menulis, One Shoot, SNSD, SOSHI FF, Uncategorized

Make A Wish [One Shoot]

10294325_10201798200608987_6037369440760227666_n

.

“Seperti cahaya itu… kamu, menghalangi ruang gerak cahaya dan membentuk sebuah banyangan. Sesosok bayangan yang aku rindukan dimana selalu aku berharap kamu yang menghalangi jalanku”

Created by: Kapten Kaoru [~K2]

Cast: Taeyeon Kim, Tiffany Hwang, & Jessica Jung

Genre: Yuri (Girls x Girls), Happy, Romance, Diorama.

Warning: Yuri (Girls x Girls), LONG ONE SHOOT!!

Happy Reading 😀

.

.

.

 “Huwaaaaaaaaaa…”

        Seorang gadis kecil yang masih memakai seragam dengan balutan jas warna merah muda duduk memeluk lutut dan menenggelamkan kepalanya di lututnya, membiarkan rambut panjangnya terurai menutupi wajahnya. Hanya terdengar isak tangis dan napas yang tidak beraturan memenuhi sebuah ruangan.

        “Hei. Aku mohon berhentilah menangis,” kata seorang gadis kecil berjas biru yang berlutut dihadapannya. Namun gadis kecil berjas merah muda itu tetap menangis, tidak ada tanda-tanda dia akan menegakkan kepalanya atau menghentikan tangisannya. Gadis berjas biru semakin sedih, dia mencoba merapikan rambut gadis berjas merah muda agar wajahnya sedikit terlihat. “Ayolah, apa kau tidak capek sedari tadi menangis?”

        Gadis berjas merah muda mulai menangis sejak dia berada di tempat itu, tempat yang dipenuhi oleh orang-orang dewasa berpakaian serba hitam dan dipenuhi karangan-karangan bunga sepanjang lorong. Gadis berjas merah muda itu duduk di pinggir ruangan, dekat meja besar dimana diletakkan sebuah bingkai foto besar berhiaskan pita hitam – foto seorang perempuan yang sedang tersenyum – lengkap dengan bunga–bunga segar dan persembahan seperti makanan minuman yang diltata rapih.

        Gadis berjas biru mengambil kotak bekal di dalam tas punggunggnya, mengambil sebuah cupcake yang belum sempat dia makan. Dia berlari kearah meja dan  mengambil salah satu lilin kecil lalu memasangnya di atas cupcake yang dia bawa. Setengah berlari, dia kembali berjongkok dihadapan gadis yang sedang menangis.

        “Aku mohon, berhentilah menangis,” kata gadis kecil berjas biru parau. Dia begitu kebingungan, dia ingin membuat gadis yang ada dihadapannya ini agar berhenti menangis, “Lihatlah! kau boleh meniup lilin diatas cupcake ku. Dan sekarang pejamkan matamu dan buatlah permintaan!”

        Gadis berjas merah muda menegakkan kepalanya, dia melihat sepasang mata coklat yang mulai berkaca-kaca dan sebuah lilin diatas cupcake penuh dengan butter cream warna-warni. Dia hanya menatap gadis di hadapannya dengan bekas air mata yang masih tampak jelas dan tidak melakukan apapun. Tidak meniup lilin itu.

         Tidak ada tanggapan, gadis berjas biru itu meletakkan cupcake di hadapan gadis berjas merah muda lalu berlari meinggalkannya sendirian sambil menangis. Sebelum gadis berjas merah muda melihat cupcake yang ada dihadapannya, dia melihat gadis yang baru saja meninggalkannya itu menangis di gendongan ayah dan ibunya.

        “Miss Kim,” merasa dipanggil namanya, Taeyeon berbalik. Masih dengan senyum yang sama ketika dia memandangi bingkai foto yang ada di tangannya, saat mengingat pertama kali mereka bertemu. Dia dan kekasihnya. “Semua orang sudah menanti anda di ruang rapat.”

