Fantasy, SNSD

NYMPH(s) Bonus Chapter

NYMPHS — The Lost Crown

lalala

Karena semua berawal dari mimpi.

Copyright © 2013, Sasyaa95

Jika ingin copy-paste, silahkan. Jangan lupa sertakan Hak Cipta, terima kasih.^^v

Dengan berucap Bismillah, kupersembahkan…. GLOSARIUM *revisi ke 4* [Noted : Ada baiknya jika kalian baca sambil buka ini, biar enggak mumet. Thanks]

Epilog

Untuk Azzah, Yasinta, dan Yulindha

yang percaya padaku bahkan ketika aku sendiri tidak.

dan

kenangan bersama Aish, Alee dan Nurin

yang kehadirannya selalu ada dan memberiku kekuatan ketika aku goyah.

terakhir

Untuk yang terjelek SELVI!

Terima kasih telah jujur dan berani memberitahuku untuk tidak lagi menjadi pribadi yang tertutup dan Individualis.

***

AKU BERMIMPI ANEH. Aku bermimpi tersesat di rumah Gorgon suatu hari dan terbawa ke dunia aneh bernama.. Fay… Faylinn? Bertemu dengan gadis cantik bersama Taeyeon. Dituduh mencuri mahkota. Dihadiahi sebuah misi konyol. Diklaim sebagai salah seorang putri di kerajaan aneh di mana semua orang bersayap dan yang hampir membuatku gila adalah aku berubah GAY!

Setidaknya itulah yang berhasil kuingat saat aku menemukan diriku, meringkuk kedinginan di sebuah kamar yang terasa familiar. Aku biasa tidur di tempat ini tapi ini bukan kamarku. Aku ingat betul di mana aku meletakkan rak buku yang hampir separuhnya berisi dongeng, atau dimana seharusnya meja riasku, bentuk asli dari tempat tidurku, warna terakhir sepreiku, dan atau bagaimana Totoro duduk tenang sambil menatapku di sudut kamar dengan mata hitam besarnya saat aku membuka mata, terbangun dari mimpi burukku.

Yang jelas, ini bukan kamarku. Lalu, dimanakah aku?

Pertanyaan itu segera terjawab saat aku mendengar langkah kaki yang semakin mendekat di lorong. Tempat manakah di dunia ini yang punya lorong seberisik ini?

Aku memikirkan kemungkinan-kemungkinan kecil yang mungkin terjadi, seperti terlempar lebih jauh dari galaksi bimasakti, atau bahkan yang lebih buruk dari pada itu!

Mimpi tadi masih terasa begitu nyata buatku, bagaimana pelukan itu, sentuhan itu, dan ciuman itu membuatku merinding. Aku yakin itu bukanlah sesuatu hal yang biasa saja. Itu luar biasa! Bahkan bisa jadi luar binasa!

Jika mimpi itu benar-benar nyata, apakah ini juga mimpi? Aku terbangun disini? Apakah ini mimpi buruk lagi? Oh, Tuhan.. Tolong, jangan tempatkan aku dalam situasi seperti itu lagi!

Tapi tiba-tiba suara Umma menghancurkan semua pemikiran itu.

“Stephanie!”

Aku belum sepenuhnya yakin, jadi aku lebih memilih untuk diam, dan menunggu Umma menampakkan wajahnya di depanku. Bisa saja aku berkhayal dan mendengar sesuatu.

“Hey!” Umma menampakkan diri dari balik pintu. Untuk pertama kalinya, aku melihat wajahnya selega ini. “Kau sudah sadar.” Dia mendekatiku dan memelukku begitu erat. “Saat perjalanan kemari, kau tertidur dan terus mengigau. Badanmu demam tinggi dan kukira kau pingsan saat aku berusaha membangunkanmu tapi gagal. Aku sudah memaksa ayahmu untuk membawamu ke rumah sakit atau setidaknya ke dokter yang kita lewati di pinggir jalan, tapi dia bersikeras bahwa kau baik-baik saja. Tapi melihatmu mengiggau seperti itu… membuatku…” Umma sekonyong-konyong memelukku lama sekali seolah benar-benar tak ingin melepasku barang sedetikpun.

