Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Cinderella and the Pink Shoes [5]

cinderella and the pink shoes

Time travel is such a magic concept–Matt Smith

Wanita tadi sepertinya mengenal MiYoung dari cara mereka berinteraksi, dan walau bagaimanapun juga Taeyeon merasa bahwa wanita itu sebaya dengan mereka. Dia hampir setinggi Yuri, bahkan mungkin beberapa centi lebih tinggi, berambut hitam gelap, berhidung kecil seperti dirinya dan bermata sipit. Gadis ini sepertinya keturunan Asia, menilai dari wajahnya yang oriental.

Saat memanggil Miss Stephany Hwang, dia mendapati MiYoung sedikit merengut, mengerutkan alis dan berkacak pinggang, “Seohyun, sudah berapa kali kukatakan untuk jangan memanggilku seperti itu, engkau kan sudah tahu bahwa kita satu darah.” Katanya tampak tidak terkesan.

“Walau bagaimanapun, engkau tetap Putri di kehidupkan kita yang lalu.” Gadis itu terkikik sebelum melirik-lirik kecil ke arah Taeyeon, berharap MiYoung menyadari gesturenya.

Taeyeon, mengabaikan tatapan penasaran yang dilontarkan padanya, masih berusaha untuk berpikir tentang, ‘kehidupan yang lalu’ kedua gadis yang tampak akrab bercengkrama di hadapannya kini. Bertanya-tanya, berapa banyak jenis kehidupan yang mereka punya, dua? tiga? sepuluh? seratus? Taeyeon tidak berusaha menghentikan pikirannya tentang, masa lalu? masa kini? masa sekarang?

“Oh, ini Miss Taeyeon, temanku dari Korea juga.” Taeyeon mendengar tempat kelahirannya disebutkan, jadi pikiran mahsyurnya terbuyarkan seketika.

“Oh, pantas saja.” Gadis yang dipanggil Seohyun tersebut mengangkat kedua sisi gaunnya sampai dua jengkalan tangan lalu membungkuk dalam-dalam kepada Taeyeon yang mulai salah tingkah, “salam kenal Mistress Taeyeon Kim, perkenankan saya memperkenalkan diri, nama saya Juhyun Seo, tapi saya lebih senang jika dipanggil Seohyun.”

“Eh, salam kenal juga… Uh, Seo..hyun?” Taeyeon berdiri dengan kikkuk, tidak tahu apa yang harus dia lakukan, dia hampir mempertimbangkan untuk berjabat tangan saat melihat MiYoung mengisyaratkannya untuk membungkuk, dan yah.. Taeyeon melakukanya dengan canggung.

Keberuntungan menyertainya, MiYoung mencengkeram lengannya tepat saat Taeyeon hampir terjatuh akibat menginjak ujung gaunnya sendiri. Untung saja, dia tidak sempat dianggap ‘bodoh’ oleh Mistress di depannya saat ini, dan membuatnya malu setengah mati… di abad ke, eh? Delapan belas? Sembilan belasan ini.

Taeyeon berpikir, dia seharusnya tampak lebih terhormat di abad ini. Jika di masa depan dia terbiasa bertingkah ceroboh dan menginjak tali sepatunya sendiri hingga terjatuh adalah hal yang wajar—bayangkan saja. Maka, di abad ini seharusnya dia tidak boleh bersikap konyol seperti terjatuh akibat menginjak ujung gaunnya sendiri dan ditertawakan. Ha! Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi!

Dia akhirnya hidup dimana tidak ada tugas dan Yakuza yang selalu menganggunya. Disamping semua kegilaan di masa ini, Taeyeon sedikitnya merasa lega. Hal baik—yah, sekecil apapun, jika dalam kondisi kepepet seperti ini akan menjadi luar biasa.

“Angin apa yang membawa kalian kemari?”

Taeyeon menelan ludah, gadis ini pasti sangat sopan.