        “Baiklah, Jessie.” Taeyeon menghampiri mejanya dan meletakkan bingkai foto itu kembali ketempatnya. Jessica berjalan masuk, meletakkan beberapa dokumen di meja Taeyeon. “Bisakah kau kosongkan jadwalku besok? atau persiapkanlah semua yang harus aku kerjakan sehingga aku bisa pulang cepat besok.”

        Jessica melirik kalender Taeyeon yang terpasang di salah satu sudut diruangnya. Sebuah tanggalan yang di tandai warna merah, dan itu besok. Sejauh yang Jessica tahu, hari itu merupakan hari yang sangat penting bagi Taeyeon, dan belum tentu Taeyeon dapat merayakannya setiap tahun.

        “Aku bisa kosongkan jadwalmu, Taeng. Tapi kau harus membelikanku tas keluaran terbaru dari Marc Jacobs sebagai imbalannya hahahaha,” goda Jessica dan tawa mematikannya, membuat Taeyeon terkejut lalu membesarkan matanya.

        What? Kau bercanda? Jangankan bentuknya, merk seperti itu saja aku baru mendengarnya. Oh! Dasar wanita!” Taeyeon memutar kedua bola matanya.

        “Ah! Aku lupa, kau bukan wanita. Jadi kau tidak menyukai hal seperti itu, Hahaha,” tawa Jessica membuat Taeyeon hendak melemparkan dokumen yang sedang ia pegang. “Jika kau bisa membuat Aletea Patronum Animation menandatangani kontrak setelah rapat, aku akan memberikanmu libur selama dua hari. Dengar Taeng, dua hari.”

        Kata terakhir Jessica membuat Taeyeon menghentikan kegiatannya, “B-Benarkah? Benarkah itu Jessie?”

        “Apakah aku terlihat bercanda?” Tanya Jessica, menunjuk wajahnya sendiri dengan mata yang sengaja dilebarkan.

     Taeyeon berlari kegirangan ke arah Jessica dan memeluknya, mengguncang-guncangkan tubuh Jessica yang lebih besar darinya. Dia begitu senang mendapat hadiah yang belum tentu dia dapatkan saat hari Natal tiba.

        “Aaaak! Thank you so much, auntie Jessie!!!!!” Teriak Taeyeon kegirangan.

         “Ya! Ya! Kau mau membunuhku, oh?” Protes Jessica karena Taeyeon terlalu kencang memeluknya. Dengan kesal, Jessica merapikan pakaiannya yang kusut sambil cemberut menatap Taeyeon yang sangat kegirangan. “Ah! Kau harus menggunakan waktu liburmu dengan baik, Taeng. Kalau kau tidak memberikan aku keponakan segera, aku akan membuatmu libur selamanya!!”

        Taeyeon sedikit berjinjit lalu segera menjepit leher Jessica dengan ketiaknya sebelum Jessica menyadari dan menghindari serangannya,  “Ya! Bagaimana kau bisa mengancamku? Dasar Jessie jelek!!”

        “Ah! Ampun Nyonya Kim! Ketiakmu basaaaah!” Teriak Jessica hampir memecahkan gendang telinga Taeyeon, namun dia tidak melepaskan Jessica.

        Tiffany sedang menikmati coklat panas sambil melihat beberapa berkas di ruangannya. Udara dingin yang memenuhi ruangannya tidak membuat kepalanya seketika dingin. Ini memang bukan jam makan siang tetapi dia mencoba untuk menenangkan diri dengan meminum minuman favorit kekasihnya, sesuatu yang menjadi kebiasan semenjak Tiffany menjadi CEO perusahaan fashion yang berhasil dia dirikan sendiri.

        “Taetae, seandainya kau disini. Mungkin aku tidak akan sestres ini,” gumam Tiffany tanpa melepas pandangannya dari dokumen yang menghiasi mejanya.

