SNSD, SOSHI FF

Soul+Mate

soulmate

“Ia segalanya yang kau inginkan, sekaligus segalanya yang tidak bisa kau miliki…” 
― Stephenie Meyer, Breaking Dawn

What the—“ Taeyeon melempar majalah itu di depan meja kopi. Dia tidak tersenyum, wajahnya bersungut-sungut dan sorot matanya kaku. Seluruh member tahu kalau sekarang leadernya benar-benar marah. Tidak hanya marah, tapi sangat marah. Dan mereka tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mereka telah mempersiapkan diri untuk mengabaikan kata-kata menyakitkan yang akan keluar dari mulutnya.

“Tenang Taeng, mereka tidak menyebutkan kalau kalian benar-benar menikah atau sebagainya, baik.. setidaknya mereka tidak menginisiasikan bahwa kalian berpacaran di balik media.” Jessica, sadar sebagai anggota kedua yang tertua akhirnya angkat bicara. Semuanya tahu bahwa Jessica adalah tipikal gadis yang pendiam pada saat-saat genting begini, melihatnya angkat bicara. Well, katakan bahwa ini lebih serius dari yang mereka prakirakan.

“Mereka hanya bercanda Taeng, lihat… Artikel ini ditulis dalam bahasa Jepang dan aku cukup bisa memahaminya, percayalah.. aku bahkan akan menerjemahkannya untukmu jika kau menginginkannya!” Sooyoung meletakkan chipsnya di meja, menarik majalah itu dan membacanya untuk ke sepuluh kalinya hari ini. Alisnya hampir menyatu saat hurf-huruf kanji itu mulai membentuk kalimat-perkalimat yang ia baca dengan detil. “Tidak buruk, kalau boleh kubilang.”

“Tetap saja, mereka pikir mereka siapa beraninya menulis berita murahan begitu, ha? Aku tidak tahu apa yang ada dalam otak bebal mereka!” Taeyeon menyingkirkan majalah itu dari tangan Sooyoung dan kembali membuangnya. “Bodohnya, Jihoo Oppa memberiku dua kali peringatan untuk hal yang sama, menarik bukan?”

“Eh, mereka salah satu media cetak Jepang?” Hyoyeon—yang benar-benar tidak tahu situasi, mencoba mencairkan suasana dengan celetukan yang salah tempat, benar-benar salah.

Hal itu, sudah dipastikan membuat sang leader semakin marah, “ssssshhhsss… kau….” desisnya. “Kalian semua pergi tinggalkan aku sekarang juga! SEKARANG!”

Semua orang menggeleng frustasi dengan kelakuan leader mereka, jika Taeyeon sudah marah tidak ada satupun yang mau berada dekat-dekat dengannya sebelum gadis itu kembali normal. Kata-katanya akan sangat menyakitkan.

“Tenangkan dirimu, dan pikirkan baik-baik. Kami masuk dulu.” Sunny, adalah satu-satunya yang dapat diandalkan sejauh ini, dia lebih dewasa dari kebanyakan member. Dan yang pasti, punya keberanian lebih untuk menegaskan semua maksudnya daripada sang maknae.

“….”

“Ngomong sama dia, oke..” Sunny berbisik pada gadis yang duduk di ujung sofa sebelum masuk ke dalam kamarnya diikuti member yang lainnya. Jessica juga sempat memberinya usapan di punggungnya. Gadis itu tersenyum, dia seharusnya menjadi peneriak paling keras dalam setiap argumen yang terjadi. Entah dia sendiri yang berada dalam argumen tersebut, atau berusaha meredakan emosi teman-temannya. Apapun itu, setidaknya dia tidak pernah sediam ini seumur hidupnya. Tidak jika itu berarti Taeyeon.

Untuk bilang bahwa dia tidak sakit hati mendengarnya, itu berarti bohong. Ia berusaha untuk tidak menangis saat mendengar Taeyeon berteriak-teriak mengatakan bahwa itu berita murahan. Dirinya dan Taeyeon dikabarkan layaknya pasangan menikah oleh salah satu media cetak Jepang bukanlah hal yang murahan baginya. Kasar? Ya. Lancang? Sangat. Tapi yang pasti tidak murahan, perasaannya tidak murahan.

“Taeyeon…”

“…….”

