One Shoot, SNSD, SOSHI FF

SUNDAY MORNING [Song-Fic]

IMG_3093

And you may not know
That may be all I need
In darkness she is all I see

~Maroon 5

WARNING : BERDOALAH SEMOGA KALIAN GAK MUNTAH-MUNTAH BACANYA

Mungkin saja jika dalam keadaan yang berbeda, aku akan senang, bahagia dan berjingkrak-jingkrak ria di atas matras seperti orang gila baru menang lotre. Maksudku, siapa sih yang tidak senang bangun pagi dalam pelukan seorang gadis berwajah malaikat dengan kulit yang begitu halus dan mulus. Aku bahkan ragu jika seekor lalat pun dapat berjalan di permukaannya tanpa terpeleset.

Kau mungkin akan sependapat jika jadi aku. Pernah tidak kau membayangkan bertemu dengan seorang dewi? Bukan dewi-dewi Olympus yang sering kau temukan dalam buku sejarah mitologi Yunani atau Romawi kuno pastinya. Tapi dewi yang memenuhi surga, dengan kecantikan dan keindahan tubuhnya.

Dewi dalam pelukanku memang bukan bernama Aphrodite atau Venus dalam Romawi, dewi cinta yang terkenal akan kecantikan dan kepiawaiannya membuat orang-orang jatuh hati padanya bahkan pada pandangan pertama. Gadis ini bernama Tiffany, atau Fany lebih singkatnya. Tapi kau akan menemukan Aphrodite dalam dirinya. Cantik, memesona, dan sangat menggoda. Aku yakin kau takkan mampu menolak pesonanya hanya dalam lima belas detik, jika kau masih waras tentunya.

Aku masih waras dan aku tergoda. Untuk kesekian kalinya dalam dua bulan ini, aku selalu berusaha berlari dan menghindarinya namun tetap saja berakhir dalam pelukannya setiap pagi. Sepertinya gadis ini selalu mencari cara untuk menarikku kembali. Aku sudah memintanya berulang kali untuk tidak lagi menggangguku dan pergi dari hidupku sejauh mungkin. Namun, sepertinya kehidupan ini tidak adil padaku. Aku seperti terikat dalam dirinya. Tak peduli seberapa keras usahaku untuk berlari, namun kakiku tak membawaku pergi ke mana pun. Aku tetap terpenjara dalam hatinya.

Dia melekat dalam diriku seperti salah satu pengganti organ vitalku. Entah jantung atau paru-paru. Dia seperti darah yang mengalir dalam tubuhku, detak yang memompa jantungku, dan oksigen yang memenuhi rongga paru-paruku. Dia seperti saraf motorik yang memberitahuku untuk bertindak. Menghidupkan kembali radar internalku yang kontan menggila. Menggila untuk menciumnya, membelai rambutnya, memberikannya sentuhan-sentuhan yang dapat menciptakan kepuasan batin dalam diri kami.

Matahari memang belum begitu tinggi, namun kehangatannya meradiasi tubuh kami. Aku menarik selimut tipis yang tersangkut di kaki kiriku dan menyelaraskan suhu pendingin ruangan agar kami dapat melanjutkan tidur dengan lebih nyaman. Aku mengeratkan pelukanku padanya dan kontan tubuhnya merespons dengan menenggelamkan kepalanya lebih dalam pada leherku. Aku dapat merasakan napasnya yang hangat dan menggoda.

“Morning.” Ia tertawa kecil. “Semalam kau mabuk, jadi aku terpaksa membawamu kemari.”

Aku memutar otak. Aku tak ingat mengapa atau bagaimana aku bisa mabuk kemarin malam. Sejujurnya aku memang tidak pernah ingat apapun selama alkohol masih mengambil alih diriku. Payah!

“Taeyeon-ah” Suaranya terdengar seksi di telingaku. Dan aku selalu menganggap ada gangguan dalam telingaku yang menyebabkan suaranya menjadi lebih seksi pada malam dan pagi hari. Dia tidak mendongak, namun aku masih mendengar keseriusan di dalamnya. “Mianhae…”

Aku mengusap-usap kepalanya dan menciumi ujung rambutnya. Tidak ada gunanya lagi aku terus berlari. Sudah sejak satu minggu yang lalu aku memutuskan untuk biarkan saja mengalir apa adanya. Namun, sepertinya rasa bersalah masih saja memengaruhinya. Dia selalu berkata maaf setiap kali aku bangun memeluknya. Konyol.

Dia begitu agresif dan penuh semangat setiap malam, namun pada hari-hari biasa sesungguhnya ia sangat lemah dan rapuh. Baru beberapa minggu yang lalu aku menyadari bahwa sebenarnya dia hanya butuh sentuhan dan sedikit perhatian. Aku tak pernah menanyakan di mana keberadaan keluarganya yang lain. Aku tidak tega hanya dengan menatap kedua matanya. Entah bagaimana aku bisa tahu bahwa hal itu akan melukainya.

Aku tidak berusaha melukainya atau juga membiarkannya terluka. Tataplah kedua matanya, maka kau akan menemukan dirimu ingin selalu melindunginya. Menjadi pahlawan baginya, tak peduli seberapa besar kekuatanmu untuk melawan atau menyudutkan dirimu sendiri. Kau akan kembali berakhir dalam pelukannya. Dan aku harap kau tidak mencoba, karena hanya aku yang boleh melakukannya. Entah sejak kapan aku merasa begitu posesif pada seseorang, aku tak pernah melakukannya sebelumnya. Aku hanya berpikiran mungkin itu karena aku tak pernah benar-benar mencintai mereka sebelumnya. Apakah ini artinya aku cinta?

