menulis, One Shoot, SNSD

Our Meeting [Oneshoot]

260214

Created by: Kapten Kaoru (K2)

Cast: Tiffany Hwang, Taeyeon Kim,  etc

Genre: Yuri (Girl x Girl), Romance, Sad.

BackSong: Yiruma – If I Could See You Again

Warning: Yuri (Girl x Girl)!!!!

Happy reading 😀

.

.

.

Hari yang melelahkan. Bukankah setiap hari selalu seperti ini? Berjalan pulang ke rumah membawa hati lelah karena terlalu sibuk memikirkan hal yang membuat umur semakin cepat berkurang, berjalan melewati jalanan yang selalu sama setiah harinya dengan  mengenakan sneakers warna merah lengkap dengan warna tali yang berbeda di kanan dan kiri, yang sudah mulai menipis dibagian telapaknya. Dan bahkan tak jarang air merembes masuk ke dalam sepatu jika aku sedang sial melewati kubangan.

Seharusnya hari ini aku berbaring di rumah sakit dengan keluhan gegar otak ringan atau amnesia permanen karena terpeleset dari tangga karena sneakers bodohku itu. Tetapi Tuhan masih memberiku hidup dan ingatan yang lengkap. Tentu, setelah ini aku akan membuang sneakers bodohku itu atau akan ada ribuan kemungkinan aku akan terpeleset dan mati sia-sia. Atau aku memilih untuk tetap mengenakannya agar aku terpeleset lalu amnesia, jika aku benar-benar ingin amnesia, melupakan semua orang yang kini beralih menjadi tukang penjual topeng. Aku benar-benar berharap suatu hari alien akan menculikku dan pergi dari dunia yang dipenuhi oleh manusia-manusia membosankan.

Mom, aku pul~”ucapanku terputus ketika melihat seorang gadis tiba-tiba melompat dari sofa ruang tengah dan kini sedang berlari kegirangan ke arahku. Hampir saja aku lupa caranya bernapas ketika aku mengenali siapa gadis yang sedang memberikanku senyuman paling indah di dunia.

“TaeTae!” Aku hampir kehilangan keseimbangan. Gadis itu berhambur memelukku erat, menenggelamkan kepalanya di ceruk leherku yang lebih pendek darinya. Ia memelukku sangat erat seperti ia memeluk boneka beruang kesayangannya sewaktu kecil yang aku selamatkan dari kecelakaan bodoh karena ia ingin menyelamatkan seekor anak angsa yang mendadak lupa cara berenang dan hampir tenggelam di kolam belakang rumahku dulu.

 Aku terdiam dan membelalakan mataku, sedikit tidak percaya seseorang yang sudah bertahun-tahun aku rindukan dan selalu aku tunggu saat dimana aku bisa memeluknya erat seperti ini. Aku tidak bisa menggerakan tubuhku. Apakah ini mimpi? Bahkan harum tubuhnya pun tetap sama saat terakhir aku memeluknya beberapa tahun silam sebelum ia meninggalkanku seperti orang bodoh.

Lalu? apakah semua ini nyata?

Hening. Aku belum sepenuhnya sadar dan aku tidak mau sadar dari mimpi yang tiba-tiba hadir setelah sekian lama aku impikan. Aku bisa mendengar dengan jelas deru nafasnya yang memburu, memburu semua rindu yang ia simpan untuk segera keluar dari hatinya. Dentuman jam dinding pun terdengar begitu keras, dan aku berharap detik demi detik berjalan lambat dan kejadian ini akan berlangsung lama.

Aku tidak membalas pelukannya. Semua tenaga dan pikiranku tenggelam pada perhatian kalau-kalau gadis yang sedang memelukku ini tiba-tiba menghilang bagaikan letupan gelembung sabun Spongebob, seperti saat ia meninggalkanku dulu.

Hahahahaha. Aku tau. Aku benar-benar menyedihkan karena hampir sisa hidupku habis untuk merindukan gadis ini, Dan sekarang ia memelukku. Memeluku dan sayangnya aku tidak ingin ia melepaskanku lagi. Dan yang paling penting, aku berharap ia tidak merasakan atau mendengarkan debaran jantungku yang kini sedang menari-nari penuh kegirangan, hampir membuatku sesak nafas.