“Umma… Bukankah aku tidak ikut bersama kalian sore itu?” Tanyaku hati-hati, dan jika aku tidak salah, ini adalah rumah nenek, jika mereka benar-benar berniat ke rumah nenek. Aku tidak pandai matematika sih, tapi jika aku tidak salah, terhitung dari sore hari kami berangkat—ditambah delapan jam perjalanan—seharusnya ini masih tengah malam, tapi melihat ke luar jendela yang sudah cukup terang—jadi kuasumsikan sekarang sudah pagi. Mungkin kami sudah berada di sini selama empat sampai lima jam? Dan itu juga berarti bahwa aku tidak sadarkan diri selama kurang-lebih dua belas jam?

Dan mimpi itu terasa seperti sudah berhari-hari.

“Iya, aku cukup terkejut saat kau tiba-tiba datang dengan wajah suram dan memohon untuk ikut. Kukira kau tak berminat mengunjungi nenekmu lagi setelah kejadian itu.” Umma berhati-hati menatapku, aku tahu tatapan itu dan aku tidak menyukainya. “Kau tidak ingat?”

Aku mendadak kehabisan kata-kata. Aku tidak ingat jika aku memohon pada mereka untuk ikut berlibur. Yang kuingat cuma berlari ke rumah Gorgon mengejar Fey. Oh! Fey.

“Apa Fey bersama kita sepanjang perjalanan?”

Umma mengernyit sebentar sebelum kembali ke posisinya. “Kurasa kau berkata bahwa dia sudah berada di tempat yang aman sore itu. Jadi, kupikir kau sudah mengembalikannya ke tempat dimana dia berasal.” Aku berbohong jika aku berkata bahwa aku tidak menyadari gerak-gerik Umma yang terlihat tidak nyaman. Mungkin akan lebih baik jika aku menunggu saat yang tepat.

Tapi, ada satu hal yang benar-benar menggangguku sejak aku terbangun beberapa saat yang lalu. Sesuatu yang penting, haruskah aku menunggu sampai aku benar-benar yakin?

Tapi sebelum rasa penasaran ini memakanku semakin dalam, aku memutuskan untuk menanyakannya saja.

“Umma… Aku… Err… Ingin bertanya…. sesuatu?” Oke, mungkin bukan hal yang  bagus memainkan keliman kemejaku saat ini, tapi aku benar-benar tidak tahu apa lagi yang harus kulakukan. Aku jadi memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk, tapi sangat tidak membantu. Akhirnya, kuputuskan untuk langsung menanyakannya saja.

Dari gesture yang dia tunjukkan, terlihat jelas sekali bahwa dia sedang duduk tegang di posisinya. “Em.. Tentu..”

“Umma…” Aku menatapnya lekat. Aku menolak berpikir bahwa wanita ini, yang sekarang sedang duduk di depanku. Menatapku dengan lembut, dan penuh kasih sayang ini, ternyata bukanlah ibu kandungku. Aku masih berpikr, kemungkinan itu—walau masih kemungkinan. Bahwa mimpi itu nyata, bahwa aku sedang tidak berhalusinasi, karena semua ini, tak seharusnya seperti ini. “Apakah aku, kau—?” Sejenak, aku hendak berubah pikiran setelah melihat sinar ketakutan di matanya, “sebelumnya, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu, atau kita, atau semuanya—aku hanya ingin tahu… Apakah… Hanya apakah, kita berasal dari darah yang sama?” Pungkasku pelan-pelan.

Dia tampak sangat terkejut selama sesaat sebelum berkata, “tentu saja.” kemudian memalingkan muka.

Sebagian dalam diriku ingin sekali memercayainya, sebagian lagi mengutukku karena aku—aku terlalu mengenalnya untuk tahu bahwa Umma sedang berbohong atau tidak padaku, aku bukan anak kecil lagi—dan Umma tahu itu. Aku benar-benar ingin menghilang saat ini juga, tiba-tiba saja Faylinn menjadi tidak terlalu buruk bagiku. Aku kecewa dengan semua ini.

Aku bahkan tidak menyadari bahwa sebutir air mata turun membasahi punggung tanganku sebelum Umma kembali memelukku, erat sekali. Jika saja keadaan tidak serumit ini, mungkin hidupku akan jauh lebih sejahtera.

