One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Gone With The Wind [One Shoot]

“Love is like the wind, you can't see it but you can feel it.” ~ A Walk to Remember
“Love is like the wind, you can’t see it but you can feel it.” ~ A Walk to Remember

Evening~

0309? Heppi birthday kiddo~ WYATB!

Sebenernya aku gak mau post ini, aneh! Sumpah! Tapi karena aku udah janji.. jadi yg bisa aku lakukan cuma berdoa semoga yang baca nggak meremas cerita ini begitu saja dan berakhir di tong sampah// #sigh

Oya! Sapa yg bilang ini berchap? ahahahahaha….

Heppi reading,

~S2

Tiffany.

Sebenarnya malam ini dia tidak ingin pergi ke tempat terkutuk itu lagi. Berkali-kali dia sudah meyakinkan diri sendiri untuk tidak terlalu memerlibatkan perasaannya. Itu bukan pertanda baik untuknya, untuk siapapun. Karena walau bagaimanapun dia hanya akan menyakiti mereka.

Dengan setiap langkah yang dia ambil, setiap jalan yang dia lewati, setiap napas yang dia tarik di sepanjang perjalanan, perasaan itu semakin menghantuinya. Dia semakin takut. Kegamangan seperti ini tidak biasanya begitu mengusik seperti saat ini. Kenyataannya adalah, tak satu hal pun pernah membuatnya gamang—tidak walau kenyataan parah yang harus dia hadapi dua tahun terakhir. Tapi tidak seperti ini.

Tapi Tiffany tetap saja mendatangi tempat yang sudah bertahun-tahun lalu dinobatkan sebagai tempat yang paling dia benci. Hal terakhir yang ingin dia lakukan untuk menghabiskan malam minggu adalah berbuat dosa. Namun di sinilah dia, berdiri di tempat sumbernya berasal.

Saat seorang pria tua bangka mendatanginya dan membelai pundaknya, Tiffany langsung merasa tidak nyaman.

“Hai Sayang, akhirnya kau kembali lagi. Butuh uang, huh?”

Tiffany tidak menjawabnya, berlalu meninggalkan pelanggan yang sangat dibencinya dari skala klien malam minggunya. Beberapa tua bangka memang terlalu mengganggu dan menyebalkan.

Sembari merapikan pakaian dan make up-nya, Tiffany sekali lagi melihat bayangan dirinya dalam cermin. Menahan hasrat yang begitu kuat untuk tidak tertawa-lagi.

Siapakah gadis cantik yang berdiri di depannya saat ini? Begitu kotor dan menjikikkan.

Dia ingin menertawai gadis di hadapannya. Sangat malang, lemah dan tidak berdaya. Tiffany  membencinya, gadis itu—yang selalu mengikuti gerakannya.

Hello Dear, ooh~ Apa yang gadis sepertimu lakukan di tempat seperti ini? Oh Jesus, apakah dunia akan berakhir malam ini?”

Tiffany mengabaikan wanita itu saat dia itu cekikikan seperti tikus terjepit daun pintu.

Hey, hey dear.. Mau kemana kau? Memangnya kau pikir kau bisa seenaknya datang jika kau butuh uang dan pergi saat ada pelanggan kaya raya yang mampu membayar biaya hidupmu selama sebulan kedepan, huh? Walaupun ini tempat terkutuk, yeah… Tapi kita punya aturan Sayang..” Tiffany begitu ingin menonjok mukanya saat wanita itu mulai mengeluntung rambutnya dengan kasar.

Akan tetapi wanita terhormat harus mengabaikan perlakuan-perlakuan merendahkan seperti itu. Ya, Tiffany selalu menganggap dirinya wanita terhormat disamping apapun yang dia lakukan. Dia tidak melakukannya untuk bersenang-senang. Pikiran bodoh semacam serentetan etika yang mengatur manusia dalam hubungannya dengan manusia lain sudah terlalu kuno. Jaman sekarang dia harus berjuang untuk hidup walaupun melanggar norma. Berpikir konservatif tidak akan membawamu kemanapun.

Jadi, untuk seribu kali dalam hidupnya. Tiffany mengabaikan wanita itu, berjalan menuju ruangan utama untuk bercakap-cakap dengan sumber kehidupannya selama dua tahun belakangan.

*

Taeyeon.

Taeyeon selalu penasaran bagaimana rasanya tinggal di kota. Gemerlap lampu neon yang selalu menghiasi toko-toko pinggir jalannya, atau semua orang bergerak cepat setiap pagi untuk berangkat bekerja, saluran air yang lebih modern, suara berisik kereta, Taeyeon merindukan semua hal yang hanya dapat dia lihat melalui layar televisi selebar dua puluh satu inci dengan ketebalan yang sama seperti godam pertambangan.

Tapi setelah seminggu dia tinggal di apartemen tepat di pusat kota, Taeyeon mulai menyesali rasa penasarannya. Dia mulai merindukan kampung halamannya yang terletak di desa terpencil daerah pegunungan utara. Terkadang hatinya berdebar seperti suara-suara derap kereta kuda atau jangkrik mengerik tiap malam, irama martil yang dipukulkan para pekerja tambang, dan yang terpenting; sup kelincinya.

Saat musim dingin seperti ini, keluarganya selalu sibuk mepmersiapkan perayaan untuk menghormati dewa-dewi. Taeyeon mungkin merindukan sup gandum buatan Hayeon atau juga kakak laki-lakinya yang selalu bekerja di ladang dan sesekali membawakannya dan Hayeon—adik perempuan mereka, ubi bakar manis.

Sekarang, saat dia berada di belahan daerah lain, Taeyeon tidak dapat berhenti berpikir bagaimana nasib keluarganya selepas kepergiannya ke kota? Siapa yang akan memotong kelinci jika Ayah sibuk bekerja di tambang dan Jiwong menguruk ladangnya? Taeyeon tidak bisa membayangkan Hayeon kecil membunuh hewan lucu itu. Seingatnya, dari dulu Hayeon bakal menangis setiap kali ada binatang-binatang kecil yang malang dibunuh walaupun untuk dimakan.

Mungkin Taeyeon tidak akan seresah ini jika saja Ibunya masih berada di tengah-tengah mereka dan melakukan semua pekerjaan rumah. Setelah lima belas tahun lebih kehilangan Ibunya, semua kegiatan yang berhubungan dengan kerumah tanggaan sudah didelegasikan pada dirinya, satu-satunya gadis tertua dalam keluarganya. Hayeon kecil tentu saja masih terlalu kecil untuk memasak dan menimba air. Walaupun tahun ini Hayeon sudah menginjak usia ke enam belas tetap saja Taeyeon ragu gadis itu dapat menangani kerakusan kakaknya atau ayahnya yang masih saja bengal dalam hal ‘management waktu untuk makan’.

Jadi dalam pikiran yang masih menelannya, Taeyeon mencoba untuk mengistirahatkan kepalanya dengan berjalan-jalan sejenak di Banpo Bridge. Salah satu bangunan agung yang dielu-elukannya. Kota memang hebat, tapi dia tidak dapat melihat orang-orang bergotong royong membangun jembatan seperti di desanya. Yang ada hanyalah mandor yang membentak-bentak anak buahnya jika ada kesalahan dalam mengerjakan konstruksi bangunan.

Taeyeon mencoba menggambarkan bangunan itu dalam kepalanya. Tidak sulit bagi seorang pelukis sepertinya melakukan hal seperti itu, namun kekosongan dalam hatinya, kegelisahan yang berakar hingga sekarang lolos sebagai bahan distraksi.

Deadlinenya sih minggu ini. Pikirnya.

“Aku ingin pulang!” Serunya dalam kegelapan malam yang berwarna-warni.

“Dunia ini terlalu kejam!” Dia mendengar seseorang berteriak, kemudian menoleh, tidak ada orang. Mungkin saja teriakan itu hanya ada dalam kepalanya. Hal-hal yang terkadang sering mengganggu dalam kesendiriannya.

Taeyeon menghela napas, bersandar pada pegangan besi yang dingin. Dia lupa membawa sarung tangan. Walaupun di desa, hal-hal seperti itu tidak terlalu mengganggunya. Namun di kota seperti ini, yang secara harfiah lebih hangat dari pada udara di pegunungan, dia masih saja merasa kedinginan.

Mungkin aku butuh sepasang sarung tangan. Aku akan mencarinya di sekitar sini saja, pasti ada yang jual. Pikirnya.

Tiba-tiba seseorang menghentikan langkahnya, “kau ingin pulang?”

Taeyeon mengamatinya lekat-lekat, siapa gadis itu sebenarnya?

“Aku juga ingin pulang, aku sudah bosan berada di sini.” Katanya enteng sambil mengangkat bahu.

Dalam kegelapan malam, Taeyeon tahu saja bahwa gadis itu memiliki rambut hitam panjang sepinggang, agak keriting dan mata yang jernih. Pipinya merona merah dalam kedinginan seperti buah apel yang bersinar. Wajahnya pasti cantik sekali jika tersenyum.

Dan dugaan Taeyeon memang benar. Cantik bahkan tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana gadis itu saat tersenyum menatapnya. Tahu-tahu Taeyeon sudah berhenti bernapas melihatnya. Kulitnya semulus porselen yang baru diasah, bersinar seperti mutiara yang baru dibelah. Bibirnya semerah delima, dan dunianya mendadak sempurna.

“Kau sendirian?”

Taeyeon akhirnya berhasil kembali menguasai dirinya. “Sayangnya iya.”

“Ah, aku juga sendirian.” Taeyeon melihatnya mengayun-ayunkan tangan kemudian memasukkannya ke dalam saku mantelnya seolah melindungi diri darinya.

“Dan udaranya dingin sekali.”

“Dan aku bersyukur karenanya.” Gadis itu kembali tersenyum padanya, mengeluarkan tangannya untuk menepuk-nepuk pipinya dan kemudian memasukannya kembali ke dalam saku mantelnya.

“Eh? Memangnya kau tidak kedinginan?”

“Dingin membuatku nyaman, jadi tidak masalah.”

Hal itu membuat Taeyeon berpikir bahwa mungkin saja masyarakat kota memiliki kecenderungan pada hawa dingin. Dan Taeyeon tidak mempertanyakan lagi.

Mereka berjalan dalam keheningan malam dan dingin yang menusuk jari-jari kaki. “Aku mencari sebuah toko yang menjual sarung tangan, apakah kau kebetulan tahu di sekitar sini?”

“Kenapa kau membutuhkan sarung tangan? Udaranya kan tidak begitu dingin?”

