SNSD

Positive Thinking [OneShoot]

050214

Created by: Kapten Kaoru

Genre: Yuri (Girl X Girl)

Cast: Taeny

WARNING: Yuri (Girl X Girl), Sorry for the typo.

.

.

.

         Pada suatu hari… oke ini bukan sebuah fairy tale atau sebuah karangan anak SD yang di paksa gurunya untuk membuat cerita tentang liburannya. So, aku ganti openingnya.

    Perlahan tapi pasti, cahaya matahari yang sedang hangat-hangatnya hari itu mengganggu dan menyilaukan pandangan si gadis pendek yang sedang tertidur. Gadis itu membuka matanya perlahan, mencoba menyesuaikan matanya yang sebenarnya masih terlalu malas untuk beradaptasi dengan cahaya matahari yang dengan lancang masuk ke kamarnya melalui jedela kamar yang sangat besar. Ia berguling ke samping, mencari remote untuk mengecilkan sinar matahari yang silau. Tidak, itu tidak mungkin bisa. Ia berguling kesamping berharap menemukan seseorang, tetapi ia tidak menemukan gadis yang sedang menjabat sebagai kekasihnya itu tidur di sampingnya.

       “Oh dia sudah bangun rupanya” gumamnya lirih, tak lama kemudian ia bangun dan berjalan lemari untuk mengambil pakaian lalu menuju kamar mandi sambil mencoba mengumpulkan nyawanya yang tercecer entah dimana. Ia melihat ke arah cermin dan ia terkejut, semakin hari lingkaran hitam di matanya semakin jelas terlihat.

         “Omaigat! apakah kau seburuk ini, Taetae?” Taeyeon menggeleng melihat refleksinya dicermin, ia mencoba mencubit pipinya sendiri yang jujur saja, ia sangat menyukai pipi chubbynya.  Dengan nyawa yang belum terkumpul sepenuhnya, ia mandi dan terkadang ia kembali memejamkan matanya.

        “Pagi, my Taetae!” suara husky kekasihnya menyapa gendang telinganya. Walaupun ia lupa kapan ia terakhir membersihkan telinganya, suara itu tetap seperti sengatan listrik bervolt-volt yang berhasil membuatnya tersenyum manis dan kembali sedikit bersemangat. Tanpa berniat membalasnya, ia berjalan menuju kekasihnya yang masih sibuk mengobrak-abrik pantrynya untuk menyiapkan sarapan. Kedua lengan kekasihnya itu melingkar sempurna di lehernya, dengan seksama ia mengamati wajah kekasihnya itu dari alis seperti ulat bulu yang mempesona, mata yang membentuk bulan sabit jika tersenyum, sampai giginya yang putih. Pst.. walau sebenarnya ada sedikit noda coklat di gigi kekasihnya, tapi tidak apa, tidak mengurangi kecantikan kekasihnya itu.

     “Morning kiss” kata Taeyeon dengan memanyunkan sedikit bibirnya. Tanpa ragu, kekasihnya mendaratkan bibirnya ke bibir Taeyeon. Apapun keadaannya, Taeyeon tetap Taeyeon. Walau dia berkata dia mengantuk, tetap saja ia melakukan kissing yang berlebihan. Taeyeon meraih pinggang gadisnya itu agar ia dapat memperdalam ciumannya.

        “Tae!” Katanya terkejut sambil melepas ciumannya ketika Taeyeon berhasil meremas salah satu butt nya. Taeyeon hanya terkekeh lalu duduk di salah satu kursi meja makan sambil mencuri coklat panas yang sudah mulai mendingin.

     “Kau masak apa hari ini, Fanny?” Ya, gadis yang rela memegang jabatan sebagai kekasihnya selama 6 tahun terakhir itu bernama Tiffany, Hwang Tiffany. Seorang gadis yang mencintai dengan tulus seorang anak kecil yang terlanjur tercemar pikiran orang dewasa seperti Kim Taeyeon dan sebenarnya bukan itu yang ingin diceritakan.

     “Chicken Soup, Taetae. Aku tau semalam kau tidak bisa tidur, dan aku putuskan memasak sesuatu yang bisa membuat perasaanmu lebih baik hari ini” Kata Tiffany sambil menuang beberapa soup buatannya ke dalam mangkok dan menyimpannya di hadapan Taeyeon. Setelah selesai, ia berjalan kembali ke pantry dan menyiapkan minuman untuk Taeyeon.

