Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 6

NYMPHS — The Lost Crown 

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Dengan berucap Bismillah, kupersembahkan…. GLOSARIUM *revisi ke 3* [Noted : Ada baiknya jika kalian baca sambil buka ini, biar enggak mumet. Thanks]

VI

OMONG-OMONG SOAL MONSTER, KALAU ada yang lebih kubenci dari si logam bersaudara Aurum dan Argentum, adalah monster kecoa bau. Jika kemarin aku melihat kedua anjing bersaudara itu menghembuskan api, kali ini lebih gawat lagi, monster kecoa itu bernapas gas kentut. Dari sini saja aku masih bisa merasakannya. Baunya menyengat seperti kaus kaki bekas yang direndam dalam jamban selama satu minggu. Mengerikan? Banget.

Dan ini bukan kecoa biasa—ini monster kecoa busuk seukuran gajah. Bayangkan, jika kecoa berukuran normal yang nyempil di kamar mandi saja aku sudah lari tunggang langgang, apalagi monster yang berukuran seribu kali lipat lebih besar. Dan bukan itu saja gawatnya. Sepertinya sungut baunya itu bisa mengeluarkan listrik.

Sesungguhnya, jika kau lihat dari pusar ke atas, monster itu pasti bakal terlihat keren jika saja tak mengenakan celana dalam pink hello kitty.

Semua pasukan sudah siap dengan senjatanya. Kulihat tak ada yang gemetar—tak seperti diriku yang mungkin sebentar lagi bakal pingsan.

Kulirik Taeyeon yang berdiri dengan sigap di sampingku, lengkap dengan baju zirah perang dan pedang perunggunya. Matanya menatap lurus pada gerak-gerik monster itu. Dia mengayunkan pedang ke depan, melindungiku.

Aku berbisik padanya, “aku takut.”

Dia menjawab tanpa melepaskan pandangannya dari monster itu, “jangan takut, aku akan melindungimu.” Kata-kata itu entah mengapa bisa membuatku tenang.

Monster itu menyeringai sebal. “Dasar peri-peri bodoh.”

“Terus saja berkata begitu, sebelum aku membekukanmu.” Jawab Jessica tak terdengar ketakutan seolah-olah dia tengah berperang melawan kecoa sungguhan.

“Beeeh… Sayang sekali putri salju… Kau gak bakal bisa membekukanku. Sang Raja Irial sekarang sedang sibuk memproduksi monster anti beku.” Gema tawanya meretakkan dinding-dinding gerbong kereta, membuatku merinding.

Coba katakan, jika saja situasinya tidak begitu berbeda, aku pasti sudah tertawa terpingkal-pingkal. Putri es berperang melawan monster kecoa bercelana dalam hello kitty dan anti beku pula. Coba pikir, betapa konyolnya hal tersebut, seandainya saja sekarang ini aku tengah bermain game-player.

Jujur saja, aku akan memilih karakter kecoa bercelana dalam merah muda, terdengar imut. Seandainya situasinya berbeda.

Namun, sekarang yang kuhadapi adalah situasi yang sesungguhnya terjadi. Aku takkan menyalahkanmu jika kau berpikir ini terlalu konyol. Jika aku jadi kau, aku juga bakal berpikir demikian. Terlalu konyol dan mengada-ada. Namun sayangnya, dalam kondisiku sekarang, aku tak dapat berpikir ini bukanlah sebuah realita. Walaupun, jauh lebih baik jika aku berpikir ini hanyalah khayalanku saja.

Namun kakiku yang gemetar, sudah tidak bisa ditolerir lagi betapa nyatanya monster hello kitty kecoa ini. Baunya saja sudah dapat membuat patung air mancur di rumah gorgon muntah-muntah. Mungkin dia hanya satu dari sekian alasan mengapa manusia berpikir kaus kaki berbau seperti kubangan jamban.

Mungkin setelah ini usai—dan jika benar-benar usai, aku berjanji akan membeli sekardus semprotan anti serangga. Terutama yang dapat memusnahkan kecoa raksasa bercelana dalam pink hello kitty, memusnahkan secara harfiah.

Aku hampir saja terlambat bergerak waktu monster itu hendak mengayunkan kapaknya yang seukuran gergaji mesin saat tiba-tiba terdengar suara gemerisik seperti es yang membeku. Sayang hanya sampai di situ saja, kecoa itu tak bergerak. Melotot pada kami dengan tatapan murka. Tubuhnya mengeras seperti batu dengan posisi tangan yang hendak mengayunkan kapak dan menebas kami semua. Hanya antenanya yang sesekali mengeluarkan bunyi desisan listrik.

Jessica bergerak lebih cepat. Matanya berubah warna biru terang, ada sinar biru yang keluar dari matanya seperti gas LPG. Mulutnya berkomat-kamit mengatakan sesuatu yang tak kuketahui artinya, tumben. Tapi aku tak ambil pusing, lebih baik jika aku tak pernah tahu.

Di mulai dari kakinya yang terbalut serpihan kristal, lalu memadat, membungkusnya seperti es lilin perlahan sampai membalut seluruh tubuhnya dengan sempurna—termasuk celana dalam merah mudanya. Monster itu membeku sebelum sempat menyerang kami. Thanks to Jessica.

