Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 2

For those, who make this nonsense possible…

NYMPHS — The Lost Crown 

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Dengan berucap Bismillah, kupersembahkan…. GLOSARIUM [Noted : Ada baiknya jika kalian baca sambil buka ini, biar enggak mumet. Thanks]

II

AKU BERMIMPI ANEH-ANEH, ADA matahari kembar, kupu-kupu yang bisa jalan dan bicara. Sebagian menatapku khawatir, sebagian lagi ingin melahapku bulat-bulat.

Sepertinya aku terbangun beberapa kali, tetapi apa yang kulihat dan kudengar tidak masuk akal, jadi aku pingsan lagi saja. Aku ingat berbaring di kasur empuk—yang terasa menggelikan seperti tidur di atas rumput, disuapi makan yang rasanya seperti puding. Si gadis berambut coklat dengan mata hazel menawan itu menunggu di dekatku, menyeringai sambil membersihkan tetesan dari daguku dengan sendok.

Ketika dilihatnya mataku terbuka, dia berkata, “Hey!” Orang itu menyentuh pundakku. Ralat: Sesosok makhluk bersayap.

Aku berhasil menguak, “apa?”

Ketika aku hampir siuman, aku pun berusaha berdiri, ada yang aneh soal tempat ini. Semua orang bersayap mengerumuniku yang setengah-siuman dan baru saja pingsan di atas kasur rumput anggur.

Tunggu dulu, memangnya sudah berapa lama aku pingsan? Tanpa sadar tubuh mereka ikutan membengkak sepertiku—tunggu, tampaknya ada yang salah.

Tidak-tidak—tidak. Sepertinya mereka tidak membesar. Pohon-pohon di sekitarku yang over-grow. Dan—sejak kapan ada lebah raksasa? Oh, mungkin saja mereka spesies baru yang bakal menggantikan dinosaurus-minotaurus atau apalah.

Tapi-tapi—tapi, TIDAK ini T I D A K mungkin terjadi. Aku mendongak, dan sesuatu berdenyar di atas kepalaku. Sesuatu berwarna merah—seperti kobaran api-berbentuk mahkota. “Eh, memangnya sekarang bunga lotus mekar menghasilkan mahkota terbakar ya?” Iseng-iseng aku bertanya. Tapi tidak ada yang tertawa, tak satu pun—baiklah, selera humorku memang payah.

Mereka menatapku seolah aku ini berasal dari planet lain di galaksi lain pula. Tunggu—apa yang tadi itu benar?

Oke, mungkin otakku memang low-capacity tapi aku tahu kalau bunga manapun tak ada yang membakar sesuatu ketika mereka mekar. Barangkali ini akibat dari dua sinar berlainan arah yang tertuju langsung di atas kepalaku. Membuat X silang dengan kelopak bunga lotus tepat di tengah-tengahnya.

Aku menelan ludah ketakutan. Jika  bukan karena fakta bahwa aku tengah nyasar dan pingsan di dunia aneh di mana matahari punya anak dan semua manusia bersayap dan lebah raksasa dan pohon yang mendadak punya mata, tempat itu akan menjadi tempat terindah yang pernah kulihat. Rerumputannya berkilat dengan cahaya malam keperakan, dan bunga-bunganya berwarna-warni terang sehingga mereka tampak bersinar di kegelapan senja sambil menari-nari riang—dalam konteks yang sesungguhnya.

Sesuatu menarikku menuju batu-batu pijakan pualam hitam licin mengarah ke dua sisi dari pohon apel setinggi lima lantai, setiap dahannya berkelap-kelip dengan apel-apel emas, dan maksudku bukanlah apel-apel berwarna kuning seperti yang akan kautemui di supermarket. Maksudku adalah apel-apel emas sungguhan. Aku tak bisa menjelaskan mengapa begitu memikat, tapi begitu aku menghirup aromanya, aku tahu bahwa satu gigitan akan menjadi gigitan terlezat yang pernah kurasakan seumur hidup.

Saat aku hendak menyentuhnya, tiba-tiba sebuah suara mengejutkanku.

“Jangan!” Gadis  bermata hazel itu berlari ke arahku—yang anehnya dia berlari padahal dia punya sayap.

