Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 5

NYMPHS — The Lost Crown 

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Dengan berucap Bismillah, kupersembahkan…. GLOSARIUM *revisi ke 3* [Noted : Ada baiknya jika kalian baca sambil buka ini, biar enggak mumet. Thanks]

V

TAEYEON SEDANG BERDIRI DI SISI bukit yang diselubungi kabut bersama seorang gadis lain—yang wajahnya sedikit lebih tua. Tempatnya tampak mengerikan, gelap dan berbau memuakkan. Aku merasakan desakan klaustrofobia yang semakin menjadi setiap aku melangkah. Aku tak dapat melihat secara langsung langit di atasku. Semua gelap, sunyi dan pengap. Kegelapan terasa begitu dekat dan berat, seolah aku sedang berada di dalam gua.

Taeyeon sedang berjuang menaiki bukit. Wajahnya berdarah-darah dan penuh sayatan di sana-sini. Jubah selempangan warna putih yang ia kenakan tercabik-cabik dan penuh noda seolah baru keluar dari kubangan lumpur.

Ia mendekap wanita itu, meletakkannya tepat di bawah sinar keemasan. Dia berkata “Yang Mulia, kumohon tukar nyawaku dengannya. Dia terlalu mulia.”

Wanita itu mencoba membuka mata, suaranya terdengar getir namun dia masih tersenyum. “Tidak nak, kau masih terlalu muda.”

“Kau menyelamatkanku—aku tidak pantas… aku.. aku…”

“Hanya satu yang kuminta nak, tolong jaga dia.” Napasnya mulai tersenggal dan tidak teratur.

“D—dia? Dia siapa?”

“Hanya kau yang bisa.”

“Tap—.”

“Berjanjilah.”

“Aku janji.”

Napasku tertahan. Wanita itu tersenyum ke arahku sebelum perlahan-lahan memejamkan mata dan melebur menjadi debu dan berdenyar kemudian berputar-putar naik ke atas langit dan menghilang.

Aku?

“Ingat, waktumu  tinggal sebentar lagi, kau harus temukan mahkota itu saat tenggat titik balik ketiga bulan.” Sebuah suara berbicara dalam kepalaku. Aku bergidik ngeri, saat kusadari sekelilingku sudah berubah.

Taeyeon berjalan di tanah berbatu, berusaha untuk bangkit. Kegelapan tampak lebih pekat di sekitarnya, kabut berputar-putar mengelilinginya dengan liar. Dia mengayunkan pedangnya berkali-kali sambil berteriak “Jangan ganggu aku lagi!”

Wajahnya banjir keringat dan penuh luka goresan. Dia tampak begitu lelah. “Jangan ganggu kami lagi!”

Taeyeon jatuh berlutut. “Aku sudah lelah, kumohon.”

Aku berlari menujunya.

Aku mencoba berteriak: Taeyeon! Awas!!

Aku melihat suatu benda—entahlah apa itu namanya. Sesuatu berwarna hitam yang sangat besar, mungkin tingginya hampir sembilan meter. Dia berdiri tepat di belakang Taeyeon, dengan tombak sepanjang tiga meter yang siap ditancapkan di atas kepala Taeyeon. Aku ingin sekali berteriak, berusaha memperingatkannya. Tapi suaraku tak terdengar.

Air mata menggenangi pipiku. Taeyeon tampaknya tak menangkap pesanku. Dia tak bergerak—aku takut dia bakal menyerah. Nggak! Ini enggak boleh terjadi.

TAEYEOONNNN!!!

Hal terakhir yang ingin aku lihat: Taeyeon mengerang kesakitan sebelum terbaring di atas sebuah batu besar. Raksasa hitam itu sudah hilang diiringi dengan tawa yang menggema di seluruh gua.

Aku mendekati tubuhnya, membungkuk berusaha menyentuh wajahnya yang di penuhi luka. Tapi tanganku transparan seolah tak terlihat.

“Taeyeon?”

Tak ada jawaban. Aku tak tahu apa yang terjadi pada dirinya. Sepertinya dia sedang berjuang keras melawan sebuah kutukan tak kasat mata, seolah kabut itu mencekiknya hingga sekarat.

“Apa yang terjadi?” Aku menyentuh tubuhku yang serasa bagaikan menggapai angin.

Hal terakhir yang dapat kudengar darinya adalah: “Aku janji.” Suaranya begitu terluka.

Kemudian kegelapan itu mulai runtuh, langit-langit gua seolah segera ambruk, menindih Taeyeon ke tanah.

Aku tersentak bangkit dari tempat tidurku, mencengkeram seprai dedaunan kuat-kuat. Tak ada suara di sini, tak ada suara bebatuan yang runtuh atau atap yang ambruk, kecuali desah napas teratur dari gadis yang tidur di sampingku. Aku menahan napas. Berusaha menahan tangis, aku tidak bisa kehilangannya. Entah mengapa aku tidak bisa—aku harus temukan mahkota itu dalam tiga hari. HARUS.

*-*

Esok paginya usai sarapan, kami berkumpul di depan ruang principa. Aku tak menceritakan kepada siapapun tentang mimpiku, terlebih pada Taeyeon.

Seohyun menjelaskan bagaimana cara kami agar dapat selamat dari misi ini—yang menurutku hampir tidak mungkin. Dia menjabarkan segala macam cara keamanan, tindak penyelamatan diri dan emergency case. Yang bahkan Jessica pun terlihat ingin muntah mendengarnya.

