BFG, FF Terjemahan, SNSD, SOSHI FF

Back For Good Chapter 19

Back for Good

Author : Stephan

Indo Trans : (@sasyaa95)

Title : Back for Good

Genre : Romance, Yuri.

Main cast : TaeNy,

Sub cast : Yulsic, Juhyun, Sunny.

Original story : http://stephanstarr.livejournal.com/

Warning :  The following story is fictional and doesn’t depict any actual person or event.

OST :

  1. Adele – Someone Like You
  2. Adele – Don’t You Remember
  3. Taylor Swift – Forever and Always
  4. Taylor Swift – Come back be here
  5. Taylor Swift – Back to December
  6. Taylor Swift – Tears Raindrops on my Guitar
  7. Taylor Swift – You are Not Sorry
  8. Taylor Swift – Sad Beautiful Tragic
  9. Avril Lavigne – When Youre Gone
  10. Avril Lavigne – Wish You Were Here
  11. Avril Lavigne – Remember When
  12. Taeyeon SNSD – Closser
  13. Christina Perri – Jar of Hearts
  14. Rihana – Take a Bow
  15. Maroon 5 – Sad
  16. SNSD Taeny – Lost in Love
  17. Katy Perry – The one that got away
  18. Evanescence – My Immortal
  19. Bruno Mars – Talking to The Moon

And you can say that you’re sorry
But I don’t believe you baby

(You’re not s0rry-Taylor Swift)

Chapter 19

Saat Tiffany terbangun, hal pertama yang ia lakukan setelah memastikan bahwa anaknya masih aman di tempat tidurnya adalah untuk mencari Taeyeon di kamarnya.

Dengan gusar ia menyeret kaki keluar kamar, melewati ruang tamu kecil dan melangkah menuju pintu kamar Taeyeon. Kekhawatiran masih menyelimuti pikirannya, ia masih merasa bahwa dia benar-benar tak tidur semalaman, namun air mata yang mengering di pipinya sudah membuktikan bahwa dia menangis sendiri sampai ketiduran.

Tiffany hendak mengangkat tangan untuk memutar kenop pintu namun terhenti di tengah jalan. Akan lebih baik jika ia mengetuknya terlebih dahulu, itu lebih sopan, namun gerakan sederhana itu semakin membuatnya gugup, sebagian dari dirinya ingin segera mengakhiri semua ini dan menemukan Taeyeon secepatnya.

Ia mendesah dan mengepalkan tangan sebelum mengetuk pintunya.

Tak ada apa-apa.

Bahkan suara sekecil apapun.

“Taeyeon?” Ia memanggil dengan lembut, “Bisakah aku masuk?”

Hening.

Tiffany menelan ludah yang tercekat di kerongkongannya dan berusaha untuk menahan air mata yang sudah hampir tumpah dari kedua matanya.

Ia membuat kesalahan lain lagi, terlalu banyak, namun kegawatan dari situasi ini masih belum menyadarkannya dan itu membuatnya takut setengah mati, karena entah mengapa ia mempunyai firasat buruk bahwa kali ini adalah kesalahan terbesarnya.

Ia mendesah untuk kedua kalinya pagi ini, dan walaupun pikirannya memprotes atas apa yang akan ia lakukan, tubuhnya ingin melakukan hal yang sebaliknya. Jadi, ia memegang kenop pintu dan memutarnya perlahan, dinginnya logam membakar telapak tangannya.

“Taeyeon?”

Tiffany membuka pintu lebih lebar dan yang dapat ia lihat hanyalah kamar kosong. Tempat tidurnya masih sangat rapi seolah tak ada yang menidurinya, dan selain itu, tak ada lagi barang-barang yang tersisa di tempat itu. Benar-benar kosong.

Air mata yang telah ia tahan akhirnya membanjiri pipinya dan tenggorokannya terasa kering seketika. Taeyeon telah pergi.

_____

Ia kembali menemukan dirinya, di bibir pantai yang sama, merasakan perasaan yang sama.

Sakit.

Menyedihkan.

Tak berguna.

Taeyeon menggenggam kameranya dengan erat, buku-buku jarinya memutih dan hatinya mengeras. Taeyeon berpikir sebelumnya, bahwa air mata saja tak cukup untuk mengekspresikan kesepiannya lagi, sekarang ini ia masih menangis, hatinya kembali tersakiti, setidaknya apa yang masih tertinggal dari ini, untuk laut yang dari awal telah menyaksikan kepedihannya.