Aku pernah bertanya sebelumnya, bagaimana bisa dia menemukanku di bar malam itu. Dan dia hanya menjawab. Kau adalah orang yang ditakdirkan untukku. Klise. Tapi mendengarnya membuatku melayang.

Aku pernah mengenalkannya pada Sooyoung, Yoona dan Yuri. Mereka bahkan sepakat jika Tiffany memang gadis yang cantik dan sopan. Tidak sengaja memang, pertemuan yang tidak terduga sebenarnya. Namun aku mencium kebenaran bahwa mereka mengikutiku seharian. Baiklah, sahabat mana yang tidak curiga jika teman mereka tiba-tiba menghilang berhari-hari dan kembali setelah satu minggu berikutnya dan itu terjadi berulang-ulang.

Mereka senang melihatku bersama Tiffany. Dan aku selalu saja berdalih sebaliknya. Berusaha untuk menyudutkan diriku sendiri menggunakan akal sehatku yang masih tersisa. Melawan mereka.

Aku selalu saja membayangkan jika kami benar-benar bersama. Apa itu akan membuat perbedaan besar dalam hidupku? Aku takut mengulangi hal yang sama. Kesalahan yang sama secara berulang-ulang. Aku sudah muak.

Namun rasa muakku tidak lebih besar dari hasratku sendiri. Aku butuh sentuhan setiap malam, kecupan setiap pagi, kehangatan setiap hari dan yang terpenting, aku butuh cinta.

Semua ini membuatku bingung. Aku pernah membayangkan, andaikan aku menjatuhkan diri dari gunung… dapatkah aku memilikinya tanpa kebingungan yang menghantuiku?

Tampaknya ia tahu apapun yang ada di kepalaku. Ia tak berusaha bertanya, pertanyaan konyol semacam. ‘Taeyeon-ah, apakah selama ini kau mencintaiku? Dan aku harap dia tidak benar-benar melakukannya. Karena aku yakin aku akan tampak sangat konyol dan tolol saat menjawabnya.

“Kau punya rencana apa hari ini?” Aku menghela napas lega saat mendengar bukan pertanyaan seputar mencintaiku yang keluar dari mulutnya. Karena aku akan benar-benar menjadi badut pertunjukan festival fortuna dalam waktu tiga puluh detik. Bukan pertunjukan untuk ikan tuna tentunya, tapi festival komedi garing yang diadakan tahunan oleh pemerintah. Segaring saat kau mendapatkan sesuatu yang tak pernah kau inginkan dalam hidupmu.

“Sepertinya aku lebih memilih untuk terjebak di sini bersamamu seharian.” Aku meregangkan badanku sampai bunyi seperti dahan yang patah memenuhi ruangan. “Aku lelah sekali.”

Dia menarikku kembali dan memeluk pinggangku. “Aku ingin sekali kau menemaniku.”

“Untuk?” Aku berusaha untuk tidak terdengar begitu ingin tahu. Namun aku tidak dapat menahannya hanya untuk sekedar berkata. ‘oh.’

“Taman hiburan.”

Aku mendelik padanya, menganggapnya sinting atau apa. “Kau pasti sudah gila!”

“Aku benar-benar ingin pergi kesana, Taeyeon-ah.” Dia cemberut, selalu saja dia melakukan hal itu saat aku berusaha untuk menolak keinginannya. Dan dengan segala kekuatan yang memengaruhiku untuk selalu melindunginya, aku pun menyerah.

“Baiklah.” Padahal, aku ingin sekali berteriak ‘BAIKLAH, COBA KATAKAN KAPAN TERAKHIR KALI AKU BERKATA TIDAK PADAMU?

Dia tertawa sambil bertepuk tangan, seolah aku ini lucu atau apa di matanya. “Kalau begitu aku mandi dulu dan bersiap-siap.”

Perlahan dia melepaskan diri dari pelukanku. Aku bahkan tidak ingat kapan aku memeluknya pagi ini. Mungkin otakku memang sudah dirancang untuk tidak melakukan kekonyolan semacam –mengingat hal-hal yang membuat diriku sendiri tampak bodoh. Atau justru sebaliknya.

Aku tak pernah ingin terlihat membutukannya, atau menempel padanya setiap saat. Dia yang selalu menunjukkan sisi itu. Namun tetap saja, dia selalu berhasil membuat keadaan seolah berbalik memihaknya. Membiarkanku berakhir dengan statement ‘Aku menyerah dan aku benar-benar menginginkan dirimu.’

Fany-ah, apa yang sudah kau lakukan padaku? Dengan sihir apa kau memikatku sedemikian rupa hingga aku tak mampu keluar dari lingkaran cintamu?

Aku ingin memilikimu, sangat ingin.

Fany-ah, kapan aku dapat melepaskan diri darimu?

Iklan

61 thoughts on “SUNDAY MORNING [Song-Fic]”

  1. Thor! Sungguh! Aku seperti membaca novel yang bahasanya begitu……..adem(?)
    Aah! Pokoknya enak dibaca~
    Lanjut~

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s