Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Cinderella and the Pink Shoes [4]

cinderella and the pink shoes

“Everything you can imagine is real.”
― Pablo Picasso

Untuk Amortentia (?) Love yaaa~ :*

Taeyeon pasti cuma bermimpi. Mimpi yang sangat gila, terdampar selama hampir dua ratus tahun ke belakang hanya untuk menghadiri sebuah pesta dansa. Dan itu konyol.

Taeyeon merasakan dentangan yang cukup keras dalam kepalanya, seolah-olah sebuah bor tengah menembus kedua bola matanya. Dia ingin muntah, tapi alih-alih dia malah bergeming dan terus memejamkan mata hingga rasa mualnya mereda dan dentungan dalam kepalanya memudar menjadi gebukan drum jauh di belakang.

Sepertinya itu hanya bunyi bel tanda masuk sekolahnya, dan ia tetap tidak ingin bangun. Rasanya mimpi buruk baru saja menghantuinya. Aneh rasanya pingsan di tanah berbatu dan sekarang berbaring di tempat yang empuk—walau terlalu keras untuk dikatakan empuk.

“Taeyeon…”

Saat seseorang memanggil namanya, Taeyeon mengerang pasrah.

Suara itu lagi! Jangan katakan aku masih terjebak dalam kegilaan ini!

“Taeyeon…”

Dan untuk yang kedua kalinya, Taeyeon akhirnya membuka salah satu matanya mengira dia akan kembali ke rumahnya, atau setidaknya di unit kesehatan di sekolahnya, tapi ternyata tidak. Taeyeon membuka matanya yang lain, dan rasa pening itu telah lenyap.

Fiuh.

Setelah kedua matanya terbuka, bagaimanapun, sebuah masalah baru hadir: Dia sedang duduk di atas kasur yang sama seperti saat ia bangun pagi tadi. Dan itu adalah sebuah masalah lain yang tak kalah besar. Itu artinya, dia benar-benar terjebak dan tidak bisa pulang.

Otaknya yang masih setengah tersadar, menolak untuk berpikir tentang 1872 dengan The Times of Londonnya. Atau bagaimana bisa dia sampai terlempar kemari, dengan semua tatapan aneh yang dia dapatkan dari Tiffany atau lebih tepatnya Hwang MiYoung dan semua orang yang secara kebetulan melihatnya berjalan-jalan konyol dan mengena-kan seragam SMA bergaya termoderen.

Sekarang dia paham, mengapa tadi wanita itu tersenyum sambil menatap heran ke arah nya. Karena ini 1872! Dimana seharusnya semua orang mengenakan gaun berpotongan panjang dengan rok selebar payung jumbo berenda-renda dan sepatu bertumit tinggi seperti pantofel yang biasa digunakan ibunya saat bekerja. Oh ya! Pasti itu.

Namun masalahnya adalah, dia masih memakai sepatu converse 12 nya! Padahal dia ingat betul, dalam mimpinya, dia memakai sepatu vintage warna biru yang persis seperti milik Tiffany.

Itu pasti cuma mimpi lain, kalau aku bisa bermimpi terlempar ke 1872, bermimpi memakai sepatu vintage warna biru yang dikabarkan telah lama hilang pun terasa tidak terlalu konyol juga.

“Engkau sudah bangun rupanya, apa yang kau gelisahkan?” Tanya MiYoung sambil menuang segelas air kemudian menyerahkannya pada Taeyeon.

Taeyeon berusaha untuk mengabaikan makna kiasan yang tersirat di dalamnya, karena apa yang dikatakan MiYoung benar-benar terasa seperti sebuah sajak yang sarat makna. “Kau mungkin akan menganggap aku gila.”

Dengan pakaian seperti ini, mungkin dia sudah lama menganggapku sangat gila.

“Mengapa demikian?” Satu alisnya terangkat saat menanyakannya, benar-benar menawan.

“Katakan padaku bahwa ini bukan di London pada 1872.” Taeyeon bertanya dengan sangat berhati-hati.

“Lebih tepatnya adalah London, 29 Juli 1872, dan pesta dansa akan digelar dalam dua hari kemudian, memangnya ada apa?”

Apa-apaan yang sedang kupikirkan! Aku pasti sudah gila sekarang, mungkin mereka hanya sedang memainkan peran! Ya, pasti peran yang sangat hebat! Berpura-pura terjebak di masa lalu dan menolak evoulsi mentah-mentah. Atau mungkin ini London yang lain, bukan London yang itu. Mungkin mereka benar-benar menghayati peran mereka. Mungkin barang kali mereka punya diktat yang harus mereka baca tiap malam untuk memastikan kebenaran semua detil yang mereka mainkan, semisal pesta dansa yang diadakan pangeran?

