One Shoot, SNSD, SOSHI FF

ONE MORE NIGHT [Song-Fic]

front-at-night-261008

So I cross my heart and I hope to die
That I’ll only stay with you one more night

~Maroon 5

Two night stand berawal dari sini.

Entah sudah berapa kali dia mengetuk-ngetukkan jari telunjuknya di atas meja sambil melirik jam berwarna pink yang melingkar di lengan kirinya. Satu jarumnya yang pendek menunjuk di antara angka delapan dan sembilan, sedang jarum yang lebih panjang tepat di angka lima.

Kau terlambat sepuluh menit, dork!

Tiffany sudah duduk di tempat itu sejak lima belas menit yang lalu. Tepat lima menit sebelum waktu yang sudah mereka sepakati untuk bertemu dan sekedar mengobrol.

Sudah beberapa minggu ini mereka tetap berhubungan, sekedar lewat pesan singkat atau media chatting lainnya. Namun hari ini berbeda, Tiffany telah menyusun untuk pertemuan kedua mereka, secara teknis.

Gaun tipis berwarna pastel yang ia kenakan tak berhasil menghangatkan tubuhnya. Beberapa kali ia menggosok kedua lengannya. Ia cukup bersabar untuk hari ini.

Tidak! Aku tidak bisa kehilangan, lagi.

UGH!

Ia mulai kehilangan kesabaran, café di sudut jalan yang cukup sepi berhasil menarik perhatiannya. Dekorasi yang simple, minimalis namun terlihat kalem dan anggun. Mengingatkan Tiffany padanya.

Kata –nya membuat senyum di wajahnya semakin lebar.

Mengapa aku merasa seperti ini, begitu menyedihkan!

Menyedihkan dalam konteks yang berbeda tentunya. Karena dengan menyedihkan itulah yang berhasil membawanya sampai disini. Sampai hari ini dan masih berharap. Sesuatu yang menyedihkan itu telah menumbuhkan kembali bagian dalam dirinya yang sudah lama hilang. Mati suri karena kemauannya sendiri. Dan akhirnya, setelah sekian lama hidup kembali. Seperti lampu tidur saja, pikirnya. Ia tertawa sendiri.

“Sorry… ibu kota macet.” Desah napas yang terengah-engah, seorang gadis memegangi kedua lututnya sambil berusaha memasukkan oksigen sebanyak-banyaknya ke dalam paru-parunya.

“Waw.. tarik napas Taeyeon!” Tiffany menyodorkan segelas air putih. “Minum.”

Tanpa banyak berpikir, Taeyeon langsung menyambarnya dan menyesap habis isinya.

Gadis itu tertawa kecil, cute pikirnya.

“Jadi?” Taeyeon bertanya setelah napasnya sudah cukup kuat untuk berbicara dengan jelas.

“Jadi apa?”

Taeyeon memutar mata lalu duduk di kursinya. Meja bundar dan diiringi dengan musik yang mengalun lembut di sudut café membuatnya kembali tenang. Dari tempatnya duduk, ia dapat mengamati neon sign tepat di depan pintu bertuliskan ‘Venus café’, indah. Seperti namanya, dewi cinta. “Kau mengajakku bertemu disini hanya untuk menanyakan pertanyaan konyol semacam ‘jadi apa’?” Taeyeon menirukan gaya Tiffany dengan sebal.

Namun, gadis itu hanya tertawa. “Iya aku mengajakmu kemari, aku ingin bertemu denganmu.” Tiffany tersenyum dengan eye-smile-killernya. Tanpa sadar, Taeyeon menahan napas.

Good. Such a filrt!

Tiffany seketika terbahak mendengar gumaman Taeyeon.

“I know therefore I am.” Dia berkata dengan bangga, membiarkan pertanyaan Taeyeon menguap begitu saja.

Namun sayangnya Taeyeon terlalu defensif untuk membiarkannya pergi. “Hanya itu saja? Kau menyuruhku kemari satu jam yang lalu hanya untuk… ini?”

“Ya..” Tiffany sengaja menyibakkan rambutnya, membuat Taeyeon yang gemetar dan sulit mengalihkan pandangannya.