“Kita belum sampai Terminus, perbatasan Faylinn dan Irial. Jadi kekuatan kamuflase kita masih berfungsi.” Jelas Sunny. “Berapa kilometer lagi Seo?”

“Sekitar dua sampai tiga puluh lagi.” Jawabnya sambil memainkan jari pada layar I-pad di tangannya. Dapat kuasumsikan itu versi Bieena dari Google Map.

“Tidakkah kalian berpikir tadi  itu terlalu mudah?” Tanya Yoona mengitari monster beku itu seperti predator.

“Tidakkah kau berpikir kita harus bersyukur?” Jawab Yuri. Disusul anggukan oleh yang lain.

“Untuk sekarang, kita lakukan saja seperti seharusnya.” Jawab Seohyun, “aku akan mencoba mencari tahu apa yang sebenarnya mereka inginkan.”

“Sebaiknya, kita cepat mengajarkan bocah itu mengeluarkan giris-nya selagi beberapa dari kita membantu masinis memperbaiki kereta. Itu akan sangat membantu sekali.” Usul Jessica, sebelum kembali duduk di kursi depan. Terlihat sekali dia sangat kelelahan, ternyata membekukan juga menguras banyak energinya. Yuri berjalan mendekatinya sambil membawa segelas penuh cairan oleandor, namun Jessica menolak dan bergumam di tengah napasnya yang tak beraturan, “aku baik-baik saja.”

*-*

Giris. Kekuatan. Tenaga. Pikirkan itu adalah semacam aura dalam tubuhmu. Tergantung pada jenis dan bakat terdalammu.” Kata Seohyun.

“Bagaimana kalau kita tidak punya bakat?”

Sooyoung tertawa seolah perkataanku barusan itu konyol sekali. “Tentu saja semua nymph terlahir berbakat Stephany. Hanya saja itu tergantung kebijaksanaan kita mau memanfaatkannya atau tidak.”

“Lagi Steph..”

Seohyun mengajariku dengan tegas. Barang kali dia masih ada garis-garis keturunan dari Hitler.

“Jika kau ingin menggunakan giris-mu, hanya tiga hal yang kau perlukan. Satu, tempat yang membuatmu bahagia. Dua, orang yang paling kau cintai. Tiga, kenangan yang ingin kau jaga selamanya.” Ujar Taeyeon.

“Tunggu! Jadi maksudmu, kita harus memikirkan hal-hal yang menggembirakan sembari melawan monster yang bakal mengancam hidup kita? Berbahagia menjelang kematian?”

Ini seolah kita merayakan pesta peti mati. Aku benci ujian, namun semua ini membuatku membayangkan hidupku bakal seperti mengisi kertas ujian yang bolong-bolong. ‘Selamat datang di tempat yang paling ingin kukunjungi___________, dengan orang yang paling kucintai bernama__________, melakukan hal-hal________.’ Sambil bertarung melawan monster. Sama-sekali tidak keren.

“Tidak selalu, itu hanya permulaan untuk memancing girismu keluar secara natural. Jika kau sudah mahir, kau tak perlu memikirkan hal-hal semacam itu karena girismu akan keluar dengan sendirinya saat kau membutuhkannya.”

“Di manapun?” Tanyaku.

“Ya.” Jawab Yoona, yang kurasa tidak memiliki kesulitan terbang-atau memang sudah terbiasa. Sedetik kemudian—aku baru ingat kalau dia memang terpilih mengikuti misi ini karena dia merupakan peluncur terbaik Bieena. Tidak konyol.

Aku menatap mereka satu-persatu sebelum bertanya.

“Tunggu. Kita masih dapat menggunakannya walaupun sudah berada di Irial?”

“Walau bagaimanapun, Irial dan Feylinn adalah bagian dari Bieena.” Jawab Seohyun yang langsung terbang kearahku. “Itu dinamakan kekuatan di luar kamuflase. Seperti terbang dan giris. Kekuatan yang limit di luar Bieena adalah kekuatan dalam wujud aslimu. Contohnya jika kau peri matahari, kau tak lagi bisa membuat cahaya, atau peri salju tak dapat lagi membekukan.”

Aku menjawab dengan sesuatu yang terdengar cerdas seperti, “Oooohh.. Keren.”

“Kembali berlatih, Stephany!” Seohyun menepuk pundakku. “Sudah siap?”

Aku mengangguk.

“Sekarang, pejamkan matamu.” Aku menurutinya.

“Pertama…” Dari suaranya, aku dapat mengenalinya. Siapa lagi yang memiliki suara se-menenangkan ini kalau bukan Taeyeon. “Tempat yang paling ingin kau kunjungi.”

Hampir saja aku menjawab saat Seohyun menyela. “Jawab dalam hati.”

Aku kembali mengangguk.

“Kedua.. Orang yang paling kau cintai…”

Sambil berkonsentrasi penuh, aku merasakan sesuatu dalam perutku terkoyak.

“Terakhir… Kenangan yang selalu kau ingat.”

Aku merasakan sesuatu yang melesak meminta untuk keluar dari dalam tubuhku, sesuatu yang begitu hangat dan nyaman. Dejavu. Perasaan itu kemudian naik ke bahu dan lenganku.

“Apa kau dapat merasakannya Fany?” Tanya Taeyeon dengan hati-hati.