Baiklah, dia benar. Udaranya mendadak tidak lagi mematikan seperti tadi. Barangkali temperaturnya sudah naik. “Yah, kalau kupikir-pikir lagi bodoh sekali aku berniat membeli sarung tangan tadi.”

Gadis itu tertawa, “kau kelihatannya seperti orang desa, betul kan?”

“Apakah begitu jelas?”

“Tidak-tidak…” Dia melambaikan tangan, “aku hanya terlalu mengenal mereka.”

“Oh, begitu…” Taeyeon bernapas lega, dia tidak ingin mendapat perlakuan berbeda atau lebih parahnya terkucilkan di tempat seluas ini.

“Kurasa kau sedang tidak sibuk malam ini kan?”

“Ya, sangat sedang tidak sibuk.” Taeyeon tersenyum, mulai mengerti arah pembicaraan mereka. “Memangnya kenapa?” Walaupun pada akhirnya dia bertanya.

“Aku sangat ingin makan permen kapas malam ini, jika kau tidak keberatan menemani sih.”

“Kupikir itu ide bagus. Sesuatu yang manis di malam musim dingin tidak akan membunuhmu kan?”

“Bagus, ayo pergi.”

*

Malam itu, pergantian musim dingin menjadi musim semi. Salju setebal lutut perlahan mencair. Dari kejauhan, awan-awan tebal menyingkir ke tempat yang lebih tinggi dari pada gunung. Cengkeraman musim dingin tampaknya melonggar, dan matahari bersandar lebih dekat dengan pegunungan.

Taeyeon pulang ke desa bersama Tiffany—gadis permen kapas, begitu dia menyebutnya. Cuaca luar biasa cerah, dan langit biru cemerlang. Lapisan salju yang keras melunak. Jalan setapak mulai terlihat. Rerumputan mulai muncul dari dalam lumpur dan di atas bukit. Aroma angin berubah—terasa lebih berat, lebih kaya oksigen, bagaikan udara di sekitar panci penggorengan. Musim semi mulai menyambut desa di pegunungan.

Ayah dan Hayeon menyambut mereka begitu hangat, sedangkan Jiwong tampak canggung berdiri di antara mereka. Pria itu akhirnya memutuskan untuk membakar ubi untuk makan siang.

Hayeon yang belum pernah bertemu gadis kota sebelumnya, tampak sangat antusias. Dia begitu gembira atas kunjungan Tiffany bersama kakakknya. Gadis kota ternyata sangat cantik, begitu komentarnya selama sepuluh menit terakhir. Dan pipi Tiffany yang sudah semerah tomat—menjadi semakin merah hingga Taeyeon hampir mengira tomat itu akan membusuk akibat pujian Hayeon.

“Aku akan memasakkan sup kubis dan es miri untuk kita.” Kata Hayeon. Ia ingin membuat sesuatu yang spesial untuk teman barunya ini.

“Apa itu es miri?” Tanya Tiffany dengan alis mengerut, namanya terdengar aneh didengar.

“Itu… eh, es bunga miri.” Hayeon tampak kebingungan sendiri.

“Bunga miri tumbuh di daerah pegunungan saat musim semi datang, rasanya mungkin sedikit pahit tapi benar-benar segar dan menghangatkan.” Terang Taeyeon. Haeyeon merasa sedikit lega karena kakakknya hadir untuk membantu kebodohannya.

“Apa aku boleh membantu? Aku ingin tahu.”

“Tentu saja boleh! Kau bisa membantu mengiris kubis, aku sangat buruk dan irisanku selalu tidak sempurna. Sementara aku meracik bumbu dan kau mungkin bisa mencelupkan bunga miri yang sudah kukeringkan kemarin.”

“Menyenangkan!”

Tiffany meraih pundak Hayeon, mendorong tubuh mungil itu menuju dapur. Mereka tampak seperti teman lama yang kembali bertemu.

“Tunggu! Hayeon…” Taeyeon menginterupsi saat mereka hendak memasuki dapur.

“Ya kak?”

“Kau.. mungkin bisa membuatkan teh mentega.”

“Ewwww…” Tiffany mengernyit. “Apa itu?”

“Teh campur mentega tentu saja.” Jawab Hayeon. “Kau mau?”

“Nggak deh, aku nggak suka teh. Aku juga nggak suka mentega. Apalagi teh mentega.” Jawab Tiffany masih mengernyit.

Taeyeon dan Hayeon tergelak. Tiffany tidak tahu apa yang salah dengan mereka, tapi dia tidak menemukan jawabannya itu lucu atau apa.

“Bukan seperti itu, rasanya memang aneh awalnya dan bakal membuatmu mual. Tapi, teh mentega bisa menenangkan perutmu di ketinggian begini. Jika musim dingin tiba, kami akan meminum teh mentega setiap malam untuk membantu meringankan tekanan akibat suhu udara di pegunungan. Tapi, untuk orang awam yang berkunjung di gunung, sepertinya teh mentega akan sangat membantu.”

“Ya, kakak benar. Apakah kau merasa mual sejak kemari?”

Tiffany berpikir sejenak, ya dia memang merasa mual. Tapi bukan karena ketinggian atau sebagainya, ah, mungkin saja memang benar karena ketinggian. Dia tidak boleh merasa cemas dulu, ketinggian memang sumber utama kemualannya. Bukan hal itu.

“Kuharap es miri dapat membantu rasa mualku.”

Hayeon tersenyum, “baiklah kalau begitu, sepertinya kau harus mengalah kak, karena kita akan minum es miri.”

Taeyeon hanya mengangguk dan berpaling ke ruang tengah bersama ayahnya, “baiklah kalau begitu.”

*

Rumahnya terbuat dari bebatuan gunung: granit dan gamping yang di belah kotak-kotak, sedangkan lantainya terbuat dari marmer yang diasah menggunakan amril. Hal itu membuat rumahnya—dan rumah sebagian penduduk desa tampak putih mengilat terkena cahaya matahari.

Taeyeon duduk bersandar bersama Tiffany di samping tembok batu yang disusun menjulang, semilir angin musim semi menyejukkan. Dari kejauhan, di atas bukit berumput mereka dapat melihat beberapa gadis penggembala bermain dengan kambing-kambingnya. Tiffany begitu takjub melihatnya, seumur hidup, dia baru merasakan keindahan alam semacam ini.

“Kau senang?” Tanya Taeyeon.

“Sangat senang. Terima kasih sudah menawariku dan mengajakku kemari.” Tiffany menggenggam tangan Taeyeon, mengejutkan gadis itu.

“Ya, aku juga senang mengajakmu kemari.” Taeyeon tidak tahu harus berbuat apa. Selama ini dia hanya menganggap Tiffany teman pelipur laranya di kota saja. Tapi, akhir-akhir ini, dia merasa lain. Kedekatan yang mereka lakukan satu sama lain, meningkat secara signifikan. Tiffany mulai berani menggandeng tangannya, memeluknya, mengaitkan lengan dan yang lebih ekstrim; seminggu yang lalu gadis itu mencium pipinya.

Wajahnya semerah kepiting rebus. Udara panas, tapi wajahnya semakin merah saat mengingat hal itu. Di desa, dia tidak akan merasakan hal semacam jantungnya akan berdetak lebih cepat jika berdekatan dengan gadis-gadis tertentu. Terakhir kali dia merasakan seperti ini adalah dengan Ji Hoo, pria desa sebelah yang berprofesi sebagai pedagang yang menjual hasil bumi pedesaan ke kota-kota besar di daerah lembah.

Taeyeon langsung mengenyahkan pikiran itu. Ini gila. Pikirnya. Kita hanya sebatas teman, dan tidak lebih. Bergandengan tangan dan berciuman mungkin hal yang wajar dilakukan sesama teman di kota besar. Aku harus bisa mengikuti gayanya saja.

“Taeyeon…” Tiffany menyandarkan kepala di pundaknya, membuat Taeyeon semakin gugup.

“Hmm…?”

“Apa yang akan kau lakukan jika kau hanya diberi beberapa tahun lagi untuk hidup?”

Taeyeon terperenyak, namun Tiffany terus memandang lurus ke depan. Tampak tidak terusik dengan gerakan spontannya. “A—apa?”

“Jawab saja.”

Taeyeon mulai menggaruk-garuk telinganya, “aku belum pernah memikirkan hal seperti ini sebelumnya. Tapi yah… melakukan apapun yang belum sempat aku lakukan mungkin terdengar lumayan dalam kondisi begitu.”

“Oh…”

“Mengapa kau bertanya seperti itu? Memangnya siapa yang mau mati?”

“Tidak ada, aku hanya sedang berpikir saja.”

Keheningan kembali meliputi mereka, hanyut dalam pikiran masing-masing. Angin siang yang berdesir, alunan suara godam yang terdengar dari pertambangan, serta kambing-kambing milik penggembala yang mengembik bersahut-sahutan melengkapi siang hangat mereka dengan seteko es miri dan ubi bakar manis.

“Taeyeon?”

“Ya? Kuharap kau tidak menanyakan hal-hal aneh lagi.” Taeyeon menoleh padanya, dengan kepala Tiffany yang masih bersandar di pundaknya, jarak merupakan masalah terbesar mereka.

Wajah Tiffany—dengan jurang pemisah yang sangat sempit di antara mereka, tersenyum. “Jika aku menanyakan hal gila padamu, janji kau tidak akan lari dariku?”

“Ya..” Kata Taeyeon menatap Tiffany, mencoba menangkap kata-katanya dari mata gadis itu.

“Ya?”

“Tentu saja, walaupun pertanyaanmu bakal seperti; kapan terakhir kali kau kencing di celana.”

Tiffany tertawa lepas, “kau adalah gadis terlucu dan termanis yang pernah aku temui seumur hidpuku.”

“Eh? Itukah pertanyaanmu?”

“Tayeon… aku tak pernah mengerti kapan kepolosanmu akan berakhir.” Tiffany tersenyum lagi, “ah, tidak.. Aku tidak ingin itu berakhir. Tetaplah seperti ini Taeyeonie..”

Taeyeon merinding saat gadis itu menyentuh dagunya, “yang ingin kutanyakan padamu adalah..”

Dan Taeyeon tidak pernah tahu, bisikan itu akan menjadi bisikan terindah dalam hidupnya.

Aku menyukaimu Taeyeon, ya… Dengan cara seperti yang ada dalam kepalamu. Jadi, apakah kau juga merasakan hal yang sama?

*

Hari yang sibuk, Taeyeon kesulitan membawa perkakas melukisnya. Tangannya sibuk mengangkat kanvas dan kaleng-kaleng cat air secara bersamaan. Hari ini Mr. Lee—seseorang yang menawarinya pekerjaan di kota beberapa bulan lalu absen hadir malam ini karena ada sesuatu yang harus diurusnya pagi-pagi sekali.