“Tae, Aku merindukanmu” Ia semakin menenggelamkan kepalanya. Bibirnya yang lembut menyentuh leherku, memberikan sensasi yang begitu luar biasa. Bibir yang suatu hari aku ingin mencicipinya.

Apakah bibir itu benar-benar lembut ketika menyentuh bibirku?

Atau… atau… hahahaha aku terlalu banyak berkhayal. Mungkin aku terlalu menelan ulat bulu akhir-akhir ini, dan kini ribuan kupu-kupu ada di perutku sekarang. Atau aku mengandung bayi ubur-ubur? Aku rasa tidak, bahkan aku ingat tidak memakan sup telur ubur-ubur minggu ini.

Apakah aku sebahagia itu? atau aku tampak bodoh karena bahagia melihat gadis ini hari ini dan ia tidak berhenti memelukku? Oh, pertanyaannya seharusnya seperti ini. Sampai kapan ia akan memelukku?

“Apakah kau tidak merindukanku?” entah sejak kapan ia melepaskan pelukannya dan kini sudah menatapku dengan mata indahnya. Kehangatan tangannya menyentuh pipiku, mengusap lembut dengan ibu jarinya tanpa melepas tatapan menelanjangi ke arah ku. Dia menunggu jawabanku, sepatah kata dari mulutku yang kaku ini.

Aku harus mengatakan apa?

“A-Aku juga merindukanmu” benarkan? Aku benar-benar bodoh. Dari ribuan kata yang ada di otakku, hanya itu yang bisa aku katakan. Semuanya tenggelam dan ketelan begitu saja masuk kedalam perut. “Fany, aku juga merindukanmu” aku menambahkan senyum tipis agar ia tidak tau kalau aku sedang menjadi anak bodoh yang  baru saja berhasil mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan namanya.

Ia tersenyum dan meraih leherku lagi dan menarikku kedalam pelukannya. Kali ini ia membiarkanku tenggelam di ceruk lehernya. Tanganku mulai terangkat dan meraih pinggangnya, sesekali berjalan menuju pundaknya. Aku memeluknya. Memeluknya sangat erat dan menghirup aroma wangi tubuhnya dalam. Aku akan mengingat harum ini, ya, aku akan selalu mengingatnya. Dan aku berharap memori ini tidak akan hilang kalau aku jadi amnesia.

Kali ini aku sadar kalau perlahan ia melepas pelukanku, dan lagi-lagi tangannya meraih kedua pipiku lengkap dengan tatapan dan senyumannya.

“Kau harus berganti baju dulu” aku mengangguk dengan bodohnya. Lebih tepatnya aku terhipnotis melihat senyumannya dan hanya bisa mengangguk menurutinya tanpa bantahan, seperti acara hipnotis di TV, acara favorit Mommy disore hari.

Aku berjalan mendahuluinya. Meremas ujung kemejaku, menahan emosi agar tidak meledak dihadapannya. Aku merasakan kalau dia mengikutiku, dan kemudian aku berpikir, apakah ia akan menemaniku berganti baju? oh benarkah seperti tu? Aku berbalik kearahnya setelah aku membuka sedikit pintu kamarku dan masih mendapatinya berjalan mengikutiku. Ia berhenti beberapa senti sebelum ia menabrak tubuhku.

“Apa kau mau mengikutiku ke dalam dan melihatku ganti baju?” kataku spontan. Ia terkejut dan membelalakan matanya. Aku baru sadar kalau ternyata ia bisa menaikan alis kirinya dan membuat alis kanannya lebih rendah dari semestinya.

“A-aku” aku meunggu kelanjutan kalimatnya. Ia berusaha mengalihkan pandangannya, wajahnya memerah, dan “Aku akan menunggumu diluar” dan akhirnya ia melanjutkan kalimatnya setelah ia berhasil menemukan jawaban logis aku rasa. Ia berbalik tanpa menunggu aku membalasnya. Setelah aku melihat ia duduk di sofa, aku berbalik dan masuk ke kamarku. Sesegera mungkin aku berlari menjatuhkan diriku ke kasur dan menenggelamkan wajahku di bantal, berteriak kencang dan berharap bantal akan meredam suaraku, atau kalau tidak aku harus menanggung malu para tetangga akan datang lagi karena mereka kira aku akan bunuh diri dengan mengigit jari telunjuku.

