Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 4 [Re-Post]

Ps.

Sori bagi yang mengalami masalah [konten tidak ditemukan] semoga ini menjadi jawaban atas kegelisahan kalian. Jujur, saya juga gak tau kenapa. Hahaha… yoweslah, pokoknya yang gak bisa buka di postingan sebelumnya, semoga (emergency version) ini bisa jadi penggantinya. Kalo masi gak bisa juga, yok mari kita bakar rame-rame =,=”

NYMPHS — The Lost Crown 

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

IV

AMFITEATER UNTUK RAPAT SENAT MEGAH sekali. Lebih besar dari yang kami gunakan untuk bernyanyi api unggun. Bentuknya lonjong memanjang alih-alih bulat sempurna. Dengan lantai pualam yang sepertinya baru saja dipel, tampak begitu memikat. Atapnya biru langit yang cerah sekali seolah benar-benar tak ada atap di atasnya. Tempat duduk yang bertingkat-tingkat dengan warna karpet berbeda di setiap barisan, dimulai dari merah dengan barisan depan, dan abu-abu pada barisan paling belakang.

Ini akan menjadi rapat pertamaku yang paling mengesankan seandainya saja Taeyeon tidak meninggalkanku di depan pintu gerbang amfiteater. Para penjaga perbatasan tidak mengizinkannya masuk walaupun mereka sudah kurayu beberapa kali. Aku merasa tidak nyaman kalau tidak ada Taeyeon. Dia yang menjaga dan menyuapiku tak peduli seberapa banyak ilerku waktu semaput tadi. Jadi, kuputuskan dia adalah sahabat terbaik pertamaku di dunia ini—dunia yang baru-baru ini kutempati maksudnya.

Di tengah-tengah ruang rapat, ada tiga kursi megah dengan mimbar yang terbuat dari emas berhiaskan berlian dan mutiara diselingi batu-batu mulia di pinggir-pinggirnya. Setiap kursi memiliki warna dan aura yang berbeda. Aku melihat Seohyun dan Sunny duduk dengan anggun di antara kursi kosong di tengah-tengah mereka. Mengapa kursi itu kosong, aku juga tidak tahu.

Sepertinya semua peserta rapat dibagi menjadi beberapa golongan. Anggota pertama—yang dengar-dengar berpangkat dewan senator mengenakan baju toga berwarna merah, kemudian di belakangnya para praetor berwarna karpet dan toga hijau lalu konselor dengan biru dan seterusnya. Ide buruk namun lebih aman, aku memutuskan duduk di barisan abu-abu paling bontot. Mungkin saja tempat duduk juga diatur berdasarkan senioritas.

“Baiklah, mari kita mulai saja rapat senat ini.” Putri Jessica tiba-tiba saja muncul dengan posisi duduk yang anggun—seperti putri raja, di antara Seohyun dan Sunny. Untung saja aku tidak terkena serangan jantung mendadak karena Aurum dan Argentum juga muncul begitu saja di samping kursi Sunny dan Seohyun. Barangkali Jessica akan menggunakan mereka untuk membakar gedung rapat senat atau karena kasihan, Jessica menunggu sukarelawan yang mau berbohong—atau terlambat untuk dilahap oleh kedua anjing logam bernapas api itu. Perpaduan yang unik menurutku, putri es bermain dengan anjing bernapas api yang mungkin saja bisa melelehkannya.

Tapi aku tidak peduli, kembali ke rapat.

Semua anggota rapat mengangguk dengan wajah serius. Kontan saja aku merasa begitu kesepian, tidak ada yang duduk di barisan abu-abu. Walaupun begitu, dari tadi aku merasa ada yang mengawasi—walau mungkin hanya perasaanku saja.

Putri Seohyun segera membuka acara. “Pertama-tama, perihal kedatangan demi-nymph pertama sejak sembilan puluh dua tahun enam bulan tiga minggu yang lalu. Dengan tengara yang diberikan oleh Yang Mulia Ratu Diana. Sekarang semua sudah jelas.”

Kemudian para anggota senat berbisik-bisik yang dapat kuasumsikan berbunyi:

“Mustahil! terakhir kali Yang Mulia Memberikan tengaranya hampir seratus tahun yang lalu.”

“Mungkin dia pencurinya.”

“Graceus.”

Tapi aku terlalu tegang untuk peduli.

