SNSD, SOSHI FF

Cinderella and the Pink Shoes [2]

cinderella and the pink shoes

“Sesuatu dari segala sesuatu dalam segala sesuatu” -Dunia Sophie

BOBROK.

Bahkan kata itupun masih belum pantas untuk menggambarkan kondisi tempatnya kini berada. Ia tak lagi merasa ditarik-tarik seperti boneka benang atau dikelit-kelit seperti belut. Tubuhnya sudah agak enakan, meskipun sensasi akibat terlempar dari ketinggian satu kilo meter masih berimbas pada tubuhnya.

Dia masih ingin menutup mata, berharap semua ini hanya mimpi lain di dalam mimpi, bahwa setelah ini ia akan bangun lagi, jadi Taeyeon masih menutup matanya rapat-rapat. Udara di sini begitu sejuk sampai-sampai membuat matanya enggan membuka, dan lagi pula dia juga tidak ingin melakukannya.

Buktinya, dia tetap bergeming meskipun mendengar sebuah suara yang membisiki telinganya, menyuruhnya untuk segera bangun dan membuka mata. Tapi, Taeyeon tidak melakukannya, dia masih ingin terlelap dalam tidurnya. Seperti yang kerap kali terjadi saat ibunya membangunkannya agar berangkat sekolah lebih pagi, agar dia tidak terlalu sering terlambat seperti yang biasa dia lakukan. Tapi tetap saja, dia masih menganggap suara itu datang entah dari mana, mungkin dari mimpinya yang terdalam.

Taeyeon tetap menolak untuk membuka mata, walaupun suara itu—suara yang sepertinya familiar di telinganya namun dia tetap memilih untuk menganggapnya sebuah mimpi saja. Yah, udara di sekitarnya memang dingin ditambah bau petrichor yang masih segar. Sepertinya hujan baru turun di tempat ini, dan Taeyeon masih saja menolak berpikir, mengapa dia bisa membau di dalam mimpinya.

Sampai pada akhirnya dorongan itu begitu keras, hingga lututnya menyentuh ujung tempat tidur—atau setidaknya begitulah yang ia rasakan.

Umma mendorong terlalu keras, aku kan bisa-bisa saja bangun sendiri tanpa harus didorong-dorong dan diberi wewangian aneh begini!

Hey.

Bangun.

Cepatlah.

Kumohon.

“Ini pasti masih mimpi.”

“Hey…”

Hingga sesuatu yang dingin menyentuh pipinya, dan Taeyeon langsung membuka mata. Tidak ada yang pernah mencoba membangunkannya dengan membelai pipinya, tidak ada! Bahkan untuk menyentuhnya pun, tidak ada, tidak Umma sekalipun.

Tapi ini, berhasil membuatnya terbangun. Dengan sangat perlahan, Taeyeon membuka mata dan langsung disambut oleh cahaya yang begitu menyilaukan.

Taeyeon mencoba menghiraukannya, namun sesuatu dari balik cahaya tersebut menarik perhatiannya, Tiffany.

Memangnya ada apa Tiffany disini?

“Apa yang…” Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya. Dia masih terheran-heran dengan setengah sadar. Apakah ini masih mimpi? Satu seri lagi dan aku mungkin tidak akan pernah bangun lagi!

Tiffany tidak seperti yang terakhir kali dia lihat, memakai rok seragam sepuluh senti di atas lutut dengan rambut ikal yang tergerai sebahu.

Tapi Tiffany yang berada di hadapannya kini, memakai baju abad delapan belasan, dengan rok mangkuk seperti payung yang banyak tambalan di sana-sini, Taeyeon tentu dapat langsung mengenalinya dari beberapa kain kotak-kotak yang berbeda corak ditempel di hampir seluruh pakaiannya yang sudah kumal.

Satu-satunya hal yang dapat Taeyeon kenali darinya adalah sepatu vintage-nya yang tampak sangat lusuh.

