One Shoot, SNSD, SOSHI FF

SHE WILL BE LOVED [Song-Fic]

tumblr_m9bwlrHewT1rcaexao1_500

I want to make you feel beautiful

~Maroon 5

JIKA MENANGIS DAPAT MERINGANKAN luka, maka yang dilakukan Tiffany sejak dua puluh menit yang lalu adalah tindakan yang tepat. Akan tetapi, jika menangis dapat menyelesaikan masalah mungkin dia akan melakukannya di taman hiburan siang tadi. Namun itu takkan pernah terjadi, menangis adalah hal yang konyol untuk dilakukan manusia kuat, tapi Tiffany sadar dirinya hanyalah perempuan rapuh yang bahkan butuh pundak untuk bersandar. Tak ada.

Sandaran kasur mungkin dapat menggantikan pundak Taeyeon selama beberapa menit, namun Tiffany sadar bahwa rasanya takkan pernah sama. Tak senyaman pundak Taeyeon, tak sehangat pelukan Taeyeon saat di rumah hantu sore tadi. Ia merindukan semua itu, semua pelukan dan sentuhan, semua kata-katanya yang menenangkan.

Tiffany tetap bersandar pada pilar kayu di belakang punggungnya, berharap entah bagaimana pilar itu akan bertransformasi menjadi Taeyeon dan memeluknya dengan kehangatan, atau menghapus air mata di pipinya, atau membisikkan bahwa semua akan baik-baik saja. Namun Tiffany tahu semua itu takkan terjadi saat ini. Ia sendiri, ia yakin sampai kapanpun ia hanya akan menangis sendiri.

Sosok yang selalu ia rindukan, selalu ia harapkan untuk memeluknya ternyata memang bukan miliknya, bukan tercipta untuknya. Selembar foto yang ia temukan di sebuah buku panduan memasak dua bulan lalu yang ia pinjam dari Jessica membuyarkan semua harapannya. Walaupun masih sangat mengejutkan bagaimana Jessica dapat memiliki buku seperti itu, namun hal yang paling mencengangkan adalah potret yang ia lihat dalam foto tersebut.

Tak mengherankan jika Jessica rela membeli buku tersebut atau bahkan mempraktikkannya. Semua demi Taeyeon. Hanya itu yang terpatri di benaknya. Ia tak mempertanyakan mengapa Taeyeon dan mengapa Jessica begitu mencintainya. Sesungguhnya ia tak pernah bertanya walaupun sudah lama tahu, sejak pertama kali melihatnya Tiffany sudah mencintainya. Ia hanya menunggu untuk saat yang tepat.

Dia tahu peluangnya untuk mendapatkan Taeyeon tak sebesar harapannya. Namun, setelah tahu bahwa mereka tak lagi berhubungan, semangat Tiffany kembali tergugah. Yuri, thanks to her. Yuri lah yang memberi tahu Tiffany bahwa mereka tak lagi memiliki hubungan istimewa. Pada awalnya, ia merasa begitu yakin dapat memberikan apa yang tak mampu Jessica berikan padanya. Tiffany tahu seperti apa Jessica. Ia bukanlah cewek gampangan yang memberikan segalanya pada siapapun bahkan pada orang yang benar-benar dicintainya sekalipun. Dan Tiffany menggunakannya sebagai cara untuk menarik hati Taeyeon.

Ia tahu, tak seharusnya Tiffany melakukan hal itu. Namun, cinta telah membutakannya. Tiffany tak mampu melihat apa-apa lagi—yah, kecuali Taeyeon tentunya.

Taeyeon memeluknya saat ia ketakutan, membisikkan bahwa ia akan baik-baik saja karena Taeyeon ada disana layaknya pahlawan betulan. Hati Tiffany mencelos mendengarnya. Itu adalah hal terindah yang pernah ia dengar sebelumnya. Ia tak pernah merasa seaman itu dalam hidupnya, dalam dekapan Taeyeon.