Kami masing-masing juga diberi termos berisi cairan oleandor—semacam cairan yang katanya dapat menyembuhkan kalau ada luka-luka. Seohyun kembali memperingatkan untuk yang ke dua ratus tiga puluh enam kalinya untuk tak sembarangan menghabiskan persediaan cairan oleandor dengan cuma-cuma karena hidup kita bergantung pada cairan bening dalam termos itu. Dan aku mungkin akan berpikir bahwa sekarang itu bakal menjadi cairan paling berharga sedunia yang harus kupergunakan dengan bijak.

Kami mempersiapkan senjata sembari memakai Stola—sejenis kain selempang berbordir. Jessica, Sunny dan aku membawa belati. Yang kata Sunny mending kutudungkan di pinggangku saja. Mereka memberiku semacam sabuk pendaki gunung yang dapat kugunakan untuk menyembunyikan belati dan mencangklongkan termos. Jika dilihat sekilas, benda itu hanya berupa sabuk hitam normal yang biasa digunakan para pekemah untuk menggantungkan air minum dan P3K. Namun, sesungguhnya sabuk itu memiliki banyak kantong yang dapat digunakan untuk memasukkan apapun—dalam ukuran apapun dan saat aku mengantongkan termos seberat hampir satu kilo gram, rasanya seperti membawa kapas. Aku suka, mungkin aku dapat merayu Seohyun atau Sunny untuk membawanya pulang—itu pun syukur-syukur kalau aku bisa pulang.

Hyoyeon dan seorang gadis tinggi yang tak kuketahui namanya—membawa tombak sepanjang hampir dua meter yang anehnya dapat mereka masukkan dengan mudah dalam sabuk mereka. Seohyun dan Yoona menggantungkan busur dan anak-anak panah mereka di punggungnya. Dan terakhir Taeyeon dan Yuri yang pedang mereka dapat berubah bentuk. Pedang Taeyeon entah mengapa dapat berubah menjadi sebuah koin logam sedangkan pedang Yuri dapat berubah jadi sebuah cincin berlian.

Kami melambaikan tangan pada beberapa nymphs yang menunggui kami sambil mengucapkan selamat jalan—yang menurutku lebih mirip iring-iringan pemakaman. Aku memandangi ladang buah-buahan dan berbagai sayur-sayuran, pohon-pohon yang tampak begitu gugup diterpa angin. Paviliun-paviliun megah yang baru satu hari kukenal yang bisa jadi takkan lagi bisa kunikmati keindahannya.

Kami semua berjalan memasuki lorong gelap sepanjang kira-kira seratus meter sebelum semua pasukanku—boleh aku menyebutnya begitu? Nah, sebelum pasukanku meloncat tinggi-tinggi dan berubah wujud. Aku memandangi satu-persatu dari mereka dengan takjub, seolah kepala baru saja tumbuh di bahu mereka. Mereka semua memiliki sayap yang indah dan berwarna-warni. Hyoyeon bersayap hijau tosca dengan kilau kekuningan di sepanjang urat-urat yang tampak pada permukaan sayapnya. Dia tampak begitu berkharisma. Yoona berwujud seperti elang setengah manusia, dia punya sayap berbulu ala burung-burung merak—plus warna-warninya tak heran Seohyun menamainya Rainbow. Selebihnya, jika kita mengabaikan sayap dan kakinya yang berubah setengah cakar, dia tampak lebih manusiawi dengan gaun kelabunya yang di selubungi stola—sehelai selempang kain bordiran ala Romawi Kuno.

Seohyun, Sunny dan Jessica seperti biasa—tampak anggun dengan gaun masing-masing. Bulan-Matahari dan Es menjadi satu. Mungkin bisa jadi jenis minuman terbaru. Mereka juga mengenakan stola sederhana dengan denyar keemasan dan sayap yang juga berdenyar mengikuti kekuatan dalam diri mereka. Jessica, seperti biasa tidak ketinggalan mahkota daun dafnah yang melingkar di kepalanya. Membuat rambut pirang ikalnya tampak lebih hidup di tengah hawa dingin yang menggigit dalam tubuhnya.

Hanya gadis tiang yang tak bersayap. Tapi ia bisa terbang—eh, melayang lebih tepatnya. Tubuhnya mengilat seperti mutiara yang baru diasah. Baunya khas lautan asin di Pelabuhan Bar, Maine. Gaunnya—yang kurasa terbuat dari kerang bersinar di bawah terik matahari. Begitu juga rambutnya, kurasa ia takkan pernah menderita dehidrasi karena kekeringan. Tubuhnya seolah penuh terisi dengan air.

Terakhir, Yuri dan Taeyeon. Mereka menggunakan semacam baju zirah alih-alih stola. Tapi jika dilihat lagi, baju itu sangat fleksibel dan tanpa helem norak di kepala mereka. Warnanya emas, emas murni yang barangkali dua puluh empat karat. Yuri dan Taeyeon terbang dengan benda itu seolah beratnya tak lebih dari setengah kilo saja. Mereka tampak begitu kuat dan memesona. Terlebih Taeyeon dengan rambut coklat menawan dan mata hazelnya ditambah sayap ungu yang berdenyar kebiruan.

Aku hampir saja ngiler saat aku teringat sesuatu yang sangat penting dan fatal—dan mungkin saja hampir terlambat.

