Fantasy, SNSD, SOSHI FF

FAIR [One Shoot]

fair

Real love stories never have endings.  ~Richard Bach

Negeri Unitum, Negeri Matahari, Negeri Bulan.

Sepuluh tahun yang lalu….

Dia sangat tidak nyaman berada dalam keramaian, ingar-bingar semacam ini membuat otak tujuh tahunnya hampir meledak. Dia tidak suka suara microphone yang ngebas dalam gendang telinganya, atau bau alkohol yang menyengat, apalagi dengan seluruh orang dewasa yang memandanginya penuh cibiran, berkasak-kusuk seolah dia tak berada di tengah-tengah gempita pesta Akbar Unitum tersebut.

Gadis itu dalam balutan celana panjang hitam dan tunik warna biru muda. Adegan “salah kostum”-nya itu berawal dari Sepupunya yang bersikeras bahwa dirinya harus belajar menunggang kuda-walaupun zaman sekarang mobil lebih laku di pasaran, tapi sepupunya-yang pada saat itu sungguh tergila-gila dengan kuda poni pun akhirnya,–berhasil membujuk gadis kecil itu. Alhasil, kuda poni hitam itu ngerem mendadak saat dia menarik talinya terlalu kencang-gadis itu pun jatuh telentang dan punggungnya mengalami cidera ringan. Jadi, untuk menghadiri pesta sepenting ini-yang dimatanya sama membosankannya dengan pelajaran sejarah kerajaan, dia terpaksa mengenakan kostum ala laki-lakinya karena tidak bisa memakai gaun-apalagi korset.

Dan, akibat fatal dari ‘salah kostum’ saat pesta itu seharusnya diperuntukkan padamu adalah, menjadi tumpahan perhatian seluruh bangsawan dari berbagai penjuru dunia.

Kini, semua orang tahu bahwa aku adalah calon putri yang payah, rutuknya pada diri sendiri.

Gadis itu mengamati sekelilingnya. Semua orang positif memandang kearahnya dengan berbagai ekspresi yang membuatnya merasa semakin tersudutkan. Dia dapat menerjemahkan beberapa; gadis tidak boleh berpakaian seperti itu. Apa-apaan putri kerajaan Bulan itu? Berpenampilan setengah laki-laki begitu, apa raja dan ratunya sudah gila? Dan lain sebagainya-yang lebih baik tidak disebutkan.

Dalam pikiran tujuh tahunnya, dia hanya ingin berlari sejauh-jauhnya dari tempat itu-memeluk lututnya dan menangis. Dia sudah hampir melakukannya. Hampir. Gadis itu kebingungan mencari kedua orang tuanya, yang jelas-jelas masih sibuk menyambut para tamu-dan maksud tersembunyi lainnya-gadis itu tahu betul, bahwa orang tuanya berusaha untuk menjelaskan pada semua orang mengenai penampilan kontroversialnya yang berhasil mencuri sebagian besar perhatian pada pesta itu-dan tentu saja, menaikkan ‘pamor’ bangsa mereka.

Secara pribadi, dia tidak peduli. Dia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari keriuhan tempat itu dan menangis sejadi-jadinya. Namun, belum sempat ia melancarkan aksinya, dia dikejutkan oleh aksi gadis kecil-seumuran dengannya, dengan senyum menawan dan gaun merah muda yang menyilaukan mata, malah melakukan tindakan yang tak kalah kontroversialnya:

Sebuah tangan yang dibalut sarung sutra nuansa pastel terjulur di depannya. “Maukah kau berdansa denganku, Tuan?”

**

“Wusss…” Taeyeon terbangun dari mimpinya.

“Bangun, pendek! Pagi ini kau ada kelas Ramuan dengan Ms Parker.” Yuri tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi wajah sahabatnya sekaligus bosnya yang terkejut bercampur kesal.

“Kau..” Taeyeon tidak melanjutkan kata-katanya, Ayahnya sudah menunggu di depan kamar dengan wajah masam. Taeyeon sudah cukup mengenalnya untuk tahu bahwa sekarang suasana hati ayahnya sedang berawan.

“Tae..” Ayahnya menarik napas sejenak, “kita harus memperkuat pertahanan di daerah perbatasan, aku sudah menyuruh beberapa pengawal kerajaan untuk memperketat keamanan di Istana. Tapi sebagai anak tertua, kusarankan kau untuk turun tangan dalam hal tersebut.” Taeyeon benar-benar tidak menyukai ide itu. Dia adalah anak yang paling menentang terjadinya perang sejak lima tahun lalu. Walau bagaimanapun juga, dia harus mengambil takhta pemimpin bangsa mereka selama lima tahun kedepan, sampai Kim Jiwoong, adik laki-lakinya berusia delapan belas tahun.

“Baiklah, Ayah..” Taeyeon sedikit membungkuk meninggalkan Yuri yang berdiri dengan kikkuk di depan sang Raja. Dia harus segera mandi dan bersiap menghadiri kelas membosankan sekaligus memeras otaknya.

“Bagaimana perkembangannya Kwon?” Tanya Sang Raja.

“Masih sama, belum menunjukkan gejala yang mencurigakan Yang Mulia.”

“Bagus, tetap awasi dia dan laporkan apapun yang dia lakukan dua puluh empat jam. Kau ingat kan kalau aku sangat memercayaimu dan keluargamu?” Yuri merasa gerah dalam tatapan Raja yang begitu mengintimidasi, ya.. Tentu saja dia ingat.

“Tentu saja Yang Mulia.” Yuri sempat membungkuk sebelum Raja meninggalkannya dengan segudang rasa bersalah dalam benaknya.

o

“Bangun pendek!” Yuri menjitak bagian belakang kepala Taeyeon dengan keras menggunakan bolpoin, membuatnya meringis kesakitan.

“Yah! Bisa tidak kau memanggilku selain ‘pendek’?”

“Sepertinya tidak,” Yuri tampak sedikit berpikir. “Bagaimana dengan cebol?” Kemudian dia tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata. Dia selalu suka menjahili sahabatnya ini. Itu sudah positif menjadi hobinya sejak sepuluh tahun yang lalu.

