Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Cinderella and the Pink Shoes [3]

cinderella and the pink shoes

“Sepasang sepatu bagus akan membawamu ke tempat yang tak pernah kaupikirkan sebelumnya” -Prada & Prejuidce

“Apa menurutmu aku bisa pulang ke rumah?”

Belakangan ini, Taeyeon menyadari bahwa Miyoung bukanlah Tiffany, gadis itu bahkan tidak tahu siapa itu Tiffany atau bagaimana wajahnya apalagi kesukaannya. Baiklah, dengan sangat terpaksa akhirnya dia menyerah meyakinkan bahwa gadis di depannya ini menurutnya adalah Tiffany.

“Itu tergantung, rumah engkau di mana dulu.” Tiffany atau Miyoung mengunyah roti dengan semangatnya seolah itu adalah roti terakhir yang akan dia makan malam ini.

“Seoul, kau tahu? Berapa lama waktu yang kubutuhkan?” Memang sulit membayang-kan bahwa tempat ini adalah tempat yang sama seperti saat dia pertama kali tertidur, misalnya.

“Seoul? Maksud engkau Seoul Korea Selatan?”

“Wah, benar sekali. Memangnya di negara mana lagi yang punya ibu kota bernama Seoul?”

Wajah Tiffany berbinar-binar seolah baru saja menemukan barang berharganya yang telah lama hilang. “Saya rindu Seoul.”

“Yeah, aku juga sangat merindukannya.”

Tiffany terdiam selama beberapa saat dan Taeyeon membiarkannya begitu saja.

Saat Taeyeon mengulurkan tangan ke meja di sebelah tempat tidur untuk mengambil segelas air, dia melihat amplop lavender pucat bersandar pada jam beker.

Dengan penuh rasa keingintahuan, Taeyeon mengambil amplop yang berterakan nama ‘Miyoung Hwang’ dengan huruf-huruf berlekuk indah. Saat ia menarik kertas itu, tiba-tiba satu amplop lain yang serupa merosot jatuh di bawah jam beker. Taeyeon terngaga saat mendapati namanya tertera dengan indah di sisi kanan amplop berwarna lavender tersebut.

Kepada: Ms. Taeyeon Kim

“Kenapa namaku ada disini?”

Namanya dituliskan dengan huruf-huruf berlekuk indah. Tak ada alamat rumahnya, tak ada alamat pengirim, juga tak ada perangko. Taeyeon membalikkan amplop; ternyata disegel dengan lilin merah darah, sentuhan yang aneh dan kuno banget.

“Saya tidak tahu, sewaktu Pelayan Kerajaan kelas satu menyebarkan undangan tersebut, mereka memberiku dua amplop, jadi saya putuskan untuk menyimpannya saja.” Jawab Tiffany masih berkelut dengan rotinya yang menurut Taeyeon cukup keras.

Butuh beberapa waktu lebih lama lagi bagi Taeyeon untuk membuka yang satu ini, untuk merasakan berat dan tekstur kertasnya, untuk mengamati segelnya seperti seorang ilmuwan. Ada dua monogram huruf BJ disana, terjalin bagaikan sulur-sulur tanaman merambat. Anehnya, Taeyeon merasa begitu familiar dengan tulisan itu.

Akhirnya, setelah mengalami perdebatan panjang dengan dirinya sendiri mengenai dimana dia pernah mendapati tulisan semacam itu sebelumnya, ketidaksabaran dan rasa penasaran Taeyeon menang, dibukanya amplop itu, dipatahkannya segel yang tebal.

Invitation

*klik untuk memperjelas

“Tunggu, bagian dari kerajaan? Kerajaan apa?”

Tiffany berhenti mengunyah rotinya, dan menatap Taeyeon seolah diri-nya adalah hantu yang dapat berbicara. “Kerajaan apa?”

“Ya! Apa yang dibicarakan undangan ini? Sialan!* Aku gak ngerti!” Umpat Taeyeon kembali melipat surat tersebut kemudian me-masukkannya dengan asal ke dalam amplopnya dan melemparkannya begitu saja di atas kasur. (*Damn: Sialan)

“Huh? Bendungan?*” Ulang Tiffany, kini giliran dia yang kelimpungan bahwa Taeyeon menanyakan semua ini kepadanya. (*Dam: Bendungan)

“Oke, baiklah… Tiffany, eh.. Miyang, eh.. apalah.. Aku tidak tahu dimana aku berada sekarang, dan aku ingin pulang. Bagaimana menurutmu?”