“Seperti yang sudah dikatakan dalam ramalan buku Sibylline halaman sembilan puluh yang berbunyi:

Keturunan manusia akan hancurkan kekaisaran,

Tanda kekuasaan raib dicuri,

Sembilan akan satukan kekuatan,

Seorang akan temukan yang hilang dan mengembalikannya dengan selamat,

Dia akan dikhianati oleh orang yang disebut teman,

Dan pada akhirnya—“

“Ramalan itu tidak lengkap.” Seohyun menarik napas sejenak. “Karena tengara sudah dikirimkan, kita harus segera membentuk sembilan nymph untuk mencari Mahkota Terra, termasuk anggota baru kita Stephany Hwang.”

Kali ini Sunny berdiri. “Kita di sini tidak akan melakukan voting karena seperti yang kita tahu, tujuh anggota sudah dibentuk.” Sunny tersenyum padaku sebelum melanjutkan. “Misi ini sendiri akan di pimpin oleh Stephany, dan kedelapan nymph lainnya: Putri Jessica dan protegturnya Yuri, Putri Seohyun sebagai Pengabdi Yang Mulia Ratu Diana, Aku pribadi sudah diutus oleh Yang Mulia jauh-jauh hari, lalu ketiganya sudah kami tentukan: Hyoyeon sebagai penyembuh terbaik, Yoona sang peluncur, Sooyoung penombak jitu dan terakhir—“

“Taeyeon!” Teriakku yang mungkin saja sudah setengah gila-setengah lelah dengan semua ini. Setidaknya dengan keberadaan Taeyeon mungkin dapat membuatku merasa sedikit lebih baik. Terlebih aku harus bersama-sama putri Jessica dan kemungkinan mati—itu lebih buruk.

Seohyun mengangkat sebelah alisnya, “ya Stephany?”

“Maksudku. Orang terakhir itu harus Taeyeon.”

“Tapi tidak bisa!” Salah seorang senator menginterupsi dengan wajah berapi-api—sungguh, saat aku bilang berapi-api, benar-benar ada api betulan yang berdenyar di kepalanya.

“Apa kau yakin?” Jessica kemudian menatapku ragu-ragu.

“Kau bilang ini misiku, misi yang aku pimpin kan? Aku tidak peduli dengan yang lainnya—aku juga tidak berniat mengganggu adat-adat kalian, tapi aku mohon biarkan aku memilih satu anggotaku—setidaknya Taeyeon.”

Seorang preator memandangiku dengan tatapan menuduh kemudian beralih pada seluruh anggota. “Kalian tidak dengar ramalan tadi? Keturunan manusia akan hancurkan kekaisaran!”

“Aku tidak berniat menghancurkan negeri kalian! Aku akan membantu mencari mahkotanya! Hanya saja izinkan Taeyeon mengikuti misi ini.”

Aku masih ingat betapa Taeyeon mendamba saat menginterogasiku tadi seolah-olah dia bakal bilang ‘aku juga ingin menemukan mahkota itu’.

“Dia hanya nymph biasa—setidaknya. Dia bukan praetor atau pun konselor!” Seorang praetor menatapku tajam dengan satu alis terangkat.

“Aku tidak peduli! Ini misiku dan aku berhak menentukan nasibku!”

Aku berbalik dan berlari menuruni kursi-kursi bertingkat kemudian melaju melewati pintu perbatasan. Kutarik Taeyeon dari balik pohon ek. Aku tahu dia sudah berada di sana sejak rapat dimulai—dan dia mengawasiku sedari tadi. Dia tampak gugup dan takut saat kubawa masuk ke dalam ruang senat.

AbsurdusDemi-nymph baru itu bahkan tidak tahu cara bertarung.” Seorang peri-hantu aurora—yang tidak ingin kusebutkan namanya, berdiri sambil mengangkat tangan tinggi-tinggi.

“Mungkin belum.” Seohyun memberi tatapan mematikan pada peri itu, dapat kulihat kekesalan dari raut wajahnya.

“Bagaimana kalau dia gagal?” peri aurora itu kini memandangku ragu, tatapannya bak merendahkan.

“Mari berharap dia akan selamat.” Aku benci cara Sunny mengucapkan hal itu, seolah-olah aku takkan hidup lama-lama.

“Sebuah misi setidaknya harus—.”