“Mohon maaf Yang Mulia, dan kau Yuri…” Ms Parker-salah satu Guru Sekolah Kerajaan yang terkenal paling kejam, menatap mereka dengan raut wajah yang sudah dapat ditebak; ‘HUKUMAN’ tergambar jelas di mukanya. “Kalian harus mendengarkan penjelasan saya, atau dengan sangat menyesal saya katakan bahwa kalian harus keluar kelas dan mencari jenis tanaman yang sangat langka di negeri ini; bunga Daylily.”
Taeyeon mengerutkan kening, bukankah itu bunga yang ada di dekat perbatasan timur?

“Bolehkah saya tanya apa kegunaan bunga itu Yang Mulia?” Ms. Parker beralih pada Taeyeon.

“Untuk… menetralisir…. rancun?” Tebaknya.
Ms. Parker membetulkan letak kacamatanya tanpa mengalihkan perhatiannya sedikitpun pada Taeyeon. “Tebakan yang… bagus..” Akhirnya Taeyeon pun dapat bernapas lega setelah Mr. Parker membetulkan gesture-nya sambil tersenyum, “baiklah, sekarang kalian dapat pergi dan kuharap kalian tidak kembali mengecewakan saya.”

o

“Kuharap kau benar bahwa bunga itu tumbuh disekitar sini Yul, atau kau akan benar-benar kubunuh saat ini juga, di tempat ini juga.” Ancam Taeyeon, setelah menghabiskan selama kurang-lebih dua jam menyisir Padang Nigra dengan tangan kosong.

“Eh, menurut… lagenda sih begitu, bos…” Taeyeon memutar mata, mengetahui dengan pasti bahwa sekarang sahabat sekaligus asisten pribadinya itu sedang menggunakan kata-kata sarkastis yang menyebalkan, misalnya urusan hubungan sahabat/anak buah antara mereka. Kesannya seolah ia adalah pembantu Taeyeon. Dan yang paling senang mengungkit-ungkit masalah ini tidak lain tidak bukan adalah si bossy Jessica yang sedari tadi mengikuti mereka dari belakang dengan tatapan, ‘apa-apaan’-nya.

“Kau lebih baik benar Yul, aku tidak meninggalkan tidur siangku untuk hal-hal tidak berguna semacam mengikuti kalian dalam pencarian kembang bodoh yang menurut lagenda sudah lenyap beratus-ratus tahun lalu.” Jessica-yang sekaligus salah satu dari komplotan mereka mendengus kesal. Seharusnya, dia adalah sepupu Taeyeon, baiklah sepupu tirinya. Jessica diangkat anak oleh seorang Duke yang merupakan adik kandung Ayah Taeyeon. Dan, dibalik itu semua ada yang tidak kalah penting, semua orang di negeri itu tahu bahwa Jessica tergila-gila pada sang Putri Bulan, Yang Mulia Taeyeon. Sayangnya, hal itu jelas-jelas menentang satu dari serentetan aturan di negeri itu.

“Pergi tidur sana! Lagian siapa yang menyuruhmu ikut-ikutan kita?” Jawab Yuri tak kalah ketus.

“Kalian berdua, bisakah kalian melakukan hal yang lebih baik dari pada bertengkar, matahari akan segera tinggi. Aku tidak mau kulitku terbakar.” Hardik Taeyeon, seketika merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan daerah itu. Dia mencium sesuatu, bau yang bukan berasal dari bangsanya.

Ini wilayah terlarang, tidak satupun dari Bangsa Bulan maupun Matahari boleh memasuki tempat ini, kan? Tapi mengapa….

“Kalian berdua… berhenti!” Taeyeon sekonyong-konyong menarik lengan kemeja dua orang yang tengah menebasi rumput-rumput liar sambil menggerutu dan bertengkar-lebih tepatnya Jessica yang berteriak-teriak pada Yuri dengan sikap bossy-nya menyuruh ini dan itu.

“Apa?” Jawab Jessica datar, jelas sekali dia masih kesal.

“Kita sudah memasuki wilayah perbatasan, aku tidak yakin kita diizinkan masuk ke wilayah itu.” Taeyeon menunjuk ke depan dengan belatinya. “Matahari sudah semakin tinggi, kemampuan kita beradaptasi dengan matahari masih minim terlebih di tempat terbuka seperti ini. Yul, lebih baik kau antar Jessica kembali.”

“Lalu bagaimana denganmu?” Jessica menatap Taeyeon terheran-heran, tidak begitu menyukai ide itu. Berdua bersama Yuri adalah sebuah penyiksaan besar baginya.

“Aku akan mencari tahu soal penjagaan wilayah perbatasan ini sekaligus menyuruh mereka membantuku mencari bunga sialan itu.” Jawab Taeyeon dengan nada yang sudah dapat dipastikan; mengancam.

“Baiklah, tentu saja. Aku tidak terlalu suka ikut campur dengan masalah kerajaan.” Yuri berkata sambil mengangkat bahunya, berusaha terlihat tidak peduli. Taeyeon terlalu paham dengan gerak-gerik sahabatnya itu. Melihat hal tersebut, membuatnya harus menahan tawa. Taeyeon menyeringai kecil, aku selalu tahu bagaimana cara menekuk lututmu Yul.

Taeyeon sudah tahu sejak dulu Yuri sangat menyukai Jessica- walaupun gadis itu tak pernah menunjukkan sikapnya pada siapapun. Hal itu termasuk satu dari seratus hal yang membuat Taeyeon tidak pernah sekali pun menggubris perasaan Jessica terhadapnya.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa Jessica termasuk salah satu dari wanita tercantik di seluruh negeri setelah dirinya sendiri tentunya sebagai Putri Bulan. Semua pria berebut untuk mendapatkan hatinya-tapi yah, apa boleh buat. Gadis itu mencintai gadis lain yaitu sepupu tirinya sendiri, Yang Mulia Putri Bulan.

“Bagaimana jika aku tidak mau ikut? Yuri bisa pulang sendiri dan aku yakin kau lebih dari mampu untuk menjagaku, ya kan?” Tanya Jessica sebisa mungkin menghidarkan dirinya dari kemungkinan terburuk.

Ya, Taeyeon dan Yuri memang terlahir sebagai petarung, bukan pelajar yang menghabiskan waktunya untuk menjahit, les piano, atau menenggelamkan diri dalam perpustakaan, dan-yah dia lebih baik dihukum berjam-jam di alam bebas dari pada meghapal tabel periodik selama sepuluh menit.