“Oh, kami ingin melihat-lihat gaun yang engkau punya. Kedua saudariku membutuhkannya untuk pesta dansa besok.”

“Kedua saudara tiri engkau? Coba saya lihat..” Seohyun berjalan anggun di sepanjang etalase-etalase kaca kuno di sayap kiri toko. “Kurasa saya sempat menyimpan satu yang seukuran saudara pertamamu.” Dia berhenti di satu lemari kayu bercat kuning gading dari sederet lemari di tokonya. Ya, ada lebih dari satu lemari disana. Lalu tangannya mulai menjelajahi lautan kain di dalamnya. Dia membuka beberapa buah pintu, memamerkan gaun demi gaun. Semua gaun itu tidak digantung, melainkan terlipat rapi, menempati raknya sendiri-sendiri.

Taeyeon harus menyipitkan mata untuk benar-benar bisa melihat apa yang dia lakukan. Posisi tempat lilin yang digantungkan di tengah ruangan justru menghalangi pandangannya. Tapi, ditinjau dari cara Seohyun bersikap sejak pertama kali bertemu dengannya, Taeyeon memecayai selera berbusana Seohyun lebih baik daripada seleranya sendiri. Oke, gaun memang jauh dari seleranya di abad ke dua puluh satu.

“Kurasa ini cocok dengannya, bagaimana menurut kalian?” Gaun itu berwarna kuning bunga matahari, pinggiran bawah dan kerahnya berwarna putih. Gaun itu sebenarnya sangat cantik, tapi di mata Taeyeon gaun itu tampak seperti taplak berenda raksasa. “Ada beberapa kerusakan yang masih bisa saya atasi.”

“Baiklah Seohyun, saya percaya sepenuhnya pada engkau. Kumohon, lakukanlah yang terbaik demi keselamatanku.”

“Tentu saja Miss Stephanie, demi semua dewa saya akan melakukan yang terbaik.” Seohyun tersenyum saat melewati mereka, tangannya sibuk menenteng dua gaun. “Bagaimana dengan kalian? Perluakah saya memilihkan gaun untuk kalian berdua?” Seohyun berhenti, menatap mereka dengan mata berbinar-binar. “Kurasa saya punya gaun yang sangat cocok untuk kalian, gaun itu sepasang.”

“Eh? Memangnya ada yang seperti itu?” Tanya Taeyeon ragu-ragu.

“Tentu saja, gaun itu dulunya milik kedua putri Kerajaan. Kalian boleh menganggapku gila, tapi saya sempat melihat sosok mereka dalam diri kalian berdua.”

MiYoung sekonyong-konyong berbisik kepadaku dengan suara rendah, “jangan pernah meragukannya, Seohyun sangat jitu dalam hal-hal seperti itu.”

Taeyeon mengangguk sambil melontarkan tatapan, ‘baiklah.. Apa yang tidak kupercaya di sini?’

“Kurasa saya tidak akan memerlukannya Seo, jangan membuang-buang waktumu. Saya tidak mungkin bisa mengikuti pesta itu tanpa kehilangan salah satu anggota tubuhku keesokan harinya.”

“Baiklah, setidaknya lihatlah dulu gaun yang kupilihkan. Engkau tahu kan, saya tidak suka ditolak.” Seohyun tersenyum sambil berjalan anggun ke arah kami, kemudian mengusap-ngusap punggung MiYoung dengan lembut. “Kalian bisa membawanya pulang, tentu saja. Jika saja kalian berubah pikiran.”

Dia sungguh, baik sekali. Pikir Taeyeon.

“Baiklah Mistress… Seohyun?”

Aku tidak mungkin menolak kebaikannya, kan?

“Saya masih tidak bisa berpikir bagaimana cara kita membawanya ke rumah?”

“Sembunyikan saja di kamarmu.”

Seohyun tersenyum, meletakkan kedua gaun handywork-nya. “Menurutku, kalian sebaiknya memakai muslin. Kalian akan kelihatan mentereng di tengah orang-orang yang memakai gaun dari musim lalu.” Seohyun terdiam, mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.