“AAAAAARGGGGH!” aku mengeluarkan suara yang sedari tadi aku tahan saat di hadapan Tiffany. Bahkan kini aku tidak sesak nafas lagi. Masa bodoh orang lain apakah orang lain mendengar teriakanku.

“Apa kau baik-baik saja, Taeyeon?” mommy bertanya tepat di depan pintu kamarku yang masih tertutup. Tentu saja tidak. Aku tidak baik-baik saja. Aku terlalu bahagia bisa bertemu lagi dengan Tiffany, bahkan aku bisa memeluknya dengan erat, dan aku berharap nanti aku bisa mencicipi bibirnya yang lembut itu. Apakah aku sudah tidak  waras? Aku memang tidak waras, ya, aku akui itu. Tiffany membuatku seperti ini, membuatku menginginkannya, membuatku hampir mati putus asa karena memendam rindu sekian lama.

“Aku baik-baik saja” aku tidak mungkin berkata yang sejujurnya dengan Mommy, atau aku benar-benar didaftarkan di rumah sakit jiwa terdekat. Aku segera melompat dari tempat tidur dan segera berganti baju. Aku tidak mau lama-lama membuang waktuku dan sesegera mungkin bertemu Tiffany yang sedang menungguku di ruang tengah.

Riiiiing~

Baru satu kaki yang aku masukan ke dalam celana pendekku saat Handphone-ku berdering. Aku menghentikan aktivitasku dan mengangkat panggilan untuku. Sebelum aku menggeser Answer, aku melihat kontak yang menghubungiku. Itu Yuri.

“Ya Yuri! apakah kau masih merindukanku sehingga kau menghubungi ku lagi? Hei! ayolah, kita baru saja bertemu.” dan aku berani bertaruh Yuri mual mendengar ucapanku ini. Itu sahabatku. Oh apakah pantas ku sebut sahabat padahal ia sering sekali memebuat aku jengkel dengan leluconya yang murahan itu? Hahaha, sebodoh apapun dia, Yuri tetap sahabatku.

“Aku butuh plastik sekarang!” benarkan kataku kalau ia mual setelah mendengar ucapanku? “Aku serius Taeng. Seorang pengendara sepeda bodoh menabrakku sore ini dan aku harus mendapat jahitan yang memperburuk kaki indahku!”

“Ya! bagaimana kabarmu sekarang? Apa perlu aku menyusulmu? Kau dimana?” Atau aku hanya bisa membuat lukamu semakin bertambah buruk? Seketika aku lupa soal Tiffany yang masih menungguku diluar. Benar-benar lupa.

“Aku sudah baik-baik saja. Aku tidak yakin jika kau melihatku, lukaku akan membaik” Inilah yang aku benci dari Yuri, terlalu mudah untuk menebak isi pikirannya. “Haha aku bercanda. Ada yang lebih penting Taeng. Bisakah kau mengerjakan tugas kuliah bagianku? Aku tidak yakin bisa sampai dengan selamat pulang dan pergi perpustakaan menggunkaan UFO pinjamanmu itu.” Selalu ada ebi di balik bakwan. Aku menghela nafas panjang dalam diam, memejamkan mataku dan berkata dalam hati dengan lantang bahwa aku baik-baik saja. Dan aku berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melempar Yuri dari jendela kelas jika keesokan harinya kami berada di satu kelas. Apa aku berlebihan?

“Baiklah” sepertinya aku sedikit menyesal mengatakan itu. ”Tetapi ini yang terakhir kalinya, Noona Kwon! Walaupun nanti kau tersesat di luar angkasa atau diculik alien sehingga kau tidak bisa kembali ke bumi dan tidak sempat mengerjakan tugasmu, aku tidak akan membantumu lagi. Ingat itu! Aku sudah memberitahumu untuk mengerjakan jauh-jauh hari, tetapi kau tidak pernah mendengarkanku.“

“B-Baiklah Taeyeon. Ini yang terakhir” terdengar dengan jelas suara Yuri ketakutan. “A-aku berjanji” tidak mungkin Yuri mengompol karena ketakutan mendengarkan aku marah. “Bisakah kau menolongku?”

