Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 3

For those, who make this nonsense possible…

NYMPHS — The Lost Crown 

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Dengan berucap Bismillah, kupersembahkan…. GLOSARIUM *revisi ke 2* [Noted : Ada baiknya jika kalian baca sambil buka ini, biar enggak mumet. Thanks]

III

ACARA MAKAN MALAM TAK BEGITU menyenangkan. Seluruh nymph berkumpul, wujud mereka banyak sekali. Ada yang punya sayap dan berbaju kelopak bunga seperti Taeyeon dan Yuri. Ada pula yang seluruh tubuhnya mengilat seperti sisik ikan dan mengenakan baju dari karang-karang, di ujung barisan ada kumpulan nymph yang dapat berubah tak kasat mata—seperti putri Jessica, tubuh mereka berdenyar dan berwarna-warni seperti pelangi, dan bahkan ada juga yang bersayap seperti elang dengan kaki cakar burung.

Seluruh penghuni hutan keluar dari pepohonan—dan saat aku bilang keluar dari pepohonan, maksudku betulan dari pohon. Sekitar dua ribuan orang—makhluk, berbaris ke halaman umum. Sepertinya mereka berbaris dengan urutan senioritas, tentu saja aku yang paling bontot.

Kami berbaris menaiki bukit menuju paviliun makan. Sekitar seratus nymph sudah berada disana. Mereka tersebar ke dalam empat golongan dan empat tempat yang berbeda sesuai wujud mereka.

Aku melihat satu anak gadis, sekitar enam belas atau tujuh belas tahun, meleleh dari sisi sebatang pohon pinus, lalu berjingkrak-jingkrak menaiki bukit. Kemudian tak jauh dari sana aku juga melihat gadis seumurannya—mungkin sedikit lebih muda, meleleh, tapi kali ini bukan dari pohon, melainkan dari awan. Aku harus mendongak ke atas untuk melihat luncuran indahnya melewati bukit dan mendarat tepat di depanku. Beberapa nymph pohon yang berada di dekatnya harus menyisih dan menyediakan tempat untuknya mendarat. Sambil nyengir, dia melambaikan tangan pada peri pohon-meleleh tadi. Mereka ber-high five sebelum gadis pohon meleleh tadi berjingkat kaget. Aku dapat melihat aliran listrik statis keluar dari ujung-ujung jarinya.

“Yah! Yoona! Kau melakukannya lagi!” Gadis itu terus meniup-niup tangannya yang kurasa sudah memerah, bukankah pohon itu media yang tepat untuk mengalirkan listrik?

“O-ops gak sengaja.” Cengir kegiragannya mirip sekali dengan M.K sang troble-maker sekolah. Mungkin dia juga enggak jauh-jauh amat.

“Hyoyeon, Yoona. Kalian terlambat lagi.” Seorang gadis berjalan dengan anggun ke arah kami, wajahnya serupa bulan dan baju keperakannya pun—seolah menggambarkan dia benar-benar anggun. Dan tak lupa menyebutkan, dia juga sangat cantik. Akan tetapi matanya yang menatapku tajam, menghancurkan bayangan itu. Warnanya abu-abu memukau, seperti awan badai. Indah, tetapi juga menggentarkan, seolah-olah dia sedang menganalisis cara terbaik untuk menaklukkanku dalam pertarungan. Aku bergidik ngeri.

“Seo…” Seorang gadis yang berkilau terang menghampiri kami dan menyentuh pundaknya. Dia sangat terang, sayangnya tubuhnya tidak terlalu tinggi. Bahkan lebih pendek dari Taeyeon.

“M—maaf.” Dia menunduk ke arahku kemudian gadis terang itu dengan penuh penyesalan.

“Kau tidak perlu melakukannya lagi, sekarang kau adalah putri bulan. Kau adalah pengabdi kesayangan Yang Mulia Ratu Diana.” Gadis paling pendek itu menepuk-nepuk pundaknya. Wajahnya begitu bersinar terang hingga aku harus menyipitkan mata untuk melihatnya dengan jelas.

