BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 17

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

I want and want you – and one more thing
I hurt and hurt but still, just once
Even if it wears out and wears out
Even if the tears don’t dry
If only we can go back to the beginning

(Taeyeon SNSD – And One)

Chapter 17

Taeyeon merasakan air dingin mengalir dari dahi turun ke kelopak matanya. Refleks, ia menutup kelopak matanya. Dengan erat, ia mencengkeram pinggiran wastafel hingga buku-buku jarinya mulai terasa sakit, dan ia masih merasa sural, seolah semua yang ada di sekitarnya hanyalah mimpi dan tak satupun dari mereka yang nyata. Kausnya mulai terasa basah akibat air yang terus-menerus menetes dari dagunya, namun ia tidak merasa dingin sebagaimana seharusnya, hanya kehangatan yang memancar dari tubuhnya terutama di dadanya, dimana Tiffany menyandarkan kepala hingga matahari terbit.

Ia menghela napas, udara keluar dari mulutnya yang gemetar dan bibirnya yang terasa hangat.

Kehangatan itu terasa nyata pikirnya, namun ia menatap refleksi dirinya di cermin seolah-olah bayangan itu bukanlah ia.

Taeyeon meletakkan tangannya di depan dada, tepat di jantungnya yang berdetak sangat cepat. Ia menghirup napas dalam, membuat aroma rambut Tiffany segera menguar kemudian menyerbu hidung lalu pikiran dan hal itu membuatnya tersenyum.

Untuk pertama kalinya selama empat tahun, ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia merasa seolah dirinya baru saja belajar bagaimana rasanya jatuh cinta pada pandangan pertama, dan hal itu membuatnya pusing dan gugup dan bodoh, kebodohan yang tolol.

Tiffany baru saja kembali di hidupnya dan ia masih mendapati dirinya terkunci di kamar mandi, membasahi wajahnya dengan berliter-liter air, melakukan hal-hal yang tidak penting hanya untuk memerpanjang waktu yang harusnya ia gunakan untuk kembali bertatap muka dengan Tiffany.

‘Menyedih—.’

“Taeyeon? Kau baik-baik saja disana?” Ia mendengar ketukan lembut.

Suara Tiffany menggema dari luar pintu kamar mandi dan tak peduli seberapa pelannya suara itu, Taeyeon masih merasa semua bulu di tubuhnya berdiri hanya karena mendengar kelembutan suara itu. Entah mengapa ia membenci betapa segala sesuatu yang sederhana dari gadis itu telah memengaruhinya.

Namun ia suka bagaimana cara Tiffany memengaruhinya. Pemikiran itu benar-benar membingungkan namun Tiffany lebih membingungkan demikian pula dengan dirinya.

“U-Uh, yeah. Maaf, aku hampir selesai,” ia berkata dengan suara parau.

“Okay. Aku akan segera memanggil room service untuk memesan sarapan kita.”

“Aku akan segera keluar.”

Ia mendengar derap langkah kaki Tiffany semakin menjauh dan hanya setelah itu ia dapat menghembuskan napas yang tanpa ia ketahui telah ia tahan.

Taeyeon kembali melihat bayangan dirinya di cermin sebelum menggelengkan kepalanya sambil terkikik.

‘Sungguh menyedihkan.’

_____

“Jadi, apa yang telah terjadi diantara kalian berdua sekarang?”

Tiffany melihat Jessica menyesap minumannya sebelum kembali memfokuskan perhatiannya pada Taeyeon yang dengan tenang duduk bersama Sunny di meja yang berbeda. Ia tidak dapat mendengar percakapan mereka dengan jelas, namun dari kata-kata yang sesekali keluar dari mulutnya sudah cukup bagi Tiffany untuk menarik kesimpulan bahwa kemungkinan mereka tengah merencanakan bagaimana cara untuk memperindah pesta pernikahan mendatang.

Ia seketika tersenyum ketika ia melihat ekspresi Taeyeon yang menawan walaupun gadis itu entah mengapa terlihat frustasi, dan ia merasa ingin sekali berlari ke arah meja mereka dan menciumi gadis itu disana-sini.

“Kau gila.”

Tiffany kembali melihat Jessica dan mendapati gadis itu hanya menatapnya tajam.

“Apa?” Ia bertanya sedatar mungkin, namun matanya yang tersenyum membuang semua emosi yang ditampakkannya semenjak ia terbangun dalam dekapan Taeyeon pagi ini.

“Meskipun begitu, ia lebih gila,” Ia mendengar Jessica berbicara, “jika aku menjadi dia, aku takkan mau kembali denganmu.”

“Yeah, dia memang gila.”

Tiffany tidak dapat berbuat apa-apa hanya mengangguk setuju, namun ia bersyukur, benar-benar bersyukur. Taeyeon bukanlah Jessica.

“Ia gila karena mencintaiku.”

_____

“Yeah… Tambahkan beberapa warna merah kalau kalau… Ya… Oh benar, jangan lupa kotaknya… Uhuh… Ya, itu saja. Aku ingin semuanya sampai sesegera mungkin, okay? Yeah, yeah. Terimakasih, sampai jumpa.”