Taeyeon berjalan seperti penguin saat memasuki apartemen, namun terhenti di tengah jalan akibat sosok yang mendadak muncul di sampingnya dan langsung menyambar beberapa kantong plastik berisi cat lukis di tangannya.

“Fany—apa yang kau lakukan malam-malam begini di apartemenku?”

“Aku merindukanmu TaeTae, memangnya kau tidak?”

“Aku juga merindukanmu..uh…” Taeyeon semakin kesulitan membawa barang-barangnya.

“Sudah berapa lama kau menungguku?” Taeyeon bertanya saat sudah berhasil memasukkan semua perkakasnya dengan selamat di dalam apartemen dan menguncinya.

“Uh…” Tiffany menatap sekeliling, dia sudah menunggu Taeyeon selama hampir tiga jam dan merasa agak kedinginan. Namun dia sudah tidak punya tempat lagi untuk pergi.

“Baru tiga.. puluh menit yang lalu kok.” Tiffany benci berbohong pada Taeyeon, tapi dia sudah terbiasa melakukannya selama tiga bulan terakhir mereka menjalin hubungan lebih dari biasanya.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sekali. Kau ingin minum teh atau cokelat hangat?”

“Nggak Tae, bisakah kau ambilkan air putih saja?”

“Kau serius baik-baik saja Fany? Akhir-akhir ini wajahmu pucat dan kau suka menghilang di malam-malam tertentu. Mau cerita padaku ada apa sebenarnya?” Taeyeon duduk di samping Tiffany di sofa dan menggenggam tangannya yang sedingin es. Tidak mungkin gadis itu hanya menunggu tiga puluh menit dan tangannya sudah sedingin ini. Taeyeon bersumpah, satu menit saja dia membiarkan Tiffany di luar, bibirnya akan membiru.

“Nggak perlu khawatir Tae, lagi pula aku hanya mampir sebentar karena aku sangat merindukanmu.”

Dear my Fany, tak sehari pun bagiku tanpa merindukanmu. Tapi kau harus istirahat. Kau sendiri kan yang selalu bilang kalau pekerjaanmu begitu menguras tenaga. Kurasa kau harus mencari pekerjaan yang cocok untuk dirimu, yang tidak membuatmu hampir patah tulang begini, dear..”

“Ya, nanti akan kupikirkan. Sekarang lebih baik gunakan mulut kita untuk sesuatu yang lebih berguna, making-out maybe?”

“Apapun yang kau inginkan, Tuan Putri. Saya disini siap melayani and….a.”

Tanpa banyak bicara lagi, Tiffany langsung menghantamkan tubuh mereka. Taeyeon harus menelan kembali ucapannya saat ia merasakan bibirnya dianiaya.

Dengan satu gerakan secepat kilat, tangannya secara naluriah sudah berani menjelajah bagian perut Tiffany. Membelai, mengelus, meremas. Tanpa sadar mereka sudah berada dalam puncak kenikmatan yang tiada tara.

Taeyeon tak pernah tahu dia akan melakukan hal ini, dengan Tiffany. Perempuan yang baru di kenalnya tiga bulan lalu di Banpo Bride: makan permen kapas bersama, pergi ke kampung halaman bersamanya, hingga bermesraan begini. Siapa sangka?

Gadis desa bermain dengan gadis kota mungkin terlihat agak aneh. Mereka masih harus menyesuaikan beberapa hal seperti masalah bahasa dan teknologi yang masih terkendala dari sisi Taeyeon. Dan Tiffany, dia begitu mengaggumi Taeyeon dengan kepolosan dan rasa pesonanya pada alam. Mereka menarik dalam beberapa hal, seperti Taeyeon akan langsung mengerti apa yang diinginkan Tiffany hanya dengan menatapnya saja, namun dia tidak bisa mengungkapkannya. Di situlah Tiffany bergerak sebagai superwoman yang mengestafet perasaan kekasihnya hingga menjadi sesuatu yang nyata dan dapat dirasakan. Tiffany tanpa diminta akan membantu Taeyeon dalam hal apapun termasuk membelikan kuas lukis handmade yang hanya diproduksi di Rusia dengan ukiran yang sangat indah kemudian memberikannya sebagai hadiah ulang tahunnya. Taeyeon pun langsung menobatkan benda itu sebagai kuas paling berharganya dan tidak ingin memakai benda itu selamanya, hanya memajangnya di atas meja lukisnya. Tiffany sudah berulang kali mengatakan pada Taeyeon untuk mencopot benda itu dan memakainya saja karena hal itu tampak sangat bodoh menggantung di atas kepala Taeyeon seperti burung kenari yang hendak menyucuknya. Tapi Taeyeon menolak dan berkata bahwa benda itu akan membawa inspirasi di atas kepalanya. Di desa, semua orang akan menggantungkan benda-benda berharga mereka di atas kepala sebagai wujud syukur dan pembawa keberuntungan.

Taeyeon baru hendak menyusupkan jemarinya secara perlahan-lahan ke dalam celana jeans Tiffany, saat gadis berambut hitam panjang itu mendorongnya kebelakang. Taeyeon merengut, ini sudah kedua kalinya gadis itu menolaknya. Taeyeon merasa tersinggung hingga dia tidak sadar apa yang dia katakan. “Ada apa sih denganku sampai-sampai kau benci begitu?”

“Ngg—aku…” Tiffany mulai tampak gelisah, kemudian matanya berkaca-kaca. Taeyeon langsung merasa bersalah tatkala butiran-butiran kristal lolos dari matanya. Akhirnya Taeyeon pun memeluknya walaupun dia tidak tahu sama sekali mengapa gadis itu menangis.

Rasa bersalah kembali melahapnya bulat-bulat, melihat air mata Tiffany saja sudah berhasil merobek hatinya jadi dua, “maaf, aku tidak bermaksud..”

“Ini bukan salahmu.” Tiffany melepas pelukan mereka dan menatap kekasihnya, Taeyeon dapat melihat banyak sekali emosi terpendam yang belum sempat ditunjukkan kepadanya. “Hanya aku… Aku…”

“Shh…” Taeyeon kembali memeluknya, “aku minta maaf, mungkin kau tidak nyaman karena aku terlalu terburu-buru..”

Tiffany memilih diam, dia tidak ingin berbicara apapun dan membuat malam ini menjadi satu dari sekian malam paling mengerikan—sekaligus menyakitkan dalam hidupnya.

*

Taeyeon.

“Yul! Kita di….?”

“Bar.” Jawabnya singkat seolah kata-kata itu sudah tidak asing di telinganya.

Ingin rasanya Taeyeon mencekik gadis itu, dia tidak pernah berada di café pada malam hari, apalagi bar. Lagi pula, bar adalah tempat terakhir yang ingin Taeyeon kunjungi selama dia jalan-jalan di kota.

“Yul! Kau gila! Aku belum..”

“Nikmati saja malam ini dude, lupakan soal kekasihmu yang susah diajak bersenang-senang itu. Di sini kau dapat menemukan banyak gadis-gadis seksi yang mau menemanimu sampai kau puas.”

“Aku tidak suka wanita..”

“Oh, ya.. kau benar.. kekasihmu bukan ‘wanita’.”

“Mak—maksudku, aku tidak suka semua gadis.. Hanya Tiffany…”

“Tidak ada salahnya mencoba dude, jika kau menemukan gadis yang lebih seksi dari Tiffany-mu itu, atau jika kau bosan, kau boleh pulang.”

Taeyeon memandang berkeliling, bau alkohol dan asap rokok mendominasi sebagian besar ruangan utama bar tersebut.

“Jadi kau menghabiskan setiap malam minggumu di tempat seperti ini?” Taeyeon menggeleng, dia tidak menyangka seorang teman yang dikira ‘baik-baik’ saja seperti Yuri bisa seliar ini juga.

“Yah, bersenang-senang. Apa salahnya? Aku tahu beberapa gadis-gadis cantik disini tapi aku hanya akan bersenang-senang dengan satu orang, lainnya kuserahkan padamu.” Kemudian dia mengerling dan hilang dari pandangan Taeyeon yang kebingungan harus berbuat apa.

Taeyeon ingin sekali menghubungi Tiffany dan pergi dari tempat ini. Mungkin mereka akan bisa menghabiskan malam mereka di taman bermain, makan permen kapas bersama-sama, berjalan-jalan sambil bergandengan tangan di sepanjang Banpo Bridge bukan malah bermabuk-mabuk ria di bar bersama gadis yang dia sendiri tidak mengenalnya.

Taeyeon menghela napas dalam-dalam, kebingungan. Lagi pula, jika dia menghubungi Tiffany pun, dia tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Hi, Tiffany? Apa kau sedang sibuk? Tidak? Bagus. Kalau begitu, bisakah kau menjemputku sekarang? Aku sedang terjebak di bar nih. Yul iseng-iseng membawaku kemari untuk bersenang-senang dan menggoda beberapa wanita. Namun kau tenang saja, tak satu pun diantara mereka yang secantik dirimu. Sungguh, aku hanya bersenang-senang sebentar. Jadi, bisakah kau menjemputku?

Tidak, tidak, itu bukan ide yang bagus. Tiffany mungkin saja tidak akan pernah mau bertemu lagi dengannya, apalagi menjemputnya. Akhirnya Taeyeon memutuskan untuk berjalan lebih dalam dari ruang utama dan jika dia beruntung menemukan Yul, dia akan menjewer kupingnya dan menyeretnya pulang.

Untuk sementara, Taeyeon menyandarkan punggunggya di pilar paling ujung. Punggungnya berdentum seiringan dengan suara bas. Memejamkan mata membuatnya merasa tenang, fokus pada pelipisnya yang berdenyut-denyut. Taeyeon sudah terbiasa dengan kebisingan tambang, tapi kebisingan di bar ini lain, dentuman suara godam akan menenangkannya, namun dentuman suara musik ini hampir membuat telinganya jebol.

“Maaf nona, ada yang bisa saya bantu?” Taeyeon mendengar suara gadis yang membuat tengkuknya merinding. Mengira hal itu hanya imajinasinya saja, jadi Taeyeon tidak menggubrisnya lebih lanjut.

“Kau baik-baik saja nona?”

Taeyeon langsung membuka mata saat merasakan seseorang menepuk pundaknya. “E—eh, ya?”

“kelihatannya sedang stress nona, kau memilih tempat yang tepat untuk bersenang-senang.”

“Eh, aku tidak bermaksud—“

Taeyeon kehabisan akal, wanita di depannya ini to the point sekali.

