FF, SNSD, SOSHI FF, Thriller

Fatal Frame Part 1

fatal-frame1

“Sang pengkhianat yang mencurangi kematian, bersiaplah!

Mereka datang untuk menghabisimu”

~S2 Present, horror-thriller, Yuri~

Copyright © 2014, Sasyaa95

Akhir kehidupanku dimulai dari sini. Siang itu terik, sekolah kami sedang melaksanakan study tour pada pertengahan Juli. Awal semester ini tidak diawali dengan terlalu baik dari sudut pandangku. Hatiku nyaris hancur berkeping-keping saat kabar jadian gadis yang kutaksir selama bertahun-tahun meluas di seantero kampus. Aku mencoba bersikap biasa saja—yang memang sudah kuatur sedemikian rupa hingga wajahku tak sedikit pun menunjukkan gurat-gurat kekecewaan apa lagi sampai pecah di depan banyak orang. Tak banyak yang tahu tentang hal ini, bahkan diriku sendiri. Awalnya aku menyangkal fakta tersebut, tapi Sunny sahabat baikku yang keparat itu menelanjangi perasaanku habis-habisan—secara harfiah.

“SOO! Tangkap ini!” Teriakan Sunny membuatku hampir tuli, maksudku dia berteriak di sampingku lalu melempar botol minumnya pada gadis bertubuh jakung yang berdiri setidaknya tiga meter dariku dan tidak bisa tidak mengenai kepalaku. Botol oranye blink-blink milik Sunny pun dengan hebat menghantam pelipis kiriku sehingga menyebabkanku jatuh tersungkur. Kudengar semua orang menjerit beberapa memanggil namaku, sebagian lagi tertawa keras-keras. Jika saja sekarang aku sedang tidak tiarap di lantai besi panas bus sialan ini, mungkin saja aku sudah menyumpal mulut mereka dengan kaus kaki. Tapi tidak, aku tidak akan melakukannya karena sekarang tubuhku ling-lung. Aku nyaris tidak dapat berdiri tegak kalau tidak dengan bantuan Sunny yang terus menerus meminta maaf padaku. Aku merasa payah. Kufokuskan pandangan kedepan dan hampir tersedak melihatnya.

Kenapa harus sekarang sih?

Aku melihat sekelilingku dalam pendar oranye cerah. Oh, botol keparat itu pasti sukses menggeser sistem saraf yang mengatur indera penglihatanku, jadi segala yang kulihat mulai berubah oranye. Kurasakan bagian terdasar dalam perutku mulai menghangat, awalnya tidak terlalu mengganggu sampai akhirnya perutku melilit. Perasaan ini sangat familiar, sepertinya aku pernah merasakannya beberapa kali. Tapi aku tidak ingat persisnya kapan aku pernah merasa demikian. Keringat dingin seukuran butiran jagung mulai membanjiri seluruh tubuhku. Perasaan macam apa ini?

Kucoba memfokuskan kembali pandanganku ke depan, gadis itu memandangiku dengan aneh. Aku mendapati ada segurat kekhawatiran yang tergambar di wajahnya, aku sebetulnya senang jika saja yang kulihat tidak berduplikat. Wajahnya yang cantik itu kini ada dua, entah mataku yang ingin bermain-main denganku atau memang demikian. Karena tidak hanya wajahnya saja, segala yang kulihat betambah dua kali lipat jumlahnya. Pandanganku berkunang-kunang, mungkin aku bakalan pingsan beberapa menit lagi.

Selama sesaat, aku menunggu tubuhku ambruk dan segalanya berubah menjadi abu-abu hitam. Oh, percayalah aku pernah pingsan sebelumnya dan rasanya tidak enak. Tapi sekelilingku tetap berwarna oranye yang makin lama makin cerah warnanya. Kepalaku mulai pusing dan perutku melilit. Lalu seperti tersedot lubang hitam, perasaan tidak mengenakkan tadi hilang dari tubuhku begitu saja dan menyisakan rasa kebas. Aku menyadari bahwa sekelilingku kini tidak lagi berwarna oranye dan aku bersyukur karena itu artinya kepalaku terbebas dari rasa pening. Namun, apa yang kulihat kini benar-benar tidak masuk akal. Semuanya berubah jadi serba hitam-putih dan tidak ada warna lain, tidak ada biru tidak ada ungu. Hanya ada tiga warna yang kulihat; hitam, putih dan abu-abu. Ini seperti menonton film jaman 80an.