Taeyeon mengakhiri telepon dengan salah seorang staff sebelum meneguk minumannya, tenggorokannya seketika terasa kering setelah pembicaraannya melalui telepon. Ia mendesah saat merasakan cairan dingin menenangkan tenggorokannya yang gatal, dan hanya dengan itu ia merasa semua stress akibat pesta pernikahan yang akan segera digelar sedikit demi sedikit memudar.

Ia hendak memasukkan kembali ponselnya ketika melihat Sunny mengamatinya seolah ia telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Apa?” Taeyeon bertanya meskipun ia sudah mengetahui hal apa yang kini telah merasuki pikiran Sunny.

“Jangan bertanya ‘apa’ padaku, Kim Taeyeon.”

Pagi tadi, Sunny dan Jessica secara kebetulan menyaksikan mereka berciuman di depan pintu hotel mereka. Sangat mengejutkan keduanya.

Taeyeon mendesah dan menyandarkan punggungnya pada kursi sambil bersedekap. Tatapan menghakimi yang dilontarkan Sunny mungkin saja tepat, dan ya, ia mungkin telah melakukan kesalahan terbesar dalam hidupnya, namun saat ini kesalahan itu tidak jadi masalah untuknya—tidak, tidak sebesar dulu lagi – karena ia kembali jatuh cinta dan ia bahagia.

‘Aku bahagia,’ Ia mengulang pernyataan itu berulang-ulang di kepalanya sambil tersenyum.

“Kau gi—.”

“Gila, aku tahu. Kupikir ini sedikit gila,” Taeyeon mengangguk dan tersenyum sendiri.

“Sedikit? Taeyeon, sungguh? Hanya sedikit?” Ia mendengar Sunny mendesis, “Apa yang salah denganmu?! Apa kau pernah berpikir?!”

Sunny mengangkat kepala dan menatap Taeyeon tepat pada kedua matanya. Taeyeon tidak berkata apa-apa selama beberapa saat namun ia tengah tersenyum, senyum yang ia rindukan untuk diperlihatkan pada orang lain. Ia kemudian menangkap bayangan Tiffany dari sudut matanya dan membuat senyum itu semakin lebar.

“Mungkin tidak,” Taeyeon berkata pelan, namun cukup keras untuk Sunny dengar.

_____

Sunny hendak mengomeli Taeyeon karena keputusan gilanya namun ia tanpa sengaja menggigit lidah, membuatnya merasakan rasa tajam seperti besi berkarat di mulutnya. Sangat menyakitkan namun ia tidak dapat mengucapkan sepatah katapun karena ia melihat sesuatu yang sudah lama ia rindukan di wajah Taeyeon.

Tak hanya senyumnya, namun lesung pipit di bawah dagunya akhirnya muncul kembali.

Sunny mengamatinya dan ia mendapati pancaran kebahagiaan luar biasa yang melingkupi Taeyeon, dan menjadi sesorang yang, selama empat tahun yang lalu, tak terlihat apapun hanya awan gelap yang mengikuti sahabatnya dimanapun ia berada, melegakan dapat melihat Taeyeon seperti itu.

Tanpa sadar Sunny tersenyum saat mendapati Taeyeon mencuri-curi pandang pada Tiffany yang tengah berada di meja seberang bersama Jessica. Ia hampir terkikik ketika melihat ekspresi linglung sahabatnya saat gadis yang berada di meja seberang itu tersenyum dengan eye smilenya.

Walaupun ia masih belum sepenuhnya setuju dengan keputusan mendadak Taeyeon untuk kembali bersama Tiffany, namun siapa dia di antara kedua temannya itu?

‘Empat tahun terpisah sudahlah cukup.’

Ia hanya bisa berdoa bahwa semua kepiluan itu akan berakhir sampai disini.

Untuk kebaikan kali ini.

_____

“Pesta pernikahannya akan segera berlangsung.”

Angin sepoi-sepoi mengelitik saat Tiffany merapatkan dirinya pada Taeyeon, lengannya dengan erat melingkar sempurna pada pinggang Taeyeon saat Tiffany memeluknya dari belakang.

Mereka sedang berada di pantai, tempat yang sama saat pertama kalinya mereka jalan-jalan bersama Juhyun, namun malaikat kecil dari surga itu kini tengah sibuk bermain dengan tante Sunny di bibir pantai.

“Yeah. Kita telah menyelesaikan foto pre-wedding jadi aku dan Sunny hanya tinggal menunggu berlangsungnya pesta pernikahan itu. Semua tim dan staf perlengkapan tambahan juga akan sampai hari ini juga.”

Ia terus-terusan mengagguk dan hanya mengeratkan pelukannya pada Taeyeon, merasakan kehangatan yang gadis itu berikan padanya. Tiffany merindukannya, terutama ketika ia melihat gadis itu untuk pertama kalinya selama empat tahun di bar malam itu, namun ia tak pernah menyangka sebesar apa rasa rindunya hingga kini akhirnya ia mendapat kesempatan untuk kembali memeluk Taeyeon dengan kedua lengannya.

