Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 1

For those, who make this nonsense possible…

NYMPHS — The Lost Crown 

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Aku tak pernah ingin jadi anak setengah-manusia. Jika kau membaca ini dan mengira kau anak setengah-manusia juga, kunasihati nih: tutup halaman ini sekarang juga. Pokoknya, percayai saja apa pun kebohongan yang diceritakan ayah-ibumu tentang kelahiranmu dan cobalah menjalani hidup normal.

Menjadi anak setengah-manusia itu berbahaya. Menyeramkan. Sering bikin orang terbunuh secara menyakitkan dan mengerikan.

Kalau kau anak normal, yang membaca ini karena menganggap ini fiksi, bagus. Silahkan baca terus. Aku iri denganmu, bisa percaya bahwa semua peristiwa ini tak pernah terjadi.

Tapi, kalau kau mengenali dirimu di halaman-halaman ini dan merasa sesuatu menggeliat dalam dirimu, cepat hentikan bacaanmu. Mungkin saja kau sama seperti kami. Dan begitu kau menyadari itu, cuma soal waktu saja sampai mereka juga merasakannya, dan mereka akan memburumu.

Jangan bilang aku tak pernah memperingatkanmu.

-PJ

I

 STEPHANY!”

“Ne! Appa.” Aku berjingkat, bangkit dari kursi bersiap menemui Appa.

Namun baru satu langkah ke depan, aku tersadar bahwa aku tidak sedang di rumah bersama Appa atau pun Umma. Melainkan, Hello! Aku tengah berada di kelas, mendengarkan penjelasan Nyonya Fartdour tentang metamorfosis kupu-kupu yang sudah berpuluh-puluh kali dibahas di kelas sembilan.

Meski situasi berbahaya yang kini tengah kuhadapi, aku masih harus menggigit lidahku untuk tak tertawa. Aku masih belum bisa percaya, seorang guru dengan nama Fart Odour—kentut bau? Orang tuanya pasti bercanda waktu itu.

“Appamu sedang tidak ada di sini, Stephany Hwang.” Nyonya Fartdour  mendelik ke arahku, membuatku merinding. Kontan aku tahu apa yang akan terjadi berikutnya, pertanyaan konyol yang sudah ratusan kali di tanyakan pada murid yang tengah melamun di kelas.

“Bisa kau jelaskan apa yang sedang ada di kepalamu, Ms. Hwang?” Nyonya Fartdour melemparkan tatapan mengerikan padaku, dengan satu alis terangkat ke atas kemudian mendelik.

Aku bersembunyi di balik meja, menutupi mukaku yang memerah sambil mencoba untuk mengarang alasan yang dapat kugunakan untuk mengulur waktu. “Aku—sedang menangkap kupu-kupu.. Di rumah… Gorgon?” Ini mungkin hal terkonyol yang pernah kukatakan sebelumnya. Mukaku semakin merah seiring tawa yang meledak dari teman-teman.

“Ehem..” Suara penuh tekanan membuyarkan konser tawa di kelas, aku masih menyembunyikan muka. “Miss Hwang, coba jelaskan apa itu larva?”

“Larva adalah ulat yang tumbuh dan khusus untuk makan serta mengalami molting beberapa kali, kemudian larva membungkus dirinya sendiri dalam kepompong dan menjadi pupa.” Aku tidak tahu kenapa kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku dan ketika aku tersadar—sudah terlambat.

Beliau menatapku dengan takjub. Seolah tak percaya pada ucapanku barusan.“Bagus sekali Miss Hwang.” Nyonya Fartdour membetulkan letak kaca matanya yang mencong ke kiri. “Tebakan yang bagus.”

Aku tak pernah memahami bakatku sebelumnya—bakat menebak dengan tepat. Tapi itu tidak jadi masalah, yang penting aku selamat dari hukuman membersihkan ruang piala sampai sore selama satu minggu. Setidaknya aku tidak akan berdebu selama itu.

“Baik… Anak-anak, sekarang dengarkan penjelasanku dengan  benar atau kalian tidak dapat jatah makan siang selama dua hari.” Beliau memperingatkan seluruh murid sebelum kembali menghadap papan tulis dan mengoceh.

*-*

Selama perjalanan pulang, aku tetap memikirkan kejadian di kelas tadi, sungguh memalukan sekali.

UGH! Dengan kesal, aku menendang kerikil kecil di depan kakiku sebelum benda kecil itu melayang ke pekarangan rumah Gorgon—rumah yang oleh penduduk sekitar di sebut-sebut sebagai rumah hantu. Tapi aku tak pernah mempercayainya. Tidak ada hantu. Lagi pula aku tidak takut hantu—semoga.