Sigh..” Tiffany mengambil tempat duduk tepat di sampingnya. “Aku tahu ini buruk, sangat buruk. Tapi ini bukan bencana yang dapat merusak kita secara permanen kan, kita… semua?” Dia membuat perkataannya dengan jelas menujukan bahwa kejadian itu tidak hanya berimbas pada mereka berdua, tapi pada semua member, pada dunia, pada Sonyeoshidae.

“Taetae..”

“………”

Sungguh malam tahun baru yang indah. Pikir Tiffany. Kepala batu ini pasti tidak akan meninggalkan tempat ini seberapa keras aku memaksanya. Akhirnya, dengan setengah mengalah, Tiffany pergi ke kamarnya dan kembali beberapa menit kemudian dengan selimut di tangannya.

Tiffany mendapati Taeyeon sudah berbaring dengan nyaman di sofa dengan mata terpejam dan tangan bersedekap. Dengan susah payah dia menahan senyum melihat bibir Taeyeon yang setengah merengut dan alis hampir menyatu.

Semua sakit yang ia rasakan sebelumnya seketika lenyap, kata-kata yang dilontarkan Taeyeon sebelumnya tak berarti apa-apa. Dia megutuk dirinya sendiri karena terlalu lembut, karena terlalu lemah.

Andaikan engkau tahu apa yang sebenarnya kurasakan Tae, apakah kau masih mau dekat-dekat denganku? Atau malah menjauhiku?

Dengan tekat bulat, Tiffany akhirnya menyelimuti seluruh tubuh Taeyeon, dia tahu gadis itu akan kedinginan.

Dasar kepala batu.

Tiffany menggeleng kuat-kuat, menyapu bersih segala perasaan yang sudah dengan susah payah berusaha untuk ia lupakan.

Sudah dua tahun dan masih saja sama.

“Tiff…” Dia mendengar seseorang memanggilnya saat hendak masuk ke kamar.

“Ya Jess?”

“Mau ikut kami merayakan tahun baru di Tokyo Tower? Mumpung kita lagi di Jepang dan sebagainya..”

Tiffany menggeleng lemah, “kayaknya aku kelelahan, sebaiknya aku tidur saja.” Dia sudah membuka setengah pintunya, saat kemudian teringat. “Have fun guys… dan Happy New Year..”

Jessica dan yang lainnya tersenyum paham, “baiklah, kami pergi dulu.. Happy New Year…” Tiffany mengamati Jessica yang merogoh-rogoh loker di meja utama, kemudian berbalik menghadap gadis yang tengah sibuk berkelut dengan topi dan kacamata hitamnya. “Yoong…”

“Ya, Unnie?”

“Yakin nggak mau ikut?”

“Eh, aku kepingin sekali sih.. Tapi seperti yang kubilang tadi, aku ada kencan hari ini..” Kata gadis berpawakan tinggi dan berkulit putih itu sebelum berlari dan membuka pintu.

“Aku harus pergi Unnie, selamat tahun baru yaa…” Teriak Yoona pada Tiffany sebelum berbalik meninggalkannya bersama yang anak-anak yang lainnya.

Happy new year Yoong, and God Luck…”

Baiklah, dia tidak mungkin meninggalkan Taeyeon sendirian, kan? Setidaknya harus ada satu orang yang menjaga bocah tiga tahun kepala batu itu.

Tiffany menggeleng lemah dan hendak menutup pintu kamarnya saat seseorang menyentuh pundaknya.

“Oh? Kupikir kau sudah pergi bersama yang lainnya?” Tiffany mencoba melirik pintu di balik punggung Sooyoung, terlalu tinggi.

“Nah, kita mau pergi. Jaga bocah itu baik-baik ya?” Sooyoung mengusap bahunya sekilas lalu menyambar chips jumbo di meja kopi sebelum menghilang di balik pintu bersama yang lainnya.

Dasar Shikshin..

**

Blast! Blast!!

“Ugh!” Taeyeon berbalik. Dengan mood sejelek itu, hal-hal kecil seperti suara kembang api pun sangat menganggunya.

Dia melirik jam di ponselnya, 10.35 PM

Demi Tuhan! Masih satu setengah jam lagi dan sudah seheboh ini.

Masih berusaha memejamkan mata, menghitung sampai seratus, menyebutkan semua angka dalam tabel perkalian, mengingat-ingat berapa schedule yang harus mereka kerjakan besok dengan harapan dirinya akan segera terlelap.

Namun gagal.

