BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 18

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

You lost the love I loved the most

(Christina Perri – Jar Of Hearts)

Chapter 18

Tiffany selalu menghargai hidup seperti sebongkah peristiwa yang tak terduga dan situasi yang adakalanya seketika terjadi di depan mata. Tak terhitung banyaknya waktu, ia selalu mendapati dirinya terjebak dalam skenario yang sulit. Namun kerap kali ia berusaha untuk keluar dari situasi itu, sering kali tanpa sela namun seiring berjalannya waktu, hal itu semakin membuatnya terluka.

Saat ia tengah terjebak dilema di mana dia harus meninggalkan Taeyeon untuk seorang pria yang ia cintai, dia merasa menyedihkan dan yang ia inginkan hanyalah membenamkan diri dalam bak mandi yang ada di kamarnya.

Ia tahu meskipun Taeyeon rela melepasnya kala itu, ia telah meninggalkan luka dalam pada hatinya. Tiffany sudah menerima kemungkinannya, merasa sangat bersalah, seolah itu takkan pernah lagi sembuh, namun siapa dia? Ia hanya seorang manusia, dan walaupun terdengar sangat egois, ia hanya ingin bahagia.

Saat ia berpikir bahwa hidupnya telah berubah lebih baik, ia ditinggalkan oleh seseorang yang ia pikir mencintainya sedalam yang ia lakukan. Namun, dunia berbalik saat itu juga, ketika ia mendapati dirinya tengah hamil anak pria bangsat itu.

Kendati demikian ia sangat bersyukur atas kehadiran Juhyun, karena entah mengapa gadis kecil itu telah membuatnya lebih tenang dalam situasi yang membuatnya kacau, sedikit demi sedikit, dan ketika dia telah merasakan kembali kebahagiaan yang telah direnggut darinya.

Namun seperti yang semua orang katakan, tak ada hal yang abadi.

“Apa yang kau lakukan disini?”

Tiffany mendesah saat ia memijat pelipisnya, merasakan pening yang seolah akan segera mematahkan tengkoraknya. Segalanya mulai terasa melelahkan.

“Aku… Aku menghubungi ayahmu dan bertanya tentangmu. Dia bilang kau kemari untuk menghadiri pesta pernikahan… Jadi, aku mengikutimu.” Ia berkata dengan canggung, ketakutan.

“Mengapa?”

“Tiffany, bi-bisakah kita berbicara? Kumohon?”

“Kita sedang berbicara saat ini, ya kan?” Suaranya terdengar jengkel dan dia tahu pria itu juga merasakannya.

Pria itu dengan gelisah melihat ke arah Sunny dengan perasaan khawatir sebelum kembali menatap Tiffany. Tiffany tahu pria itu butuh privasi namun berdua dengannya membuatnya lebih khawatir. Karena apa dan mengapa, ia tidak tahu. Meskipun demikian, Tiffany menyerah dan menuruti permintaannya lalu dia meminta Sunny untuk membawa pergi Juhyun selama beberapa saat. Awalnya, Sunny merasa ragu namun pada akhirnya ia mengangguk juga, namun tidak tanpa memberinya tatapan tidak setuju.

“Bicaralah…” Tiffany berkata segera setelah Sunny menutup pintunya.

Ia tak ingin sekasar itu namun dia hanya tidak dapat mengontrol rasa jengkel yang terus meluap-luap dalam dirinya.

Tiffany telah berpikir bahwa segalanya mulai membaik, terutama sekarang saat ia kembali mendapatkan Taeyeon, namun sayang tidak sebagaimana cara Tuhan bekerja.

“A—Aku minta maaf,” Pria itu berkata dengan menundukkan kepala dan Tiffany dapat melihat kegugupan di wajahnya.

Tiffany menutup mata dan berusaha untuk menekan segala emosi yang hendak membuncah. Anaknya tengah tertidur pulas di kamar dan dia tidak ingin membangunkannya. Ia tahu betapa berisiknya ia, dan berteriak bukanlah pilihan yang tepat.