“Kenapa?” Aku bertanya setengah jengkel. “Apa apel-apel ini beracun seperti cerita-cerita di Putri Salju?” Tanyaku, mengingat sebentar lagi adalah musim salju. “Tunggu, kalian punya berapa musim disini?” Yang dapat kulihat sejauh mata memandang adalah hamparan hijau-keperakan dari rumput-rumput yang kini sudah bermandikan cahaya bulan—baik bulan ada TIGA. Jadi seluruhnya jika ditambah dua matahari adalah LIMA. Dan kalau-kalau ada yang menambahkan jadi enam, aku bakal pingsan lagi saja.

Sesuatu yang menarikku tadi, anjing hitam—Fei berlari dengan keempat kakinya—setidaknya masih empat, ke arah gadis tersebut dan mengitarinya. “Ginger, anjing pintar—lihat, masalah apa lagi yang kau bawa.” Gadis bersayap yang tadi menungguiku itu menjewer telinga Fei dan anehnya anjing itu malah menunduk seolah menyesal. Entah sejak kapan aku paham bahasa tubuh hewan.

“Jadi namanya Ginger ya?”

“Kau siapa? Dan datang dari mana?” Dia memandangiku dengan mata coklatnya yang tajam.

“S—stephany Hwang. Aku datang dari New York, Amerika Serikat. Tunggu, kalian berbahasa Inggris? Atau Korea.” Aku tidak tahu karena hanya dua bahasa itu yang aku mengerti. Tapi sepertinya mereka tidak menangkap apa yang kukatakan. Tidak—aku salah, lebih tepatnya aku tidak tahu aku berbicara dengan bahasa apa. “Dan jangan memelototiku seperti itu, membuatku takut saja. Kalian ini bukan hantu kan?”

“Bukan.” Dia meletakkan kembali Fei di atas tanah lalu kembali memandangku dengan mata elangnya. “Ratu Diana telah memilihmu Hwang. Jadi—kau akan…”

“Panggil saja aku Stephany—atau Fany. Dan tadi itu apa? Ratu Diana? Memangnya ini kontes kecantikan ya? Atau pemilihan Miss—Em, Miss? Dunia kalian namanya apa?” Aku masih melihat kalau-kalau kelopak lotus itu masih ada di atasku. Syukurlah mahkota terbakar itu sudah hilang.

Bieena. Tapi kami ini berasal dari negara Faylinn.” Dia berkata seolah sudah mengucapkannya selama ribuan kali. Aku bahkan masih memproses kata Bieena dan Faylinn. Tapi aku tahu maknanya apa ‘Fairy Land’ dan ‘Fairy Kingdom

“Jadi Nona Stephany, tolong jelaskan bagaimana kau bisa sampai di sini?” Seorang gadis yang barangkali seusiaku dan bersayap seputih kapas melangkah maju, wajahnya begitu cantik diterpa cahaya tiga rembulan—yang ketiganya sama-sama hampir purnama. Lekuk wajahnya begitu sempurna, rambutnya pirang keemasan, dia mengenakan mahkota daun dafnah layaknya seorang putri raja dan warna mata biru langitnya seperti sambaran petir. Dia tidak sendiri, melainkan ditemani dengan dua anjing yang mungkin saja terbuat dari emas dan perak betulan.

Guk! Guk!

Kedua anjing itu menggonggong berbarengan seolah hendak melahapku bulat-bulat. “Ini Aurum dan Argentum. Mereka dapat membaui kebenaran. Dan mereka sangat benci kebohongan. Jadi, jika kau masih ingin hidup besok pagi, lebih baik kau berkata dengan sejujur-jujurnya Nona Stephany.”

Aku hendak bertanya mana yang Aurum dan mana yang Argentum saat tiba-tiba saja sesuatu terbetik di benakku. Mendadak aku tahu aurum adalah bahasa latin dari emas dan argentum adalah perak. Kontan saja pertanyaanku tadi terdengar sangat bodoh—untung saja aku tidak jadi menanyakannya.

“Jadi?” Gadis itu menghentak-hentakkan kakinya dengan tidak sabar. Membuatku iritasi mendengarnya.

Langsung saja kuceritakan bagaimana aku menemukan Fei—atau Ginger di pekarangan rumah Gorgon dan mengabaikan fakta pingsan di tengah jalan karena mendengar lolongan anjing yang dapat ditebak kedua anjing logam ini akan memekik kegirangan—atau memakanku saat itu juga dan tanpa menyertakan detil jejak kaki bayi. Aurum dan Argentum tampak membaui udara di sekitarku—sebisa mungkin aku bersikap setenang mungkin. Aku merileks saat mereka berhenti menciumi udara dan kembali ke sisi kiri dan kanan gadis-dingin-bersayap itu.