“Stephanie…” Aku dapat merasakan Umma membelai rambutku, hal itu langsung membuatku merinding. Ini mungkin gila, tapi aku berharap Umma kandungku-lah yang akan melakukannya untukku. Aku tidak bilang bahwa aku membenci Umma, tidak. Dia terlalu baik—tapi semua ini, segala yang terjadi beberapa hari ini—jika mimpi itu masuk hitungan juga, membuatku kesal sekaligus muak.

“Stephanie, keluarga tidak selalu berarti hubungan darah atau keturunan. Itu tentang hubungan, kasih sayang, dan komitmen.” Dia dengan lembut mencium keningku, kontan kurasakan perutku seperti diaduk, aku menyayanginya. “Apapun yang sedang kau pikirkan saat ini, semua itu hanya mimpi buruk okay? Semua baik-baik saja Fany… Semuanya..”

Aku tidak punya pilihan lain selain memercayainya, bukan? Lagi pula Umma berkata bahwa semua baik-baik saja, semuanya akan baik-baik saja.

*

Ini musim dingin. Dan aku benci saat musim dingin dan dipaksa keluar untuk melakukan sesuatu—terlebih untuk membersihkan salju di depan rumah dan membereskan sebagian ranting dan salju yang tidak rata untuk bermain ski. Sesungguhnya, aku lebih memilih untuk duduk dan menunggu sampai semuanya beres. Tapi, Umma pasti akan mengomel dan berkata bahwa sangat tidak sopan untuk membiarkan Grandma dan mereka—para orang tua melakukannya selama aku—generasi yang lebih muda malah asik berleha-leha menanti hingga mereka selesai membereskannya.

“Sheyanie! Coba kau bersihkan sebelah sana. Kita akan melewati jalur itu, dan kurasa sebelumnya ada batu besar yang melintang di bawah pohon itu saat musim gugur kemarin—Hani menggunakannya untuk melindungi tubuhnya dan menjilati dirinya—kurasa.” Grandma menunjuk tepat bagian belakangku dengan sekrop panjang yang sudah tidak beraturan bentuk dan warnanya, aku bahkan tidak yakin apa warna aslinya. “Hanya berjaga-jaga saja siapa tahu salah satu dari kita tersandung batu itu, dan sejak batu itu besar dan lebar—kita tentu akan terantuk dan aku tidak ingin membayangkan betapa sakitnya jika hal itu terjadi padaku.”

Aku berusaha untuk tidak membayangkan hal-hal lain saat aku melakukannya—seperti senyum kemenangan di wajah Grandma karena dia telah berhasil menyuruh-nyuruhku dengan seenaknya. Atau seperti senyum Umma karena dia berhasil melihatku cemberut pagi ini.

Sudah dua hari sejak kejadian pagi itu, dan aku berpegang pada ucapanku. Aku berusaha memercayai Umma, bahwa ini akan baik-baik saja. Lagi pula, dua hari ini aku tidak menemukan hal-hal aneh seperti anjing pudel hitam yang muncul tiba-tiba, atau aku terbangun di tempat yang benar-benar aneh, atau aku bisa melihat orang menghilang dalam sekejap mata. Untunglah aku tidak lagi melihatnya. Walaupun aku masih takut untuk tidur lagi dan bertanya-tanya di manakah aku akan bangun besok? Dan besoknya lagi? Dan besoknya lagi?

Tapi, gagasan membersihkan salju di bawah pohon ini benar-benar buruk saat aku menyadari sesuatu yang tidak asing duduk dengan tenang di sana. Aku hampir terkena serangan jantung!

Aku menatapnya lekat-lekat, masih menimbang-nimbang apakah dia hantu atau bukan. Ataukah aku hanya berhalusinasi, lagi?

Hantu itu melihatku—jelas dia menatap ke arahku. Tapi, sesuatu yang tidak bisa kupahami terjadi—lagi.

Bayangan pudar itu berangsur-angsur mewujud. Aku melihat sosoknya berpendar, spektrum kuning di bawah sinar matahari musim dingin, menyatu dengan tubuhnya. Aku memandanginya, tidak bisa memercayai apa yang baru saja kulihat.

Aku mengedarkan pandangan, tak ada yang memerhatikanku, atau setidaknya dia. Umma sibuk memberi makan Hani sedangkan Appa berusaha menggelindingkan sebongkah log kayu seukuran dirinya. Aku tidak melihat Grandma tapi kurasa tadi dia masuk ke dalam entah untuk apa.