Aku mengangguk lagi.

“Pertahankan… Ulangi kenangan-kenangan itu tadi dalam kepalamu.” Kata Seohyun dengan tenang, mungkin dia tengah berusaha untuk tidak mengganggu konsentrasiku.

“Nah sekarang, bayangkan girismu perlahan keluar dari perutmu dan mengalir ke seluruh tubuhmu.” Lanjut Taeyeon.

Aku berusaha untuk fokus, tapi perasaan itu terus menggangguku. Sebentar-sebentar kenangan itu membawaku kembali memikirkan hal-hal lain seperti: kira-kira bagaimana ya reaksi Appa melihatku dapat mengeluarkan cahaya. Pasti keren.

Namun, semakin aku memikirkannya, semakin perasaan itu melemah dari tubuhku. Kembali masuk.

“Fokus Stephany Hwang!” Desak Seohyun.

Aku menarik napas. Namun, pikiran lain kembali menggangguku. Appa dan Umma pasti khawatir karena seharian aku tidak pulang.

“Stephany Hwang!”

Saat aku tersadar—sudah terlambat. Perasaan itu menghilang sepenuhnya.

“Sudah kubilang!! Fokus! Kendalikan emosimu. Biarkan stabil. Jangan pikirkan yang lain. F.o.k.u.s!”

Jujur, aku merasa sedikit terkejut dengannya. Sepertinya ia tengah kehilangan pengendalian dirinya. Aku merasa bersalah sih. Tapi, salahkan pikiranku yang enggak bisa fokus.

“Dia bukan orang pertama yang gagal dalam sekali coba Seo..” Taeyeon berusaha menenangkan.

“Coba sekali lagi Steph.. Jangan patah semangat.” Teriak Yoona dari ketinggian tiga meter di atas tanah tepat di atasku. Aku harus benar-benar mendongak untuk melihatnya. Sesekali dia meluncur sambil nyengir ke arahku.

“Ada satu hal yang kau lupakan.” Sela Sooyoung yang tengah duduk-duduk santai di pinggir kolam yang berjarak beberapa meter dari tempatku berdiri. Aku bahkan tidak sadar jika dari tadi kami berdiri di dekat kolam yang cukup lebar. Lagi pula sejak kapan ada kolam di dekat rel kereta api?

“ Memangnya apa yang kulupakan?” Tanyaku.

“Dalam mengendalikan giris, ada satu hal paling penting yang mungkin terlupakan.” Nimfa naiad itu kini beralih padaku sepenuhnya. “Kepercayaan.” Wajahnya berubah begitu serius.“Kau harus percaya bahwa kau bisa melakukannya.”

Wajah Taeyeon menggelap. “Benar… Kepercayaan..” Timpalnya.

Yoona meluncur turun dengan indah di atas kolam lalu menghampiri Sooyoung dan berbisik, “memangnya itu termasuk ya? Kok aku nggak pernah dengar?”

“Tutup mulutmu Yoong.” Desis Sooyoung.

Aku berusaha memfokuskan kembali pikiranku. Mengulangi semua dari awal. Mencoba yang terbaik dengan segenap kepercayaan yang kupunya. Aku membayangkan sesuatu yang berdenyar mendesak keluar dari perutku, mengalir ke seluruh tubuhku.

Sesaat, kurasakan sesuatu yang berat di dadaku. Kucoba untuk mengabaikannya dan kembali fokus.

“Fokus Steph..”

Perlahan, sesuatu yang hangat terasa di sela-sela jemariku. Kurasakan seluruh tubuhku gemetar, bulir-bulir keringat mengalir lambat dari dahi lalu membasahi wajahku dan kemudian leher.

“Ayo Steph, sedikit lagi.”

Aku hampir saja menyerah saat kurasakan tubuhku semakin ringan—bahkan sangat ringan seperti kapas.

“Bayangkan tubuhmu bersinar dengan warna yang kau suka.”

Rasanya aku ingin berteriak saat kubayangkan tubuhku berdenyar; PINK!

“Ugh!” Terdengar erangan tak jauh dariku.

Aku mulai membuka mata, dan kudapati diriku melayang setinggi sepuluh inci, tidak tinggi memang tapi lumayan buat permulaan. Tubuhku bersinar—dan benar-benar berwarna pink. Terima kasih Tuhan..

Tubuhku semakin ringan saat kucoba bergerak di atas. Rasa tidak nyaman menjalar di sekitar punggungku. Tapi kupaksakan tubuhku tetap melayang—melewati Taeyeon yang mengacungkan kedua jempolnya padaku sambil berteriak. “Amazing!” Sementara beberapa hanya tersenyum dan mengernyih.

Saking penasarannya, aku terbang melintasi gerbong kereta dan menatap bayangan diriku di depan jendela kereta. Kaget? Sungguh. Siapa yang mengira aku bakal punya sayap merah muda yang begitu mengagumkan. Sempurna! Sayapku melekuk di tempat-tempat yang tepat—tidak terlalu lebar seperti punya Sunny—tapi juga tak seramping Hyoyeon. Benar-benar sempurna.