“Kau ingin wanita, atau pria? Kuharap wanita karena kami tidak menyediakan stok pria.”

Taeyeon hampir saja tersedak, untung dia sempat menyumpal mulutnya.

“Ak—aku, memangnya ada yang seperti itu?”

Wanita di depannya tertawa. “Jika boleh kutebak dari aksenmu, kau pasti orang gunung. Apa yang membuatmu tersesat di sini nona? Ini bukan tempat yang baik untuk bermain. Hmm… mungkinkah kau penasaran seperti apa kota itu, nona? Baiklah kalau begitu, selamat datang di hutan kami.” Wanita itu berkata seraya memainkan kerah kemeja Taeyeon, dia mulai merasa tidak nyaman.

“Uh.. Maaf, bisakah kau lepaskan kerahku?”

“Hm… kau manis juga, nona…”

“Ya, terima kasih atas pujiannya dan sekarang jika kau tidak keberatan, aku mau mencari temanku dulu.”

“Tapi aku keberatan, lagi pula temanmu pasti sudah bersenang-senang sekarang. Aku akan mengenalkan padamu beberapa gadis yang barang kali cocok dengan kriteriamu. Aku, walaupun tidak terlibat secara langsung, tapi aku dapat mencium gaydar-mu dari jarak jauh.” Wanita itu menyeringai angkuh lalu menyerahkan pada Taeyeon sebuah amplop.

Namun Taeyeon tetap berusaha menolaknya. “Maaf, tapi aku harus benar-benar pergi sekarang.”

Tanpa aba-aba, wanita itu menjatuhkan beberapa foto dari amplop tersebut di depan Taeyeon. Awalnya, Taeyaon tidak tertarik dan hendak berlalu meninggalkannya saat matanya menangkap gambar yang begitu familiar dengannya.

Tif—fany?

Taeyeon langsung menyambar gambar itu dan memelototinya. Benar, itu memang Tiffany, tapi apa yang wanita jalang ini lakukan dengan foto kekasihnya?

Wanita pendek itu sedikit berjinjit untuk melihat foto siapa yang menjadi pilihan calon pelanggannya.

“Tiffany, huh?”

Taeyeon balik memelototinya. Wanita itu sepertinya tahu persis siapa nama kekasihnya.

“Kusarankan kau untuk tidak memilih gadis itu, dia terlalu arogan. Tapi jika kau tipikal petualang, mungkin dia adalah pilihan yang tepat. Dan jika kau berniat memilihnya, kau beruntung karena kebetulan dia sedang hadir malam ini.”

“Apa maksud—?”

Wanita itu celingukan lalu menunjuk ke sudut ruangan, dimana seorang gadis berpakaian gaun merah berpotongan belahan dada rendah selutut sedang sibuk berbicara dengan seorang pria yang sepertinya beberapa tahun lebih tua. Taeyeon tidak melewatkan dimana pria itu meletakkan tangan kirinya atau bagaimana gadis itu tampak bergelayut manja dibawah sentuhannya.

“Tapi kayaknya dia agak sibuk malam ini, jika kau tidak keberatan menunggu—aku bisa…..”

Tanpa menunggu wanita itu melanjutkan kata-katanya, dengan murka Taeyeon langsung menghampiri dua orang yang tengah sibuk bermesraan itu. Taeyeon sempat menangkap beberapa kata-kata yang diucapkan si pria, seperti: kau sexy malam ini, aku berani membayar mahal jika kau mau bersenang-senang semalaman denganku. Dan kemudian pria itu menyentuh pahanya, Taeyeon bahkan heran mengapa gadis itu tidak menolak.

“Aku akan membayarmu dengan hidupku jika kau mau memindahkan tangan jahanammu itu.” Suara Taeyeon mengaggetkan kedua orang yang tengah sibuk di depannya. Tapi Taeyeon tidak peduli, dia sudah terlalu sakit hati untuk dapat berpikir jernih.

Si gadis menjatuhkan gelasnya dengan suara pecahan yang menggema di seluruh ruangan dan musik pun terhenti. “T—ta—tae…. yeon?”

“Ya ini aku, apa kabar? Senang sekali bisa bertemu denganmu di sini. Agaknya kau sedikit sibuk, maaf menganggu.”

“Ini—bukan seperti yang kau lihat, aku sama sekali tidak…”

“Ya, ini memang sama sekali bukan seperti yang aku lihat. Mungkin jika orang lain yang melihatnya akan berbeda. Barang kali mereka bakal menilai kalian sangat mesra sedangkan menurutku kalian sangat menjijikkan.”

Pria itu hendak memukul Taeyeon, saat si gadis menghentikan bogemnya. “Oppa, jangan.”

Taeyeon menyeringai, “Oppa huh?” Kemudian dia tertawa. “Aku memang sangat bodoh..” gumamnya lebih pada dirinya sendiri.

“Tae—dengar…”

“Maaf sudah mengganggu malam indahmu Tiffany, lebih baik aku pergi saja.” Taeyeon langsung berlari menembus kerumunan orang, rasanya sakit sekali. Dia tidak pernah merasakan sakit hati yang sesakit ini. Tapi, Tiffany tidak hanya membuatnya merasa sakit, tapi juga menghancurkan hatinya, perasaannya, bahkan dirinya.

Gadis yang selama ini dia cintai, dia percaya dengan seluruh hidupnya, ternyata menghancurkannya hanya dalam hitungan detik. Taeyeon mulai menyesali semua kenangan yang berputar di otaknya. ‘Jadi, inikah alasanmu mengapa kau tidak pernah mau kusentuh Tiffany, huh? Kau lebih suka di sentuh om-om ternyata… yang berani membayarmu mahal, huh? Aku tidak membayarmu mahal…’

“Taeyeon… kumohon…” Tiffany menarik pergelangan tangannya, tapi Taeyeon berusaha untuk melepaskannya.

“Tae…” Gadis itu beralih memeluknya dari belakang dan Taeyeon tidak menolak. Dia memilih untuk melepaskan air matanya. Rasanya sangat sakit, pelukan itu terasa kosong. Tidak hangat seperti biasanya, dan Taeyeon langsung ketakutan. Bagaimana jika semua ini bukan mimpi? Bagaimana jika aku bangun nanti, kenyataan bahwa Tiffany tidur dengan pria itu menghantamku begitu keras? Bagaimana jika aku hanya meyakinkan diriku sendiri? Bagaimana…. jika aku….. tidak bisa menerima kenyataan dan…. dan… mungkin mimpi yang terasa begitu nyata…

“Taeyeon… aku bisa menjelaskan semuanya padamu, tapi kau harus mendengarkannya terlebih dulu… kumohon…”

Saat Taeyeon tidak melanjutkan, Tiffany kembali berbicara. “Aku sudah melakukan hal ini jauh sebelum aku bertemu denganmu. Aku butuh uang, ya.. aku memang bekerja, tapi.. itu belum cukup.. untuk… untuk… obat dan lainnya.”

Taeyeon mengerutkan kening, ‘dia memakai obat-obatan terlarang?’

“Belum lagi—“ Tiffany menggigit bibirnya, “pokoknya aku butuh uang untuk melanjutkan hidupku. Dan saat aku bertemu denganmu, aku tidak lagi melakukannya selama beberpa saat.” Taeyeon mulai merileks dalam pelukan Tiffany. “Tapi, aku—a aku kembali.. bukan karena aku menyukainya atau karena aku tidak bisa hidup tanpa melakukannya, tapi…”

Taeyeon mengerang dan berusaha melepaskan diri, namun Tiffany memeluknya lebih erat. “Tapi, aku membutuhkannya Taeyeon.. aku butuh uang.”

“Kau memakai obat-obatan!” Teriaknya.

“Ya, aku memakai obat! Jika aku tidak memakainya, mungkin aku sudah mati sekarang!” Balas Tiffany dengan suara yang tak kalah keras.

“Apa mak—s?”

“Aku lemah, aku… aku sakit..” Katanya dengan suara sangat kecil.

“Ap—OD?”

Tiffany menggeleng, “Bukan..” Dia berusaha untuk tetap tenang.

“Lalu?” Taeyeon berbalik, menangkup wajahnya. Saat Taeyeon menatap matanya, Taeyeon melihat kesedihan terpancar di dalamnya, kesedihan yang sama setiap kali mata mereka bertemu dengan malu-malu. Seketika, Taeyeon langsung melupakan amarahnya, “katakan padaku…” dia mulai menciumi gadis itu, bersyukur malam ini tidak banyak orang yang lalu-lalang di sepanjang jalanan.

Tiffany menatapnya, ingin rasanya dia meneriakkan kata-kata itu. Namun, seiring dengan hembusan angin dan kebaikan Taeyeon untuk mendengarnya malam ini, tenggorokannya semakin tercekat dan dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan. Jadi Tiffany memilih untuk diam, menghindari kontak mata dengan Taeyeon dan memainkan jari-jarinya.

“Hey, Fany…” Taeyeon mengangkat dagu Tiffany dengan telunjuknya. “lepaskan semua beban dalam pundakmu, aku sangat siap untuk berbagi separuhnya denganmu.”

“Aku.. tidak yakin aku siap mengatakannya padamu..” Tiffany menghela napas dan memeluk Taeyeon, menyandarkan kepala di pundaknya. “Sejujurnya, aku tidak yakin aku siap mengatakannya pada siapapun…”

Take your time, baby..

*

Tiffany.

Taeyeon tidak tahu, tapi Tiffany begitu menyukainya ketika Taeyeon memanggilnya baby. Tiffany suka saat Taeyeon mengatakannya, suaranya lembut dan beraksen kental.

Saat Taeyeon mengelus pundaknya, Tiffany tahu bahwa dirinya sudah mencair oleh sentuhan kekasihnya. Pelukan mereka semakin erat dan Tiffany tidak yakin sampai kapan mereka mampu bertahan seperti ini, setelah semua yang terjadi dan Taeyeon masih bersikap sedemikian baik terhadapnya.

Tiffany  meletakkan kepala di bahu Taeyeon, meringkuk semakin dalam, menghirup aroma keibuan dalam tubuh kekasihnya. Mengecup lehernya beberapa kali hingga dia merasa tenang. Tak pernah ia merasa sedamai ini dalam hidupnya. Taeyeon membuatnya merasakan hal-hal yang tak pernah dia pikirkan sebelumnya. “Please don’t go baby…” Bisiknya.