Walaupun demikian ia tetap bersyukur, setelah empat tahun lamanya ia masih memiliki kesempatan untuk kembali hidup, bagaimana rasanya untuk kembali memiliki, meskipun hanya terasa beberapa jam saja. Hampir tidak terasa, ia berkata pada dirinya sendiri, namun lebih baik dari pada merasa hampa dan tak berguna.

Taeyeon tahu bahwa inilah yang terbaik namun ia tidak dapat menghilangkan dirinya dari kebahagiaan yang sesungguhnya, walaupun hanya sementara.

Pernah sekali jiwanya penuh dengan harapan dan ia tak pernah melihat keburukan dari segala sesuatunya. Ia percaya bahwa semua itu ada alasannya, bahwa semua terjadi karena sebuah alasan.

Namun memercayai hanya akan membawamu terlalu jauh, terutama ketika mengalami kenyataan yang mengalahkan segalanya. Realita, sama seperti kebenaran, menyakitkan. Membunuhnya, menghancurkannya, membuang jiwanya.

‘Terbuang…’

Taeyeon menggelengkan kepala. Menyedihkan, pikirnya.

Secara perlahan, air mata mulai mengalir dari matanya, tanpa suara, seolah jantungnya mulai berdetak semakin pelan dan melemah, hanya cukup untuk bertahan hidup.

Sudah cukup mempertahankan dua kali dan sekarang segalanya terasa semakin jelas untuknya, dan itu hanya memperdalam luka.

“Hey, Taeng…”

“Ya, Sunny?” Ia tidak menoleh pada sahabatnya.

“Semua orang sudah siap. Jessica akan segera menyusul Yuri di altar.”

Suara Sunny terdengar lembut dan pelan, seperti debur ombak kecil yang hampir menyentuh kaki telanjangnya. Ia masih bersyukur karena Sunny telah mengikutnya ke tempat ini. Lebih dari apapun juga, ia merasa senang karena masih ada seseorang yang dapat menenangkan dirinya yang hancur.

“Okay. Kau bisa pergi duluan. Aku akan kesana sebentar lagi bersamamu.”

“Jangan lama-lama, okay?”

Taeyeon mengangguk dan mendengar langkah Sunny yang kian memudar. Ia menyeka air matanya dan menghela napas.

Profesional, itulah yang ia butuhkan saat ini.

Namun ia tidak dapat menunggu malam tiba jadi akhirnya dia dapat, sekali lagi mengeluarkan air matanya.

_____

Ia tersenyum kecil saat  menatap Yuri yang berdiri dengan canggung di sebelah penghulu. Ia meletakkan kamera di depan mukanya dan men-zoom pada wajah Yuri.

‘Mungkinkah aku terlihat seperti itu ketika….’

Taeyeon membuang pikiran itu jauh-jauh dan memfokuskan perhatiannya pada calon mempelai.

Ia tidak dapat mendeskripsikan betapa ia menikmati pekerjaan barunya ini. Membawanya ke berbagai tempat, surga-surga indah yang tak pernah ia bayangkan untuk dapat mengunjunginya. Ini memberinya kesempatan untuk bertemu dengan orang-orang baru, dengan berbagai kepribadian dan pandangan dalam hidupnya, dan di situlah ia, dia banyak belajar, dan kali ini dia juga memberikan sedikit pengetahuan saat ia menjadi bagian dari mereka.

Sama seperti Yuri dan Jessica, ia menghargai setiap persahabatan yang telah mereka bangun. Cukup yakin, koneksinya bertambah banyak setiap tahunnya, namun kali ini ia merasa sedih saat pendamping pengantin wanita berjalan dengan anggun di sepanjang sisinya, yang ribuan orang-orang asing disini takkan mampu untuk menggantikan keinginannya sekali saja.

Klik.

Taeyeon tak perlu melihat hasil jepretannya. Tiffany selalu terlihat sempurna.

Ia kembali menahan air mata yang hendak membeludak dari sudut matanya, kemudian ia kembali memfokuskan dirinya pada Yuri.

Taeyeon terkikik. Ia akan, pada setiap pesta pernikahan yang harus ia hadiri, mengamati setiap mempelai diantara para pengiringnya. Ini hampir tidak adil, ia berpikir bahwa ketika setiap orang sibuk mengaggumi pengantin wanitanya, ia sebenarnya merindukan seseorang yang memberikan perasaan terbesar dalam perayaan tersebut.