“Sunye!” Jessica yang sedari tadi menjadi penonton argumen konyol ini tiba-tiba saja menginterupsi. “Hentikan! Ini sudah ditentukan dan kau tak bisa berbuat apa-apa!” Tatapannya menyiratkan Berhenti berbicara atau kubekukan kau!

Gadis-hantu-penggoda itu bergumam seolah-olah hendak berkata. ‘Seharusnya aku yang memimpin misi itu bersama Taeyeon.’

Aku masih belum mengerti apa gunanya rapat senat ini jika semuanya sudah ditentukan.

“Di mana aku harus mencarinya?” Aku melangkah dengan penuh percaya diri, aku juga tak menyadari suaraku terdengar begitu tegas dan penuh tekanan, berbeda dengan beberapa menit yang lalu.

“Menurut legenda dan tengara-tengara yang sudah pernah diberikan. Kita harus mencarinya ke Selatan. Tempat kediaman Raja Kegelapan Pluto.” Seohyun berkata dengan tenang.

“Waktu kalian tidak banyak.” Seorang konselor dari barisan kiri memandangiku dengan iba.

“Jadi? Tunggu apa lagi?”

“Kau tidak tahu apa yang bakal kau hadapi Stephany!” Taeyeon berbicara dengan suara yang menurutku lebih terdengar getir dari pada memperingatkan.

“Memangnya apa?”

“Monster-monster.. Dan kau… Dan kau… Mungkin takkan pulang hidup-hidup.”

Aku tak berpikir sejauh ini, kupikir semua yang kuperlukan hanya menyelesaikan misi ini dan secepatnya keluar dari dunia bodoh ini.

“Kau akan mati.” Sunye bak menabur garam di atas lukaku plus dengan cengiran kemenangan di wajahnya.

“Oh..” Pundakku langsung limpung.

Kemudian Hyoyeon berdiri dan mengangkat tangan. “Mati? kenapa tidak? Aku bisa menyembuhkan!”

“Tapi kau tak bisa menghidupkan orang mati, Hyo!”

“Itu masih jauh lebih berguna dari pada gas kentut baumu itu Nic!”

Aku tidak tahu siapa yang berbicara, aku tidak memperhatikannya, yang kupikirkan hanyalah kenyataan bahwa aku bakal mati. Akan lebih baik lagi kalau kupersiapkan peti matiku sendiri.

“Diam!” Putri Jessica kembali angkat bicara. “Senator harus bersikap bijaksana. Kita harus menghormati pilihan Stephany dan kita harus percaya bahwa kita dapat menemukan Mahkota Terra Yang Mulia Ratu Diana yang hilang.” Aku masih setengah tak percaya Jessica mengatakan hal itu.

Seohyun menatapku dengan penuh harap—atau setidaknya Taeyeon. “Apa kau sudah punya rencana?”

Aku ingin sekali melangkah maju dengan gagah dan berkata. ‘Tidak, aku tidak punya!’ Baik, itulah yang sebenarnya, tapi melihat semua wajah khawatir dan gelisah dari para anggota senat, aku pun mengurungkan ide brilianku barusan. “Kita bisa menemukannya di perjalanan sambil berpikir, mungkin kalian juga dapat mengajariku cara bertarung.”

“Sudah kuduga.” Desah Seohyun. “Sekarang, istirahatlah. Besok, kita akan berisap-siap.” Seohyun memandangku sebentar kemudian kembali pada para anggota rapat senat. “Kita akan berangkat pagi-pagi setelah sarapan.” Kemudian ia menatap satu nymphdyrad dan naiad di barisan depan. “Aku harap kalian dapat menyiapkan segalanya sebelum matahari terbit. Aku butuh segala perlengkapan yang diperlukan dalam sebuah misi, dan kau.” Ia menunjuk salah satu naiad. “Kami butuh kapal, siapkan di pelabuhan Anthemusa. Kita akan menempuh jalur darat sebisa mungkin, hingga sampai di ujung dermaga dan berlayar menggunakan kapal.”

Aku mengangguk-angguk saja. Taeyeon tampak tidak terkejut dengan semua ini, dia justru tampak mengkhawatirkanku.

“Sekarang. Bubar! Aku butuh istirahat! Kutunggu kalian di ruang principa.” Putri Jessica berkata padaku dan Taeyeon sebelum menghilang dan dengan itu rapat senat malam ini secara resmi diakhiri.