“Hanya itu? Kau hanya… Meminta maaf?” Tiffany mendesis saat kejengkelannya mulai berubah menjadi kemarahan.

“Tidak, tidak! Aku… Aku bersalah, Tiff. Aku minta maaf.” Ia kembali berkata dan kepalanya semakin menunduk, “Kita baru saja memulai segalanya dan semua berjalan sangat cepat bagi kita berdua! Pekerjaanku membaik dan aku baru saja mendapat promosi! D-dan aku masih belum siap untuk menjadi seorang ayah—.”

“Dan kau pikir aku sudah siap?”

Tiffany sudah meledak sekarang. Ia tidak dapat mempercayai kata-kata yang baru saja ia dengar dari pria yang ia pilih untuk meninggalkan Taeyeon. Ia tak dapat lagi menahan suaranya dan ia hanya berharap tembok-tembok itu cukup tebal untuk meredam teriakanya.

“Aku juga belum siap menjadi seorang ibu, kau tahu.” Tiffany menarik napas, “dan sama sepertimu, aku baru saja memulai karirku! Namun segera setelah aku mendapati bahwa aku hamil dengan ANAKMU, aku tak pernah merasa sebahagia itu seumur hidupku! Kau menjanjikanku sebuah keluarga dan ketika itu terjadi, kupikir…. Kupikir impianku benar-benar menjadi kenyataan….”

Tiffany merasakan air mata mengalir melalui pipinya, ia telah mengeluarkan segala bentuk frustasi dan amarahnya. Tiffany tertawa, pahit, saat ia menyadari berapa kali dia menangis sendiri karenanya. Ia berharap itu takkan pernah terjadi lagi.

Tiffany menyeka air matanya dengan kasar dan memandang pria itu dengan tajam, pundaknya limbung dan kepalanya merunduk. Sedikit berbeda dari pria penuh percaya diri yang ia temui sebelumnya dan yang ia cintai sebelumnya, dia berpikir, mungkin, empat tahun lamanya itu tak hanya banyak mengubah dirinya dan Taeyeon, tetapi juga pria itu.

“Kita akan menjadi sebuah keluarga, Tiffany. Aku akan melamarmu.. aku ingin menikahimu..” Dia berbisik.

Ia melangkah mendekatinya dan itu membuat Tiffany mundur satu langkah. Meskipun pikirannya masih kacau dan emosinya masih mengambil alih dirinya, dia tetap tidak dapat menyangkal bahwa kemarahan itu telah mengakar jauh dalam hatinya.

“Dan aku akan berkata iya jika kau tak menjanjikanku apapun!”

“Aku panik waktu itu, Okay!” Tiffany terlonjak mendengar betapa kerasnya suara itu, “A—aku… Anak itu… Aku tak pernah merencanakannya, hal itu.. kecela—.”

Sekarang Tiffany secara terang-terangan menangis. Melihat pria di hadapannya itu membicarakan tentang anaknya, telah membawa kembali luka yang telah berusaha ia sembunyikan selagi ia membesarkan gadis itu sendiri.

Tak pernah mudah untuknya, menjadi single parent, terutama saat Juhyun sudah cukup besar untuk menanyakan keberadaan ayahnya. Kendati demikian, Tiffany bersyukur, bahwa ayahnya ada disana menemaninya dan dengan teguh berperan sebagai sosok ayah dalam hidup Juhyun walaupun kelakuannya empat tahun yang lalu sudah cukup untuk memepermalukan keluarganya.

“Kau tidak mengerti betapa sulitnya aku harus menjawab ketika ia terus menanyakan ayahnya.” Ia mendesah, gemetaran, “kapanpun ia bertanya tentangmu.. aku tidak tahu harus berkata apa. Aku tak bisa mengatakan bahwa ayahnya menghilang begitu saja karena tidak menginginkannya.”

“Tiff…”

Ia melihat pria itu dengan hati-hati berjalan mendekatinya dan jujur, ia sudah lelah untuk berlari. Tiffany tidak berharap bahwa kedatangannya kembali ke Korea akan menyebabkan banyak hal yang terjadi, semua seolah semakin berat dan berat saat mulai terjadi satu persatu.