Jika kau lihat dari samping, urat-uratnya bakal tampak seperti tetesan air hujan rintik-rintik (pengecualian; berwarna pink) yang membekas di jendela. Indah—dengan denyar pinkish tampak begitu memikat. Aku tidak narsis sih, tapi aku benar-benar terlihat semakin rupawan dengan gaun senada dengan warna sayap dan tatanan rambut yang terkepang dan tersanggul rapi, seolah membingkai wajahku dengan sempurna.

Nah, sekarang ada satu masalah yang harus kuhadapi nih—aku tidak tahu cara mendarat. Bodohnya, aku meliuk sebelum memikirkan cara terbaik untuk menapak tanah dengan kedua kakiku. Sayangnya—aku tidak melihat dahan pohon kecil setinggi dua meter yang melintang tepat di hadapanku—sebelum aku sempat menghindarinya.

Sepertinya dahan itu memang sengaja—tapi ujung stolaku tersangkut di satu dahannya yang seruncing mata pancing. Sial—mungkin saja sekarang aku sudah siap disandingkan dengan koala. Tubuhku berayun kedepan-kesamping-kebelakang, Yoona dengan tawa khas-nya membuat angin di sekitarku semakin bergerak tak keruan arah.

Burung-burung berukuran jumbo yang berparuh warna-warni mengitariku, mematuk-matuk ujung dahan, seolah tahu. Seakan mereka tengah berusaha membantuku melepaskan ujung stola yang terkait dahan bodoh sialan itu. Namun, aku tak seberuntung itu.

Aku melambaikan tangan pada pasukanku sambil melemparkan tatapan memelas. Walau memalukan, tapi lebih menyedihkan lagi kalau aku tidak bisa turun dan terjebak di sini selamanya bersama patung monster kecoa. Itu tidak lucu.

Taeyeon terbang ke arahku dan mencoba membuka kaitan sambil menahan senyum. Konyol, aku bahkan tidak bisa lagi menghitung berapa banyak kebodohan yang sudah kulakukan di depan mereka.

“Hey, Taeyeon—maafkan aku, tapi jika kau lepaskan begitu saja stolanya dari dahan itu. Aku bakal jatuh.” Kataku bergelantungan sambil menunjuk-nunjuk ujung dahan.

Taeyeon terkikik, “kau kan sudah punya sayap untuk menyeimbangkan tubuhmu Fany…”

“Aku masih belum benar-benar bisa menggunakannya.” Gumamku. “Tapi, mungkin kau benar. Aku harus mencoba.”

“Bagus… Sekarang, ku lepas yaa…” Taeyeon perlahan menarik ujung stolaku yang tersangkut dan melepaskannya. Pertama, aku merasa seolah ada yang menarikku dari bawah—dan aku mengikutinya saat sebuah tangan menarik lenganku kembali ke atas. “Coba kepakkan sayapmu perlahan Fany..”

Dengan bantuan Taeyeon, yang menuntunku terbang sambil bergandengan tangan—ini terasa begitu menyenangkan. Seandainya saja, Jessica tidak keburu mengingatkan kami semua untuk kembali masuk ke dalam kereta dan melanjutkan perjalanan menuju Selatan.

*-*

 Perjalanan dalam kereta membawa kami sampai pemberhentian terakhir, Stasiun di dekat Pelabuhan Anthemusa. Nah, menurut informasi yang kudapat dari Seohyun tadi, -selain tindak penyelamatan diri- dia berkata bahwa untuk sampai ke Pelabuhan Anthemusa, kita harus melewati sebuah kastil tersembunyi, yang hanya Seohyunlah yang tahu bagaimana cara menemukannya.

Yoona menghapus embun dari jendela kereta dan mengintip ke luar gerbong. “Oh, asyik. Bakalan seru nih.”

Setelah beberapa mil terbang—kami akhirnya sampai di depan gerbang sebuah bangunan tua yang tak terawat, namun tampak begitu kokoh dan mungkin saja sangat berbahaya.

Begitu kami masuk, tempat itu tampak seperti kastil milik kesatria jahat. Gedung itu berbatu hitam semua dengan menara-menara dan jendela-jendela melengkung dan satu set besar pintu ganda kayu. Gedung itu bertengger di tebing salju dengan pemandangan hutan luas berselimut salju di satu sisi dan gulungan laut abu-abu di sisi lain. Dekorasi gedung itu tampak seperti pemeran pembantaian. Sungguh.

Aku memain-mainkan gaunku yang terbuat dari kain yang begitu halus seperti beribu benang sutra yang dipintal dengan terampil sambil terbang dan berputar-putar-dan tetap menjaga fokus agar tidak tertinggal rombongan. Rendanya berwarna hot pink yang begitu mencolok. Tapi untung saja sebagian besar gaunku bernuansa pastel dan soft pink.

“Pink… Ibuku begitu menyukai pink.” Sorak Yoona. “Ahh.. Aku jadi merindukannya.”

“Benarkah? Aku dan ibuku juga sangat menyukainya.” Jawabku. “Dan aku juga mulai merindukan ibuku.” Aku berpikir bagaimana khawatirnya Umma, jika dalam tiga hari aku belum pulang juga. Aku harus sudah di rumah saat umma dan appa kembali dari liburannya di rumah nenek.

“Oh, pasti seru.. Ceritakan bagaimana ibumu.” Tanya Yoona dengan antusias.

