Fantasy, SNSD, SOSHI FF

NYMPH(s) Chapter 7

NYMPHS — The Lost Crown

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Dengan berucap Bismillah, kupersembahkan…. GLOSARIUM *revisi ke 3* [Noted : Ada baiknya jika kalian baca sambil buka ini, biar enggak mumet. Thanks]

*ini mungkin agak telat, tapi gak papalah lebih baik terlambat daripada gak sama-sekali. Haha.. Semoga membantu*

Feylinn Map
Faylinn Map

VII

AKU SEDANG MENATAP LAUT SAAT Taeyeon menemukanku.

“Hey…” Sapanya.

“Taeyeon…”

“Bagaimana perasaanmu?”

“Tidak perlu khawatir,” dalihku. “Aku baik-baik saja.”

Sebenarnya kalau boleh jujur, aku jauh dari kata ‘baik-baik saja.’ Bayangkan saja, aku telah membuat penyembuh terbaik Faylinn menjadi tawanan monster atau bahkan lebih buruk—menjadi hidangan pembuka santap siang para monster yang nikmat. Aku merasa begitu menyedihkan.

Kemudian, sekonyong-konyong Taeyeon memelukku—rasanya hangat sekali. “Emm… Aku tak berbakat menghibur sih tapi..” Taeyeon melepaskan pelukannya padaku. Baru beberapa detik saja, rasanya aku sudah merindukan kehangatannya. Lalu dia mengulurkan sebuah sapu tangan biru langit padaku. “Kupikir kau membutuhkannya.”

Aku tersenyum saat menerimanya. “Terima kasih.”

“Kuharap kau merasa lebih baik.”

“Berkat kau datang…” Aku kembali tersenyum. “Terima kasih lagi.”

“Untuk?”

“Sudah datang kemari.”

“Kupikir aku adalah protegturmu. Dan seorang protegtur harus menemani tuannya saat apapun juga.”

“Maaf.. Aku telah menambah beban kalian semua.” Sesalku.

“Semua orang melakukan kesalahan. Kau bukan orang pertama yang melakukannya.”

Dia berhenti sebelum kembali menatapku.

“Oh ya.. ada yang ingin bertemu denganmu.”

Aku mengerutkan alis. Tiba-tiba ada sesuatu melesat secepat kilat dan berlari ke pangkuanku. Aku memekik. “FEY!”

Dia menjilat-jilat pipiku. Berkat liurnya, aku merasa lebih baikan.

“Maaf nona, tapi namanya Ginger.” Taeyeon nyengir padaku.

Aku tertawa bersamanya. “Maaf, Ginger…” Aku mengusap-usap bulunya. Terasa halus sekali di telapak tanganku. “Kok bisa ada di sini?”

“Mungkin dia membuntuti kita dari tadi. Lihatlah.” Ada sekumpulan anjing yang menghampiri kami. Ada sekitar empat atau lima anjing di hadapanku kini. Aku tak dapat menghitungnya dengan jelas karena mereka berputar-putar dan melolong kegirangan.

Tapi ada satu dari mereka yang mengingatkanku pada Prince Fluffy di rumah. Aku jadi sentimentil lagi.

“Hey, siapa namamu?” Tanyaku. Namun anjing itu menunduk lesu.

“Dia tak punya nama.” Jawab Taeyeon sambil mengelus-elus bulunya. “Kasihan sekali.”

“Oh… Kalau begitu, boleh aku memanggilmu Romeo?”

Mata anjing itu berbinar-binar saat menatapku.

“Dia berkata bahwa ia sangat menyukainya.”

“Oh..” Romeo mengusap-usapkan kepalanya di perutku. “Hey, aku baru tahu kamu bisa bicara sama binatang?”

Taeyeon terkekeh. “Tentu saja, aku ini adalah keturunan peri hutan—jadi yeah.. Aku bisa berbicara dengan hewan.”

“Ohh…” Aku terus mengusap kepala Romeo yang bertingkah manja padaku saat aku teringat sesuatu yang barangkali begitu penting. Taeyeon bilang apa tadi?

“Kau bilang apa tadi? Kau keturunan?”

Terlihat sekali Taeyeon tak menduga aku bakal menanyakannya, namun wajahnya merileks seolah berkata; kurasa inilah saatnya.

“Yeah… Aku demi-nymph sama sepertimu.”

“Benarkah? Bukankah aku demi nymph pertama sejak…” Aku berusaha mengingat-ingat apa yang sudah dikatakan Seohyun beberapa kali kemarin.

“Hampir seratus tahun yang lalu, yeah.” Selanya.

“Dan kau HIDUP. Dan… Disini? Bersama kami? Bukankah kau seharusnya ada di kota?”

“Aku—tidak sepenuhnya selamat saat peperangan terakhir.” Jawabnya dengan wajah sendu.

“Apa maksudmu?”

“Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Dan aku melakukannya sekali. Aku membuat orang yang barangkali sangat berperan dalam negeri ini menukarkan nyawanya padaku. Secara harfiah.

“Eng—jadi, dalam artian kau selamat karena orang tersebut.” Tanyaku.

“Tidak.. Eh, iya.. Tapi bukan..”

“Jawaban yang jitu. Makasih.”

Taeyeon terkikik. “Oh, Miss Hwang..” Kali ini ia menyelonjorkan kakinya dan bersandar pada pilar-pilar koridor yang sudah separuh lapuk. “Coba tebak, aku dulu juga pernah mengikuti sebuah misi, menjadi kapten, dan seperti yang sedang kau rasakan saat ini.”

“Oh…” Aku mengangguk. “Lalu?”