Never…” Taeyeon mengecup puncak kepalanya dan Tiffany merasakan air matanya hampir pecah. Dia teringat akan banyak hal yang terjadi dalam hidupnya dua tahun belakangan. Dari gadis yang hampir putus asa hingga sekarang, dia merasa harus bertahan hidup demi seseorang. Dua tahun sebelumnya, dia bahkan berpikir bahwa dia akan mati membusuk di dalam rumahnya dan tidak ada satu orang pun yang tahu, dan dia tidak pernah mempermasalahkan hal itu. Tapi kini, dia tidak tahu lagi apa yang harus dia lakukan jika dia harus pergi, meninggalkan orang yang begitu mencintainya, meninggalkan hatinya, meninggalkan Taeyeonnya.

Tapi bagaimana jika aku yang harus pergi? Meninggalkanmu?

Tiffany tidak ingin Taeyeon membencinya. Dia tidak ingin Taeyeon berjanji padanya untuk tidak meninggalkannya tapi pada kenyataannya dia yang harus pergi duluan. Setidaknya dia harus memberitahunya, kalau-kalau kelak dia tidak bisa mengatakan selamat tinggal.

“Kanker…” Kata Tiffany, dia tidak ingin ada kesalahpahaman lagi di antara mereka.

“Apa?” Taeyeon melepaskan pelukan mereka dan menatap Tiffany lekat-lekat. “Kau bilang apa tadi?”

“Aku tidak tahu apakah kau benar-benar tidak mendengarku ataukah kau hanya terkejut saja. Yah, kanker.” Tiffany menghirup napas dalam-dalam, “aku mengidap kanker serviks dua tahun belakangan. Aku tidak punya alasan untuk bertahan hidup lagi, tapi aku berubah pikiran saat bertemu denganmu.”

Genggaman Taeyeon padanya perlahan mengendur, Tiffany mulai ketakutan. Bagaimana jika Taeyeon membencinya? Bagaimana jika Taeyeon tidak lagi ingin bertemu dengannya? Bagaimana jika dia kembali dalam kesendirian? Bagaimana jika dia benar-benar akan mati membusuk di kamarnya? Sendiri? Semua pikiran itu hampir membunuhnya, saat tiba-tiba Taeyeon berdiri, kemudian gadis itu berlari, pergi, meninggalkannya di sudut lorong dalam gelap. Yah, dia sendiri, lagi.

*

Tiffany.

Malam itu, musim dingin datang lebih awal. Salju yang turun menahan datangnya pagi, tetapi kemudian, sinar pagi keabuan nan kabur akhirnya berhasil menghalau kelamnya malam beberapa jam setelah subuh. Pemandangan dari jendela memperlihatkan dunia yang terkepung badai salju, dengan kepingan-kepingan salju setebal percikan bau api unggun. Itu sudah lebih dari cukup untuk mengubah pendirian—dan Tiffany merasa tidak ada gunanya lagi untuk bertahan.

Satu musim sudah ia lalui dengan kesendirian. Semenjak malam itu di bar, dia tidak pernah lagi bertemu dengan Taeyeon. Dia merasa semua pikirannya benar, bahwa seharusnya dia tidak terlalu jauh mencintai Taeyeon. Bahwa tidak seharusnya dia tidak terlalu menginginkan gadis itu terus berada di sampingnya, dan memeluknya hingga masanya berakhir. Ah, lama sendiri membuat Tiffany rindu apa itu cinta? Bagaimana rasanya jatuh cinta? Dan Taeyeon—dengan keluguannya, tanpa sadar membawa perasaan itu hadir kembali dalam hidupnya.

Apa itu cinta?

Dia kembali bertanya. Setiap malam terasa bagaikan tak berujung. Dia sudah terbiasa bangun dan memikirkan bahwa seseorang tengah menunggunya, mengucapkan ‘selamat pagi, matahariku’  kepadanya. Tiffany merasa hidup setelah sekian lama mati.

Dan kini, dia dipaksa untuk kembali bunuh diri saat ia sudah begitu ingin hidup, mencinta dan memiliki segalanya. Banyak hal yang dulu pernah menjadi impiannya. Dia tidak menyalahkan Taeyeon, sama sekali tidak. Dia hanya berharap Taeyeon akan tinggal lebih lama dari seharusnya, maka dia juga akan berjuang lebih lama lagi.

Sekarang, tidak ada lagi alasan baginya untuk bertahan hidup. Semuanya sudah pergi. Mungkin, dia akan mati bersama rasa yang telah Taeyeon tinggalkan padanya. Setidaknya itu akan jauh lebih baik dari pada mati tanpa rasa. Akan ada yang membuat senyum di bibirnya, nanti.

Jika dibilang Tiffany menyesal, tidak juga. Dia sudah belajar untuk mengenang masa-masa di mana Taeyeon akan membawanya berkeliling desa tiap pergantian musim. Menikmati gunung dan perbukitan, menggembala kambing dan memakan makanan khas tiap musim yang berbeda.

Dari semua itu, Tiffany tidak dapat melupakan saat Taeyeon mengajarinya bernyanyi menggunakan bahasa Tambang kala pergantian musim gugur, di mulut gua sambil melihat daun kuning berguguran dan tangan yang terus menggenggam batu, mengetukkan jarinya hingga terdengar alunan melodi dari bebatuan yang mengalir dari stalaktit dan stalagmitnya.

Tiffany masih berusaha mengingat bahasa Tambang yang Taeyeon ajarkan padaya. Bersenandung bersamaan dengan jemarinya yang mengetuk-ngetuk besi pinggiran tempat tidur.

Tiffany mendengar ketukan dari arah pintu, namun mengabaikannya. Berpikir bahwa itu hanyalah imajinasinya yang terlalu bersemangat saja. Namun, saat ketukan itu berubah semakin nyata, Tiffany jadi mengerutkan keningnya.

Barang kali tetangga sebelah. Pikirnya. Jemarinya masih terus mengetuk-ngetuk sisi tempat tidur dan pikirannya bermain-main pada saat dimana dia dan Taeyeon bersenandung bersama-sama. Tiba-tiba saja sebuah suara ikut bersenandung bersamanya, melantunkan melodi yang sama seperti ketika ia dan Taeyeon di mulut gua sore itu.

Awalnya, suara itu seperti menirukannya namun lama-lama ketukan itu mulai berimprovisasi, bersahut-sahutan seperti nyanyian Tambang sesungguhnya. Tiffany kemudian berhenti, namun senandung itu masih terdengar konsisten di telinganya. Tiffany yakin sekali dia sudah berhenti, tangannya bahkan tidak lagi menyentuh besi penyangga tempat tidur. Namun suara itu masih ada, dan Tiffany tidak yakin bahwa tetangga sebelahnya bisa berbahasa Tambang. Taeyeon sendiri yang menjelaskan bahwa bahasa Tambang hanya dapat digunakan oleh orang pertambangan saja.

Yang membuat Tiffany begitu ketakutan adalah, fakta bahwa seseorang yang menyenandungkan bahasa Tambang itu begitu Tambang. Seperti orang pegunungan sendiri, seperti Taeyeon!

Tiffany kontan berlari cepat-cepat menuju pintu apartemennya dan mengintip melalui pipa kecil yang terhubung dengan pintu. Tampaklah sesosok figur kecil dengan tubuh meringkuk di karpet. Dia menopang dagu dengan lututnya sambil bersenandung dan mengetuk-ngetuk pot bunga caladium merah muda milik Tiffany.

Ingin rasanya Tiffany menangis lalu berlari memeluknya, menghirup aroma keibuan dalam tubuhnya. Hanya memikirkan menangis dalam pelukannya saja sudah membuat perut Tiffany geli.

Taeyeon. Taeyeon. Taeyeon. Aku merindukanmu.

Dia sungguh ingin berteriak. ‘Kemana saja kau!’’. Tapi tidak, Tiffany tidak akan melakukannya, dia takut kalau-kalau nanti Taeyeon kembali merasa takut padanya. Dia monster. Ya, monster yang membuat orang yang mencintainya kabur ketakutan.

Dia tidak ingin Taeyeon lari lagi. Tiffany ingin memeluknya, merengkuhnya dan tidak melepasnya pergi untuk kedua kalinya. Tapi dia tidak yakin.

Jadi selama satu setengah jam, Tiffany berdiri di balik pintu. Tidak yakin dengan apa yang tengah ia lakukan. Kenapa dia tidak membuka pintu, dan memeluk tubuh mungil itu?

“Fany….” Suara itu, Tiffany mendengarnya. Suara yang selalu ia rindukan setiap malam. “Aku tahu kau di dalam, aku dapat mendengar suara napasmu dari sini.” Suaranya terdengar berat, dan serak, seperti tengah menahan tangis yang sudah sekian lama ia pendam. “Aku mengerti jika kau masih marah padaku, aku minta maaf, aku terlalu pengecut untuk tidak menemuimu selama tiga bulan terakhir.” Tiffany mendengar Taeyeon menghela napas. “Aku terlalu terkejut untuk bertemu denganmu saat itu. Fakta bahwa kau mengabaikanku malam itu, dan di bar aku mendapatimu merayu pria, dia meletakan tangannya di pahamu kemudian kau mengatakan bahwa kau mengidap kanker serviks selama dua tahun. Aku tidak bisa bilang bahwa kenyataan itu tidak memukulku.”

Tiffany mengusap air matanya, menunggu kata-kata selanjutnya dari Taeyeon. “Aku—aku tidak cukup baik buatmu. Yah, aku seharusnya ada dan—kau tidak harus menanggung beban seperti itu sendirian. Kau membuatku merasakan banyak hal sebelumnya, Fany. Aku tidak pernah berpikir bahwa aku akan jatuh hati pada gadis kota, lupakan kenyataan bahwa aku ternyata jatuh cinta pada seorang gadis.” Tiffany akhirnya terisak dan Taeyeon berhenti lagi, “kumohon jangan menangis. Aku paham jika kau tidak ingin bertemu denganku lagi. Rasanya pasti menyakitkan ditinggal kekasihmu lari dan kau harus menanggung beban seberat itu sendirian. Aku—aku ingin membantumu Tiffany, berbagi beban denganmu. Tapi aku butuh waktu untuk semua itu, jadi aku—aku bekerja lebih keras di desa.. Melukis pemandangan sebanyak yang aku bisa.. Walapun akhirnya aku menyisakan satu lukisan untuk dikenang. Saat di mana aku dan kau bersenandung bahasa Tambang di bibir gua, kau tahu.. seseorang menawar dengan harga yang sangat tinggi—aku pun menjualnya—itu cukup Fany, cukup untuk pengobatanmu selama setahun hingga sembuh. Aku juga sudah mempelajari tentang—…” Taeyeon berhenti lagi, “uang yang aku kumpulkan bahkan cukup untuk pengobatan ke luar negeri, aku mendengar Singapore adalah negara cocok untuk jenis penyakitmu ini.”