“Kau bisa tidur setelah Yuri mengantarmu, Sica… Aku masih harus membereskan urusanku dulu.” Taeyeon berkata untuk terakhir kalinya sebelum menghilang di balik semak, meninggalkan Jessica dengan wajah masam dan Yuri yang berusaha terlihat tidak peduli.

Lar-lar gelap mulai bersembunyi dalam bebatuan-secara harfiah saat matahari semakin meninggi, memperhatikan dua orang manusia itu dengan saksama. Sementara sesama rekannya, lar-lar pelangi mulai keluar dari dalam pepohonan dan menari-nari riang, membiarkan diri mereka jadi pusat perhatian kedua manusia yang memandangi mereka dengan terkagum-kagum, paham bahwa kedua orang tersebut belum pernah melihat Lar sejenis mereka sebelumnya.

o

Tiffany merasa sebebas kupu-kupu!

Dilepasnya gaun yang sobek-sobek akibat berlarian hingga sampai kemari. Dia begitu penasaran mengapa semua orang melarangnya keras untuk memasuki wilayah perbatasan. Yah, dia tahu. Semua orang di seluruh negeri tahu bahwa jika salah satu dari mereka melintasi garis minimum perbatasan negara, siapapun akan dipenggal kepalanya. Dan Tiffany menganggap itu adalah hal terkonyol dalam hidupnya-selain yah, obsesi kakakknya Leo terhadap bunga-bungaan.

Dia tidak suka les flute atau menjahit seperti kebanyakan gadis di negerinya-Tuhan! Dia bahkan terlalu bebas untuk mau terjebak dalam serentetan aktivitas tersebut. Kini, dengan bantuan sahabatnya Sunny-atau Soonkyu dia bisa bereksplorasi seperti cita-citanya selama ini.

Takhtanya sebagai ‘Putri Matahari’ membuatnya mustahil untuk melakukan apapun sesuai kemauan hatinya. Apa saja yang dia lakukan harus mendapat persetujuan resmi dari Ayah atau Ibunya yang disini bertindak sebagai Raja dan Ratu atau minimal dengan penasihat kerajaan Miss. Victoria Song-yang sangat dibenci olehnya.

Tukang ngatur. Gerutunya. Hari ini, Sang penasihat kerajaan membuatnya harus duduk berjam-jam menghapal letak geografis seluruh penjuru kerajaan yang membuat kepalanya hampir botak. Sekarang, setelah dia sudah bebas-tentu saja dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas seperti ini.

Tanpa sadar dia berlari dan berlari, melintasi kebun raya, taman pelangi, bahkan hutan terlarang hingga ini-dengan sangat menyesal dia harus mengakui bahwa dirinya tersesat. Bagian hutan terlarang dan seluruh bagian barat memang tidak pernah disebutkan dalam pelajaran Geografi ataupun pelajaran-pelajaran lainnya dalam sekolah privatnya.

Menurut desas-desus yang dia dengar, hutan itu dihuni banyak Lar gelap yang sangat jahat, juga beberapa penyihir yang menjadikan bangsanya sebagai tumbal. Tapi, pada kenyataannya, hingga tersesat sampai sejauh ini, Tiffany belum menemukan Lar menyeramkan atau pun penyihir yang haus darah. Dia terus menjelajahi tempat itu hingga kakinya tersangkut sesuatu.

Sruuuuuttt…

“Aaaaaarrrrgggghhh!” Daya gravitasi seolah menariknya semakin dalam, jantungnya berdetak sangat cepat dan saat Tiffany menyadari, dirinya tengah terjebak dalam jebakan beruang.

Dia hampir menangis saat berusaha memanjat tebing lubang itu namun gagal dan kembali terperosok ke dalam liang. Tiffany akhirnya menyerah dan menangis sejadi-jadinya. Dia ketakutan setengah mati dan tubuhnya gemetaran hebat.

Bagaimana jika aku mati di dalam sini dan tidak ada yang menemukan mayatku? Semua orang akan mengira aku hilang dan-dan Kerajaan-Raja dan Ratu? Mommy? Daddy?

Tiffany kembali menangis tersedu-sedu saat seseorang menarik pinggangnya dan mengangkatnya ke atas bertumpukan sebuah tali. Pandangannya terlalu kabur untuk dapat melihat dengan jelas wajah sang penyelamatnya.

Awalnya, Tiffany berusaha untuk melepaskan diri. Dalam pikirannya hanya ada; Lar-lar mengerikan, penyihir jahat, monster buas dan lain sebagainya. Namun, saat tubuh mereka kembali ke permukaan tanah dan saat matahari mulai menerangi tubuh mereka dengan cahayanya, kini dia dapat melihat dengan jelas bagaimana rupa savior-nya. Segala pikiran tentang hal-hal buruk lenyap seketika. Sungguh di luar dugaannya. Orang di hadapannya kini bukanlah makhluk yang mengerikan, melainkan hanya seorang gadis!

Seorang gadis yang mungkin sedikit lebih muda darinya-tubuhnya sekecil Sunny dan yah.. dia tidak mirip seperti-pembunuh dari film manapun yang pernah dia tonton sebelumnya.
Saat Tiffany hendak berterima kasih, gadis itu malah merunduk dan merapat di balik pepohonan-seolah berteduh di bawahnya dengan wajah kesakitan. Gadis itu berlari memasuki hutan seolah kulitnya terbakar. Saat itulah Tiffany menyadari, siapa gadis itu sebenarnya.

Lima Tahun Kemudian….

“Umma, Appa, apakah hanya ini jalan satu-satunya? Kita bisa berdamai dari pada berperang seperti ini?” Taeyeon tampak ragu menatap sekali lagi serentetan peta berisi strategi penyerangan yang akan dilakukan dalam waktu dua jam kemudian.