“Aku bertindak bodoh, aku salah mengartikan sesuatu sehingga hal itu membuatku harus menyerahkan nyawaku.” Ujar Taeyeon diakhiri dengan napas berat. Aku bergidik, kata-kata itu membawa pikiranku melayang pada Hyoyeon. Bagaimana ya nasib dia sekarang?

“Aku—.” Dia berhenti sejenak. “Dulu, aku dan Jessica pernah diberi misi seperti ini, semacam ini.”

“Putri Jessica?”

Taeyeon mengangguk.

“Apa ini ada hubungannya dengan Jessica?”

“Tidak juga, tapi dia juga ikut berperan. Dulu Jessica tidak sedingin ini meskipun dia putri Salju.” Tambahnya.

“Sungguh? Jadi kalian—?”

“Aku tahu perasaanmu.” Potong Taeyeon, kemudian dia menggenggam tanganku.

“Kau masih hidup?” Tanyaku pelan-pelan, mencoba mengalihkan pembicaraan tentang Jessica.

“Tak sepenuhnya.” Aku meliriknya dengan tatapan bertanya-tanya. Dia mendesah. “Seseorang menukarkan nyawanya padaku. Berkata bahwa kelak aku akan menjadi bagian dari negeri ini.”

“Sungguh?”

Ia tersenyum. “Apa aku kelihatan seperti sedang berbohong?”

“Aku—aku hanya takut… Bagaimana… Kalau aku tak seberuntung dirimu? Bagaimana kalau tak ada yang mau menukarkan nyawanya padaku?”

“Jika aku diberi kesempatan, aku akan menukarkan nyawa demi kau.”

“Sungguh?”

“Kau menanyakan hal itu berulang kali.”

Kami tertawa bersama. Rasanya melegakan bisa berbagi cerita dengannya. Mungkin karena fakta bahwa aku memang sudah lelah dan semua kegilaan ini yang semakin membuatku gila. Dan Taeyeon adalah semacam media katarsis yang mau mendengarkan semua keluh kesah dan kesintinganku. Jadi, aku tak punya alasan untuk tak mempercayainya.

“Berjanjilah..” Aku mengangkat jari kelingkingku. Kekanakan memang untuk melakukan pinky promise mengingat umur kami (terlebih Taeyeon) sudah tidak memungkinkan untuk melakukannya. Namun, aku memintanya mengikrarkan pada akhirnya.

Taeyeon menatap jariku lama sekali, hingga Ginger mengusap-usapkan kepalanya pada perut Taeyeon seolah berkata; hey berjanjilah pada gadis cantik ini.

Pikiran itu seketika membuat pipiku memerah. Barangkali hanya aku yang agak narsis.

Harapanku hancur seketika saat tak kunjung mendapat jawaban dari Taeyeon, “kenapa?” tanyaku.

“Aku sudah—terlalu banyak membuat janji.. Aku khawatir jika—aku tidak dapat menepatinya nanti..” Taeyeon menundukkan kepala sambil memainkan keliman stolanya.

“Oooh..” Tidak bisa dipungkiri jika aku merasa sedikit kecewa. Katanya dia protegtur-ku.

Kurasakan tatapan Taeyeon di sampingku. Mungkin dia merasa bersalah, mengingat aku tak pernah berhasil menyembunyikan emosi di wajahku dengan baik. Aku tahu saat dia berkata, “tapi untukmu, aku akan berjanji.” Jawabnya dengan senyum yang sedikit dipaksakan. Aku tahu dia merasa kasihan padaku. Tapi, tak dapat dipungkiri jauh di dalam hatiku—aku menginginkan hal yang lebih dari itu (kau tahu kan maksudku tanpa harus kujelaskan lebih detil).

Aku membalasnya dengan senyuman—menarik kembali jari kelingkingku. “Tidak perlu jika kau tak mau..”

“Hey.. Aku mau kok..”

“Kau hanya merasa kasihan padaku.”

“Aku—Fany…”

“Hmm?”

“Aku berjanji.”

“Dan aku berharap kau tidak mengingkari janjimu.”

“Haruskah aku kembali berjanji untuk hal itu?” Taeyeon tersenyum nakal padaku.

“Satu saja sudah cukup kok.” Aku membalas tatapannya sambil tersenyum.

Matahari sudah rendah saat aku menyandarkan kepalaku di pundaknya. Laut tampak begitu berkilau keemasan—merefleksikan tenggelamnya ke-dua matahari. Sangat jauh berbeda jika dibandingkan dengan bumi—tempat ini jauh lebih indah. Namun sayang, keindahan itu tak bisa kunikmati sepenuhnya mengingat bisa saja aku mati dalam dua-tiga hari ini.

Aku melihat sebuah kapal pesiar berlayar semakin dekat. Samar-samar kudengar alunan lagu yang begitu merdu dan menenangkan. Taeyeon kemudian berdiri dan mengulurkan tangannya padaku, “mari kita melakukan sedikit pemanasan dengan berdansa sebentar.” Ia tersenyum malu-malu.

Melihatnya seperti itu, membuat perasaanku tak jauh berbeda dengannya. Maka kuraih tangannya, dan aku tak tahu apa yang orang lain dengarkan, tapi bagiku musik itu terdengar seperti musik dansa pelan: lagu yang berirama agak sedih, tapi mungkin juga agak penuh harapan.

Kemudian kusandarkan kepalaku pada pundaknya, dan melingkarkan lenganku pada ceruk lehernya—sambil berdansa bersama tenggelamnya matahari dan burung-burung seperti pelikan terbang rendah di atas air, menunggu ikan muncul lalu melahapnya dengan malang.

Disini dingin, salju membekukan sebagian daerah perbatasan Irial. Tapi kehangatan yang Taeyeon berikan—membuat dingin itu tak terasa begitu menggigit.

Taeyeon mengeratkan pelukannya pada pinggangku saat musik itu terdengar semakin menyentuh.