“Apa itu normal?” Aku bertanya pada Taeyeon setelah semua anggota rapat senat membubarkan diri mereka.

“Apanya?”

“Jessica—Maksudku Putri Khione, apa dia memang suka tiba-tiba menghilang seperti itu?”

“Nggak, sekarang dia agak santai, kurasa. Biasanya lebih buruk. Kadang dia bisa sangat tidak terduga dan tiba-tiba membekukan sesuatu—nymph yang mengganggunya. Jadi, kuharap selama misi, kalau bisa jauh-jauhlah darinya. Jika kau masih ingin bernapas di udara, bukan es.” Dia mencoba menghiburku.

“Kalian punya putri yang aneh.” Gumamku yang sepertinya tidak digubris oleh Taeyeon.

Aku berhasil menelan ludahku yang tercekat, seorang pembuat patung es berkelainan kepribadian implusif. Kedengarannya tidak terlalu buruk—atau justru sebaliknya. Entahlah, aku tidak bisa memutuskan lebih memilih mati dilahap monster atau di tangan Jessica saja.

“Eh, tadi Jes—Putri Jessica bilang apa? Tiba-tiba aku teringat sesuatu yang barangkali saja penting, mengingat yang berbicara adalah orang yang hampir menjadikanku kudapan siang hari.

“Memangnya apa?”

“Sesuatu tentang prinsip—atau apalah.”

“Oh, kau benar! Kita ditunggu di ruang principa. Dan aku bertaruh kau tidak akan suka terlambat di tempat ini.”

“Terlebih di depan Jessica.” Tambahku sebelum Taeyeon mengajakku berlari menuruni bukit menuju paviliun megah di tengah ke-delapan paviliun-paviliun di bawah bukit.

“Jadi ini ruang principa?” Yang kulihat adalah sebuah gedung megah yang terbuat dari marmer yang paling mengilat diterpa sinar tiga rembulan, ini sih lebih terlihat seperti gedung pertunjukan sepak bola dibanding sebuah ruangan.

“Yeah, markas besar para pemimpin. Putri dan Ratu tinggal disini.” Taeyeon meletakkan tangannya di pundakku, seketika tubuhku merileks.

“Jangan melongo begitu.” Cekikikannya mirip saat dia bilang aku ngiler waktu pingsan. Jadi, sebelum terlambat ada baiknya aku mengusap-usap daguku saja siapa tahu ada iler-iler nakal yang iseng-iseng meluncur keluar tanpa sepengetahuanku. Namun, Taeyeon justru tertawa lebih keras.

“Apa?” Aku menatapnya curiga jangan-jangan aku benar-benar ngiler lagi.

“Tidak.” Taeyeon menggigit lidahnya yang tampak seperti sedang berusaha keras untuk menahan tawa.

Barangkali itu karena fakta bahwa kami sudah sangat letih dan emosi kami terkuras, tapi aku mulai tertawa bersama Taeyeon, mencoba mengingat hal-hal lucu selagi kami bisa—seperti ngiler waktu pingsan.

Setelah aku puas tertawa dan perlahan sesuatu terlintas di benakku.“Ratu juga ada di dalam?”

Senyum pun memudar dari wajahnya, namun ia masih berusaha untuk tak tampak cemberut. “Tidak. Beliau sedang berburu.”

“Kalian punya ratu yang suka berburu?” Aku bertanya-tanya Ratu dari kerajaan mana yang kerjaannya berburu dan cari mati?

“Beliau, Yang Mulia Ratu Diana adalah Dewi Perburuan, jadi. Yeah. Dan beliau sangat membenci laki-laki.”

Nah, aku baru ingat kalau aku tidak menemukan satu laki-laki pun disini. Tidak begitu konyol, ratu mereka benci laki-laki dan dia menciptakan segala bentuk kehidupan di suatu kerajaan konyol yang di mana seluruh penghuninya berbentuk perempuan, walau kadang ada yang berjiwa laki-laki.

Taeyeon membawaku melewati perbatasan, seperti sebelumnya perbatasan dijaga ketat dan kami harus menunggu sekitar lima belas menit untuk pemeriksaan. Salah satu penjaga tampak memandang rendah ke arahku, saat aku hendak menghampirinya kontan Taeyeon langsung saja menyeretku masuk ke dalam gedung principa.