Pipinya merona saat ia mengingat pertemuan mereka yang memalukan.

Taeyeon menghela napas sambil berusaha membuang jauh pikirannya. Tidak lagi, tidak sekarang. Ia menatap pintu kayu berwarna coklat di sudut ruangan, tepat di samping pianis yang sedang menghayati instrumennya. Pintu itu sedikit terbuka, kemudian pelayan berpakaian kelabu dan putih keluar lalu menghampiri meja tepat di belakangnya. Setelah pelayan itu selesai dengan pelanggan meja nomor delapan, Taeyeon mengisyaratkan pria itu untuk menghampiri meja mereka.

“Selamat sore, sudah menentukan pilihan? Kami punya rekomendasi menu terbaru dari café ini.” Pria itu membungkuk sebelum menyerahkan menu di depan mereka.

“White mocha.” Taeyeon yang memulai pertama. “Plus vanilla waffle.”

“Aku pesan latte plus strawberry waffle.” Taeyeon tanpa sadar tersenyum, strawberry, huh? Ia masih ingat betapa pinkynya gadis itu, setidaknya di kamarnya.

Taeyeon menunggu pelayan itu pergi sebelum kembali berbicara. “Okay Tiffany, lihat. Aku langsung pada intinya saja, kumohon.. jika kau hanya ingin bermain-main denganku, aku tidak punya waktu untuk itu. Aku minta maaf soal kejadian malam itu dan… Jika otakku masih berada di tempat yang tepat malam itu, jika saja aku masih waras dan dapat berjalan dengan benar. Aku tidak akan… kau tahu…” Taeyeon tidak melanjutkan kalimatnya, terlalu susah diucapkan.

Tiffany tersenyum, sebuah senyuman yang tak terbaca olehnya. “Tidak, percayalah. Aku hanya ingin mengenalmu, aku ingin tahu siapa sebenarnya gadis yang meniduriku beberapa minggu yang lalu.”

Taeyeon berhenti sejenak, melihat sekitar. Untunglah, cukup sepi untuk berbicara tentang hal yang seharusnya tak perlu dibicarakan di tempat umum seperti itu.

“Bisakah kau pelankan suaramu, nona?” Ia mendesis.

Tiffany tertawa, “kenapa? Malu?”

“Tidak, kau tidak tahu ini tempat umum?”

“Tentu saja aku tahu, oleh karena itu aku mengajakmu kemari. Atau, kau ingin kita bertemu di apartemenku saja?” Tiffany mengangkat alisnya.

Ia mendesah, “kumohon, hentikan.” Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memohon kepada orang asing, setidaknya ia menganggap seperti itu.

“Baiklah, baik.”

Taeyeon kembali mengedarkan pandangannya, mencoba mengalihkan pikiran pada apapun yang ada di kepalanya. Ada sebuah meja panjang untuk empat orang dengan dua pasang kekasih yang sedang berkencan tepat di dekat jendela. Dua orang gadis dan pria, cantik dan tampan.

Menyedihkan. Betapa ia berharap memiliki hubungan seperti itu. Sudah beberapa kali ia berusaha untuk berkencan dengan lelaki dan selalu gagal. Ia terus mencoba sampai akhirnya dia merasa lelah dan dengan berat hati mengklaim dirinya sendiri bahwa ia lebih memilih mencintai gadis daripada pria. Memilukan dan menyebalkan!

Derap kaki menggema di seluruh ruangan saat pria tadi berjalan menuju meja mereka dan meletakkan pesanan di hadapannya. Taeyeon mengucapkan terima kasih sebelum pria itu kembali menghilang di balik pintu kayu.

Taeyeon menarik napas dalam, berusaha untuk menenangkan dirinya. Ia tidak bisa percaya, ia pergi ‘berkencan’ dengan seorang gadis. Walau ia sendiri tak mau mengakuinya, tapi ia tersenyum juga pada akhirnya dan bergumam. Lihat Soo! Aku bukan anjing kesepian di pinggir kolam yang menunggu seorang majikan dengan menyedihkan! Ia tertawa dalam hati. Dia tidak sadar bahwa sedari tadi Tiffany tersenyum melihat tingkahnya yang kekanakan.