Untuk dapat berdiri sampai akhir, dari yang juga diberi label sebagai pasangan yang akan menempuh hidup baru, sementara kau berusaha untuk tidak mengeluarkan air mata sedikitpun, itu merupakan hal yang hebat sekali. Ia pernah sekali berada disana dan itu sangat menggembirakan dan mengguncang perasaannya di saat yang sama. Itu adalah perasaan yang takkan pernah bisa ia lupakan ditengah perasaan sakit dan sesal.

_____

“Selamat, Jessie!” Tiffany meraih tangan Jessica, memberinya sebuah pelukan erat dan ciuman di pipinya sebelum melakukan hal yang sama pada Yuri. “Yuri, selamat!”

Ia benar-benar bahagia untuk kedua sahabat terbaiknya, senyum dan seringainya semakin lebar dan cerah. Pesta pernikahannya baru saja selesai dan para tamu undangan kini bergerumul keluar melalui pintu depan.

Segalanya sungguh indah, bahkan sempurna, dan Tiffany teringat akan pesta pernikahannya sendiri empat tahun yang lalu. Walaupun memalukan, ia tak benar-benar berkesempatan untuk mengamati segalanya. Pikiran dan hatinya berada dalam dilema saat itu dan hal itu mengalihkan segalanya. Ia bahkan tak dapat mengingat warna buketnya atau jenis bunga apa yang ia bawa.

“Tante Jessi! Tante Yuri!” Suara Juhyun membawa pikirannya kembali kemudian ia melihat gadis kecil itu berlari ke arah mereka sebelum melompat ke pelukan Yuri.

“Oooof!” Tiffany terkikik saat Yuri memekik dan berusaha mengontrol bocah hyper itu.

“Tante Yuri, cantik!” Juhyun memeluknya dan mendekap lehernya.

“Aw, gomawo baby! Bagaimana dengan tante Jessie?” Yuri menunjuk gadis yang kini menjadi istrinya dan pengantin baru itu menunggu sambil berharap mendengar jawaban gadis kecil itu.

“Lebih cantik!” Gadis kecil itu akhirnya berseru.

“Itulah anakku!”

Tiffany tertawa melihat wajah bangga Jessica saat gadis itu mencium pipi anaknya. Sungguh menghibur melihat mereka seperti itu, dan itu membuatnya tersenyum melihat kedua sahabat terbaiknya akhirnya bersatu.

Ia berbalik dan melihat seseorang yang telah ia pikirkan seharian ini. Walaupun ia tersenyum di sepanjang pesta pernikahan itu, pikirannya  masih melekat pada pemikiran mengapa ia tidak dapat berbicara dengan Taeyeon. Saat itulah akhirnya dia dapat bernapas lebih lega ketika ia melihat gadis mungil itu mengitari seisi gedung, mengambil gambar dan memberi instruksi pada timnya.

Walau bagaimanapun ia bersyukur bahwa Taeyeon melakukan pekerjaannya dengan serius dan profesional.

Taeyeon selalu pintar dalam hal menyembunyikan perasaannya, pikir Tiffany. Terlalu pintar.

Ia melihat gadis itu mendekati Sunny lalu berbisik sesuatu padanya. Ekspresi mengalah di wajah Sunny membuatnya khawatir, terutama saat Taeyeon memberi gadis pendek itu sebuah pelukan sebelum berjalan keluar dari pintu depan.

“Hey, dapatkah kalian menjaga Juhyun sebentar?” Ia berbalik pada pasangan itu.

“Tentu, Tiff.”

“Terima kasih.”

Kaki Tiffany seolah bergerak sendiri saat ia mendapati dirinya berjalan mengejar Taeyeon, namun sebuah tangan tiba-tiba saja meraihnya dan menghentikan langkahnya.

“Tiffany.”

“Oppa, apa yang kau lakukan disini?” Ia mendorong pria itu ke samping sebelum berusaha melihat kemana Taeyeon pergi, sedikit merasa kecewa bahwa gadis itu sudah tak lagi berada disana.

“Bisakah kita berbicara?”

“Tidak sekarang, aku harus mencari Tae—.”

“Ayolah, Tiff. Aku tidak bisa berada disini lebih lama lagi. Aku akan kembali ke LA malam ini.”

Tiffany melihatnya seolah kepala pria itu tumbuh dua.

“Apa kau bilang?” Ia mengernyihkan kedua alisnya, “Kau akan kembali… malam ini?”

Pria itu mengangguk dan menatapnya dengan putus asa.