Gak pernah tahu kalau tidur bakal sesulit ini. Taeyeon tertawa kecil. Kayaknya aku harus belajar banyak dari Sica.

Secara alamiah, Taeyeon menyibak selimutnya. Dia memandangi benda itu tanpa henti selama sepuluh menit kemudian. Dia masih ingat Tiffany menyelimutinya satu jam yang lalu, sebelum semua orang pergi merayakan tahun baru. Dia memang pura-pura tertidur, yah.. memang begitulah jika dia sedang marah dan tidak ingin diganggu, dia sadar kebiasaannya mengabaikan orang lain tidak bisa disebut tindakan yang sopan.

Taeyeon menelan ludah.

Ada baiknya kalau aku berterima kasih.. Dan mungkin, minta maaf?

Dia masih berpikir sejenak.

Tapi, ngapain aku harus minta maaf?

Taeyeon kembali berbaring di sofa. Tapi hal itu masih saja menghantui pikirannya.

“UGH!” Dengan penuh keyakinan dia akhirnya menyerah dan berjalan menuju kamar Tiffany dengan hati dangkal. Gak ada salahnya minta maaf dan berterima kasih, kan?

**

Tiffany masih berusaha terpejam, semua kata-kata Taeyeon mengenai sampah itu terekam jelas di otaknya—yang tidak berkompromi masih saja memutar lima menit adengan menyakitkan itu.

Tok.. Tok..

Tiffany mengerang, tahu dengan jelas siapa yang mengentuk pintu kamarnya tengah malam begini. Dia memutuskan tetap diam di tempat, pura-pura terlelap.

Tok… Tok… Tok..

Kali ini lebih keras.

Apa yang kepala batu itu inginkan sekarang?

 Tok… Tok… Tok..

Dengan putus asa, dia bangkit dari tempat tidur, dan bersiap—apapun itu yang sudah ia ketahui akan terjadi.

**

Tok… Tok… Tok..

Taeyeon mengetuk untuk yang ketiga kalinya, dan masih tidak ada balasan sejauh ini. Dia hendak memutuskan untuk kembali ke kamarnya saat sebuah tangan menariknya kembali..

“Tidak bertanggung jawab.”

Taeyeon menoleh, dan menemukan  wajah sangat kesal Tiffany dengan kedua tangan bersedekap di depan dadanya.

“Huh?”

“Creepy.”

“Apa yang kau bicarakan?!”

Taeyeon kebingungan, tentu saja. Dia tidak bertanggung jawab atas apa?

“Berteriak-teriak di tengah malam, mengetuk pintu kamar seseorang dan meninggalkannya begitu saja tanpa menunggu pemiliknya keluar, sangat bertanggung jawab.”

“A—aku…”

Taeyeon mencoba menjelaskan, tapi apapun yang sudah dipersiapkan baik dalam kepalanya selama hampir setengah jam yang lalu mendadak buyar.

Pikirkan sesuatu Taeyeon, apapun! Omelnya pada diri sendiri,

“Kau kenapa?”

“Bo—boleh aku masuk?”

Tiffany melipat kedua tangan di depan dadanya. Masih menatap Taeyeon yang juga masih bermain dengan keliman bajunya.

“Err… jadi?”

“Kapan aku pernah melarangmu masuk?”

“Umm…”

Tiffany menghela napas dalam sebelum melangkah ke samping dan membiarkan Taeyeon masuk.

Taeyeon berjalan canggung kemudian duduk di pinggir tempat tidur, terlalu bingung untuk melakukan apapun.

“Jadi?”

“Um… Bisakah…” Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya. Dia hanya menatap Tiffany seperti biasa, takut mengatakan apa yang ingin dia teriakkan.

Tiffany memahami tatapan itu, dia mengalah, seperti yang selalu dia lakukan, dia memberikan apapun yang Taeyeon inginkan. Apapun yang gadis itu minta bahkan hanya lewat tatapan mata.

Tiffany mendekat padanya, melingkarkan kedua lengan di pundaknya. Dia merasakan Taeyeon menarik pinggangnya dan melingkarkan tangannya di situ.

Mereka sempat beradu tatap selama beberapa menit, Tiffany memahami apa yang ingin gadis itu katakan. Dia mengangguk perlahan dan masih terus mengunci tatapan mereka.

Aku selalu memaafkanmu Tae, akan selalu dan selamanya.