Aku kembali menendang batu yang sedikit lebih besar ke dalam pekarangan rumah Gorgon terkutuk itu. Aku sebal dengan rumah ini. Gara-gara rumah ini, aku harus bertahan menahan malu selama dua jam pelajaran. UGH!

Aku kembali menendang, kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Guk!

Aku berjingkat. Suara apa itu tadi?

Guk! Guk!

Kata-kata para penduduk sekitar mulai melayang-layang di sekitarku. Kontan, aku menggigil hebat. Bahkan aku tak lagi dapat merasakan tulang melekat di kakiku. Dan aku… Pemandangan di sekitarku seketika berubah putih, kemudian gelap.

*-*

Untungnya, aku tidak takut anjing karena hal pertama yang kutemukan saat pertama kali membuka mata adalah mendapati sesuatu berlendir berbau anyir yang memoles wajahku. Aku duduk, mengedipkan mata tak percaya. Aku ada di pekarangan, betul. Aku melihat kanan-kiri, alangkah terkejutnya saat aku melihat rumah Gorgon tak jauh dari tempatku sekarang ini. Jadi, jika di pikir lagi dengan logika—yang parah, pekarangan yang sedang kududuki ini adalah halaman rumah Gorgon, bagus. Seorang gadis berusia tujuh belas tahun tengah nyasar bersama seekor anjing hitam berbulu lebat—yang bisa saja jadi-jadian di sebuah rumah hantu, mengasyikkan bukan? Namun, bukan itu yang paling payah. Aku bahkan tidak ingat kapan aku berjalan kemari, maksudku tidak mungkin kan gadis seberat hampir setengah kuintal ditarik oleh seekor anjing yang bahkan tingginya tak sampai lutut dari ujung jalan hingga ke pekarangan ini? Oke, itu baru seram. Aku memutuskan untuk tidak memikirkannya, membuat penyakit parnoku semakin menjadi saja.

Aku membersihkan debu-debu yang masih menempel di seragam sekolahku dan saat itulah aku baru menyadari bahwa aku masih mengenakan seragam sekolah—aku benci fakta bahwa Umma menempatkanku di sekolah khusus perempuan yang mewajibkan seluruh siswinya mengenakan seragam.

Bagus.. Hari yang sangat menyenangkan. Pertama tertangkap basah melamun oleh Nyonya Fartdour, kedua pingsan di pinggir jalan, ketiga memakai bedak liur anjing hitam berbulu tebal, keempat di temukan secara nahas di pekarangan rumah berhantu—Gorgon. Oke, mungkin hari ini aku memang sedang apes. Aku tak perlu membuang-buang waktu lagi untuk pergi dari tempat ini. Semakin cepat aku enyah dari sini, mungkin perasaanku akan membaik.

Begitu aku melangkah, kurasakan sesuatu yang basah di kakiku. Terkejut? Oke. Sangat. Anjing hitam itu menjulurkan lidah berkali-kali ke arahku dan menjilati kakiku—menarik. Atau menjijikkan. Aku tahu dia berusaha meringankan batinku, tapi aku tetap merasa kalut. Umma pasti marah karena aku pulang terlambat, dia akan mengomeliku semalaman dan membuatku tidak dapat menelan makananku seharian.

Sebenci aku pada hari ini—dan anjing ini, walaupun dia membuatku jengkel dengan bedak liurnya namun aku tidak sampai hati meninggalkannya sendiri disini. Boleh aku jujur? Oke, dia sangat lucu. Mungkin aku gila karena ingin membawa pulang anjing yang bisa jadi anjing setengah-hantu, kau tahu maksudku kan? Anjing jadi-jadian yang biasanya di film-film horor itu. Baik, sekarang bukan saatnya membicarakan tentang film horor, terlebih di pekarangan rumah Gorgon.

Anjing, yeah. Bagaimana bisa aku membawanya pulang tanpa ketahuan Umma? Mungkin anjing ini bisa kumasukkan ke dalam tasku—tapi dia pasti bakal meronta. Kardus—aku tidak melihat kardus, lagi pula Umma bakal tanya-tanya. Andai saja anjing ini bisa dilipat-lipat dan kumasukkan sakuku, yang mungkin dapat meringankan bebanku. Ah, tapi jika dipikir-pikir lagi, seram juga. Aku pasti bakal kena serangan jantung mendadak jika dia tiba-tiba terlipat sendiri.

Aku menggendongnya, tidak terlalu berat untuk ukuran anjing pudel. “Hei, apa kau makan selama ini?”

