BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 16

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

I know I let you down
But it’s not like that now
This time I’ll never let you go

(I Will Be-Avril Lavigne)

Chapter 16

Taeyeon tak pernah membayangkan sebelumnya, tak sekalipun selama empat tahun ini, ia akan bangun dari tidur lelapnya dalam posisi sedemikian rupa.

Setidaknya, tidak lagi.

Semua memori dan perasaan yang telah lama terpendam dan terkubur dalam pikiran dan hatinya, dan membuka kembali kenangan itu hanya akan membawa luka.

Akan selalu ada hari dimana ia secara tidak sadar mengeluarkan semuanya, namun setiap kali ia melakukannya, hanya akan meninggalkan air mata bersama terbenamnya matahari.

Seluruh tubuhnya terasa sakit dan Taeyeon berpikir keras bahwa mustahil jika semua ini hanyalah mimpi ketika ia dapat merasakan sakit fisik dalam posisinya yang seperti ini. Ia merasakan geseran di punggungnya dan ia benar-benar yakin tak setetespun darah yang dapat mengalir naik dari punggungnya karena berat yang menindihnya di atas sofa.

Namun itu hanya rasa sakit fisik semata dan sementara ketika seseorang yang kau cintai dalam hidupmu tengah bersandar dengan nyaman di atasmu, melingkarkan lengan di pinggangmu dan mendekapmu dengan posesif dan bahkan kau dapat merasakan sepasang bibir yang menempel di lehermu dengan lembut.

Ia berusaha untuk menggerakkan kepala ke samping namun gerakan itu justru membuat Tiffany semakin meringkukkan kepalanya pada lekuk leher Taeyeon.

“Selamat pagi,” Ia mendengar suara yang parau dan membuatnya membeku.

Taeyeon yakin bahwa Tiffany masih setengah tertidur namun Taeyeon menyukai suaranya yang berdering parau dan sangat dekat dengan telinganya seolah kata-kata itu terdengar dari dalam kepalanya lalu membuatnya semakin gugup, jantungnya berpacu.

“Hey,” Ia berbisik, berbicara seolah itu adalah sebuah rahasia, “selamat pagi.”

Tiffany kembali menekan bibirnya pada leher Taeyeon dan mengisapnya lembut.

“Aku… Aku bersungguh-sungguh.”

Sebagian dari dirinya ingin menarik kembali kata-kata itu namun sudah terlambat. Meskipun ia bersungguh-sungguh dengan kata-katanya, dan menariknya kembali hanya akan membuat dirinya menjadi hipokrisi, manusia hipokrisi menyedihkan yang ingin untuk mendapatkan Tiffany kembali. Sangat ironis, namun Taeyeon masih terluka, dan luka yang sudah ia tanggung bukanlah luka yang mudah untuk dilupakan walau sudah bertahun-tahun berlalu. Kata-kata itu masih menyakitinya, terutama harga dirinya, atau setidaknya apa yang ditinggalkan setelah itu.

Ia sudah terlalu memilukan saat ini, dan nyatanya ia sudah tahu akan hal itu.

“Apakah aku egois… Jika aku memintamu untuk kembali bersamaku?”

Pertanyaan itu berdengung di kepala Taeyeon berulang kali.

Ya, dan ia ingin berkata. Tiffany sungguh egois.

Taeyeon masih marah padanya, dan ia ingin membenci gadis itu atas apa yang sudah dia lakukan. Saat Tiffany meninggalkannya, ia harus menghabiskan seluruh waktunya untuk bertanya-tanya pada dirinya sendiri, pada Tuhan, bahkan pada ruang kosong di sampingnya dan bingkai foto yang terus tertawa mengejeknya ditengah malam, mengapa ia pergi  untuk menemukan seseorang yang lain, meninggalkan hatinya sendiri ketika mereka telah berjanji untuk bersama selamanya.

Ia tahu dirinya adalah orang yang jahat. Taeyeon mencintainya dengan sepenuh hati dan dia telah berusaha dengan segala daya untuk membantunya. Namun mengapa? Mengapa ialah orang yang ditinggalkan di atas altar, dengan cinta yang bertahun-tahun hanya dibuang begitu saja, tak berguna dan seolah tak pernah terjadi, ciuman dan pelukan yang mereka bagi sudah terlupakan, hanya karena rasa cinta lain yang tumbuh bukan untuknya.

Segalanya menyakitkan, setiap sel, setiap bagian dari dirinya menjerit kesakitan, luka yang sudah berusaha ia sembunyikan dibalik senyumnya.

Ya, Tiffany sangat egois, namun entah mengapa…. Ia merasa ia juga.

Karena sekeras apapun ia menjerit kesakitan, hatinya akan berteriak lebih keras dan meminta untuk kembali mencintainya.