“Tiffany?”

“Oh, nama engkau Tiffany?” Hanya itu yang dia katakan.

Taeyeon hanya memandanginya tak percaya, mungkin dia lebih percaya dengan pikirannya dari pada panca inderanya. Bahwa sekarang dia tengah berada di dalam mimpi yang sangat gila.

“Kau… Dimana aku?” Taeyeon memandangi sekelilingnya.

Ruangan itu lebih mirip kandang sapi. Luasnya hanya sekitar empat belas meter dengan satu tempat tidur reyot yang kini ditempatinya, sebuah lemari yang sebelah kakinya diganjal bata merah dan warnanya sudah tidak dapat dikenali lagi, sepasang meja dan kursi yang begitu jelek, setumpuk keranjang kayu berisi pakaian kotor—dan anehnya, pakaian itu terlihat begitu mewah walaupun tidak dalam seleranya yang agak moderen, kemudian satu rak berisi macam-macam benda yang diletakkan di sebelah pojok kanan ruangan itu, sebagian rak tersebut gelap karena bagian atasnya menghalangi sinar matahari yang menyeruak melalui jendela ruangan itu. Mungkin, selain berfungsi sebagai ventilasi udara, jendela itu juga terlihat bagus dijadikan tempat pengintaian.

Tiffany tidak menjawab pertanyaannya, tatapannya tertumbuk pada kaki tempat tidur. Sehingga membuat Taeyeon harus maju beberapa senti untuk benar-benar melihat wajahnya.

“Tiffany? Bisakah kau ceritakan, bagaimana bisa kau—atau aku ada disini? Dan ada apa dengan pakaianmu? Halloween sudah lewat sepekan yang lalu kan?”

Dan akhirnya, selama beberapa detik Tiffany menatapnya sebelum kembali menunduk.

“Fany?”

“Saya minta maaf, saya menemukan engkau tergeletak di tanah bebatuan dekat sungai, jadi mungkin saya berpikir, bahwa…. mungkin… mungkin saja…” Dan kata-katanya berhenti begitu saja.

“Sungai? Kapan aku pernah pergi ke sungai? Dan ada apa gerangan dengan saya? Engkau?” Kemudian Tiffany menatapnya tak percaya, seolah Taeyeon telah mengucapkan hal-hal yang tabu, walaupun demikian, Tiffany tetap diam. Tidak berbicara sedikitpun hingga dari jarak tiga puluh meter dari tempat itu, terdengar suara lengkingan mahadahsyat yang hampir mematahkan telingannya.

“MIYOUNG! CEPAT KERINGKAN BAJU INI!! AKU AKAN MEMAKAINYA UNTUK PESTA DANSA BESOK MALAM!”

**

Tidak bisa.

Sekeras apapun dia mencoba, tetap tidak bisa.

Taeyeon menutup matanya sekali lagi, mencoba untuk tidur. Dalam pikirannya hanya ada satu hal; bahwa jika dia bangun setelah ini, dia akan kembali di dalam kamarnya yang nyaman dan selimut tebalnya yang hangat. Tapi, walau sekeras apapun Taeyeon mencobanya, ia bahkan tak bisa tertidur lagi.

Frustasi, Taeyeon menendang selimut yang diberikan Tiffany beberapa waktu lalu hingga tempat tidurnya berdecit dua kali lalu Taeyeon merasakan kini tempat tidur itu bertambah miring ke tembok. Sedetik kemudian, dia pun menyesalinya.

Semestinya Tiffany tidak menyuruhnya menunggu disini—sembunyi disini.

Mengapa dia harus bersembunyi?

Dia harus bersembunyi dari apa?

Tapi gadis itu bersikeras mengatakan bahwa Taeyeon harus menunggu disini sampai dia kembali.