Guk!

“Kamu anjing beneran kan?”

Guk! Guk!

Oke, mungkin ini terdengar sedikit gila, karena entah kenapa aku tahu dia bilang ‘iya’ dan ‘tentu saja’

Aku membawanya saja pulang ke rumah, bukan ide yang buruk. Lagi pula, sepertinya Prince Fluffy butuh teman. “Hey, kamu laki-laki atau perempuan sih?”

Guk!

“Yeah, jawaban yang bagus kawan.”

Aku melewati pagar dengan mudah, sepertinya tidak dikunci. Entah sejak kapan aku mengidap penyakit akut—Tidur sambil jalan. Ralat : Pingsan sambil jalan. Anjing ini—yang mulai kupanggil Fei tidak mungkin sekonyong-konyong punya kekuatan buat buka pagar seberat ini.

Dengan satu langkah melewati balok kayu yang sepertinya sengaja di letakkan melintang di sisi pagar, aku mendesah lega. Akhirnya kami keluar juga—aku dan Fei tentunya.

Aku yakin sekali tak menutup pagarnya—walaupun aku masih baru sadar setelah beberapa jam pingsan, tapi aku tak pernah merasa seyakin ini. Rumah Gorgon itu benar-benar berhantu. Aku tidak menutup pagarnya waktu keluar. Tapi begitu sampai lima meter dari pagar, iseng-iseng saja aku kembali menoleh dan wholla pagarnya secara ajaib menutup sendiri!

Aku ingin sekali percaya bahwa tadi itu hanya angin atau halusinasiku saja. Namun, aku baru sadar jika berjam-jam tadi, waktu aku di dalam dan berjalan—semua terasa membeku. Tidak ada angin, tidak ada bising suara mobil atau suara kucing-kucing yang sedang berkelahi di sepanjang apartemen di New York.

Seolah radio yang baru dinyalakan kemudian dibesarkan volumenya, kurang-lebih seperti itulah yang kurasakan sekarang. Begitu aku melangkah di jalanan kota, semua perlahan kembali berputar. Desing knalpot kendaraan samar-samar berdengung di telingaku. Angin musim gugur juga menerbangkan ujung-ujung rambutku. Rasanya seperti baru keluar dari kulkas, udara hangat—yang seharusnya dingin kontan menggelitik kulitku.

Aneh, tadi tidak ada angin—tidak juga suara. Lalu, bagaimana gerbang dapat menutup sendiri? Oke, kuputuskan semua tadi hanyalah imajinasiku saja. Mungkin kepalaku terlalu keras membentur aspal dan hal itu membuat salah satu saraf—entah apa di otakku terbalik, membelit, bengkok atau apa dan mengganggu fungsi inderaku dan sebagainya. Begitu pulang, aku akan segera ke dokter saraf. Mungkin saja, setelah ini aku didiagnosis gila atau sebagainya. Baik, mungkin itu baru bagian terkeren dari hari ini.

*-*

Seperti biasa, hari Jumat sebelum liburan musim dingin, Umma selalu mempersiapkan segalanya untuk kami. Walau ini masih terlalu dini untuk disebut musim dingin—dan terlalu lama untuk disebut musim gugur. Baik, ditengah-tengahnya.

Aku melihat Umma mengemasi tasku dan beberapa buku untuk dibaca selama liburan di rumah nenek. Aku benci rumah nenek—aku sudah berkali-kali bilang pada Umma untuk meninggalkanku saja sendirian di rumah sambil menjaga Fei dan Prince Fluffy. Namun, Umma bersikeras untuk menitipkan Prince Fluffy di toko hewan dan menyuruhku untuk mengembalikan Fei ke tempat dimana aku menemukannya. Aku benci Umma.

Dia begitu membenci Fei, berkata bahwa itu anjing hantu. Aku tidak percaya hantu—walau aku harus mengabaikan fakta bahwa aku baru saja keluar dari rumah hantu. Dan Umma selalu bilang bukan berarti kita tinggal di New York dan kita melupakan hal-hal tabu seperti itu. Aku tidak pernah tahu Nenek dari ibuku, mungkin dia menyenangkan—tidak seperti Umma. Tapi nenek dari Ayah sungguh menjengkelkan—cerewet sekali dan selalu menyebutku Shea—Seya atau apalah. Kukura itu kependekan dari namaku Stephi—yang sama sekali enggak lucu. Tapi terkadang nenek juga memanggilku Nymph atau Dryads.