“Fany..”

Aku mendongak, sedikit terkejut melihat mata hazelnya yang menatapku penuh… Bagaimana ya aku menyebutnya… Cinta.. Ah.. Mungkinkah?

Aku begitu gugup sampai-sampai tak menyadari wajah kami saat ini begitu dekat.

“A—aku..”

Aku menelan ludah saat Taeyeon menutup matanya perlahan—dan aku tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Momen ini pasti akan menjadi momen terkeren kalau saja tak ada Seohyun yang berdeham di belakang kami. Sontak saja aku langsung melepaskan pelukanku pada Taeyeon. Bad timing.

“Ehem..” Dia berhenti sejenak, menatap kami begitu lama sebelum kembali berbicara.“Kapal sudah datang, kita akan berangkat sebelum matahari terbenam.” Katanya sebelum berbalik dan menghilang ke dalam kastil.

Aku mengalihkan pandanganku dari Taeyeon—merasa begitu malu. Kudapati, dia juga melakukan hal yang sama. “Maaf..”

“Untuk?”

“Eng—“ Taeyeon menggaruk bagian kepalanya dengan gugup. “Enggak—enggak papa kok.”

Taeyeon menggenggam tanganku saat aku kembali menatap lautan berkilau emas. “Ayo.. matahari sudah hampir terbenam.”

“Kurasa ini saatnya kita kembali.”

Kami berjalan masuk ke dalam kastil sambil bergandengan tangan. Kami sedikit berlarian menyusul mereka sembari menaiki undakan kapal.

*_*

Sudah sekitar satu setengah jam kami berlayar, tak ada yang menyinggung-nyinggung masalah tadi. Namun kurasakan hawa canggung yang menyelimuti kami. Beberapa mencoba menghiburku dengan kelakar yang menurutku begitu garing—namun tetap saja tak berefek apapun padaku.

Setidaknya aku tersenyum. Kuhargai usaha mereka. Namun rasa bersalah dalam diriku begitu besar. Sulit rasanya melupakan kejadian tadi begitu saja.

Dengan alasan ingin mencari udara segar, aku keluar menuju lumbung kapal. Angin terasa begitu menyejukkan. Aku berharap angin-angin itu bisa pergi membawa semua kegilaan ini.

Tiba-tiba kurasakan seseorang duduk di sampingku, awalnya kusangka dia adalah Taeyeon. Namun ternyata Seohyun.

Dia tersenyum sebentar sebelum berkata, “dia sedang beristirahat. Kelelahan setelah melawan monster tadi.”

Aku tidak menginginkannya, tapi pipiku terasa memanas. Aku tidak bisa melontarkan jawaban yang lebih cerdas selain, “oh..”

“Nih,” Seohyun menyodorkanku segelas penuh cairan berlendir yang kupikir baunya bakal amis banget. Namun begitu aku menghirup aromanya yang menguar dalam jarak sedekat ini, baunya hampir seperti bunga-bunga segar di ladang anggur dekat paviliun. “Minum.”

“Cairan Oleandor?”

“Yeah, sayangnya iya.”

“Nggak deh, makasih.” Aku menyodorkan kembali gelas itu pada Seohyun. “Kupikir kau bilang kita harus mempergunakannya dengan bijak.”

“Apa kau pikir kau tidak terluka waktu menghantam besi tadi?” Seohyun mengangkat satu alisnya padaku.

“Eh, yang mana?”

“Patung di kastil tadi.”

“Oh..” Aku mengangguk. “Aku nggak papa kok, percaya deh.”

Kemudian Seohyun melakukan hal yang benar-benar tak pernah sekalipun terbayang olehku akan dilakukannya—menarik paksa lenganku. “Tuh, ada luka.” Lalu dia mengamatinya lebih lekat. “Sepertinya racun.”

“Oh… Sudah di obati Hyoyeon sih, tadi sebelum… Yeah, sebelum dia sempat ditawan monster bermulut besar tadi.”

Seohyun kemudian mengangguk. “Aku tidak handal sih, tapi mungkin ini bakal sedikit membantu.”

Seohyun menutup matanya, lalu beberapa detik kemudian pendar keperakan berdenyar di seluruh tubuhnya, dan di sela-sela jarinya. Dia membuka mata sebelum menarik isi gelas itu dengan bantuan sedikit sihir—yah, bisa kau bayangkan seperti Harry Potter yang mengambil pensil dengan tongkatnya. Seperti itulah.

Namun aku menghentikannya, “nggak deh, kita kan harus menghematnya.”

“Aku nggak mau mengambil resiko menimbun cairan ini dan melihat kaptenku perlahan-lahan mati keracunan.” Jawabnya, tersenyum.

“Aku nggak papa, serius deh.” Aku lalu berdiri menghadapnya. “Nih.. Gak papa kan?”

“Stephany..” Seohyun menghela napas kemudian mengembalikan cairan itu dengan tangan kosongnya. Cairan berlendir itu bergelayutan sebelum kembali masuk ke dalam gelas. “Kau baru saja menyentuh besi.”

“Memangnya kenapa sih dengan besi? Kelihatannya kau benci banget.”

“Tentu saja. Kau tidak tahu ya, besi adalah musuh utama nymph. Dalam mitos-mitos kuno bahkan sering disebutkan bahwa peri tidak boleh menyentuh besi—terutama besi dingin. Itu adalah musuh kami para peri.”

“Oh begitu? Tentu saja aku tidak tahu, kan baru kali ini aku jadi nymph. Sebelumnya sih biasa aja. Lagi pula aku nggak pernah tuh berharap fobia dekat-dekat dengan besi.”

“Bagus, dan sekarang kau punya alasan buat nggak menyentuh segala sesuatu yang terbuat dari besi.”