“Cara berbicara engkau aneh.”

“Nah, sekarang bukan saatnya berdebat tentang cara berbicara Mi..”

“Young..”

“Baiklah, MiYoung. Sekarang aku… Sangat… Sangat… Ingin pulang ke rumah dan tidur. Semua ini membuatku hampir gila!” Taeyeon tidak dapat tidak memikirkan bagaimana dengan sekolahnya, dengan orang tuanya, dengan kamarnya, dan yang terpenting adalah, bagaimana dengan tugas akhirnya? Guru Park akan membunuhnya jika dia bolos latihan renang lagi kamis sore ini.

“Aku… Kau… Semua kata-kata itu, hanya digunakan oleh keluarga bangsawan untuk memanggil para budak. Apakah engkau, secara kebetulan adalah keturunan keluarga bangsawan?” Ungkap MiYoung, meninggalkan Taeyeon yang tengah menganga saking terkejutnya.

“Bangsawan? Kuharap sih begitu MiYoung. Tapi, sayangnya tidak ada bangsawan dalam keluargaku.”

“Dulunya saya adalah seorang bangsawan, yah.. Sebelum Mommy meninggal dan Daddy menikah lagi dengan penyihir itu.”

“Maksudmu, sekarang hidupmu terjebak dengan tiga wanita aneh tadi itu?”

“Ya, bisa dibilang demikian.”

“Ceritamu terdengar sangat familiar, kau tahu.” Taeyeon mengelus pundaknya, dan Tiffany memberinya sejurus senyuman yang hampir mematikan seluruh sarafnya yang masih berfungsi.

“Berhenti tersenyum seperti itu.”

MiYoung mengangguk lalu membersihkan sisa rerempahan kue yang bertebaran di seluruh meja kecil di sudut ruangan itu.

“Taeyeon?”

“Ya?”

“Kau masih ingin pulang?”

“Begitulah. Memangnya kenapa?”

Wajah MiYoung berubah berawan, “yah, tadinya saya pikir engkaulah orang yang dikirim Tuhan untukku.”

“Eh, maksudmu?”

“Aku selalu berdoa setiap malam, aku kesepian dan aku ingin punya teman yang bisa kuajak bicara selain Romeo.” Miyoung menatap sedih kucing berbulu belang yang sedang menyantap rotinya dengan lahap, sebelumnya Miyoung telah menunjukkan kebaikan hati seorang pemilik kucing garong kepada Taeyeon, dan sampai sekarang pun tak bisa dilupakannya.

“Wah, sepertinya kau beruntung bertemu denganku. Kau bisa pulang bersamaku dan akan kukenalkan kau dengan orang yang benar-benar mirip denganmu. Sungguhan.”

“Saya mau.”

“Sempurna.”

“Tapi, sebelum itu ada hal yang ingin saya lakukan.”

“Apa?”

“Saya ingin ikut pesta dansa itu.”

“Yah, kita atau tepatnya kau, kan memang wajib ikut.”

“Tapi mereka pasti tidak mengizinkanku, tidak dengan keajaiban.”

Mata Taeyeon berbinar-binar, “aku akan mengabulkan keajaiban itu untukmu, Tuan Putri.”

**

“Lalu, bagaimana dengan engkau Ms. Taeyeon?” Tanya Tiffany, satu tangannya mengangkat gaun satin hitam bergaya sangat klasik, tapi juga menggoda dan terlihat seperti sesuatu yang dirancang desainer Amerika.

“Panggil saja aku Taeyeon, dan berhenti memanggilku engkau dan saya. Itu terlalu formal dan sudah seratus tahun tidak digunakan. Aku dan kau saja sudah cukup, terakhir apa yang bagaimana denganku?” Taeyeon membuka resleting garmen, mengaduk-aduk isinya yang menurut seleranya sudah kuno banget seperti syal-syal bulu cerpelai, gaun-gaun wrap jersey, dan scraf-scraf sutra berwarna terang yang tertata rapi di depan display. Dia masih tidak percaya bahwa rumah megah bergaya abad delapan belasan ini memiliki walk in closet!