Namun, itu adalah dalih lemah yang tidak lagi masuk akal. Apalagi setelah melihat sendiri bagaimana kondisi tempatnya berada saat ini.

Taeyeon sudah menyerah berpikir mana yang lebih gila; dirinya atau dunia memang sudah gila. Kemarin, dia masih hidup dan berjalan-jalan di abad kedua puluh satu, dan tiba-tiba beberapa menit kemudian, dia terlempar hampir dua ratus tahun ke belakang, dia masih bertanya-tanya, bagian manakah yang lebih gila?

“Apakah Seoul sudah lama berubah?” Tanya MiYoung lagi dengan ekspresi penasaran yang lucu dan hampir membuatnya tertawa.

“Sudah sangat lama sekali berubah, jika itu yang kau tanyakan.” Taeyeon masih berusaha mengingat-ingat kelas Guru Baek, kalau saja orang itu tidak terlalu membosankan saat mengajar Sejarah, dia pasti sudah ingat kapan tepatnya Korea Selatan terbentuk, dan Seoul sudah menjadi ibu kota.

“Terakhir kali saya di sana, Jepang mulai menjajah tanah-tanahnya, dan Korea masih berada dalam kekuasaan China. Alasan itulah yang membawa saya beserta Daddy berlayar kembali kemari semenjak kepergian Mom.” Lipatan matanya bergetar seolah menerawang kenangan-kenangan indah yang dulunya milik mereka dan sekarang terenggut darinya.

Taeyeon dapat melihat kesedihan yang terpancar dari wajahnya, Tiffany yang ini benar-benar membuatnya kelimpungan.

“Lalu Ayahmu sendiri ada di mana?”

“Dia menyusul ibuku setelah dua tahun pernikahannya dengan penyihir itu.”

Baiklah, mungkin ini saatnya Taeyeon untuk menyudahi perbincangan itu, dan beralih ke topik pembicaraan yang lebih menggembirakan, seperti cara kembali ke abad dua puluh satu, misalnya.

Tapi Taeyeon tidak mengatakannya, tentu saja. Dia tidak mau atau lebih tepatnya tidak tahu bagaimana cara menjelaskan pada Tiffany yang ini bahwa dia berasal dari masa depan, sekitar dua ratus tahun kemudian hanya karena tidak sengaja terlempar gara-gara memakai sepatu vintage lusuhnya tanpa benar-benar dianggap gila.

“Engkau sendiri tidak pernah menceritakan tentang dirimu, atau keluargamu.” Kata MiYoung memecahkan konsentrasinya pada pikirannya yang masih berkelut tentang ‘cara jitu kembali ke abad dua puluh satu menggunakan sepatu jahannam.’

Aku harus menemukan setidaknya satu buku yang menarik di sini, semisal ‘The Idiot’s Guide to Time Travel?

“Miss Taeyeon?”

“Eh, ya?”

“Engkau belum menceritakan tentang dirimu?”

“Diriku?”

“Ya..”

“Tidak ada yang menarik dalam diriku,” Yah, kecuali fakta bahwa aku berasal dari abad kedua puluh satu yang sedang menikmati perjalanan konyol ke tahun 1872.

“Asal-muasal keluargamu?”

“Yang pasti bukan dari keluarga bangsawan atau sebagainya.”

“Oh, rakyat jelata?”

Skak mat. Untuk pertanyaan yang satu itu, jelas Taeyeon tidak dapat menjawabnya. Dia tidak bisa membayangkan apakah di abadnya keluarga seperti dia dapat disebut rakyat jelata. Pemikiran itu sukses membawanya kembali ke rumah.

Sejak dua puluh menit yang lalu, Taeyeon terus memikirkan kehidupannya.