“Kumohon, Tiff… Aku benar-benar membutuhkanmu, aku mencintaimu. Aku minta maaf, kumohon beri aku kesempatan sekali lagi. Aku akan menepatinya kali ini…”

“Jadi, kau ingin aku untuk kembali ke LA bersamamu? Malam ini?”

“Tiffany, Aku—.”

“Kau pikir semudah itu?!”

Tiffany berteriak dan ia bersyukur bahwa mereka tidak lagi berada di tempat resepsi. Walaupun ia tak dapat menyangkal betapa melihat pria itu memohon kesempatan kembali padanya membuat hatinya melambung, semua yang ia katakan saat ini sungguh menggelikan.

“Apa kau pernah berpikir tentang anakmu?! Kau tak pernah menyebut apapun tentangnya! Kau sungguh bertekat untuk membawaku kembali namun bagaimana dengan Juhyun?! Apa dia bahkan termasuk dalam rencanamu?!”

“Te—tentu, dia akan pergi bersama kita juga! Kita akan mempersiapkan itu nanti. Hanya kumohon, aku butuh kau untuk kembali dalam hidupku, Tiffany. Aku tak bisa hidup tanpa—.”

“Dapatkah kau mendengar dirimu sendiri?! Bagaimana bisa kau memerlakukan anakmu sendiri seolah dia hanyalah koper tambahan?!”

“Ti—tidak! Aku tidak bermaksud seperti i—.”

“Tidak, Oppa.” Tiffany menutup kedua matanya sambil gemetar dan mengembuskan napas, “itulah yang kau maksudkan. Kau mencintaiku, aku tahu itu, dan kau ingin kita kembali seperti dulu lagi namun… Bagaimanapun keadaan kita sekarang takkan pernah sama.”

Tiffany melandaskan tangannya dengan lembut pada pipi pria itu dan memberinya tatapan penuh pengertian.

“Prioritasku saat ini juga sudah berubah, oppa, dan takkan lagi hanya tentangku, atau kamu. Aku punya anak sekarang, dan aku ingin berterima kasih padamu karena telah memberikannya padaku, namun.” Ia mengusap ibu jarinya di sepanjang pipi pria itu sebelum menghempaskan tangannya ke samping. “Jika aku harus memilih orang yang akan menemani dan menghabiskan seluruh hidupku, maka orang itu harus mencintai anakku sebesar aku mencintainya. Atau bahkan lebih..”

Ia berjinjit dan memberi ciuman kecil di pipinya.

“Selamat tinggal, oppa, dan aku minta maaf. Tapi kumohon, jangan pernah mencariku lagi.”

_____

Tiffany berlari dengan kencang, gaun putihnya mengembang terkena angin kencang yang tampak meghalaunya saat akhirnya ia memutuskan untuk melakukan apa yang harus dia lakukan dalam hidupnya.

Terasa mengaggumkan bagaimana hari ini dimulai dengan indah, dan hampir sempurna, terutama untuk pesta pernikahan Yulsic, namun saat ini Tiffany tidak dapat berkata seperti itu lagi.

Ia berpikir mungkin, bahwa Dewa atau Tuhan, atau mungkin dunia ini, tengah memukulnya untuk keegoisan dan perbuatan yang sangat menyakitkan yang telah ia lakukan pada Taeyeon, yang tidak melakukan apapun hanya tak mementingkan dirinya sendiri dan mencintainya tanpa syarat bahkan setelah semuanya.

Ironisnya, ‘segalanya’ tak lagi tampak indah. Karena ‘segala’ yang terjadi adalah kesalahannya, dan sekarang, ‘segala’ yang ia miliki hendak meninggalkannya.

Untuk Taeyeon, ia adalah segalanya, ia tahu itu.

Namun Tiffany telah membuangnya jauh dalam kesakitan dan sekarang ia hampir tak memiliki apapun.

Ia berusaha untuk menahan air matanya, saat ini matanya berkaca-kaca karena basah, dan angin yang semakin kencang seolah tak bersahabat dengannya, bertiup semakin ganas menghalaunya.

Walalupun ia merasa sedikit lega karena dapat mengakhiri apapun yang terjadi dengan mantan pacarnya, namun hal itu tak semerta-merta menenangkan jantungnya yang berdebar tak keruan. Ia telah menutup satu babak dalam hidupnya, namun kali ini tampak yang terpenting dari segalanya, babak yang baru saja dia mulai juga hampir berakhir.

Sampai di lobi hotel dengan napas terengah, ia secara otomatis melangkahkan kaki ke arah resepsionis untuk menanyakan perihal sang fotografer pesta pernikahan.