“Dan bisa kutebak Raja Kegelapan membuat sebagian besar monsternya dari besi?”

“Aku nggak pernah tahu kau sepintar itu steph.. Kukira isi di kepalamu hanya Taeyeon.”

Wajahku memerah, namun aku tak mau mengakuinya begitu saja—jadi aku memalingkan muka. “A—apa maksudmu?”

Kulihat dari bayang-bayang laut di bawahku, Seohyun sempat tersenyum. “Mending kau pikirkan sendiri saja.”

Omong-omong soal Taeyeon dan besi, aku kepikiran tentang mimipi itu, mimpi yang tak pernah kuceritakan pada siapapun. Dan itu sangat mengganggu pikiranku. Aku jadi tidak konsen seharian penuh, jadi kutanyakan saja pada Seohyun, lagi pula dia kan tukang jawab pertannyaan bodoh yang kulontarkan setiap saat.

Aku bertanya pada Seohyun perihal tenggat titik balik ketiga bulan. Dia mengatakan bahwa itu adalah masa di mana ke-tiga bulan dalam keadaan purnama penuh dan berada dalam satu garis simetris. Keadaan itu terjadi setiap seribu tahun sekali. Masuk akal sih, karena tidak setiap hari ketiga bulan dapat purnama barengan, mungkin saat satu purnama, yang dua sabit. Atau sebaliknya, ada banyak kemungkinan. Dan katanya apel-apel itu harus kembali karena hanya dengan itu-lah para Nymph dapat melakukan ritual keabadian.

Aku sempat berpikir, memangnya masa seribu tahun tanpa ritual keabadian mereka seperti apa?

Seohyun tampaknnya dapat membaca pikiranku, dia langsung berkata. “Yeah, kami harus mandi di sungai Nixie sebagai gantinya. Sungai itu mungkin dapat memanjangkan usia kami selama seribu tahun kedepan, namun sungai itu tidak benar-benar dapat memperkuat kekuatan kami.”

Sooyoung tiba-tiba muncul dari belakangku. Tersenyum saat menanggapi. “Betul. Tubuhku melemah setiap tahunnya. Aku adalah Nymph muda—asal kau tahu. Aku terpaksa harus mandi di kali Nixie karena pohon apel emas itu sudah teracuni. Dan jika pohon itu dapat kembali sampai titik tenggat yang sudah ditentukan, aku bakal ikutan ritual keabadian abad ini dan aku bisa hidup dengan kekuatan dan ikut dengan Yang Mulia Ratu Diana untuk berperang melawan monster.”

Aku senang sekali sepertinya mereka tidak menjauhiku seperti apa yang kupikirkan.“Kalian sepertinya bersemangat sekali melawan monster. Apa kalian sudah menyiapkan peti mati kalian sendiri?” Tanyaku.

“Mati dalam pertarungan melawan kejahatan adalah hal yang paling mulia Stephany Hwang—asal kau tahu itu. Jiwa-jiwa kami yang mati takkan nyasar dengan sia-sia. Kami akan ber-reinkarnasi menjadi pohon-pohon atau bunga-bunga atau binatang—seperti Ginger jika jiwa kita lemah. Namun, jika jiwa kita cukup kuat—maka Yang Mulia Ratu Diana akan mempertimbangkan kami kembali menjadi Nymph. Itu sebabnya kami lahir dari kelopak bunga.”Seperti biasa, Seohyun—Sang Pengabdi Kesayangan yang menjawab. Jika saja dia adalah manusia, pasti dia sudah kujadikan teman sebangku saat tiba-tiba Nyonya Fartdour memberi kami ujian dadakan.

“Menarik sekali.” Timpalku. Mungkin setelah ini aku punya alasan buat mengecek kelopak bunga di taman Umma satu-persatu kalau aku sudah pulang ke rumah—dan kalau-kalau aku benar-benar pulang ke rumah. Kali-kali saja ada serangga kecil seukuran Nymph yang punya sayap mirip kepik polkadot keperakan.

Tiba-tiba terdengar suara sirine yang sangat nyaring dari dalam kapal.

Sooyoung bergumam, “Oow… Sepertinya kita kedatangan tamu.”

Aku nggak suka caranya menyebutkan tamu, seolah-olah tamu yang sedang dibicarakan itu adalah sesuatu yang lebih menyeramkan daripada monster gigi proyektil.

“Sepertinya ada masalah di dalam. Lebih baik kita periksa.”

*-*

Kami berlarian memasuki dok-dok. Kedengarannya sih seperti ide yang sangat buruk. Lebih buruk daripada kau menyumbangkan dirimu untuk jadi bahan percobaan meluncur dari ketinggian satu kilo meter dan berharap kau masih hidup. Setidaknya merelakan pipimu dicium monster kecoa bau yang membeku di stasiun masih terdengar lebih bagus daripada menawarkan diri sebagai pengalih perhatian monster kepiting raksasa.

Sampailah kami di bagian tengah kapal, di sana terdapat air mancur setinggi tiga meter yang memakan tempat hampir setengah ruangan. Aku berhenti mendadak. Di tengah-tengah air mancur yang menjulang itu. Berjongkoklah sebuah kepiting raksasa. ‘Raksasa’ yang kumaksud disini bukanlah kepiting Alaska besar yang bisa kaumakan sepuasnya hanya dengan $7.99.  Yang kumaksud raksasa adalah yang lebih besar daripada air macur. Si monster menjulang dua meter di atas air. Cangkangnya berbintik-bintik biru dan hijau, capitnya lebih panjang dari badanku. Mata hitam mungilnya yang memelototiku terlihat begitu cerdas (kau tahu kan, cerdas dalam standar bangsa kepiting).