“Ibuku orang yang menyenangkan. Tapi, aku masih belum percaya bahwa dia itu Nymph. Dia tampak normal seperti manusia pada umumnya. Tidak punya sayap, dan tubuhnya tidak mengeluarkan cahaya seperti para nymph.”

“Mungkin saja dia  naiad” Jawab Sooyoung. “Apa dia cantik?” Aku melihat pancaran mata Sooyoung berkilat-kilat saat menanyakannya seolah hendak berkata; ‘dia pasti cantik, jika tidak itu berarti dia bukan berasal dari golongan naiad’ dan tatapan itu membuatku mual.

“Tentu.. Hanya saja, aku berpikir dia tak begitu mirip denganku.. Tapi sangat baik dan sangat perhatian. Walaupun menurutku agak-agak protektif.”

“Waaah.. Pasti menyenangkan..” Timpal Yoona.

“Umm.. Yeah, terkadang jika liburan sekolah, aku dan Umma suka menghabiskan waktu liburan di suatu tempat.” Jawabku sambil kembali memainkan kenangan-kenangan itu, lalu kurasakan kepakkan sayapku mulai tidak stabil. Dan bayangan itu segera kumusnahkan dari pikiranku.

“Dia pasti sangat menyayangimu.” Gumam Jessica yang berjalan tepat di belakangku. Aku tersenyum, tak percaya dia bisa mengatakan hal semacam itu.

“Pasti, kalau kau bagaimana? Ceritakan bagaimana kau menghabiskan waktu bersama ibumu!” Begitu aku mengucapkannya, aku ingin segera menariknya kembali. Jessica adalah jagonya dalam memberi tatapan jahat, dengan gaun yang berwarna abu-abu gelap dan entah mengapa tampak begitu berbahaya, pensil mata hitam dan mata birunya yang menusuk. Tapi tatapan yang dia berikan padaku saat ini adalah tatapan jahat yang sempurna. “Itu sama sekali bukan urusanmu, Fany—“

“Kita sebaiknya masuk,” Taeyeon menyela. “Akan ada sesuatu yang menunggu di dalam.”

Hyoyeon menggigil. “Kau benar, tempat ini sepertinya menyeramkan.”

Aku mendongakkan pandangan pada menara-menara gelap. “Pastinya bukan sesuatu yang baik.” Tebakku

Pintu-pintu kayu ek itu berderit membuka, dan kami bertiga melesat memasuki aula depan dengan jejak embusan salju beputar-putar menyelubungi kami. “Kau yang melakukannya?”

“Apa?” Jessica menatapku datar.

“Bukan apa-apa kok.” Jawabku sambil terus terbang masuk ke dalam mengikuti yang lain.

Begitu aku melewati pintu ek sebesar gerbang sekolah, yang bisa kukatakan hanya, “whoa!”

Tempat itu jauh lebih hebat dari gudang senjata yang tersembunyi di ruang principa. Tembok-tembok marmernya berwarna gelap, lengkap dengan seperangkat perlengkapan senjata-beserta sepasukan patung berkostum zirah dengan tatanan medan perang sungguhan.

Saat kami semakin masuk ke dalam kastil itu, aku mencium bau sesuatu, seperti aroma seratus bunga paling wangi di dunia. Baunya begitu memabukkan—dan sangat membingungkan. Kadang, aku mencium sari mawar—lalu anggrek—kemudian daisy. Tapi aromanya hampir-hampir membuatku gila.

Ya, silahkan sebut aku tolol. Kau pasti belum pernah mencium aroma seperti ini seumur hidupmu di bumi. Aromanya seperti gas tertawa di dalam rumah sakit sebelum kau mendapat suntikan di bokongmu—mengusir segala hal lain. Aku hampir tak memperhatikan erangan Yoona, atau bahwa mata patung-patung itu tampak mengikutiku, atau kenyataan bahwa pintu dibelakang kami tiba-tiba saja tertutup.

“TUTUP HIDUNG KALIAN !!” Teriak Yoona mencoba memperingatkan kami. Hanya dia satu-satunya yang berwajah normal. Lagi pula, kenapa sih cuma dia yang selalu tak terpengaruh dengan hal-hal yang normalnya sangat persuasif sekali.

Semua mulai kebingungan. Sebentar-sebentar wajah mereka tampak gelisah, sebentar pancaran mata mereka berkilat-kilat penuh damba. Aku terbang mendekatinya. “Mereka kenapa sih?”

“Tipuan sihir, kali ini aroma. Setelah sebelumnya mereka menggunakan charmspeak.”

“Sebelumnya?” Tanyaku.

“Yeah, ingat wanita bercadar yang kita temui di pemberhentian saat kereta tua bodoh itu mogok?”

“Oh, yeah.. Aku ingat. Dan mengapa kau tak terpengaruh juga?”

“Aku juga punya kekuatan semacam itu, jadi suara tak dapat memengaruhiku.”

“Oh…” Aku menggaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “Tapi kau tidak bilang bau juga tidak mempengaruhimu kan?”

“Yeah.. Untungnya, kebetulan hari ini aku sedang pilek. Jadi tidak bisa membau.” Kali ini Yoona menyeringai tolol.

Aku menatapnya tak percaya, setelah semua kegilaan ini, mendengar fakta bahwa nymph juga dapat terserang pilek terasa begitu konyol.