        Tiffany duduk di pangkuan Taeyeon. Saat-saat seperti inilah yang selalu Taeyeon sukai, saat dimana dia bisa memeluk pinggang Tiffany sambil menyandarkan dagunya di pundak Tiffany, dan menghirup dalam-dalam harum tubuh Tiffany. Taeyeon terpaksa meninggalkan pekerjaan rumahnya demi menemani dan menghibur Tiffany di apartemennya. Kali ini kekasihnya membutuhkan perhatian yang sangat ekstra karena ini merupakan ke 39 desain baju untuk peragaan busana musim panas ditolak.

        “Ayolah, Ppany-ah. Kalau kau bersedih terus, kapan kau akan memperbaiki desainmu? Kalau kau tidak mulai melakukan sesuatu sekarang, aku yakin kau akan gagal lagi.”

        “TAEYEON!” Teriak Tiffany sambil mencubit paha Taeyeon lumayan keras. Taeyeon hanya meringis tanpa mengeluarkan suaranya. “Ini terdengar seperti ‘Ayo! Terbangkan layanganmu! Aku akan melihatnya dari sini dan pastikan layanganmu tidak lepas dari senarnya’. Aku tidak bisa menerbangkan layangan, Tae. Mereka tidak menyebutkan apa tema yang mereka inginkan. Tae, aku lelah. Bantu aku Tae, aku butuh ide.”

        “Aku tidak bisa membantumu, baby. Kau juga tahu, kau dan aku berbeda. Kalau aku membantumu, aku takut kalau aku kana merusak imajinasi dan kreativitasmu,” ucap Taeyeon dengan lembut dan dia sangat yakin kalau Tiffany-nya sekarang mengerucutkan bibir karena dia tidak bisa melakukan sesuatu untuk membantu Tiffany. “Ah! Aku punya ide. Bagaimana kalau kita jalan-jalan lalu membeli cotton candy?” Tiffany hanya berbalik kearah Taeyeon dengan bibir yang masih mengerucut dan sedikit mengerutkan dahinya. “Ayo cepat berdiri, kita beli cotton candy! Aku yakin setelah kita membelinya dan memakannya bersama, perasaanmu akan lebih baik.

        Tiffany terdiam, dia beranjak dari pangkuan Taeyeon dan beralih duduk di sebelah Taeyeon dengan ekspresi wajah yang tidak berubah. “Baiklah. Kalau kau tidak mau ikut,” kata Taeyeon seraya beranjak berdiri dan meraih kunci mobilnya, “Aku akan mencari gadis lain yang mau menemaniku makan cotton candy. Hahahahaha~”

        “YA KIM TAEYEON! KAU BOSAH HIDUP, OH??” Tiffany mengejar Taeyeon yang sudah diambang pintu dan mempertimbangkan akan memberikannya hukuman.

        Taeyeon menatap Tiffany yang masih cemberut. Saat ini mereka sedang memakan satu cotton candy dan memereka saling berhadapan.

        “Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak sedih lagi dan mau memulai semuanya dari awal, baby?”

        Tiffany melihat kearah Taeyeon, dia tidak mengeluarkan satu patah katapun, “Haruskan aku mengganti lirik balonku agar balon hijau tidak meletus lagi? itukah yang kau inginkan agar kau tidak bersedih lagi? Okay… akan aku lakukan untukmu” Kata Taeyeon sambil melahap cotton candy disertai senyum yang menggemaskan. Dan senyuman itu berhasil membuat Tiffany tersenyum. “Nah! Kau harus tersenyum seperti itu.. okay?” Ucap Taeyeon sambil mengelus kepala Tiffany dan mendapat anggukan dari Tiffany.

        “Hallo? Apa ada yang mencariku?”

        Tiba-tiba kepala Taeyeon muncul di pintu yang dia buka sedikit. Melihat Tiffany yang beranjak dari kursinya dan berlari kearahnya dengan kegirangan, Taeyeon membuka pintu lebih lebar dan bersiap untuk tubrukan yang sangat dahsyat.