“Tidak ada cara lain Tae, jika kita tidak menyerang, kita akan diserang. Tidak ada kata bertahan, kau tahu kan.. Bertahan hanya akan membuang tenaga dan waktu.” Wajah sang Raja melembut, “kau akan turun takhta minggu depan, perang ini menjadi tutup masa kepemimpinanmu, jadi kuharap kau melakukan yang terbaik.” Raja beserta pengawalnya bergegas pergi meninggalkan ruangan itu dan juga Yuri, Jessica, Hyoyeon dan tentu saja Taeyeon yang masih berjuang meyakinkan diri. Pikirannya masih tertuju pada rawa-rawa lima tahun lalu.

Mereka duduk di dekat danau, Taeyeon tak pernah menyangka hutan terlarang yang merupakan daerah perbatasan memiliki panorama yang begitu indah. Hutan semacam ini tidak seharusnya disembunyikan, walaupun yaaaahh sebenarnya kulit mereka semakin tidak resistan di tempat ini, tapi rawa-rawa cukup melindunginya dari sengatan matahari langsung.

Taeyeon sudah menduga bahwa gadis ini akan kembali, Gadis Matahari punya semangat dan kepercayaan yang luar biasa, sama seperti matahari itu sendiri.

“Gadis sepertimu tidak seharusnya berada di tempat seperti ini.” Mulai Taeyeon.

Dia tampak tidak bergeming, “lalu kau sendiri? Apakah gadis sepertimu boleh keluyuran di tempat bagini?” Lawannya.

“Aku dilahirkan untuk bertarung, hal-hal semacam ini sudah biasa di tempatku.”

Gadis itu tampak melihatnya dengan heran, “bukankah seharusnya kau membunuhku sekarang. Ah, dan… Aku baru ingat, mengapa kau menolongku kemarin?”

“Aku tidak sepenuhnya menolongmu, kau tahu.. Di lubang itu ada bunga langka yang sedang kucari dan kulihat kau terjebak disana, aku tidak ingin karena frustasi lalu kau menginjaknya dan aku akan mendapat hukuman menghafal tabel periodik lagi.” Taeyeon menatap tepat pada matanya. “Kau… ingin aku membunuhmu sekarang?”

Gadis itu salah tingkah, tatapan mata Taeyeon sungguh dingin dan sarat makna namun sulit diungkapkan, persis seperti bulan. “Ti-tidak.”

Taeyeon menyeringai, merebahkan diri di rerumputan rawa, melihat langit yang mulai berangsur berubah keunguan.

“Kenapa kau tidak membunuhku?”

Taeyeon tidak menjawab, ia juga sama bingungnya mengapa ia tidak membunuh saja musuh bebuyutannya. Mungkinkah karena dia terlalu cantik untuk dibunuh? Pikirnya. Dia merasa gadis di hadapannya ini begitu familiar, tapi Taeyeon tidak bisa mengingat di mana tepatnya mereka pernah bertemu sebelumnya.

“Jadi, mengapa kau tidak membunuhku?” Gadis itu kembali bertanya untuk yang kesekian kalinya-terlihat tidak sabaran.

Benar-benar tipikal Matahari. Dia tertawa kecil. “Mungkin, alasan yang sama… Mengapa kau datang lagi kemari? Menemuiku, huh?”

“Duh, aku tidak pernah menyangka kaummu begitu sombong.” Cibirnya.

“Kuharap kau tidak mengatakannya lagi, aku sangat tidak suka arah pembicaraanmu nona.”

“Maka dari itu, jawab pertanyaanku..”

“Aku tidak punya hak untuk menjawab pertanyaanmu karena kau juga tidak menjawab pertanyaanku..”

Mereka terdiam selama beberapa saat, menikmati kicauan burung seirama dengan Lar-Lar malam yang mulai keluar dari persembunyiannya, hari sudah mulai gelap.

“Sesugguhnya, aku… Tidak mengerti mengapa aku kembali lagi…”

“Yah, seperti yang sudah kubilang sebelumnya… Alasan yang sama.”

Keheningan diantara mereka semakin mengintimidasi, dingin menyelimuti kedua tubuh yang kini berbaring di atas rerumputan. Taeyeon mulai merasa tidak nyaman. Seolah sesuatu tengah mengintai mereka.

Bulan mulai terlihat jelas saat seseorang berteriak.

“Yang Mulia?” Terdengar suara Yuri. “Apa itu kau? Aku mencarimu seharia….. apakah kau mencium sesuatu yang asing Jessica?”

“Yeah, bau…. darah… aneh..”

“Sembunyi!” Taeyeon bergegas menarik Sang Putri Matahari, dia tidak butuh drama lainnya saat ini. Dan kemudian, malam itu tanpa sepengetahuan Yuri, Taeyeon berhasil mengembalikan sang Putri dengan selamat sampai depan Puri-nya.

“Taeng!” Jessica menyentuh pundaknya. “Kau sudah siap?”

“Yang Mulia Raja menyuruh kita untuk segera bersiap dan memimpin perang ini.” Taeyeon merinding mendengar Yuri berkata ‘memimpin.’

“Apa lagi yang bisa kuperbuat?” Taeyeon berjalan dengan setengah hati menunju kompi paling depan.

o

“Negeri kita sebentar lagi akan diserang Yang Mulia.” Seorang Dayang masuk dan membungkuk kepada mereka.

“Ya aku tahu,” Kata Tiffany tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela. “Apa yang harus kita lakukan Seo?”

“Yang Mulia Leo sudah mengirim pasukan untuk pertahanan di daerah perbatasan Tuan Putri, sekarang mereka sudah bersiap jika terjadi serangan mendadak.” Jelas Seohyun, yang merupakan sepupu Putri Matahari. Sejak kecil, mereka tumbuh bersama dengan sahabat mereka yang lain Sunny dan Yoona. Seohyun merupakan salah satu sahabat sekaligus sepupunya yang sangat pintar, dia tahu banyak hal dan selalu dapat diandalkan dalam kondisi sulit.

“Berapa lama lagi waktu yang kita punya?”

“Dua jam lagi.”

Tiffany berpaling, menatap Seohyun penuh pengharapan. “Apa yang dapat kita lakukan dalam dua jam Seohyun-ah?”

Seohyun dapat melihat mata sepupunya berkaca-kaca. “Katakan padaku Seo, apa yang harus aku lakukan?”

Seohyun memilih diam, mengetahui dengan pasti apa yang tengah berkecamuk dalam hati dan pikiran Sang Putri Matahari.