“Tunggu! Bagaimana denganku?” Pekikku.

Jessica menatapku ngeri seolah ada ular yang tumbuh di rambutku. Ia memutar mata sekilas sebelum berbalik pada Seohyun dan berkata, “Kau belum mengajarkannya?”

“Apa?” Seohyun membalas tatapan Jessica dengan wajah datar—seolah aku tak pernah masuk dalam daftar sepuluh hal terpenting yang harus ia lakukan.

Plis deh Luuuunn.” Cibir Jessica. “Menurutmu bagaimana dia bisa pergi ke sana? Ngesot??”

“Huh?” Seohyun menatapku dari ujung rambut sampai mata kaki, memberi penilaian. Apakah aku masih pantas hidup atau dibuyarkan saja olehnya. “Oh, kukira Taeyeon yang mengajarkanmu.”

“Maksud kalian? Belajar apa?” Tanyaku, tampak bodoh seperti biasanya.

Giris.” Potong Sunny. “Untuk menumbuhkan sayap di punggungmu.” Ia mulai mengepak-ngepakkan sayapnya yang berwarna kuning keemasan, mirip matahari terbenam.

“Aku bisa?” Pekikku.

“Apa maksudmu?” Tanya gadis tiang.

“Maksudku, memangnya aku bisa menjadi seperti kalian?”

“Tentu saja, memangnya menurutmu kau ini keturunan apa? Alien barangkali?”

“Umm..” Sejujurnya aku tak pernah berpikir sejauh itu, dan kurasa tidak buruk memiliki benda yang menempel di punggung kita dan hebatnya lagi dapat membawa kita keliling dunia.

“Kau adalah keturunan nymph, dan siapapun yang menjadi bagian dari kami, tentu saja dapat berubah seperti kami.” Sela Seohyun.

“Dan aku bisa terbang?”

“Kalau kau ingin ngesot, kami tak perlu repot-repot mengajarkanmu. Hanya buang-buang waktu dan tenaga saja.” Jessica jagoannya dalam memberikan tatapan mengerikan.

“Aku mau, aku ingin bisa terbang.” Aku memekik kegirangan.

“Manusia memang konyol.” Tambah Jessica dengan tatapan bodohnya.

“Hey! Kau bilang tadi aku bagian dari kalian?”

“Tapi tetap saja kau berdarah campuran, dan nymph berdarah campuran tidak selalu bernasib baik dalam pertempuran. Aku masih tidak mengerti mengapa Ratu memilih gadis bodoh sepertimu.” Cibirnya. Benar-benar membuatku kesal.

“Aku juga, dan aku tak pernah berharap untuk dipilih. Mungkin kau dapat menggantikan posisiku dalam misi ini tuan putri, lagi pula aku tidak begitu tertarik.”

“Jika saja aku bisa aku pasti aku sudah melakukannya bahkan sejak sebelum kau lahir, bodoh!”

“Hey, siapa yang kau sebut bodoh?”

“Kau.”

“Aku?”

“Menurutmu?”

Biar kutunjukkan pada putri angkuh ini. Aku tak yakin ini benar-benar manjur, tapi aku melakukannya. Dan saat kusadari—aku sudah terlambat.

Aku berhasil meloncat setinggi hampir dua meter dan berharap sayap—yang kuinginkan sih berwarna pink, akan tumbuh di punggungku dan membiarkanku terbang. Namun yang terjadi sungguh diluar dugaan. Aku jatuh di kubangan lumpur dengan pantat mencium tanah terlebih dulu. Sakit? Iya banget. Malu? Perlukah kukatakan lagi?

“Dasar bodoh!” Jessica bergumam. Dan kudapati sebagian dari mereka sedang berusaha menahan tawa.

“Ugh!!”

“Stephany, sebelum kau dapat mengepakkan sayapmu, kau harus belajar mengeluarkan giris-mu terlebih dahulu.” Yoona berusaha melemparkan tatapan bersimpati padaku, tapi aku tak memerlukan tatapan seperti itu.

“Yeah, dan kurasa tak ada yang mau mengajariku”

“Aku mau, sayangnya aku tidak mahir.” Kata Yuri.

“Aku sangat ingin mengajarimu, tapi sepertinya ada yang lebih berhak.” Ujar Hyoyeon bersimpati.

“Taeyeon-Seohyun. Kedua peri terbaik pengendalian giris.” Jessica menjelaskan dengan tenang. “Kau mau pilih yang mana?” Ia menilai-nilai keduanya. “Kurasa aku sudah tahu jawabannya.”

“Tapi kita tak punya banyak waktu.” Timpal Yuri.

“Lalu?”

Yeah, sepertinya aku kehilangan kesempatan berhargaku buat punya sayap keren.

“Bagaimana jika kita naik kereta saja?” Hyoyeon mengusulkan.

“Kau gila! Benda itu sudah tidak dipergunakan sejak—tujuh puluh tahun yang lalu. Terakhir kali aku melihatnya berfungsi. Saat perang terakhir melawan Raja Kegelapan.” Yuri menimpali.

“Kau benar. Tapi jika kita bisa merayu masinisnya—mungkin saja berhasil.” Yoona memberi harapan.

“Masinis itu adalah pengabdi Yang Mulia Ratu, dan dia hanya menuruti apapun perintah Ratu. Jadi, mustahil dia mau menuruti kemauan sembilan bocah kecil seperti kita.” Jawab Yuri, jelas belum puas.