      “Ah, aku pikir aku  akan makan fried rice lengkap dengan rasa luar angkasa mu lagi” sindir Taeyeon dengan suara rendah dan berharap kekasihnya tidak mendengarnya.

“Aku mendengar ucapanmu, Tae!” dan dugaannya salah. Suara tinggi yang dikeluarkan kekasihnya dari pantry sontak membuat jantungnya berdebar cepat, kalau-kalau Tiffany akan menjelma menjadi monster mengerikan yang hobi menculik anak di malam hari dan menjadikannya bahan pokok membuat soup awet muda. “Tae, aku serius tentang apa yang aku ucapkan kemarin” sambung Tiffany, membuat Taeyeon berhenti membayangkan Monster Tiffany begitu saja.

     “Tentang?” tanya Taeyeon melihat ke arah Tiffany yang sedang sibuk membuatkan minuman untuknya. Dan lagi-lagi Taeyeon berharap itu bukan obat herbal yang bisa membuatnya berubah menjadi Zombie mengerikan karena rasanya yang benar-benar menggambarkan ruang angkasa.

       “Tentang kau harus menceraikan kafein. Kau harus mencoba kurangi kopi, Baby. Sebagai gantinya, aku akan membuat coklat panas setiap hari untukmu” Jawab Tiffany sembari berjalan menuju meja Taeyeon dan duduk di samping Taeyeon, meletakkan coklat panas yang lengkap dengan kepulan asap dan bau  harum yang menggoda hidungnya.

      “Apakah aku harus menceraikannya? aku rasa itu sulit, Baby. Kau tau, kopi yang membuatku tetap terjaga di pagi dan malam hari.” Kata Taeyeon dengan wajah sedikit sedih. Jujur, jauh dari kopi adalah permintaan tersulit yang pernah ia dengar, lebih sulit daripada ia harus menempelkan ribuan bintang di langit atau harus menghapus mendung agar sinar matahari dapat bersinar cerah.

       “Kau tak liat lingkaran hitam di matamu semakin jelas, huh? Bahkan aku bertaruh bisa memasukan kelereng di kantung matamu itu” Tiffany meraih pipi kekasihnya itu, mengusap lembut di bawah mata Taeyeon  dengan ibu jarinya. “Kau kelelahan, sayang. Kopi membuatmu susah tidur di malam hari. Aku mohon, Tae, kalau kau mengantuk, tidurlah. Kurangi jam lemburmu dan perhatikanlah kesehatanmu.” Taeyeon meraih tangan Tiffany  yang ada di pipinya, mencium tangan itu lembut tanpa melepaskan pandangannya ke mata teduh Tiffany. Tanpa Tiffanny berkata sekalipun, setiap hari Taeyeon bisa melihat dari sepasang mata yang indah ini ada cinta yang besar untuknya.

      “Kalau aku tidak lembur, aku tidak bisa menghabiskan waktu bersamamu di akhir pekan seperti ini, Baby.” Taeyeon masih menggenggam erat tangan Tiffany yang mendarat di pipinya. Tampak kekawatiran muncul dari mata Taeyeon. Bagaimanapun ini tentang mereka, tentang bagaimana cara mereka membagi waktu untuk pekerjaan dan cinta, yang sama sekali belum bisa Taeyeon lakukan dengan benar.

        “Hei! Bahkan aku lebih memilih berpacaran dengan seseorang yang tidak ada waktu untukku daripada aku harus berpacaran dengan direktur perusahaan terkenal yang tiba-tiba berubah menjadi seorang nenek sihir yang tidak menjaga kesehatannya.” Taeyeon hanya terkekeh mendengar apa yang dikatakan Tiffany. Ia bahkan mendengar nafas berat Tiffany dari tempat ia duduk. “Walaupun kau tidak ada waktu untukku, itu tidak masalah bagiku. Aku kan bisa ke kantormu untuk makan siang denganmu, dan di malah hari juga aku tidur denganmu. So? Apa yang kau maksud tidak ada waktu untuku? bersamamu saja itu sudah cukup bagiku, Tae. Jangan pernah mengatakan tidak bisa sebelum kau mencobanya, Baby” rayu Tiffany dengan puppy eyesnya, jurus andalan yang biasanya membuat Taeyeon tidak bisa menolak permintaannya seperti permintaan untuk ditemani shooping yang selalu berakhir dengan – ayo kita beli semuanya.