“Aku minta maaf, Miss. Ia baru saja check out beberapa menit yang lalu.” Resepsionis itu menjawab kebingungan, memberi gadis panik itu tatapan khawatir. “Apa kau baik-baik saja, Miss? Apakah kau ingin kami untuk memberimu air atau sesuatu untuk mi—.”

“Ti—Tidak! Aku… Aku baik-baik saja.” Tiffany berkata dengan susah payah. “Bisakah kau memberitahuku kemana dia pergi?”

“Miss. Kim memintaku untuk membantunya membereskan koper dan peralatannya di mobil. Mungkin sekarang dia masih ada di tempat parkir lo—.”

“Terima kasih!”

Tiffany tidak menunggu resepsionis itu untuk menyelesaikan kata-katanya, dia kembali berlari menuju tempat parkir untuk penghuni hotel.

Ia kembali berlari, kaki terbakar dan urat kakinya yang menegang. Tiffany berpikir ia tak pernah berlari seperti ini seumur hidupnya. Bahkan ketika ia berlari ke arah pria yang dicintainya waktu itu, tak pernah dia tergesa-gesa atau merasa kalut seperti ini.

Ia terengah-engah saat udara di rongga paru-parunya semakin menipis, namun walaupun kondisinya yang semakin lemah, satu-satunya hal yang ada di pikirannya saat ini adalah untuk mendapatkan Taeyeon kembali.

Sangat benar, ia menyadari itu, bahwa kau hanya akan mengerti jika sesuatu atau seseorang itu berharga ketika kau sudah kehilangan mereka.

Dalam kasusnya saat ini, ketika kau hampir kehilangan mereka.

_____

“Taeyeon!”

Gadis itu menutup mata dan mendesah sambil mengangkut koper ke dalam bagasi mobilnya, berlagak tak mendengar apapun.

Ia tak setegang yang dia pikirkan memang, dan ia benci, mengutuk dirinya sendiri karena membiarkan jantungnya berdetak lebih cepat ketika dia mendengar suara Tiffany memanggil namanya.

“Dimana harus ku letakkan ini, Nona?”

Suara pelayan hotel membawa kembali pikirannya dan Taeyeon melihatnya dengan tatapan menyesal.

“Taruh saja itu di atas kotak biru di situ lagi pula benda itu tak begitu berat.” Ia menjawab sebelum pelayan itu mengangguk dengan hormat.

“Kim Taeyeon! Tunggu!”

Sedikit demi sedikit ia mengatur tas-tas dengan dibantu oleh sang pelayan jadi semua dapat muat  dalam mobilnya. Taeyeon berusaha keras untuk tak menoleh.

Ia bersyukur bahwa Sunny cukup mengerti untuk mengambil alih segalanya, dan sejak Jessica dan Yuri sudah lebih cukup dari pada puas dengan kinerja semua pegawainya, mereka telah meminta ijin untuk kembali ke kota lebih awal. Meskipun mereka tak benar-benar mengerti apa yang tengah terjadi padanya dan Tiffany, mereka cukup baik untuk membiarkannya pergi tanpa perlu mengatakan alasannya. Taeyeon tak dapat tinggal lebih lama di tempat ini, dan ia berpikir bahwa ia akan membutuhkan waktu setahun penuh untuk dapat menginjakkan kaki di bibir pantai ini lagi.

Terlalu banyak kepiluan yang terjadi di pantai ini, dan setiap langkah yang ia ambil hanya akan mengingatkannya pada semua.

“Mau kemana kau?”

Ia mendengar Tiffany terengah dan mendesah di sampingnya dan ia hampir meregangkan tangan untuk mengelus pundaknya.

“Bukan urusanmu,” ia berkata sedingin yang ia bisa.

“Sial! Ini!”

Semua terjadi begitu cepat bahkan Taeyeon tak punya kesempatan untuk bereaksi. Matanya melebar saat ia mendapati kamera berharganya berada di tangan Tiffany yang sekarang hanya berjarak beberapa meter darinya.

“Pergi dan aku akan menjatuhkan kameramu.”

Taeyeon melempar ransel di tangannya dengan kasar ke dalam mobilnya sebelum berbalik menghadap Tiffany, kini kesabarannya semakin menipis.

“Apa menghancurkan hatiku tak cukup untukmu jadi kau mulai merusak barang-barangku sekarang? Wow, apa kau benar-benar bertekat untuk merusak segala yang ku punya?”

Ia melihat ekspresi Tiffany merosot.