Tapi, setelah beberapa detik mengamatinya, tak diragukan lagi! Aku mengenalinya.

Jika sebelumnya ia tampak seperti gambar di pesawat televisi rusak, berkedip-kedip dan kabur. Bahkan, aku dapat melihat batang pohon itu menembus tubuhnya yang transparan. Kini, setelah sebelumnya hanya berupa butiran-butiran debu yang menari-nari dalam seberkas cahaya, namun saat ini aku dapat melihat sosoknya yang nyata.

“J—Jessica?”

*

“Namamu Jessica?” Tanyaku masih mengerjap-ngerjap.

“Ya, aku tahu itu.” Kata Jessica. DAN DIA BERBICARA!! “Mengapa kau tidak memberitahuku sesuatu yang tidak kuketahui saja, seperti bagaimana kita bisa tiba disini?” Dia beranjak berdiri dan—dan melihat ke sekeliling. Rambutnya pirang emas, dia tidak mengenakan mahkota daun dafnah seperti yang biasa kuketahui dan dia mengenakan gaun biasa—bukan stola. Dan dia tampak begitu normal!

“Bukankah sebelumnya kita berada dalam pertarungan, dan—dan..” Jessica terkesiap lalu menyentuh lehernya dengan ngeri. “Aku…” Dia melihat sekeliling. “Apakah ini Elysium?”

“Menjawab pertanyaanmu sebelumnya, aku juga tidak tahu.” Jawabku. “Aku tidak ingat bagaimana pertarungan itu atau bagaimana akhirnya. Aku tidak ingat.” Sangkalku. “Dan El—Elis..”

“Elysium.” Pungkasnya.

“Iya, Elysium. Aku tidak paham apa artinya itu atau tempat seperti apakah Elysium itu. Tapi yang pasti sekarang kita berada di rumah nenekku di Maine.”

“Cobalah mengingat. Pikirkan saja apa yang telah terjadi. Coba bayangkan semua yang terjadi antara malam ini dan hal terakhir yang kau ingat, dan cobalah cari petunjuk. Itulah yang sedang kulakukan. Sesuatu yang aneh telah terjadi pada kita.” Jessica mulai tampak khawatir.

“Sekarang kau tahu kan rasanya tiba-tiba muncul di tempat yang benar-benar asing dan sama sekali tidak kau kenal?” Tanpa sadar aku meninggikan suaraku.

Jessica menatapku tanpa suara, dia tak kunjung melepaskan pegangan pada lehernya. Seolah sesuatu yang buruk benar-benar terjadi padanya. Seolah hal itu hampir membuat lehernya terputus.

“Kemarin.” Kataku.

“Apa?”

“Kemarin. Aku berada di sini sejak dua hari yang lalu. Dan aku hanya menganggap kau dan semuanya hanyalah mimpi burukku. Jadi, jika kau tidak keberatan, silahkan menghilang kembali ke tempat kau berasal dan tolong biarkan mimpi buruk itu menjadi mimpi buruk selamanya.” Kini Jessica menatapku ngeri.

“Menghilang?”

“Ya. Kau tiba-tiba saja muncul di sini saat aku hendak membereskan salju di atas batu yang sedang kau duduki itu.”

“Tapi aku tidak bisa!” Jessica menutup mata sejenak lalu menatapku murka.

“Jika kau bisa menghilang, kenapa kau tidak menghilang saja?”

Satu hal yang perlu kau ketahui : Jangan pernah membuat putri salju marah.

Kini wajahnya benar-benar merah padam.

“Tugasku bukanlah untuk menyelamatkan diri nona Hwang, tapi  untuk melindungi Negeri kami, asal kau tahu itu.”

“Terserah kau sajalah.” Aku menyerah, hendak kembali ke dalam rumah saat Jessica menarik paksa lenganku.

“Kau mau kemana?”

“Tidur dan berharap begitu aku bangun kau sudah menghilang.”

“Tapi aku tidak bisa. Aku pasti dikirim kemari untuk sesuatu.”

Aku mendengus. “Aku bahkan tidak tahu apa yang harus kau lindungi dan apa yang harus kau lakukan dengan ‘sesuatu’ itu disini. Selamat pagi Miss Jessica.”