“Seohyun! Dia kan juga Pengabdi Yang Mulia Ratu ditambah kesayangan pula.” Yoona mencoba mendebat.

“Seperti yang dikatakan aku tak bisa melakukan apapun tanpa perintah.” Sela Seohyun berusaha membela dirinya.

“Ah! Mungkin charmspeak Yoona bisa membantu.” Usul Sunny.

“Uh—Oh, tolong katakan padaku. Jangan lagi!” Yoona memutar mata.

“Eh?”

“Itu satu-satunya cara kita. Lagi pula kita dapat mengajari Miss. Hwang di sini selagi kereta berjalan.” Sunny berusaha tersenyum ramah.

“Kita harus menyamar.” Usul gadis tiang melayang.

“Untuk?”

“Agar tidak ketahuan monster. Begitu kereta ini sampai, kekuatan kita menjadi limit, karena di situlah perbatasan Faylinn dan Irial Kerajaan Kegelapan.”

Perkataan itu tak membuatku bersemangat sama-sekali.

“Oh, omong-omong, aku belum tahu siapa kamu.” Kataku berusaha terlihat bersahabat dan mengabaikan kerajaan-kerajaan tolol itu.

“Oh, ya. Aku Sooyoung—Steph, eh.. Haruskah aku memanggilmu Kapten Hwang sekarang?”

“Oh, tidak-tidak perlu. Terima kasih.”

Gadis itu baik sekali, dia mengangguk sebelum membantu membersihkan pakaianku dari lumpur.

Lalu kami melanjutkan perjalanan dari arah hutan menuju tempat yang hampir seperti perkotaan. Seohyun sempat berkata bahwa, di sinilah nymph-nymph yang selamat dari peperangan kembali hidup-hidup dan menjalani kehidupan dengan normal dan damai. Kota ini dilindungi oleh sihir dari hutan—sebagai imbalan atas pengorbanan dan jasa mereka. Mereka membangun kota maju dan memiliki keluarga bahagia. Aku mengamatinya lekat-lekat. Perasaanku berkecamuk, aku sempat bertanya pada diriku sendiri, apakah aku bisa berada di sini? Bahagia bersama mereka?

Tiba-tiba Seohyun melemparkan koin emas pada pohon cemara yang nangkring di tengah jalan sambil bergumam dengan bahasa latin, “Siste! scidit currum. Stationem Bishop O’Connell.” yang entah bagaimana aku mengerti artinya. Dia berkata: ‘Berhenti, mobil sewaan. Stasiun kereta Bishop O’Connell.’

Aneh, koin itu bukannya jatuh atau bergemericing ke aspal atau dahan pohon, namun koin itu seolah terbenam begitu saja dalam pohon dan raib. Setelah melihat nymph yang bisa masuk ke dalam pohon, melihat pohon menelan koin tak lagi terasa begitu konyol bagiku.

Kemudian, tepat di tempat koin itu terjatuh, aspal pepohonan tampak menggelap dan pohon seolah termakan lumpur hidup. Aspal itu mencair ke dalam genangan berbentuk kotak kira-kira seukuran satu tempat parkir—cairan keemasan bergelegak seperti bijih emas. Lalu sebuah mobil coklat muncul dari genangan itu.

Bentuknya jelas mirip taksi, tapi bukan taksi yang umumnya di kota-kota seperti New York. Warnanya bukan kuning melainkan coklat kayu. Maksudku, taksi itu terlihat seperti di pahat dari pohon cemara. Jendela penumpang diturunkan. Seorang wanita mengulurkan kepalanya. Rambut biru menutupi hampir sebagian matanya, wajahnya putih sekali dan hampir transparan. “Mau naik?”

Seohyun mengangguk dan semua memasuki kabin kecil. Ukurannya sih, mirip taksi normal pada umumnya, tapi aku masih bertanya-tanya. Apa kami semua muat dalam situ?

Aku menunggu mereka semua masuk, tak ada yang tampak kesulitan. Mereka masuk dan menghilang begitu saja. Kulihat Taeyeon menurunkan jendela belakang dan menjulurkan kepala. “Ayo! Tak ingin masuk?”

“Apa tempatnya cukup?”

Taeyeon mengangkat sebelah alisnya, bertanya-tanya. “Kita tetap akan pergi kan?”

Aku mengangguk sebelum berhati-hati memasuki kabin kecil itu. Awalnya aku ragu, aku membayangkan kami semua bakal berdesak-desakan dalam situ. Namun, begitu aku sudah berjalan lima langkah ke dalam, ternyata tak seburuk yang kubayangkan. Malah lebih menakjubkan.

Kabin kecil itu seperti sebuah bus mini saat kau memasukinya. Jika dipikir-pikir kabin sekecil itu tak mungkin dapat menampung kursi sebanyak ini. Tiga banjar di kanan dan dua banjar di kiri. Seperti bus sekolah normal biasa. Namun aku tak begitu merasakan serangan jantung mendadak, lagi pula sejak aku menginjakkan kakiku disini aku jadi sudah terbiasa dengan segala kemustahilan.

Aneh rasanya berada di jalan raya lagi. Setelah melewati hari yang begitu sinting, perkotaan yang mirip dunia nyata terasa seperti khayalan. Aku mendapati diriku menatap pertokoan mirip mall-mall di NYC, setiap anak yang mengekor orang tua mereka, setiap papan iklan di mall belanja.