“Baiklah! Jaga dirimu baik-baik. Kalau kau tidak bisa berangkat sendiri besok, aku akan menjemputmu dan kita akan pergi bersama.” Kataku sedikit halus.

“Aku akan mengabarimu besok. Sampai nanti” dan teleponpun terputus. Aku menghela nafasku, meletakan Handphone ku di meja kasur dan meraih celanaku kembali.

Sebentar.

Aku ingat sekarang. Jika aku harus mengerjakan bagian Yuri di perpustakaan hari ini juga berarti…

AKU TIDAK BISA MENGHABISKAN WAKTU JALAN-JALAN BERSAMA TIFFANY!

“KWON YUWREEEE!!!!!!” teriakku sejadi-jadinya. Aku menyesal membantu Yuri. Kali ini aku benar-benar menyesal membantu si kukang hitam pemalas itu. Sepertinya Mommy mendengar teriakanku dan menuju kamarku.

“Kau baik-baik saya, Taeyeon?” Kata Mommy khawatir setelah berhasil membuka pintu kamarku. Aku juga melihat Tiffany berdiri lumayan jauh dibelakang Mommy. Tiffany berjalan mendekat. Mommy langsung membingkai wajahku dengan tangan dinginnya.

“Aku tidak apa-apa, Mom. Yuri baru saja mengirimkan salah satu bintang dari langit, jadi aku terkejut” Kataku santai dengan alasan yang tidak masuk akal. Aku bisa melihat dengan jelas bekas air mata di mata Mommy. Ada apa dengannya? Mengapa beliau menangis? “Mom, mengapa menangis? ada sesuatu yang terjadi?” Tanyaku penasaran. Aku melihat Tiffany berdiri di belakang Mommy. Tiffany juga tampak ketakutan, wajahnya tidak lagi seceria ketika pertama kali melihatku masuk ke dalam rumah. Ia memainkan kukunya, sedikit menekuk wajahnya sambil melihat ke arahku.

Mommy tidak apa-apa” Mommy menunduk dan mengusap airmatanya. “Tadi mommy mengiris bawang bombay jadi pedih” Apakah aku masih tampak seperti bocah yang bisa di bohongi dengan alasan basi macam itu? Aku tau Mommy berbohong. Mungkin untuk saat ini aku tidak bisa menanyakannya secara gamblang. Tetapi suatu saat nanti aku harus mengetahui alasan kenapa Mommy menangis hari ini.

“Aku akan ke perpustakaan. Yuri baru saja mendapat kecelakaan jadi dia tidak bisa menyelesaikan tugasnya” Ucapku dengan senyuman ringan. “Tiffany!” aku melihat kearahnya. Seseorang yang ku pangil namanya terkejut “Maukah kau menemaniku? Hari ini aku benci sendirian”

“B-Baiklah” kata Tiffany terbata-bata. Wajahnya masih ketakutan.

Mom….my” ucapanku melemah ketika melihat air mata Mommy lolos begitu saja ketika menatapku. “Benar Mommy tidak apa-apa?” tanyaku lagi. Mommy menunduk, mencoba menyembunyikan wajahnya. Tapi sekali lagi, aku bukan lagi gadis umur 8 tahun yang bisa di bohongi dengan lelucon bodoh yang sama sekali tidak masuk akal.

“Hemm” Mommy mengangguk. “Baiklah. Hati-hati di perpustakaan. dan Tiffany” Mommy menoleh kearah Tiffany. “Kalian harus hati-hati dan jangan pulang kemalaman”

“B-Baiklah, Nyonya Kim” Tiffany menunduk. Mommy berjalan meninggalkan kami berdua. Tiffany berjalan mendekatiku dan memelukku. Kali ini pelukannya seperti ia tidak mau kehilanganku. Aku terus terhanyut dengan tatapan ketakutan yang Tiffany perlihatkan padaku.

Mengapa Mommy dan Tiffany bersedih?