Dia hanya ditemani kucing yang memelototinya dengan galak. Mata jingganya seolah menusuk Taeyeon hingga jauh. Kucing itu melingkar dengan manis di pinggir jendela, barangkali sinar matahari membuatnya hangat.

Taeyeon hendak turun dari tempat tidur saat kucing garong berbulu oranye belang-belang itu bangkit dan mengeram ke arahnya, seolah tidak mengijinkannya turun dari tempat itu. Tapi masalahnya adalah, Taeyeon kelaparan. Dia berniat untuk mencari Tiffany dan mungkin juga bisa meminta sepotong roti darinya.

Taeyeon melihat sekitar, tempat itu memang bobrok, tapi tidak jorok. Semua barang tertata dengan rapi di tempatnya masing-masing. Tidak ada pakaian berserakan atau pun buku-buku bergeletakan di atas meja seperti dalam kamarnya saat Taeyeon sedang malas dan ujian sudah di depan mata.

Tempat yang cukup nyaman. Pikirnya.

Tapi perutnya semakin keroncongan, jadi dia turun saja dari tempat tidur reyot itu dan berjalan keluar, mengabaikan geraman kucing garong yang terus mendelik ke arahnya. Taeyeon berusaha mencari lubang kunci yang menyegel pintu itu. Tapi tidak ketemu.

Kemudian dia melihat seutas tali yang sedikit menjuntai di samping kenop, tanpa pikir panjang, dia menariknya perlahan, saat itulah Taeyeon menyadari bahwa tali itu terhubungkan dengan paku sepanjang jari telunjuknya. Pintu itu bersebelahan dengan jendela, jadi Taeyeon berusaha untuk tidak menghiraukan kucing garong itu yang mencoba untuk menghentikan aksinya dengan menyaruk-nyarukkan tangannya yang kotor pada lengan Taeyeon yang sedang sibuk mencari jalan keluar.

Saat Taeyeon menarik benang itu, pintu di hadapannya terasa melonggar. Kemudian Taeyeon menariknya lagi hingga sesuatu berdenting dari depan pintu. Lalu pintu itupun berderit membuka dari depan. Selama sepersekian detik dia hanya bergeming di tempat itu. Jarang sekali dia mendapati pintu dengan model seperti ini. Seingatnya style itu sudah ribuan tahun tidak dipakai lagi.

Normalnya, pintu akan terbuka dari dalam, tapi pintu dihadapan Taeyeon ini membuka ke depan, dan itu adalah salah satu dari sekian ketidakwajaran yang ia temukan semenjak tiga puluh menit yang lalu.

Kemudian Taeyeon berjalan seperti bayangan tanpa suara melewati beberapa pohon Ash dan Angsana dalam kebun yang luasnya hampir satu are. Dia hampir tercengang melihat pemandangan tersebut sampai-sampai tiga kali tersandung. Hamparan sawah dan sungai yang berkelok-kelok terpampang jelas di hadapannya. Tempat itu terasa begitu tidak biasa.

Nah, itu dia!

Taeyeon melihat Tiffany sedang berdiri di hadapan tiga wanita. Walaupun kini Taeyeon hanya menatap punggung ketiga wanita itu saja, tapi Taeyeon punya firasat kuat bahwa tiga wanita itu adalah orang terakhir yang ingin ditemuinya.

Tiffany berdiri menunduk dan dengan takut seolah ketiga wanita itu akan meracuninya dengan sebotol cairan anti serangga. Tiffany tidak berani menatap ketiga wanita tersebut—yang menjerit-jerit dan berteriak-teriak seperti orang kesetanan.

Tiga wanita itu mungkin saja sangat jelek. Dari belakang, Taeyeon dapat mengamati bahwa satu dari ketiga wanita itu segendut drum dan sangat pendek, bajunya saja mungkin bisa melindungi dua orang sekaligus dari hujan. Di sampingnya, wanita sekurus batang bambu dan setinggi tiang listrik tampak berkacak pinggang sambil menghentak-hentakkan kaki kanannya di atas tanah, tampak begitu kesal.