“Tae…” Tiffany mendesis, masih belum ingin memunculkan diri di hadapan Taeyeon.

“Aku sudah mengurus segalanya, Fany… Kuharap kau baik-baik saja. Jika kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku, tidak masalah. Aku akan meminta bantuan Yuri untuk mengurus segalanya dan kau bisa memulai pengobatanmu secepatnya. Oh, dan kuharap kau tidak kembali ke tempat terkutuk itu lagi untuk membeli obat. Arasso?” Taeyeon tertawa kecil. “Baiklah, mungkin ini saatnya aku pergi, jaga dirimu baik-baik… I do love you, my baby Fany..”

Saat Tiffany mendengar langkah Taeyeon yang semakin menjauh dari pintu. Itulah saatnya bagi dirinya untuk bangkit dan mengejar cintanya. “Taeyeon! Berani sekali kau!” Katanya masih terisak. “Berani sekali kau pergi, setelah meninggalkanku dan sekarang kau mau pergi lagi! Di mana kau letakkan otakmu hah?!”

Taeyeon berdiri ternganga di depan pintu, tidak tahu harus berbicara apa lalu Tiffany melanjutkan, masih dengan wajah berlinang air mata. “Kau! Pergi begitu saja, lalu datang menjelaskan dan kau pikir segampang itu aku akan membiarkanmu pergi lagi?!”

Tiffany menunjuk Taeyeon yang berdiri terpaku. Kemudian mengangkat tangannya, “kau pantas mendapatkan ini..”

Taeyeon menutup mata, bersiap menerima tamparan dari Tiffany. Ya, dia pantas mendapatkan itu. Setelah apa yang dia lakukan tiga bulan belakangan, meninggalkan Tiffany tanpa kata-kata.

Tapi setelah satu menit penuh dia menunggu, rasa sakit itu takkunjung datang. Taeyeon memberanikan diri untuk membuka mata. Namun, apa yang dia lihat sungguh diluar dugaan. Tiffany menatapnya dengan penuh rasa cinta, namun satu tangan yang masih melayang tidak jauh dari pipinya masih membuatnya was-was. Beberapa detik kemudian dia hampir saja terjungkal karena terkejut karena, alih-alih menamparnya, Tiffany justru menciumnya. Taeyeon hanya berdiri terpaku seperti tembok, tidak merespon karena terlalu terkejut. Dia tidak tahu harus berbuat apa.

Tiffany melepaskan ciumannya, wajahnya yang cemberut menatap Taeyeon agak menyesal. “Kau masih takut denganku? Atau kau jijik padaku?”

Hal itu langsung mengembalikan kesadaran Taeyeon sepenuhnya, “apa maksudmu? Tentu saja tidak! Aku hanya terlalu meluap-luap dan—maaf,” Taeyeon menciumnya kembali, dan untungnya Tiffany merespon. “Jadi, kau tidak marah denganku?”

“Aku tidak marah dengan alasan kenapa kau pergi Taeyeon, tapi aku takut jika kau pergi lagi.” Dan itu adalah jawaban paling jujur yang pernah dilontarkan Tiffany.

“Jadi, kau tidak marah padaku?”

“Jika kau berjanji tidak akan pergi lagi dariku…”

“Janji…” Taeyeon bergumam di antara mulut mereka yang tengah beradu. “Forever and always..

*

5 tahun kemudian…

Kehidupan memiliki banyak tepi yang kasar: tepi yang membawa kita mendekat seperti tebing di atas ngarai yang menarik, tepi yang mendorong kita menjauhi tutup bergerigi dari kaleng logam yang terbuka. Ada ketegangan antara keinginan untuk melihat tepi itu, merasakannya, merabakan tangan kita di atasnya, dan hasrat untuk menarik diri ke tempat yang aman dan nyaman. Kita bisa ragu-ragu dan tidak punya keyakinan. Kita bisa duduk dan merenungkan tentang tindakan kita berikutnya. Kita bisa melengos dari sisi itu dan bertindak seakan-akan sisi itu tidak ada. Namun, kita hanya bisa begini sebentar saja; pada akhirnya kita tetap harus memilih.—Firebelly hal:35

Jika kau di tempatkan dalam suatu situasi dimana kau harus memilih untuk tetap bertahan dan menyerah, manakah yang akan engkau pilih?

Sebagian besar orang akan memilih bertahan. Tapi tidak, kurasa bertahan bukanlah pilihan yang bagus bilamana kau tahu apa kau pertahankan hanyalah udara yang takkan pernah bisa kau gapai.

Bertahan menurutku seperti penantian tanpa henti. Bertahan pada situasi yang salah, semisal. Kau tahu bahwa situasi itu sudah salah dan kau masih tetap ingin bertahan demi sesuatu yang sia-sia. Itu tidak akan pernah ada gunanya.

Jika kau berharap akan bertemu katak dan menciumnya, dia akan berubah menjadi pangeran dan jika kau mencium kodok, kau akan kutilan.

Hati-hatilah dengan apa yang kau harapkan. Karena terlalu berharap, terutama berharap akan hal-hal yang kemungkinan tidak akan terjadi bisa berbahaya. Berharap adalah keputusan yang kita buat untuk diri kita sendiri; tak seorang pun bisa mengabulkannya. Kalau kau menghabiskan terlalu banyak waktu dengan berharap tanpa sebab, mungkin akhirnya kau akan tergelincir ke dalam ketiadaan harapan, ke dalam kehampaan.

Kadang, kehidupan kita dibelokkan oleh sesuatu yang begitu sederhana dan tidak penting seperti permen kapas. Aku tak pernah berpikir akan mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidupku. Memilih untuk mencintai, itu adalah pilihanku. Walaupun aku sudah tahu bahwa setelahnya hidupku akan berbanding terbalik, tapi aku tetap memilihnya.

Kita tetap harus memilih bukan? Aku bisa saja duduk diam dalam gubukku dan melukis setiap waktu. Aku bisa saja terus menggerakkan kanvasku seirama dengan gambaran yang terpotret dalam kepalaku. Tapi, aku memilih untuk melepaskan semua itu dan berkelut mondar-mandir di IGD. Berkenalan dengan dokter adalah impian terakhir dalam hidupku.

Aku membuat keputusan yang benar, memasrahkan diriku pada sang pencipta. Aku hanyalah titik kecil di samudera luas, tapi aku akan mendapatkan apa yang aku inginkan. Aku bisa saja memilih untuk kembali melukis, namun setelah semua yang terjadi, rasanya tak pernah sama. Takkan pernah sama.

“Aku sudah menepati janjiku… Aku tidak meninggalkamu Fany..”

Dengan satu helaan napas, Taeyeon menutup buku diarinya. “Bagaimana menurutmu Fany? Kau suka??” Gadis itu tersenyum, menatap kekasihnya yang terbaring dengan damai di bawah gundukan tanah merah. Sekonyol-konyolnya, dia tampak seperti berbicara dan tersenyum dengan batu nisan.

Taeyeon menutup mata, membayangkan Tiffany sedang tersenyum ke arahnya, memeluknya dan memberinya kecupan terima kasih. Bahwa dia sangat menyukainya, dan ingin mendengarnya kembali.

“Akan kubuatkan lagi kapan-kapan. Kau tahu, menulis hal-hal semacam ini sungguh memalukan apalagi ketika kau harus membacanya berulang-ulang untuk memastikan kau tidak terlalu banyak menuliskan hal-hal gila.”

Setelah satu setengah jam penuh berjongkok dan membaca, Taeyeon akhirnya berdiri. Dengan satu tangannya membersihkan sisa-sisa debu di celana jeansnya. “Aku harus pergi, ada banyak klien yang harus kutemui sore ini. Bagaimana? Apa kau bangga padaku Fany? Kekasihmu ini akhirnya punya galeri sendiri. Kapan-kapan akan kutunjukkan ‘Tiffany Kim Art Galery’ padamu.” Taeyeon tertawa kecil, berbicara secara virtual dengan Tiffany dalam pikirannya sudah menjadi kegiatan rutinnya selama setahun ini.

Dengan satu senyum simpul, Taeyeon menatap foto kekasihnya yang tengah tersenyum tersandar di batu nisan.

Aku memilihmu Fany, dan itu bukan salahmu jika pada akhirnya kau tidak memilihku.

See you again in Heaven, my Love…

*

Taeyeon suka memerhatikan Tiffany dari jauh, dan ia menganggap gadis itu sangat cantik walau dilihat dari sudut manapun. Gadis itu mengenakan gaun tunik berwarna merah-muda pastel yang sangat disukai Taeyeon. Dengan rambut yang dibiarkan separuh tergerai dan sisanya digelung kebelakang, bergoyang bersama angin.

Taeyeon berdiri diam di balik pohon palem, matanya terkunci pada sosok yang tengah duduk sendiri di pinggir pantai. Mereka memang memiliki janji temu lima belas menit yang lalu. Tapi Taeyeon takkunjung menampakkan dirinya, dia suka sekali mengamati Tiffany. Menurutnya, Tiffany adalah pemandangan yang lebih indah dari pada pegunungan dengan kambing yang mengembik atau langit biru yang dihiasi oleh sinar mentari lengkap dengan kepakan gagah sayap-sayap burung gunung yang pernah ia lukis. Tiffany adalah sebuah objek yang tidak dapat menghapus senyum dari wajahnya, membayangkan betapa lembut bibirnya. Kesabaran Tiffany menghadapi gadis polos berkepala batu seperti dirinya perlu diacungi jempol.

Dengan perlahan, Taeyeon melangkah mendekati gadis itu. Dia ingin membuat kejutan, mengecupnya dan memeluknya dari belakang. Hanya dengan membayangkannya saja cukup membuat Taeyeon merinding. Hanya Tiffany yang dapat menghadirkan sensasi sedemikian hidup padanya.

“Aku masih tidak mengerti mengapa banyak orang menganggap warna merah dan hitam itu seksi.” Taeyeon memeluk gadis itu dari belakang. Untuk sepersekian detik Taeyeon cukup heran mengapa Tiffany sama sekali tidak tampak terkejut.

“Em, kurasa merah dan hitam memang mengandung aura sensual tersendiri.” Kata Tiffany, terus menatap lautan yang membentang luas di hadapannya.

“Menurutku biru lebih seksi dari pada warna manapun.”

Tiffany akhirnya menatap gadis yang tengah menyandarkan kepala di bahunya dengan mata terpejam. “Kok bisa?”

“Yeah, biru membuat otakmu terlihat lebih seksi.”

“Dan pink membuat hatimu terasa lebih seksi.”

“Kurasa perpaduan biru langit dan pink akan sangat serasi.”