Namun, pemikiran tentang Jessica siang tadi menghancurkan kembali semua harapannya. Jessica tampaknya masih mencintai Taeyeon entah bagaimana. Tapi Tiffany dapat melihatnya, ia lebih dari sekedar mengenal Jessica untuk tahu apa yang sebenarnya ia rasakan. Dan sialnya Tiffany tidak dapat berbuat apa-apa. Ia tidak mungkin tega menghancurkan hati Jessica, bukan begitu? Namun, haruskah ia menghancurkan benih-benih cinta yang sudah terlanjur tumbuh subur di hatinya? (Oke, yang ini emang terdengar menjijikkan)

Tiffany mendekap foto itu dengan isakan. Jessica tampak bahagia dalam foto tersebut dengan Taeyeon yang merangkul pundaknya. Tiffany—yang entah mengapa dapat melihat dari mata Jessica bahwa ia teramat bahagia—mereka bahagia dan sangat serasi.

Tiffany berdiri dan menekuni bayangan dirinya di depan cermin dengan ribuan pertanyaan yang terpatri dalam benaknya,

Apakah aku terlihat se-serasi itu dengan Taeyeon?

Apa aku bahkan pantas bersanding dengannya?

Apakah Taeyeon adalah takdirku? Ataukah ada takdir lain yang menungguku?

Ia bahkan tak dapat membayangkan dirinya bersanding dengan orang lain. Setiap kali ia berusaha memikirkan pria atau wanita lain yang memeluknya, mengecupnya dan merelakan pundak untuknya, namun tetap saja bayangan Taeyeonlah yang mengisi pikirannya. Dan akhirnya, semua kembali pada Taeyeon.

“F—fany ah?” Tiffany tak perlu menoleh untuk melihat siapa yang ada di belakangnya. Berdiri sambil terengah-engah dan memegangi kedua lututnya. Suaranya cukup familier bagi Tiffany. Hanya satu orang yang mampu menghadirkan rasa dejavu dalam dirinya.

Tiffany tersenyum, menghapus air matanya secepat mungkin. Ia memang sengaja tak bergerak. Ia berdiri, ia menunggu.

Tak lama kemudian, dari cermin Tiffany dapat melihat sebuah siluet bergerak mendekat. Lalu yang dapat ia rasakan hanyalah kehangatan. Air mata yang terbendung di pelupuk matanya pun akhirnya pecah. Tiffany memutuskan untuk membiarkannya mengalir begitu saja. Pelukan Taeyeon membuat semua perasaannya tercampur aduk. Senang, sedih, kecewa, bahagia, lega. Semua menghasilkan sensasi yang membuat seolah perutnya ditarik-tarik.

“Gwaenchana? Yuri bilang kau—ka—mmp.” Tiffany berbalik dan langsung mengunci mulutnya. Dia tak perlu penjelasan. Sudah lebih dari cukup Taeyeon dapat hadir untuk menemaninya malam ini. Tiffany menumpahkan semua perasaannya dalam ciuman itu, membuatnya bersemangat dan begitu agresif.

Walaupun Taeyeon sudah mencoba melepaskan ciuman mereka—yang sudah dapat ditebak bahwa ia kehabisan udara. Namun Tiffany masih berusaha melahap mulutnya, seolah tiada hari esok. Seolah matahari tak lagi terbit pagi ini.

Yeah, sebuah ciuman dari timbunan berpuluh perasaan takkan berakhir dengan bahagia, kurasa. Setidaknya ada luka sobek di sudut bibir Taeyeon. Rasa asin besi dan asin asam mengaduk perutnya. Ketika darah bercampur dengan air mata. Tiffany menciumnya seolah ini adalah yang terakhir kalinya.

“F—fany ah, G-gwaenchana?”

“Hmm..” Tiffany melepas ciumannya perlahan walau ia tak sepenuhnya melepaskan pelukan mereka. Tiffany merasa nyaman saat dahi mereka saling bersinggungan. “Aku baik-baik saja Taeyeon-ah, terima kasih sudah datang.”

“Apa maksudmu?” Tiffany tertawa kecil, ia merasa Taeyeon sangat lucu saat gadis itu mengangkat sebelah alisnya.

Setidaknya dia masih memedulikanku.

“Boleh aku tanya satu hal?” Tiffany melingkarkan lengannya pada leher Taeyeon kemudian menyeretnya duduk di atas matras.

“Baik. Tentang mengapa kau membalas pertanyaanku dengan pertanyaan lainnya?” Tiffany terkekeh mendengar lelucon gagal Taeyeon.

“Aku berharap seperti itu, tapi ada hal yang lebih penting—paling penting yang ingin aku tanyakan sejak dulu.”