Yang terakhir, postur tubuhnya ideal, rambutnya yang bergelombang menjuntai sebahu. Tapi tampaknya wanita itu juga tidak terlalu mengundang. Dia bersidekap dengan angkuh sambil mengayun-ayunkan kecil-kecil kipasnya. Taeyeon bahkan bertanya-tanya apakah hembusan dari kipas itu berefek untuknya, tapi kemudian dia berpikir bahwa lagi pula udara di sini memang sudah sejuk tanpa kipas itu.

Taeyeon ingin memberi isyarat pada Tiffany, tapi gadis itu terus menunduk. Sudah sekitar lima menit sampai dia hampir menyerah saat si wanita gendut itu membentak Tiffany dan gadis itupun secara otomatis mendongak, dan terlihat terkejut mendapati Taeyeon di dekat pohon Ash terbesar.

Taeyeon tak pernah merasa selega ini seharian. Dia tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Tiffany, namun gadis itu malah mendelik ke arahnya, seolah memeringatkannya pada sesuatu, entah apa.

Taeyeon hendak melangkah maju sampai Tiffany tersenyum pada ketiga wanita itu dan melambaikan tangannya di depan wajah, dan Taeyeon pun membeku di tempat.

Senyuman itu…

Salah satu dari mereka, sang wanita pembawa kipas hendak menoleh ke arahnya sebelum Tiffany kembali menariknya dan masuk ke dalam pekarangan yang penuh sesak dengan jemuran.

Ketiga wanita itupun masuk ke dalam rumah lewat pintu belakang. Bangunan itu begitu besar dan luas, walaupun sangat klasik. Tapi Taeyeon langsung menyukainya begitu melihat dindingnya yang disusun dari batu kali yang sehitam jelaga.

Siapapun yang merancang bangunan itu pasti sangat artistik, pikirnya.

Setelah puas mengaggumi bangunan tersebut, dengan penantian terpanjang dalam hidupnya, Taeyeonpun seketika merasa lega saat melihat Tiffany keluar dari dalam rumah itu dengan membawa dua potong roti.

Taeyeon mengamatinya lekat-lekat, gadis itu menuju ke arahnya dan kelihatan sangat tidak bahagia. Tiffany tampak sedikit kesulitan berjalan dengan baju tambalannya, berkali-kali Taeyeon melihatnya tersandung atau menginjak ujung pakaiannya sendiri.

Saat mereka sudah sangat dekat, dan hanya berjarak satu langkah kaki saja, Taeyeon langsung mencium aroma tubuh Tiffany yang begitu segar.

Lavender.

Namun gadis itu justru menarik tangannya dan memelototinya galak seperti kucing garongnya di dekat jendela.

“Sudah kukatakan pada engkau berkali-kali untuk tidak meninggalkan tempat itu, sangat berbahaya!”

Dan Taeyeon tetap menurutinya walaupun dia tak pernah tahu, bahaya apa yang dimaksud oleh Tiffany.

“Saya membawakan sepotong roti untuk engkau, nah mari kita sarapan terlebih dahulu di kamar sebelum mereka meneriaki saya lagi.” [ ]

Ps : Ohmygod, ohmygod, ohmygooooooooddd…

I’m baaaackk… heppi? :p

Oke Oke Oke… I’m back, tapi jangan berharap lebih okay? Kayak gue bakal apdet tiap seminggu sekali.. Gue gak bisa janjiin itu, yang pasti gue bakal terus berusaha, dan gue menepatinya kan? hohoho

byeee~

Iklan

39 thoughts on “Cinderella and the Pink Shoes [2]”

  1. Deuhh bcanya jga asa2 ngeganjel nih. Apalgi kta “engkau” euhh gmna ngmng ny ini.. Tpi trlepas dri itu gue ska sma ff nya.

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s