Ada apa denganku? Apakah aku jadi sinting gara-gara botol minum oranye blink-blink?

Tapi kemudian aku menyadari ada sesuatu yang berbeda. Hal pertama yang aku sadari adalah kami sudah tidak berada di dalam bus, namun di pelataran raksasa. Semua wajah itu bukan teman-temanku walaupun sangat mirip. Tapi pakaian mereka—tidak. Ini terlalu delapan puluhan—oh, bahkan mungkin berratus-ratus tahun yang lalu. Kufokuskan betul-betul. Tapi yeah, dan aku tidak memahami bahasa yang mereka gunakan.

Aku berdiri membeku di tempat, tidak yakin harus melakukan apa. Tiba-tiba salah seorang dari kami—yang lebih mirip Seohyun menjerit sejadi-jadinya. Aku tidak bisa tidak berpikir apakah dia akan bisa berbicara setelah ini. Lalu sebuah bola api raksasa menghantamnya habis-habisan hingga terpental sejauh lima belas meter dengan tubuh gosong terlindas bola api sebesar tronton. Aku tidak yakin dia masih hidup, lalu aku menyadari mungkin saja nasibku tidak lebih baik darinya. Semua orang menunjuk ke belakang punggungku dengan wajah terpana dan ketakutan. Kalau saja situasinya berbeda, aku pasti bakal mengambil ponselku dan memotret wajah konyol mereka lalu kuposting di berbagai sosial media. Namun, itu adalah hal terbodoh untuk dilakukan pada saat-saat seperti ini.

Bunyi desingan yang terasa menyayat-nyayat telinga membuatku bergidik ngeri. Aku mengikuti arah pandang mereka dan melihat ratusan bola-bola api raksasa menggelinding dari tanah yang lebih tinggi di atas kami. Hal gawat lainnya; bola-bola api itu kini menggelinding ke arah kami dan tampak siap melahap kami dengan sapaan murkanya. Selamat siang, kami datang untuk melindas tubuh kalian sampai gosong, aku harap kalian menyukainya.

Aku tidak menyukainya, sungguh! Aku tidak berbohong. Aku belum siap jadi daging giling. Kini kudapati semua orang mulai berlarian tidak tentu arah. Kalau kami berlari searah dengan mereka itu artinya sama saja. Kami akan mati dalam sepuluh menit. Kalau kami berlari mengelilinginya kami bakal punya waktu sekitar sepuluh detik sebelum bola-bola itu menggosongkan punggung kami. Menghindarinya bakal butuh ketangkasan dan ketepatan. Tidak ada waktu untuk berpikir. Sepuluh menit dan sepuluh detik sama saja dalam situasi seperti ini.

Gadis kedua yang mati adalah mirip Im YoonA, dia hendak melihat jenazah sisa-sisa tubuh Seohyun saat bola kedua—yang berukuran lebih kecil meledakkannya. Bagus, lalu beberapa orang lain mulai terlindas. Aku berada dalam jarak aman selama beberapa saat. Lalu Sooyoung yang berusaha menghindar kemudian Yuri yang berada tepat di sampingnya. Aku tidak tega melihatnya, tapi aku benar-benar tidak bisa bergerak dari sini. Mulutku dan kakiku sama-sama kaku. Ada jeda sesaat sebelum beberapa yang bisa kukenali mulai terlindas. Aku ingin sekali berteriak ‘FANY! AWAAAAS!’ Namun terlambat. Air mataku berhasil lolos saat melihat tubuhnya hancur menjadi berkeping-keping. Lalu pacarnya yang berusaha menyelamatkannya pun bernasib sama. Lalu Sunny! Aku kepingin mendorongnya menjauh namun kakiku seperti dilumuri perekat lalat. Aku tidak ingin melihatnya namun tubuh Sunny gosong tak jauh dariku. Lalu bola sebesar truk sampah melesat melewatiku dan menghantam seseorang yang kukenal seperti Jessica.

