One Shoot, SNSD, SOSHI FF

FORTUNE TELLER [Song-Fic]

sign_fortune_teller_thmb

How can I have answers when you drive me in questions

~Maroon 5

ACARA MAKAN SIANG MIRIP SEPERTI pesta pemakaman. Ketiganya menikmati makanan dengan khidmat. Tidak ada yang berbicara selagi makan. Taeyeon merasa suhu udara di sekitarnya turun sepersekian derajat walaupun musim semi masih menghangatkan pepohonan. Sejak kedatangannya beberapa puluh menit yang lalu, Jessica tak henti memberinya tatapan mematikan.

Taeyeon bagaikan korban medusa –dengan kata lain, bagaikan batu. Seperti itulah tatapan Jessica sekarang. Hanya saja dari pada mengubah seseorang menjadi batu, tatapan Jessica lebih cocok untuk membekukan apapun yang ada di hadapannya.

Setidaknya Jessica tidak se-mengerikan medusa, rambutnya masih berupa helai-helai kecoklatan –bukan ular tentunya. Dan Taeyeon masih dapat bergerak leluasa setelah membeku selama beberapa saat. Taeyeon tidak yakin Tiffany memahami bahasa tubuh mereka, tapi setelah dua bulan bersama gadis itu, Taeyeon tahu sikap super tenang Tiffany menandakan ada sesuatu yang tengah dia sembunyikan.

“Ehem..” Tiffany berdeham setelah menghabiskan strawberry-shakenya. “Jessie, thanks for coming.” Katanya sambil tersenyum. Taeyeon menginterpretasikannya sebagai sebuah sarkasme.

“Eh, iya Tiff. Tentu saja, aku ini kan sahabatmu.”

Bagus. Pikir Taeyeon. Apa mereka sedang mengadakan lomba sarkasme?

Taeyeon tersudutkan bagaikan tawanan perang. Dia tak tau harus berbuat apa atau mengatakan apa. Lagi pula, menyela pembicaraan bukanlah ide yang bagus, tidak dalam kondisi mereka sekarang.

Setelah dipermalukan pagi tadi, Taeyeon tidak ingin lagi melakukan hal-hal yang membuatnya tampak semakin bodoh. Tiffany mengenalkan mereka berdua semena-mena seolah Taeyeon dan Jessica tak pernah bertemu sebelumnya. Untungnya, Jessica tidak semerta-merta meledakkannya hingga berkeping-keping atau berteriak-teriak seperti orang gila di tengah taman hiburan sambil berkata. ‘Ha, mau apa lagi kau disini mantan pacar? Enyahlah dari hadapanku!’ Taeyeon menelan ludah sambil berusaha membuang pikiran tersebut.

“Jadi? Apa permainan yang kita coba setelah ini?” Tiffany melingkarkan lengannya pada Taeyeon. “Taetae, apa kau punya pendapat?”

“Em…” Taeyeon tampak ragu-ragu. Dia tak memikirkan dirinya sendiri, sebagai mantan kekasih Jessica dan –boleh disebut calon kekasih Tiffany, dia tahu kesukaan mereka berdua berbeda sekali. Sangat jauh berbeda. Taeyeon berusaha mengingat-ingat apa saja yang dapat mengaitkan keduanya. Tak ada. Tidak kecuali dirinya. Masa seratus empat puluh harinya bersama Jessica, tidak berbuah apapun. Dia tetap tak pernah bisa memahami gadis dingin itu. “Terserah kalian saja deh.” Akhirnya Taeyeon memilih untuk menyerah.

“Um.. Bagaimana denganmu Jessie? Ada tempat yang ingin kau kunjungi?”

“A—aku tidak yakin, tapi kalian berdua boleh pergi. Aku akan menunggu kalian disini. Lagi pula, aku tidak ingin mengganggu waktu kencan kalian.” Jessica melemparkan tatapan datar pada Taeyeon, menekankan kata ‘kencan’ sambil mendesis. Membuat Taeyeon bergidik ngeri.

Tiffany tertawa, “Oh! kami –tidak berkencan, tidak, secara teknis.” Kemudian ia tersenyum pada Taeyeon.

“Benarkah? Kupikir kalian lebih—?”

“Kami lebih dari sekedar berkencan, iya.” Saat itu juga, Taeyeon merasakan hasrat yang begitu kuat untuk menenggelamkan dirinya ke dalam lumpur hidup atau mendadak menjadi tidak kasat mata. Tiffany seolah memperparah keadaan dengan memeluk pinggang Taeyeon.