Ia merasa dekapan yang sangat kuat oleh sepasang lengan dan ia ingin menghindar, namun dia tak dapat mengelak kehangatan yang dirasakannya dalam pelukan itu.

Tiffany menangis tersedu di dadanya. Hal ini sudah keterlaluan.

Segalanya sudah terenggut darinya hingga dia tak punya apa-apa lagi untuk diberikan.

“Kumohon, Tiffany. Aku minta maaf, beri aku kesempatan sekali lagi, please..”

‘Kesempatan sekali lagi.’ Pikirnya.

Taeyeon telah memberinya satu kesempatan. Niscaya, ia telah diberi kesempatan dan hal itu membuatnya seolah membumbung tinggi, karena akhirnya dia dapat memperbaiki kesalahannya, setelah sekian lama.

‘Taeyeon.’

Tiffany meneriakkan nama itu dalam kepalanya dan seketika dirinya merasa bersalah. Ia merasa bersalah karena telah kembali pada pria ini, dalam pelukannya, memikirkan apa yang telah ia pikirkan.

Ia menutup mata dan mengepalkan tangan dengan erat, kuku-kukunya mulai menyaruk  dan membekas di telapaknya. Menyakitkan, namun saat ini ia harus merasakan sakit itu.

Karena mungkin, itu akan mengurangi rasa bersalah yang telah membelenggunya.

Namun dia berpikir, mungkin jika ia memberi kesempatan sekali lagi, mungkin pria itu akan memperbaiki kesalahannya juga. Dan mungkin, Juhyun takkan lagi memiliki keluarga yang kacau.

Mungkin setelah itu, mereka akan melengkapi segalanya.

“Fany, aku kem—..”

Tiffany ingin membunuh dirinya sendiri karena tertangkap basah di depan mata, dia tidak mendengar pintu dibuka.

Lalu mungkin ia dapat menghancurkan jiwanya menjadi berkeping-keping saat ini juga karena air muka yang tergambar dalam wajah Taeyeon mengandung banyak sekali emosi.

Terkejut.

Bingung.

Sedih.

Terluka.

“Taeyeon, aku—.”

“Maafkan aku telah mengganggu.”

Tiffany menyentakkan dirinya dari pelukan pria itu dan mendorongnya menjauh jadi ia dapat mengejar gadis yang berlari ke arah pintu, dan hanya Tuhan yang tahu kemana gadis itu pergi. Dia hanya dapat membayangkan betapa mesranya mereka di mata Taeyeon, hal itu membuatnya bergidik ngeri.

“Taeyeon, tunggu! Sialan!” Tiffany merutuki dirinya sendiri saat ia menghentakkan kaki dengan frustasi. “Tidak, tidak, tidak, bukan begitu…” Tiffany bergumam sendiri, ia merasakan tangannya bergoncang karena panik. “Sunny! Sunny!”

Gadis itu menyembur keluar dari kamar dan berlari ke arahnya dengan bingung dan khawatir.

“Fany, apa yang terjadi?!” Sunny mencengkeram lengannya dan mengguncangnya. “Mengapa kau menangis?!”

“Taeyeon, dia, dia me—melihat,” Dia berkata sambil terisak tak terkendali. “Ia melihat kita ber-berpelukan dan d—.”

“Tsk! Tiffany, kau—.”

“M—mommy?”

Tiffany mendongak ke arah kamarnya dan melihat Juhyun mengucek kedua matanya yang masih mengantuk. Ia menatapnya dengan perasaan menyesal karena dia mungkin telah menyebabkan gadis itu terbangun dengan teriakannya, jadi Tiffany mengisyaratkan gadis itu untuk berjalan mendekat. Gadis kecil itu menurutinya walau sedikit lambat dan dengan setengah mengantuk.

Dia berjongkok di hadapan Juhyun dan menangkup pipinya dengan lembut.

“Hi, sayang, aku minta maaf. Apa aku membuatmu terbangun?” Ia mengayun gadis itu dalam pelukannya dan mencium keningnya.