Bagaimana jika aku benar-benar hilang dari abad kedua puluh satu? Bagaimana jika ada tim pencarian, dan seluruh keluargaku kebingungan setengah mati, dan semua orang mengira aku diculik? Tuhan, kalaupun aku memang harus berada disini selama beberapa saat dan kemudian dapat kembali ke asalku, apa pula yang bisa kukatakan pada mereka? ‘Oh, maaf, aku berlibur ke tahun 1872. Aku agak disibukkan oleh urusan gadis pemilik kucing garong berang yang ingin banget pergi ke pesta dansa, namun dilarang keras oleh ibu tiri dan saudari-saudari tirinya yang jahat dan menyebalkan. Kau tahukan betapa tragisnya hal itu. Lalu, aku juga harus menghadiri pesta dansa tersebut dan memakai gaun, korset dan segala tetek bengeknya. Sebenernya, semua itu lumayan mengasyikkan. Jadi, kalian tidak perlu mengkhawatirkanku. Sungguh!’

Dia tidak mungkin mengatakan semua itu, kan?

“Ada yang menarik dari dirimu?”

“Hah? Memangnya apa?”

“Engkau jelas berbeda, saya tahu itu.”

**

“Jadi MiYoung, apa pekerjaan penting yang akan kita lakukan malam ini?”

Taeyeon masih ada dalam kamar MiYoung, menyadari betapa gelapnya ruangan tersebut. Mereka hanya ditemani cahaya temaram yang berasal dari lilin-lilin yang ditata dengan apik mengelilingi setiap sudut kamar itu sehingga membuatnya tampak indah di tengah kebobrokannya.

Taeyeon masih menghitung, tujuh tahun kemudian Thomas Alfa Edision akan menemukan sesuatu yang akan mengubah dunia menjadi lebih terang. Seandainya saja Thomie—akhir-akhir ini, Taeyeon gemar memberikan nama-nama unik untuk para penemu, menemukan bola lampu delapan tahun lebih cepat, maka dia tidak akan pernah bisa mengaggumi wajah MiYoung dalam pancaran cahaya temaram. Kegelapan bahkan tidak membuat kecantikannya berkurang.

“Pesta dansa akan digelar dua hari lagi, dan saya harus mencarikan gaun untuk kedua saudari saya. Apa yang harus saya lakukan?”

“Sebutkan ukuran kedua saudarimu, dan mari kita mencarinya di toko.”

“Tapi kita harus pergi ke kota, dan mungkin butuh waktu seharian dengan berkuda, sementara pesta dansa sudah dilaksanakan dua hari kemudian. Gaun itu harus sudah jadi sekurang-kurangnya lusa siang. Engkau pasti tahu betapa kedua saudariku tidak gemar menunggu.

“Oh, tentu saja aku sangat tahu.” Taeyeon memacu pikirannya begitu cepat hingga mengabaikan bagian ‘harus sudah jadi-nya’. “Kita kan hanya butuh waktu setidaknya dua jam untuk memilih pakaian.”

“Dua jam? Penjahit baju tercepat yang pernah kutemui hanya dapat mengerjakan sebuah gaun sederhana selama dua hari, dua jam sepertinya mustahil.”

“Penjahit? Kenapa kita harus menemui penjahit? Apa tidak ada setidaknya satu toko baju di sekitar sini? Kayaknya aku juga butuh satu.”

“Kayaknya?”

“Iya, kayaknya. Tidakkah aku kelihatan aneh dengan baju begini?”

“Sangat aneh, saya sempat mengira engkau tidak berasal dari daerah sini.”

“Tentu saja tidak. Aku berasal dari jauh, sangat jauh.. Bahkan lebih jauh dari Seoul.” Yang kira-kira jaraknya adalah dua ratus tahun.

“Oh, aneh sekali. Lalu bagaimana engkau bisa sampai disini?”

“Wah, pertanyaanmu persis sekali dengan apa yang sedang kupertanyakan seharian ini.” Taeyeon mengintip melalui celah jendela, dia terkesiap mendapati begitu banyak bintang yang menggantung di langit malam ini, ia sendiri tidak pernah kepikiran untuk bertanya-tanya, kenapa bintang-bintang jaman sekarang—jaman dia maksudnya, agak pemalu jika dibandingkan dengan bintang di jaman ini yang bersinar agresif.

“Menurutmu, apakah mungkin kita bisa mendapatkan gaun instan disini? Maksudku sebuah tempat yang menjual baju siap pakai?”

“Saya rasa tidak pernah ada yang seperti itu sebelumnya, yah, kecuali toko baju bekas. Lagi pula saya bisa meminjamkan engkau satu gaun terbaik yang saya punya.”

“Baiklah MiYoung terima kasih, tapi kita tetap akan pergi ke kota besok pagi.”

Dan setidaknya aku akan menemukan sebuah taksi, dan pergi ke bandara—mencari tiket pesawat yang tercepat ke Seoul. Taeyeon bahkan tidak yakin dia membawa paspor.