“Baiklah, maksudku adalah lalu bagaimana denganmu? Kau kan juga harus menemukan gaun yang cocok untukmu.”

“Huh? Siapa yang bilang aku harus memakai gaun?”

“Dengan segala hormat, apa maksudmu tidak memakai gaun Miss.. eh, Taeyeon?”

“Siapa yang bilang aku ikut dalam pesta semacam itu? Tidak. Terima kasih sudah menawarkan.”

Taeyeon dengan hati-hati membuka pintu sebuah lemari pakaian berwarna gading yang sedikit terbuka. Lemari pakaian itu penuh dengan mantel-mantel bercorak macan tutul, sepatu-sepatu bertumit tinggi, dan gaun-gaun menakjubkan berpayet emas-perak. Kilasan warna pink tertangkap olehnya dari lemari pakaian agak ke dalam dan Taeyeon menyisihkan mantel-mantel bulu dan gaun-gaun berkilau untuk melihat lebih jelas.

Gaun itu membuat Tiffany terkesiap. Itu gaun pink muda yang sempurna, berpotongan panjang yang jatuh menjuntai dari garis pinggul, berdetail rumit dengan brokat emas mengilap dan manik-manik perak kecil.

“Cantik…” Gumam Taeyeon, melihat air muka kekaguman MiYoung yang sedang mengeluskan bahan sutra dingin itu ke pipinya.

“Kau benar, gaun ini dulunya adalah milik ibuku.”

“Tentu saja.”

Taeyeon masih memandangi MiYoung yang mencengkeram gaun itu dan merengkuhnya dengan protektfif ke dadanya dengan ekspresi kepingin sekali, seolah tidak membiarkan siapapun merebut gaun itu darinya. Taeyeon tidak akan melakukannya, tentu saja.

Mendadak saja sebuah lengkingan suara yang sudah tidak asing lagi menggelegar dari arah lantai utama.

“HEY! MIYOUNG APA SAJA YANG KAU LAKUKAN DISANA? CEPAT AMBILKAN GAUNKU!”

Cepat-cepat MiYoung menyisir baju-baju yang tergantung rapi di rak, menyembunyi-kan kembali gaun itu kedalam lemari pakaian putih gading. Lalu dengan asal menyambar gaun satin hitam berpotongan panjang V neck.

Sedetik kemudian, MiYoung baru menyadari siapa yang berada di dalam ruangan ini, bersamanya. Kemudian, dengan kasar dia menarik Taeyeon ke dalam display raksasa dan menekan tombol merah tersembunyi di balik renda-renda hias, dan Taeyeon pun segera terseret masuk ke dalam suatu ruangan yang sangat… sangat gelap, sontak saja ia merasa sendiri, kesepian, dan kedinginan. Dia me-ringkuk di ubin dingin dalam ruangan itu, sambil samar-samar men-dengarkan percakapan MiYoung dan salah satu saudara tirinya.

“Mana gaun yang cocok untukku?”

Jeda beberapa saat sebelum wanita itu kembali berteriak.

“Apa kau pikir pangeran mau melihatku dengan pakaian kuno begini? Carikan aku gaun yang lebih moderen! Jika tidak, kau tidak akan men-dapat makan malam hari ini.”

“Ba… baik ma’am.”

Taeyeon mendengar suara MiYoung gemetar, untuk sesaat dia begitu bersyukur tidak memiliki ibu tiri atau saudara tiri yang galak seperti mereka. Dia langsung rindu rumah dan ibunya, juga Haeyeon dan Jiwoong, sehingga tanpa sadar air matanya lolos begitu saja melalui pipinya yang memerah karena kedinginan.

“Taeyeon, cepat! Kita punya tugas yang harus segera diselesaikan sekarang!” Saat Taeyeon mendongak, MiYoung sudah berada tiga meter di depannya, tepatnya di depan pintu rahasia display raksasa sambil merengkuh gaun pink di dadanya.

Taeyeon segera menyeka pipinya yang basah lalu berdiri menghampiri Miyoung yang sudah menunggu dengan gelisah.