Juhyun mengangguk dan air mata Tiffany semakin banyak menetes.

Ia merasakan Juhyun mengeliat dalam pelukannya, berusaha untuk melepaskan diri sebelum ia merasakan tangan kecil yang menangkup kedua pipinya dan menyeka air matanya.

“Jangan menangis, mommy…” Juhyun berkata saat gadis kecil itu mencium air mata di pipinya. “Taetae bilang padaku untuk mencium air mata dan itu akan berhenti.”

Mendengar nama itu disebut membuat mata Tiffany terbelalak, ia teringat apa yang tengah terjadi dan meskipun ia tidak ingin berpisah dengan anaknya yang menggemaskan namun dia harus menemukan Taeyeon. Secepatnya.

Ia berdiri dan menyadari bahwa ia telah mengabaikan kehadiran orang lain di ruangan ini. Tiffany harus pergi namun pria itu masih berdiri dengan canggung tidak jauh dari dirinya dan setidaknya dia harus memperkenalkan anak perempuannya.

“Oppa..” Ia berkata, mencoba untuk menangkap gadis kecil yang tiba-tiba saja bersembunyi di balik lengannya. “Ini Juhyun. Ayo sayang, katakan hay.” Tiffany mengomandonya namun gadis itu menolak dan hanya menggelengkan kepala lalu kembali bersembunyi lebih dalam.

“Aku minta maaf, ia hanya…” Ia berbalik ke arah pria itu dan mendapatinya berdiri mematung melihat Juhyun dengan khawatir. “sedikit pemalu…” Ia berkata, bingung dengan kelakukannya.

“H—Hi Juhyun,” katanya dengan suara lirih.

Ini mungkin akan menjadi adegan tercanggung yang pernah Tiffany lihat dan sial karena ia telah membayangkan hari ini akhirnya akan terjadi berkali-kali sebelumnya. Dan dia harus mengakuinya, bahwa harapannya akan berbeda seratus delapan puluh derajat dari kenyataan.

Jika mereka dalam situasi yang berbeda, ia mungkin akan tertawa dan tersenyum lebar, karena kecanggungan seringkali terlihat lucu di matanya. Namun keheningan yang membelenggu mereka saat ini membingungkan, ditambah kenyataan bahwa dia harus berlari mengejar Taeyeon yang mungkin takkan lagi mau berbicara dengannya.

“Uhm, Sunny.” Tiffany berkata dengan cemas. “Bisakah kau menjaga Juhyun…?” Tiffany melihatnya dengan tatapan memohon.

Sunny mengangguk tanpa bersuara sebelum menggendong Juhyun, membawanya kembali ke kamar.

“Pergi kejar dia. Sekarang!” Sunny berteriak saat ia menatap Tiffany dengan penuh kekecewaan sebelum menutup pintu.

Tiffany menyambar ponselnya, bergegas memakai mantel dan sepatunya kemudian bersiap untuk mencari Taeyeon. Ia sudah cukup membuang-buang waktu dan dia tidak tahu dimana keberadaan Taeyeon saat ini. Gadis itu mungkin sudah meninggalkan tempat ini, Tiffany merinding ketakutan saat memikirkannya.

Ia melihat pria yang masih menatapnya dengan penuh harap.

“Oppa, kurasa aku harus pergi.”

“Tapi Tiffany—.”

“Hanya.” Tiffany menekan ujung hidungnya saat ia mengantar pria itu keluar dari ruangan, “Kita akan membicarakan hal ini lain kali. Pergilah..”

Tiffany tidak menunggu pria itu untuk menjawab, dia berlari secepat kilat menuju lift dengan satu tujuan pertama di kepala, kamar sahabatnya.

_____

“Taeyeon!”

Tiffany berlari mendaki bukit sampai ia berhasil meraih gadis yang tengah duduk membisu di atas batu. Dia bernapas terengah-engah dan mengembuskan napasnya berulang kali akibat berlari selama satu jam penuh, naik turun dari hotel dan pantai hingga ia tersadar bahwa dia belum mengecek bukit ini.