“Ayo, temani aku ke perpustakaan, lalu kita makan eskrim. Aku ingin makan eskrim denganmu” aku melepaskan pelukannya, menunduk dan mencari mata sedihnya itu.

Ia hampir menangis.

“Ayo TaeTae!” angguknya mantap. Kini ia tersenyum dalam kesedihan. Aku mengambil tas dan jaket untukku dan untuk Tiffany. Kami berjalan keluar kamar sambil bergandengan.

Tiffany terus menatapku yang sedang sibuk mengerjakan tugas dan membolak-balik buku. Bukannya aku tidak suka, tapi…

“Bisakah kau berhenti menatapku?” Pintaku halus tanpa melepaskan pandanganku ke arah buku dihadapanku sambil sibuk menyalin. “Kau membuat aku tidak fokus. Kau tau?”

“Hmm.. benarkah? hahahaha. Apa kau Segrogi itu?” Goda Tiffany, ia mencondongkan wajahnya semakin dekat dengan wajahku. Aku menyernyit menjauh. “Aku bosan” Ia menyadarkan punggungnya ke kursi dan melipat kedua tangan di depan dadanya. “Dari semua yang ada disini, wajahmu yang tidak membuatku bosan” apakah wajahku merah saat ini? Aku berhenti menulis, melihat kearahnya dan menaikan alis kananku. Jantungku berdebar-bedar kencang melihat Tiffany.

“Apakah wajahku sekeren itu?” itu pertanyaan bodoh yang pernah aku tanyakan. Aku berharap topi yang kemarin aku beli masih muat aku pakai. Tiffany mengangguk tanpa ragu, dan aku yakin ia mengatakan yang sebenarnya setelah aku melihat senyuman tulus darinya. Wajahnya kini ceria kembali.

“Tentu, wajahmu adalah wajah yang aku tidak ingin lupakan walau aku mendapat amnesia. Sebuah wajah yang aku berharap aku akan melihatnya dipagi hari. hahahaha~” tawa tiffany menenggelamkan seluruh bola matanya. Aku tidak bisa berkata-kata menangggapi perkataan Tiffany baru saja. “Cepat selesaikan pekerjaanmu. Kau masih berhutang satu scoop eskrim padaku!”

“Tenangkan pikirmu, Fany. Sebentar lagi aku akan selesai” kataku sambil mulai menulis lagi. Dan lagi-lagi Tiffany melihat ke arahku. Aku mencoba mengabaikannya, mencoba fokus mengerjakan agar cepat selesai. Sungguh. Tatapannya benar-benar menelanjangiku.

Senyuman Tiffany mengembang ketika melihat aku menutup buku dan membereskan mejaku. Ia langsung meraih  tanganku ketika kami berjalan menuju keluar perpustakaan.

Kami menyusuri jalanan kota yang lumayan padat pejalan kaki. Kami bercanda dan genggaman tangan kami tidak terlepas sedetikpun, bahkan ia semakin erat menggenggam tanganku. Semua orang yang berpapasan dengan kami melihat ke arah kami dengan ekspresi yang aneh. Apakah ada yang salah jika aku bergandengan dengan seorang gadis? Atau mereka terhipnotis kecantikan Tiffany yang sedang berjalan dengan kurcaci pendek nan imut sepertiku??

Apa peduliku, yang penting aku bersama TIffany.

“Tae, berhenti.” Ia berhenti dan memandang ke dalam toko melalui jendela kaca yang lumayan besar. Ia berbalik dan tersenyum menatap ku, tanpa sepatah katapun ia menarik tanganku dan membawaku memasuki toko itu.

Itu toko sepatu.

Tiffany mendudukanku di salah satu kursi, sedangkan ia berjalan mengelilingi seputaran rak-rak sneakers. Aku melihat Tiffany membawa beberapa pasang dalam gendongan tangannya. Bukan beberapa lagi sebenarnya. 7 pasang? mungkin lebih dari itu.

Ia berjalan kearahku, meletakan pasanga-pasangan sneakers yang ia sanggup bawa di hadapanku lalu duduk di sebelahku sambil mengaitkan tangannya di lenganku.

“Pilihlah. Aku akan membelikannya untukmu.” kata Tiffany santai.