Tiffany tidak bisa membiarkan bangsanya hancur akibat perang tanpa persiapan, tentu saja. Pertahanan hanya akan melayangkan nyawa lebih banyak. Tapi perang? Apakah tidak ada hal lain yang dapat dilakukan selain saling menyerang?

Tiffany tidak dapat memahami situasi ini, semua ini berbanding terbalik dengan apa yang sudah dia percayai dengan hati.

Kau sudah berjanji padaku,

Aku percaya, empat tahun yang lalu kau sudah berjanji padaku.

“Penyerangan akan segera dimulai Yang Mulia..” Salah seorang Ajudan meminta izin padanya dan hanya dibalas dengan anggukan. Taeyeon melihat Ajudan tersebut memberi instruksi pada perwira dan anggotanya.

“Dalam hitungan sepuluh, serangan akan segera dijatuhkan di titik timur Negeri Matahari.” Dalam kegelapan malam ini, Taeyeon dapat melihat dengan jelas semua titik yang akan mereka serang. Mereka memang sengaja melakukan penyerangan pada malam bulan purnama, titik terkuat mereka.

Jika pada siang hari, kulit mereka akan melepuh, bahkan sebelum penyerangan dimulai. Maka, pada malam hari mereka mendapatkan keuntungan lebih yaitu Bangsa Matahari mengalami gangguan penglihatan dalam gelap, tidak seperti kaumnya.

Taeyeon tersenyum saat mengingat malam-malam dimana dirinya biasa mengantarkan dia pulang, dan semua yang ia lakukan adalah mengelabuinya dengan mengatakan hal-hal mengerikan seperti hantu, lar, urla, penyihir dan kemudian membuat dia ketakutan dalam kegelapan. Dia selalu menggenggam tangannya kuat-kuat saat mereka berjalan menembus hutan, tak lupa membisikkan bahwa dia harus melangkah saat beberapa akar raksasa menghalangi jalan mereka, membohonginya dengan berkata bahwa seekor lar dengan wajah mengerikan dan berdarah-darah tengah mengintai mereka di balik semak-semak, dan dia mempererat genggamannya, atau saat dirinya dengan sengaja ‘menghilang’ dalam perjalanan dan tertawa saat dia meneriakkan namanya di tengah hutan, seolah takut kehilangannya. Taeyeon tersenyum sedih mengingat itu semua.

Dia. Dia. Dan dia.

Dimanakah kau berada saat ini? Aku merindukanmu selama empat tahun lebih…
Apakah kau tahu bahwa sekarang aku akan menyerang tanahmu?

“10…9…8…7…6..”

“Fany, Putri MiYoung…. Maafkan aku….”

“5…4…3…2…1….”

BLAST!!

o

“Taeyeon…”

Gadis itu hanya bergeming, dia mengalihkan semua pemikiran itu. Mungkin dia pikir semua itu hanya halusinasi yang mempermainkannya.

“Taeyeon…” Kali ini dia memanggil dengan lebih keras, namun tetap menjaga suaranya karena dia tidak ingin rencananya berantakan dan gagal total gara-gara aksinya ketahuan.

Kali ini dia mengambil tindakan yang lebih ekstrim, diambilnya batu intan yang berserakan dengan bebas di Negeri Bulan lalu melemparnya tepat ke pipi Taeyeon. Dia akhirnya dapat bernapas lega saat Taeyeon menoleh ke arahnya dan menatapnya seolah-olah kepalanya tumbuh dua. Ternyata lima tahun belajar pitching dari jendral Ara pun tidak sia-sia.

Dia tersenyum saat melihat Taeyeon berjalan ke arahnya, sebelumnya tentu saja Taeyeon tidak lupa meminta izin terlebih dahulu kepada para Ajudannya.

“Tiffany…” Desisnya. “Apa yang kau lakukan di tempat ini?” Taeyeon tidak menatapnya, hanya berdiri di sampingnya sambil berpura-pura melihat salah seorang komandan tengah berpidato tentang persiapan serangan kedua.
Tiffany tahu itu, dia ikut bermain bersamanya. “Aku melakukan apa yang seharusnya aku lakukan sebagai seorang Putri…”

Taeyeon tidak menggubris pernyataan itu, “bagaimana kau bisa sampai kemari? Mereka akan membunuhmu jika tahu siapa kau sebenarnya…”

“Aku menyumpal seluruh tubuhku dengan mawar merah.” Tiffany berhenti kemudian menatap dagu Taeyeon yang masih memandang lurus ke depan, “aku harus berbicara denganmu Kim Taeyeon…”

Teayeon tahu, ia tidak bisa menampik kenyataan bahwa ia lega melihat gadis itu disini, dan yang terpenting masih hidup.

Taeyeon mendesah, “baiklah.. tapi, aku tak janji bisa lama-lama. Mereka akan mencariku kemana-mana, dan jika mereka menemukanmu bersamaku. Aku tidak ingin membayangkan apa yang akan terjadi selanjutnya.”

“Jangan khawatir, ini tidak akan lama.”

o

“Jadi, kau bisa ceritakan padaku mulai dari bagaimana kau dapat berjalan kemari tanpa ketahuan?” Taeyeon bersedekap, dia senang dapat bertemu lagi dengan Tiffany, tentu saja. Tapi situasinya akan lebih buruk lagi jika Tiffany ketahuan dan mati di tempat hanya karena ingin bertemu dengannya.

“Seohyun, dia menemukan sejenis ramuan yang dapat membuat bangsa kami dapat melihat dalam gelap.” Mulainya. “Kemudian dia membantuku menemukan kostum perang bangsa kalian.”

Taeyeon tetap diam, walau dalam hatinya dia merasa sedikit terancam, Yah… Harusnya aku sudah tahu, mereka adalah bangsa yang sangat… sangat… pintar dan bodoh secara bersamaan. Kebaikan adalah kelemahan utama mereka…

“Aku kemari untuk bertemu denganmu, karena aku… berdiri di sini sebagai seorang Putri.” Tiffany mulai melepas jubahnya.