Jika kau pernah melihat mulut kepiting, berbuih dan menjijikkan dengan rambut dan bagian yang membuka tutup, bisa kau bayangkan mulut kepiting yang seukuran papan reklame ini. Mata hitamnya yang seperti manik-manik memelototiku dengan murka.

Dia mendesis. Bau yang menguar darinya bagaikan tong sampah penuh daging ikan yang sudah dijemur semingguan.

Alaram kembali menggelegar. Sebentar lagi aku bakalan kedatangan banyak teman dan aku harus terus bergerak.

Eh, tunggu! Tidak hanya satu—ada satu monster lagi di belakangnya, tidak—tidak dua.

Mustahil.

Satu monster—tidak masalah. Kami bisa mengatasinya.

Dua monster—masalah sedang. Dengan sedikit keberuntungan.

Tiga monster menghadang kami secara bersamaan—kok terdengar meragukan ya?

Kedua monster di belakangnya sangat parah. Kalajengking hitam menjijikkan. Barang kali mereka kembar. Entahlah, aku tidak punya insting ke-kalajengking-an aku bahkan tidak tahu apakah mereka berdua berjenis kelamin perempuan, laki-laki, sepasang. Oke, hal terparah adalah aku bahkan tidak paham apakah monster punya kelamin? Tapi itu tidak jadi masalah. Yang terpenting sekarang adalah, menebas habis ketiga monster tersebut.

Oh ya, aku sudah bilang belum? Kapal kami mogok. Entah ini karena faktor kesialan atau alam yang tidak bersahabat. Tapi apa yang kita tumpangi sejak tadi selalu saja ngadat di tengah jalan. Aku jadi curiga dengan ramalan itu—tapi aku tak punya banyak waktu untuk berpikir. Dan monster-monster itu.. Sepertinya mereka dapat merasakan keberadaan kami. Coba katakan, Sooyoung sudah menyihir—entah bagaimana caranya supaya kapal ini tidak terlihat di atas air. Namun hasilnya tidak terlalu bagus.

Aku mencoba terbang—menusuk cangkang monster kepiting itu dengan belatiku. Namun, sayapku terasa berat untuk digerakkan dan tak lama kemudian aku hampir jatuh ke tanah.

Si kepiting kemudian bergerak dengan kecepatan mengaggumkan. Ia tergopoh-gopoh keluar air mancur dan langsung menghampiriku, dengan capit dibuka-tutup. Aku menukik melesat hampir mengenai capit kirinya, kepiting itu mengerang dengan tatapan murka. “Ayo kembalikan! Kau putri bodoh!!”

Awalnya kukira dia berkata pada Jessica atau Seohyun, tapi aku baru saja menyadari bahwa kini semua berada berlainan arah denganku. Mereka berdiri bersiap-siap dengan senjata mereka di belakang monster kepiting. Yeah, mungkin saja kepiting berbicara dengan badan terbalik.

Kalau aku ingin menciptakan pengalih perhatian, aku berhasil, tapi ini bukanlah tempat aku ingin bertarung. Jika aku terjepit di tengah-tengah kapal, aku bakalan jadi makanan kepiting. Kemudian pemikiran aneh terlintas di benakku. Natal lalu, Umma dan Appa membawaku ke Pantai Virginia, tempat yang sering kami kunjungi untuk menghabiskan waktu liburan. Seorang anak teman Appa, kalau gak salah sih namanya Nickhun. Dia mengajakku berburu kepiting, dan ketika dia mengangkat jaring yang penuh kepiting, dia menujukkan padaku bagaimana kepiting punya retakan di cangkang mereka, tepat di tengah-tengah perut jelek mereka.

Satu-satunya masalah adalah mencapai perut jelek itu.

Aku melirik air mancur, kemudian lantai marmer, yang sudah licin gara-gara kepiting itu berjalan tergopoh-gopoh. Sepertinya ia hanya mengejarku dan tidak peduli dengan yang lain. Ia hanya bergeming saat Sunny melemparkan sejumlah belati pada cangkangnya atau Yoona dan Seohyun yang beradu ketepatan memanah. Ia tidak peduli sama sekali. Bagus untuk mereka, tapi mimpi buruk bagiku.

Ia menghampiriku dari samping, membuka-tutup capit sambil mendesis-desis, dan aku berlari menyongsongnya dan meneriakkan, “AAAAHHHH!!!”

Tepat sebelum kami bertabrakan, aku menjatuhkan diri ke tanah ala pemain bisbol dan meluncuri marmer basah tepat di bawah makhluk tersebut. Rasanya seperti meluncur di bawah kendaraan lapis baja seberat tujuh ton. Yang harus di lakukan si kepiting hanyalah duduk dan meremukkanku, tapi sebelum ia menyadari apa yang terjadi, aku menghujam Katopris ke retakan di cangkangnya, melepaskan peganganku dan mendorong diriku keluar dari tubuhnya.

Si monster berguncang dan berdecit. Kemudian menghilang dan menyisakan kelontangan cangkangnya saja.

Aku tidak punya waktu untuk mengaggumi hasil prakaryaku. Kedua anak kalajengking kembarnya menyerbuku dengan murka. Sepertinya mereka tidak suka melihat temannya terbuyarkan di depan mata.

Kedua kalajengking itu merangsek ke arah kami, melecutkan ekor mereka yang berduri seakan mereka datang cuma untuk membunuh kami. kami merapat saat satu kalajengking lagi mengerumuni kami. Ini adalah pilihan yang sangat sulit. Kalau kita mengincar badannya, ekornya akan menusuk ke bawah. Kalau aku mengincar ekor, capit makhluk itu akan datang dari ke dua sisi dan mencoba mencengkeramku. Yang bisa kami lakukan adalah mempertahankan diri, dan kami takkan bisa terlalu lama bertahan seperti itu.

