Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Cinderella and the Pink Shoes [1]

cinderella and the pink shoes

“Takdir bukan berdiam diri saja, ia tengah menunggu kita memainkan ceritanya”-Tokyo:Falling

“INI SEPATU SIAPA?” Hanya itu yang dapat Taeyeon katakan saat berada di depan lokernya yang menganga. Tidak hanya karena fakta bahwa dia tidak suka benda itu ada di sana di dalam loker pribadinya saja, tapi karena benda itu bukan seleranya sama sekali. Warnanya yang pink menyala saja sudah membuat gadis berparas mungil itu naik pitam, belum lagi modelnya yang terlalu kekanakan.

Setidaknya kalau mau memberiku kejutan, pastikan seleramu agak kerenan.

Taeyeon sudah membayangkan pemilik sepatu itu pasti orangnya norak, dengan wajah bulat dan gaya khas dikuncir dua. Mungkin mirip seperti Yunmi dari kelas sebelah yang hobinya berdandan menor dan rok yang sengaja di angkat tinggi-tinggi saat berjalan. Atau seperti gadis pindahan dari Jepang Sakura yang lebih mirip anak TK daripada SMA.

Lalu Taeyeon melirik lagi sepatu tersebut kemudian menghela napas dalam-dalam. Benar-benar kekanakan dan berselera rendahan! Pikirnya.

Pink, motif bunga, berenda di setiap sisi penutupnya, lalu pita sebesar bola ping-pong yang disematkan di ujungnya.

Benar-benar norak!

Dan yang lebih parahnya adalah, bahwa sepatu itu hanya sebelah saja, sebelah kiri tepatnya.

Dengan kesal, Taeyeon mengambil sepatu jahanam itu dan beberapa saat kemudian ia baru sadar bahwa sepatu itu ‘menginjak’ kertas-kertas yang sudah satu minggu ini mati-matian dia kerjakan untuk mendapatkan persetujuan mengikuti tugas akhir. Bayangkan!

Sepatu jelek itu mengotori lembar persetujuan tugas akhirnya dengan cap lumpur.

Sambil mengumpat-umpat, Taeyeon hampir saja membuangnya ke dalam tong sampah sampai seseorang berteriak dengan kencang di belakangnya.

“Jangan!”

Taeyeon menoleh dan beberapa detik kemudian ia merasakan tubuhnya membeku. Seolah saja semua hal di sekitarnya tiba-tiba berhenti bergerak. Fokusnya hanya satu, pemilik suara itu.

Oh, bukankah dia…

Tanpa disadari, sepatu itu masih menggantung indah di tangannya, kurang satu meter lagi nasibnya akan tidak jauh berbeda dengan sampah-sampah lainnya dalam bak tersebut.

“Kumohon jangan…” Perempuan pemilik sepatu itu berlari kecil mendekatinya, dan bodohnya Taeyeon masih saja bergeming di tempatnya.

“Bisakah aku mengambilnya?”

Sumpah serapah yang sudah tertumbuk di bibirnya tiba-tiba saja kembali tertelan.

“Oh? Ya.. ini…. milikmu?”

“Maaf, Yakuza mencurinya saat kami sedang masuk di lab.. dan aku tidak tahu dimana mereka menyembunyikannya sampai kali ini…. Maaf..”

“Oh…” Taeyeon hanya mengangguk-angguk. Ia tahu, betapa gilanya komplotan Yakuza di sekolahnya jika mereka sedang membenci sesuatu atau sesorang.

Kemudian Taeyeon menyadari bahwa gadis itu hanya memakai sepatu sebelahnya saja dan berlari dari lab sampai kemari.

Pasti sangat berat, kasihan. Pikirnya.

Kemudian Taeyeon menyadari bahwa mata gadis itu tertumbuk pada lembaran-lembaran kertas di lokernya. Dan kini, gadis itu menatapnya dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah.

“Oh Tuhan, apa yang mereka lakukan…”

Taeyeon menggeleng-gelengkan kepala, yeah… dia menemukan satu kebenaran lagi, kebenaran yang cukup gila. Bahwa, selain senang mengganggunya, komplotan Yakuza keparat itu juga suka mengerjai gadis ini.

Taeyeon mengenalinya, tentu saja. Hampir sepekan penuh seantero sekolah digemparkan oleh kedatangan gadis blesteran dari Amerika yang kabarnya kecantikannya bisa disetarakan seperti sang model Im Yoona. Kemudian para kaum adam semerta-merta seperti kebakaran jenggot.

Oh, ya.. dialah orangnya. Taeyeon tahu. Dialah yang membuatnya terkena sial oleh kelompok Yakuza.

“Tidak masalah, aku masih punya sejam lagi untuk memperbaikinya.”

“Aku… sungguh-sungguh minta maaf..”

“Bukan salahmu kok, tidak perlu merasa bersalah begitu.”