Taeyeon sudah kehilangan jejak sejak Seohyun mengucapkan kata muslin. Dia tidak memahami maksudnya, tapi apa pun itu, dia benar-benar menghayatinya. Taeyeon percaya Seohyun mungkin adalah seorang fashionista versi 1872.

“Musim lalu?” Taeyeon memikirkan apakah yang dimaksudnya adalah koleksi musim semi atau apa? Sepertinya tidak mungkin sudah ada runaway di abad ini.

“Ya, musim lalu. Gaunnya benar-benar payah. Saya ingat kita pernah bercita-cita mengalami musim pertama bersama-sama, ingatkah kamu Miss Stephanie? Kita sering membicarakannya, dahulu.”

“Yah, sebelum Madame Victoria menemukan tempat persembunyian kita dan melarang kita bergaul.”

“Yah, kurasa dia memang benar-benar peyihir.”

“Eh, teman-teman.. Kurasa kita harus… Umm, mencari gaun?”

Tidak bisa dipungkiri bahwa Taeyeon merasa agak cemburu dengan kedekatan mereka, sepertinya mereka sudah saling mengenal seumur hidup.

“Wah, maaf.. Kita jadi mengabaikan engkau Mistress Taeyeon.” Ujar Seohyun sambil tersenyum paham. Taeyeon tidak suka caranya tersenyum. Dia merasa seolah Seohyun telah menelanjangi seluruh perasaan dan pikirannya.

Taeyeon memalingkan muka, berpura-pura sibuk memilah-milah gaun di etalase sampingnya. Dia terperanjat dan hampir menumpahkan isi manik-manik di keranjang anyaman yang terletak tidak jauh darinya saat MiYoung mengaitkan kedua lengan mereka. “Kurasa kita bisa melihat-lihat koleksi gaun Seohyun sembari dia membereskan gaun-gaun rusak untuk kedua saudariku, kita tidak mungkin mengaggunya, kan?”

“Yeah, sebelum itu. Mari kutunjukkan gaun kalian.” Seohyun memandu mereka menuju ruangan yang lebih dalam. Seluruh ruangan disana hanya dipisahkan oleh sekat kelambu abu-abu saja. Taeyeon benci menjadi satu-satunya pengunjung di tempat ini bersama MiYoung. Tentu saja, dengan itu dia akan mendapat seluruh perhatian sang pemilik toko, bukannya dia tak menyukainya, dia percaya Seohyun bukan tipikal pemilik toko yang curigaan terhadap pembelinya, terlebih setelah melihat kedekatannya dengan MiYoung. Tapi, yah.. Kesunyian dalam keremangan tempat ini membuatnya gamang.

Taeyeon mendapati setiap ruangan memiliki gantungan lilin yang berbeda, satu yang ada di tempatnya kali ini berukuran cukup besar. Tempat lilin itu memiliki enam lengan, yang semuanya terbuat dari kaca, dan enam tonggak, yang semuanya mejulang ke langit-langit bagaikan stalagmit kristal, dan seluruh permukannya berhias butiran kristal mirip mutiara yang memancarkan cahaya pelangi ke seluruh ruangan.

Taeyeon terkesima melihat benda itu, dia tergugah untuk menyentuhkan jarinya di tempat lilin itu hingga benda itu berayun ke kanan dan kiri bagaikan sebuah pendulum indah dan seluruh butiran kristal berdentingan bagaikan lonceng.

“Berhati-hatilah, tempat lilin itu dibuat oleh William Parker. Kami masih punya beberapa di ruangan lain. Koleksi itu sangat langka sekali.” Kata-Kata Seohyun begitu dalam, hingga Taeyeon merinding mendengarnya.

“Dia kolektor gantungan lilin.” Bisik MiYoung di telinganya.