“Hey! Jika aku berada di sini, mungkin yang lain juga. Atau mungkin aku dapat menemukan Taeyeon di sekitar sini.”

Dan hal itu berhasil membuatku berhenti selama beberapa saat dan kembali menatapnya dalam diam. Apa maksudnya itu?

“Dengar Stephanie. Aku tahu, aku tahu sekarang bagaimana perasaanmu begitu kau sadar saat kau di temukan pingsan di ladang anggur waktu itu. Itu tidak…. membahagiakan… kurasa.” Dia berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan. “Lihat, gelang itu masih bersamamu.” Dia menunjuk lenganku.

Dan kemudian aku merasakan dorongan yang begitu kuat dalam tubuhku untuk menendang pantatku sendiri. Bagaimana bisa aku lupa dengan benda ini?

*

Kami duduk di atas lembah besar bersalju setelah sebelumnya aku meyakinkan Umma bahwa aku tidak ingin bermain ski dan ingin menghabiskan waktu bersama teman baruku—Jessica maksudnya. Aku sempat mengenalkannya pada Appa, Umma dan Grandma. Appa dan Umma tentunya senang sekali karena mereka pikir setidaknya aku tidak akan kesepian selama beberapa hari kedepan, sebelum aku kembali dan memulai sekolahku. Tapi reaksi Grandma, cukup mengejutkan. Dia agak curiga dengan Jessica karena dia merasa tidak pernah melihat Jessica berkeliaran di sekitar sini sebelumnya. Tapi, Jessica—dengan kecerdasannya berkata bahwa dia baru saja pindah dari Los Angeles dua hari yang lalu dan tidak punya waktu untuk bersua dengan tetangga-tetangga baru dan kemudian dia berencana untuk membeli sesuatu lalu melihatku tengah sibuk membersihkan gundukan salju di bawah pohon—jadi dia berminat untuk membantu.

Beruntung, sebelumnya dia telah kuberi tahu apa itu Los Angeles atau tidak-tidak jika dia tiba-tiba menjawab dia baru saja pindah dari Faylinn atau Irial mungkin Grandma akan terkena serangan jantung dadakan. Namun, saat Grandma menanyakan siapa nama orang tuanya, jelas Jessica gelagapan. Jadi, aku yang membereskannya. Mengatakan bahwa kita akan bertemu dengan mereka segera dan mengatakan bahwa aku ingin bermain-main dengan temanku alih-alih menginterogasinya.

Kami bernapas lega setelahnya dan memutuskan untuk segera berjalan menaiki bukit. Aku tidak terlalu kesulitan menghafal jalannya, karena dulu sewaktu aku masih kecil aku sering kemari jika aku ingin sendiri.

“Jadi bagaimana sekarang?” Aku bertanya setelah segelintir angin menggelitik wajahku.

“Mencari mereka.” Jawab Jessica tenang.

“Aku bahkan tidak yakin mereka berada di sini.”

“Kau ada disini.”

“Itu karena aku pikir aku sudah mati. Tapi, ternyata aku terbangun dan berada di sini dan kuputuskan semua itu hanya mimpi.” Aku masih bermain-main dengan gelangku—yang selama dua hari ini tak kusadari kehadirannya. Dan—walaupun aku malas mengakuinya, tapi Jessica benar, kami disini untuk membereskan sesuatu. Sesuatu itu berhubungan dengan gelang ini.

“Dan kau berkata kau tidak mengingatnya.” Jessica menatapku geli.

“Baiklah, kau menang.” Aku mengangkat bahu. “Lagi pula, sejak kapan kau seperti itu.”

“Kau saudaraku.” Jawabnya samar.

Jadi, kau benar-benar kakakku ya? Aku tertawa getir.

“Dan aku menyakitimu dengan menjadi saudaramu.

“Aku tidak menyalahkanmu karena keberadaanmu Stephanie.”

Kulihat Jessica mengambil sebatang ranting pohon Ash dan menggunakannya untuk mengukir salju di mata kakinya. Seketika butiran salju seolah bergerak dan membuat pola yang rumit untuk kujelaskan—sejujurnya. Bulat dengan tiga garis melintang yang terbagi dengan sempurna. Maksudku bukan sesederhana itu, lebih rumit namun—yeah, begitulah caraku menjelaskannya sejauh ini.