        “TAETAE!” Seru Tiffany segera memeluk leher Taeyeon dan memberi kecupan-kecupan di bibir Taeyeon, sedangkan Taeyeon berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar tidak terjatuh.

        B-baby… B-bisakah kau bersabar?” tanya Taeyeon disela kecupan-kecupan Tiffany, “A-aku bahkan b-belum menutup p-pintu. B-baby, nanti dilihat k-karyawanmu.”

       Tiffany melembutkan kecupan-kecupannya, menuntun Taeyeon memasuki ruangannya agar Taeyeon bisa menutup pintu. Setelah pintu tertutup sempurna, Tiffany mendorong tubuh Taeyeon dan mulai melahap benda lunak dihadapannya dengan ganas.

        Tiffany mencoba melepaskan ciuman dari Taeyeon dengan susah payah saat Taeyeon hampir berhasil menelusupkan tangannya ke dalam kemeja Tiffany, “Tae, kenapa kau bisa kemari? Bukankah hari ini akan ada meeting yang sangat penting?”

     “Hmm,” Taeyeon memandang langit-langit, menahan sedikit emosi karena Tiffany melepaskan tautan bibir mereka hanya untuk bertanya sesuatu yang menurutnya bisa ditanyakan nanti. “Aku rasa aku baru memenangkan taruhan yang dibuat oleh Jessie.”

        Taeyeon mendekatkan wajah mereka dan menyambar bibir Tiffany lagi, melumatnya lagi, dan lagi-lagi Tiffany melepaskan tautan mereka dengan susah payah.

               “Taruhan? Maksudnya?”

           Taeyeon berusaha keras menahan emosinya yang hampir memuncak “Jessica akan memberikan aku libur dua hari kalau aku bisa membuat Aletea Patronum Animation menandatangani surat kontrak kerjasama.”

              Taeyeon menyambar bibir Tiffany lagi, sepertinya dia belum puas mencium Tiffany hari ini.

        Untuk ketiga kalinya Tiffany melepaskan tautan bibir mereka, dan kali ini membuat Taeyeon mengerang frustasi, “Jadi kau berhasil?” tanya Tiffany polos.

         “Oh! Come on, Baby. Kita selesaikan ini dan aku berjanji akan menceritakan semuanya kepadamu, deal?” Taeyeon berusaha keras merendahkan suaranya, emosinya sudah benar-benar memuncak.

        “Oh, baiklah,” Tiffany mengangguk dengan polos lalu menunduk untuk menyelesaikan urusan mereka.

        Setelah paru-paru mereka sudah kehabisan udara, Taeyeon melepaskan tautan mereka dan beralih memberi kecupan-kecupan ringan yang tidak membuatnya sesak napas.

        “Kau ada waktu? Aku ingin mengajakmu ke gereja pinggiran kota. Aku sudah lama tidak mengunjungi anak-anak, mereka pasti merindukanku.”

        Tiffany tampak berpikir, dia tidak mungkin meninggalkan kantor dengan beberapa tugas yang belum sama sekali dia selesaikan, tetapi disisi lain dia ingin pergi bersama kekasihnya.

       “Hm… Yes, baby.” Tiffany mengiyakan ajakan Taeyeon, “Tetapi beri aku waktu. Aku harus menyelesaikan beberapa dokumen dan aku berjanji ini tidak akan lama. Okay?”

        “Okay, baby. Anything for you,” kata Taeyeon, memberi kecupan terakhir sebelum Tiffany berjalan menuju mejanya.

        “Tae, ini..” Tiffany terkejut melihat Taeyeon mengambil tas-tas belanjaan berisi beberapa bingkisan dari dalam bagasi mobilnya. “Untuk anak-anak?”

        “Yap! Kita akan meninggalkan bingkisan kecil untuk mereka, sekaligus ingin merayakan anniversary kita bersama mereka.”

        Anniversary.