Di dalam, kami langsung di sambut oleh beberapa nymph baik nebulae atau dyrad, semuanya berpakaian toga emas rapi. Beberapa naiad tampak kesulitan melangkah dengan toga-toga itu. Sesekali mereka mengangkat tangan untuk menjaga agar jubah itu tidak melorot dari pundaknya. Aku bersyukur tidak harus memakainya—setidaknya sekarang.

“Apa mereka bisa bergerak dengan benda itu?” Aku bertanya-tanya. Saat seorang nymph memandu kami melewati jalan berlantai batu—yang sepertinya safir biru terang.

Taeyeon mengangkat bahu, “mereka hanya memakainya saat acara-acara formal dan di tempat-tempat formal saja. Mirip dengan jas.” Jawab Taeyeon.

“Yeah, aku benci pakaian kedodoran ini. Sayapku tidak berfungsi. Aku suka gaun anggrekku yang berkilau.”Dyrad itu mengangkat ujung samping toganya, memamerkan gaun ungu yang berdenyar keemasan.

Aku ingin sekali beli gaun yang seperti itu, bayangkan betapa kerennya diriku dalam balutan gaun kelopak bunga yang dapat berdenyar atau glow-in-the-dark-dress.

“Kalian tidak membawa senjata kan?” Gadis itu melirik Taeyeon kemudian padaku sebelum memencet kode-kode di dinding dan seketika sebuah pintu logam terbuka dengan pola zig-zag.

“Kami tak punya senjata.” Taeyeon menjawab dengan nada datar.

“Bagus deh.” Katanya tak berusaha menginterogasi kami lebih lanjut.

Aku menatap peri itu sebelum bertanya, “memangnya kenapa kalau kita bawa senjata?”

“Em.. Biasanya akan ada hal-hal buruk yang terjadi.” Ia melirikku sekilas lalu kembali fokus ke jalannya. “Eh, aku mendukungmu loh Stephany. Kau hebat waktu senat tadi.” Dia memberiku sebuah wink manis khas peri hutan—walaupun menurutku lebih mirip seperti kedipan pohon pinus.

“Eh, memangnya tadi kau lihat?” Tanyaku.

“Tuh.” Dia menunjuk sebuah benda bundar tipis seperti cermin yang lebarnya hampir tiga meter. Peri itu menjentikkan jarinya seketika muncullah gambar dimana rapat senat digelar.

“Keren! Apa itu seperti plasma TV?” Aku memekik girang.

“Apa itu plasma TV?” Peri itu menatapku heran dengan warna mata berubah-ubah yang tak dapat kusebutkan warnanya, sebentar biru, kemudian hijau, abu-abu—membingungkan.

Aku memutar otak sebelum menjawabnya, “em.. Televisi. Kalian pasang dimana CCTVnya?”

“CCTV? Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Stephany, jangan samakan teknologi di Bumi dan di Bieena.” Taeyeon menyela pembicaraan bodoh kami mengenai televisi.

“Kami punya teknologi yang jauh lebih maju dan ramah lingkungan.” Seohyun tiba-tiba saja muncul di depanku. “Silahkan duduk. Kami semua sudah menunggu kalian.”

“Cepat sekali.” Gumamku.

“Kalian terlambat—lima belas detik.” Jessica duduk di depan sebuah kursi di tengah-tengah ruangan.

Aku menatap ruangan itu terkagum-kagum. Arsitektur bergaya Romawinya tak jauh berbeda dari yang sebelum-sebelumnya pernah kulihat. Jelas aku sudah pernah melihat yang seperti ini dalam acara-acara yang ditayangkan di televisi, namun aku tak menyangka kenyataannya akan jauh lebih indah.

“Baik, mari kita bicarakan soal misi besok.” Seohyun mempersilahkan kami duduk di kursi sebelah kiri. Komposisi meja dan kursi sepertinya memang sudah diatur sedemikian rupa. Membentuk angka dua Romawi dengan tiga meja plus kursi sebagai layar di atasnya (II tapi lebih mirip ㅠ atau huruf U terbalik). Di sayap bagian kanan sudah berdiri Yuri, Yoona dan satu gadis tinggi yang tak kuketahui namanya namun tadi aku sempat melihatnya bersama Sunny saat acara penyambutan api unggun sambil bernyanyi. Kemudian di sisi kanan ada Hyoyeon yang menyeringai seolah sudah menunggu kami bertahun-tahun lamanya.