“Oh, baiklah.” Jessica memutuskan untuk tidak meneruskan audensinya. Pertanda buruk bagi Taeyeon. Walaupun ia tidak sepenuhnya memahami Jessica. Namun dia tahu bahwa mengalah bukanlah ciri khas gadis tersebut.

Tiffany kelihatannya tidak terpengaruh. Dia tetap saja tidak melepaskan pelukannya pada Taeyeon. “Baiklah kalau begitu kita menghabiskan waktu di sini saja. Lagi pula aku tidak terlalu tertarik bermain-main hari ini”

“Tidak usah, a—aku pulang saja.” Jessica tampak berpikir sejenak. “Um.. Lagi pula aku agak sibuk hari ini.” Taeyeon tahu Jessica tengah berbohong. Tidak seperti biasanya gadis itu tampak begitu berani dan percaya diri—sedikit mirip Tiffany kecuali sikapnya yang dingin.

“Kau kenapa Jessie?”

“Ti—tidak. Aku harus bertemu seseorang. Mungkin, lain kali aku bisa bergabung lagi bersama kalian, dengan senang hati.” Jessica mengucapkan kata-kata terakhirnya seolah-olah hendak berkata ‘dengan berat hati’.

Taeyeon tahu tak seharusnya ia merasa bersalah, lagi pula bukan dia yang mengakhiri hubungan mereka. Dia bahkan tak pernah tahu apa penyebabnya. Hanya saja, sikap dingin Jessica sudah membuatnya muak.

“Baiklah kalau begitu, mau ku antar sampai depan?” Tiffany menawarkan.

“Tidak-tidak, terima kasih. Kalian nikmati saja waktu berharga kalian berdua. Aku pergi dulu.” Jessica hendak pergi saat Tiffany menarik kembali lengannya.

“Ayolah Jessie… Aku yang mengajakmu kemari, jadi aku harus memastikan kau benar-benar aman.” Sekali senyum dan Jessica langsung luluh. Ia mengangguk mengiyakan.

Posisi mereka sekarang sangat mengaggumkan. Jessica berdiri di sisi sebelah kanan Taeyeon, sedangkan Tiffany di sisi kirinya Hanya saja bedanya, Jessica tidak mengapit lengan Taeyeon layaknya Tiffany yang memborgol lengannya.

Taeyeon tak begitu memedulikan sekitarnya. Pikirannya fokus pada satu hal. Walaupun taman hiburan itu tampak menarik, dengan stan-stan makanan, wahana dan permainan yang menggiurkan untuk dijajal, namun Taeyeon tetap saja tak tertarik.

Begitu mereka melewati stan yang berjarak lima puluh meter dari pintu keluar, ada seorang pria berusia paruh baya. Wajahnya bengkok dan tidak rata seolah baru digetok menggunakan palu lalu dipahat dengan acak oleh orang-orang sinting. Hidungnya mancung seperti penyihir galak. Matanya setajam elang. Taeyeon dapat merasakan tatapan itu menusuk jiwanya. Bagian teraneh adalah, walaupun ubun-ubunnya ber-plontos dan rambut yang tersisa di kepalanya sama sekali tak memberi kesan bahwa dia mampu mengangkat beton seberat lima kilopun, namun gigi-gignya masih tersusun rapi dan bersih seperti baru di amplas pakai sikat gigi besi.

Pria bergaya pakaian ala delapan-puluhan itu berjalan menghampiri mereka dengan santai sambil tersenyum memamerkan giginya yang berjajar rapi. Cengirnya tak meredamkan gugup Taeyeon, ia justru semakin gemetar, seolah penyihir gila akan segera menculiknya dan mengambil jiwanya.

“Hai nona-nona cantik, mau diramal? Hari ini kami membuka diskon 10% untuk setiap pasangan yang datang sebelum jam empat sore. Bagaimana?” Pria itu mengamati Taeyeon dan Jessica seolah meminta persetujuan.

“Ah, ti—tidak terima kasih.” Jessica buru-buru melangkah, namun Tiffany segera menarik lengan Taeyeon mendekat.

“Kami mau.” Tiffany berkata dengan riang. Namun, pria itu menanggapi dengan menatap Taeyeon sambil mengangkat satu alisnya. Taeyeon tahu pria ini, beberapa bulan yang lalu dia pernah kemari bersama seseorang. “Jadi, kau akan meramal kami pakai apa nih?” Tiffany mulai kelihatan agak kesal.

Namun pria itu hanya tersenyum sambil mengeluarkan kartu tarot dari saku celana aladin delapan-puluhannya. “Pasangan yang menarik.” Ujarnya sambil menyeringai dan mengocok kartu. “Kau ingin diramal menggunakan kartu atau garis tangan, nona cantik?”