         Sebuah kata yang membuat Tiffany mematung ketika dia mendengarnya. Dia tidak ingat sama sekali bahwa hari ini adalah perayaan hari yang paling penting bagi mereka, hari yang harusnya menjadi hari paling spesial penuh kejutan untuk sang kekasih.

        Tetapi Tiffany lupa tentang hari itu.

        Dia meraih ponselnya dan memastikan apakah benar hari ini adalah tanggal 27.

        “Hey Ppany-ah! Kau tidak ingin masuk?” Teriakan Taeyeon seketika menyadarkan lamunan Tiffany.

        Dengan rasa bersalah yang sangat besar, ia berjalan tergontai dan meraih pipi Taeyeon, setengah berkaca-kaca, “Maafkan aku, baby. Aku lupa bahwa hari ini adalah hari anniversary kita. Aku tidak menyiapkan apapun untukmu.”

        No problem,” kata Taeyeon sambil mengangkat kedua bahunya, ”Selama kau tidak lupa kalau kau punya seorang kekasih yang imut sepertiku, itu tidak masalah. Hey! Ayolah.. Jangan bersedih di hari yang paling penting bagi kita.” Rengek Taeyeon sambil memanyunkan bibirnya.

      Tiffany tersenyum meraih leher Taeyeon lalu memeluknya, menenggelamkan kelapanya di leher Taeyeon karena dia tidak ingin Taeyeon melihat airmatanya yang tidak berhasil dia tahan. Dengan lembut, Tiffany mengusap bahu Taeyeon. Taeyeon membalas pelukan Tiffany dengan susah payah.

            “Maafkan aku, baby. Sungguh, maafkan aku,” kata Tiffany sedikit parau.

        “Seharusnya aku yang minta maaf, Ppany-ah. Aku tidak selalu bisa merayakan hari jadi kita bersama-sama karena kesibukanku. Dengar, walaupun kau melupakan hari ini, aku tidak sedih karena akhirnya setelah sekian lama aku bisa merayakannya bersamamu.” Kata Taeyeon mencoba menghibur kekasihnya. Tiffany melepas pelukannya lalu membingkai wajah Taeyeon, menatap mata kecoklatan yang selalu membuatnya tenang, “Maaf, aku tidak mengajakmu dinner romantis tetapi mengajakmu kemari.”

        “Tidak apa-apa, Tae. Aku suka apapun caramu untuk merayakan hari kita”

        Tiffany tersenyum, mempersempit jarak wajah mereka. Jarak mereka kini semakin dekat, membuat jantung Tiffany menari-nari kegirangan, sama saat mereka melakukan ciuman pertama mereka beberapa tahun yang lalu.

        Taeyeon yang sudah mulai terpejam langsung membuka matanya, dia tersadar akan sesuatu.

        “Ah!” Mendengar ucapan Taeyeon, Tiffany membuka matanya dan menjauhkan wajah mereka. “Kita tidak bisa melakukannya disini, aku takut anak-anak melihat. Kita akan melanjutkannya nanti, oke?”

        Taeyeon memberikan kedipan sebelah matanya, membuat Tiffany tertawa kecil. “Hahaha. Baiklah, kekasihku yang paling imut. Kita akan melanjutkannya dirumah.”

        Tiffany menggadeng lengan Taeyeon memasuki gereja. Saat beberapa anak melihat mereka diambang pintu, anak-anak itu langsung turun dari podium meninggalkan pelatih paduan suara dan berlari kearah Taeyeon.

        “YEOOONNNN!!!” teriak mereka. Taeyeon berjongkok, bersiap menerima pelukan masal dari anak-anak  yang berlari kearah nya.

        Taeyeon kewalahan memeluk mereka bersamaan, “Kalian merindukanku?”

    “Ya! Kami merindukan Yeon!” Seru mereka bersama-sama, membuat Taeyeon tersenyum lebar.

        “Hahaha.. aku juga merindukan kalian. Coba lihat, aku mengajak Ppany pPany TipPany. Dia akan membantuku menceritakan sebuah dongen untuk kalian.” Kata Taeyeon memperkenalan Tiffany kepada anak-anak. Tiffany tidak sering datang ke gereja ini bersama Taeyeon karena kesibukan mereka.

