja,” Kata Tiffany. Ia benar, setidaknya untuk saat ini, dan ia berharap masih.

“Apa kau yakin?”

Ia dapat mendengar perhatian dalam suara Taeyeon dan hal itu membuatnya tersenyum. Ia mengangguk saat gadis itu berbalik kearahnya dan entah mengapa hal itu membuatnya lega saat Taeyeon mengkhawatirkannya, tanpa sadar ia menyeringai lebar.

Tiffany membuka pintunya lebih lebar untuk membiarkan Taeyeon masuk dan melihat malaikat kecilnya yang tengah tertidur pulas. Mereka berdiri disana selama beberapa saat, tanpa bersuara, dan mengamati setiap gerakan dari gestur mungil itu.

Ia mendengar Taeyeon mendesah.

“Sudah mulai larut, Tiffany. Kau harus masuk ke dalam.” Tiffany melihat ke arahnya dan melihatnya tersenyum lembut.

Mereka berdua kelelahan dari berjalan-jalan dan berbincang-bincang. Sudah tergambar jelas di wajah Taeyeon bahwa rasa kantuk telah merayapinya, sesungguhnya Tiffany masih ingin melanjutkan perbincangan mereka atau hanya sekedar menghabiskan waktu dalam diam di keheningan yang menyelimuti mereka, namun ia harus membiarkan Taeyeon pergi kali ini.

Tiffany melihat ke arahnya dan mendapati Tayeon bergeser dengan tidak nyaman. Ada pancaran ketidakyakinan dari mata gadis itu dan sepertinya tidak dapat diuraikan dengan kata-kata. Ia bersumpah, ia hampir dapat mendengar detak jantung Taeyeon yang berpacu dengan cepat dan hal itu membuat hatinya merasa tenang, bahwa ia masih memberikan efek ‘itu’ pada Taeyeon.

“Kau terlihat sedikit pucat.” Tiffany terkikik saat gadis itu menyentuh pipinya.

Taeyeon membeku karena sentuhan itu dan membuat tawa Tiffany bertambah keras.

“Taeyeon, tenang. Kau terlihat seolah aku akan memakanmu atau apa.”

Taeyeon tertawa mendengarnya dan ia merasa lebih tenang dengan sentuhan itu.

Sebuah pikiran melintas dalam benak Tiffany dan dia memutuskan untuk melakukannya. Sangat gila dan bodoh, bahkan cukup berbahaya namun ia sudah lelah untuk berpikir dan merenungkannya. Sudah banyak waktu yang terbuang karena hal ini, ia tidak ingin semakin menyia-nyiakan waktunya. Ia siap dengan konsekuensinya nanti.

Dia mengambil napas dalam dan mencondongkan tubuhnya ke arah Taeyeon. Ia melihat gadis itu kembali tegang namun sudah terlambat untuknya kembali ke posisi semula. Tiffany menujukan bibirnya pada pipi Taeyeon kemudian perlahan melandaskan ciuman lembut pada sebagian pipinya yang memerah. Aroma Taeyeon menguar kearahnya dan ia menahan dirinya untuk tidak menangis saat perasaan yang sangat familiar itu menyambarnya.

Ya, mereka telah berpelukan selama beberapa kali belakangan ini namun merasakan kulit Taeyeon yang lembut pada bibirnya terasa sangat berbeda, terasa lebih baik. Tiffany merindukannya.

“Selamat malam. Terima kasih atas makan malamnya,” ia berbisik di dekat telinganya.

Ia melangkah mundur perlahan dan tersenyum saat ia melihat ekspresi linglung Taeyeon.

Tiffany sudah lupa bagaimana rasanya berkencan. Ini bahkan bukan kencan, ia bahkan tidak yakin, namun segalanya terasa sedemikian rupa. Hatinya melembung saat ia masih muram. Nampaknya Taeyeon telah berubah begitu banyak ketika mereka berpisah.

Ia akan sangat senang untuk menjadi bagian dari waktu yang hilang tersebut, untuk dapat melihat perubahan itu di depan matanya.

Mungkin… hanya mungkin.