Tiffany memejamkan mata saat bibir mereka bertemu, seperti biasanya dia akan membiarkan Taeyeon memimpin semuanya.

“Apa permainan yang sedang kau mainkan saat ini, Kim Taeyeon?” Tiffany bergumam tanpa sadar di sela-sela ciuman mereka.

“Hmm…”

“Bukan apa-apa.”

Tak peduli berapa kalipun, Tiffany masih merasakan banyak kupu-kupu beterbangan di perutnya saat bibir mereka bertemu. Rasanya selalu menyenangkan dapat merasakan bibir lembut Taeyeon, tidak kasar, tidak tergesa. Taeyeon selalu bermain dengan perlahan, tapi pasti, apapun itu.

Dengan mata yang setengah terpejam, Tiffany merasa seolah dirinya terbang ke awan. Lututnya semakin melemah dan jantungnya berdebar tidak keruan saat lidah Taeyeon mulai mencari jalan menelusuri rongga mulutnya.

Dunia serasa berputar saat tangan-tangan berjalan seirama dengan lidah mereka, setiap sentuhan begitu bermakna. Jemari Taeyeon dengan begitu terampil menyusuri tempat-tempat yang membuatnya melayang jauh, jauh, jauh melebihi surga.

Dan yeah, malam itu mereka berteriak, menangis dan tertawa bersama-sama.

**

“Dingin?”

Taeyeon mengangguk dalam pelukannya.

Tiffany menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuh mereka.

Tiffany mengamati wajah Taeyeon hingga gadis itu tertidur pulas. Menyeka keringatnya dan mengusap rambutnya.

Selalu saja jadi orang pertama yang ambruk seusai pertarungan, huh? Kuharap kau tidak pernah berlatih dengan orang lain sejauh ini.

Dia tertawa kecil, “dan melihat kau marah besar saat mereka mengatakan bahwa kita seperti sepasang suami-istri.”

Sesuatu bergetar tak jauh dari seberang tempat tidurnya. Setelah beberapa saat mengabaikannya, dengan penasaran Tiffany menarik benda itu dari balik selimut.

Ponsel Taeyeon.

1 Pesan kakao baru.

Dia mendesis pelan melihat nama pengirimnya. Orang yang sudah tiga bulan ini secara sah dia nobatkan sebagai musuh terbesarnya, pria yang paling dibencinya di dunia ini melebihi apapun juga.

Sambil menghela napas, Tiffany membacanya.

Menurut persepsinya, isinya tidak terdengar begitu menyenangkan.

Taeyeonnie…

Happy New Year baby… I miss you… sooo… soooo… muuucccchh…
Sayangnya kita tidak bisa melewatkan malam tahun baru ini bersama-sama. 😦
Ayo! Kita berharap tahun depan kita dapat melihat kembang api bersama-sama di banpo bridge! Pasti sangat sangat sangat menyenangkan.
Kau pasti sudah tertidur, aku mencoba menghubungimu berkali-kali. Kau pasti kelelahan sekarang.
Istirahatlah, jangan lupa minum vitaminnya yaaa… Love ya ♥

Tiffany menghela napas, membetulkan posisi mereka dan memeluk Taeyeon hingga mimpi merenggut kesadarannya.

Ah, dan tidak lupa dia membisikkan, “Selamat tahun baru, sayang…” secara harfiah, menjadi orang pertama yang mengatakan hal itu pada gadis yang diam-diam begitu dicintainya. Dia tahu, dia tahu dengan pasti. Di dunia ini, kisah cinta yang sejati tidak akan pernah mati.

**

Maafkan aku Fany… Aku sungguh-sungguh minta maaf… Happy new Year, my soulmate…

**

W.E.L.C.O.M.E
2♥14

Iklan

29 thoughts on “Soul+Mate”

  1. anyeoung slm kenal sasyaa95 new reader..
    suka bngt sm sm ceritanya well emang fany tu soulmate adlh always taeng, we love taeny

  2. sebenarnya agak bingung ma jalan ceritanya, jadi teany mang bener2 menjaling hubungan ya, cuma taeng ya kesal aja sama pembeitaan tentang mereka, bener gitu ga ya ama yang w tangkap

  3. syg oneshoot jdi g trllu jls sma mslh yg trjdi tp g pa2lh g trllu ska jg yg kpnjgn kyk sinetron indo aja….kekeke

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s