“Kenapa tidak dibicarakan saat rapat tadi saja?” Aku mengambil tempat duduk di samping Hyoyeon.

“Kita hanya memberitahukan semua orang tentang misi yang akan kita jalani Stephany Hwang—bukan membocorkan soal misi kita.” Ujar Jessica.

“Jadi misi kita tidak boleh ketahuan orang lain?” tanyaku yang terdengar bodoh seperti biasanya.

Jessica melirik Seohyun di sampingnya. “Bagaimana cara orang-orang di Bumi jaman sekarang mengucapkannya Lun? Plis deh?

Seohyun hanya mengangguk datar.

“Baik, Plis deh Stephany Hwang. Ya iyalah. Kau tidak dengar bunyi ramalannya seperti apa?” Jessica menatapku seolah-olah aku agak aneh.

Keturunan manusia akan hancurkan kekaisaran, Tanda kekuasaan raib dicuri, Sembilan akan satukan kekuatan, Seorang akan temukan yang hilang dan mengembalikannya dengan selamat, Dia akan dikhianati oleh orang yang disebut teman,” Taeyeon menyela.

“Yeah, tentu saja kau tahu.” Jawab gadis nimfa naiad bertubuh tinggi yang tak kuketahui namanya.

“Ramalan itu belum lengkap.” Seohyun mengusap-usap dagu dengan telunjuk dan jempolnya dengan raut menggelap seperti rembulan yang ditutupi awan, wajahnya seolah-olah menyiratkan dialah penyebab ketidak-lengkapannya ramalan tolol itu. Kurasa dia memang seorang pemikir maniak yang andal—meski menurutku agak-agak ekstrim.

“Yeah, kau benar..” Jawabku.“Mungkin Taeyeon lupa bagian ini: ‘Dan pada akhirnya—‘” Kataku sarkastis, mencoba untuk tidak terlihat terlalu bodoh.

“Bukan itu—setelahnya. Buku Ramalan Sybilline yang kutemukan di perpustakaan-terpendam tidak sepenuhnya lengkap. Bagian bawahnya seperti sobek atau memang sudah lapuk.” Jawab Seohyun masih dengan tatapan memeras otak.

Kupikir semua benda di sini dibikin anti lapuk. Yeah, barangkali rayap juga kerasan tinggal di dunia ini.

“Mungkin juga ramalan itu tidak benar. Jika disebutkan Dia akan dikhianati oleh orang yang disebut teman. Itu berarti salah satu di antara kita adalah pengkhianat. Kalian punya ide siapa yang bakal jadi pengkhianat?” Kataku menatap mereka satu per satu.

Semua melihatku dengan tatapan ngeri. “Yakin kau tidak tahu?”

“Aku tidak sepenuhnya mengenal kalian. Menurut kalian, aku bakal tahu apa yang kalian semua pikirkan?” Timpalku.

“Kami bisa tahu—kami bisa membaca pikiran bangsa Nymph—kecuali murni manusia, atau demi-nymph berdarah manusia yang sangat kental.” Kini giliran Sunny menjawab.

“Maksud kalian darahnya pekat?”

Jessica memutar mata. “Kau masih belum terlatih untuk membaui. Setelah kau berhasil mengeluarkan giris-mu, inderamu otomatis akan berkali-kali lipat lebih tajam dari sebelumnya.”

“Jimat keberuntungan?” Seperti biasa, kata-kata itu terbetik begitu saja di benakku. “Apa kalian membaui sesuatu dengan mengeluarkan jimat keberuntungan?” Oke, aku tahu sekarang aku dalam bahaya—aku sudah membuat sang pembuat patung es berkelainan implusif kesal.

“Terlalu banyak yang harus di jelaskan—lebih baik kau memberinya video panduan negeri kita.” Kata gadis nimfa tinggi itu pada Seohyun kemudian dia menatapku seolah-olah aku ini manusia terbodoh di dunia.

Aku hendak memekik dan bertanya, apakah mereka punya video-player ketika Taeyeon mendelik padaku seolah memperingatkanku untuk tidak melakukan hal-hal yang membuat Jessica atau salah satu dari mereka marah.