         “Baiklah, Noona Hwang yang sebentar lagi akan mengubah marganya menjadi Nyonya Kim. Aku akan mencoba menguranginya. Aku tidak berjanji bisa menceraikannya langsung. Perlahan, dengan perlahan aku janji akan mengurangi intensitasku meminum cairan yang sangat kau benci itu. Kau percaya padaku?” Taeyeon meraih tangan Tiffany satunya dan meletakkan keduanya diwajahnya sambil tetap memandang jauh ke dalam mata TIffany. Tiffany tersenyum mengangguk mendengar kekasihnya mau mendengarkan apa yang dia minta. Tak lama kemudian, Tiffany menghadiahkan kecupan lembut tepat di bibir Taeyeon.

        “Lanjutkan makanmu, sayang.” Taeyeon melepaskan tangan Tiffany segera dan meraih sendok, melanjutkan makannya yang sempat tertunda karena harus melakukan adegan drama romantis seperti di TV kebanyakan. Bukan, bukan karena terpaksa atau agar  tampak seperti pacar yang romantis, tetapi Taeyeon hanya ingin mebuat Tiffany tetap berada disampingnya. “Apa yang akan kau lakukan hari ini, Tae?” tanya Tiffany sambil menopang dagunya, menatap Taeyeon yang sedang makan dengan lahap.

     “Hm.. entahlah. Aku tidak punya rencana. Duduk berdua denganmu sepertinya menyenangkan, Baby” Tiffany tertawa mendengar ucapan Taeyeon. Ia sangat tau, bahwa kekasihnya yang terkadang menjelma menjadi anak kecil yang manja ini sedang banyak pikiran, sangat terlihat dari tatapannya yang lelah dan terkadang tidak fokus.

       “Aku akan menunggumu di sofa. Ada beberapa dokumen yang harus aku cek hari ini.” kata Tiffany mengelus pipi Taeyeon sebelum berjalan menuju sofa, meninggalkan Taeyeon yang harus menyelesaikan sarapannya.

         Tak lama kemudian, Taeyeon menyusul Tiffany duduk di sofa. Tanpa berkata apapun, Taeyeon merebut dokumen yang sedang Tiffany lihat dan meletakkannya di meja, lalu membaringkan badannya dan meletakan kepalanya di paha Tiffany. Tiffany tersenyum kecil melihat tingkah Taeyeon yang kekanakan seperti ini, lalu menyisiri rambut Taeyeon dengan lembut. Taeyeon memejamkan matanya dan menikmati sentuhan Tiffany yang membuatnya semakin rileks.

       “Apa yang menggangu pikiranmu, Taetae?” Tanya Tiffany sambil menatap perempuan yang ada dibawahnya tanpa berhenti menyisiri rambut Taeyeon yang kini sudah mulai panjang. Tampak seperti seorang ibu yang sedang bercengkrama melepas rindu bersama anaknya.

      “Ada pegawai yang baru saja diangkat menjadi manajer di kantor. Dan banyak yang mengatakan bahwa ia mempunyai perilaku yang buruk. Sebenarnya akupun tidak tahu apa yang membuatnya ia tampak buruk. Aku sedikit ragu mempercayakan proyek besar yang sedang aku rancang kepadanya. Sempat aku berpikir, bagaimana seorang yang buruk bisa naik jabatan? Namun hatiku berkata, ia mendapatkan jabatan itu karena sudah bekerja keras sehingga ia layak mendapatkannya. Anehnya, setiap aku berpikir seperti itu, pendapat-pendapat orang itu semakin membuatku ragu kepadanya. Apa aku salah, Baby?” Taeyeon akhirnya kalah dengan benteng yang susuah payah ia bangun, ia lebih memilih menceritakan semuanya daripada ia harus terjebak dalam pikiran berat yang bisa membuat umurnya terbuang percuma. Walaupun Taeyeon tahu Tiffany bukan pemberi saran yang baik, tetapi berbagi cerita dengan kekasihnya ini adalah pilihan yang  cukup bijak untuk menjaga kestabilan emosinya dan menjaga wajahnya agar tidak berubah menjadi nenek sihir yang kelelahan.