Aku berdiri terpaku mungkin sudah selama sepuluh menitan dan melihat semua temanku hancur berkeping-keping. Ada jeda sesaat sebelum suara desingan kembali menghantui pikiranku. Aku tahu kali ini giliranku—dan aku melakukan hal tercerdas yang kubisa—berdiri, terpana melihat pijaran bola api bersiap menghajarku. Aku menghitung mundur—kira-kira sembilan detik lagi benda itu akan meremukkan tubuhku. Sembilan, wajah Seohyun melintas di benakku. Delapan, kini wajah Yoona dengan aegyeo menjijikkannya. Tujuh, Sooyoung dengan cengiran konyolnya. Enam, wajah coklat Yuri mengisi kepalaku. Lima, wajah seseorang yang tidak kukenali—aku mengernyit. Empat, Tiffany! Wajahnya yang cantik bersinar dalam kegelapan. Tiga, Sunny.. Dua, Jessica. Satu! Dan segalanya kembali putih.

Samar-samar terdengar, ‘Tambang batu bara meledak’ lalu aku pun menghilang dalam pelarian ketidak sadaran.

*

“Taeyeon? Sadarlah!” Perlahan, kubuka kedua mataku. Rasanya seolah setiap sel dalam tubuhku disatukan lalu diledakkan kembali. Hal pertama yang kulihat adalah; silau. Suara bising kerumunan juga merupakan hal pertama yang kudengar setelahnya.

Sunny membantuku duduk. Bokongku terasa panas, tentu saja karena aku duduk di lantai besi dalam bis. “Apa yang terjadi?” Hanya itu yang dapat kukatakan, tenggorokanku serak seolah baru saja berteriak-teriak.

“Oh, kau pingsan sebentar. Maafkan aku, lemparanku yang tidak bagus menghantam pelipismu dan kemudian kau jatuh pingsan.”

Aku ingin sekali menjawab, tidak lemparanmu bagus sekali. Cocok buat membunuh kucing keluyuran. Tapi kugigit lidahku untuk tidak mengatakannya. “Berapa lamakah ‘sebentar’ itu tepatnya?” Sejam? Dua jam? Atau berjam-jam? Aku tidak ingat.

“Kira-kira semenit yang lalu.” Sooyoung berjalan kearahku, membelah kerumunan dan menyodorkan gelas minum padaku. “Untung bus-nya berhenti buat isi bensin.”

Aku menatapnya tidak percaya, “sungguh? Cuma semenit?”

Tapi Sooyoung hanya mengangkat bahunya tidak acuh, “kurang lebih. Kau bisa berdiri kan?”

Aku mengangguk, lalu kuraih tangan Sooyoung dan dia membantuku berdiri. Rasanya sangat sulit, kakiku melembek seperti jelly kemudian aku merosot kembali.

Kudengar Sooyoung bergumam, “oh ya. Benar.. Kau bisa berdiri sendiri.”

Dalam keadaan normal, aku mungkin saja sudah membalas ucapannya namun aku tidak bisa melakukannya tanpa teringat kejadian yang tidak pernah terjadi itu dalam kepalaku—melihat kehidupan direnggut dari tubuhnya.

“Sunny, bisa kau bantu aku mendudukkan dia di kursi penumpang? Setidaknya bertanggungjawablah sedikit terhadap perbuatanmu?”

Sunny terlihat bosan, dia memang sudah biasa mengurusiku yang memang doyan pingsan. Tapi dia membungkuskan satu lengannya ke seliling tubuhku dan mengangkatku pelan-pelan. “Lain kali kalau mau pingsan, bisa tunggu sampai kita pulang dan kau bisa pingsan sepuasnya di kasurmu.” Gerutunya.

“Yah, makasih buat lemparannya.” Balasku sarkastis.

“Kau mau minum?” Sooyoung mencoba berbaik hati dengan mengulurkan sebotol air padaku. Tidak ada yang salah kecuali yah, kenapa sih harus botol oranye itu lagi?

“Kau nggak punya botol lain lagi bung?” Gerutuku jelas masih kesal.

“Nggak ada waktu, sebentar lagi bus akan melanjutkan perjalanan.”

Aku mendesah. “Baiklah.”

Setelah meneguk air, perasaanku sama sekali tidak membaik. Keringat dingin kembali membanjiri tubuhku. Entah sejak kapan suara-suara kecil begitu mengusikku. Seperti gesekan antara tas-tas di bagasi yang membuat mataku awas.