“Sejauh ini masih lancar,” kataku pada Seohyun. “Dua puluh kilo meter, enggak ada monster satu pun.”

Aku dapat merasakan Jessica menatapku dengan kesal dari balik punggungku. “Omongan seperti itu membawa nasib buruk, dasar bodoh.”

Aku berbalik dari kursi dan menghadap Putri pembuat patung Es menyebalkan yang duduk dengan tenang bersama protegtur-nya. Oke, kata-katanya memang sudah tidak bisa ditolerir lagi. “Coba ingatkan aku lagi—kenapa sih kau membenciku begitu?”

“Aku enggak benci kok.” Elaknya.

“Masa?”

Jessica menghela napas. “Berapa alasan yang kau mau? Kau datang di saat yang tidak tepat, kau demi-nymph dan kau—sudahlah.”

“Tapi kau kan tak bisa menyalahkanku atas tuduhan konyolmu itu kan? Apa yang aku lakukan? Semua yang kau sebutkan tadi sungguh diluar kuasaku. Kau—!”

“Kataku, lupakan!”

Aku melihat Sunny yang duduk di belakang Jessica menyunggingkan seulas senyum padaku—lebih tepatnya dia seperti menahan senyum. Dia tidak berkata apa-apa, tapi satu matanya mengedip ke arahku.

Aku lantas mengunci mulut rapat-rapat dan menatap ke luar jendela. Tidak ada gunanya mendebat Putri berkelainan implusif. Yang mungkin saja bisa sangat berbahaya.

Aku mengamati lalu lintas di kota yang menghambat kami. Mobil yang terbuat dari pohon cemara dan kurasa berbahan bakar ramah lingkungan ini membawa kami hingga matahari sudah cukup tinggi saat kami memasuki terowongan sepanjang satu kilo meter, walaupun demikian—terowongan itu tetap saja terasa begitu gelap. Untung saja, pancaran sinar dari tubuh Sunny membuat sekitar kami tampak begitu bercahaya.

Ujung terowongan ternyata sampai di Stasiun kereta Bishop O’Connell. Bangunan yang kurasa mirip seperti sebuah SMA katolik Roma di daerah pusat kota Virginia, Amerika Serikat. Bagus sih arsitekturnya, namun gedung stasiun ini tampak seperti kelab malam kumuh. Menunjukkan betapa sudah meredupnya tempat ini. Sisi depan yang kemungkinan dulu menarik kini menunjukkan tanda-tanda tua dan rapuh. Rumput liar bermunculan di sela-sela retakan trotoar dan tanah-tanah kosong. Benar-benar terlihat seperti tak pernah di gunakan.

Yang anehnya dengan ke-delapan nymph ini, mereka semua mengabaikan fakta itu seolah semua terasa begitu normal bagi mereka. Taeyeon menggenggam tanganku dan membawaku memasuki bagian dalam stasiun.

Aku sudah mengira orang lain pun tak ada yang berani memasukinya. Namun begitu kau melihat isinya, kau pasti bakal lupa segala hal yang sudah kau lihat di depan tadi. Aku melihat rel-rel dan gerbong-gerbong kereta tidak terbuat dari besi atau baja pada umumnya, mereka membuatnya dari perak, emas, perunggu dan batu-batu mulia. Aku menerka-nerka, kira-kira berapa juta dolar pajak yang mereka keluarkan setiap tahunnya.

Aku memekik! “Waaaaww… Kalian punya kereta yang terbuat dari batu-batu mulia! Keren sekali.”

“Kau benar, keren bukan?” Sooyoung merangkulku.

“Kau benar.” Sepertinya Seohyun berusaha bercerita panjang lebar mengenai stasiun ini, tapi aku terlalu sibuk melongo.

Setelah melihat mereka sedang melakukan beberapa negosiasi, masinis pun setuju dan membawa kami semua memasuki gerbong pertama. Tidak buruk—semua terbuat dari perak dan perunggu, yang untung saja bukan emas karena mataku pasti bakal sakit banget selama perjalanan.

Kami menuju Selatan dengan menembus perbukitan, menyebrangi sungai, melewati ladang gandum yang berombak merah.

Belum ada tanda-tanda monster sekalipun, tapi aku tetap tak bisa tenang. Aku merasa seakan kami bergerak di dalam lemari pajangan, diamati dari atas dan mungkin dari bawah, sementara sesuatu sedang menunggu peluang yang tepat.

Genggaman hangat Taeyeon tak berhasil menghilangkan rasa takutku, namun setidaknya dapat mengurangi kegugupanku. Sepanjang perjalanan, tangannya tak sekalipun melepaskanku.

“Jangan khawatir, selama kita bersama kita akan baik-baik saja.” Aku berusaha mempercayainya, namun, suaranya pun tak terlalu yakin.

Sekali waktu aku melihat sekeluarga dyrads, mereka sedang berlari mengejar sekumpulan karpoi—yang mungkin hendak di panen. Karpoi-karpoi itu berlarian menghindar sambil membawa spanduk bertuliskan ‘Karpoi-Roh biji-bijian liar dan gesit dari khort 3. Tangkap kami dan dapatkan 30  karung gandum yang setara dengan 50 aureus emas loh!’ Yang menurutku tindakan tolol. Selain terlalu gesit, karpoi-karpoi itu juga berupa kepulan asap yang bisa menghilang begitu jika kita hendak menjeratnya. Aku masih tidak mengerti apa yang ada dalam pikiran keluarga dyrads itu. Mungkin mereka memang sedang terkena krisis ekonomi dan tak dapat membeli bahan makanan.