     “Kau tau Yin dan Yang?” tanya Tiffany yang mendapat anggukan dari Taeyeon.”Area putih dengan titik hitam dan area hitam dengan titik putih. Orang baik juga punya sisi jahat, dan Sejahat-jahatnya orang pasti ia punya hati yang baik pula. Dan orang baik atau buruk itu hidup berdampingan menjalankan roda yang selalu berputar yang diberi nama roda kehidupan.”

     “Lalu? aku tidak mengerti maksudmu, Baby” Taeyeon menatap Tiffany dari bawah dengan raut wajah bertanya-tanya. Sebenarnya ia tahu maksud Tiffany, tapi ia mencoba mendengar penjelasan  dari gadisnya yang baru kali ini berbicara dengan topik yang lumayan berat.

       “Kau percaya orang jahat itu punya kebaikan? atau orang jahat bisa menjadi baik? Kau percaya itu?” Taeyeon mengangguk lagi. “nah. aku rasa aku setuju denganmu, Tae. Manajer itu mendapat kenaikan jabatan karena memang dia telah bekerja keras. Jangan menilai dari covernya saja, Tae, atau mendengarkan orang lain tanoa kau melihatnya sendiri” Jelas Tiffany dengan sabar. Taeyeon semakin mengerutkan keningnya dan berpikir keras.

       “Jadi aku harus percaya padanya? “ tanya Taeyeon setelah mengambil kesimpulan dari apa yang Tiffany utarakan.

     “Pertahankan pikiranmu tentangnya, Baby. Coba kau beri dia tanggung jawab yang kecil, kalau dia mampu berarti dia memang pantas mendapat jabatan itu. Jika tidak, kau bisa mempercayakan proyekmu itu ke orang lain yang kau percaya. Bukan begitu? Aku yakin, sebenarnya tidak hanya itu yang kau kawatirkan baby, kau masih tidak percaya kalau kau mampu menjalankan proyek besar itu kan?” Tiffany berhasil menebak lagi apa yang sedang Taeyeon takutkan. Ini membuat Taeyeon takut jangan-jangan Tiffany baru saja memperoleh kekuatan bulan untuk membaca pikiran orang lain dengan mudah.

     “Menjalankan proyek sangat besar untuk Go International, bersaing dengan perusahaan raksasa seantero negeri, dengan kemampuan yang aku rasa aku tidak mempunyainya dan dengan resiko aku akan benar-benar jatuh jika aku gagal. Oh, ayolah. memikirkannya saja aku sudah pusing.” wajah Taeyeon semakin kalut. Ini seperti waktunya curhat dengan Psikiater cantik. Berbaring dengan nyaman dan menceritakan apa yang ada di pikirannya, sambil memandang pemandangan indah dari bawah, apa lagi kalau bukan wajah kekasihnya yang semakin cantik seperti karakter – karakter kartun yang semakin charming akhir-akhir ini.

     “Apakah seorang bayi memiliki bakat membaca sejak lahir atau bakat berjalan? Tidak Tae, semua itu karena kita mau belajar. Dan bahkan aku berani bertaruh kau tidak mempunyai bakat memimpin sebuat perusahaan dan tidak terlahir menjadi Direktur. Bukankah kau memegang jabatan ini karena mempelajarinya?” Taeyeon hanya mengangguk, membiarkan Tiffany membantunya keluar dari selimut kekawatiran yang akhir-akhir ini menjebaknya menjadi seseorang yang membosankan. “Yang penting kau berusaha sekuat tenaga. Masalah hasil sukses atau gagal, itu adalah buah dari kerja keras kita. Jika ini gagal, kau bisa mengetahui salahnya dimana dan memperbaikinya. Bukankah kita harus belajar dari kesalahan kan Tae? Bukan belajar menjadi salah? Jadi tidak ada yang perlu kau takutkan. Percaya pada dirimu dan coba lakukan yang terbaik” dan percaya atau tidak, bahkan Tiffany sendiripun sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang ia katakan. Siapapun tidak mengajarinya untuk mengatakan hal itu, semua kata-kata itu ia peroleh sendiri dari usahanya bangkit dari kegagalan toko Bakerynya beberapa tahun silam. Ia bisa berkata seperti itu karena ia mengalaminya sendiri walau tidak serumit yang Taeyeon hadapi.