“Kita tidak punya banyak waktu. Kau akan tahu seiring berjalannya waktu, Fany.” Seohyun berkata sambil tersenyum. Selain pemikir andal, kurasa peri bulan ini juga pandai mengendalikan emosinya. Pasti seluruh penghuni di Negeri ini akan lebih senang jika di pimpin olehnya bukan malah Putri salju pembuat patung sebagai penyegar dahaga di musim panas.

“O—okey.”

Sunny melirik sesuatu yang terlihat seperti I-pad. “Semua sudah disiapkan, alat dan—oh! Senjata. Mari kita lihat.”

“Kita akan menggunakan ini.” Sunny melambaikan tangannya dan tembok dengan batu-batu pualam di belakangku pun bergetar kemudian berdesing. Aku menoleh dan mendapati tembok itu bergerak, kemudian memutar. Aku melongo saat melihat isinya. Kukira tempat itu bakal berisi peralatan berkebun untuk para nimfa, kecuali jika kau ingin bertempur melawan tanaman tomatmu.

Aku sih sudah sering melihat yang seperti ini di film-film seperti Harry Potter dan lain sebagainya, namun biasanya ruangan rahasia itu seperti perpustakaan bawah tanah atau ruang penyimpanan fosil-fosil dinosaurus, namun kali ini lebih keren lagi.

Dari tempatku duduk pun aku dapat melihat kalau tempat itu sangat besar. Pada dinding-dindingnya berjajar panji-panji perang dan pajangan senjata: senapan antik, kapak perang, dan masih banyak lagi senjata jenis lain.

“Ingat, waktu kita tinggal tiga hari lagi dari sekarang.” Hyoyeon memperingatkan.

“Maksudmu kita harus menemukan mahkota itu dalam waktu TIGA hari?” pekikku yang masih setengah terpana dengan menekankan kata tiga. Tapi ini memang benar-benar sudah gila. Dan aku hampir gila.

“Aku khawatir apa yang kau katakan barusan itu benar.” Yuri berbicara untuk yang pertama kalinya sejak rapat dadakan ini dimulai.

“Aku lebih khawatir pada hidupku.” Gerutuku.

Sunny mengisyaratkan kami semua untuk masuk dalam gudang senjata rahasia itu. Saat aku melangkah rasanya seolah sedang berjalan di tengah medan perang, lantainya bergema sampai terdengar di ujung ruangan.

“Kita butuh senjata untuk melawan monster.” Taeyeon berkata padaku, ia mencoba memelankan suaranya namun tetap saja terdengar di seluruh ruangan.

“Jadi, aku bakal dapat senjata yang mana nih?” Tanyaku sambil melangkah.

“Pilih senjata yang pas untuk kalian.” Ujar Seohyun sebelum mengambil busur panah beserta anak-anak panahnya yang dipajang di dekat obor. Bentuk busurnya mirip lengkungan bulan sabit, atau memang benda itu sengaja dibuat untuk peri bulan. Anak-anak panahnya terbuat dari perak mengilat dan pangkalnya berbulu dengan berbagai warna. “Semua senjata di sini dipengaruhi oleh sihir, jadi takkan habis atau hilang dengan sendirinya, kecuali jika kalian menginginkannya.” Lanjutnya.

Taeyeon berlari ke ujung ruangan, mengambil sebuah pedang berukuran sekitar satu setengah meter—atau satu setengah inci dengan ukuran mungil kami saat ini, dan kalau-kalau benda itu lebih panjang lagi, dia bakal kalah tinggi sama pedangnya. Dia mengayun-ayunkan benda itu sebelum melemparnya ke atas dan benda itu berubah jadi sesuatu yang lebih kecil seukuran koin logam.

Kupikir Taeyeon keren sekali saat melakukannya. Tubuhnya jadi semakin bersinar dan wajahnya berseri-seri. Walaupun menurutku dia tampak sedikit tertekan. Aku jadi merasa bersalah mengikutsertakan dirinya dalam misi ini tanpa meminta persetujuannya terlebih dahulu.

“Yang tadi itu keren sekali.” Kata Yoona sebelum mengikuti Taeyeon dengan busur panah di tangannya dan sebuah tabung berisi anak-anak panah yang dicangklongkan pada bahunya. Busurnya lebih tebal dibanding milik Seohyun. Dan auranya lebih kuat.

Saat aku berjalan pada sisi kiri panji-panji, ada sesuatu yang menarik perhatianku.

