One Shoot, SNSD, SOSHI FF

SAD [Song-Fic]

aW1hZ2VzL3Nma19waG90b3Mvc2ZrX3Bob3Rvc18xMzEzMTM1NTQ3X3l1STVDem9hLmpwZw==

Still looking at the road we never drove on
And wondering if the one I chose was the right one

~Maroon 5

JESSICA tidak pernah merasa sebosan ini sebelumnya. Dia hanya berdiri mematung di depan televisi, tidak yakin apa yang tengah ia tonton selama lebih dari sejam yang lalu atau kenyataan menyedihkan bahwa teknologi kini telah dialih fungsikan menjadi benda canggih berbentuk box yang seharusnya menampilkan apa yang di tonton manusia menjadi tidak menarik lagi. Sepertinya tatapan kosong Jessica lebih menarik untuk di tonton oleh televisi. Mendadak, ide membersihkan aspal jalan menggunakan sikat gigi atau menguras laut menggunakan sendok tidak terlalu buruk. Masih jauh lebih menarik dari pada duduk terkungkung di apartemen sambil dipelototi oleh layar LCD TV.

Kebosanan itu telah mengganggunya sejak dua bulan yang lalu. Jessica terlalu egois untuk mengakui bahwa keputusan yang dia pilih sebenarnya salah kaprah. Bukan kebahagiaan yang ia dapat, namun hal itu malah membuatnya dirundung perasaan dilematis. Memang melegakan awalnya, namun sesaat setelah itu perasaan menyesal pelan-pelan habis melahapnya.

Televisi membuatnya sebal karena tak habis-habisnya menayangkan pasangan yang tampak berbahagia. Jalanan membuatnya sebal karena setiap kali dia berjalan, ia selalu berakhir di tempat yang seharusnya sudah ia lupakan sejak kejadian dua bulan yang lalu itu terjadi. Ia benci kakinya, atau pikirannya, terlebih hatinya yang plin-plan. Mendadak apapun yang ada di sekitar Jessica membuat gadis itu sebal.

Hari ini semestinya perayaan genap dua ratus hari mereka berpacaran. Jika dua bulan yang dia habiskan sendirian masuk hitungan juga. Jessica mungkin tidak begitu pandai hitung-hitungan, namun ia tahu tanda merah yang melingkar pada salah satu tanggal di kalendernya menandakan apa. Walaupun bukan dia yang menandainya, namun sekalipun dia tak merasa terkejut. Dia tahu. Dia hanya tahu. Dan dia selalu tahu. Jangan pernah bertanya atau pun membuatnya menjawab karena seketika kau akan dibekukan kemudian diledakkan olehnya. Jessica tidak suka berita, dia tidak suka diinterogasi.

Lima menit berlalu sebelum Jessica menyerah dengan acara bodoh di televisinya lalu mematikan benda malang itu. Dia memutuskan untuk pergi ke dapur dan menggali makanan di kulkas. Masih terlalu pagi untuk sarapan, pikirnya. Dia tertawa sendiri mengingat ini adalah kali pertama ia bangun pagi dalam dua bulan ini. Dua bulan yang mengerikan. Dia ingin hidupnya yang dulu kembali, namun sudah terlambat. Terlalu terlambat untuk mengakuinya.

Dengan banyak pertimbangan, akhirnya Jessica memilih menyeduh espresso dan muffin ceri untuk kudapan yang terlalu dini ini. Dia menghirup aroma muffin tersebut. Kopinya sedap sekali. Mungkin kafein dapat sedikit meringankan beban pikirannya.

Jessica menengok ke arah jendela sambil sesekali menyesap kopinya. Dia memerhatikan sekelompok anak yang memakai seragam sekolah menengah atau mungkin tingkat lanjutan tengah berjalan cepat menuju bangunan tinggi yang tak jauh dari apartemennya. Dia hampir saja lupa bahwa ini adalah pekan ujian, tak heran ia menemukan banyak sekali pelajar yang membanjiri perpustakaan, bahkan dini hari sekalipun. Dia tertawa mengenang masa lima tahun silam.

Ia mengamati pohon pinus di sekitar gedung sekolah. Dua merpati putih tengah menjalin kasih di salah satu dahannya. Saling mematuk dan mengeluarkan bunyi cic-cit yang membuatnya sebal. Ia sebal dan selalu saja sebal. Jessica memilih untuk memalingkan muka, mengambil ponselnya saat layar benda itu menyala sekali lalu kembali gelap.

Dia tersenyum saat melihat nama yang tertera di ponselnya. Seharusnya ia kesal karena seseorang telah mengganggu pagi tenangnya. Namun hal itu tidak berlaku untuk sahabatnya Tiffany. Kapanpun dan di mana pun gadis itu mengajaknya pergi, ia akan dengan senang hati menemaninya. Siang ini tujuan mereka adalah taman hiburan yang tak jauh dari apartemennya. Tiffany bilang, ia akan membawa serta temannya. Jessica tak tampak terkejut, ia sudah memiliki firasat itu. Tiffany sudah menunjukkan tengara bahwa satu bulan ini merupakan bulan yang bersejarah untuknya. Jessica tahu kapanpun sahabatnya tampak berbeda, lebih ceria dari hari-hari sebelumnya.