“Baiklah, sepertinya kedua temanku tidak mendeteksi adanya kebohongan.” Aku bernapas lega. Walaupun aku tak sepenuhnya menceritakan kejadian itu, tapi aku juga tidak berbohong—aku hanya menceritakan sebagian dari kebenaran, bukan begitu?

“Jadi, kau punya teman yang jika kau berbohong akan memakanmu?”

Dia tidak menggubrisku dan menyuruh kedua anjing itu kembali ke barisan belakang. Aurum dan Argentum tampak merana seolah baru saja melepaskan sebuah tulang ke dalam kubangan lumpur hidup. Dan sialnya akulah tulang-tulang busuk itu.  Sebenarnya, aku merasa kasihan pada mereka. Sepertinya mereka sudah menunggu selama ribuan tahun untuk seseorang yang membohongi mereka.

“Aku Khione Iceglitter tapi panggil saja aku Jessica. Dan nymph yang merawatmu tadi itu Hazel Minervis atau panggil saja Taeyeon.”

Aku hendak bertanya apa hubungan Khione Iceglitter dengan Jessica dan Hazel Minervis dengan Taeyeon namun—lagi-lagi tiba-tiba saja aku tahu artinya. Khione adalah peri salju dan Minervis adalah peri pelindung. Untuk pertama kalinya aku bersyukur Umma menjejaliku dengan tumpukan buku peri bulukan itu.

“Jadi kalian ini nymphs? Waw, aku tak percaya mereka masih ada. Eh, bukan berarti aku juga percaya jika para nymphs itu nyata loh.” Aku memandangi mereka satu persatu, tak ada yang menatapku dengan senyuman atau cengiran. Wajah mereka semua terlalu datar.

“Jika kau tak percaya jika nymphs itu ada, lalu kau sendiri itu apa non?” Seorang gadis—yang juga bersayap biru keperakan menatapku tegas, wajahnya cantik jelita, dan mungkin sangat berbahaya. Gaunnya yang sewarna sayapnya itu berayun-ayun seirama rambut coklatnya terkena angin.

“A—aku manusia. Apa aku bisa pulang ke duniaku?” Aku bertanya pada Khione—Jessica sepertinya dia punya jabatan tertinggi disini, terlihat dari wajahnya yang anggun—namun berwibawa, ia punya pembawaan untuk dapat menguasai dan memengaruhi. Semua orang-orang bersayap di sini rupanya menghormatinya.

“Kau bukan manusia, kau demi-nymph. Sayang sekali Nona Stephany, Ratu Diana telah memilihmu dan kau tidak dapat kembali sebelum menyelesaikan misimu.” Dia berbalik sebelum menghilang—maksudku benar-benar menghilang menjadi kepulan bintik-bintik putih seperti salju. Kurasa, dia memang peri salju betulan.

“Hey-Hey! Tunggu! demi-nymph itu apa dan misi apa??” Tapi dia tak kembali—dan bodohnya aku berteriak pada bintik-bintik salju.

Oke, mungkin saja aku ini menang ajang kontes Miss Bieena periode tahun ini. Aku bahkan tidak tahu bahwa mereka melakukannya secara berkala atau acak saja.

Tiba-tiba seseorang dengan sayap ungu gelap dan mata berwarna hazel menggandeng dan menuntunku ke tempat yang lebih sepi—menghalau keramaian. Dia tentu saja bernama Hazel—Taeyeon karena Fei—atau Ginger terus mengekor padanya, atau padaku?

Aku bersyukur karena Taeyeon yang menemaniku—kuharap sih dia benar-benar mau menemaniku. Karena cuma dia yang tidak menatapku dengan tatapan masam dan curiga, atau menyeringai tolol, atau memandangku seolah aku adalah barang berbahaya yang akan meledak dalam satu kedipan mata.

Sejak tadi Taeyeon hanya tersenyum bersahabat padaku, seolah dia pernah merasakan hal ini sebelumnya. Aku jadi kagum padanya. Telapak tangannya hangat untuk ukuran seorang nymph pelindung hutan.