Aku meregangkan leherku yang terasa kaku lalu menatap Taeyeon yang sedang menatap sekumpulan karpoi konyol tadi,  “Jadi, bisa kau jelaskan padaku, memangnya apa sih gunanya apel-apel emas itu?”

Taeyeon menyunggingkan senyum namun tak mengalihkan pandangannya dari jendela kereta. “Untuk membuat kami semua abadi.”

Aku mengangkat alis, “Tunggu, jika kalian semua ini makhluk abadi, lalu bagaimana dengan laju pertumbuhan pen—maksudku laju pertumbuhan para Nymph dan makhluk-makhluk lainnya? Apa kalian pernah mengalami ledakan penduduk di dunia ini? Lalu, bagaimana kalian melakukan sensus penduduk setiap tahunnya jika tidak ada yang mati dan bayi Nymph terus lahir?”

“Pertanyaan yang bagus Steph.” Timpal Hyoyeon.

“Terima kasih.”

Seohyun di belakangku menanggapi. “Walau abadi, kami juga seperti manusia fana yang bisa mati. Setiap seratus tahun sekali, Yang Mulia Ratu Diana akan mengirim seribu orang dari kami untuk berburu dan berperang melawan monster. Beberapa dari kami akan mati dalam peperangan tersebut. Dan yang berhasil selamat, akan disatukan di bukit Carling dan diutus untuk melatih dan merekrut nymph-nymph muda—mereka menyebutnya para Titania.

“Mahkota itu sudah hilang bertahun-tahun dan sejak saat itu kami tidak dapat menggelar ritual keabadian. Dan jika itu terjadi, para Nymph perlahan akan punah.” Tambah Sooyoung.

“Dan itu adalah mimpi buruk kami.” Timpal Sunny.

Aku diam lama sekali. Enggan berkata apa-apa, aku teringat mimpi malam tadi. Mimpi itu terasa begitu nyata, membuatku sangat ketakutan.

Sekali lagi, Taeyeon meremas tanganku.

“Istirahatlah,” kata Taeyeon padaku, suaranya begitu menenangkan hatiku yang tengah kalut. “Kau terlihat begitu lelah, aku akan membangunkanmu begitu kita sudah hampir sampai, kau pasti membutuhkannya.”

Tak dapat dipungkiri mataku terlalu berat dan perih untuk terjaga, apalagi setelah Taeyeon menyelesaikan kata-katanya, ketenangan dan kedamaian dalam gerbong ini membuatku semakin mengantuk—yang padahal sebelumnya aku begitu gelisah. Namun aku masih berusaha membuat mataku tetap terjaga, “katamu kau bakal mengajariku mengendalikan garis-ku.”

Giris,” tuturnya sebelum membisikkan sebuah kalimat tepat di telingaku. Aku dapat mendengar detak jantungnya yang terasa seperti lagu pengantar tidur. “sekarang tidurlah nona, aku akan mengajarimu nanti.” Dan itu berhasil membawaku ke alam mimpi walau sebelumnya sempat kurasakan kecupan di pipiku dan kehangatan menjulur di sekujur tubuhku, mataku tetap menolak untuk membuka. Dan aku tertidur selama beberapa saat.

Kali ini, aku bermimpi jelas sekali.

Aku berdiri di sebuah bukit yang berwarna keperakan. Bulan seolah terasa begitu dekat dan jelas. Jika normalnya kau dapat melihat bulan yang hanya seukuran koin logam dari tempatmu berdiri, kini di tempat ini, kau dapat melihat bulan raksasa yang bisa kau bandingkan dengan balon udara. Bulan itu menggantung solah-olah bakal jatuh menimpamu kapanpun dia mau—dan kuharap dia tak punya minat melakukan hal itu.

Kemudian, sebuah kereta perang muncul dari balik awan yang menutupi seperlima bulan mahabesar itu, kereta itu di tarik oleh rusa tercantik yang pernah kulihat selama hidupku. Setelah beberapa menit, kereta itu pun mendarat tepat di sebelahku.

Di dalamnya, terdapat sebuah kabin mungil namun terkesan anggun dan indah, berlian dan perak menghiasi hampir sepertiga bagian kabin itu. Kali ini aku sadar aku sedang melongo. Seorang gadis cantik—seusiaku keluar dari kabin tersebut.

Saat aku melihatnya, aku seolah lupa namaku. Lupa dari mana asalku. Aku bahkan lupa bagaimana cara berbicara atau pun bernapas.

Dia mengenakan gaun biru keperakan—seperti cahaya bulan malam ini, rambutnya yang ikal terkepang kecil-kecil di sekitar kepalanya. Wajahnya mungkin yang tercantik yang pernah kulihat sebelumnya—bahkan semua aktris di Amerika Serikat tak mampu menandingi keanggunannya. Riasan yang sempurna, warna mata yang berkilauan, senyum memesona yang dapat menerangi tempat tergelap sekalipun.

Coba pikirkan lagi—aku bahkan tak dapat mendeskripsikannya padamu secantik apakah dirinya.