Taeyeon berjengit mendengarnya. Ia tampak ragu.

“Bagaimana menurutmu Tae?”

“Um…” Taeyeon tampak berpikir sebelum menentukan. “Garis tangan sepertinya lebih rasional.” Ia ingat, terakhir kali kemari ia membuat pilihan yang salah, kartu yang salah.

“Tidak ada yang rasional dalam ramalan, nona.” Pria itu tersenyum jahil dan Taeyeon bersumpah ia akan menjejali mulutnya dengan kotoran burung jika pria itu melakukannya lagi.

“Baiklah, garis tangan deh.” Tiffany mengulurkan tangannya. Melihat tidak ada reaksi, ia lalu menyundulkan sikutnya pada perut Taeyeon dan menyuruhnya untuk mengulurkan tangan juga.

Dengan separuh hati, Taeyeon pun melakukannya.

“Mmm..” Pria itu tampak menimbang-nimbang sebelum memutuskan. “Sudah berapa lama kalian berpacaran?”

Taeyeon hendak menjawab bahwa mereka bahkan belum resmi berpacaran. Namun Tiffany menyela dan mengatakan hal yang hampir mendekati fakta.

“Tujuh minggu, enam hari, empat jam dan kira-kira dua belas menit.” Pria itu tampak memerah menahan tawa.

“Baiklah nona teliti, mari kita lihat.” Ia mengamati garis-garis bengkok di kedua telapak tangan mereka selama beberapa menit, kemudian menggumamkan sesuatu yang tak dapat dipahami oleh Taeyeon. “Mmm..” Pria itu tampak ragu, lalu menatap keduanya secara bergantian. “Aku minta maaf  tapi sepertinya kalian dapat kabar yang tidak begitu menyenangkan.”

“Jika sangat buruk sebaiknya tidak usah kau katakan saja.” Tiffany menarik kembali tangannya. “Aku benci ramalan kuno basi.”

Taeyeon berpikir barangkali Tiffany mengharapkan ramalan semacam ‘Kau akan pergi berkencan bersama pacarmu pada malam bulan purnama di tempat paling romantis sedunia, kepulauan eksotis Karibia mungkin saja bisa dijadikan pilihan dan blah-blah-blah.’ Dan mungkin saja peramal bodoh itu akan mengatakan bahwa mereka akan pergi ke sana naik kuda poni bersayap merah muda.

Tapi tidak, alih-alih demikian pria itu justru berkata. “Kalian mungkin akan berpisah dalam waktu dekat, mungkin juga tidak, jika salah satu dari kalian dapat bertahan. Jika nahkoda cukup berani melihat pulau, maka perahu akan segera berlabuh.” Dia tersenyum tulus.

Taeyeon bergidik ngeri. Ia memikirkan kemungkinan apakah dalam beberapa bulan lagi, Tiffany akan mengajaknya berlibur ke pulau Jeju menggunakan kapal pesiar, atau barangkali jika ingin lebih keren, menggunakan kapal selam merah muda. Siapa tahu?

“Apa itu artinya kami akan berpisah jika hubungan kami tidak cukup kuat?” Tiffany ragu-ragu bertanya. Wajahnya jelas menggambarkan bahwa ia tengah ketakutan.

“Bisa saja, kurang-lebih begitu.” Suara pria itu hambar, seolah sudah mengatakan hal-hal seperti itu ribuan kali sebelumnya.

Kemudian, pria itu tersenyum pada Taeyeon seakan ini adalah kabar baik, namun semangat Taeyeon malah semakin merosot. Tatapan itu jika diterjemahkan kira-kira bunyinya seperti ini:

Kabar baik! Selain fakta bahwa kau terjebak disini bersama calon pacar dan mantanmu yang tak kau ketahui mengapa tiba-tiba dia meninggalkanmu begitu saja, kau juga dikabarkan tak bakal bertahan lama dengan pacar barumu! Menarik tidak sih?

“Baik, terima kasih.” Tiffany memberinya sejumlah uang sebelum menyeret Taeyeon dan berjalan bersama menuju pintu keluar. Disusul Jessica di belakang mereka. “Tadi itu tidak masuk akal sekali.”

“Kupikir, dia berkata ramalan itu memang tak ada yang masuk akal.” Kini giliran Jessica yang angkat bicara, semua menoleh padanya dengan tatapan ngeri. Seolah batu baru saja berbicara pada mereka. “Apa?”

“Tidak.” Tiffany tidak berusaha memperpanjang pembicaraan itu dan terus saja berjalan hingga hampir sampai di pintu keluar. “Baiklah Jessie, kau boleh pulang sekarang. Terima kasih sudah datang.”