Beberapa ketukan yang ia layangkan di pintu itu masih tak terjawab, Tiffany akhirnya memutuskan untuk mundur dan kembali ke kamarnya.

Ia memutar sepatunya dan mulai berjalan perlahan saat ia mendengar bunyi ceklekan yang hampir tak terdengar dari pintu yang sedikit terbuka. Tiffany berhenti dan berbalik.

“Tiffany? Ada apa?”

“Mianhae, apa aku membangunkanmu?”

Taeyeon terkikik dan menggelengkan kepala, “Tidak. Kau butuh sesuatu?”

“Apa aku menggangumu?” Ia menggigit bibir bawahnya dan perasaan bersalah mulai merambatinya meskipun tidak ada gunanya.

“Bisakah kau berhenti menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan lain?” Taeyeon kembali terkikik.

“Tidakkah kau juga melakukan hal yang sama?” Tiffany tersenyum mendengar kikikan itu.

“Kau melakukannya lagi.”

“Mianhae.”

Ia melihat Taeyeon berjalan keluar dari kamarnya sebelum menutupnya pelan. Seketika, Tiffany teringat alasannya datang kemari, dan sejujurnya, ia bahkan tidak yakin jika ia dapat melakukan apa yang sudah ia rencanakan.

Sesungguhnya, ia tidak benar-benar memikirkannya dengan baik.

“Jadi? Apa yang dapat kubantu pada jam dua pagi?”

Tiffany yang gelisah bermain-main dengan keliman kemejanya yang kembesaran. Entah mengapa ia berharap Taeyeon menyadari betapa gugupnya ia kemudian memulai pembicaraan.

Ia dapat merasakan tatapan Taeyeon padanya bahkan saat kepalanya menunduk dalam. Tiffany menolak untuk beradu tatapan dengan Taeyeon.

“Tidak bisa tidur?” Tanya Taeyeon mencoba menghiburnya.

Ia mengangguk lemah. Merasa bodoh.

Sangat, sangat bodoh.

“Okay,” Taeyeon mendesah dan akhirnya mereka beradu tatapan. “Ayo, aku akan membuat kopi.”

Tiba-tiba ia merasakan tangan dingin Taeyeon menggenggam pergelangan tangannya yang gemetar dan menuntunnya menuju dapur.

Tiffany tersenyum dengan sentuhan dingin itu. Ia bukan satu-satunya yang tengah gugup.

_____

Taeyeon masih merasa dingin dan ia berdoa pada Tuhan bahwa Tiffany takkan menyadari betapa keras guncangan tangannya.

Ia benci harus bersikap seperti remaja bau kencur. Ya, dia mungkin pernah merasakannya beberapa tahun yang lalu namun apa yang terjadi saat ini sangatlah konyol.

Wajahnya menghindari gadis itu dan ia tak pernah berpikiran membuat kopi akan terasa begitu sulit. Taeyeon menuang air mendidih pada dua cangkir secara perlahan, mencoba untuk tidak menumpahkan apapun pada meja atau pada tubuhnya sendiri.

Ia melihat saat air itu mulai menguap dengan anggunnya, tanpa tersadar ia tersenyum sendiri. Rasa dingin itu sekarang tergantikan oleh ribuan kupu-kupu di perutnya dan ia harus menahan kikikannya.

Disanalah ia, berdiri di dapur kecil dan membuat kopi untuk satu-satunya gadis yang ia cintai dalam hidupnya, gadis yang menghancurkan hatinya diluar kendali atas dirinya. Dan sekarang masih orang yang sama yang ia inginkan untuk bersama menghabiskan sisa hidupnya untuk selamanya.

Betapa sulit kondisinya saat ini.

Taeyeon memegang cangkir itu dengan hati-hati dan berjalan melewati Tiffany yang tengah duduk di kursi dapur dengan ekspresi kebingungan, menatap Taeyeon dengan memiringkan kepalanya ke samping, bertanya-tanya.

“Ayo minum diluar.” Taeyeon mengisyaratkannya.

“Okay.”