Oh, pantas saja, selain fashionista 1872 dia juga maniak lilin.

“Tidak, engkau salah besar. Ibuku-lah yang seorang maniak lilin, saya hanya suka mengoleksi gantungannya saja terutama jika kristal-kristal menggantung di atasnya. Terlihat seperti pelangi yang menyembur dari langit-langit saat lilin-lilin itu dinyalakan.” Kata Seohyun, seolah membaca pikirannya. Taeyeon mulai ragu pada dirinya sendiri, apakah dia harus diam, atau tutup mulut? Dia tidak yakin manakah yang lebih bijak?

“Engkau bisa mengatakan apapun yang ingin kau katakan.”

Baiklah, kurasa tidak keduanya.

“Miss Stephanie, bisakah engkau ikut denganku sebentar?”

“Tentu saja, uh… Jika engkau tak keberatan Miss Taeyeon.” MiYoung berbalik ke arahnya sambil tersenyum, dan tentu saja, Taeyeon akan melakukan apa saja walaupun tanpa sadar saat melihat senyumnya.

Jadi, Taeyeon mengangguk dan melihat bayangan keduanya menghilang di balik keremangan kelambu abu-abu yang sudah agak usang. Sejenak, dia lupa akan tujuannya kemari. Mencari jalan keluar dan kembali ke abad dua puluh satu sudah menjadi subjek minor dalam kepalanya. Yang utama dalam otaknya saat ini adalah, membantu MiYoung pergi ke pesta dansa impiannya dalam damai, yang dalam kondisi seperti ini berarti dia harus membereskan ketiga penyihir yang menjadi penghalangnya saat ini.

Taeyeon mulai agak kesal dengan gaunnya yang kedodoran, dia ingin pakai pakaian yang layak, bukan berlapis-lapis kelambu seperti ini. MiYoung, Seohyun dan orang-orang lainnya tampak biasa saja memakai gaun mematikan itu, sementara dirinyaa harus berusaha mencegah butiran-butiran keringatnya membasahi satu-satunya gaun yang diberikan MiYoung padanya dengan berdiri di dekat jendela sebisanya.

Saat dia pikir kesabarannya hampir terkikis saat menunggu mereka berdua kembali, dia merasakan seseorang menyentuh pundaknya dan seketika Taeyeon menoleh.

“Maaf membuatmu menunggu lama.” terdengarlah suara wanita di belakangnya. MiYoung berdiri sambil membawa dua buah gaun yang tersampir di lengan kirinya. Lagi-lagi Taeyeon menggerutu karena MiYoung tidak memakai gantungan baju.

“Tidak masalah, itukah gaun yang dimaksud Seohyun… mu… mul…” Taeyeon mencoba mengingat-ingat kata-kata Seohyun sebelumnya, sesuatu tentang mentereng di antara gaun musim lalu…?

“Muslin.” MiYoung membenarkannya, memberinya senyuman yang menurut Taeyeon penuh pemahaman.

Aku bahkan belum memberitahunya dari mana aku berasal, atau bagaimana aku bisa sampai kemari–yang tentu saja aku juga tidak tahu bagaimana cara menjelaskannya. Akankah dia masih sebaik ini padaku seandainya saja… Aku memberitahunya, semuanya?

“Hey, engkau baik-baik saja kan?” MiYoung mengamatinya dengan wajah serius yang lucu, salah satu alisnya terangkat dan hidungnya sedikit melebar. Taeyeon tidak bisa tidak tertawa melihatnya, “apa yang salah denganmu?”

“Tidak ada.” Kata Taeyeon cepat-cepat mengalihkan pembicaraan itu sebelum menjadi sesuatu yang dapat melemahkannya, “jadi, MiYoung bagaimana dengan muslin itu?”

“Oh, yah… saya rasa kita harus mencobanya, saya tidak ingin membuat Miss Seohyun kecewa, dia khusus memilihkan ini untuk kita. Dan yah, tentu saja kita tidak bisa mematahkan hatinya, kan? Itu akan sangat tidak sopan. Saya sudah menganggapnya seperti saudaraku sendiri.”