Pertama-tama, ia memutuskan untuk pergi ke kamar Yulsic namun tidak mendapati Taeyeon disana, jadi tanpa pikir panjang lagi dia berlari menuju parkiran hotel untuk melihat mobilnya, namun tersadar bahwa ia tak benar-benar tahu yang mana mobil Taeyeon.

Rasa paniknya yang semakin menjadi membawa kakinya menuju restoran yang telah mereka kunjungi beberapa hari yang lalu dan saat itulah dia terpikir tentang bukit ini. Tanpa letih ia mengikuti bibir pantai dan berharap bahwa dia berjalan ke arah yang benar.

Tiffany tahu bahwa dia berhasil menemukannya ketika ia mendapati lampu kecil yang bersinar dari atas bukit.

Tiffany berjalan ke arah Taeyeon secara perlahan, kakinya terasa berat dan sakit.

“Aku sudah mencarimu kemana-mana.”

Suaranya melembut saat Tiffany sudah dekat dan ia tak ingin apa-apa lagi kecuali untuk meraihnya dan memeluknya dan meminta maaf, walaupun ia tahu tak ada hal yang membuatnya harus meminta maaf.

Taeyoen hanya mendapati mereka di saat yang tidak tepat, pikirnya, namun rasa bersalah kembali menyelimutinya dan mungkin, mungkin ia harus benar-benar meminta maaf.

“Hey—.”

“Aku lelah, Tiffany.” Bisik Taeyeon, matanya menatap kosong kearah horizon.

“Kalau begitu, ayo kem—.”

“Tidak, Fany. Aku… Aku sudah lelah.”

Kata-katanya berdenging di telinga Tiffany dan itu membuatnya berhenti. Ada sesuatu yang megerikan dari suara Taeyeon dan itu membuatnya takut.

“A—apa maksudmu?”

“Aku lelah dengan semua ini, semuanya. Aku hanya…” Ia mendengar Taeyeon mendesah. “Aku hanya ingin rasa sakit ini berhenti.”

Tiffany merasa lututnya melemas mendengar kesedihan dalam intonasi Taeyeon namun dia tetap berdiri tegak, dia tidak bisa hancur sekarang. Taeyeon terluka, sekali lagi, karenanya, dan yang ia inginkan hanya memukul dirinya sendiri karena telah berpikir tak ada hal yang harus dia sesali.

Tiffany hendak meraih tangannya saat Taeyeon berdiri, masih menolak untuk melihatnya.

“Aku… Aku berpikir aku bisa, kau tahu? Aku benar-benar bisa…” Dia akhirnya menatap Tiffany dan saat itulah akhirnya Tiffany melihat air matanya.

“Aku mencintaimu..” Bisik Taeyeon. “Aku sangat, sangat mencintaimu, Tiffany. Namun ini, kita… aku tidak berpikir kita benar-benar ditakdirkan untuk bersama.” Ia terkikik sedih lalu menyeka air matanya. “Maksudku, segalanya seolah berusaha membuat kita terpisah, dan… dan aku tidak berpikir hatiku dapat mengatasinya lagi..”

“Taeyeon, kumo—,”

“Dia memintamu untuk kembali… Iya kan?”

Tiffany menundukkan kepala dan mengagguk lemah. Suara lembut Taeyeon sudah cukup untuk menyadarkannya.

“Jadi… Apa kau?”

Pikiraanya kopong seketika dan tak ada kata-kata yang tepat melintas di pikirannya. Sekeras ia ingin menjawab, ia tak tahu bagaimana atau apa yang harus ia katakan. Tiffany tidak memikirkan sejauh ini, dan sejak ia berbicara dengan pria itu sudah cukup untuk membungkam mulutnya, keputusannya masih menggantung.

Untuk seseorang yang telah membuat berton-ton kesalahan dalam hidupnya, Tiffany tak ingin kembali mengulanginya. Bagaimanapun juga ia telah belajar dar kesalahannya, menyakiti banyak orang, dan ia hanya berharap dengan sepenuh hatinya, semua ini akan berhenti. Bahwa segalanya akan berhenti dan meninggalkannya dan hidupnya sendiri.