“Aku—.”

“Pergilah, Fany. Kembali ke resepsi pernikahan itu.” Ia berkata sambil berlanjut mengemasi barang-barangnya di mobil.

“Tidak bisakah kau membiarkank—.”

“Apa Tiffany? Membiarkanmu menjelaskan?! Membiarkanmu meminta maaf?!” Taeyeon bahkan kaget mendengar dirinya sendiri berteriak. Ia merasakan dirinya gemetar karena marah dan hal itu membuatnya terkejut.

Ia mendaratkan telapak tangan pada mobilnya dan bersandar dengan frustasi. Taeyeon tak ingin menatapnya karena hanya dengan sedikit saja kesedihan yang tampak pada wajah cantik gadis itu hanya akan membuatnya berlari kembali padanya dan ia tak ingin hal itu terjadi.

Tidak lagi.

“Tidakkah kau muak dan lelah dengan semua yang terjadi dengan kita?! Karena aku merasa demikian! Aku lelah untuk mengerti dirimu,  berjuang untukmu! Empat tahun yang lalu seharusnya kita sudah menikah namun hal itu tak terjadi karena kau tak ingin bersamaku!” Ia akhirnya menatap Tiffany sambil menepuk dadanya dengan kasar. Menyakitkan dan Taeyeon yakin tubuhnya akan memar, namun rasa sakit itu tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya.

“Dan sekarang, empat tahun kemudian kau muncul dengan seorang anak dan memintaku untuk kembali bersamamu, yang aku sendiri dengan bodohnya menerima itu  karena kupikir,” suaranya melembut, “karena kupikir jika mungkin… mungkin kali ini kau akan benar-benar menjadi milikku.”

Taeyeon berbalik dan menyandarkan punggungnya di atas mobil. Ia menutupi wajahnya dengan kedua tangannya seolah hal itu akan menghentikan tangisannya. Namun sia-sia, air mata akhirnya merembes di sela jarinya.

“Tapi tidak… karena saat pria itu kembali… k—kau… kau hanya…” Ia menatap Tiffany sambil memohon. “Aku lelah Tiffany. Tidak bisakah kau melihat?”

Ia tidak peduli dengan kameranya lagi, tidak juga dengan Tiffany yang akhirnya ada di tempat pribadinya. Ia sudah terlalu lelah untuk berpikir dan merasa.

“Taeyeon, aku minta maaf. Aku minta maaf karena ini terjadi karenaku tapi aku benar-benar mencintaimu.” Taeyeon mendengarnya berkata. “Aku mencintaimu. Aku tahu kau tak memercayaiku namun aku bersungguh-sungguh…”

Ia memiringkan kepala dan menatap tepat kedua mata Tiffany. Ia tahu jika gadis itu selalu mencintainya namun ia tak lagi dapat bersamanya.

Dan sangat menyakitkan untuk memikirkan hal itu.

“Hanya… Biarkan aku pergi, Tiffany. Setidaknya itu yang dapat kau lakukan untukku.”

“Tidak, Taeyeon. Aku takkan membiarkanmu per—.”

Ia akan selalu mengagguminya, seperti bagaimana yang selalu ia lakukan, terutama pendirian dan keteguhan hatinya.

‘Namun… Ini sungguh menyakitkan…’

“Aku melakukan hal yang sama untukmu sebelumnya. Bisakah kau hanya… Melakukan hal yang sama untukku? Kali ini saja, kumohon?” Mohon Taeyeon. Ia bahkan akan berlutut jika perlu.

“Tidak. Aku tak dapat melepaskanmu, tidak lagi. Aku menolaknya Taeyeon, kumohon..”

Ini terlihat seolah seisi surga tengah melihat mereka karena tiba-tiba hujan mulai turun membasahi dirinya dan Tiffany. Tak masalah, lagi pula tubuhnya sudah dingin, terutama ketika ia melihat Tiffany tengah berada dalam pelukan pria yang sama yang telah mengambilnya dari Taeyeon, empat tahun yang lalu.

“Kumohon, Fany…” Bisik Taeyeon.

Ia membiarkan rintik hujan menemani air matanya saat ia menangis dengan bebas. Taeyeon berpikir bahwa cinta sudah cukup untuk membuatnya tinggal, bahwa itu sudah cukup kuat untuk membunuh semua luka.

Ia menunduk sambil mengalihkan pandangannya dari Tiffany, karena sesakit apapun dirinya, ia masih tak dapat mengelak perasaannya kapanpun gadis itu berada di dekatnya. Ini gila dan emosinya sudah memuncak namun kali ini dia hanya ingin melarikan diri.