Sebenarnya aku sedikit tahu tentang nama-nama itu, dan aku tak mau mengingatnya. Waktu kecil, nenek dan ibu—yang jarang sekali akur, seringkali membelikanku buku-buku tentang dewa-dewi, peri dan mitos-mitos aneh lainnya. Mereka memperlakukanku seolah-olah aku ini bagian dari mereka—terkadang bahkan lebih, aku selalu mendapat apapun yang aku minta—layaknya putri raja. Namun seiring bertambahnya usia, Appa menjadi jarang pulang kemudian Umma dan nenek bersikap berbeda padaku. Yeah, haya sebagian dari masa kecilku.

Perjalanan memakan waktu delapan jam dari New York menuju Pelabuhan Bar, Maine. Rumah nenek terletak di dekat asrama Westover. Mungkin aku dapat melewatkan hujan es dan salju berjatuhan menimpa jalan raya di sana. Bahkan mungkin, jika aku beruntung aku dapat melihat badai salju.

Pikiranku berkecamuk, aku tidak tega meninggalkan Fei di rumah Gorgon itu lagi. Tapi bagaimana aku membawa anjing tanpa ketahuan Umma?

Aku terlalu tegang hingga kuputuskan untuk menulis catatan kecil di depan pintu kulkas mengatakan bahwa aku akan pulang sore hari, bersikeras aku tak ingin ikut. Jadi, sebaiknya aku menghilang saja. Mereka pasti meninggalkan kunci di balik karpet selamat datang.

Aku berjalan-jalan bersama Fei, anjing itu terlihat bersemangat sekali untuk ukuran anjing yang bakal dibuang. Aku tak dapat menahannya. Umma mungkin saja benar, aku hanya butuh sedikit tempat untuk menghabiskan waktuku bersamanya lebih lama lagi. Karena cepat atau lambat, Umma pasti menyuruhku mengembalikannya ke tempat dimana dia ditemukan.

Saat kami baru berjalan empat blok dari rumah, Fei sepertinya tahu dia bakal jadi anjing tercampakkan lagi. Dia mengambil ponsel dari dalam saku mantelku dengan congornya dan mencengkeram dengan giginya. Aku berdoa saja semoga ponsel itu masih bisa digunakan setelah masuk dalam lautan liur—menjijikkan.

*-*

Hal yang paling menyebalkan selain mendapat hukuman membersihkan ruang piala oleh Nyonya Kentut-Bau adalah, lari maraton demi anjing pemakan ponsel yang dapat berlari dengan kecepatan lima puluh kilo meter per jam.

Omong-omong soal Nyonya Fartdour—aku jadi membayangkan diriku berlari di lapangan sambil diteriaki bocah lamban, bocah lembek dan sebagainya. Dengan kekuatan penuh, kuarahkan konsentrasiku menuju anjing yang samar-samar mulai tak terlihat itu.

Ketika kakiku mulai melemah, saat itulah aku menyadari di mana aku berdiri—rumah Gorgon, menyenangkan. Kecuali beberapa rumor hantu dan pagar yang dapat menutup sendiri.

Fei sudah pergi, namun aku yakin sekali tadi dia berlari ke arah sini. Jika saja rumah ini sedikit dirawat, aku pasti merayu Umma dan Appa untuk membelinya. Sungguh luar biasa, pekarangan di sini luas sekali. Banyak tanaman yang tumbuh liar dan beberapa mungkin jarang kau temukan. Seperti tak tersentuh tangan manusia.

Aku tak benar-benar mengamati bagaimana kondisi pekarangan di sini sebelumnya, maklum saja karena waktu itu aku lagi sibuk—ketakutan. Rumput-rumputnya kira-kira setinggi tiga puluh sentimeter dan tidak terpangkas. Ada beberapa pohon dan kolam mungil yang dibatasi oleh bebatuan dan dibuat berkelok-kelok. Di atas kolam tersebut terdapat patung mungil yang barangkali putri duyung kalau aku tak salah lihat. Patung air mancur itu pasti bagus sekali kalau sekujur tubuhnya tidak lumutan.

Aku terlalu terpana hingga tak sadar bahwa kini aku sudah ada di pinggiran kolam. Menatap air mancur yang mengeluarkan bunyi kucuran keran yang lebih mirip suara uang logam yang ditaburkan di dasar kolam. Saat itulah aku tersadar bahwa satu-satunya bunyi yang dapat kudengar hanyalah suara yang berasal dari air mancur tersebut.