Taeyeon hampir melemparkan kedua bola matanya saat melihat Tiffany, sang Putri Matahari berlutut di hadapannya. “Bangsaku tidak ingin menyerangmu. Kami hanya memperkuat pertahanan Yang Mulia, jadi, kumohon… Hentikan penyerangan yang sedang anda lakukan. Saya, sebagai Putri Mahkota bangsa Matahari memohon kepada anda, demi keselamatan bangsa saya.” Tiffany mengatakannya sambil berlinangan air mata.

“Aku…”

“Kumohon Yang Mulia Putri Bulan….” Tiffany tidak mau menyebutkan namanya, terlalu menyakitkan. Dia tidak mencintai orang yang ingin menyerang negaranya, dia tidak mau.

“Aku tidak pernah bermaksud untuk menyerang negaramu Fany, semua ini ide ayah dan Jiwoong….” Taeyeon ikut berlutut di hadapannya, dia menatap tepat kedua mata sang Putri Matahari, dia melihat ketulusan yang membara di dalamnya. “Aku sudah berusaha menghentikannya, tapi mereka tidak mau mendengarkanku… Percayalah, aku sudah berusaha…”

Tiffany menghindari tatapannya, ia tahu.. Membalas tatapan Taeyeon tidak akan berakhir seperti apa yang ia harapkan.

“Kuharap kau terus di sini, aku akan melindungimu Fany. Kau jangan kembali, mereka akan menyerang tempatmu.. kau tetaplah di sini bersamaku.” Taeyeon menggenggam tangannya sangat erat.

“Aku…” Tiffany kembali berdiri, “kalau kau memang ingin melakukan penyerangan… biarkan aku kembali, biarkan aku mati bersama keluargaku.” Dengan penuh keyakinan dan berlinangan air mata, Tiffany melepaskan genggaman tangan Taeyeon.

“Tidak..” Mohon Taeyeon. “Jangan…”

“Aku harus melakukannya. Aku tidak membiarkan keluargaku sendirian Taeyeon, sebesar apapun cintaku pada…” Tiffany menggelengkan kepalanya, “sebesar apapun cintaku pada seseorang, aku tidak akan meninggalkan keluargaku demi cinta..”

Taeyeon menelan ludah mendengarnya, dia? Mencintai….ku?

“Kau tidak kuizinkan untuk keluar dari wilayah ini Hwang MiYoung..” Kata Taeyeon dengan nada yang sudah dapat dipastikan mengancam.

“Apa kau lupa? Aku juga seorang Putri…”

“Baiklah, kau tidak kuizinkan untuk keluar dari wilayah ini, Tuan Putri..” Taeyeon berusaha menggapainya, tapi Tiffany berusaha untuk melepaskan diri.

“Biarkan aku pergi Taeyeon… Jika kau tidak bisa menghentikan serangan ini, jika kau tidak bisa membujuk Ayah ataupun adikmu.. Kumohon, biarkan aku pergi dengan tenang…”

“Tidak…” Desis Taeyeon, berusaha menahan air matanya. “Tidak akan…”

“………”

“Fany…” Taeyeon memeluknya, “dengar… Aku… Aku mencintaimu Fany…” Taeyeon meraih dagunya, menatap tepat kedua matanya hingga Tiffany dapat melihat air matanya.

“Kumohon, jangan pergi…”

“Aku…” Tiffany berusaha menelan ludah, “juga….” Tanpa aba-aba, Taeyeon melandaskan ciumannya. Ciuman pertama mereka.

Tiffany merasakan bibir Taeyeon sedingin sentuhannya, namun begitu lembut dan membuat sekujur tubuhnya terasa hangat.

“Taeyeon!”

“Yang Mulia..”

Mereka melepaskan diri dari ciuman itu, berdiri sejauh-jauhnya satu sama lain. Lalu, kemudian Taeyeon tersadar dan berdiri di depan Tiffany.

“Apa yang kau laku….” Jessica menutup mulut dengan kedua tangannya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia lihat. “Apakah itu… kau….”

“Taeyeon…”

Taeyeon terlalu terkejut dengan apa yang dia lihat, di belakang Jessica dan Yuri berdiri dengan wajah murka, Ayah dan adiknya.

“Kau, menyingkir Taeyeon…” Ayahnya mulai berbicara dengan nada mengancam, tapi Taeyeon tidak akan menyerah.

“Tidak Ayah,” Taeyeon menggenggam tangan Tiffany yang sejak kekacauan ini terjadi, hanya menunduk berusaha menutupi identitasnya, walaupun sudah terlambat. “Untuk kali ini, aku tidak akan menurutimu Yang Mulia Raja, maafkan saya.” Taeyeon dapat merasakan Tiffany tersentak dalam genggamannya.

“Kim Taeyeon, sekali lagi aku perintahkan kau untuk menyingkir dari tempatmu berdiri, dan biarkan Jiwoong menyelesaikan tugasnya.”

“TIDAAAKK!!!” Taeyeon berbalik dan memeluk gadis di belakangnya, “TIDAK ADA YANG BOLEH MENYENTUH TIFFANY-KU!” Tiffany mempererat pelukan mereka, dia bahagia mendengar Taeyeon menyebutnya ‘Tiffany-ku’.

“YUL, KAU MENYINGKIRLAH! JANGAN DEKATI KAMI!”

“Maafkan aku Yang Mulia, ini sudah menjadi tugasku secara turun-menurun untuk menjaga kemurnian darah keluarga bangsawan kerajaan.”

“TERSERAH! Aku gak peduli.. Kalian! Kuperintahkan untuk meninggalkan kami sendiri!” Mereka tampak ragu-ragu. Sesekali melirik sang Raja yang berdiri dengan kemurkaan yang sangat tergambar jelas di wajahnya.

“Serang…” Katanya dengan suara yang sangat tenang.

“Tapi, Yang Mulia.”

“Aku tidak peduli Yul, musuh adalah musuh.. Sekarang dia sudah menjadi musuh, jadi serang…”

Yuri tampak ragu-ragu sebelum berjalan mendekati Taeyeon dengan pedang teracung di dadanya. Walaupun wajahnya tampak tegas, tapi Taeyeon dapat dengan tepat menerjemahkan tatapannya, menyesal dan minta maaf.

Dengan sigap Taeyeon menyembunyikan Tiffany di balik tubuhnya sembari menghunus pedangnya sendiri.

“Gunakan ini…” Bisik Tiffany sembari menyelipkan sesuatu di dalam jubah Taeyeon.