“Tidak pernah. Tale of three sisters.” Lanjutnya lalu menunjuk garis paling atas. “Yang terhormat.” Lalu bergerak ke sisi barat. “Yang terbijak.” Terakhir dia menunjuk paling timur. “Yang tercinta.”

“Aku tidak paham apa maksudmu.”

“Kau akan paham pada saatnya.”

Aku putuskan untuk menurutinya saja.

Tiba-tiba sesuatu yang keras terjatuh menghantam sesuatu di balik semak-semak di belakang punggung kami. Sontak saja aku menoleh.

Jessica hendak berdiri saat aku menghentikannya. “Jangan…” Bisikku.

“Kenapa? Aku ingin melihatnya.”

Aku mengerjap-ngerjapkan mata. SUNGGUH! DIA TERLIHAT NORMAL, KAKAK YANG NORMAL.

“Bisa jadi, itu binatang buas.” Aku mencoba memperingatkannya.

“Dan kenapa aku harus takut?” Dia menatapku heran, seolah binatang buas yang kusebutkan disini hanya berarti kecoa mungil baginya.

“Itu… errr… seperti monster buas yang berkeliaran di Faylinn.”

“Dan kita bisa membuyarkannya kapan saja bukan?”

“Errr…” Aku memutar otak, berusaha menjelaskan dengan kata-kata yang mudah dicerna akal sehat. “Itu… tidak semudah… jika kau bisa membunuhnya dengan emas imperial atau perunggu langit… itu… lebih…. rumit.. kurasa.”

“Mereka hanya binatang bukan? Hewan? Bukan monster.”

Saat suara di balik semak-semak itu semakin membuatku ngeri, ingin rasanya aku lari sekarang juga. Terlebih aku tidak membawa apapun bersamaku saat ini, tidak katopris sekalipun. Lagi pula, tidak mungkin kan aku bergulat dengan—bisa jadi singa atau beruang menggunakan gelang peninggalan umma ini. Itu akan jadi hal terkonyol.

“Jess… sebaiknya… kita…”

“ADUH!”

Aku terlonjak ke depan dan hampir menabrak batu besar seandainya saja kakiku benar-benar terperosok masuk ke dalam lubang seukuran mata kaki di dekat semak.

Jessica benar-benar penasaran sekarang. “Ada seseorang di sana. Ayo! Kita harus melihatnya.”

*

“STEPHANIE! JESSICAA!! KALIAN SELAMAT!!!” Teriakan Yoona hampir berhasil mebuat telingaku tuli. Kemudian serangan rangkulan dan pelukan tak terelakkan lagi. Aku hampir saja kehilangan keseimbangan seandainya saja Sooyoung tidak menarik lenganku kembali.

“Yeah, secara harfiah aku memang selamat.” Jawabku memandang mereka dari atas sampai bawah.

Aku mendesah kecewa. Jadi bukan mimpi buruk ya?

“Huaaahh… Kupikir aku sudah mati! Aku menangkis serangan monster banteng bau itu, tapi kemudian dia menyerangku dari samping dan bum! Aku terjatuh di sini.” Yoona dengan semangat berapi-api menjelaskan kepada kami, tak ketinggalan tangannya yang ikut bercerita.

“Yoong, ngomong-ngomong… apa kau tahu bahwa kau baru saja berbaring di atas tahi sapi?” Hyoyeon tiba-tiba berkata sambil menahan tawa dan yang kutahu Yoona membeku di tempat. Dia menatap gaunnya dan semakin pucat.

“Dan kau baru saja memelukku!” Jessica mendelik padanya.

“A—aku.”

“Kurasa itu bukan kotoran sapi.” Potong Seohyun.

“Lalu, menurutmu apaan?” Sanggah Sooyoung.

“Entahlah, bagaimana keadaan kalian?” Tanya Sunny pada kami.

“Kau melihat kami.” Jawabku masih terpaku pada setumpuk kotoran di dekat Yoona yang tak bergerak sedikitpun.

“Ngomong-ngomong, ada yang tahu mengapa kalian ada disini?”

“Kami. Kata yang benar adalah kami.” Sanggah Hyoyeon.