“Okay.”

_____

“Apa?”

Tiffany melihat Taeyeon terkejut dan memiringkan kepalanya. Ia ingin terkikik melihat ekspresi terkejutnya.

“Okay, Taeyeon. Aku akan membiarkanmu pergi,” dia berkata dengan enteng. Tiffany menatap Taeyeon dengan intens, menunggu responnya.

Sejenak Taeyeon merasa ragu, dan dia terlihat seolah tak tahu apa yang harus ia lakukan, namun kemudian dia menyeka kedua pipinya lalu mengangguk.

“Annyeo—.”

Taeyeon berbalik, hendak membuka pintu mobilnya saat ia mendengar Tiffany berteriak, memaksakan suaranya untuk meredam bunyi air hujan yang bergemericik di aspal.

“Tapi setelah kau menjawab satu pertanyaan ini.”

Tiffany berdiri tegap di tengah dingin yang mulai membekukan tulangnya. Ia merasa tubuhnya gemetar karena gaunnya yang terlalu tipis namun ia tidak peduli.

Sekarang atau tidak sama sekali.

“Apa aku membuatmu bahagia?” Akhirnya ia bertanya.

“Apa?” Taeyeon menatapnya dengan kedua mata terbuka lebar.

“Jawab.”

“Tiffany, A—Aku…”

Ia tersenyum dalam hati karena kegugupan Taeyeon merupakan pertanda yang baik.

“Jawab aku, Taeyeon.” Ia berkata sambil memberanikan diri untuk maju, “Empat tahun yang lalu, aku berkata padamu bahwa aku sudah tidak bahagia lagi bersamamu dan kau membiarkanku pergi. Kala itu apa yang kukatakan benar adanya dan aku minta maaf karena itu merupakan kesalahanku karena merasa tidak bahagia dan tidak puas karena sesuatu yang tak seharusnya kulakukan. “Tiffany berjalan mendekat dan seketika ia merasakan kehangatan yang memancar dari tubuh Taeyeon. “Sekarang, jawab pertanyaanku Taeyeon. Dan aku akan membiarkanmu pergi jika kau mengatakan bahwa kau tak lagi merasa bahagia bersamaku.”

Ia menahan napas sambil menatap Taeyeon, pancaran matanya memohon, berharap.

‘Kali ini giliranku untuk membuka hatiku, Taeyeon. Jadi kumohon….’

“Aku…. Aku tidak tahu,” Bisiknya dan Tiffany terkejut karena mendengar betapa pelannya suara itu.

“Iya atau tidak.”

“….”

Tiffany mengambil kesempatan ini untuk meraihnya, tangannya dengan lembut membelai pipi Taeyeon yang basah. Menyakitkan untuk melihat Taeyeon seperti ini, dan rasa sakit itu berlipat ketika ia menyadari bahwa semua terjadi karenanya.

“Aku benci  karena ini membutuhkan waktu empat tahun untukku akhirnya menyadari apa yang telah kubuang dengan bodohnya dan aku dapat menghabiskan empat tahun itu dengan kebahagiaan bersamamu. Namun kurasa hal itu harus terjadi juga karena empat tahun terpisah dariku dan aku mendapatkan Juhyun,” Tiffany berkata saat ia tersenyum memikirkan anaknya. “Aku hanya berharap bahwa kau tak seharusnya tersakiti seperti itu namun semua ini kesalahanku dan akulah yang harus dipersalahkan atas segalanya.”

“Mengapa kau melakukan ini, Tiffany?…”

Taeyeon menatapnya dengan tatapan menyedihkan dan itu membuat Tiffany merasa lebih kuat. Ini gilirannya untuk membalas segalanya, dan ia tak bisa membiarkan Taeyeon pergi darinya hanya untuk melakukan hal itu.

“Karena aku mencintaimu dan aku ingin bersamamu dan akhirnya aku ingin membangun sebuah keluarga dengan orang yang tepat dan jika otakmu sedikit lambat dan belum menyadarinya, aku memilihmu Taeyeon.”

Tiffany bergerak mendekat dan melandaskan dahinya pada Taeyeon. Ia dapat merasakan napas Taeyeon menyentuh bibirnya yang kedinginan dan itu membuatnya ingin mencium dan menghapus semua sakit itu.

