One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Pesona yang Menawan

Pesona Yang Menawan — Déjà Vécu

Autunm Bridge
Autunm Bridge

Sabtu…

Bagi sebagian besar orang, Sabtu adalah hari yang sangat menyenangkan, mereka biasa menyebutnya weekend. Tidak ada aktivitas berarti di kantor, hanya berdiam diri di rumah—tidak melakukan apa-apa bersama orang yang mereka cintai. Namun, sayangnya hal itu tidak berlaku bagi Kim Taeyeon. Direktur perusahaan mobil ternama di Korea itu tidak mengenal yang namanya libur.

Sabtu sama seperti Senin, Selasa, Rabu, Kamis dan Jumat. Tidak ada perbedaan berarti. Setiap hari ia harus mengecek laporan penjualan, estimasi laba-rugi perusahaan, dan dokumen-dokumen penting yang menjadi cikal bakal pengambilan keputusan-keputusan besar yang menentukan masa depan perusahaan.

Direktur tak pernah tidur. Mungkin itu ungkapan yang paling pas untuk Taeyeon saat ini. Semua karyawannya tak pernah tahu, bahwa sesekali ia pulang larut hingga rela tidur di kantor. Yeah… Tak ada kecuali sekretarisnya yang sesekali menemani wanita pekerja keras itu di malam-malam tertentu. Sudah berkali-kali Taeyeon menyuruhnya untuk pulang dan tidak perlu mengkhawatirkannya. Namun sekretarisnya terlalu bengal untuk menurutinya.

Jadi, Taeyeon menyerah. Seperti hari ini, ia kembali mengalah. Sekretarisnya memang menyebalkan. Namun tak ada yang lebih tahu mengenai dirinya kecuali sekretarisnya. Taeyeon tak punya alasan untuk memecatnya walaupun terkadang gadis itu begitu ceroboh dan keras kepala. Semua bahkan heran mengapa mereka bisa bekerjasama secara profesional selama enam tahun lamanya.

Tak ada yang membatasi profesionalitas.

Tidak banyak yang tahu bahwa hubungan mereka tak hanya sekedar direktur-sekretaris saja. Di luar kantor, mereka akan menjadi pasangan normal biasa, melakukan hal-hal yang biasa dilakukan semua pasangan, bercinta. Namun, begitu jam kantor dimulai—tidak satupun dari mereka yang berusaha merobohkan dinding profesionalitas yang sudah lama berdiri kokoh. Bersikap layaknya atasan dan bawahan. Membiarkan pekerjaan berjalan tanpa memperlibatkan perasaan.

Tapi hari ini lain. Taeyeon lembur lagi. Ia masih harus mengecek ulang kontrak-kontrak perjanjian penting dan harus dikirimkan hari ini.

Ini begitu memuakkan. Taeyeon berharap, ia dapat menghabiskan hari ini dengan kekasih tercintanya. Berpelukan, berbagi kehangatan, memamerkan kemesraan mereka di depan publik. Ia selalu berharap dapat melakukannya walau hanya sekali dalam sebulan. Tapi setahun terakhir hal itu tampaknya mustahil dilakukan. Perusahaannya berkembang pesat setelah sebelumnya terjebak dalam keterpurukan.

Adalah waktu, harga yang harus dibayar Taeyeon atas usahanya. Ia tak lagi memiliki banyak waktu walau untuk sekedar bermesraan di akhir pekan, satnite di pusat-pusat perbelanjaan, dinner romantis di pinggir pantai atau bahkan hanya sekedar mengistirahatkan tubuhnya saja—begitu sulit ia lakukan.

Satu jam berlalu dari waktu yang seharusnya ditetapkan -baik di perusahaan manapun-. Taeyeon memutuskan untuk rehat sejenak. Menyelonjorkan kakinya dan menyandarkan punggungnya di kursi bos besar. Urat-uratnya sudah tegang setelah seharian berjibaku dengan tumpukan kertas.