Telingaku jadi oversensitif? Daripada mendengar suara-suara teriakan gurau teman-teman di sekelilingku, aku justru mendengar hal-hal yang tidak seharusnya bisa kudengar. Seperti seekor kumbang kepik yang mengerikkan sayapnya di pinggir jendela.

Setelah teman-temanku mendudukkanku kembali ke kursi, aku tidak dapat memfokuskan pikiranku pada mereka. Pandangan serta pendengaranku serasa mengabur. Aku dapat mendengarkan angin berdesir dan pohon berayun dari jendela kaca yang dibuka oleh Jessica—sang putri tidur yang kepanasan.

Perasaanku mulai tak nyaman. Tanpa sadar, aku sudah hampir menghabiskan satu botol air minum nyaris tanpa sisa dan tenggorokanku masih tetap panas. Tiba-tiba aku teringat kejadian hampir sepuluh tahun yang lalu, ketika ayahku membawaku ke suatu kuil terpencil di puncak gunung. Mungkin rasanya seperti ini. Tubuhku panas membara hingga inti perutku. Jemariku terasa kebas dan gemetar, peluh-peluh keringat membanjiri tubuhku.

Aku terus menatap keluar jendela, berharap angin akan membawa pergi perasaan mengesalkan ini. Sunny menyentuh punggungku dua kali, itu adalah isyarat yang dia gunakan untuk membuatku tenang. Aku mengenal Sunny sudah seperti aku mengenal diriku sendiri. Rumah kami hanya berjarak tiga puluh meter dan hampir setiap pagi dia meneleponku hanya untuk memberi tahu hari ini aku harus melakukan apa saja. Sekali setiap tahun, saat malam natal dan aku merayakannya bersama keluarga Sunny, mereka akan memintaku—memaksaku lebih tepatnya untuk tinggal bersama mereka semenjak kecelakaan pesawat yang meledakkan tubuh orang tuaku hingga berkeping-keping, tepatnya sembilan tahun lalu. Orang tua kami bersahabat dan aku merasa Sunny adalah satu-satunya orang yang bisa kupercaya. Bukan berarti aku tidak percaya pada teman-temanku yang lain, tapi untuk beberapa level tertentu, Sunny memahamiku lebih baik. Aku punya Yuri, Sooyoung dan Jessica untuk mengusir kesepianku tapi mereka tidak sehebat Sunny dalam membaca pikiranku. Terkadang, aku bahkan percaya bahwa Sunny dapat merasakan apa yang kurasakan, seperti saat ini.

Sunny mengusap lenganku, itu adalah gesture yang dia lakukan untuk memaksaku bercerita—dengan cara yang lebih halus. Yah, setidaknya kali ini dia tidak berusaha mencekik leherku lebih dulu. Aku menggeleng sebagai balasan, berdoa semoga kemungkinan terkecil ada di pihakku dan membuat Sunny percaya.

Mustahil. Aku tahu itu. Sunny membaca emosi lebih baik dari siapapun. Aku bersyukur dia memilih Psikologi sebagai bidang yang digelutinya setelah SMA. Yah, walaupun aku masih memiliki perasaan bahwa dia memilihnya karena ingin menyembuhkanku yang dimatanya tidak waras. Aku memang sering mendapatkan penglihatan-penglihatan aneh, saat kecil aku sering menceritakannya pada Sunny. Dan hanya dia yang percaya dari sekian orang yang mendengarkannya. Bahkan orang tuaku sendiri. Perlahan saat aku percaya penglihatan-penglihatan itu mulai menghilang, tapi Sunny tidak. Walaupun dia tak pernah mengatakannya, tapi aku tahu. Sunny mengenalku lebih baik daripada aku mengenal diriku sendiri.

“Kau tidak bisa kabur dariku setelah ini, Kim Taeyeon.” Itulah pesan terakhir Sunny yang masuk ke ponselku.