“Tidak perlu. Aku bisa membelinya sendiri.” Tiffany mengerutkan wajahnya seketika mendengar jawabanku. Apakah jawabanku membuatnya kecewa? Ia melepaskan tautan tangan kami dan membuang mukanya kearah depan.

“Aku tidak mau kau terpeleset karena sneakers kotormu itu. Jadi kita tidak akan pergi dari sini sebelum kau memilih salah satu atau dua dari sneakers yang aku pilihkan ini!” katanya penuh penegasan. Aku tidak mungkin membuatnya kecewa, jadi aku meraih wajahnya agar melihat kerahaku.

“Baiklah” aku mendekatkan wajahku hingga tersisa beberapa centi saja dari wajahnya. Aku tahu kalau dia senang melihatku tersenyum. Spontan ia mencium pipiku sedikit menyenggol sudut bibirku. boleh aku ulangi sekali lagi?

TIFFANY HWANG MENCIUM SUDUT BIBIRKU!

Strawberry. Aku membelalakan mataku. Bibirnya yang lembut itu menyentuh bibirku walau hanya dibagian sudutnya. Aku terdiam dan masih tidak sadarkan diri.

“Hei!” Tiffany melambaikan tangannya di hadapanku. Dan aku kembali lagi ke kenyataan walau masih tidak percaya apa yang baru saja terjadi. “Ayo pilihlah segera” dengan gugup aku membuang pandanganku darinya, beralih memandang deretan sepatu yang tadi ia susun

Pink, pink, merah, pink, pink… Mengapa hampir semua warna pink?

“Pink? Bolehkah aku memiliki yang warna hitam saja?” aku menoleh ke arahnya.

“NO!” pernah melihat ibu guru marah ketika seorang murid meminta ijinnya untuk membolos?

“Kalau begitu, pilihkan satu dari mereka untuku.” Aku mengalah daripada membuatnya lebih kecewa lagi. Oke, baiklah. Aku mengaku aku adalah seorang gadis yang sama sekali tidak menyukai barang-barang yang berbau pink. Lalu, apakah aku juga harus terang-terangan kepada seorang gadis yang baru saja muncul dihadapanku setelah sekian lama tidak bertemu? Itu adalah opsi yang harus dipilih jika aku ingin menjauh dari Tiffany. Tapi ini sebaliknya. Aku tidak ingin ia pergi jauh dariku lagi.

Ia bangkit dan berjongkok dihadapan barisan sepatu itu sambil menaruh telunjuk tangan kanannya di depan mulut. Akhirnya pilihannya jatuh pada sepatu simple dengan warna pink polos yang benar-benar soft, lengkap dengan tali warna putih tanpa dikelilingi karet dibagian samping sepatu. Seleranya tidak terlalu buruk bukan? Dengan mantap ia mengambil sepatu itu dan membawanya dihadapanku sambil tersenyum. Tanpa harus mencobanya, aku mengambil sepatu pilihannya. Aku yakin, sepatu pilihannya adalah sepatu yang paling cocok untuku.

Kami duduk di salah satu bangku bukit yang tidak jauh dari tempat kami membeli ekrim. Kali ini kami duduk dengan jarak yang lumayan jauh, tidak berpegangan tangan, dan mencoba melihat lurus pemandangan lampu kota dari bukit. Sesekali aku melihat sneakers yang baru saja Tiffany berikan padaku. Begitu pas, cocok dengan kulit kaki ku yang putih pucat.

“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanyanya memecah keheningan diantara kami. Ia tidak menoleh ke arahku dan terus memakan eskrim yang ada di genggamannya. Aku menoleh kearahnya

“Tanyalah” kataku setelah menjilat eskrim choco bananaku “Aku akan menjawabnya dengan jujur”

“Mengapa kau tidak menanyakan aku pergi ke mana ketika tadi saat pertama kali kita bertemu?” Bibir bawahnya masih menempel pada ekrim, sesekali menggigit cone eskrim.

Benarkah kau ingin aku menanyakan itu?