“Maafkan aku Fany, kadang aku suka lepas kendali.” Kali ini matanya berubah—seperti bulan terang yang menenangkan.

“E—eh, tentu saja.” Setelah tadi berurusan dengan Putri Salju—atau Es, aku juga tak mau cari masalah dengan Pengabdi Kesayangan.

“Sepertinya kita kedatangan tamu, mari kita rayakan sambil mengadakan acara perkenalan.” Gadis itu bersemangat sekali untuk ukurannya yang mungil, seolah dia punya barometer spirit di sisi tubuhnya, sehingga setiap kali semangatnya naik satu level, tubuhnya akan bersinar lebih terang.

“Aku Rainbow Windglitter—tapi nama kerenku dipersingkat oleh dia jadi Yoona.” Gadis bernama Yoona itu menunjuk sang Pengabdi Kesayangan.

“Maafkan aku Yoona, tapi nama-nama itu tidak cocok untuk peradaban kita sekarang.”

“Baik-baik, kau sudah mengatakannya pada kami sebanyak ribuan kali.” Kupikir, gadis bernama pelangi itu lucu sekali waktu lagi mencibir.

“Omong-omong, namaku Seohyun—dan nama latinku Nettle Lunatic. Aku adalah peri bulan.”

“Aku Nebulae—peri awan,” Yoona kembali angkat bicara.

“Giliranku!” Gadis pohon meleleh tadi menepis lengan-statis Yoona. “Aku Hyoyeon dan seperti mereka aku punya nama lawas, Hollyhock Goblinglow.” Dia berkata separuh hati dengan nama lawasnya. “Aku Dyrads—peri pohon.” Ia menambahkan.

Kulihat semua berusaha menahan tawa—kecuali Seohyun.

“Aku benci kalian! Terutama kau yang memberiku nama menjijikkan.” Ia menunjuk-nunjuk Seohyun, tapi gadis  itu mengabaikannya.

“Aku Sunny—Briar Lightwand. Aku Hesperides—peri matahari.”

Tiba-tiba suara lonceng berdenting nyaring. Jika saja aku tak segera menutup telinga—mungkin saja aku sudah kehilangan indera pendengaranku.

“MAKAAANN!!” Gadis awan meleleh—Yoona memekik kegirangan sambil meloncat-loncat sebelum lari ke barisan empat.

“Selalu saja.” Seohyun menggeleng sebelum berjalan terlebih dahulu diiringi Sunny di belakangnya.

Hyoyeon berdiri di depanku dan Taeyeon. “Hay Steph. Kuharap kau tidak pingsan setelah ini.” Dia tertawa sebelum menonjok lengan Taeyeon yang meringik kesakitan. Aku hampir saja melupakan keberadaannya. Dia tersenyum padaku seolah hendak mengatakan ‘selamat datang di dunia kami yang separuh orangnya mengidap sakit jiwa.’ Untung saja Taeyeon masih dapat kupertimbangkan satu-satunya nymph terwaras di sini selain Seohyun—yang menurutku terlalu waras.

j-estina-seohyun-1

Beberapa detik kemudian, barisan kami—barisan kedua pun melaju dan duduk di golongan nomor dua. Para nymph yang sudah berjaga di bangku pertama mulai menyambut kami dengan enggan—seolah mengucapkan salam pada orang yang sama dan berulang-ulang selama ribuan tahun lamanya. Aku tak menghiraukan mereka.

Tayeon menarik lenganku dan mengajakku duduk di bangku paling ujung, mungkin di sinilah bangku untuk pendatang baru—aku bersyukur Taeyeon mau menemani demi-nymph sepertiku untuk makan malam.

Aku baru sadar bahwa di sini tidak ada bentuk normal manusia sepertiku. “Hey, apakah disini tak ada makhluk sepertiku? Makhluk separuh-manusia.”

“Ada, tapi sangat jarang. Kau adalah demi-nymph pertama sejak… seratus tahun yang lalu, kurasa.”

“Apa mereka semua mati?”