“Hm…”

Mereka terdiam cukup lama, menikmati angin yang membelai tubuh keduanya. Masih dengan posisi sama, Tiffany menyentuh sisi wajah Taeyeon dan dia sangat menikmatinya.

Taeyeon sudah lama merindukan sentuhan Tiffany, begitu lembut dan mencandukan. “Nggh.. Kenapa berhenti?” Gumamnya saat tak lagi merasakan belaian kekasihnya.

“Kita harus makan, sayang. Aku tidak mau menyia-nyiakan kerja keras kekasihku menata meja dan menyalakan lilin selama dua jam penuh dan berakhir sia-sia.” Tiffany tertawa saat bayangan Taeyeon menggunakan kedua tangannya untuk menghalau angin dari nyala lilinnya.

Hal itu kontan membuat Taeyeon membuka mata, “dari mana kau tahu? Bukankah kau baru datang?”

“Aku selalu tahu apa yang kekasihku lakukan.”

Taeyeon merasakan hidungnya dimainkan, hal itu membuatnya tersenyum walau dengan mata terpejam. “Aku tidak suka.”

“Huh?”

Taeyeon perlahan membuka mata barulah ia menyadari Tiffany menatapnya dengan berbinar-binar. “Aku tidak suka…”

“Apa yang tidak kau suka?”

“Kau..”

“Aku? Apa yang salah denganku.” Sinar di mata Tiffany mulai meredup, Taeyeon mulai merasa agak bersalah.

“Aku tidak suka fakta bahwa kau tahu apapun yang kulakukan. Aku jadi tidak bisa memberimu surprise.” Kata Taeyeon sambil merengut.

“Aku tidak bisa menghentikannya. Apapun yang kau lakukan, membuatku benar-benar penasaran.” Tiffany berbalik dan mengecup bibir Taeyeon. “Jangan cemberut begitu, kau tidak perlu memberiku surprise, aku mencintaimu dengan atau tidak adanya surprise.”

“Aku kan ingin melakukan hal-hal romantis bersamamu.” Taeyeon memindahkan tangan dari pinggang Tiffany ke pundaknya. “Seperti pasangan-pasangan normal lainnya.”

“Apa kau sadar bahwa kita ini tidak normal?” Tiffany tertawa cekikikan.

“Aku tidak peduli soal itu. Aku mencintaimu, kau mencintaiku, dan kita berdua bahagia. Selesai.” Taeyeon mengecup kembali bibir Tiffany.

“Terkadang aku sangat suka dengan kepolosanmu.”

Taeyeon merasakan pelukan Tiffany mengendur dan kemudian segera mengeratkannya kembali. “Hmm… Tetaplah seperti ini.”

“Sini.. Aku capek, ayo duduk.” Tiffany akhirnya duduk di atas pasir dan melipat kakinya lalu menepuk pahanya, “sini, tidurlah.”

Taeyeon hanya menatap paha Tiffany tidak percaya, “kau ingin aku tidur di pangkuanmu?”

“Bukankah itu lebih baik dari pada tidur di atas pasir?”

“Benar.” Perlahan, Taeyeon mulai berbaring dan meletakkan kepalanya di pangkuan Tiffany.

Tiffany mulai merapikan anak-anak rambut Taeyeon dan meniupkan udara-udara kecil di sekitar wajahnya. Taeyeon mulai merasakan kantuk yang luar biasa. “Bagaimana dengan dinner-nya?”

Tiffany menoleh ke arah meja mereka yang tertata rapi tidak jauh dari bibir pantai. Di dalam sebuah paviliun kecil di samping bar yang sangat sepi—lebih tepatnya tidak ada satu orang pun. “Aku punya ide lain.”

Taeyeon membuka mata dan melihat Tiffany yang tengah tersenyum padanya, “apa?”

“Kau ingat salah saatu film favoritku?” Tiffany menyentuh ujung hidung Taeyeon dengan telunjuknya.

Taeyeon yang mendengar hal itu pun langsung mengerang, film favorit Tiffany adalah hal yang menyeramkan. Lebih seram dari film horor manapun yang pernah ia lihat. Otaknya langsung berpikir tentang Twilight, Disney, Glee dan sebangsanya. Kemudian ia kembali mengerang. “Ugh… kau ingin aku mengingatnya?”

“Ya, aku ingin kau mengingat salah satu adegan dalam film breaking dawn.”

“Kenapa?” Taeyeon bergelayut manja memeluk perut Tiffany.

“Karena aku ingin kau melakukan salah satunya.”

Hal itu lantas membuat Taeyeon membuka mata dan duduk dengan menatap Tiffany dengan tidak percaya. “Kau serius?”

“Sangat serius.”

“Tuhan! Kau tidak menyuruhku bertarung melawan sekawanan manusia serigala, kan? Atau berperang dengan sekumpulan vampir! Oh My God!!” Kemudian otaknya kembali bekerja—mengingat adegan yang sangat memorial di otaknya. “Kau tidak benar-benar memintaku menggendongmu sepanjang jalan dari pantai menuju cottage, kan? Bagaimana kalau kita lewati saja adegan itu dan langsung lanjut ke adegan berikutnya? Aku sangat siap.” Taeyeon memainkan kedua alisnya dengan nakal.

Tiffany tertawa keras kemudian dengan sengaja menjitak kepalanya. “Byuntae!”

“Lalu adegan apa lagi? Aku tidak dapat memikirkan adegan mana pun yang dapat aku lakukan kecuali itu.” Taeyeon senang bukan main, sudah lama dia sangat menantikan Tiffany untuk mengatakan hal seperti ini.

“Serupa tapi tak sama.”

Masih dengan ekspresi yang sama, Taeyeon bertanya. “Apa maksudmu?”

“Kita akan melakukan adegan di situ.”

Taeyeon menatap Tiffany yang tengah menunjuk hamparan air pantai di depannya dengan ternganga. “Kau…” Sesuatu dalam otaknya kembali mengingat sesuatu. “Itu..?”

“Ya. Itu. Yang ada di kepalamu.”

“OMG!” Taeyeon langsung melepas jaketnya. “Ayo!” Dia kemudian berdiri dan menggenggam tangan Tiffany. “Kau perlu melepas pakaianmu agar tidak basah..” Lalu dia mulai menanggalkan pakaiannya satu persatu.

Tiffany tersenyum dan mulai melepas tunik merah mudanya. “Little Byuntae.”

Your Little Byuntae.” Taeyeon menatap Tiffany yang juga mulai menanggalkan pakaiannya, mengaggumi betapa indah lekuk tubuh kekasihnya. “WOW. Aku tidak pernah tahu kau begitu menggoda.”

Wajah Tiffany mulai berubah seperti buah apel ranum. “Byuntae! Berbalik!”

“Baik, yang mulia.” Taeyeon tersenyum dan berbalik. Wajahnya memerah seiring pikirannya yang mulai merajalela. Kemudian ia merasakan kulit yang menyentuh punggungnya, naked. Memeluknya dari belakang. Tidak pernah terpikir olehnya Tiffany akan meminta hal tersebut padanya. Baginya, hanya dapat memiliki Tiffany dan dapat memeluknya saja sudah merupakan hal terindah dalam hidupnya.

“Siap?”

“Selalu.”

Masih dengan gesture yang sama, perlahan-lahan Tiffany menggiring Taeyeon melangkah dari belakang. Taeyeon merasakan seolah kupu-kupu menggelitik perutnya tatkala Tiffany mengeratkan pelukannya. Taeyeon dapat membayangkan lekuk tubuh telanjang Tiffany yang melekat di punggungya. Pikirannya sudah tidak lagi berada di tempat yang sama.

“Simpan senyummu untuk nanti, byuntae.”

Taeyeon merengut saat ia merasakan Tiffany menjitak bagian belakang kepalanya, “darimana kau tahu kalau aku sedang tersenyum?”

“Kau ingin tahu?”

Taeyeon menoleh ke arah Tiffany, “Iya. Bagaimana?” Taeyeon tidak bisa untuk tidak sedikit mengintip ke bawah, berusaha mencari satu saja titik kesenangan yang tengah melekat di tubuhnya.

Tiffany mendapati tatapan Taeyeon lalu mengecup bibirnya sekilas. “Byuntae.. Berbalik…”

Taeyeon merasakan euforia yang luar biasa dahsyat. Perasaannya lantas membuncah seiring pikirannya yang meraja lela. Tiffany mencipratkan sedikit air ke wajahnya saat mereka mulai menyentuh tepi pantai.

“Yah!”

Dan Taeyeon membalasnya dengan lebih banyak air.

Tanpa disadari, tubuh telanjang mereka sudah mulai basah kuyup padahal air baru sampai lutut mereka. Taeyeon yang merasa agak lelah mulai merubuhkan diri ke air dan merasakan ombak kecil menghantam tengkuknya. Matanya terpejam dan bernapas dalam-dalam seolah hendak menyedot energi bulan ke dalam tubuhnya.

Tiffany menghampiri gadis itu dan mulai memainkan rambut cokelatnya. “Kau senang?”

“Tentu saja.” Kata Taeyeon tanpa membuka mata. “Kau adalah orang pertama yang pernah memberiku ide semacam ini, ah!! Kau bahkan orang pertama yang pernah aku cintai sedalam ini.”

Tiffany tersenyum, wajahnya berseri-seri seolah mencerminkan cahaya bulan itu sendiri. “Sayangnya aku tak bisa bersamamu terlalu lama.”

“Huh?” Taeyeon akhirnya membuka mata dan menatap gadis di sampingya itu lekat-lekat. “Apa maksudmu?”

“Memangnya tadi aku bilang apa?”

Taeyeon masih menatapnya tidak percaya, hingga rasa sakit yang sangat familiar kembali memenuhi hatinya. “Kumohon jangan katakan hal itu lagi.”

“Yah, kurasa aku bisa melakukannya.”

Tiffany lalu berguling ke sisi Taeyeon dan berenang meninggalkannya. “Yang kalah harus merapikan meja setelah dinner.”

“Yah!” Taeyeon mulai berguling dan berenang mengejarnya.

Tiffany berenang semakin cepat kemudian disusul oleh Taeyeon dan entah mengapa mereka mulai tidak dapat merasakan tanah di kaki mereka.

Tiffany muncul ke permukaan dan mulai tertawa. “Kau kalah Kim…”

Taeyeon menyusul tak jauh darinya, “maaf sebelumnya Hwang, aku tidak melihat keadilan disini, kau curang!”

“Aku kan tidak mengatakan ada peraturan, nona…” Tiffany menjulurkan tangannya dan kemudian Taeyeon mulai berenang mendekat. Taeyeon langsung menarik pinggangnya dan mengabaikan uluran tangan Tiffany.