‘Apa selama ini kau mencintaiku?’

Taeyeon bergidik, bisikan Tiffany membawa sensasi tersendiri baginya. Rasanya seperti lima kali naik roller-coaster siang tadi. Butuh beberapa menit bagi Taeyeon untuk menjawabnya—rasanya masih janggal.

“Ku—kurasa begitu.” Taeyeon menghela napas sambil berhitung sampai sepuluh. Walau bagaimanapun ia masih merasa nerves padahal sudah berpuluh-kali ia praktikkan sendiri. “Fany ah. Boleh aku jujur padamu?” Taeyeon meremas tangannya.

“Aku selalu menghargai setiap kejujuran Tae.”

Taeyeon merasa agak egois, karena dia sudah melupakan sama sekali tentang bagaimana perasaan Tiffany. Ia sadar bahwa segala yang ia pikirkan hanya dirinya sendiri. Ia tak berusaha memahami Tiffany, ia terkungkung dalam rasa takutnya sendiri. Yeah, setidaknya sekarang ia tahu betapa egois dirinya.

“Aku tahu seharusnya aku mengatakan hal ini sejak dulu, tapi yeah.. siapa yang tahu keadaannya akan begini.” Taeyeon terdiam sejenak, otaknya mendadak kosong melompong. Kata-kata yang sudah ia persiapkan seolah terbuyarkan begitu saja.

“Tae?”

“A—aku sejujurnya…. Jessica—dan aku… dulunya—kita…” Taeyeon kembali menarik napas. Tenang Taeyeon, tenang dan jelaskan. Semua akan baik-baik saja jika kau tenang.

Tiffany menunggunya dengan sabar walaupun ia sudah tahu apa yang akan Taeyeon katakan, namun ia tetap menunggu kata-kata yang keluar dari mulutnya—itu jauh lebih berharga.

“Aku pernah memiliki hubungan dengannya, cukup istimewa. Yeah, kau tahu. Aku tahu aku bersikap tidak sopan tadi siang. Aku tak seharusnya berpura-pura tidak mengenalnya. Rasanya, aku ingin meninju diriku sendiri saat itu a—aku.” Taeyeon menunggu reaksi Tiffany. Ia sudah mengantisipasi sebuah tamparan, tonjokan atau bahkan tendangan dari Tiffany yang membuat tubuhnya remuk redam dan lebam-lebam. Namun tak ada.

Yang membuatnya kaget setengah mati adalah, tidak cap biru yang melekat di kulitnya. Tapi merah, sesuatu yang kenyal mengecup bibirnya. Ia dapat merasakan Tiffany tersenyum sambil menciumnya, tidak seagresif sebelumnya. Kali ini lebih pelan dan penuh penjiwaan.

“Aku tahu. Terima kasih sudah mau menjelaskan. Aku merasa istimewa.”

“Kau memang istimewa Fany-ah.” Taeyeon tak merencanakannya. Kata-kata itu mengalir begitu saja dari bibirnya yang masih seperempat berkaitan.

“Benarkah?”

“Entahlah, apa yang kukatakan barusan?” Taeyeon memainkan alisnya dengan nakal.

“YAH!” Tiffany langsung menghujaninya dengan bantal—satu pukulan—dua pukulan dan Taeyeon pun tertawa terbahak-bahak. “Kau mau hukuman, kim Taeyeon?”

Taeyeon terkesiap. “Hu—hukuman?”

“Aku berani bertaruh kau pasti menyukai hukuman yang satu ini.”

Tiffany kembali melingkarkan lengannya pada leher Taeyeon. Ia mengedipkan mata kanannya pada Taeyeon dengan gaya seduktif sebelum menghajar habis bibirnya.

“Oh, well—kali ini aku setuju dengamnu Hwang.”

♥End♥

Iklan

40 thoughts on “SHE WILL BE LOVED [Song-Fic]”

  1. Hahahahahahahahahaha *numpang ketawa*

    ff nya bagus thor, unyuuuu kaya author LOL XD
    lo kesambet apaan sya bikin beginian?? ga elo banget lah chessy2 bgini haha, tp suer unyu kok, semua yg berbau taeny kan unyu ;3

  2. aku ga’ tau coment2 sbelumnya masuk apa ga’.. tp mudah2an yg ini masuk..
    taeny happy ending, trus sica nya gimana??

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s