“Engkau tidak sedang bercanda kan? Toko baju bekas?”

“Yeah… Kenapa tidak? Aku punya ide yang sangat bagus untuk menyelamatkanmu!”

 “Baiklah, saya memercayai engkau. Dan lebih baik gagasan engkau berjalan mulus atau kita tidak akan pernah bertemu lagi setelahnya.”

**

“Jadi, uh… sejauh apakah kota dari sini?” Tanya Taeyeon kepada MiYoung yang tengah berkonsentrasi melihat jalanan sementara kereta kuda yang mereka tumpangi melesat melewati rumah-rumah kuno, jalanan-jalanan yang benar-benar berkesan prasejarah, dengan lubang-lubang dan kubangan-kubangan lumpurnya.

Taeyeon mencubit lengan kirinya, meninggalkan bekas merah di sana. Kemarin, dia sedang duduk-duduk di sebuah kafe di kantin sekolahnya bersama Tiffany pada abad kedua puluh satu, berkeluh kesah karena tugas akhirnya yang menyiksa… dan sekarang lihatlah; rambut terkepang, gaun kuno, korset, dan menaiki sebuah kereta. Kereta sungguhan yang ditarik kuda!

“Dua belas mil,” jawab MiYoung. Dia duduk di sebuah bangku di atas kereta, merapikan gaunnya sendiri.

“Dari mana kau mendapatkan kereta ini?”

“Saya meminjamnya dari Nyonya Louise, beliau baik sekali mau meminjamkan kereta kuda kesayangannya pada saya. Saya berani bertaruh, sekarang dia tengah duduk-duduk di teras rumahnya, minum teh hijau sembari menunggu kita. Nyonya Louise selalu mengatakan bahwa beliau bersimpati pada saya, dan beliau selalu bisa diandalkan jika saya sedang sangat membutuhkan sesuatu.” MiYoung mengatakannya dalam satu helaan napas, lalu tersenyum mematikan.

Hidup pasti sangat sulit baginya.

“Aku bersyukur kau bertemu dengannya.”

“Tak sebersyukur diriku.”

Beberapa menit berlalu, pemandangan disekitar mereka berangsur-angsur berganti. Setelah sebelumnya begitu kampung, kini bangunan-bangunan tampak semakin rapat, hingga kereta berhenti di pinggir jalan dan Taeyeon melompat begitu cepat sehingga pak kusir nyaris tersungkur ke tanah. Dia sudah tidak sabar untuk dapat kembali ke Seoul.

“Maaf!” Serunya dibalik gaunnya yang agak kebesaran. Taeyeon sempat meringis kesakitan saat MiYoung berusaha mengikat korsetnya pagi tadi. Yah, kau tidak bisa mengharapkan gadis dari abad kedua puluh satu bakal lihai memakai korset, kan?

Rasanya seperti memakai ikat pinggang ketat dan push-up-bra secara bersamaan, dan Taeyeon merasakan sepertinya payudaranya naik hingga ke bawah dagu, karena sudah tidak ada lagi ruang untuk mereka di depan tulang rusuknya.

Dan sekarang, Taeyeon harus pasrah berjalan-jalan dengan paru-parunya yang tinggal sebesar kacang. Taeyeon pun tampak kagum karena MiYoung terlihat begitu santai, mengenakan serangkaian pakaian menyiksa begitu (yang disini bisa diartikan setidaknya enam lapis!).

Setelah pak kusir sepertinya bisa menyeimbangkan dirinya kembali, Taeyeon langsung berlari menuju toko terdekat dan menekankan hidungnya ke etalasenya. Ini sungguh berbeda dengan bayangnnya. Harusnya ada sesuatu yang normal, seperti sebuah majalah, sebuah sambungan kabel, sebuah gelas Starbucks!

Tetapi tidak ada apa-apa di sana. Taeyeon berlari-lari kecil menyusuri blok itu—yang sekurang-kurangnya berisi dua belasan toko yang berjejer rapi, dia melongok ke toko selanjutnya. Dia bisa merasakan MiYoung memandanginya dari kejauhan, mungkin sedang bertanya-tanya kira-kira dirinya ini kerasukan setan macam apa.

Aku gadis pintar, bukan? Seharusnya aku bisa memikirkan rencana untuk mencari jalan kembali ke abad dua puluh satu. Dan, yaah… satu-satunya masalahku sekarang adalah, aku tersesat tanpa Wikipedia dan Google.