Melihat hal itu, MiYoung tak bisa menahan rasa bersalahnya, “maafkan saya karena sudah meninggalkan engkau di sini sendirian, engkau pasti ketakutan.”

“Tidak jadi soal, bukan masalah itu kok.”

MiYoung mengangguk dan mereka melanjutkan perjalanan dengan hening melalui jalan rahasia yang panjang tersebut, dan menurut Taeyeon tidak berujung.

“Aku dan ibuku dulu yang mengusulkan untuk membangun jalan ini.” Kata MiYoung memecah keheningan.

Cool.” Keren.

“Kau benar, disini memang sangat dingin.

“Bukan itu… maksudku… baiklah.” Wajah Taeyeon memerah saat MiYoung merapat-kan tubuhnya pada Taeyeon lalu menyelimutkan gaun pink itu ke tubuh mereka berdua. Walaupun demikian, sebenar-nya bukan gaun itu yang membuatnya hangat. Tentu saja karena kulit lembut mereka yang saling bergesekan dan wajahnya yang semakin memerah juga sama-sekali tidak membantu.

OhMyGod,OhMyGod,OhMyGod,OhMyGod…

Hanya itu yang ada dalam kepala Taeyeon sepanjang sisa perjalanan menuju gubuk kandang sapi sambil berdoa semoga MiYoung tidak mendengar degup jantungnya yang sangat tidak normal di sore secerah ini.

Setelah sampai di persimpangan halaman belakang, mereka tidak sengaja berpapasan dengan sebuah keluarga yang tengah berderap menaiki kereta kuda kuno dengan ukiran klasik yang sangat rumit berwarna hijau terang.

Duduk di belakang pak kusir, Sang Ibu yang memakai gaun klasik berwarna biru langit dan topi bertepi lebar dengan bulu tajam di sampingya tengah menggendong bayi laki-lakinya sambil tersenyum ke arah mereka, mungkin bertanya-tanya kemanakah dua gadis cantik ini akan menuju di sore yang cerah begini sambil membawa gaun merah muda yang berkilauan. Sementara Sang Ayah yang memakai setelan jas hitam dan topi tinggi, terlalu sibuk membaca koran untuk memerhatikan sepasang gadis tujuh belas tahun yang tengah melarikan diri dari amukan tiga penyihir galak .

Taeyeon memicingkan mata, melihat halaman depan koran itu dengan seksama.

The Times of London

                                                                JULY 29, 1872                                                                    

Dan setelah keluarga berkereta kuda itu akhirnya melewati mereka, seketika itu juga Taeyeon pun tidak sadarkan diri. [ ]

Ps.

Dear readers yang terhormat… please.. mohon… sekali lagi saya ingatkan untuk membaca apapun petunjuk yang saya berikan…

Gue masih sering menemukan komentar “Author, saya boleh minta passwordnya?” di postingan ALL PASSWORD. Pelis deeeeeeeehhh… Mohon bantuannya untuk dibaca terlebih dahulu sebelum memosting komentar.

Tolong dibaca sesuai prosedur ceman-cemanku yang tersayang… duh… Saya bikin prosedur itu untuk dilaksanakan sesuai dengan apa yang saya harapkan, dan kalau kalian lupa… kalian sedang ada di rumah saya, dan HARUS mengikuti aturan yang saya buat.

Pertama-tama yang harus kalian baca adalah : AYO! WELCOME TO MY PARADISE. Disitu kalian bakal menemukan petunjuk-petunjuk yang saya buat untuk MEMUDAHKAN kalian semua, jadi mohon bantuannya… *begging*

Saya tahu, gak semua orang penggila keteraturan seperti saya… Tapi mohon sekali lagi, sekali ini saja… ikuti prosedur yang sudah saya buat. Saya buat prosedur itu bukan untuk menyulitkan kalian kok, justru sebaliknya. Kalau gak percaya, coba deh dibuka.

Di situ telah dijelaskan secara rinci tentang “mengetahui postingan terbaru author”, “cara download termudah dan efisien”, “cara mendapatkan password tanpa harus minta-minta ke author” dsb.