“Aku sedang tidak nafsu untuk berdebat Hyo, jadi cepat katakan.”

“Kau… Errr… kita… masih berhutang satu hal pada Pluto.”

“Serius? Kukira aku bakal kembali atau setidaknya mati dengan damai.” Jawabku ketus.

“Kau masih harus menemukan tongkatnya.” Jelas Seohyun.

“Tidak. Aku tidak mau.”

“Demi Taeyeon!”

“Ha?” Aku memandang mereka tak percaya. “Jangan menggunakan Taeyeon untuk memerasku begitu. Aku tidak suka.”

“Aku serius. Aku ingat betul waktu itu ibumu pernah berkata bahwa—jika kau dapat menemukan tongkat itu untuknya, kau mungkin akan bisa meminta sesuatu dari Pluto. Taeyeon mungkin akan menjadi tawaran yang cukup bagus.”

Aku mulai berani berharap, tapi setidaknya tidak kutunjukkan sekarang. “Kenapa tidak kalian sendiri saja?”

“Kita… em… tidak bisa.. Gelang itu..” Sunny menggigit bibirnya.

Tale of three sister, huh?” Gumam Seohyun sebelum dia kembali menatapku. “Begini saja Tiffany, jika kau ingin Taeyeon kembali kau bisa ikut bersama kami—dengan kemungkinan berhasil lebih besar. Dan jika kau tidak ingin melihat Taeyeon tersiksa lebih lama lagi di dunia bawah….” Seohyun tak melanjutkan kata-katanya.

Aku tidak mau memikirkan kata-katanya barusan, tapi hati dan mulutku benar-benar mengkhianati pikiranku sekarang. “Baiklah. Aku ikut dengan kalian.”

*

“Kau tahu, ini akan menjadi misi yang sangat sulit. Karena kita akan bermain-main dengan waktu.” Ungkap Seohyun.

“Maksud kalian?” Aku bertanya, tapi tak ada yang berminat untuk menjawab pertanyaanku, jadi aku mengambil inisiatif untuk bertanya langsung pada Sunny. “Apa maksudnya ini Sunny-ah? Ada apa dengan waktu?”

Tapi, dia sepertinya juga tidak mau menjawab pertanyaanku secara langsung. “Yuri pasti menyembunyikan tongkat itu di suatu tempat—yang berhubungan dengan waktu. Dan waktu hanya bisa diubah disini—di Bumi.”

“Satu-satunya dunia dengan perhitungan waktu yang akurat hanya Bumi. Di sini matahari dan bulan hanya ada satu jadi kemungkinan untuk mengubah Waktu hampir sembilan puluh persen.”

“Dan dia datang bersama nymph paling berbahaya di negeri kami. Victoria, sang pengkhianat waktu. The Time Traitor”

*END*

By : Sasyaa95

SERIES 2

Mungkin kau takkan pernah percaya jika aku mengatakan hal ini padamu, atau kau mungkin bakal beranggapan bahwa aku gila atau kepalaku mungkin terbentur sesuatu yang sangat keras hingga menyebabkan kerusakan pada saraf-saraf otakku.

Tapi tidak! Ini nyata dan ini benar-benar terjadi.

Jika kau anggap The Time Machine yang terburuk, maka kau salah besar! Ini mungkin akan menjadi yang terburuk sepanjang masa.

Sepanjang waktu yang menjadikanmu buta.

Orang-orang menghabiskan banyak waktu meneliti ruang angkasa meyakini bahwa bintang-bintang dan galaksi-galaksi bergerak dengan cara yang kita kira. Kami menganggap sesuatu yang tidak bisa kita lihat dan mengerti merupakan efek dari pergerakan bintang-bintang.

Bayangkanlah, misalnya kau sedang berada dalam obralan Januari di Oxford Street dan berjalan menembus kerumunan orang. Tidak mungkin kau bisa berjalan lurus di sana, bukan? Kau akan terdorong-dorong dan tertubruk-tubruk, dan kau harus berkelit untuk agar tidak menabrak orang lain. Nah, bayangkanlah semua orang tiba-tiba menjadi tidak terlihat. Massa mereka masih ada di sana, berjalan dan menubrukmu, tapi kau tidak bisa melihat mereka. Sekarang, bayangkanlah bahwa ada beberapa orang menyaksikanmu dari atas sebuah bus tingkat, apakah yang akan mereka pikirkan?