Pengetahuan Taeyeon luas, tentu saja, tapi tidak ada yang berguna: tabel periodik unsur-unsur, cara memfaktorkan sebuah persamaan matematika dengan empat variabel berbeda, hubungan simbiosis antara ikan hiu putih besar dan ikan remora. Semua itu hanyalah informasi acak yang sama sekali tidak bermanfaat.

Bahkan pelajaran fisika lanjutan selama setahun pun tidak berguna baginya; tidak ada bab yang membahas tentang perjalanan menembus waktu di sana.

Setelah gagal menemukan sesuatu yang akan membuktikan bahwa MiYoung berbohong tentang 1872, Taeyeon berjalan tersaruk-saruk menghampiri gadis yang tengah menunggunya di samping kereta, kakinya terseret seolah sedang menanggung beban dua puluh kilo.

Saat sudah sampai, MiYoung hanya melontarkan tatapan “apa-apaan” padanya. Dan Taeyeon, lagi-lagi dengan pasrah-sepasrah-pasrahnya berjalan menyebrangi jalan yang penuh jejak roda dan langsung mendatangi toko terbesar di sudut jalan bersama Hwang MiYoung. Pintu toko itu terbuka lebar, namun keadaan di dalamnya masih agak pengap.

Taeyeon membiasakan matanya pada keremangan ruangan luas tersebut dan melihat seorang wanita berambut terang dan bergaun persik menghampiri mereka dan membungkuk rendah-rendah. Wanita itu sepertinya mengenali Miyoung, “selamat pagi Miss Stephanie Hwang.” Sapanya. [ ]

Ps. For All Readers,

TERIMA KASIH. Gue gak nyangka antusiasmenya meningkat ^^ Ada banyak hal yang luput dari pikiran gue dan kalian mengingatkannya, thanks… Sebenernya, ini yang gue butuhin dari para readers.. Gue sempet mencatat beberapa komen yang bermanfaat kedepannya, seperti kemanakah sepatu biru bersembunyi? Dan hal itu langsung membawaku ke berbagai pikiran rasional, semisal bagaimanakah pakaian yang dikenakan Taeyeon pada saat itu? Normalkah? Kenapa dia gak sadar.. dan gue bakal berusaha memperbaikinya… Dan untuk cerita gue kedepannya, tentu saja.

Eh, soal walk-in-closet, itu bukan seperti ‘berjalan-dalam-jamban’ =,=” itu semacam ruangan ganti pakaian yang isinya cuman baju-baju, sepatu, tas, asesoris dll-dll-dll.. Contohnya [klik]

Karena ini latar belakangnya di London, anggaplah mereka sedang berbicara dengan bahasa Inggris yah 🙂

Oh, dan soal penggunaan ‘Tiffany’ alih-alih ‘Miyoung…’ Maaf, saya khilaf.. kebiasaan nulis Tippani soalnya… hehehe.. Akan kucari cara untuk mengatasinya.

Sekali lagi, thanks… Ditunggu komentar cerdas lainnya (:

Iklan

30 thoughts on “Cinderella and the Pink Shoes [4]”

  1. mba sya2,, masih diterusin kah critanya,,? oy, ini msh crita tae msuk dimasa lalu ya, disitu nanti dicritakan kah posisi tiff pas taeyeon nyobain sepatu ya di masa depan, menghub. antara pesta dan sepatu yg hilang, apakah taeyeon bisa jd ketemu orang di masa lalu yg serupa dgn dia, terkait surat dikamar myoung ya? trz kok bisa kluarga tiffany turun temurun pke sepatu? imagine is real,, di part ini apakah ungkapin klo jelasin bahwa taeyeon nyata tidak hanya mimpi datang di masa lampau, atau hanya terbayang saat pakai sepatu seperti berasa dimasa lampau sesaat (posisi di kantin seperti dejavu atau semacamnya kah? ) dan penasaran tiff pkai sepatu itu alasanya apa?yang jelas aq suka idenya crita kait mengait, semoga dilanjut ya, mksh,,

  2. Nah wktu d part 2 ama 3 kn teyon udh mulai khdupan nya ama miyong, mlahan udh smpai k bgian miyong mau brngkt ke pesta dansa. Tpi saat dia liat koran thur brapa? Dia lngsung pisan trus pas bngun2 lgi pesta dansa itu akn brlngsung 2 hari lgi. Jdi kejadian yg udh trlewat itu kmna? Cma mimpi kah??

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s