Two can play this game.” Taeyeon mengecup daun telinga Tiffany sambil berbisik. “Tarik napas dalam-dalam.”

Beberapa detik kemudian, Tiffany mulai menyadari bahwa kini tubuhnya berada di kedalaman air. Saat otaknya mulai kembali berfungsi, ia dikejutkan dengan bibir Taeyeon yang sudah melekat di lehernya dan tangan gadis itu yang menjajah tubuhnya.

Tiffany merintih saat Taeyeon menggigit tulang lehernya, menyebabkan gelembung air merangkak ke permukaan.

Satu menit kemudian mereka mulai bercumbu, dengan tangan-tangan yang mulai mendarat di tempat-tempat yang tepat. Membuat keduanya menggeliang-geliut dengan luapan gairah yang tak terbendung.

Selama sesaat Taeyeon menyeret Tiffany kembali ke permukaan untuk menghirup oksigen sebanyak-banyaknya sebelum kembali tenggelam ke kedalaman. Tangan mereka seolah punya pikiran sendiri, mereka mulai bergerak seolah tahu tempat mana saja yang menjadi tujuan mereka.

Tiffany tak henti-hentinya mengerang saat Taeyeon tampaknya mengerti bagian mana saja yang membuatnya kehilangan akal. Mereka menari di bawah cahaya bulan yang memantul di permukaan hingga menembus tubuh keduanya.

Saat rasa euforia itu semakin membuncah, keduanya merasa seolah tubuhnya hendak meledak ke permukaan. Taeyeon mengabaikan paru-parunya yang berteriak minta oksigen. Dia tak ingin menghentikan permainan ini di tengah-tengah begitu saja.

Saat napasnya mulai sesak, barulah ia melepaskan Tiffany dan naik ke permukaan untuk mengambil oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah beberapa menit berlalu barulah ia menyadari bahwa Tiffany tak kunjung kelihatan. Dia mulai agak cemas. Sehingga, dengan satu helaan panjang, Taeyeon kembali menenggelamkan dirinya kembali.

Air pantai yang tadinya jernih seolah mengeruh, ia pun mendongak. Bulan tak lagi bercahaya, ia mulai panik. Taeyeon mencoba menggapai apapun yang bisa dia tangkap, berharap setidaknya lengan atau pergelangan kaki Tiffany. Namun, saat paru-parunya hampir meledak, ia muncul lagi di permukaan.

Hal pertama yang dia sadari saat itu adalah, gerhana bulan. Air pantai semakin keruh, tak ada cahaya apapun kecuali beberapa bintang dan yang paling membuatnya khawatir adalah, Tiffany menghilang.

“Fany!!” Ia mulai berteriak, berharap dengan sedikit keajaiban kekasihnya itu dapat mendengar suaranya. “Jangan bercanda! Keluarlah, kumohon… Makanannya sudah dingin…”

Saat tak terdengar jawaban, Taeyeon mulai melanjutkan pencarian hingga satu jam kemudian. Setelah itu, tak ada tanda-tanda keberadaan Tiffany. Dia mulai lelah, kedinginan dan mual. Taeyeon tidak tahu lagi apa yang  harus dia lakukan hingga ia memutuskan untuk kembali ke tepi pantai, berharap Tiffany akan menunggunya di sana sambil tersenyum dan berkata, ‘Hay honey, mencariku?’

Tapi saat Taeyeon kembali, tidak ada apapun yang dapat ia temukan. Kecuali pakaiannya yang berserakan di atas pasir. Bahkan tidak ada tanda-tanda keberadaan Tiffany disana. Tidak pakaiannya dan tidak jejak kakinya.

Taeyeon mulai kesal, tanpa sadar air mata mulai membanjiri wajahnya. Saat itu juga, dia memutuskan untuk kembali mencari Tiffany sampai ketemu.

Lalu dia berenang, semakin dalam, semakin dalam, dengan air mata yang bercampur dengan air pantai, dan dengan cahaya bulan yang seolah digerogoti ngengat, Taeyeon pun ikut menghilang.

Sesuatu menarik kakinya dan ia pun menghilang, semakin dalam, semakin dalam hingga bertemu dengan gelap. Hanya gelap dan yang dapat ia dengar adalah sebuah suara dalam kegamangan, i love you, forever entah dari mana.

*

Taeyeon terlonjak dari tidurnya, merasa seolah-olah dirinya baru saja terjun ke dalam jurang. Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Ia berusaha mengingat-ingat apa yang baru saja terjadi padanya.

Ia pun mengerutkan kening, semua itu terasa nyata, sangat nyata. Ia dapat merasakan apapun yang terjadi dalam mimpinya. Apa itu? Semacam lucid dream?

Taeyeon kembali menutup mata, berusaha terpejam. Namun dalam kepalanya adegan itu terus berputar-putar dan dia tahu, ia harus mengeluarkannya segera atau gambaran itu akan terus terjebak dalam benaknya.

Taeyeon merasakan sesuatu yang bergerak dalam kamarnya. Seolah alam bawah sadarnya memanggil, Taeyeon langsung terpikirkan dengan kuas lukis yang menggantung di atas drawer-nya.

Kuas itu seolah memanggil namanya, memintanya untuk mengeluarkan segala yang ada dalam benaknya.

Dengan setiap goresan di atas kanvas, Taeyeon menumpahkan segala yang ia rasakan dalam mimpinya. Baju Tiffany, senyumnya, cahaya bulan yang mengambang di permukaan ombak.

Semalaman dia melukiskan perasaannya hingga tidak menyadari bahwa hari sudah mulai terang. Matahari sudah menggantung indah di jendelanya. Taeyeon mengabaikan kicau burung pegunungan yang selalu ia suka. Biasanya saat pagi begini ia akan menghirup udara segar di kebun belakang, mencari inspirasi untuk lukisan selanjutnya. Namun kali ini ia merasa tidak memerlukan semua itu. Dia sudah menemukan inspirasinya.

 “Kau melukis apa?”

Suara yang sudah sangat familiar itu tidak sedikitpun mengusiknya. Taeyeon tidak berusaha menutupi lukisannya, dia terus terfokus menggerakkan kuas di atas kanvasnya sembari menggoreskan berbagai macam warna yang diperlukan.

Karena penasaran, akhirnya gadis yang lebih muda satu tahun darinya itu memberanikan diri dan mengintip. Dia menyeringai saat matanya mengenali sosok yang begitu dia kenal. Walaupun belum pernah bertemu secara langsung, tapi wajah itu ibarat sudah menjadi makanannya sehari-hari di galeri.

 “Kau merindukannya ya?”

Taeyeon tidak menjawab, dan dia sudah terbiasa tidak mendapatkan jawaban. Pertanyaan yang menggantung begitu saja tidak terlalu mengusiknya saat ini. Lagi pula gadis itu sudah tahu jawabannya.

Selama hampir satu jam kemudian, dengan goresan terakhir di gambar yang bisa ditebak lautan. Taeyeon mendesah lega dan mengelap keringat di dahinya yang hampir mengacaukan gambar yang tengah ia lukis.

Taeyeon tersenyum padanya, “aku akan selalu merindukannya, dan kau tahu itu.”

“Aku iri padanya.” Gadis itu tersenyum, menghindari kontak mata dengan Taeyeon dan menatap hamparan pegunungan di luar jendela.

“Huh?” Taeyeon mengerutkan kening.

“Kau begitu mencintainya.” Gadis itu berkata tanpa meninggalkan pemandangan di depannya.

“Begitu mencintainya bahkan tidak cukup untuk menggambarkan perasaanku padanya.” Taeyeon menatap lukisan itu dengan mata yang berbinar-binar.

Gadis itu pun memberanikan diri untuk meliriknya sekilas. Perasaan aneh kembali muncul dalam benaknya, kali ini ‘aneh’ itu benar-benar mengganggunya.

“Dia pasti gadis yang sangat beruntung.”

“Ya. Aku juga beruntung pernah memilikinya.”

Gadis itu menatap Taeyeon cukup lama, suatu hari nanti kau pasti akan menjadi milikku.

“Kenapa?” Taeyeon yang merasa diperhatikan mulai membalas tatapannya. “Ada yang salah dengan wajahku?” Familiar.

“Tidak, aku suka mengamatimu melukis.”

Taeyeon tersenyum mengingat kata-kata itu.

Gadis itu mendapatinya dan tersenyum sedih, “aku mengingatkanmu padanya lagi?”

“Ya. Kau mirip sekali dengannya.”

Perasaan dibenaknya semakin sakit lagi, dia begitu membenci ‘perasaan’ itu. “Kau mengatakannya ribuan kali padaku.”

“Aku tidak berbohong,” kemudian Taeyeon mulai merapikan peralatan melukisnya dan menunjukkan gambar itu pada gadis di depannya. “Menurutmu lebih baik gambar ini kupajang di mana?”

Gadis itu menatap lukisan dua orang yang tengah berpelukan di pinggir pantai dengan senyum yang sedikit dipaksakan, ia bersyukur karena sepertinya Taeyeon tidak memperhatikannya. “Kau tidak perlu memajangnya.”

“Kenapa?”

Tiba-tiba sebuah ide muncul dalam benaknya. Ia menyambar lukisan itu dari tangan Taeyeon dan berlari meninggalkannya sambil tertawa. “Lebih baik kau berikan padaku saja.”

“YAH! MI YOUNG-AH!! KEMBALKAN!!”

“NGGAK BAKALAN!!”

END

Special thanks;

K2 (yang udh bantuin ngubek2 cerita aneh ini dan…… Alhamdulillah jadi semakin aneh)

Kakak Besar (yang nyekokin gue taengsik sepanjang malam, makasih atas distraksinya :*)

Err.. Tangan gue, (iya.. tangan gue. Thanks udh bela-belain ngetik sepanjang pagi dan malam)

Mata gue, (Makasih karena ketersediaannya melek setiap jam 5 pagi walau masih sering ngajak tawuran)

Otak gue, (Makasih atas eksistensinya, lain kali.. tolong prosesornya di upgrade yaa)

LAPTOP gueh, kasur tercinta, setumpuk novel yang masih belum tersentuh, secangkir Good Day setiap malam, dan semuanya~~

Kita tidak pernah tahu kapan kita bakalan mati, kan? So, prepare yourself! Hahahahaha *ketawasetan*

~S2

Iklan

44 thoughts on “Gone With The Wind [One Shoot]”

  1. Terimakasih authornim udah buat ff se daebak ini,
    Dan saya reader baru, dan baru mengenal wp 3 minggu yg lalu,
    Izin ubek-ubek lapak author ya

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s