“Tidak. Ada beberapa yang kembali dari peperangan dan hidup.”

“Tapi mereka semua tidak terlihat normal.

“Memang tidak, setelah menang mereka akan diberkahi keabadian oleh Yang Mulia Ratu Diana dan mereka kembali ke wujud asli mereka.”

“Oh…” Aku hanya diam saja, berusaha mencerna setiap ketidak-warasan semua yang ada disini.

Di paviliun, obor berkobar di sekitar tiang-tiang marmer. Api unggun menyala di tengah-tengah. Semua meja bertaplak putih dengan desain berbeda-beda setiap golongan. Sepertinya disesuaikan dengan wujud mereka. Dari kejauhan, kulihat beberapa dyrad meleleh dalam kursi lalu tak lama kemudian mewujud kembali.

“Kuharap kau tidak melakukan hal-hal mengerikan seperti mereka.”

Taeyeon tertawa. “Tidak. Aku tidak bisa melakukannya.”

“Apa maksudmu tidak bisa?”

Tiba-tiba sebuah piring menginterupsiku. Piring putih berlambang pepohonan tiba-tiba saja muncul di atas meja dan tanpa kusadari ada belasan gadis-gadis remaja berdiri berbaris di depan ruangan. Tubuh mereka transparan seperti udara-namun penuh warna—seperti pelangi.

Tiba-tiba mereka melesak dan beterbangan di sekitar kami—sangat cepat seperti warna-wari cahaya yang berhamburan. Tiba-tiba saja di depan mejaku ada anggur, stroberi dan melon lalu segelas—aku tidak tahu apa namanya, warna minumannya pink. Persis seperti apa yang kuinginkan. Lalu kulirik gelas Taeyeon, dia meminum minuman yang sama, hanya saja warnanya biru.

“Minum saja, enggak beracun kok.” Taeyeon berkata sebelum meminumnya dengan penuh sukacita.

Dengan hati-hati aku mengangkat gelas tersebut lalu perlahan menyesapnya—rasanya sangat enak, kukira itu sari buah ceri atau stroberi, ternyata rasanya seperti kue serpih beraroma stroberi yang sering Umma buatkan untukku—aku jadi sedih mengenangnya. Aku yakin sekali aku barusan meminum minuman hangat, tapi es batunya bahkan tidak mencair.

Aku hampir saja tersedak saat ada hantu pelangi berdiri di depan meja kami dengan celemek berbordir pelangi juga. “Hay Taeyeon, malam ini mau makan apa nih?” Dia tersenyum manis sekali—yang terlihat seperti dibuat-buat, lalu dia mengedipkan sebelah matanya pada Taeyeon dengan gaya menggoda yang menurutku sangat gagal—dan memuakkan.

Taeyeon terlihat canggung berada di dekatnya. “Kau bisa membaca pikiranku Sunye.”

Hantu pelangi bernama Sunye itu tersenyum sebelum kue brownies berlapis es krim vanilla muncul dihadapannya. Wajah Taeyeon sedikit berbinar walaupun dia mendesah.

Kemudian hantu-pelangi-penggoda itu menatapku sinis dan wholla!! Muffin kakao muncul di depanku. Selain fakta bahwa dia bisa memunculkan makanan—aku benci dia. Entah mengapa, tatapannya menyiratkan permusuhan padaku dan aku tidak menyukainya.

“Jangan hiraukan dia.” Taeyeon berbisik padaku sesaat sesudah hantu-pelangi-penggoda itu menghilang. Fakta bahwa aku bahkan tak suka menyebut namanya.

“Hantu itu temanmu ya?”

“Dia itu aurora—peri cahaya, terkadang juga di sebut peri pelangi. Aku membuat kesalahan. Tapi tidak perlu dibahas sekarang.”

Aku bungkam seribu bahasa, kulihat beberapa bayi dan anak-anak remaja nymph bermain-main dengan meja, kursi dan benda-benda lainnya. Ibu-ibu mereka memandangiku dengan penuh harap.