        “Hai..” Sapa Tiffany mengangkat tangannya dan tersenyum canggung, meskipun ini bukan pertama kali ia bertemu dengan anak-anak.

        “Ayo ajak Ppany masuk, aku akan menceritakan sebuah dongeng untuk kalian.”

        “Yeeeee~” riang beberapa anak kecil sambil meraih tangan Tiffany untuk mengajaknya memasuki gereja.

        Mereka begitu senang karena kedatangan Taeyeon dan Tiffany. Taeyeon selalu menceritakan sebuah dongeng yang berbeda-beda setiap kali dia datang. Bukan hal yang susah bagi seorang CEO sebuah perusahaan animasi melakukan hal itu. Taeyeon duduk di atas podium, lebih tinggi dari yang lainnya. Sedangkan Tiffany memilih duduk ditengah anak-anak, bersama-sama menghadap dan memperhatikan kearah Taeyeon sambil mendudukan seorang anak kecil dipangkuannya.

        “Nah! Saat Kapten Kaoru berhasil memanjat pohon untuk mendekat ke jendela kamar Putri Kiddo, dia melihat Putri Kiddo yang sedang bersedih. Dengan suara yang lantang, Kapten Kaoru berteriak ‘Hei Putri! Lihatlah langit malam ini! Ada banyak bintang di dalam ranselku dan aku akan menempelkannya untukmu, jadi tidak ada alasan untukmu bersedih lagi, okay?’ Putri Kiddo berpikir bahwa Kapten Kaoru gila. Bagaimana dia bisa menempelkan bintang dilangit dengan tubuhnya yang kecil itu?” terdengar tawa anak-anak mendengar Taeyeon bercerita.

        Tiffany memperhatikan betapa menggemaskannya ekspresi Taeyeon  ketika bercerita, betapa  lucunya dia melakukan geraka-gerakan untuk menegaskan cerita, persis seperti anak kecil. Tiffany tertawa bersama yang lainnya, dan dia sangat bersyukur ketika menyadari bahwa orang dewasa yang bercerita seperti anak kecil itu adalah kekasihnya.

      Pikiran-pikiran Tiffany membawanya sedikit bernostalgia dengan masa lalunya bersama Taeyeon, saat melihat Taeyeon memberikan kejutan dengan memberikan bingkisan dan melihat ekspresi bahagia anak-anak mendapat bingkisan kecil yang Taeyeon sengaja bawa untuk mereka. Tanpa dipungkiri, Tiffany juga merasakan kebahagiaan yang sama dengan anak-anak itu ketika Taeyeon memberikan kejutan kecil untuknya. Tiffany sangat tahu, karena dengan cara itulah Taeyeon menunjukan kalau Taetae-nya mencintai, bukan, sangat mencintai dirinya.

        Taeyeon berjalan jauh didepan Tiffany sambil memasukan tangannya di saku celana yang dia kenakan dan berjalan menunduk, Lebih tepatnya meninggalkan Tiffany berjalan sendirian dibelakangnya. Cara berjalan Taeyeon membuatnya tampak elegan, Tiffany hanya bisa mengaguminya dari kejauhan.

        Langkah Taeyeon tiba-tiba terhenti dan berbalik kearah Tiffany, bahkan Tiffany bisa melihat kerutan yang menghiasi kening Taeyeon saat itu. Tangan kirinya meraih tangan kanan Tiffany dan tangan kanannya dikeluarkan dari saku celananya.

        Taeyeon tersenyum, “Aku menemukan harta karun di kantung celanaku dan kau pasti menyukainya.”