Atau bahkan mungkin warna mata atau rambutnya. Sebutkan artis tercantik yang dapat kau pikirkan. Gadis ini sungguh sepuluh kali lebih cantik dari pada dia. Sebutkan warna rambut yang paling kau suka, warna mata, atau apapun. Gadis ini punya segalanya.

Saat dia tersenyum padaku, sebentar sekali dia begitu mirip Taeyeon. Namun perasaan itu berubah lagi beberapa detik kemudian, semakin kuat.

“Stephany Hwang MiYoung,” Aku terkesiap. Tak pernah ada yang memanggilku seperti itu—tak pernah ada… Sejak sepuluh tahun yang lalu saat aku kembali ke Korea. Appa pernah bilang bahwa dulu aku hampir diberi nama itu sebelum akhirnya appa memutuskan tinggal di New York dan mengganti namaku menjadi Stephany. Tapi, cara gadis ini memanggilku seolah terdengar melegakan. Memberi kesan bahwa aku seolah kembali ke rumah.

“Um, uh.. Ung..”

“Ingat Mi Young, titik tenggat seperseratus tahunan ketiga bulan terjadi pada tanggal 5 Desember. Kau hanya punya waktu dua hari terhitung dari hari ini untuk menemukan mahkota itu.” Nadanya terdengar lembut namun tak meninggalkan kesan memperingatkan.

Aku ingin sekali berteriak mengapa aku? Mengapa dia memberiku misi seberat ini?

“Kau ada karena sesuatu. Kau tahu kan konsekuensinya jika kau gagal?” Dia bertanya sambil memandangiku. Tatapannya seolah mengiris jiwaku. Aku mengangguk—dia berhasil menaklukkanku lewat matanya yang sebentar-sebentar berubah warna.

“Aku percaya padamu. Jadi jangan kecewakan aku.” Belum sempat aku berkedip. Cahaya keperakan memancar dari tubuhnya. “Tutup matamu nak.” Tanpa berpikir, aku langsung menutup mata, sekilas aliran listrik menjalari tubuhku dan cahaya supernova yang begitu terang, memancar hingga aku dapat merasakannya walau dalam keadaan terpejam.

Begitu aku membuka mata, yang kulihat adalah wajah Taeyeon yang hanya berjarak sepuluh senti dariku, mencoba mengguncang-guncang pundakku. “Demi Yang Mulia Ratu Diana, akhirnya kau bangun juga!”

Aku melihat sekeliling. Wajah mereka jelas tak membuatku tenang selepas mimpi tersebut. Semua tampak tegang. Bahkan beberapa dari mereka sudah menghunus senjata. Aku terjungkal ke depan karena kaget. Untungnya, ada Taeyeon yang sigap menahan lenganku. “Ada apa?”

“Aku merasa ada sesuatu yang salah.” Ujar Yuri.

Aku tak merasa ganjal, karena semenjak aku datang kemari semua sudah terasa salah.

“Sepertinya ada monster yang mengintai kita.” Sooyoung berdiri di dekat pintu yang menghubungkan gerbong dengan masinis.

“Apa kita sudah sampai?” Tanyaku. Merasakan hawa tidak nyaman sedang berada di sekitarku.

“Belum, kereta tua bodoh ini mogok.”

“Dan ada pria aneh menawarkan bantuan.”

“Kukira tak ada pria di sekitar sini.” Tanyaku.

“Kau benar—kecuali jika pria itu adalah monster.”

Aku menelan ludah. Dari kejauhan dapat kulihat seorang pria paruh baya—yang menurutku agak aneh. Pria itu memiliki kulit gosong, tubuhnya gempal tapi tangannya seperti tulang kering, dia mengenakan celana senam konyol di musim dingin sambil mengisap cerutu.

“Hai nona-nona cantik. Bagaimana? Aku siap membantu kalian kapan saja.” Pria itu nyengir, yang menurutku mirip cengiran tengkorak hidup.

Sang masinis keluar dari balik gerbong depan. Dia terhuyung hampir menabrak Yuri. “Mesinnya meledak.”

“Sepertinya masinis wanita kalian butuh bantuan.”

Kuharap di sini ada semacam gerakan pendukung emansipasi wanita karena terdengar jelas sekali dari nada suaranya bahwa dia terkesan meremehkan wanita.

“Dasar pria busuk..” Gumam Yoona yang dapat kudengar dengan jelas suaranya di seberangku.

“Tidak, dapat kami atasi sendiri kok.” Jawab Sunny cepat.

“Yakin nih nona-nona? Gak perlu bayar kok. Cukup minta tolong saja?”

Baik, walau dia meminta secara halus, tapi tekanan dalam suaranya benar-benar mengintimidasi. Kulihat tak ada yang bergerak. Mereka semua mematung, waktu seolah berhenti.

Lalu pintu gerbong berderit terbuka, dan di depan kami berdiri seorang wanita jakung—setidaknya. Aku menduga dia semacam penganut aliran timur tengah, karena dia mengenakan jubah hitam panjang hitam yang menutupi seluruh tubuh kecuali tangan, dan kepalanya tertutup sekali. Matanya berkilat-kilat di balik cadar kain kasa hitam, tetapi cuma itu yang bisa kulihat. Tangannya yang sewarna kopi itu tampak keriput.