“Hey, kalian bisa punya anak walaupun berhubungan sesama nymph? Dan semua nymphs adalah perempuan. Keren sekali.” Well, bukan berarti sekarang aku tinggal di dunia dengan dua matahari dan tiga bulan, semuanya jadi tidak logis, bukan?

Taeyeon menatapku penuh pertimbangan, “semua ini tidak seperti yang kau pikirkan Fany, kami—bangsa nymphs adalah makhluk gaib yang tidak memiliki jenis kelamin, dalam mitologi-mitologi kuno disebutkan bahwa kami menempati surga Elysium. Bisa dibayangkan kami itu memiliki wujud lelaki namun berwajah seperti perempuan.”

“KAU PASTI BERCANDA!” Ini semakin gila. Aku tidak mau menjelaskan tentang semua proses pengawinan atau pengebirian dengan segala seluk beluk alat reproduksinya yang sudah di ajarkan di kelas, semisal sperma atau dua ovarium yang ternyata dapat menghasilkan anak—walaupun aku tak pernah sepenuhnya mendengarkan namun aku tahu ini tidak waras.

Aku menunggu Taeyeon berkata, April Mob!—dengan fakta bahwa ini awal bulan Desember dan sudah benar-benar kelewat atau hey! Bisa jadi mereka merayakannya di bulan Desember? Desember mob? Atau mungkin saja mereka punya sistem kalender yang berbeda dengan manusia biasa?

Tapi Taeyeon justru mendelik, aku mendapat firasat bahwa semua mata kini tertuju padaku. Mengingat aku tak pernah andal dalam mengontrol volume suaraku. Jadi, takut-takut aku berbisik padanya. “Kau bercanda kan?”

Keseriusan tergambar di wajahnya, “apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” matanya menatapku tajam—dan penuh pesona seakan hendak berkata bahwa apa yang dia ucapkan tadi benar-benar terjadi padanya.

Aku menunduk lesu, semua ini menguras pikiran dan tenagaku. Sungguh tidak waras dan membuat kesal, “lalu, bagaimana kalian bisa punya anak?”

“Kami tidak melahirkan seperti manusia biasa—bayi-bayi kami akan lahir dari kelopak bunga lotus, seperti kau tadi.”

“Hey! Jadi tadi aku melahirkan sebuah bayi mahkota gitu?”

“Tidak—bukan! Itu pertanda dari Ratu Diana.” Taeyeon mulai panik.

“Pertanda bahwa aku akan mati sebentar lagi?” Aku tahu dari buku-buku dongeng bahwa misi dari Ratu Diana tak pernah mudah, banyak rintangan yang menunggu untuk kuhadapi.

Dia tidak menjawab pertanyaanku, tapi dari raut wajahnya yang berkabut—sungguh, aku tahu dia merasa bersalah. Aku tidak ingin membuat satu-satunya temanku bersedih.

Kami hendak melanjutkan makan ketika Putri Jessica berdiri dan semua nymph menghentikan segala bentuk aktivitas konyol mereka lalu memandang sang Putri dengan hati-hati. Barulah saat itu kusadari betapa memesonanya Putri Khione—Jessica itu. Dia mampu menarik perhatian semua orang dengan suaranya.

Sedetik kemudian Seohyun—atau mungkin mulai sekarang harus kusebut Putri Seohyun, berdiri di sampingnya dengan anggun. Sambil berkomat-kamit, dia melemparkan sesuatu—yang kupikir daging asap, ke dalam perapian. Kontan, bau seperti minuman cokelat panas dan brownie yang baru dibakar menguar di seluruh paviliun, dan aroma bunga-bunga liar segar. Baunya begitu serasi jika dipadukan, seperti seratus hal menyenangkan yang dicampur-adukkan. Aku hampir-hampir saja percaya bahwa Seohyun melemparkan semacam ramuan jampi-jampi pembuat orang tertidur selama se-abad.

Aku menyikut lengan Taeyeon yang duduk di sampingku dengan khidmat.“Tadi itu apa?”

Dia mengisyaratkanku untuk tak berbicara terlalu keras. “Sesajen untuk ritual penyambutan.”