Jessica tersenyum lalu melambaikan tangan, “sampai jumpa.” Kemudian gadis itu menghilang di balik kerumunan orang.

Akhirnya, Taeyeon dapat bernapas lega. Yeah, sebelum Tiffany menyeretnya ke dalam lautan pengunjung dan memaksanya untuk mencoba berbagai wahana yang dapat mengenyahkan medusa dan penyihir pria gila dari pikirannya.

Sementara Tiffany meminta izin ke kamar mandi, Taeyeon memanfaatkan kesempatan itu untuk beristirahat sejenak di dekat wahana roller-coaster yang baru saja mereka cicipi. Meliriknya sekilas saja membuat vertigo Taeyeon kambuh. Dia bergidik sambil mencoba memikirkan hal lain.

Saat ia mulai berpikir, otaknya hanya dapat berpikir satu hal—Tiffany.

‘Bunyi langkah tegas sekaligus menggoda itu membuatku menoleh. Sosok perempuan muda berambut merah kecoklatan menyambutku, tersenyum simpul seolah yakin dirinya adalah yang mahasempurna dan mahaistimewa. Wangi semerbaknya mengingatkanku pada bunga tropis, cerah, jelita sekaligus panas membahara. Aku menatapnya dengan penuh kekaguman. Betis langsingnya memamerkan sepatu high-heels yang membuatnya lebih anggun saat melangkah. Pahanya yang seputih susu dan semulus—.’

Kemudian, bayang-bayang itu berpendar digantikan gambar lain yang lebih—menyeramkan.

‘Bunyi langkah tegas sekaligus menggoda itu membuatku menoleh. Sosok perempuan muda berambut coklat kehitaman menyambutku, tersenyum simpul seolah yakin dirinya adalah yang mahajutek dan mahadingin. Tatapan matanya menyiratkan sesuatu yang jika diterjemahkan akan berbunyi ‘Mati kau Kim Taeyeon! Berani-beraninya kau berpacaran dengan sahabatku!’

“Whoaaaa!!! Ada apa denganku?” Taeyeon menggeleng-gelengkan kepala dengan frustasi. “Aku pasti sudah gila!”

“Bagus jika kau sadar Kim Taeyeon!” Tiffany berdiri sekitar dua meter darinya. Memegang dua kaleng minuman yang jika ditebak adalah –minuman isotonik dan sebungkus tteobokki. “Aku sudah memanggilmu beberapa kali dan kau tetap tidak menggerakkan pantatmu satu inci-pun.” Taeyeon dapat melihat ekspresi kesal tergambar jelas di wajah cantiknya.

Andai saja, kau benar-benar tahu apa yang sedang kupikirkan. Taeyeon kembali menggelengkan kepalanya. Memikirkan hal-hal seperti itu hanya akan membawanya pada rasa bersalah yang begitu besar. Dia memutuskan untuk tidak akan memikirkannya, hari ini.

“Jadi?” Tiffany mengangkat sebelah alisnya kemudian duduk di sebelah Taeyeon. “Apa yang sedang kau pikirkan?” Wangi tteobokki seketika menguar pada rongga hidung Taeyeon saat Tiffany menyerahkan makanan beserta minuman itu padanya kemudian menyandarkan kepalanya di bahu Taeyeon.

“Kau tidak ingin?” Taeyeon mencoba untuk mengalihkan pembicaraan mereka. Tiffany tampak cemberut sebelum menggelengkan kepala. “Aku sudah kenyang. Kau pasti lapar, kau kan tidak memesan apapun selain puding dan milkshake tadi.” Tiffany berkata sejujurnya. Yeah, bagaimana bisa dia makan dengan tenang di bawah tatapan membekukan medusa. Taeyeon bahkan yakin jika mungkin saja ia tak dapat membedakan mana yang sendok mana yang nasi untuk di telan saat melirik ke arah Jessica.

“Baiklah.”

Matahari sudah rendah saat Taeyeon menyelesaikan tteobokki dan minuman isotoniknya. Tiffany menunggu dengan setia sambil memainkan ponselnya. Tiba-tiba sebuah ide muncul di benak Taeyeon, “em… Fany-ah, mau coba yang satu itu?” Taeyeon menunjuk bangunan di ujung taman hiburan, yang berjarak sekitar 100 meter dari tempat mereka berdiri. Taeyeon sudah dapat menebak reaksi Tiffany –bergidik ngeri.

Iklan

43 thoughts on “FORTUNE TELLER [Song-Fic]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s