Dengan hati-hati, ia melepas kaca matanya dan meletakkan benda berharga itu di samping laptopnya. Beberapa kali, ia menarik napas perlahan sambil menutup mata—kemudian sebuah pikiran melintas di benaknya.

Ia mengucek mata kemudian mengecek jam tangannya.

Sudah hampir satu-setengah jam dan tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Mungkin dia sudah pulang. Pikirnya.

Hampir saja ia memutuskan untuk menelpon kekasihnya saat ia berpikir, mungkin pesan singkat saja sudah cukup. Taeyeon tak ingin mengganggunya.

Mungkin dia sedang istirahat.

Setelah seharian meeting dengan klien asing, tidak konyol jika kekasihnya itu mungkin ingin pulang lebih cepat dan beristirahat.

Pekerjaan yang padat membuat pikirannya hampir gila karena kelelahan. Dengan seulas senyum, ia kembali memainkan laptopnya. Kali ini bukan menyelesaikan pekerjaannya, ia membuka folder-demi folder yang ia simpan secara khusus di laptopnya. Sampai pada suatu folder berisi kumpulan gambar yang sengaja ia koleksi satu persatu.

Sebenarnya, Taeyeon adalah orang yang artistik. Ia begitu menggilai seni. Hanya satu folder dan semua kebahagiaan itu kembali mewarnai wajah yang sebelumnya masam.

Panorama.

Ia membuka satu gambar pemandangan yang begitu sederhana. Pemandangan itu berhasil ia potret beberapa tahun yang lalu. Bulan madu yang begitu mengesankan. Tidak di Paris, atau London, Atau New York. Hanya di negara sendiri, tepatnya di Pulau Nami.

Warna hijau mendominasi gambar itu, hijau daun dari pohon-pohon dipterocarp* yang berjarak tidak teratur tapi, justru itulah keunikannya. Abstrak dan artistik. Taeyeon begitu menyukainya. Corak biru menghiasi sebagian kecil picture tersebut. Sungai jernih yang membelah pohon-pohon semraut itu memberi sedikit kesan tenang di tengah kekacauan. Jalan setapak kecil dari bebatuan yang membingkai tepian sungai, menandakan jalan keluar dari segala permasalahan. Taeyeon suka filosofi itu.

Kemudian Taeyeon memejamkan matanya, memutar kembali memori di mana dia dan Tiffany berjalan tertatih di pinggiran sungai beberapa tahun yang lalu. Dengan dress sederhana berwarna putih selutut yang dikenakan Tiffany, satu tangan menjinjing sepatu dan tangan lainnya mengangkat satu sisi gaunnya agar tidak terkena cipratan dari derasnya air, gadis itu terlihat begitu menawan bagi Taeyeon.

Bagaimanapun Tiffany tetap menawan.

Mau tak mau Taeyeon harus menahan senyum saat mengingat kenangan tersebut. Dia tak ingin dianggap gila dengan sebab tersenyum sendiri di ruang kerja. Jadi, takut-takut dia melirik CCTV di sudut ruangannya, kemudian mendesah.

Selalu ada batasan saat ingin bersenang-senang.

Kemudian Taeyeon membuka gambar ke dua, kali ini giliran warna oranye yang mendominasi gambar tersebut. Angin musim gugur bertiup kencang saat ia mengambil gambar tersebut. Jalanan begitu sepi sehingga ia dapat memotret Tiffany di tengah jembatan dengan leluasa. Tiffany berusaha memegangi lututnya saat ujung gaun yang dipakainya berkibar.

Taeyeon masih ingat, itu adalah musim gugur pertama saat mereka bertemu. Taeyeon suka jembatan. Ia suka. Bahkan sangat suka. Gambar pertama yang ia potret adalah jembatan. Dan ia bertemu belahan jiwanya di jembatan.  Ia bertemu dengan Tiffany saat mereka kebetulan menyebrang ke arah yang berbeda dan berpapasan di tengah jembatan. Dan Taeyeon langsung menyukainya. Begitu suka.