Aku mengira wanita tua ini dulunya pasti tampak cantik, namun pikiranku segera terenyah saat aku mendengar suaranya yang ngebass. “Hey anak-anak peri. Apa yang kalian lakukan di sini? Bukankah tempat ini berbahaya sekali?” Suaranya sangat kentara sekali bahwa ia seorang pria. Tapi tampaknya tak ada yang menanggapi. Sebagian terpana dan yang lainnya kebingungan.

“Kami dalam sebuah misi.” Jawab Yoona. Kulihat, hanya dia satu-satunya selain diriku yang tak terpengaruh olehnya.

“Oh, bocah-bocah peri yang malang, kulihat kalian sedang dalam kesulitan ya… Ada yang bisa bibi bantu?” Ada sesuatu dalam suaranya, tapi aku tak tahu apa. Yang pasti dia sangat persuasif sekali.

“Tidak, kami tidak perlu bantuan, terima kasih telah menawarkan.” Kataku berusaha terdengar ramah.

Yoona tampak memberi kode padaku, tapi aku terlalu lemot untuk mengartikannya. Dia mendelik pada wanita bersuara pria itu saat makhluk tersebut menatapku dengan mata berkilat-kilat—sungguh.

Aku balas mengerutkan alis, aku enggak tahu, sungguh.

Rasanya rikuh juga, di tatap orang yang wajahnya tak bisa kulihat. Tapi aku terus berfokus pada Yoona yang tak henti-hentinya memberiku kode isyarat.

“Em.. Kami harus pergi.” Kataku.

Dari sudut mataku, kulihat Yoona menepuk dahinya. Merasa frustasi.

“Emm…”

“Oh, bisakah kalian tinggal sebentar, kami sangat kesepian.” Ujarnya di balik cadar.

“Kapten…” Sooyoung berbisik. “Sepertinya ada yang salah.”

“Oh, jadi kau kaptennya.” Katanya padaku sebelum maju menghampiriku. “Tak buruk, kau cantik juga nona.” Ujarnya.

Refleks, aku mundur ke belakang. Taeyeon seolah baru terbangun dari tidurnya dan kontan langsung berdiri di hadapanku.

“Mau apa kau?” Ujarnya.

“Oh, tenang saja pahlawan cilik, aku tak berniat menyakitinya. Aku hanya ingin mengelus pipinya, dia mengingatkanku pada anakku yang sudah tiada.” Ujarnya pada Taeyeon sebelum kembali menatapku. “Kau mirip sekali dengannya nak, maukah kau ikut denganku?” katanya kepadaku dengan nada membujuk.

“Uh.. Eeeh…” Aku kebingungan saat kudapati semuanya tampak was-was.

“Tak ada yang ikut siapa-siapa disini. Tidak satupun, Sylaa!” Ujar Jessica tajam.

Dia tertawa bodoh. “Oh, gadis salju… Rupanya kau masih mengingatku.”

“Tentu. Monster bau!” Jessica setengah berteriak sebelum menghadap kami. “Semua! Bersiap!!”

Semua mengangguk dan menghunus senjata masing-masing.

Pria bercelana senam konyol di belakang wanita itu menyeringai tolol sebelum melesat ke atas gerbong kereta.

Tanah menggemuruh, rel-rel kereta berdesing. Ada suara monster terkekeh di suatu tempat di bawah permukaan tanah.

Saat aku menoleh ke belakang, dari balik jendela kereta barulah aku pertama kalinya melihat monster secara jelas. Tinggi tubuhnya paling tidak dua meter, dengan dua lengan dan empat kaki yang bersisik seperti sapu lidi. Dia tak mengenakan pakaian kecuali baju dalam—untungnya. Celana merah muda cerah—yang mungkin sebenarnya menggelikan, tapi bagian atas dan bawah tubuhnya demikian menakutkan. Bulu kasar warna cokelat dimulai sekitar pusar dan semakin lebat saat mencapai bahu.

Lehernya merupakan kumpulan otot dan bulu yang menopang kepala raksasa. Di kepalanya ada sepasang antena lidi, lubang hidung beringus yang dihiasi cincin kuningan berkilau, mata hitam—yang sama sekali tak ada bagian putihnya terlihat kejam.

Jelas aku tahu monster apa itu. Terima kasih tuhan, telah memberiku hal terburuk yang belum pernah kuhadapi sebelumnya.

Monster kecoa raksasa bercelana dalam pink hello kitty.

-TBC-

Ps. Yatuhaan… Panjang yaa… #fiuh

Demi tercapainya sembilan chap niiih.. sem-bi-lan #plak

Empat chap lagi yee~ empat chap… Sabaaar… Sabaaar… Hahaha.. Puasa neeh #apahubungannyacobak.

Eh, wait!! Kalo gitu.. last chap bakal tayang pas tepat hari Raya DONG!! Hahahahaha! PERFECTO!! (siapin kartu ucapan yah teman-teman.. saya yakin kalian pasti bakal nyari-nyari saya.. #ketawasetan| GR lu Sya…|Yaudah, kalo gak percaya, mari kita buktikan.. Last chap yee… Last chap pokoknya.. Wakakaka)

Sebelum dan sesudahnya saya ucapkan selamat menunaikan ibadah puasa (bagi yang menjalankannya) semoga Tahun ini dan tahun-tahun kedepannya dapat bertambah berkah #amin

Thanks for~ whosoever made this. wkwkwk
Thank’s for~ whosoever made this. wkwkwk

Videtis Proxima Septimana. ^^/

Iklan

47 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 5”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s