“Hey, kulihat kau juga tak terpengaruh.” Tanya Yoona.

“Oh—ya.. sedikit.. tapi, tidak seperti mereka. Aku juga tidak tahu mengapa.”

“Lebih baik kita sadarkan mereka sekarang dan mencari jawabannya setelah ini.”

“Kurasa kau benar.”

Yoona melesat secepat kilat ke arah Seohyun dan langsung menyumbat hidungnya. Awalnya, gadis itu tampak sedikit kebingungan sebelum kembali fokus dan melihat sekitar. Sepertinya dia tersadar dan langsung terbang ke arah Jessica. Sementara itu, kulihat Yoona sedang berusaha melakukan hal yang sama pada yang lainnya.

Aku mengambil inisiatif untuk membantu mereka. Aku berputar, meliuk sedikit ke samping kiri dan menabrak Taeyeon. Kuputuskan dia adalah orang pertama yang harus kusadarkan. Wajahnya tampak sepenuhnya mendamba—entah apa namun tatapannya padaku seolah dia tengah melihat mata air di tengah gurun Sahara.

Aku mengguncang-guncang pundaknya, “Taeyeon! Sadarlah.” Namun enggak mempan. Matanya semakin berkilat-kilat menatap tepat padaku dan tatapan itu seolah ingin segera melahapku bulat-bulat.

Aku kontan menutup hidungnya. “Taeyeon… Kumohon..” Tubuhnya bergetar—kemudian dia menggeleng-gelengkan kepala.

“Apa yang—?” Tanyanya, masih dengan wajah kebingungan.

“Nanti saja… Tutup hidungmu!” Kataku.

Kulihat hampir semua sudah sadar. Lalu terdengar tawa mengerikan yang menggema entah dari mana.

“Jangan melakukan hal-hal yang dapat membahayakan diri kalian.” Kata Seohyun, suaranya terdengar sedikit sengau karena membungkam hidung dengan satu tangannya sementara tangan yang lain sibuk menghunus anak-anak panah di belakang lehernya. “Menyeranglah hanya jika nyawa kalian terancam.”

Kami semua mengangguk, aku berbalik menghadap Taeyeon dan mendapati sesuatu yang ganjal. Mata Taeyeon tiba-tiba saja membeliak. Kepalan tangannya mengeras. Sudah terlambat saat aku menyadari apa arti dari tatapannya. Dia berusaha memperingatkanku.

“FANY!”

Kemudian aku mendengarnya; suara gesekan. Seolah sesuatu yang besar tengah menyeret perutnya di lantai marmer. Membuat suara tersebut terdengar menyakitkan saat lewat di gendang telinga.

Kubalikkan tubuh dan melesat SYUTT! Rasa nyeri meledak di pundakku. Kekuatan seperti sebuah tangan besar menyentakku ke belakang dan membenturku ke tembok.

Kuayun belatiku tapi tak ada yang bisa dikenai.

Suara tawa dingin bergema ke sepenjuru lorong.

Aku berusaha membebaskan tubuhku. Stolaku tertancap ke dinding oleh suatu tusukkan—sebuah proyektil seperti belati hitam sekitar tiga puluh senti. Tusukkan itu menggores kulit pundakku saat ia menembus pakaianku, dan luka sayatan itu membakar. Aku sudah pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Racun.

Kupaksakan diri untuk berkonsentrasi dengan giris-ku aku tak boleh pingsan.

Sebuah siluet hitam sekarang bergerak mendekati kami. Monster itu berjalan ke arah remang-remang cahaya. Dia masih tampak seperti manusia, tapi wajahnya seperti siluman. Dia memiliki gigi-gigi putih sempurna dan mata cokelat kebiru-biruannya mamantulkan cahaya dari katoprisku.

Aku berusaha mengayun katoprisku lagi, tapi dia berada di luar jangkauan.

SYUUT! Proyektil kedua melesat dari suatu tempat di belakang monster tersebut. Dia tidak tampak bergerak. Seolah-olah ada seseorang tak kasat mata yang berdiri di belakangnya melemparkan sejumlah belati.

“Lari!” Sebuah suara memperingatkanku, memecah konsentrasi pengendalian girisku. Sepertinya racun itu sudah menyebar ke seluruh tubuhku. Aku berusaha berdiri tegak—namun bangunan di sekitarku seolah bergoyang-goyang hendak runtuh. Aku memutuskan berhenti sebentar.

“Aku… sedang… berusaha..” Aku mencoba menggapai tubuh monster itu lagi—tapi nihil. Sepertinya dia hanya ingin meracuniku dan meninggalkanku begitu saja. Mati pelan-pelan. Mengerikan.

“Biar aku yang menanganinya.” Suara itu menjawab lagi. Aku mencoba mencari sumber suara—tapi tak ada yang bisa di lihat sebelum lututku terasa nyeri dan tubuhku melemah. Sesuatu memegangiku dari belakang sambil bergumam. “Dasar bodoh.”

“Engh…” Aku berusaha melepaskan diri.

“Berhenti bergerak.. Aku akan menyelamatkanmu bodoh.”

“Taeyeon…” Gumamku.

“Dia sedang melawan monster itu.” Jawabnya tepat di telingaku.

“Sungguh?”