“Tapi itu sepatuku yang membuat tugasmu berantakan, aku tidak tahu mengapa mereka meletakkannya di lokermu begitu.”

“Mereka memang selalu begitu pada semua orang, biarkan saja.”

Taeyeon kemudian meletakkan sebelah sepatu di tangannya dengan perlahan, seolah takut benda itu akan pecah.

“Baiklah, kalau begitu aku harus segera pergi. Satu jam akan sangat berharga untukku kali ini.”

Taeyeon langsung menyambar kertas-kertas bercorak lumpur dalam lokerenya dan bersiap pergi sebelum suara gadis itu kembali memecah keheningan koridor panjang yang biasanya sepi tersebut.

“Tunggu sebentar… Biarkan aku membantumu!”

**

Membantu.

Tidak pernah sekalipun Taeyeon berpikir gadis itu akan membantunya mengerjakan sesuatu.

Gadis itu populer di sekolah, yeah.. dan selain Yuri, Taeyeon tidak punya teman ‘populer’ lagi di sekitarnya. Sebenarnya, Sunny cukup populer, tetapi hanya karena dia bersifat asik dan easy-going jika dibadingkan dengan dirinya yang agak apatis dan individualis.

Seperti saat ini, dia cukup tidak senang dibantu gadis populer seperti Tiffany.

Mungkin hanya karena sepatu—yeah.. hanya karena sepatu jahannam itu.

Taeyeon tidak bisa membayangkan gadis itu memakai sepatu senorak itu. Membayangkannya memiliki benda itupun tak pernah sekalipun terbesit di otakku.

Tidak hanya modelnya yang terlalu norak, sepatu itupun juga terlihat buatan seratus tahun yang lalu. Benar-benar vintage.

“Nah, selesai…” Suara itupun membawa pikirannya kembali.

Taeyeon hampir tersedak melihatnya. Tidak hanya karena dia sendiri tidak menyentuh kertas-kertas baru itu tapi, dia hampir terkejut saat melihat tulisan tangan gadis itu yang begitu indah.

Seperti karangan bunga, sulur-sulur daun yang dirangkai dengan cantik. Sederhana tapi menarik. Seperti parasnya…

Dan Taeyeon langsung mengagguminya. Sebagai seorang maniak estetika, ia tak bisa tak melewatkan karya seindah itu.

“Aku tak menyangka kau bisa menulis seindah ini.”

“Oh, memang beginilah caraku menulis.” Katanya.

“Kau beruntung.”

Mereka sama-sama tersenyum dan sama-sama tidak tahu mau berbicara apa lagi. Taeyeon melirik jam tangannya, masih tersisa dua puluh menit sebelum kelasnya dimulai.

“Bagaimana dengan cafetaria?” Tanya Taeyeon.

“Bukan ide yang buruk.”

**

Jadi, Taeyeon mulai berpikir serentetan pertanyaan yang bisa dia ajukan untuk membunuh waktu—yang sebenarnya ia terlalu gengsi untuk mengakui bahwa dia ingin mengurung gadis itu bersamanya lebih lama lagi.

“Dan… oh, ada satu hal yang begitu ingin kutanyakan dari tadi.”

“Oh, dan apakah itu?”

“Kumohon kau tidak tersinggung.” Taeyeon menatapnya cemas.

“Oh, tergantung.”

“Baiklah, tidak jadi.” Taeyeon langsung tutup mulut.

“Oh, ayolah.. aku hanya bercanda! Kau boleh menanyakan apapun.”

Dan senyum itu lagi. Taeyeon bisa mati kutu jika dia harus melihat senyum itu dua belas kali sehari.

“Yeah, uh.. dari mana aku harus memulainya? Sebenarnya, aku hanya penasaran saja. Darimana kau mendapatkan sepatu… eh… unik… itu?”

“Oh…” Wajahnya langsung berseri-seri. “Kau takkan percaya jika aku menceritakannya!”

“Aku bisa memercayai hal-hal paling gila sekalipun!” Bantah Taeyeon. “Aku percaya semua cerita, asalkan diceritakan dengan bagus.”

Gadis itu masih diam, menatap jauh sepatu yang saat ini ia kenakan dengan sempurna. Menggerak-gerakan ujung sepatunya hingga membentuk pola-pola acak yang tidak bisa dia jelaskan, zig-zag, lingkaran, segitiga. “Aku sudah berjanji untuk tidak lagi menceritakannya pada siapapun.” Akhirnya dia berkata.

Janji yang salah tidak menjadi lebih baik jika ditepati.” Kata Taeyeon, rasa penasaran berhasil menguasai dirinya. “Setidaknya begitulah yang pernah kudengar dari film kesukaanku.”