Taeyeon mengangguk-angguk mendengarnya. “Lalu, di mana Seo… Err… Miss Seohyun sekarang?”

“Berusaha memperbaiki gaun untuk kedua saudariku, kurasa…”

“Lihat, ide ini tidak buruk kan?”

“Yah, saya rasa… engkau benar…”

“Mau mencoba yang satu ini?” Taeyeon mengambil gaun itu dari lengan MiYoung, “tentu saja tidak yang pink untukku. Yah, lagi pula gaun ini agak kebesaran di badanku.”

“Tapi, Seohyun berkata bahwa kita hanya bisa memakai gaun ini untuk pesta dansa saja.” Taeyeon mengamati wajah merengut MiYoung.

Benar-benar mirip Tiffany…

“Huh, jadi aku tidak bisa memakainya sekarang?”

“Saya takut engkau tidak bisa melakukannya, Taeyeon. Seohyun benar-benar tegas akan hal itu. Tapi jika gaun itu benar-benar membuatmu tidak nyaman, saya bisa meminjamkan satu atau dua gaun untukmu darinya.”

“Silahkan lakukan itu, kukira aku tidak bisa hidup lebih lama lagi menggunakan gaun setebal ini, tidak adakah pakaian yang lebih… simple? Seperti yang kukenakan sebelum ini?”

MiYoung tampak berpikir sejenak, “apa yang engkau kenakan waktu itu… yah, kurasa itu tidak pantas dipakai di sini. Itu tidak benar-benar… menutupi tubuhmu seluruhnya. Orang-orang akan mengira engkau setengah telanjang. Engkau pastinya benar-benar rakyat jelata untuk memakai pakaian seminim itu.”

“APA??” Taeyeon masih belum paham tentang konsep berpakaian seperti ini, bagaimana bisa seragam sekolahnya dianggap pakaian minim dan yang memakainya diasumsikan setengah telanjang? Yang benar saja! Kepala sekolahnya akan benar-benar marah dan seluruh siswa akan berdemo besar-besaran jika mereka dipaksa memakai gaun enam lapis plus korset yang akan patah pengaitnya jika makan burger terlalu banyak. Ini benar-benar keterlaluan.

Yah, tapi Taeyeon benar-benar tidak bisa melakukan apa-apa untuk hal ini kan?

Haruskah aku memberitahunya? Mungkin dengan konsep ‘kehidupan yang lalunya’ dia bisa membantuku keluar dari neraka ini? [ ]

Ps. Kindly do tell me jika ada kesalahan sekecil apapun.. Atau sesuatu yang terasa janggal, atau yang lainnya… Aku harus tahu dimana letak kesalahanku sebelum aku harus memperbaikinya, kan?

Ngomong-ngomong, kalau kalian sayang padaku (cerita2-ku) kalian pasti tidak akan melewatkan yang satu ini.. [let’s make a wish] spare your time for her (:

Iklan

23 thoughts on “Cinderella and the Pink Shoes [5]”

  1. Well, scara keseluruhan bagus kok. Km tetap salah satu author dengan ff yg patut difavoritin. Cuma Menurut aku ff ini alurnya agak terlalu lambat sya. Jadi satu part mreka masih disitu2 aja. Atau emg km sengaja ngebuatnya begitu ya gatau jg hehe

  2. hah sumpah deh disini seo kayak bisa baca pikiran uh…

    sya.. bisa bikin povnya miyoung ga kali kali biar bisa lebih jelas gitu… lama lama aku kayak mikir kalo tae itu gila ngomong dipikiran sendiri kayak fany di Nyamphs *digaplokTaeNy* kalo ngga bikin sudut pandang author aja…
    tapi kalo ga bisa sih ga apa apa itu hak dan ciri khas tulisan kamu ^_^

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s