Taeyeon mengambilnya, matanya membelalak saat melihat apa yang dibawa Tiffany sepanjang hari. “Bukankah ini….?”

“Pistol.” Potongnya. “Tarik pelatuknya, kemudian tekan tombol yang ada di jari telunjukmu.”

“Kau…”

“Gunakan itu Taeyeon…”

“Bagaimana denganmu?” Taeyeon menatapnya ragu.

“Aku percaya kau dapat melindungiku..”

Tanpa pikir panjang, Taeyeon mengacungkan pistol itu di depan Yuri. “Pergi Yuri, aku tidak akan membunuhmu kecuali kau mencoba menyerang Tiffany.”

“Yang Mulia…”

“Serang Yul, aku percaya padamu..” Ancam Sang Raja.

Taeyeon maju satu langkah tanpa menurunkan pistolnya, menatap mereka satu persatu. “Jangan ada yang berani menyentuhnya seujung kukupun.”

“AAARRRGGGHH…”

Taeyeon terperanjat.

Tiffany tengah memegangi lengannya, tampak kesakitan. Seorang Ajudan berdiri tidak jauh di dekat Tiffany dengan belati di tangannya.

Taeyeon kontan langsung melayangkan tembakannya tepat pada Ajudan tersebut, dan beberapa detik kemudian, pria itu ambruk dan belatinya terlepas dari genggaman.

Taeyeon berlari mendekati Tiffany yang kesakitan, memeluknya. “Kalau ada yang berani lagi, nasib kalian tidak akan jauh berbeda dengannya.” Dia menunjuk mayat Ajudan yang kini tergeletak di tanah dengan pistolnya.

Taeyeon melihat ayahnya menyeringai licik, “menurutmu aku takut, anak gadisku…”

Suaranya begitu lembut. “Kalau kau berani, silahkan tembak aku.. Aku ayahmu, aku yang membesarkanmu hingga saat ini, dan kau akan membunuhku demi gadis terkutuk itu?”

“DIAAAAM!! JANGAN MEMANGGILNYA MACAM-MACAM!” Teriaknya.

“Tae… Kau.. tidak bisa membunuh ayahmu..” Bisik Tiffany di dadanya.

Ayahnya berjalan mendekatinya, “Jangan bergerak Ayah, jangan membuatku melakukan hal-hal yang tidak kau suka..”

“Kau anakku, kau pasti akan mendengarkanku, ya kan?”

Tiffany semakin mempererat pelukannya pada Taeyeon, tahu apa yang selanjutnya akan terjadi.

“Ayaaaah…. Berhentii…”

“Lepaskan gadis itu Taeyeon, dia bukan untuk kita… Dia tidak seharusnya berada di tengah-tengah kita..” Taeyeon dapat merasakan tatapannya melembut, “Aku akan mengizinkanmu berkencan dengan gadis manapun di Negeri kita, termasuk Jessica sekalipun.”

Jessica tersipu, Yuri mencoba tidak terpengaruh namun justru terlihat kikkuk mendengar perkataan itu, dia mulai tidak fokus dengan pedangnya. Dia mengalami dilema yang sangat berat dalam hidupnya.

“Aku…” Taeyeon tampak ragu-ragu mendengarnya, Raja tidak pernah menyetujui peferensinya. Ia selalu dipaksa untuk menikah dengan seorang pria yang dipilihkan untuknya. Namun, Taeyeon selalu menolaknya. Dia tidak pernah tertarik dengan pria dari awal. Sejak insiden kontroversialnya; salah kostum lima belas tahun yang lalu.

Tiffany mempererat pelukannya, menyadarkan Taeyeon bahwa ia masih ada di sana. “Aku tidak mau gadis lain, aku tidak mau Jessica. Aku hanya ingin Tiffany!”

Taeyeon segera menyingkirkan Tiffany saat Jiwoong berusaha menyerangnya. “Jiwoong!”

“Maafkan aku kak.. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya aku lakukan.”

“Kalau begitu hentikan penyerangan bodoh ini!”

“Maaf…”

“Jangan membuatku membunuhmu, Jiwoong-ah..”

“Sekali lagi…” Jiwoong menangkis tembakan Taeyeon dengan menggelindingkan tubuhnya lalu menarik kaki Tiffany, seketika gadis itu pun terjatuh dan menjerit. Taeyeon segera menangkapnya, namun naas, takdir berkata lain. Serangan Jiwoong justru mengenai pinggangnya. Tangannya yang gemetaran menyebabkan pistolnya terjatuh.

Suasana seketika hening, burung tidak lagi berkicau, tidak ada suara genderang peperangan, Lar-lar berhenti berdesis, tidak ada yang berbicara saat Taeyeon ambruk, hanya teriakan Tiffany yang terdengar sampai penjuru Negeri.

Pandangan Taeyeon mulai mengabur, Tiffany menggenggam tangannya saat gadis itu berusaha untuk mengatakan sesuatu. “Aku… Mencintaimu…” Seulas senyum mengembang di bibirnya, “Fany…”

Air mata membanjiri wajahnya, dengan penuh keyakinan Tiffany berdiri menghadap mereka semua, kakinya masih sakit, lengannya juga nyeri. Tapi tak ada sakit yang menandingi apa yang hatinya rasakan saat ini.

“Kalian telah menghancurkan bangsaku! Kalian telah membunuh keluargaku! Kalian telah membunuh Taeyeon… Kalian telah mengambil semuanya dariku, sekarang.. Bunuh aku juga! SEKARANG!”

Tak ada suara yang terdengar setelahnya, selain tembakan dan tumpahan darah dua orang insan yang berbeda, menyatu. Yang tersisa hanya tangis, dan dua tubuh yang tergeletak di tanah, menyatu.

Jiwanya, menyatu.

**

Seoul, Korea Selatan.

“Bangun pendek!” Yuri menjitak bagian belakang kepala Taeyeon dengan keras menggunakan bolpoin, membuatnya meringis kesakitan.

Taeyeon mengucek kedua matanya. Cuma mimpi?

“Yah! Bisa nggak kau memanggilku selain ‘pendek’?”