Setiap gambar membawa kenangan tersendiri baginya. Tak banyak yang tahu bahwa Taeyeon punya kelebihan seperti itu. Bahkan gambar, aroma, dan suasana dapat membawa pikirannya ke tempat yang berbeda.

Taeyeon menarik sesuatu dari lokernya, membelai bingkai foto yang terasa kasar di ujung ibu jarinya. Karang-karang itu tak luruh sekalipun ujungnya.

Sudah tiga tahun.

Taeyeon mencium baunya. Aroma familier pasir di pesisir pantai sekaligus air asin menguar memenuhi rongga hidungnya.

Masih Sindo* sekali.

Hal itu membuatnya tersenyum.

Ternyata sudah lama sekali, padahal baru terasa sebentar.

F.n :

Dipterocarp / dipterocarpaceae [Meranti] : Sekelompok tumbuhan pantropis yang anggota-anggotanya banyak dimanfaatkan dalam bidang perkayuan. Pohonnya biasanya sangat besar dan pertumbuhannya lambat, dengan ketinggian dapat mencapai 70-85m.

* Sindo / Sindo Beach : Salah satu pantai laut asin di Pulau Sindo Korea Selatan.

Jam kantor sudah berakhir namun Tiffany masih setia menunggu—yang pada jam ini sudah berstatus kekasihnya- dengan sabar. Sesekali ia melirik jam di dinding dan berakhir mengerutkan kening. Ia benci melihat Taeyeon bekerja terlalu over. Ia benci jika setiap pagi, ia harus mendapati kekasihnya itu dengan mata bengkak atau leher kesemutan.

Jadi, setelah dua setengah jam bersabar—dengan niat tidak ingin mengganggu kekasihnya direkturnya yang sedang sibuk mengecek perjanjian kontrak kerjasama dengan perusahaan besar lain untuk proyek besar bulan depan, Tiffany akhirnya memutuskan untuk menyusul Taeyeon dalam ruang kerjanya setelah kesabarannya semakin terkikis.

Jadi, Tiffany mengintip melalui sela-sela kaca buram. Taeyeon sedang tersenyum sambil memejamkan mata saat ia membuka pintu ruangannya pelan-pelan, untungnya Taeyeon tak menyadari kehadirannya. Tiffany tahu—ia selalu tahu kapan kekasihnya butuh waktu untuk sendiri dan melepaskan ketegangannya.

Taeyeon adalah tipe kekasih yang pendiam, dan tegas. Ia begitu pengertian tanpa Tiffany harus mengatakannya, ia begitu perhatian tanpa Tiffany harus memintanya. Dan itulah yang Tiffany suka darinya. Taeyeon tak banyak bicara—menunjukkan segala sesuatu dengan tindakan. Sosok atasan sekaligus pasangan yang berwibawa dan penuh pesona. Kekasih idaman setiap orang. Dan Tiffany tak ingin melepaskannya.

Karena walau pada saat jatuh pun, cinta Tiffany takkan hilang. Karena walau sudah berumur, cinta mereka takkan kikis termakan waktu.

Tiffany tersenyum saat melihat wajah terkejut Taeyeon.

‘Masih sangat imut, seperti dulu. TaeTae-ku yang dulu.’

“Kau belum pulang?” Tanya Taeyeon begitu Tiffany duduk di hadapannya.

“Tentu saja, aku tidak akan pulang sebelum kau pulang. Jadi, kita bisa pulang sama-sama.”

“Kau bisa pesan taksi. Aku akan memesankannya untukmu.”

Tiffany langsung menyambar ponsel di tangan Taeyeon sebelum gadis itu sempat menelepon supir taksi langganannya.

“Tidak—aku ingin pulang bersama kekasihku.” Kata Tiffany bengal.

“Aku, mungkin akan pulang larut lagi. Ini sudah malam, kau harus istirahat.”

“Dan kau pikir, kau tak butuh istirahat?”

“Aku bisa menyusul. Aku tak ingin melihatmu sakit.”