“SEMBUNYI!” Seru Seohyun, menginstruksikan kami memasuki tangga menuju galangan kapal yang kayunya sedikit terbuka. Dia menunggu kami semua masuk sebelum menutup kembali retakan itu.

Aku melesat mengikuti mereka, saat ini aku sedang tidak berselera untuk bermain-main dengan monster kalajengking sendirian.

“Kita tidak bisa terbang jika berada di air.” Kata Taeyeon begitu kami semua sudah masuk dalam geladak kapal.

Aku mengerang, mengapa sih mereka tidak memberi tahuku dari tadi. “Tapi kau bilang kita bisa terbang dimana saja.”

“Kau benar, tapi tidak di atas laut.” Jawab Seohyun.

“Tapi tadi kau tidak bilang kecuali di atas laut.”

“Aku lupa menyebutkan.” Tambahnya.

“Tidak konsisten.”

“Salah sendiri nggak tanya?” Sergah Jessica. Kenapa sih gadis itu sewot banget?

“Mana kutahu!?” Jawabku nggak mau kalah.

“Nah, sekarang kau tahu kan.” Timpalnya.

“Itulah sebabnya aku bersikeras untuk kita dapat menempuh jalur darat sebisa mungkin Steph.” Terang Seohyun.

“Sangat membantu. Makasih.”

“Kita tidak punya banyak waktu.” Yuri mengingatkan.

“Ya, sebelum kita mati di capit kalajengking.” Timpal Yoona.

“Soo! Tidak bisakah kau meledakkannya? Dengan pancuran air atau apa.” Tanyaku pada Sooyoung yang sedang sibuk mengutak-atik mesin.

“Kekuatan kamuflaseku sudah tidak berfungsi lagi disini, paham.” Jelasnya.

“Kita tidak punya banyak waktu! Mesin sudah harus bisa dijalankan.” Yuri kembali berkata sambil mencoba membantu Sooyoung membenarkan kumpulan baut dan entah apa aku tidak begitu paham dunia permesinan apalagi mesin kapal.

Kudengar, derap langkah monster itu semakin dekat. Aku bertanya pada Soo, “berapa lama lagi mesin bisa nyala?”

“Beri aku waktu sepuluh menit lagi.”

Dan jika kukira-kira dari derap langkah monster-monster itu, kita hanya punya waku sepuluh detik lagi.

“Aku akan mengalihkan perhatian mereka,” usulku.

Jessica dan yang lainnya menatapku seolah-olah aku ini agak sedikit gila. Tapi mungkin jika aku bisa menghambat monster-monster itu setidaknya sembilan menit dari sekarang, setidaknya aku masih berguna.

“Aku ikut denganmu Steph..” Kata Yoona.

“Apa kalian gila?”

“Yeah, sejak datang kemari aku memang sudah gila.” Jawabku.

“Dan kalian tahu aku gila sejak lahir.” Yoona nyengir pada mereka sebelum menarikku menaiki undakan yang merupakan jalan menemui ajal.

Kata Taeyeon, kita harus terlihat mencolok jika ingin menarik perhatian monster. Dan sekarang, aku tak dapat berpikir untuk terlihat ‘mencolok’ saat yang bakal kuhadapi adalah lima monster berukuran raksasa. Aku mengira-ngira, berapa uang yang bakal kudapat jika aku menjual semuanya di Restoran?

Lalu kemudian, Yoona melemparkan sesuatu padaku—aku menyadari apa maksudnya. Aku melempar benda tersebut pada kalajengking terbesar sambil tersenyum lebar. Aku tidak tahu hal ‘mencolok’ apalagi yang bisa kutampilkan selain ‘tersenyum’ pada monster yang barangkali sebentar lagi bakal meremukkanmu. Dan Yoona melakukan hal yang sama! Dia seolah-olah hendak berkata, ‘hey, selamat malam, aku disini dan aku siap dibunuh.’

Monster itu menjulurkan capitnya padaku, untunglah aku berhasil menangkisnya dengan berguling ke sisi kiri.

Yoona mengambil alih perhatiannya dengan mengatakan hal yang menurutku benar-benar konyol, “Hey monster-monster imut, apa yang kalian lakukan di tempat ini tengah malam begini? Ibumu pasti sangat khawatir dan mencarimu seharian.”

Dan monster itu melontarkan jawaban yang tidak kalah mengejutkan, “Bodoh sekali! Aku ini ibu. Dan mereka adalah anak-anak kembarku!” Kata monster kalajengking terbesar sambil tertawa lebar. Sepertinya insting ke-kalajengkingan-ku kali ini benar—bahwa mereka kembar.

“Bagus, kita melawan sekeluarga kalajengking. Menyenangkan bukan?” Ujar Yoona dari belakangku. Kami berdiri berhimpitan. Kami dikepung sekawanan kalajengking raksasa.

“Kurasa. Sepertinya ini ide yang bodoh Yoon.”

“Yeah, dan bagian yang paling mengesankan adalah, kita menyadarinya saat sudah terlambat.” Ujarnya.

Yang dapat kupikirkan saat ini adalah nampan kudapan. Jika berpikir berjalan-jalan mengitari kapal menggunakan kereta mini dengan ditemani oleh monster boneka kalajengking yang membawa segenggam lollipop sambil tersenyum bahagia di mall Manhattan pada akhir pekan adalah hal yang menyenangkan, maka jangan pikirkan mengelilingi kapal mogok menggunakan nampan kudapan dan dikelilingi oleh monster kalajengking sungguhan adalah hal yang jauh lebih menggembirakan.

Selain fakta bahwa aku tidak dapat menemukan hal yang lebih cerdas untuk dinaiki, aku juga tak punya banyak waktu sebelum ekor dan capit mereka mengiris-iris tubuh kami menjadi sekotak-kotak es batu.