“Kayaknya nggak,” Yuri tampak berpikir keras. “Gimana kalau cebol?” Kemudian dia tertawa terbahak-bahak hingga mengeluarkan air mata.
Taeyeon tersenyum, menyadari betapa familiarnya ekspresi itu.

“Kim Taeyeon, dan kau Kwon Yuri…” Guru Park menatap mereka dengan raut wajah yang sudah dapat ditebak; ‘HUKUMAN’ tergambar jelas di mukanya. “Kalian harus mendengarkan penjelasan ini, atau dengan sangat menyesal kalian harus mendapatkan hukuman dari saya. Kalian bisa memulainya dengan menyatat apa saja nama-nama tanaman yang tumbuh di kebun belakang sekolah kita.”

“Semua ini gara-gara kau cebol!” Yuri menggerutu sambil menilik baik-baik dedaunan di belakang taman.

“Kita beruntung Yul, beliau tidak menyuruh kita mencari bunga terlangka di dunia.” Taeyeon mengeluarkan coke dari dalam tas saku-nya. “Nih, buat kau.”

“Kau… masih Taeyeon kan?”

“Memangnya kau pikir aku siapa? Pahlawan super? Spiderman? Oh Nggak.. Spiderwoman? Captain America?” Taeyeon tampak menimbang-nimbang, “aaaah… aku tahu, wonderwoman?” Taeyeon menirukan gerakan-gerakan dorky dari film-film itu. Lalu mereka berdua tertawa terbahak seolah hukuman dari Guru Park tidak pernah ada.

“Hey! Kalian..” Seorang gadis tiba-tiba bergabung dengan mereka, duduk di antara kedua gadis yang tengah menikmati hukuman mereka. “Apa yang sedang kalian bicarakan?” Kemudian dia cemberut. “Kutebak, kalian pasti sedang mendapat hukuman?”

“Hey Sica, jangan mengageti kami begitu. Tahukan kalau suaramu itu bisa membuat pohon-pohon disini tuli.”

“Pohon tidak punya telinga, Yul…” Gadis itu menghadiahinya tatapan mematikan, kemudian dia berpaling pada Taeyeon. “Oh, kalian pasti belum dengar berita ini kan?”

Gadis itu kemudian berdiri dan menunjuk sesuatu di belakang Taeyeon dan Yuri. “Kemarilah!”

Kedua gadis itu sontak menoleh dan Taeyeon hampir kehilangan kedua bola matanya. Ia tidak percaya dengan apa yang dia lihat.

Senyum itu…

“Kenalkan, dia gadis baru.. Pindahan dari Amerika, namanya Tiffany. Dia juga Korea-Amerika sepertiku. Sekarang, dia adalah sahabatku di kelas. Jadi, aku tidak perlu selamanya terjebak dengan kalian. Setidaknya sekarang aku punya teman ngobrol yang nggak idiot. Oh ya, dia pindah kemari dengan sepupunya. Seo-Seo…?”

“Seohyun.” Gadis itu mengoreksi, masih dengan senyum yang sama.

“Ah, ya.. Seohyun, namun dia masih di tingkat satu seperti Yoona.” Kemudian dia menarik Tiffany di sampingnya. “Selamat datang Tiffany, di keluarga kecil kami.. Kedua orang idiot ini Yuri dan Taeyeon.”

“Salam kenal…” Tiffany membungkuk pada mereka.

Yuri dengan sigap membungkuk kemudian menampik lengan Jessica, “siapa yang kau panggil idiot, hah?”

“Well, duh?” Jessica hanya mengangkat pundaknya tidak peduli lalu menatap Taeyeon yang masih bergeming di tempatnya. Tiffany tampak tidak nyaman dalam tatapan intens Taeyeon. “Taeng?”

“Bro!” Yuri memukul bagian belakang kepala Taeyeon, lagi. “Kau harus menyapanya. Tidak sopan sekali. Aku tahu, kau pendiam.. Tapi tunjukan rasa hormatmu.”

“Oh…” Taeyeon berhasil menguasai kembali gesture-nya. “Maafkan aku… Kim Taeyeon, XII-3”

“Tiffany Hwang, XII-1” Gadis itu mengulurkan tangannya, Taeyeon tentu saja dengan senang hati menyambutnya.

Senyumnya tak pernah selebar ini. Taeyeon tidak melepaskan tangannya hingga Jessica berdeham. “Ayo Tiff… Kukenalkan kau pada Sunny, Sooyoung, dan Hyoyeon. Mungkin sekarang mereka di kantin.” Tiffany mengangguk dan mengikutinya.

“Aku lapar..” Taeyeon berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mengikuti mereka berdua.

“Taeng! Tunggu…” Yuri berlari menyusulnya. “Lalu hukumannya?”

“Bisa kau lanjutkan atau nanti saja, kita masih punya banyak waktu. Dan sekarang, aku lapar.”

Yuri memutar bola matanya, kemudian berbalik membereskan barang-barangnya. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan bersama Jessica sedikitpun, tentu saja Taeyeon tahu itu.

Dengan senyum terlebar dalam hidupnya, Taeyeon berjalan dengan hati ringan. Dia mencoba mengingat-ingat kembali rasanya. Tubuhnya benar-benar bergetar saat dia menjabat tangan Tiffany di taman tadi.

Dejavu. Sungguh.

Jessica, dengan seringai menoleh ke arahnya kemudian berbisik, “dia sudah taken Taeng, six pack, model, kau tidak ingin melihatnya, percayalah.”

Taeyeon hanya mengangkat pundak, tidak terpengaruh dengan kata-kata Jessica. Sebelum mengambil tempat duduk di samping Matahari-nya, dia sempat membisikkan balasan pada sang Ice Princess, “All is fair in love and war…

Ps. Kalo kalian pernah baca Aerial…
Anyway, semoga ini bisa mengobati kerinduan kalian.. ha… ha… ha… xD
Doakan saya yg sedang UAS yaa~ thx

Iklan

20 thoughts on “FAIR [One Shoot]”

  1. Aaa sukaaaa 😍😍
    Buat versi seriesnya dong thor, itu di masa depan Mereka belum bersatu 😆😆
    Berharap ada versi series atau engga sequel deh, pingin liat tae naklukin fany di masa sekarang nya 😚
    Oh ya, btw boleh request ga thor, ff taeny dengan latar snsd 😆😆

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s