“Aku tidak perlu mendengar alasanmu pergi, dan aku tidak mau tau juga alasanmu datang hari ini. Kau ada dihadapanku dan aku bisa memelukmu, itu sudah cukup bagiku untuk menjawab semua pertanyaan yang ingin aku tanyakan selama ini” Aku mengatakan semua yang ada di otakku. Dan hanya itu yang ada dipikiranku. Apa aku terlalu jujur? Tiffany tersenyum. Sepertinya ia puas dengan jawabanku. “Apa kau akan pergi lagi setelah ini?”

“Entahlah, aku tidak tau.” Tiffany mekuk mukanya, ia menunduk dan memikirkan sesuatu yang berat. Air wajahnya berubah menjadi sedih.

“Kalau aku mengatakan ‘aku mencintaimu’, apakah kau akan tetap tinggal ?” Senyuman Tiffany berhenti. Dari samping aku bisa melihat airmatanya lolos dari pertahanan. Sesegera mungkin ia menghapus airmatanya dan mulai tersenyum lagi.

“Apakah dengan kau mengatakan kalau kau mencintaiku, aku akan tetap tinggal bersamamu?”Tanya Tiffany, Kali ini ia menatapku. Kini sangat jelas kesedihan dalam matanya, tetapi ia tetap memaksa tersenyum. “Hahahahaha. Kalau itu bisa, aku akan memintamu untuk menyatakan cinta setiap saat padaku agar aku bisa selalu disampingmu” tawa yang dipaksakan. Tertawa dalam kesediah dan aku sakit mendengarnya.

“Jadi, apa yang harus aku lakukan agar kau tidak meninggalkanku lagi?” tanyaku polos. Aku benar-benar ingin menahannya disampingku, setiap saat, dan mewarnai hari-hariku seperti dulu.

“Sepertinya aku harus mencicipi eskrim milikmu” ia bergeser mendekat dan tanpa menunggu jawabanku, ia meraih tengkukku dan mencium bibirku. Aku bisa matanya yang terpejam. Ia melumat penuh semangat bibir bawahku, seolah-olah mereka akan meleleh jika tidak segera dimakan. Perlahan aku memejamkan mataku dan menjatuhkan eskrimku, meraih kepalanya agar ciuman kami semakin dalam.

“Hmmm…” Ia mendesah. Sepertinya ia sangat menikmati bibirku.

Tiffany menciumku penuh emosi, bahkan ia menangis. Bibirnya benar-benar lembut melebihi kelembutan marsmallow yang sering aku makan ketika musim dingin. Sempat aku menghentikan ciuman karena aku butuh udara, namun tak lama kemudian Tiffany menyambar bibirku lagi.

Detik selanjutnya, aku tersadar aku menangis sambil memeluk lututku sendirian setelah membaca pesan dari adiku, Seohyun. Dan sekarang aku mengerti. Alasan Mommy tidak mengobrol dengan Tiffany, alasan Mommy menangis dan menyembunyikannya dariku, atau alasan mengapa orang-orang yang kami melihatku seperti orang aneh. Itu semua karena Tiffany. Apakah boleh pertemuan ini aku anggap sebagai pertemuan terakhir, Stephany Hwang?

EPILOG

# 93 Missed calls – My little sister, SeoHyun ❤

# 3 Messages Received

From: My little sister, SeoHyun ❤

        Kau dimana? aku tidak bisa menghubungimu. Penting!

From: My little sister, SeoHyun ❤

        Ada berita yang harus aku sampaikan. Tolong angkat Telponku! Jangan buatku khawatir.

From: My little sister, SeoHyun ❤

           Aku mohon. Angkat Panggilanku. Kau harus tau kalau Tiffany kemarin meninggal karena kecelakaan dan hari ini jasadnya akan tiba di Korea malam ini. Apa kau tidak mau menemuinya untuk terakhir kali?

-FIN-

Maaf kalau kesamaan jalan cerita, inti cerita atau latar cerita, tapi cerita ini bukan hasil copas atau meniru cerita lain.  Cerita ini murni hasil dari menjelajahi angkasa beberapa minggu ini. Jelek ya? Atau kepanjangan? Tapi percaya deh sama aku, lebih enakan baca beginian daripada baca sebrek jurnal dan gak ngerti isinya. Wkkkkkkkk XD See a~

Thank You,

Kapten Kaoru (K2)

Iklan

87 thoughts on “Our Meeting [Oneshoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s