Ia melihat Tiffany berjalan mendahuluinya sebelum membukakan pintu geser yang menghubungkan mereka dengan beranda. Mereka merasakan angin dingin berembus, bahkan lebih dingin dari angin yang menyelimuti mereka saat keduanya tengah berada di bukit malam tadi. Seketika, Taeyeon merasakan bulu kuduknya berdiri.

“Ini,” Taeyeon memberi satu cangkir pada Tiffany sebelum bersandar pada pagar terali, pandangannya kosong.

Lebih gelap, tak banyak bintang yang muncul dan bulan dengan malu-malu bersembunyi di balik awan. Ia mengayun cangkir di antara tangannya dan merasakan kehangatan menyeruak di telapak tangan dan turun ke jari-jarinya. Uap kembali berputar-putar ke atas sebelum lenyap bersama angin yang berembus dengan halus kemudian Taeyeon berpikir, bagaimana rasanya bebas seperti angin, tanpa beban, tanpa pikiran apapun.

Ia menyesap sedikit kopinya dan cairan hangat seketika turun di tenggorokannya. Ia mendesah saat merasakan kehangatan menyeruak di perutnya.

“Apa ada yang mengganggu pikiranmu?” Taeyeon akhirnya memutuskan untuk mematahkan keheningan itu.

“A—Aku.” Ia mendengar Tiffany gugup, “Aku hanya tidak bisa tidur.”

“Aku juga.” Taeyeon mengaku. ‘Aku sedang berpikir tentang ciuman yang kau berikan padaku.’ Ia ingin menambahkan.

Keheningan kembali menyelimuti mereka dan Taeyeon menyadari bahwa cangkirnya hampir kosong. Ia mendesah dan meletakkan cangkir itu di lantai sampingnya.

Ia mulai merasa canggung lagi.

‘Kau mengajakku kemari dan sekarang kau bahkan tidak berkata apap—.’

“Taeyeon…”

Sebuah suara menghentikan pikirannya.

“Uh, yeah?”

Ia melihat ke arah Tiffany dan melihat gadis itu meletakkan cangkirnya pada meja bundar kecil di sampingnya. Taeyeon membiarkan matanya tertuju pada gadis itu sampai ia kembali ke posisinya semula di samping pagar.

“Apa kau sungguh-sungguh dengan ucapanmu? Di bukit?” Taeyeon mendengar suara tegang Tiffany.

“Yang mana?” Taeyeon terkikik. Ia telah mengatakan banyak hal.

“Saat k—kau berkata..” Tiffany berhenti dan Taeyeon dapat merasakan kegugupannya, “saat kau bilang kau masih ingin be—bersamaku lagi bahkan setelah semuanya…?”

Ia merasakan kebahagiaan menjalar di tubuhnya. Ia tidak menyangka pertanyaan itu akan keluar dari mulut Tiffany, atau keberanian yang tiba-tiba Tiffany tunjukkan.

Seketika ia merasa picik, mempertahankan ego karena ciuman kecil sedangkan Tiffany…

“Kumohon, jawab aku Taeyeon…”

“Tiffany… Aku…”

Taeyeon tidak tahu mengapa ia ragu ketika ia tahu bahwa jauh di dasar hatinya ia akan selamanya mencintai Tiffany. Gadis itu bisa saja membunuhnya disini dan disana, dan dia tak keberatan. Ia bahkan akan memaafkannya untuk membiarkan darahnya disentuh oleh tangan Tiffany.

Sakit dan masokhis, Taeyeon tahu itu, namun setelah mendapati bahwa dirinya tinggal di ruangan yang sama dengan Tiffany dan anaknya dari pria lain, ‘masokhis’ bahkan tak dapat mendeskripskikan hidupnya. Ia merasa seolah ia tengah terjebak di reality show yang mengerikan dan seluruh dunia tengah melihat dan menertawakannya.

Namun meskipun demikian, pada kenyataannya ia sedang berdiri disana bersama Tiffany di sampingnya dan ia merasa seperti segalanya kembali membaik. Dunia bisa saja menertawakannya, mengejeknya, atau meneriaki namanya, namun di situlah mereka, di situlah dia, dan dia tengah diberi satu kesempatan lagi untuk kembali mendapatkan gadis yang telah pergi meninggalkannya.