“Aku…”

Ia menatap Taeyeon dan terkejut dengan kelembutan dalam tatapan matanya. Dibalik air mata itu ia benar-benar ingin menyekanya dari mata Taeyeon yang lembut, dan entah mengapa tatapan itu tampak memohon, berharap.

“Aku tidak tahu..”

Tiffany tahu. Ia tahu apa yang Taeyeon inginkan, namun ia ketakutan.

Ia takut karena ia tak tahu apa yang harus dia lakukan dan kemungkinan untuk kembali membuat kesalahan lain seolah sebuah paron yang menggantung menunggu untuk dijatuhkan tepat di atas kepalanya.

Sebuah kikikan kecil terdengar sampai telinga dan ia melihat Taeyeon menggelengkan kepala berulang kali. Tiffany seketika meraihnya namun gadis itu justru mengangkat tangan dan menghentikan langkah Tiffany.

“Jangan.” Suaranya terdengar dingin.

Kata-kata Taeyeon terdengar seperti es dan membuat hatinya hancur berkeping-keping. Ia telah ditolak mentah-mentah, dan ia tidak tahu cara mengatasinya karena Taeyeon tak pernah menolaknya, tak pernah sekalipun.

Hingga sekarang.

Taeyeon berjalan melaluinya dan Tiffany menggunakan kesempatan ini untuk mendekapnya, memeluknya, memeluk punggungnya erat. Ia mendekapnya erat dan rasa dingin dari kulit Taeyeon merasuk melalui pakaiannya dan membuatnya kaku.

“Taeyeon…” Tiffany menangis saat ia membenamkan wajahnya pada leher Taeyeon, air matanya dengan bebas mengalir. “Jangan pergi…”

“Hey, Fany..” Ia merasakan Taeyeon menepuk lengannya dengan lembut, “Lebih baik kita akhiri saja semua ini, Okay?”

Ia menggelengkan kepala dan menangis semakin keras. Tiffany sudah pernah kehilangannya dan dia tak ingin hal itu kembali terjadi.

“Aku tahu kau juga lelah, jadi..” Ia mendengar Taeyeon menahan isaknya dan Tiffany merasakan hatinya berdarah-darah. “Mari kita akhiri disini. Okay?” Suaranya pelan dan lembut, dan tangisannya membuat dirinya semakin sulit berbicara, ia mendengar semuanya dengan jelas. Tiffany berharap ia tak pernah mendengarnya, namun sudah terlambat. Kata-kata itu sudah tertancap dalam hatinya yang patah.

“Tidak. Kumohon…”

Ia berusaha untuk mengeratkan pelukannya namun Taeyeon melepaksan diri dari lengannya sebelum berjalan pergi tanpa sekalipun menoleh ke arahnya.

Hari-hari Tiffany disini dimulai dengan hangat dan penuh cinta, namun ia tak lagi dapat mengucapkan hal yang sama saat semua sudah hampir berakhir.

“Taeyeon… Kumohon…” Ia kembali berteriak tanpa seorangpun yang dapat mendengarnya.

_____

-TBC-

Iklan

66 thoughts on “Back For Good Chapter 18”

  1. baperr 😦 gila tae kayaknya ga pernah bahagia aja ╥﹏╥
    dia kasian banget, fany jahat dih ckck
    sorry ya thor datang” langsung komen chapter akhir” hehe
    ceritanya keren (°∀°)b
    dikira ga bakal ada konflik lainnya, eh ternyata ada kejutan lainnya

  2. bru tadi gua bilang..
    jangan sakitin tae untk yg kedua kalinya..
    dan lu lakuin itu ke tae lg??
    hahh.. klo untuk ke3. kliny??
    ni ff konflik smua isinya..
    nyesek gua lma2 thor T^T

  3. bener” banjir sampe sesegukan.
    tae udah mw menyerah tapi fanny mala memintanya terus. saat tae berhenti berlari fanny ingn mrmbawa tae berlari tanpa tahu semuanya. ah that so sad. T.T

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s