“Aku tidak tahu apakah janji itu yang salah.” Katanya sambil menghela napas dan memandang ke langit-lagit seolah di sana bisa menemukan jawaban. “Tetapi baiklah.” Dia berkata “Tapi kau harus berjanji untuk tidak tertawa atau menganggapku gila.”

“Oke, tentu saja. Sebelum aku menyebutmu gila. Aku pasti sudah gila duluan.” Taeyeon tersenyum hingga lesung pipitnya terlihat dan hampir membuat Tiffany tersedak kue yang baru saja dimakannya.

“Dulu… Dulu sekali… Sebelum ayahku memberikan sepatu ini padaku, mendiang ibuku yang memilikinya. Ayah juga pernah berkata bahwa ibuku mendapat sepatu ini dari nenek. Dan dia bercerita panjang sekali tentang sepatu ini yang aku yakin kau tak ingin aku untuk menceritakannya.”

Taeyeon mendengarkannya dengan penuh tanda tanya dan rasa ingin tahu yang besar. “Ceritakan saja! Aku akan mendengarkannya! Sungguh!” Dia mengangkat dua jarinya tinggi-tinggi dengan wajah super seriusnya.

Tiffany tersenyum simpul lalu melanjutkan. “Yeah, dia bilang aku harus memakainya. Dan dia juga bilang bahwa sesungguhnya sepatu ini memiliki sepasang lagi yang hilang. Yeah, kau bisa menganggap bahwa sepatu ini sebenarnya memiliki couple yang lain.”

“Lalu, dimana couple itu sekarang?” Suara Taeyeon tak lebih dari sekedar bisikan.

Namun Tiffany hanya menggeleng, “aku tidak tahu, ayah bilang bahwa jika aku belum menemukan couplenya berarti aku harus memberikan sepatu ini pada generasi selanjutanya dan begitulah seterusnya. Jangan berpikir bahwa aku gila! Aku sudah mencoba memakainya setiap hari dan kau boleh percaya atau tidak, sepatu ini tidak sekalipun rusak atau hilang juntrungnya hingga… yeah, satu setengah jam yang lalu.”

“Dan aku menemukannya.” Seru Taeyeon.

“Ya, dan kau menemukannya.” Tiffany menyeruput coffe-nya yang masih hangat kemudian dia memandang lurus ke depan.

“Apakah ayahmu berkata apa yang harus kau lakukan untuk menemukan sepatu yang hilang itu?”

“Tidak..” Tiffany menggeleng lemah. “Ayah juga tidak tahu.”

Taeyeon hanya mengangguk-angguk tanpa mencoba memaksa lebih jauh. “Oke, ini memang gila… Tapi, apakah aku boleh mencobanya? Aku benar-benar penasaran.”

Tiffany menatapnya sejenak, ia mendapat firasat bahwa ia dapat memercayainya. Tatapan matanya benar-benar tulus dan bersungguh-sungguh. “Tentu saja.”

**

Saat Taeyeon mulai memakai sebelah sepatu antik itu, rasanya seolah ada benang-benang tak kasat mata yang menarik-narik tubuhnya hingga benar-benar terulur dan menyusut. Ia tidak tahu, tapi saat ia berdiri, ia seolah melayang-layang masuk ke dalam lift yang mahadahysat luas dan kecepatannya. Lift itu membawanya terbang zig-zag dan kemudian seolah melemparkannya jauh dari ketinggian satu kilo meter lalu dia terbangun dan mendapati semua tak lagi sama.

Tak hanya sepatu itu saja yang kini berubah warna menjadi biru muda dan keduanya melekat sempurna pada kakinya. Tetapi bahwa ia terjatuh di tanah saja merupakan goncangan berat baginya.

Tanah.

Satu elemen yang tak pernah ia pikir akan ada di cafetaria sekolahnya.

Dunia seolah memudar di matanya. Ia tak lagi dapat merasakan segala sensasi—tarikan itu seolah menelan tubuhnya kembali dan membuat kepalanya begitu sakit. Sakit sekali sehingga ia tidak mampu merasakan apapun lagi.

Ia masih mencoba membuka mata, dan hal pertama yang ia temukan hanya sepatu itu. Sepatu merah muda yang berada di sisinya dan suara teriakan familiar.

“Oh, Tuhan.. Apa kau baik-baik saja?”

Dan Taeyeonpun tertidur, lelap, dan semakin lelap. Hingga ia tidak tahu bahwa jika kelak ia terbangun, segalanya akan berubah. Hidupnya, kenyataan, dan bahwa kejahatan, tidak berlaku setimbang dengan kebaikan di tempatnya kini berada. [ ]

Ps.

Gue gak banyak janji loh ya… :p

Kalo gue punya waktu luang, i’ll make it work. Tapi kalo enggak ya~ mohon maap ceman-ceman.. setidaknya saya akan berusaha semaksimal mungkin… Dadaaaah~

Iklan

44 thoughts on “Cinderella and the Pink Shoes [1]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s