Jika bulan-bulan sebelumnya mereka hanya akan duduk santai di sudut café Venus yang menjadi favorit mereka sejak SMA sambil merenungi nasib tolol mereka yang tak kunjung menikmati indahnya cinta yang sering mereka anggap sebagai kutukan, kini pembawaan Tiffany sangatlah berbeda. Gadis itu akan bercerita tanpa henti hanya dengan topik cuaca hari ini atau film baru yang akan tayang di bioskop atau fashion terbaru minggu ini dan sebagainya. Jessica baru menyadari hal itu satu bulan yang lalu. Namun, ia sengaja tidak bertanya atau menekan Tiffany untuk bercerita perihal sikapnya yang kontras. Jessica tahu hal itu akan mengganggunya, terlebih setelah apa yang terjadi pada Tiffany. Apa yang terjadi pada keduanya.

Mereka bersahabat dekat sejak SMA kemudian terpisahkan karena Tiffany harus kembali ke Amerika untuk melanjutkan kuliahnya. Namun karena sesuatu hal, beberapa bulan yang lalu ia kembali ke Korea dengan mata sembab dan menangis sejadi-jadinya di depan apartemen Jessica. Jessica masih ingat betul bagaimana Tiffany bercerita tentang hidupnya di negeri paman Sam tersebut. Sampai sekarang, hal itu masih membuatnya bergidik.

Setiap kali Tiffany bercerita tentang hal-hal sentimental. Jessica hanya mengangguk dan mendengarkan. Jessica tidak pernah menanyakan detail lebih lanjut. Dan sepertinya Tiffany juga menghargai sikap Jessica. Dia tidak mengucapkan turut prihatin, atau melontarkan komentar simpati yang selalu dibenci Tiffany.

Jessica selalu memberi kesan bahwa dirinya pun tak jauh lebih baik dari Tiffany. Dan hal itu tak pernah gagal membuat Tiffany merasa nyaman. Bagi Jessica, yang penting adalah mendengarkan. Kita tidak perlu mengatakan ikut sedih dan sebagainya. Satu-satunya yang membantu mengurangi duka adalah terus saja melanjutkan hidup –melangkah maju.

Namun, hal itu tampaknya tak berlaku untuk dirinya sendiri. Jessica merasa sekarang dirinya tengah terjebak dan ia tak tahu harus melangkah kemana. Ia ingin maju, namun kakinya tak dapat bergerak. Masa lalu yang pahit membuatnya harus kehilangan segalanya, perasaannya, bahkan yang paling penting sekalipun. Perasaan cinta.

Dia tertawa sambil mengatai dirinya sendiri bodoh. Terlalu bodoh untuk takut mengungkapkan cinta. Terlalu bodoh untuk takut merasakan sakit. Terlalu bodoh untuk takut tidak dapat keluar dari perasaannya sendiri. Karena sekarang hal itu terbukti. Perasaan takut itu terlalu nyata untuknya. Hingga perlahan mematikan seluruh perasaannya.

Jessica tidak mau terlalu ambil pusing dan membiarkan perdebatan panjang di kepalanya tadi menguap begitu saja. Dia tak mau terlibat terlalu dalam dengan perasaannya, atau pun kehidupannya yang kelam. Walaupun pada kenyataannya justru sebaliknya.

Ia berdiri dan berbalik menuju kamar mandi sebelum meraih handuk di lemarinya. Memutuskan untuk mengguyur tubuhnya menggunakan air hangat dan berharap sebagian memorinya terhapuskan bersama dengan air yang mengalir di atas kepalanya. Ia bersiap-siap menuju taman hiburan sambil menggelengkan kepala.

Menatap bayangannya di depan cermin tidak membuat senyum Jessica melebar. Matanya redup, wajahnya pun jadi tampak sayu. Selama beberapa detik ia hanya menatap bayangan dirinya, sebelum memasang wajah datar seperti yang biasa ia lakukan dan menyambar tas selempangan di meja lalu berjalan keluar menuju taman hiburan. Ia sempat melirik sekilas ke arah kalendernya sebelum mendesah.

Ini akan jadi hari yang panjang. Dan ia pun berjalan tanpa senyuman.

Jika seandainya Jessica adalah Lar, pasti sekarang kepalanya sudah dipenuhi denyar berwarna merah, siap untuk diledakkan kapan saja. Namun, dia bukanlah roh penjaga rumah itu, dia hanyalah seorang manusia biasa. Yang membedakannya dengan manusia lain adalah, ia selalu mengira bahwa perasaannya sudah lama mati. Ia dingin, ia beku dan tidak berperasaan. Karena rasa yang tersisa dalam dirinya kini hanyalah kehampaan.

Jessica hanya dapat membeku di tempatnya. Jika dia adalah maneken selamat datang yang di pajang di altar depan taman hiburan, wajahnya mungkin akan tampak tersenyum bahagia dan menunjukkan air muka yang ramah untuk menyambut pengunjung yang datang. Namun sekarang ini tidak, karena kini wajahnya serupa permukaan ubin tempatnya berdiri, datar. Datar namun matanya menyiratkan sesuatu yang berbeda. Hatinya serasa bagaikan jelly yang ditarik-tarik dengan paksa.

Mimpi buruk itu benar-benar jadi kenyataan. Matanya memerah saat melihat dengan siapa Tiffany tertawa, dengan siapa Tiffany bergandengan tangan dan dengan siapa Tiffany bergelayut manja.

Iklan

41 thoughts on “SAD [Song-Fic]”

  1. hahaha tulisan lo lebih brharga dr pd sampah kok thor *plakkkk

    serius.. gw suka gaya nulis lo yg luwes.. apalagi pas menggambarkan perasaan, latar sama penokohan.. 😀

    taeny..taeny.. my favo!! fighting thorr.. chu~~

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s