“Apa menurutmu aku punya waktu buat bercanda di saat seperti ini bodoh?”

“Jessica?”

“Kau berani memanggilku begitu?”

“Putri—atau terserahlah. Aku mau membantu Taeyeon!” Aku berusaha melepaskan diri dari Jessica. Namun dia memegagiku erat-erat.

“Taeyeon dan Yuri sudah menanganinya bodoh, kau hanya akan merepotkan mereka saja! Biarkan Hyoyeon yang menyembuhkanmu. Aku akan pergi melihat mereka.”

Aku terlalu lemah untuk melawan lebih lama lagi.

“Steph…” Genggaman tanganku pun terlepas. Aku merasa sekitarku berubah gelap dan aku tertidur di pangkuan seseorang.

Aku terbangun beberapa saat kemudian, kepalaku masih pusing—tapi kulihat Hyoyeon tersenyum padaku. “Kau baik-baik saja?”

“Dimana semuanya?” Aku melihat sekeliling dan tidak mendapati siapapun. “Dimana Taeyeon?”

“Mereka…” Hyoyeon tak melanjutkan kata-katanya. Dia terduduk lesu, wajahnya tampak begitu sendu.

“Hyoyeon…” Desisku. Aku merasa gagal sebagai kapten. Aku tak dapat melindungi anggotaku. Aku hanya merepotkan mereka saja.

Aku melihat sekitar, tapi tak mendapati siapapun. “Kemana mereka semua?”

“Sedang melawan monster di dalam..” Jawabnya. Aku segera bangkit. Menyambar katopris disampingku lalu menudungkannya dalam sabuk pendaki gunung yang diberikan Seohyun beberapa waktu lalu.

“Steph! Kau mau kemana?” Hyoyeon berlari ke arahku. Namun aku segera menghindar dari jangkauannya.

“Aku harus membantu mereka!” Sergahku.

“Jangan! Kau belum pulih benar. Kekuatanmu masih setengah-bekerja.” Ia masih berusaha menangkapku.

“Maafkan aku, tapi aku bertanggung jawab atas mereka.” Teriakku kemudian melesat melewati pajangan tengkorak-tengkorak kering di sisi tembok. Kastil itu memang berbahaya. Namun, hanya di situlah kita bisa melewati perbatasan dan memasuki Irial melalui jalur laut.

Aku melihat Yuri dan Taeyeon tengah berjuang menusuk moncong monster sebesar truk gerigi besi . Sekarang lain lagi. Monster itu adalah mimpi buruk dari dokter gigi. Besarnya seukuran badak dengan tinggi setidaknya lima meter. Sosoknya mungkin tak terlalu mengerikan—namun mulut hitam dan moncong besinya membuatnya terkesan begitu menjijikkan. Saat monster  itu menganga, susunan gigi proyektil terburuk dan supertonggosnya tampak vulgar. Bisa kau bayangkan betapa hancurnya wujud monster tersebut. Proyektil-proyektil yang menyusun gigi dan lem superlengket yang menyusun rahangnya seolah memberi kesan bahwa ia hanya makan selama berabad-abad tanpa pernah menyikat gigi. Pasti proyektil itu bau sekali.

Kulirik Seohyun sedang sibuk mendelik padaku. Memperingatkanku untuk tidak berbuat macam-macam. Tapi, walau bagaimanapun juga akulah yang memimpin misi ini. Bukannya aku membenci Putri Seohyun. Dia orangnya baik.  Bukan salahnya dia terpilih sebagai Pengabdi Kesayangan—haruskah aku menyebutnya Yang Mulia Ratu Diana? Dan yeah, dia mendapat seluruh perhatian… Namun, tetap saja aku kan tak perlu selalu berlari ke dirinya untuk menyelesaikan setiap masalah. Lagi pula, kami tidak punya banyak waktu. Aku tahu diriku belum banyak berpengalaman, dan di sana Taeyeon sedang dalam ancaman bahaya. Kuhunus belati dari selempitan gaunku dan berlari mengejar monster itu.

Aku mencoba berkonsentrasi pada girisku hingga kurasakan sayapku melesak keluar.

“Fany!” Taeyeon berteriak padaku. “Apa yang—akh!”

Aku mendelik saat kudapati Taeyeon tengah mengerang akibat kehilangan fokusnya. Saat ini, dia tengah berjuang untuk mendapatkan kembali kendali atas dirinya sembari berusaha menampik luncuran proyektil yang ditujukan padanya. Aku terbang mendekat dan melemparkan giris pertamaku. Kemerlip seperti bintang—keluar dari sela-sela jariku dan bergerak lurus kearah monster tersebut—hingga ia mengerang kesakitan.

“Apaan tuh?” Tanya monster itu sambil mengerang, gema yang ditimbulkan dari suaranya yang menggelegar membuat kudukku merinding.

Tak beberapa lama kemudian, kudapati semuanya tengah melongo ke arahku.

“Apa?” Tanyaku.

“F—fany?” Yuri menunjuk sesuatu di atas kepalaku. Saat aku mendongak, kulihat tatanan rambutku sudah berubah, dan ada sebuah mahkota dari mutiara yang melingkarinya.

Ini mustahil.