“Memangnya ada berapa ritual sih disini?”

Taeyeon tak menjawab—dia ketakutan tapi matanya menatap lurus ke depan. Barulah aku menyadari, Putri Es—Jessica sedang menatapku dengan tajam. Seolah menimbang-nimbang seberapa baguskah aku jika dijadikan koleksi patung es-nya.

Aku langsung tutup mulut. Kulihat semua nymph berdiri saat Seohyun mengangkat tangan. Aku pun ikut berdiri. Sunny duduk di barisan paling depan. Ia tampak begitu tenang dengan barometer cahaya normal.

Jessica menghela napas panjang sebelum berbicara. “Aku harus mengucap salam pada kalian ya? Ya. Salam. Pengarah kegiatan kita, Seohyun, akan mengatakan sesuatu hal penting masalah penyambutan atau apa.”

Tak ada yang bertepuk tangan, atau pun bersorak. Semua tampak gelisah, sebagian lagi curiga, pesimis sebagian lagi menatapku penuh damba—seolah sudah menungguku selama ribuan tahun lamanya.

“Secara pribadi,” Jessica melanjutkan—aku malas kalau harus menambahkan putri di depan namanya. “Aku tidak peduli, tetapi selamat datang Sheyani Hwang.” Dia benar-benar terdengar seperti nenekku. Kemudian Seohyun membisikkan sesuatu. “Eh, Stephany Hwang.” Dia membetulkan. “Betul. Hore, dan seterusnya. Sekarang lanjutkan makan malam kalian lalu para senator akan mengadakan rapat senat. Diharapkan para praetor dan konselor hadir tepat waktu—atau kalau tidak, akan kuubah kalian jadi es.” Dia mengatakan kata-kata terakhir dengan penuh penekanan—dan peringatan serius. Aku tidak percaya jika dia mengucapkan kata diharapkan alih-alih diwajibkan. Sejenak, suhu udara menurun sepersekian derajat, bahkan api unggun di tengah-tengah paviliun pun turun beberapa inci.

Jessica mengayunkan tangan di depan wajahnya kemudian menghilang dan menyisakan butiran salju di lantai marmer paviliun sebelum dilelehkan api unggun.

Seohyun mendesah sebelum melanjutkan sambil tersenyum ramah pada para nymph dan terakhir padaku. “Baik, akan kulanjutkan. Mewakili Yang Mulia Ratu Diana, aku mengucapkan selamat datang padamu Stephany Hwang, kau adalah demi-nymph pertama sejak sembilan puluh dua tahun enam bulan tiga minggu yang lalu.” Cara Seohyun mengatakannya seolah-olah dia sedang membaca buku—entah memang sudah terpasang di dalam otaknya—atau hey! Mungkin saja di sini ada semacam aplikasi otak untuk menghapal sesuatu, siapa tahu? Kalau memang ada, kupastikan aku bakal minta Seohyun. Sepertinya keren.

Padahal tadinya aku hendak memprotes perihal mengapa beliau tidak menyampaikan salamnya padaku secara pribadi, lagi pula dia kan yang sudah membawaku kemari, mengapa dia tidak menemuiku langsung dan menjelaskan padaku perihal misi bodoh yang harus kujalani. Namun, sodokan di sikutku hampir membuyarkan bayanganku. Taeyeon mendelik padaku sebelum bergumam, “Berlutut!”

Dapat kurasakan perhatian seluruh nymph di paviliun tertuju padaku. Dengan enggan aku berlutut—tak sepenuhnya tapi lumayan. “Terima kasih Putri Seohyun.”

“Menyambung atas apa yang disampaikan Putri Jessica sebelumnya, rapat penting senator ini akan dipimpin langsung oleh Putri Jessica, Putri Sunny dan saya sendiri. Karena ini rapat yang sangat penting, maka para anggota diharapkan hadir sebelum jam delapan.” Kemudian dia memandangku lagi, seolah berusaha menenangkanku. “Terutama kau Stephany Hwang—Hemlock Rainbowspider.” Seohyun tersenyum, sebelum kembali ke mejanya dia berkata. “Selamat menikmati hidangan kalian.”