Dia takut-takut melirikku. Aku membayangkan dia akan berkata, Wah! Selamat ya kau memenangkan kontes Miss Bieena! Atau, Mahkotamu tadi bagus sekali atau semacamnya.

Namun, apa yang aku harapkan sungguh di luar dugaan. Alih-alih dia malah berkata, “Kau ngiler kalau lagi tidur.”

Aku terkesiap, kontan aku langsung mengusap-usap daguku. Malu? Oke, banget. Boleh aku mati karena malu sekarang juga? Ini sungguh mengerikan, aku duduk bersama seorang gadis cantik yang memandangiku dengan khidmat waktu aku lagi ngiler. Aku langsung merasakan hasrat yang begitu kuat untuk terjun ke jurang dengan kedalaman dua kilo meter dan bersembunyi di dalam sana selamanya.

Taeyeon yang melihat ekspresiku langsung menyela pikiran gilaku. “Eh, enggak masalah kok. Kau pasti kaget banget tiba-tiba muncul di sini begitu saja.” Dia tersenyum lagi.

“Sangat.” Aku menatap lubang kecil di ujung sepatuku seolah lubang itu adalah hal yang paling menarik sedunia—setidaknya lebih menarik daripada ngiler,  “ehm.. Memangnya sayapmu mana?” Aku baru ingat jika tadi dia bersayap dan sekarang wujudnya seolah berubah menjadi manusia normal. Lagi pula, sebisa mungkin aku berusaha keras untuk mengalihkan pembicaraan tentang ngiler yang sama sekali enggak lucu.

“Oh, ini?” Taeyeon berdiri lalu meloncat tinggi dan seketika seluruh badannya di kelilingi sinar ke-unguan, dia melayang dengan sayap yang mengepak-ngepak. Aku mendapati rambutnya tergelung indah dengan kepangan di sekitar kepalanya—mirip orang-orang bangsa Romawi, ia berputar-putar di depanku dengan wajah bangga.

highcut103-2

“Wow… Keren.. Bagaimana kau melakukannya?” Aku begitu terpana melihatnya, dia benar-benar anggun dalam sinar dan sayap ungunya.

“Berkah dari Ratu.” Ia tersenyum simpul sebelum kembali mendarat dan menjadi normal.

“Kau tampak cantik.”

Taeyeon tersipu sebelum membetulkan gaunnya yang sedikit teringsing. “Terima kasih.” Dia sungguh—apa ya? Jika aku disuruh menggunakan satu kata untuk menjabarkannya—memesona.

Kami terdiam selama beberapa saat, aku masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa logikaku yang tertinggal dan melayang entah kemana. Sepertinya efek dari semaput tadi.

“Oh iya, apel-apel emas tadi itu, apa emas betulan?” Aku bertanya dengan kikuk saat kami duduk di samping paviliun megah.

Setelah melihat Aurum dan Argentum tadi, kurasa tidak konyol kalau ada emas yang menggantung di dahan pohon, aku bahkan takkan kaget kalau apel-apel itu sekonyong-konyong mengajakku ngobrol satnite.

“Itu adalah apel-apel keabadian,” kata Taeyeon. “Hadiah dari Jupiter untuk Yang Mulia Ratu Diana.”

“Oh…” Aku hanya mengangguk-angguk saja, aku tak begitu paham apa itu Jupiter. Tapi aku tahu siapa itu Diana.

Aku memandanginya dari kejauhan, kilau emasnya menggodaku seolah berkata ‘Hey Fany, cicipilah aku sedikit saja—maka kau akan hidup bahagia selamanya.’ Aku ingin langsung mendekatinya dan memetik sebuah, jika saja tidak ada Aurum dan Argentum.

Omong-omong aku sudah bilang belum kalau kedua anjing logam itu dapat membakar kota, aku baru-baru ini saja tahu bahwa kedua anjing logam bersaudara itu dapat menyemburkan api. Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan saat aku mengatakan anjing bernapas api. Apapun itu, bayanganmu itu masih kurang menakutkan. Tubuh anjing-anjing ini setebal peluncur roket, berkilat dengan bulu-bulu tajam emas dan perak. Anjing-anjing logam bernapas api sialan.

Tiba-tiba seseorang mendatangi kami. Dia sepertinya seusiaku, barangkali beberapa sentimeter lebih tinggi, dia tampak jauh lebih atletis dengan kulit yang terbakar dan rambut hitam ikal, dia persis sekali dengan gadis khas Asia Timur. Dia memandangku penuh kritik, seolah-olah dia juga melihat dan menimbang-nimbang seberapa banyak aku ngiler.