“Ya,” Taeyeon berkata pelan, “kau egois.” Ia menghembuskan napas. “kau meninggalkanku di atas altar, berkata padaku bahwa kau tak lagi mencintaiku karena aku tak dapat membuatmu bahagia. Kau tahu betapa menyakitkannya hal itu?”

Ia tak tahu kapan ia mulai menangis, meneteskan setiap bulir yang telah ia bendung, setiap topeng yang ia sembunyikan dalam kepura-puraannya yang membantunya menyembuhkan luka selama bertahun-tahun lamanya saat ia tengah sendiri. Taeyeon meneteskan air matanya dengan setiap kata, setiap pertanyaan yang telah ia pendam, pertanyaan-pertanyaan yang ia tahu takkan dapat ia utarakan sampai sekarang.

“Kita telah berjanji untuk bersama selamanya, kau tahu. Bahkan sebelum aku memintamu untuk menikah denganku, kita telah berjanji untuk saling mengasihi,” Taeyeon masih menangis walaupun suaranya terdengar begitu jelas. “Namun kau tetap memilih untuk meninggalkanku sendiri….”

Ia menundukkan kepala dan membiarkan air matanya mengalir dalam diam, dengan bebas. Taeyeon tak berani menatap Tiffany karena ia tahu satu tatapan akan berakhir dengan apa. Setiap perasaan yang ada dalam dirinya mendorongnya keluar dan ia sudah lelah berusaha untuk menekannya. Ia tidak ingin melewatkan malam ini dengan perasaan yang masih mengganjal.

“Apa kau tahu setelah kau pergi, aku mulai tidur dan tertidur lebih lama? Sunny selalu mengomeliku karena hal itu..” Taeyeon tertawa pahit saat ia mengingat beberapa bulan pertama yang ia habiskan setelah kembali ke rumah dari pesta pernikahannya yang gagal dan bulan madu mereka yang seharusnya terjadi. “Aku menghabiskan setiap waktu luangku untuk tidur karena,” ia akhirnya melihat kearah Tiffany yang juga mulai menangis. “Karena di dalam mimpiku, kau masih bersamaku… kau masih mencintaiku.”

Ia berhenti dan menelan saliva yang menggumpal di tenggorokannya sebelum mendesah.

“Jadi ya, Tiffany, kau sangat egois. Karena telah meninggalkanku sendiri, karena kembali dengan seorang anak, dan memintaku untuk kembali bersamamu…”

“Taeyeon, Aku—.”

“Kau egois karena bahkan setelah semuanya terjadi, kau masih menjadi pemilik hatiku…”

Taeyeon menatapnya dan tersenyum ditengah-tengah air matanya. “Dan sialnya, walaupun aku telah memutsukan untuk menerimamu, aku tak menyesal.”

Ia mendekati Tiffany dengan hati-hati, seolah jika ia berjalan dengan cepat, tubuhnya yang rapuh akan kembali pecah dan ia tidak akan kembali menjadi sempurna di mata Tiffany.

“Karena aku mencintaimu dan hanya kau.” Taeyeon menangkup kedua pipi Tiffany dengan telapak tangannya dan menyeka air mata yang mengalir dari wajahnya menggunakan ibu jarinya. “Dan jika kau egois maka aku juga ingin menjadi egois. Aku ingin hatiku hanya untukmu..”

Dan Taeyeon menciumnya.

Taeyeon membungkuk dan menciumnya, lembut, bibirnya menekan bibir Tiffany yang gemetar.

Ia mundur selangkah dan menekan kedua pelipis mereka bersamaan.

“Jadi iya, Fany.” Bisik Taeyeon, memastikan bahwa napasnya menggelitik bibir basah Tiffany, “Aku akan menerimamu kembali. Setiap keegoisan, kepahitan, kebohongan, ketidaksempurnaan dari dirimu.”

 

“Gomawo.”

Ia mendengar suara Tiffany dan hal itu membuatnya kembali menatap gadis itu. Ada sesuatu di dalam mata lembutnya dan Taeyeon hanya dapat melihat refleksi dirinya disana.

“Untuk apa?” Tanyanya dengan nada yang sama.

“Karena telah menerimaku kembali.”

Ini mungkin akan menjadi keputusan paling bodoh yang pernah ia buat dalam hidupnya, dan ia bahagia, ia berpikir bahwa hal inilah yang selama ini menjadi permasalahan di antara mereka.

Ia bahagia, dan Tiffany juga bahagia.

Selama beberapa saat, ia tidak tahu. Ia hanya berharap bahwa ini akan bertahan seirama napasnya.

Taeyeon mendekap Tiffany erat dalam dadanya, tepat di hatinya, dan dengan lembut melandaskan bibirnya pada kening Tiffany.

“Dengan senang hati.”

______

-TBC-

Fighting!!

Iklan

46 thoughts on “Back For Good Chapter 16”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s