Dengan bantuan sedikit tiupan angin dari Yoona, kami pun berlayar di dalam kapal menggunakan nampan kudapan yang untungnya muat untuk kami berdua. Yoona membuat nampan kami menukik ke kiri saat salah satu capit kalajengking itu hampir mengiris lenganku.

Kemudian, Yoona mengeluarkan anak-anak panahnya dan menebas benda apapun yang berusaha mendekati medan luncur kami.

Kemudian, dari arah geladak, terdengar suara BUM yang menggelegar—dan monster-monster itu tiba-tiba terbuyarkan.

“Apa itu tadi?” Tanyaku. “Cuma segitu aja kah? Keren banget.” Cibirku.

“Oh, berarti rencana kita sebelumnya berhasil.”

“Rencana apa?” Aku mengambil napas perlahan-lahan sambil menudungkan kembali Katopris pada sabuk pendaki gunungku.

“Seohyun dan Taeyeon punya rencana buat menyemburkan gas berisi cairan Oleandor dan Bubuk Emas Imperial yang dijadikan satu kemudian diledakkan menggunakan mesin tadi.”

“Oh, kok aku tidak tahu.” Tanyaku, merasa sedikit kecewa.

Yoona mendesah, sebelum mengembalikan nampan luncuran itu ke samping lemari di dekat air mancur lalu duduk di pinggirannya. “Tadi kami sudah membicarakannya, kupikir kau tahu. Ternyata kau melamun. Tapi, yeah.. Kapal memang sempat mogok dan menjadikan mesin itu ikut ngadat.”

“Kalian tahu kalau bakal ada monster yang menyerang?” Tanyaku setengah tidak percaya.

“Kami kan sering ikut misi, jadi kami tahu tanda-tanda ada musuh yang mengintai.”

“Menarik, sedangkan aku baru sekali dan langsung jadi kapten.” Cibirku.

“Tapi yang tadi itu hebat sekali Steph, untuk permulaan.” Timpal Yuri yang datang dari dalam geladak. “Kau membunuh kepiting itu.”

“Oh, mungkin hanya faktor keberuntungan.” Jawabku.

“Tidak, kau lebih dari itu.” Kemudian Yuri berjalan mendekatiku dan memberiku sebuah gantungan kunci berbentuk kepiting. “Nih..”

“Apaan nih?” Tanyaku menatapnya keheranan.

“Hadiah untuk tembakan pertamamu dan binggo.” Yuri tersenyum manis sekali—seakan aku hampir lupa bahwa dia itu juga Nymph.

“O—Oh, oke.. Makasih.” Jawabku seraya memasukkan benda itu dalam kantongku. Yuri orangnya baik. Semua baik, kecuali si sewot Jessica. Tapi dia juga sepertinya baik.

“Sepertinya kita butuh istirahat.” Usul Yoona.

Aku mengangguk kemudian disusul yang lain.

*-*

Aku duduk di pinggir balkon dengan Jessica. Situasi yang jarang terjadi namun harus dijadikan fenomenal. Sebetulnya aku malas kalau harus duduk berdampingan dengannya. Namun ada beberapa hal yang harus kutanyakan.

“Putri Jessica, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Ujarku dengan nada yang sengaja dibuat-buat.

Jessica mendelik padaku, “lebih baik kau memanggilku Jessica saja, mendengarmu berkata begitu perutku jadi mulas.”

Bagus! Pikirku. Jadi, sekarang aku gak punya alasan lagi buat manggil dia dengan embel-embel.

“Memangnya kau ingin bertanya apa?”

“Mengapa tadi di kepalaku muncul mahkota mutiara?”

“Itu berlian, bodoh!”

“Iya deh, berlian. Terserah. Memangnya ada apa denganku?”

Lama sekali Jessica tidak menjawab.

“Kau—.” Dia mendesah.

Kemudian Romeo datang menghampiriku bersama Ginger. Mereka berdua melolong kegirangan saat aku melambaikan tanganku pada mereka. “Aku masih nggak paham, bagaimana mereka bisa sampai di sini.”

“Mereka mengikuti kita, dan mereka punya pesan buat kita.” Terang Jessica.

“Pesan? Bagaimana mereka bisa tahu kita dapat pesan?”

“Tentu saja dia membaca petunjuknya, bodoh!”

“Iya deh, Aku yang bodoh.”

“Bagus deh kalau kau sadar.”

Tiba-tiba sesuatu terpatri di benakku.

“Tunggu! Jangan bilang kau juga keturunan peri hutan, seperti Taeyeon, jadi kau bisa membaca pikiran mereka.”

“Bodoh! Aku ini peri salju. Tentu saja Taeyeon yang memberitahuku tadi.”

Aku terdiam sambil memandangi langit. Yeah, mungkin saja. Itu tidak konyol.

Mestinya hal itu tak mengusikku. Maksudku, aku tahu mereka saling mengenal sejak—yeah seratus tahun yang lalu. Aku tahu mereka telah melewati masa sulit bersama-sama. Tapi, saat Taeyeon menceritakan tentang Jessica tadi—atau sebaliknya… Aku tak tahu cara menyebutnya. Tak nyaman?

Bukan. Bukan itu kata tepatnya.

Kata tepatnya adalah iri.

“Kau, adalah seorang putri.” Potong Jessica.

Ini lebih terdengar konyol, aku sungguh tak percaya dengan apa yang baru saja aku dengar dari Jessica.

“Maksudmu, aku?” Aku menunjuk diriku sendiri.

“Tentu saja otak udang! Apa menurutmu aku seperti sedang berbicara pada Ginger atau Romeo barangkali?” Jessica memutar mata.

“Terima kasih, tapi jangan menghiburku dengan hal-hal menyesatkan yang hampir membuatku percaya.”