“Yul!” Taeyeon memekik. Kalau-kalau saja aku tak ingat tingginya yang hanya beberapa inci saja, aku pasti sudah memutuskan dia adalah nymph terkeren yang ada di sini.

“Hey, kalian baik-baik saja?” Gadis yang kuduga bernama Yul itu menyeringai bodoh pada kami.

“Kuharap seperti itu Yul, aku bahkan heran mengapa Putri Jessica tidak membekukan… em…” Taeyeon takut-takut melirik ke arahku. Walaupun malu-malu, tapi tatapan itu mengintimidasiku. Sekagum apapun aku pada sosoknya, aku tak menyukai tatapan Taeyeon. Seolah dia bakal berkata aku akan lebih keren dijadikan es batu untuk kudapan musim panas saja.

“Entahlah, tapi kurasa Putri Jessica masih mempercayainya.”

“Bagus deh kalau gitu.” Cibirku sambil bergumam. Memangnya aku kelihatan seperti pembohong kelas kakap apa? Memangnya tadi tampangku kurang meyakinkan baginya?

Taeyeon menendang-nendang batu kerikil dari tanah, aku tidak tahu kalau ada batu-batu kerikil di sekitar sini sebelumnya. Kukira, paviliun ini berlantai marmer.

“Baik, kurasa kalian baik-baik saja. Aku akan pergi. Taeng, Putri Jessica berpesan padaku untuk membawanya ke paviliun tiga saat makan malam.” kemudian gadis itu menatapku. “Ngomong-ngomong Stephany Hwang, aku Gentle Saturnglow—tapi panggil saja aku Yuri.” Dia berpaling sebelum merapikan baju toganya dan pergi. Tapi, sebelum itu aku sempat melihatnya berkedip pada Taeyeon. Seolah mereka sedang bertukar pemahaman tanpa sepengetahuanku.

Aku bersumpah, baru saja aku melihat wajah Taeyeon berubah warna dan Yuri berjalan sambil cekikikan. Mengerikan sih—tapi mendengar perutku yang bernyanyi seolah merespon kata makan malam aku jadi lebih tertarik tentang menu hidangan mereka.

Aku masih belum tahu apa yang mereka makan selama ini. Selama ribuan tahun lamanya, tapi sepertinya menarik—mungkin saja dengan memakannya aku bakal awet muda—semoga saja.

“Terima kasih sudah menjaga Ginger.” Entah aku sudah bilang atau belum, tapi gadis ini memiliki senyuman yang sangat manis.

“Tentu, kalau bukan karena Ginger aku juga takkan sampai sini.” Kataku tulus, tapi sepertinya Taeyeon salah menginterpretasikannya. Dia menatap renda-renda gaun ungunya dengan air muka penuh penyesalan.

“Maaf…” Dia memandangiku penuh harap. Seolah aku takkan pernah memaafkannya.

“Eh, bukan itu maksudku. Sejujurnya aku senang kok, aku senang bertemu denganmu, dan Yuri dan—em, Putri Jessica walau dia hampir mengubahku jadi penyegar dahaga.” Jika saja keadaannya tak serumit ini, mungkin aku bisa tersenyum lebih tulus padanya—tapi aku mencoba.

“Syukurlah. Kau beruntung, jiwamu pasti kuat sekali. Pilihan Yang Mulia Ratu Diana tak pernah mengecewakan.”

Aku kembali membalasnya dengan senyum hampa. “Kuharap kau benar.”

Aku mengamati beberapa pohon—bunga, mereka seperti punya jiwa, aku bisa merasakannya. Mereka memang tidak bisa berjalan, tapi terkadang cabangnya menari-nari—sungguhan dan bunga-bunga dandelion itu, mereka cekikikan lalu seluruh bulu-bulu halus di sekitar kepalanya terbuyarkan dan beberapa detik kemudian kepalanya kembali ditumbuhi bulu. Kepalaku sakit sekali melihatnya—entah kenapa bayanganku jika manusia dapat membuyarkan rambut mereka seperti itu, pasti sangat—menyeramkan.

Hening beberapa saat sebelum kuputuskan untuk mengajukan beberapa pertanyaan konyol.

“Eh, kalau semua pohon di sini punya mata dan bisa bergerak, lalu kenapa pohon apel-emas itu tidak?”