Jadi, kalau masih ada komentar semacam, “thor, gimana caranya kita tahu ada postingan baru kalo tampilannya macem gini?”, “thor, gimana nih cara donlotnya?”, atau “thor, gimana gue bisa dapetin passwordnya?”

Serius, jawaban gue palingan cuman satu, “oh, mudah sekali teman-teman… asalkan kalian bisa membaca saja, sudah lebih dari cukup.”

Oke, pelajaran baru apa yang kalian dapatkan hari ini?

Bacalah sebelum Berkomentar, think before you speak…

Kedua, masalah komentar…

Ini gue agak egois sih, tapi gue rasa gue berhak melakukan apapun di rumah gue, kan?

Please… bisa kasih gue apresiasi selain, “ditunggu kelanjutannya…” , “wah, gak sabar nih apa ya yang bakal terjadi sama… ?.” , “semangat ya…” , “gue gak ngerti maksudnya”, “gue gak tau mau komen apa, daebak..” ?

Mungkin kalian berpikir gue egois, ya.. gue egois.. banyak yang bilang begitu..

Tapi, egoiskah?

Gue berusaha meluangkan tiga puluh menit gue setiap malem, setiap pulang kuliah jam 10 malem, gue sempatin tiga puluh menit di sela waktu belajar gue buat nulis minimal seratus kata, buat kalian… buat kalian… buat… kalian.. Gue mengharapkan lebih dari sekedar komentar singkat yang gak lebih dari lima puluh karakter dan berisi hal-hal yang gak gue mengerti =,=”

Salahkah kita berharap?

Biarin yang komen cerita gue cuman tiga orang tapi kasi gue masukan, solusi… gue butuh itu.. demi tiga puluh menit gue..

Takut menyakitkan? Jangan khawatir, gue udah biasa ngerasain yang namanya ‘bersakit-sakit dahulu’

“Thor, gue gak tahu mau komen apaan… yang pasti daebak..” Gue lagi berpikir buat bikin postingan yang isinya,

Gue gak tahu mau apdet apaan… yang pasti daebak! Dan ngeliat reaksi kalian semua #ketawasetan

“Thor, gue gak ngerti maksudnya apaan nih cerita.”

Please deeeh… dateng ke gue jangan bawa masalah doang, solusi.. masalah gue udah banyak.. makasih..

Sebenernya ada option yang lebih baik, “maaf thor sebelumnya, tapi aku kurang paham apa maksud cerita ini, menurut saya terlalu banyak kata-kata yang tidak saya mengerti seperti vintage, blah blah blah. Mungkin lain kali bisa dijelasakan dengan penggambaran yang lebih terperinci dan dengan bahasa yang mudah dan nyaman dicerna (usus kaliii).”

Nah, itu baru membangun… bukan justru menjatuhkan…

#cryingallnight

“Wah, kereeeen… Taeyeon jadi peri..”

Yeah, gue tahu… ngomong-ngomong, kenapa kau tidak memberitahuku hal-hal yang tidak kumengerti saja, semisal… apa warna pakaian dalam yang dipake Taeyeon hari ini?

“Wah, ditunggu ya lanjutannnya…”

Iya, makasih.. ditunggu juga ya komentarnya 😉

Iklan

27 thoughts on “Cinderella and the Pink Shoes [3]”

  1. salam kenal author sya,, oy kelihatannya sya2 suka baca2 buku yg heehe bkin mikir banyak,, pantes pas baca circle, nymp banyak pesan yg sya suka selain hanya cerita, mksh,, klo disini aq tertarik liat sdkit kutipan inpirasi buku sophie-yg saya blum selesai baca sampai skrg akhirnya. sya2 suka cerita ttg “waktu” ya, penting bnget dlm sebuah kehidupan, perkara hakekat hidup, sejarah dll. ijin baca, mkasih,, 🙂 aq pernah dgr dari sobatku bilang, Orang yg besar adalah orang yg menghargai sejarah. semoga sya2 selalu berkarya.

  2. Gue br nemu ini wp thor..
    Salam kenal aja ya..
    Gue mau ngasih masukan juga kan nanggung ini udh bulukan 😂
    Lu mgkin udh lulus kuliah thor
    Gatau denk 😂

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s