“Ya terserah kalau kau tak mau percaya.” Ujarnya tampak gak begitu peduli.

“Baik. Aku tidak ingin percaya kalau gitu.”

Tiba-tiba ada sebuah bintang jatuh, sudah lima kali aku melihatnya disini.

“Di bumi, bintang tidak jatuh sesering ini.”

“Kau suka bintang?”

“Sepertinya begitu.”

Wajah Jessica berubah kelabu. “Aku kenal ibumu.”

“Sungguh?”

“Sayangnya iya.”

“Kapan kau bertemu dengannya?”

“Dulu sekali.”

“Tapi aku tak hidup sedulu itu.”

Dalam hitungan kalender nymph. Dia orang yang baik, dan penyayang.”

“Ibuku memang begitu.”

“Maksudku adalah ibu kandung nymphmu.”

“Nah, sekarang baru aku tidak mengerti maksudmu.”

“Stephany…”

Karena terkejut, aku jadi menatapnya. Cara Jessica memanggil dan membalas tatapanku, sungguh lembut. Jauh di luar dugaan. Jika mendapati Jessica mau duduk bersamamu hanya untuk sekedar melihat bintang dan ngobrol-ngobrol ringan denganmu adalah sesuatu hal yang sulit di percayai (dan abaikan panggilan bodohnya untukku). Nah, sekarang mendapati dia berbicara dengan nada selembut ini padamu adalah sesuatu yang tidak wajar.

Kemudian dia mengalihkan pandangannya dariku.

“Tadi—kau..”

“Lupakan saja…” Sergahnya.

“Kau serius menyuruhku melupakannya? Itu gak mudah tau..”

“Stephany, ada hal yang harus kau tahu.” Kemudian dia kembali menatapku. “Siapapun dia, siapapun ibumu yang mengasuhmu sampai kau sebesar ini. Ketahuilah bahwa dia bukan ibu kandungmu.”

“Tunggu! Maksudmu apaan nih?”

“Aku tahu ini mungkin berat dan aku—yeah. Walaupun malas mengatakannya, tapi aku tahu bagaimana perasaanmu.”

“Ini semakin membingungkan.”

“Bukannya aku mau sok tahu, atau sok memahamimu, aku tidak berusaha. Tidak sekalipun, tapi aku harus memberitahumu. Aku wajib.”

“Memangnya apa kewajiban itu?”

Jessica terdiam lama sekali, sebelum mendesah. “Manusia memang egois.” Aku tidak suka caranya menyebut manusia, seolah-olah dia bukan manusia—tapi dia memang benar bukan manusia sih.

“Dulu… Dulu sekali, ada seorang nymph cantik yang tergila-gila dengan manusia pria. Seperti yang sering diceritakan dalam legenda-legenda.” Mulainya.

Aku mendapati wajahnya mulai berubah—seolah dia sedang mengingat potongan-potongan kenangan lama.

“Maaf Jessica, aku sedang tidak berminat mendengarkan dongeng-dongeng konyol semacam itu.” Usulku, tapi gadis itu tak menggubrisku dan lanjut berbicara.

“Dia sering curi-curi kesempatan untuk pergi ke dunia manusia, nggak sulit sih, dia memang peri perbatasan. Dan dia juga punya jabatan yang cukup tinggi di Faylinn.” Jessica tersenyum padaku sebelum kembali melanjutkan.

“Beberapa kali dia keluar dan lama tak kembali, ternyata dia punya anak dengan manusia itu dan lahirlah seorang demi-nymph.”

Kemudian wajahnya menggelap, “sejak saat itu, ia lupa segalanya. Dan terlalu larut dalam dunia manusia. Dia mengabaikan anak-anak nymphnya yang lain.”

Aku punya firasat Jessica bakal menyalahkanku soal itu. Jadi aku diam saja.

“Lalu kemudian, dia memutuskan untuk kembali ke Faylinn karena—inilah dunianya, tempat dimana dia hidup dan tinggal. Dia pasti sadar dia hidup abadi sementara manusia tidak. Lama-lama manusia pasti curiga.”

Jeda sejenak sebelum Jessica kembali bercerita.

“Kemudian, beberapa tahun yang lalu, Negeri kami diserang. Seluruh perbatasan di porak-porandakan. Lalu ada kabar tersiar, ternyata, Pangeran kegelapan sedang mengincarnya. Dia merelakan dirinya, untuk anak-anaknya agar dapat hidup tenang, dan untuk Faylinn.”

“Dan itu aku?” Tanyaku setelah Jessica menyelesaikan ceritanya.

Melihat wajahnya yang tak berekspresi, aku tahu jawabannya. Aku tidak tahu harus berbuat apa, jadi aku menangis. Membiarkan air mataku melebur bersama air lautan—dan ibuku yang ternyata sudah tiada.

-TBC-

Ps. Ehem… Ehem… Kurang dua chap lagi yee~

MAAP SODARA-SODARAAA!! GUE GAK BAKAT GAMBAR.. HAHAHAHA..

Sori Typo peta di atas harusnya berjudul ‘Faylin’. Maap, authornya lupa.. Hehehe… #peace

Oh iya.. Bagi yang merasa gak bisa bayangin karakter Fany disini.. Yaudah gak usah dibayangin. Hahaha.. Gue lagi males berbaik-baik ria disini nih yee.. Kalo gak suka ya gak usah dibaca *hari ini gue agak sensi, biasa cewek, maklumin yak*

Bagi yang minta Taeny momen, gue kasih. Pure yak? Iyalah orang gue nulis juga genrenya adventure. Bagi yang pengen baca yang chessy-chessy silahkan baca yang lain yang emang genrenya romen.

Sekian dan terima kasih.

Iklan

47 thoughts on “NYMPH(s) Chapter 7”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s