Aku masih terpana—dan aku terlambat, monster itu melempar satu proyektil padaku hingga tubuhku terhempas sejauh enam meter dan menabrak tembok. Satu tulang kering dari tengkorak pajangan jatuh hampir menimpa tubuhku. Entah sejak kapan aku memiliki refleks sedemikian cepat. Aku berguling dan menghindar—menabrak sebuah patung berkostum zirah. Hanya patung besi biasa—tapi tubuhku semakin melemah saat menyentuhnya.

Semua berlari ke arahku saat sesuatu—seperti bola terlontar menonjok perutku. Aku terjengkang di tengah-tengah lantai hingga menabrak patung tersebut—kekuatanku semakin lemah. Aku mencoba mencari pegangan—tanpa pikir panjang kuraih lengan patung itu untuk bantuan berdiri. Namun tenagaku seolah habis terkuras.

“Stephany! Jangan disentuh!” Teriakan Taeyeon membuatku menoleh ke arahnya. Kusadari sekarang ia tengah berjuang keras melawan monster itu dengan pedang perunggunya—namun monster itu terlalu gesit dan berkali-kali menghindar dari sabetan Taeyeon.

Aku mencoba berdiri. Memangnya apa yang tak boleh disentuh.

Jessica berdiri di belakang patung itu sambil bergumam—sesuatu yang tak kuketahui. Monster itu sedikit membeku—namun kemudian meleleh dan begitu seterusnya. Sunny melemparkan sejurus cahaya—tapi hanya menembus tubuh monster itu hingga tertawa mengerikan.

“Kekuatan kita sudah limit.” Gumam Sunny.

Pandanganku mengabur. Rasanya seolah aku baru saja dilemparkan sejauh seratus meter oleh seekor gorila raksasa.

Hyoyeon berteriak, “Stephany! Membungkuk!”

Aku berguling—dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Sebuah proyektil melintas kencang di balik kupingku dengan kecepatan suara.

Syuuut!

Aku sudah murka. Kucoba berdiri dan memfokuskan girisku. Kuabaikan tubuhku yang gemetar hebat dan lututku yang melemas. Seakan tulangku terbuat dari lilin dan meleleh.

Kudapati jemariku berdenyar kemerahan—kuarahkan kekuatanku sepenuhnya dan melemparkan sejurus cahaya keperakan padanya hingga makhluk tersebut mengerang kesakitan.

Energiku habis terkuras. Aku kelelahan—semua itu melahap habis tenagaku.

Hyoyeon sambil membawa termos—yang kutebak berisi cairan oleandor. Berlari ke arahku, namun naas baru saja beberapa langkah—monster itu bangkit dan melambaikan tangannya pada Hyoyeon.

Nimfa itu berteriak kencang sekali sebelum menghilang bersama tawa monster yang bergema di sepenjuru ruangan.

Hening. Tak ada yang berbicara selama beberapa saat.

“Bodoh.” Gumam Jessica dengan tatapan jahat yang begitu mengintimidasi.

“Apanya?” Tanyaku.

“KAU!” Ini pertama kalinya aku mendengar Jessica berteriak sedemikian kencang.

“Aku?”

“Ya! Kau Steph!! Seharusnya tadi kau tetap berada di luar!”

“Yah! Aku hanya berusaha membantu.”

“Kau tidak membantu!! Kau merusak segalanya!!!” Sergah Jessica. Embusan salju keluar dari mulutnya saat ia berteriak. Kurasa, sekarang ia benar-benar marah.

“Aku..”

“Tadi.. Saat sebelum kau datang, kami sudah hampir mengalahkannya. Saat konsentrasi Taeyeon teralihkan.” Sooyoung mengatakan hal itu seolah-olah yang tadi itu adalah kesalahanku.

Kulihat dari tadi Taeyeon hanya diam saja. Baik kurasa ini adalah kesalahanku. Aku merasa gagal dan terbuang. Tugasku sebagai kapten adalah melindungi mereka, bukan malah menambah beban mereka. Kurasa aku memang gak berguna.

Aku berlari memasuki kastil lebih dalam—bersembunyi. Tak ada gunanya lagi aku mengikuti misi ini.

Aku meringkuk dibalik tembok-tembok yang sudah lumutan. Disini dingin, tapi rasa bersalahku lebih menggigit—melahapku perlahan-lahan.

Seandainya saja tadi aku tak berlari.

Seandainya saja tadi aku tak berusaha melawan monster itu sendiri.

Seandainya saja tadi aku tetap bersama Hyoyeon di luar.

Pasti semuanya masih baik-baik saja.

Tak ada yang menghilang.

Masih ada Hyoyeon yang menyembuhkan kami semua.

-TBC-

Ps. Em.. Gimana puasanya? Lancar? Wahaha..

Sebenernya, chapter ini sampe 6000 an words bahkan hampir nyentuh 20 an pages.. Tapi, demi kenyamanan reader, dengan senang  berat hati, gue cut buat next chap~ wakakaka

(Halla, bilang aja lu thor kalo belum ngerapiin itu part)

Iya deh yang gak waras ngalah .-.

Oh ya Sasya mau nanya, kalo kalian disuruh milih (ato sekarang emang lagi jalanin) kalian bakal pilih Business Administration and Finance atau Accounting and Tax ? Trims~ ditunggu ya ^.<

Iklan

44 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 6”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s