Bahwa kau gila—atau mabuk, mungkin?

Aku sependapat dengan hal itu.. tapi jika orang-orang di bus itu mengamatimu lekat-lekat, dan mereka memutuskan bahwa kau tidak gila ataupun mabuk, bagaimanakah mereka bisa menjelaskannya? Bisakah kau memahami bahwa mereka menarik kesimpulan dirimu bergerak secara aneh gara-gara sebuah kekuatan yang tidak terlihat? Dengan kata lain, mereka dapat menebak adanya kerumunan orang karena caramu bereaksi terhadapnya. Tidakkah kau pikir itu masuk akal?

Nah, sekarang kami meyakini itu, tepat seperti kerumunan orang di Oxford Street yang akan mengubah caramu berjalan, sebuah kekuatan ghaib yang misterius memberikan efek bagi pergerakan bintang. Kami pikir, itulah yang membentuk sembilan puluh persen alam semesta kita, dan para astronom menyebutnya materi gelap.

Victoria Song.

Ini bukanlah kisah tentang awal penuh harapan yang berakhir mulus; ini adalah kisah tentang tokoh-tokoh yang mendapati diri mereka berada di tempat yang tidak semestinya, tanpa mengetahui—sama seperti kita semua—bagaimana kisah mereka akan berakhir. Dan mereka selalu menyadari bahwa hanya harapan dan tekadlah yang menjadi pemisah antara diri mereka dan bencana.

Victoria. yang selalu menunjukkan optimisme besar dalam hal ilmu pengetahuan dan fakta, sangat menyukai, seperti yang akan kalian lihat, filsafat. Stephanie mencatat beberapa gagasannya untuk menenangkan dirinya saat dia merasa Waktu tidak berpihak padanya.. Stephanie memintaku untuk menyalinnya di sini, dan aku dengan sangat senang hati melakukannya.

Waktu bukanlah majikan kita meskipun pendulum senantiasa berayun. Melalui kekuatan Memori dan Imajinasi, tidakkah kita bisa dengan sekehendak hati berenang mengarungi sungai Waktu, menyelami Masa Lalu sekaligus Masa Depan kita? Dipandang dari sudut yang sama, maka  pendapat bahwa Waktu adalah hal yang konstan menjadi ilusi semata. Jalan Waktu, yang tidak berkaitan dalam mimpi-mimpi kita, menjadi terabaikan dalam aktivitas dan hanya benar-benar dapat diselami dalam kebosanan yang akut. Oleh karena itu, jangan biarkan Waktu menjadi majikanmu, namun jadikan majikan bagi Waktu.

Victoria Song, 3000 tahun usia matahari berdasarkan kalender Faylinn

(Citizen Montfaron)

.

[UCAPAN TERIMA KASIH]

Aku mulai menulis Nymph the lost crown demi alasan terbaik: karena aku mengingikannya. Memulai sebuah tulisan adalah suatu hal yang mudah, menyelesaikannya tidaklah semudah itu.

Okay, okay.. I know this is cheesy.

God. Parents. Siblings. Friends. PenPals. Enemies. Haters. Fans. S.N.S.D. All.

This story was dedicated to all of you!

Dosen! Thank’s untuk segalanya. Untuk mengajariku agar tidak menyalahkan orang lain. Semangat dan motivasinya. Dan janjinya untuk menjadikan saya penulis sungguhan seperti pak Arofat! *wink*

BUNDAAA!!! I Love you and your personal developement! Thank’s for the ‘think outside the box’ things. wkwkw~

MR. HERUUUUU~ Thank’s. You are the best english teacher i’ve ever met. Terimakasih sudah mau mengatakan serentetan kekurangan saya dan tak pernah menyebutkan sedikitpun kelebihan saya. Saya akan berusaha lebih baik lagi sampai anda berkata bahwa saya sudah ideal di mata anda. (Walaupun saya agak sedikit sangsi) Saya tahu anda melakukannya karena satu alasan yang tak bisa saya jelaskan disini. Terima kasih, untuk tidak menjadikan saya ‘sesuatu yang bukan saya’

See you

next

year

in Series 2 ^.~

Iklan

33 thoughts on “NYMPH(s) Bonus Chapter”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s