Aku berbalik dan membentur batu berlumut. Sepertinya batu itu sudah diletakkan disana selama berpuluh-puluh tahun dan tak tersentuh. Tapi, yang paling membuatku kaget setengah mati adalah bahwa di atas batu tersebut terdapat jejak kaki mungil seukuran bayi—namun sama sekali tak tersentuh lumut. Sepertinya Fei baru saja melewatinya karena ada jejak kaki anjing baru di sana. Yang kupikirkan adalah, bagaimana Fei dapat melewati batu itu dan menghilang disini?

Aku menyentuh cetak telapak kaki itu, terasa begitu dingin. Seolah salju baru saja mengubur seperempat lenganku. Aku bergidik—namun, hal terakhir yang ingin kulihat dari batu itu adalah—lumutnya berubah warna. Dari hijau menjadi biru-kemudian merah-lalu kuning-dan terakhir denyar keabu-abuan sebelum aku tersadar aku tengah berada di dunia yang berbeda.

Christian-Louboutin-Fairy-Tale-Ad-Campaign

*

Hal terakhir yang ingin kau rasakan saat memasuki dunia yang benar-benar berbeda adalah, tatapan mengerikan dari semua orang di situ—tidak mereka bukan orang atau manusia atau jenis normalnya yang biasa berseliweran di kota-kota seperti New York, atau Los Angles, atau California, bahkan San Fransico—mereka punya sayap! Sungguh. Sayap betulan. Dan ukuran mereka, mungil sekali—atau barangkali aku yang membengkak.

Sebuah kelopak bunga teratai melayang di atasku, kemudian merekah seiring terbenamnya matahari. Aku bahkan tak yakin jika itu matahari.

Matahari? Memangnya ada dua matahari? Atau itu hanya refleksi sinar, permainan cahaya atau sebagainya. Tanpa sadar, aku mendelik bulat-bulat. Sejak kapan matahari ada dua? Dan terbenam di dua sisi yang berbeda, yang satu dari timur-ke barat dan sebaliknya. Mungkin aku bakal pingsan sepuluh detik lagi.

Satu… Dua… Tiga… Empat… Lima…

Hal terakhir yang kuingat adalah roboh di sulur-sulur pohon anggur, menatap kipas angin di langit-langit yang berputar di atasku, ngengat yang beterbangan mengelilingi cahaya kuning, dan wajah dua orang gadis cantik, salah satunya berambut pirang ikal dengan mahkota daun dafnah bak putri raja, kemudian yang satu lagi berambut coklat menawan dengan mata hazel yang menatapku khawatir.

“Dialah orangnya, pasti dia.”

-TBC-

Ps.

Nah, yang ini baru ‘gue’ keren banget. Dari awal emang gue bukan pecinta romen, jadi kalo baca/nulis yang berbau romen-romen ato yang over-cheesy-drama-queen tuh rasanya pengen lari aja ato mendelep sekalian *apaan*

Oh yeah. Gue denger dari beberapa readers yang nyanyi ke gue dengan suara indahnya *lol* kalo susah ya ngomen di blog ini? Ada gak yang ngomen tapi gak masuk-masuk? Sumpah gue gak ngerti banget guys! Ni wepe lagi ngambek kali. Nah, kalo emang kalian lagi ngerasain hal yang sama—pengen ngomen tapi gak bisa-bisa, lo bisa komen di mana aja sebenernya, di twitt gueh @sasyaa95 di FB gueh ato nge-WA gue juga boleh, sekalian curcol *MODUS BANGET SIH LO SYA* sebodo amat :p

Kalo emang kalian gak ada waktu buat komen, barangkali lagi sibuk ato males ngapresiasi, boleh lah kasi kepeduliannya pada wepe ini dengan format ketik : SASYA <spasi> CANTIK <spasi> BANGET, kirim ke 1234 #plak becanda…

Gak! Kalian nggak perlu repot-repot ngirim esemes kaya begitu, mengingat ajang Miss Indonesia masih lama *kibas rambut* wkwkw~

Kalo sempet, boleh lah kasi jempolnya~ biar Sasya tahu, kalo tulisan Sasya yang baca manusia. Bukan alien tak-kasat-mata :p

Oh, iya! Gue khawatir kalian bakal butuh ini banget. Jadi gue saranin kalian buat iseng-iseng baca ini dulu. EITS! Tapi tenang ajaa~ Sayangnya, kalian bakal butuh ini buat Chapter-chapter berikutnya, jadi gak usah bernapsu-napsu amat bukanya sekarang. Cuma, kalo buat chapter depan, lo-lo pada bakal ngerutin kening banget kalo gak buka nih : GLOSARIUM (Noted : Kata bergaris bawah ada disini)

hohoho~ bye… :*

Iklan

98 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 1”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s