“Aku harus tahu…” Ia hampir tidak mendengar bisikan Tiffany.

‘Ini gila. Kau akan menyakiti dirimu sendiri.. lagi, aku dapat merasakannya…’

“Ya.. Aku sungguh-sungguh.” Jawab Taeyeon dengan gugup.

‘Tapi aku benar-benar mencintainya… dan mungkin saja kita dapat…?’

Masa bodoh dengan logika.

_____

Tiffany bertanya-tanya apakah Taeyeon memasukkan sesuatu di kopinya karena ia tidak dapat menemukan penjelasan yang pantas mengapa hatinya berdetak begitu cepat dan ia benar-benar ingin mendekap wajah Taeyeon dan menciumnya hingga pingsan.

Ia tidak tahu bahwa hal itu adalah campuran dari kehangatan di tubuhnya dan dinginnya udara namun pikirannya terasa berderik dan kebingungan. Semua yang ia inginkan hanyalah untuk menghabiskan waktu lebih lama bersama Taeyeon, namun ketika ia berbuat kesalahan karena telah memberanikan diri melirik kearah gadis itu, semua perasaannya membuncah.

Ini mungkin hanya karena dingin, karena Tiffany merasa sendiri dan kesepian, ia berharap dari dasar hatinya, untuk kembali didekap, untuk kembali merasa aman. Seperti secangkir kopi yang tadinya ia pegang, ia berharap untuk kembali diperlakukan dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Karena sekarang ini, ia lemah dan tak berdaya.

Taeyeon selalu memperlakukannya dengan baik, layaknya seorang gadis yang memperlakukan kekasihnya dengan penuh cinta. Dan pada titik yang sama, pria itu juga memperlakukannya dengan baik. Beberapa kali, ia bahkan berpikir bahwa pria itu memperlakukannya lebih baik daripada Taeyeon, namun…

Akan selalu ada kata ‘tapi’ di setiap argumen.

Sungguh lucu, lihatlah dengan siapa gadis itu sekarang.

“Aku… Aku sungguh-sungguh.” Akhirnya ia mendengar Taeyeon berkata.

Tiffany sudah lelah berada dalam ketakutan, ditinggalkan. Meskipun ironis, karena orang yang melindunginya dan tetap bersamanya adalah orang yang dulunya ia tinggalkan untuk orang lain.

Ia ingin tertawa dan menangis dengan keironisan ini.

Namun ia menginginkannya, lagi. Dan ia benar-benar menginginkannya. Ia tidak takut untuk mengakuinya.

“Apakah aku egois?” Tiffany memulai, memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatakannya, “Jika aku memintamu untuk kembali bersamaku?”

Kata-katanya tenggelam karena gugup, namun itu adalah cara tercepat untuk menyampaikannya.

Dan Tiffany ingin, dengan sangat, untuk mengatakannya tepat pada Taeyeon, karena ia tidak ingin lagi membuang-buang waktunya.

Ia bergeser, lagi, berhati-hati untuk tidak membangunkan anaknya yang tengah tertidur pulas. Tiffany tidak dapat menjauhkan pikirannya dari makan malam itu, perbincangannya di atas bukit, cincin itu. Ia sudah berada di ambang kegilaan, dan dia hanya dapat menyalahkan dirinya sendiri. Rasa penasarannya sudah terbayar, dan ia merasa seolah benar-benar mati, karena kejujuran Taeyeon.

Tiffany berusaha untuk menekan perasaannya saat ia mencium Taeyeon namun rasa rindu yang menghempasnya terlalu berlimpah. Seketika ia dibawa kembali ke masa dimana mereka masih bersama, mencintai dan mengasihi satu sama lain.

Ia bangkit, mencoba untuk melembutkan kembali guratan di kausnya yang kebesaran dan melangkah kearah pintu.

Tiffany melirik jam dinding saat ia menyentuh engsel pintu.

Hampir jam dua pagi.

Apakah ini waktu yang tepat untuk mengatakan pada seseorang bahwa kau ingin dia kembali padamu?

____

-TBC-

Iklan

42 thoughts on “Back For Good Chapter 15”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s