“Kau lebih rentan penyakit, sayang.”

Taeyeon melirik tumpukan kertas yang harus diselesaikan di depan mejanya, ia mendesah.

“Selesaikan pekerjaanmu sekarang lalu kita pulang sama-sama.”

“Tapi Fany—.”

“No but!” Potongnya.

“But, I like butt!”

“Hissh… Byuntae!”

“Only for you.”

Tiffany langsung duduk di pangkuan Taeyeon, “I miss you, beib..”

“Maaf—akhir-akhir ini, kita jarang menghabiskan waktu bersama. Kau pasti kesal.”

“Ani, aku hanya minta satu dari seribu waktu sibukmu.” Tiffany mengecup dahi, hidung dan puncak kepala Taeyeon. “Dan itu sudah cukup buatku.”

“Kau masih yang terbaik, terima kasih sudah mau mengerti.” Tiffany suka saat Taeyeon menyandarkan kepalanya di pundaknya dan melingkarkan lengan di pinggangnya.

Tiffany dengan sabar merapikan anak-anak rambut Taeyeon, sambil sesekali menyelipkan beberapa helai yang dirasa panjang ke belakang daun telinganya dengan lembut—dan hal itu membuat Taeyeon merinding. Taeyeon rindu kelembutan itu. “I will… Forever and always.

Tangan Taeyeon hinggap di bahu Tiffany, berusaha menegakkan badan Tiffany agar mereka benar-benar berhadapan. “I miss you too..

Tiffany sedikit membungkuk. Ia memandangi kemeja Taeyeon; ada satu kancingnya yang hilang. Ia mencengkeram tepian meja sampai jarinya memerah.

Lalu Tiffany menciumnya.

Tiffany masih berusaha menunduk, menelengkan kepala, berusaha merapat. Taeyeon meyusupkan tangan ke dalam baju kerja Tiffany dan menarik pinggangnya mendekat, Tiffany menciumnya seolah Taeyeon udara. Rasa dingin sekaligus hangat menelusup ke sela-sela jarinya, dan ia kehabisan napas.

Kemudain Taeyeon langsng melupakan segala sesuatu; tidak ada dokumen menumpuk, tidak ada kontrak kerja yang harus diselesaikan, tidak ada apa-apa—hanya mereka.

Taeyeon mengangkat badan Tiffany dan mendudukkannya di meja kerja, tak jauh dari tempat dokumen-dokumen pentingnya berserakan. Tapi, ada hal lain yang lebih penting, kedua tangan Tiffany menyusup ke rambut Taeyeon, membenamkan jari-jarinya di sana—menarik Taeyeon lebih dekat lagi.

Itu ciuman paling sempurna yang pernah Taeyeon rasakan sampai ia sadar, Oh my God!

Taeyeon menarik diri.

“W—wae?” Suara Tiffany serak dan terdengar ketakutan.

Taeyeon merapikan kemeja dan rambutnya yang berantakan. “Ehem… Lebih baik sekarang kita pulang dan melanjutkan di rumah.”

Setelah beberapa detik berpikir, Tiffany akhirnya mengerti dan tertawa kecil. Ia meloncat turun dari meja dan memakai kembali high heels-nya yang tidak sadar terlepas.

‘Big News untuk semua karyawan

Tiffany sudah mengantisipasi akan ada tontonan gratis minggu depan. Dan ia sudah menunggu hal itu setelah sekian lama.

‘Aku ingin semua dunia tahu satu hal; i’m yours, you’re mine, and we are one.’

Ps.

Heppi birthday Pany~

Heppi birthday Pany~

Heppi birthday, heppi birthday, heppi birthday pany~

Love you always ♥

Karena gue gak bisa ngasi apa-apa, jadi gue ngasi do’a aja deh… Pokoknya all the best buat Pany 😀

Semoga TaeTae makin mencintaimu selalu *ceile*

Bonuuuuuss~

Lope :*
Lope :*
Iklan

41 thoughts on “Pesona yang Menawan”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s