“Apaan tuh?  Hemlock Rainbowspider?” Aku bertanya pada Taeyeon setelah semua nymph kembali duduk dan memakan makanan mereka.

“Nama lawasmu.”

“Aku baru disini, mengapa aku punya nama lawas? Memang artinya apa?”

“Entahlah, hanya Seohyun yang tahu.” Taeyeon melirikku sekilas sebelum menekuni makanannya.

Aku berusaha untuk tak memikirkannya—membuat sakit kepala saja, terserah mereka mau memanggilku apa saja, aku tak peduli. Aku menikmati muffin stroberi dan minuman pinkku sambil melihat nymph-nymph awan yang sedang berebut makanan—padahal mereka sudah mendapat apa yang mereka inginkan. Lalu para dyradsnymph pohon menyatu pada meja atau kursi sambil membawa makanan mereka ke dalamnya. Mungkin makan di dalam meja atau kursi akan lebih nyaman dari pada dikelilingi makhluk-makhluk aneh sakit jiwa yang bisa berubah jadi furniture.

Acara makan malam itu diakhri dengan kegiatan nyanyi bersama. Putri Seohyun memandu kami semua menuju amfiteater—yang juga punya api unggun di dalamnya. Para naiads dan hesperides memimpin acara penyambutan ini. Kami menyanyikan lagu-lagu tentang para nymph. Entah mengapa musik itu tak terasa begitu indah bagiku, yang menurutku lebih terdengar mirip lagu untuk pemakaman. Beberapa remaja dan anak kecil tampak antusias, Yoona, Hyoyeon, Sunny dan nymph satu lagi—aku tak tahu namanya, dia tinggi sekali dan punya kulit mirip sisik ikan dan berbaju kerang bercampur mutiara—tapi dia cantik dapat kutebak bahwa dia golongan naiads. Namun, sebagian besar nymphs yang kira-kira seusiaku—setidaknya dapat kukatakan dari wajahnya, tampak was-was dan khawatir, seolah-olah sesuatu yang besar akan segera terjadi.

Taeyeon menarik lenganku saat bunga api unggun berputar-putar naik ke langit berbintang, lonceng itu berdenting lagi. “Ayo! Kuantar kau.”

“Antar?” Aku tidak terlalu suka cara dia mengatakan itu, aku punya firasat dia enggak bakal menemaniku dalam rapat senat mengerikan itu.

“Yeah.” Wajahnya terlihat agak muram, sepertinya tengaraku benar. “A—aku bukan konselor, praetor apalagi senator.” Dia terseyum padaku sekali, seolah dengan itu dia meyakinkan bahwa aku akan baik-baik saja di sana. “Kau pasti aman dengan mereka.”

Aku mengingat Putri Jessica yang hampir mengubahku jadi patung es. “Yeah, aman.” Aku sengaja mencibir keras-keras.

“Ayo Fany! Kau harus menghadiri rapat senat di bukit Carling dan biarkan para senator Titania menentukan nasib misimu.”

“Nasib kelangsungan hidupku, atau nasib kematianku sebentar lagi.” Koreksiku sambil bergumam.

Taeyeon kembali tersenyum kemudian menggenggam tanganku, “hey, ini tidak terlalu buruk.”

“Yeah, tidak terlalu buruk.” Kami berjalan sambil bergandengan tangan menaiki bukit. Semua nymph—yang tidak ikut rapat mulai berbaris pulang ke daerah masing-masing.

Atau bisa jadi sangat buruk, pikirku.

-TBC-

Ps. WOAH! Great.. Hihihi…

Makasi komennya, like-nya, vote-nya..

Makasi ‘hidangan’ penyemangatnya buat author 🙂

Jika ada kekurangan, mohon maaf dan jangan lupa diingatkan yaa.. Xie-Xie ^^

Happy Birthday Maknae ^^
Happy Birthday Maknae ^^
Iklan

43 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 3”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s