“Apa itu?” Tanyaku menunjuk benda itu. “Sebuah pisau?”

Sunny yang tak kusadari berdiri tak jauh dariku berjalan mendekat dan meniup debu-debunya seolah tak pernah dipakai selama ribuan tahun.

“Em..” Dia tampak tak nyaman. “Aku tak yakin kau ingin yang satu ini. Pedang atau tombak biasanya lebih cocok untuk demi-nymph.

“Jes—Putri Jessica pakai pisau.” Aku menunjuk Jessica yang tampak menimbang-nimbang sebuah pisau lalu dimasukkan ke dalam saku gaunnya.

“Belati.” Timpalnya dingin.

“Sebetulnya aku juga pakai semacam belati.” Sunny mengeluarkan sesuatu dari balik gaun keemasannya. “Gladius.”

“Pedang pendek.” Jawabku ragu.

Sunny mengangguk, “kau bisa melihat yang itu jika kau mau.”

Sarungnya berwarna hitam gelap.Saat kuhunus, belati itu sepanjang delapan belas inci, mata pisaunya—yang benar-benar runcing terbuat dari perunggu namun pegangannya berasal dari emas dengan batu-batu mulia sebagai manik-maniknya, perpaduan yang bagus. Terkesan tidak terlalu menyolok tapi entah mengapa di tanganku benda itu tampak begitu anggun.

Aku menatap bayangan diriku dalam mata pisau itu, aku tampak bercahaya, lebih dewasa dan lebih serius, tak seburuk yang kubayangkan sebelumnya.

“Cocok untukmu.” Seohyun tersenyum padaku. “Belati biasanya digunakan dalam acara-acara formal. Pemakainya biasanya dari golongan bangsawan. Menunjukkan bahwa orang tersebut kaya dan berkuasa, tapi dalam pertarungan, benda itu juga dapat melindungimu.”

“Aku menyukainya.” Jawabku. “Kenapa tadi kau bilang aku enggak bakal suka?” Aku beralih pada Sunny.

Peri matahari itu menarik napas panjang sebelum menghelanya. “Belati itu punya sejarah panjang. Semua nymph takut memilikinya. Pemakai pertamanya, baik.. dia tidak beruntung.”

“Memangnya kenapa?”

“Aku yakin kau tak ingin kami menceritakannya Steph.” Jessica memandangku dengan tatapan dingin andalannya. “Namanya Katopris.”

“Cermin?” Tanyaku. “Belati bernama cermin?”

“Coba lihat bayangan dirimu dalam benda itu.” Seohyun menyarankan dengan hati-hati.

Segera kuhunus belati itu dari sarungnya kemudian kembali menatap refleksiku sendiri. Aku tampak begitu rupawan.

“Boleh aku menggunakannya?” Tanyaku lagi, benda itu benar-benar pas di tanganku.

“Tentu saja jika kau merasa itu yang terbaik buatmu.” Ujar Seohyun.

“Baik.” Aku memasukkan benda itu ke dalam sakuku.

“Baik.. Jika semuanya sudah selesai, kalian dapat kembali ke tempat masing-masing dan berkumpul di sini besok pagi saat sarapan.” Jessica berkata sebelum menghilang seperti biasa. Entah mengapa itu tak lagi membuatku terkejut.

“Tunggu? Bagaimana denganku?” Aku bertanya pada Seohyun.

“Mungkin kau bisa tinggal dulu di tempatku.” Taeyeon menatapku dengan penuh keyakinan.

“Kau tidak tidur di dalam pohon kan?” Tanyaku ragu-ragu.

Taeyeon tertawa lebar. “Sudah kubilang aku tidak bisa melakukannya.”

“Memangnya kenapa?”

“Ceritanya panjang Stephany Hwang, lebih baik kau tidur saja.” Seohyun mengantar kami keluar dari gedung principa.

“Ayo!” Taeyeon menggenggam tanganku. Kami tersenyum sepanjang perjalanan. Jika saja hari ini tak begitu melelahkan, aku pasti sudah menganggap bertemu dengan Taeyeon benar-benar sebuah keberuntungan, kecuali saat dia mendapatiku ngiler.

Setidaknya ada satu hal yang kusuka dari tempat ini—Taeyeon.

-TBC-

Iklan

25 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 4 [Re-Post]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s