Terasa sureal, untuk dapat kembali merasakannya, untuk dapat kembali menghirup aroma familiar dari tubuh Taeyeon, dan entah mengapa Tiffany ingin mencaci-maki dirinya sendiri atas apa yang telah ia lakukan empat tahun yang lalu, karena mungkin hatinya takkan sakit, terutama Taeyeon.

Dering suara ponsel Taeyeon membawanya kembali dari pikirannya.

“Hello? Yeah, ini Taeng. Dimana? Oh kamu sudah berada di parkiran? Okay, okay. Aku akan menemuimu dalam 5 menit. Dah!”

Tiffany terkikih saat ia merasakan Taeyeon mendekapnya manis sebelum mencuri kesempatan untuk mengecup pipinya.

“Aku harus pergi sebentar, Fany. Seluruh tim sudah berada disini dan aku harus menemui mereka di depan. Katakan pada Sunny kalau dia sudah kembali.”

Tiffany menatapnya dan mengagguk sambil tersenyum, mendapatkan seringai dan dua jempol terangkat secara kekanakan dari Taeyeon.

Ia melihat Taeyeon sekilas berhenti dan berbalik, ia mengerutkan dari saat gadis itu melangkah cepat ke arahnya. Taeyeon berjongkok di depannya sebelum memegang kedua pipinya, menariknya untuk sebuah ciuman.

Singkat, namun cukup mencuri napasnya, dan seketika ia membutuhkan udara saat Taeyeon melepaskan ciumannya. Ia menyandarkan dahinya pada Taeyeon dan tersenyum di tengah-tengah usahanya untuk kembali bernapas.

“Aku akan segera menemuimu.” Ia mendengar Tayeon berbisik, napas Taeyeon mengelitik bibirnya yang berisi.

Seolah refleks, atau mungkin insting, karena Tiffany seketika mendapati tangannya meraih pipi Teayeon sebelum menariknya untuk ciuman kedua mereka. Ia berpikir, menyatakan bahwa Taeyeon yang mencuri napasnya dengan mudah tidaklah adil sama-sekali.

Dan ia melakukan hal yang sama, dengan bibirnya, dengan jemarinya yang bersandar dengan lembut di wajah orang yang sangat ia cintai, dengan segalanya yang ia miliki saat ini, dan ia berharap dengan sangat ia juga dapat mencuri napas Taeyeon.

“Okay,” Tiffany berucap saat bibir mereka masih menempel sempurna dan ia tersenyum saat merasakan Taeyeon bergidik dibawah sentuhannya.

Dengan senyum simpul dan rasa bahagia yang luar biasa, ia melepaskan gadis gemetar itu sebeum membiarkan siluetnya pergi.

_____

“Ia sangat kelelahan.”

“Kau benar.”

Tiffany mendekap Juhyun yang tengah tertidur pulas di lengannya dan terkikik bersama Sunny saat mereka melangkah memasuki hotel. Hari yang menyenangkan, bersama anak perempuannya ia menikmati setiap detik yang berlalu, saling melempar pasir dan air bersama Sunny. Ia sangat bahagia, melihat gadis kecilnya seperti itu, karena jujur, ia tak pernah melihat Juhyun sebahagia dan sesemangat itu selama ini.

Juhyun selalu menjadi gadis yang pendiam. Meskipun ia pandai berbicara, namun hanya saat ia menginginkannya, dan mungkin ia sedikit lebih dewasa seumurannya, namun gadis kecil itu jarang merasa nyaman di sekeliling orang asing, atau memang ia tak pernah merasa nyaman, terutama jika berada di sekitar pria. Seringkali Tiffany hanya melihatnya bermain sendiri dengan boneka dan mainan-mainannya, dan ia merasa sedih.

Ia mengangkat gadis kecil itu dalam dekapannya saat ia mengambil kunci lalu menyerahkannya pada Sunny yang tengah membukakan pintu untuk mereka dengan senang hati.

“Masuklah dan tidurkan dia, aku akan berada disini sampai midget itu kembali.”

Tiffany terkikik dan mengagguk saat ia berjalan memasuki kamarnya. Ia menidurkan Juhyun di bawah selimut hangat dan melayangkan ciuman manis pada keningnya sebelum pergi keluar ruangan untuk bergabung dengan Sunny.

Ketika sampai di sofa, ia mengerutkan dahi saat ia tidak melihat keberadaan Sunny. Tiffany menoleh ke arah beranda namun tempat itu juga kosong. Saat ia baru saja akan pergi ke kamar Taeyeon untuk melihat apakah gadis itu berada disana, ia mendengar pintu dibuka dan mendengar suara Sunny terdengar sedikit kebingungan.

Tiffany mengubah arah dan melangkah ke ruang tamu dimana ia melihat Sunny berbincang bersama seseorang.

“Hey, Sunny apakah Taeyeon sudah da—.”

Ia merasakan darahnya seketika membeku.

“O—Oppa…”

“H-Hey, Tiff….”

_____

-TBC-

Iklan

46 thoughts on “Back For Good Chapter 17”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s