“Jadi, bisa kita mulai?” Tiffany tersenyum saat Taeyeon mendongak.

Jantungnya berhenti berdetak. Kumohon, tidak lagi Fany.

“Y—yea.”

Percakapan mereka berlanjut sampai hampir tengah malam. Keduanya tak menyadari karena larut dalam pembicaraan mereka yang lebih santai. Setelah beberapa menit berlalu, akhirnya mereka sepakat untuk mengakhiri pertemuan kedua itu dengan Taeyeon yang mengantarkan Tiffany sampai di depan apartemennya.

“Aku sangat menikmati hari ini.” Tiffany bersiap melepas sabuk pengamannya.

“Aku juga.”

“Tidak ingin mampir ke dalam?”

“Mmmm… Mungkin hanya berjalan sampai depan apartemenmu saja.”

“Baik.”

Mereka berjalan sambil bergandengan tangan, Tiffany tersenyum. Setidaknya hubungan mereka lebih baik dari sebelumnya.

Taeyeon mengambil inisiatif melihat ke sekeliling untuk mengalihkan pikirannya yang nyasar di tempat yang tidak tepat. Terakhir kali ia kemari, ia tak punya waktu untuk benar-benar mengaggumi bangunan ini. Tidak saat kau mabuk dengan seorang malaikat cantik yang memelukmu.

Taeyeon melepaskan gandengan tangan mereka saat memasuki lift. Ia dapat merasakan jantungnya sendiri berdetak lebih cepat. Ia bahkan tak sadar kapan pipinya mulai merona, karena yang terakhir kali ia ingat hanya beberapa menit yang lalu, rasa hangat mulai menjalar di wajahnya. Bahkan, dia dapat melihat telinganya berubah seperti tomat sekarang jika dia masih sempat bercermin.

Tiffany memandangnya malu-malu. Ia mendekati gadis gelisah itu, merangkulnya. “Kau baik-baik saja?”

Taeyeon tak menjawab, ia hanya mengangguk.

Tiffany menyandarkan kepalanya di bahu Tayeon saat menekan angka 25 dengan jari telunjuknya. Bersyukur karena tak banyak orang yang hilir-mudik di gedung apartemen saat tengah malam seperti ini. Sejujurnya, hanya mereka berdua yang ada di dalam lift. Dan entah mengapa ia sangat bersyukur.

Taeyeon merasakan kecupan kecil di pipinya, lalu menoleh. Tiffany mengusap pipinya menggunakan jari telunjuknya sambil berbisik, “wajahmu memerah.”

Hal itu tak lantas membuat Taeyeon semakin tenang, ia justru gelisah saat lengan Tiffany melingkari pinggulnya.

Self control. Self control. Control yourself Taeyeon-ah.

Tiffany menarik tubuh Taeyeon mendekat sampai ia berhasil merasakan napas Taeyeon di kepalanya. Ia memberanikan diri mencium pipi, rahang sampai menemukan bibir Taeyeon yang basah dan kenyal.

Mereka berciuman, mengunci mulut dan lidah secara bersamaan. Taeyeon mungkin sudah kehilangan kontrol dirinya karena sekarang, ia menemukan tangannya berada di pinggang Tiffany dan sebaliknya, tangan gadis penggoda itu ada di lehernya.

Mereka tak melepaskan ciuman sampai akhirnya tiba di depan pintu apartemen Tiffany. Beruntung sepanjang jalan dia tak menemukan seorangpun yang lewat atau bahkan mendapati pertarungan konyol mereka.

“Yakin tidak ingin mampir?” Suara serak yang sexy itu berhasil mengubah keputusannya.

“Kau sengaja tidak membawa mobilmu untuk ini kan?”

Tiffany menyeringai di tengah ciuman mereka. “So?

“Just one more night.”

Ps. Menulis itu indah ya? Hahaha.. lol

Iklan

67 thoughts on “ONE MORE NIGHT [Song-Fic]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s