        Detik berikutnya dia meletakan barang itu dan menutup tangan kanan Tiffany sehingga Tiffany tidak bisa melihat apa yang sebernarnya Taeyeon coba berikan. Dengan perlahan, Tiffany membuka gengaman tangannnya dan melihat sebuah jepit rambut sederhana. Dia memasangnya untuk menjepit poni lalu berlari menyusul Taeyeon, menggandeng lengan Taeyeon dan berjalan penuh senyuman.

        Seusai selesai membagikan bingkisan kecil, Taeyeon dan Tiffany berlutut di salah satu bangku gereja, berdoa sambil memejamkan mata mereka.

        “Tuhan, terima kasih karena Engkau telah memberikan Tiffany untukku,” Tiffany terkejut mendengar doa Taeyeon, karena tidak biasanya Taeyeon mengucapkan doanya. Dia membuka matanya dan melihat kearah Taeyeon yang masih terpejam, “Engkau juga membuat Tiffany mecintaiku dengan tulus. Mampukan aku Tuhan agar aku bisa melindunginya…”

        Tiffany memperhatikan dengan seksama setiap inchi wajah Taeyeon saat membacakan doanya, mendengar setiap kata yang Taeyeon ucapkan. Tiffany tidak menyangka, ‘apakah doa ini yang selalu Taeyeon panjatkan sebelum dia tidur?’

        I wish…” Kata Taeyeon, masih dengan mata terpejam dan tangan yang mengatup didepan wajanya. “Pstt.. Bisa kau meneruskannya?” bisiknya ditelinga Tiffany tanpa membuka matanya. Tiffany memalingkan wajahnya ke depan, lalu terpejam dan mulai mengucapka doanya.

        I wish….” Kata Tiffany menyebutkan permohonan dalam hati. “Amen.

        Taeyeon membuka matanya dan melihat kearah Tiffany yang masih terpejam, “Yah! Kau curang, Ppany-ah!! Mengapa kau tidak menyebutkan doamu? Bukankah kau sudah mendengarkan doaku tadi?”

       “Itu rahasia antara aku dan Tuhan, Tae. Lagipula aku tidak menyuruhmu mengucapkan doamu kan? hahahaha.”

        Taeyeon tampak berpikir. Ada benarnya perkataan Tiffany baru saja. Tetapi sama saja, baginya ini tidak adil.

      Tiffany berjalan meninggalkan Taeyeon yang masih berlutut, “Ya! Kau benar-benar tidak akan memberitahuku, oh? Ppany-ah!!! kau benar-benar jahaaaat!!”

     Tiffany tidak menggrubris perkataan Taeyeon, dia tetap berjalan lurus sambil tersenyum tanpa menoleh kearah Taeyeon sedikitpun.

Aku berharap kaulah yang selalu menjadi alasanku tersenyum – Tiffany Hwang

*FIN*

        Makin aneh yes? ato kepanjangan? atau.. iya seharusnya ini di post tanggal 27 Maret kemaren, pas #LockSmithDay. hahaha telat dikit gak papa deh, masih ada 27 april ini hehehe~ *ehkampret ini telatnya sebulan wooi!!* *jedotinkepalakedadaayam*

Gimana ujian kalian? *pertanyaanbasibanget*

        Thanks uda mau baca cerita yg makin absurd ini. hm.. semakin banyak kritik, aku makin suka, soalnya menurutku kritik itu bentuk perhatian dan orang lain ingin aku berubah *tapibelumtentuakubisaberubah* *telenPC* . so makin banyak kritik brati makin banyak yg care. bilang aja terus terang dimana anehnya yes, oke? hehehe~

salam suwung :*

P.S: Special thanks to kak defy and si son (krabby petty). Thanks gih udah mau bertukar pemikiran (?) soal *disconnected* hehe.. Lets move on, beroh! salam yadong.

Thank You,

Kapten Kaoru [~K2]

Iklan

62 thoughts on “Make A Wish [One Shoot]”

  1. Reader baru disini *tebaringus
    hahaha gue suka cerita lo om, gak nyangka ternyata imajinasi lo nakal juga hahaha, gue bakalan sering mampir deh

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s