“Kau, orang yang harusnya bersamaku sejak awal.” Ia berbisik. “Dan aku minta maaf namun karena aku benar-benar egois , maka aku ingin kau untuk terus bersamaku hingga Juhyun memutuskan untuk membangun keluarganya sendiri, sampai kita memiliki cucu, sampai akhir hayat.”

Dan kemudian Tiffany menciumnya, degan lembut, dan ia berharap jika  Taeyeon dapat merasakan ketulusannya.

“Aku memilihmu, Kim Taeyeon. Jadi kumohon jangan tinggalkan aku…”

“…. Karena sekarang aku kembali dan aku tetap bersamamu selamanya.”

_____

~

~

~

~

~

Rengekan lirih keluar dari mulut Taeyeon. Tiffany semakin panik saat rengekan itu kian lama kian keras.

“Aku hancur, Tiffany…” Ia mendengar rengekannya dan seketika Tiffany menemukan dirinya tenggelam dalam pelukan yang sangat erat.

Ia merasakan isakan di pundaknya dan pelukan di pinggangnya sedikit mengerat. Tiffany memeluknya erat seperti Taeyeon memeluknya, karena ia hampir dapat merasakan detak jantungnya berpacu, tak peduli seberapa nyamannya pelukan mereka.

Taeyeon benar-benar hancur dan tak ada lagi yang patut dipersalahkan kecuali dirinya.

Tiffany menariknya mendekat, sedekat mungkin, namun ia masih dapat merasakan Taeyeon melepaskan diri. Air matanya mulai bercampur air hujan dan baru sekarang ia merasakan ketakutan yang sesungguhnya.

Ia kehilangan Taeyeon dan sekarang ia tak lagi merasa percaya diri. Ia tidak tahu jika kata-katanya atau bahkan hatinya atau bahkan jiwa dan raganya sudah cukup untuk membuatnya tetap tinggal.

“Aku—aku… tak bisa lagi mencintaimu, Fany…” Taeyeon berbisik namun Tiffany bersumpah ia mendengar kata-kata itu terngiang di kepalanya. “Tidak seperti ini…”

“Aku sudah hancur d—dan aku sudah lelah dan jika k—kau begitu mencintaiku… se—sebanyak yang telah kau katakan padaku.. Maka… kumohon biarkan aku pergi…”

Kata-kata itu menampiknya dan ia merasa segalanya berputar. Seolah napasnya terlepas darinya dan ia tidak dapat lagi bernapas. Tenggorokannya tersumbat dan dadanya terasa sakit seolah jantungnya sebentar lagi akan copot.

“T—tapi…”

“Kumohon biarkan aku pergi…”

Seketika ia merasa kembali ke waktu itu, empat tahun yang lalu dan sekarang akhirnya ia menyadari betapa menyakitkannya mendengar hal itu dari orang yang kau cintai.

Tiffany melepaskan pelukannya dari Taeyeon dan dingin hujan seketika menyapu kulitnya, meresap pada jantungnya yang berdetak semakin pelan. Ia merasakan tangan Taeyeon menyentuh pipinya sebelum menariknya untuk ciuman terakhir mereka.

“Aku mencintaimu, Tiffany Hwang.” Ia merasa getaran di bibirnya, “Kumohon jangan lupakan itu.”

Taeyeon memeluknya untuk yang terakhir kalinya dan hal itu terasa semakin berat daripada pelukan-pelukan yang pernah mereka bagi. Kenyataan mulai menampakkan wujudnya dan Tiffany tak ada cara lagi untuk mempertahankannya.

Ia merasa tegang saat kedua lengannya lepas dan menggantung di kedua sisinya.

“Berjanjilah padaku kau takkan melupakannya…” Taeyeon mencium daun telinga Tiffany dengan lembut dan membisikkan kata-kata yang membuat air matanya semakin membanjir.

Tiffany terisak dan mengangguk.

Dan ia tetap seperti itu sampai mobil Taeyeon menghilang dari jalanan, sampai hujan berhenti bersama air matanya.

Ia mengangguk karena hanya itulah yang dapat ia lakukan.

‘Aku janji.’

_____

-TBC-

Ps.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Perlude to Epilogue

“Berjanjilah padaku kau takkan melupakannya….

Karena aku ingin menjadi segalanya lagi bagimu, Fany. Aku akan kembali untukmu.. Tunggu aku…”

Taeyeon berbisik pada telinga Tiffany sebelum ia pergi dan meninggalkan Tiffany basah kuyup karena hujan.

‘Kumohon tunggu aku…’

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Iklan

85 thoughts on “Back For Good Chapter 19”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s