      “Jadi, apa yang harus aku lakukan sekarang?” tangan Taeyeon meraih tangan Tiffany dan menautkan jari-jari mereka, meletakkannya diatas perutnya yang rata. Mencoba merasakan kehangatan Tiffany melalui tangannya.

      “Jika kau hatimu senang, darah akan mengalir banyak ke otak dan membuat otak lebih encer. So, jangan biarkan hatimu dikuasai kesedihan dan kekawatiran Tae.” dan pada akhirnya Tiffany mengakhiri kotbahnya. Senyuman manis mengembang di bibir keduanya. Tiffany menunduk dan mengecup kilat bibir Taeyeon.

     “aaaah Fanny, mengapa kau jadi sebijak ini? terima kasih, Baby. ” Taeyeon beralih menyentuh pipi Tiffany yang mirip dengan bakpao jika dilihat dari bawah dan ia sedang mengendalikan hormonnya (?) untuk tidak melahap bakpao yang berisi dan meyimpan kelembutan luar biasa itu sekarang.

     “Entahlah, itu yang aku dapat selama aku membangun kembali toko Bakery ku dan yaah.. aku rasa aku cukup berhasil menjalankan prinsip itu walau ternyata aku harus banyak belajar.” Tiffany menyambut tangan Taeyeon yang menyentuh pipinya. “Tae, apa kau tak bosan hanya duduk seperti ini sepanjang hari?”

   “Kau bosan?” tanya Taeyeon spontan yang disambut dengan anggukan Tiffany. “Bagaimana kalau…” Taeyeon memikirkan sebuah kegiatan bagaikan mantra yang dapat mengubah Tiffany menjadi Monster cantik yang bisa membuatnya sangat kelelahan, dan hanya itu yang bisa membuat kekasihnya merasa lebih baik. Tiffany mengerutkan dahinya dan mencoba menebak apa yang akan di katakan Taeyeon. Kalau-kalau Taeyeon memintanya untuk membuat bekerja bersama di atas tempat tidur (?), Tiffany tidak segan-segan melempar Taeyeon keluar dari apartemen mereka saat itu juga. “Bagaimana kalau kita shopping?” dan pada akhirnya Taeyeon mengatakan mantra itu dan siap menanggung konsekuensinya.

    “horeeeeee~” girang Tiffany yang langsung berubah menjadi seorang anak kecil, meninju-ninju udara keatas sambil menenggelamkan bola matanya dibalik senyuman.  Ia segera meraih kepala Taeyeon dan memberi kecupan-kecupan kecil sebagai hadiah karena Taeyeon berhasil membaca pikirannya. Ya, Tiffany ingin sekali shopping, tapi melihat Taeyeon dengan wajah yang kusut, ia tidak berani memintanya. “Terima kasih, Baby.” katanya disela-sela kecupan.

     “Aku tahu kau menginginkannya. Sekarang moodku sudah baik. Dan giliran membuat moodmu baik” Taeyeon tersenyum. ‘dan membuat kedua kakiku kelelahan’ lanjut  Taeyeon dalam hati seraya bangkit dari pangkuan Tiffany, mengelus lembut rambut hitam panjang  yang sangat lembut itu. “Sana bersiap” Tiffany mengangguk lalu bangkit berdiri. Taeyeon medapatkan hadiah death glare yang sangat mengerikan ketika berhasil menepuk butt Tiffany saat berjalan menuju kamarnya “eeeewwwh~ mengerikan!”

-END-

Hurai! Postingan pertama. Postingan ini sebenernya buat kado si Sasya. Hayo udah pada ucapin ultah belom sama si Sasya? hehehe Selamat menempuh umur baru, partner alien. Never getting normal, partner 😀 Sori aku gak bisa nyanyi, suaraku lagi disewain ke penjual ubur-ubur. hahaha. See a~

Thank You

Kapten Kaoru

Iklan

62 thoughts on “Positive Thinking [OneShoot]”

  1. huehe baru baca.. suka kegiatan sehari-hari taeny begini.. macam kehidupan yang diharap-harapkan banget ya, romantis dan saling melengkapi begitu pula. Wah, tiff punya segalanya yang taeyeon mau.. ini sih, emg sesuai kenyataan fanficnya.. (Loh kok ngarep? delusi.. delusi..) happy belated birthday author Sasya~ ^_’ wink kekekkee

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s