“Itulah mengapa Putri Jessica mengutus Aurum dan Argentum untuk menjaganya. Sekarang, pohon itu tidak dapat menjaga dirinya sendiri.”

“Sekarang? Jadi dulunya dia bisa jaga diri?” Ini semakin konyol.

“Yeah, dulunya pohon itu punya jiwa dan kini, selain Terra—mahkota Ratu yang hilang, pohon ini pun teracuni.”

“Jadi, mahkota itu punya semacam pelindung yang jika hilang bakal mengeluarkan racun ya?”

Menurutku, mungkin akan lebih keren jika pelindungnya semacam laser peledak atau tembakan kentut.

“Entahlah, yang pasti sejak mahkota Terra itu hilang, semua ekosistem di hutan ini menjadi terganggu. Aku tidak tahu apa koherensi antara Terra dan pohon apel emas ini, barangkali Raja Jupiter sengaja menautkan keduanya. Tapi, yang pasti pohon apel-emas itu adalah jiwa hutan ini, dan jika pohon itu mati—Faylinn takkan terlindungi dan monster-monster akan menyerang dan perlahan-lahan Bieena akan di kuasai oleh Raja Kegelapan Pluto.”

“Tunggu—kalian punya monster?”

“Ya—dan tidak. Kami punya monster yang sudah dijinakkan untuk menjaga Negeri kami seperti Aurum dan Argentum. Tapi banyak di luar sana, monster-monster liar dan pengawal Raja Pluto yang berkeliaran. Dan pohon apel-emas ini adalah pelindung kami.”

Aku menelan ludah, Aurum dan Argentum adalah monster yang sudah dijinakkan. Aku tidak mau berpikir tentang monster-monster nakal yang tak mau nurut.

“Lalu, apa hubunganku dengan semua ini? Aku manusia biasa—dan Ratu kalian telah menyuruhku untuk menjalani sebuah misi—atau apalah.”

“Kau demi-nymph Fany, separuh manusia-separuh nymph. Coba tanyakan pada ibumu—mungkin dia adalah salah satu dari bangsa kami atau naiad. Yang pasti kau itu jelas-jelas demi-nymph.”

“Ba—bagaimana kau bisa tahu?”

“Aku tahu hanya dengan membauimu saja, tapi ada satu hal yang pasti soal manusia biasa-dan kami. Hanya garis keturunan dari sinilah yang dapat memasuki dunia ini dan—kecuali kalau ada manusia yang dikutuk karena telah memanggil dengan ritual kuno Nymph. Jika kau manusia biasa kau takkan pernah bisa melihat dunia kami. Mungkin kau hanya akan melewatinya jika kau tak sengaja berjalan di sampingnya. Tapi kau disini, dan kau terpilih.”

“Aku masih belum tahu mengapa aku ada disini.”

“Kau disini karena sebuah alasan—sesuatu terjadi karena ada hal lain yang akan terjadi. Kau dipilih oleh Ratu Diana untuk menemukan Mahkota Terra itu dan menyelamatkan Negeri kami.”

“Bagaimana jika aku menolak?”

Taeyeon beralih menatapku dalam dengan mata hazelnya, seolah mencoba membaca pikiranku dari tatapan mataku saja. Wajahnya begitu serius sampai-sampai aku tidak tahu apa yang kupikirkan, apa dia benar-benar bisa membacanya.

“Kau takkan pernah bisa keluar dari sini—selamanya.”

Aku menelan ludah, “Baiklah.”

Taeyeon berdiri dengan rikuh selama beberapa menit sebelum mengulurkan tangan untuk membantuku berdiri. “Ayo. Putri Jessica pasti sudah menunggu.”

-TBC-

Ps. Makasi buat yang udah ngeluangin waktu, tenaga, pikiran dan bandwidthnya buat ngomen atau pun ngelike… Saya sangat menghargai itu semua, kecil tapi bermakna 🙂

Gue insyaallah bakal ngeluangin waktu buat balesin komen kalian, meski kudu nyuri-nyuri kesempatan sambil mantengin kerjaan numpuk di kantor. That’s ok.. Anything for you (ceilee)

Ah, kemana cerita ini akan pergi? Que sera sera… Ada yang bisa menebak? Wakakaka…

taengoddess5

Sekali lagi, Que sera, sera

Iklan

63 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 2”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s