*

Aku terjepit antara reruntuhan tas dan besi kursi penumpang dingin yang membuatku merinding tak terkendali. Aku tidak tahu kapan tepatnya, tapi si supir bodoh itu memarkirkan bus di tempat yang sangat strategis—bibir jurang. Aku memang mahasiswa paling teladan di seantero kampus—yang artinya aku bahkan tidak mengerti tempat tujuan study tour ini. Apapun waktu itu yang terlintas di benakku bukanlah; hutan, jurang, bebatuan dan lolongan serigala. Aku setuju mengikuti penelitian ini karena Tiffany, Tiffany dan Tiffany. Ya, fakultas Management-lah yang sesungguhnya wajib mengikuti kegiatan ini. Namun, beberapa murid dari fakultas lain terpaksa ikut karena penelitian atau bahan pembuatan laporan dan sebagainya, tak jauh berbeda denganku—yang kira-kira bedanya hanya aku akan membuat laporan bersampul Tiffany, berjudul Tiffany dan berisi Tiffany.

Aku meregangkan tangan dan menggapai apapun yang dapat kujadikan pegangan. Bus sialan ini oleng ke samping dengan begitu hebat. Semua orang mulai berteriak-teriak panik. Aku berusaha untuk tetap hidup dengan berpegangan pada pipa besi di dekat jendela.

Satu kali bus ini berguling ke kanan dan membuat seisi bus tumpah. Waktu serasa melamban saat aku melihatnya; mahasiswa bodoh mana yang bepergian membawa tang? Seohyun, yang kuketahui sebagai mahasiswi semester dua tengah berjuang keras menyelamatkan temannya yang menjerit-jerit kesakitan akibat kakinya tergencat kursi penumpang yang patah. Oh, malangnya nasib gadis polos itu. Dia begitu baik dan sering membantuku di kelas vokal. Aku hendak memerintahkannya untuk menyingkir saat tang bodoh itu mulai mengintip di balik saku tas yang terkait pipa pegangan, siap menghantam siapapun yang dilaluinya. Aku punya firasat tang itu bakal menyapa Seohyun duluan.

Bus berguling satu kali ke kiri. Berita bagusnya; tas berisi tang sialan itu masuk kembali ke dalam rak. Berita buruknya; tubuhku hampir penyet tertubruk kaca jendela. Berita yang tidak terlalu menarik; aku masih hidup.

Seisi bus berteriak berbarengan. Kepala kami saling bertubrukan saat bus itu berguncang. Aku merasakan hantaman besi dingin pada pelipis kiriku, rasanya ngilu. Aku langsung meraasakan desakan klaustrofobik saat tubuhku berguling dan menyempil di bawah kursi penumpang. Mesin-mesin berbunyi dan berdesir di sekitarku. Aku merasa seperti ada sebuah suara yang entah dari mana memberitahuku untuk tidak bergerak sementara aku meyakinkan diriku bahwa aku masih bernapas. Walaupun aku berusaha untuk tidak menyebabkan kerusakan permanen pada tubuhku, aku masih megap-megap mencari udara di tempat yang sempit ini.

Suara denting besi begitu keras terdengar sekitar satu meter dariku. Aku langsung dapat merasakan adanya ancaman bahaya yang mendekat. Satu dentingan lagi dan jeritan mengerikan dari suara yang kukenal—aku tidak ingin memikirkannya. Bayangan buruk itu tidak boleh benar-benar terjadi. Aku berusaha mengenyahkan segala pemikiran buruk yang melintas di benakku. Namun, jeritan-jeritan itu membuat usahaku sia-sia. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang hangat mengalir di lengan kiriku. Dengan ragu, kuangkat tanganku ke celah yang lebih terang.

Aku menjerit sejadi-jadinya. Selama semenit, kurasa reaksiku agak implusif. Itu bukan darahku. Jeritan itu pastilah hanya sebagai suatu bentuk manifestasi dari ketakutanku. Kuberanikan diri mengintip dari balik kursi-kursi penumpang yang gelap. Aku hampir terkena serangan jantung mendadak. Kucoba menenangkan diri karena pasti menyenangkan sekali menemukan dirimu mati karena serangan jantung alih-alih tertimpa reruntuhan bus yang meledak. Apa yang kulihat di hadapanku kini sungguh sulit dipercaya. Tang tolol yang kupikir sudah lenyap itu kini menancap di tengkorak-nya.

nya. nya. nya. Seohyun.

Cairan merah segar mengucur deras melalui pelipis gadis malang itu. Membuatnya tampak seperti baru saja cuci muka menggunakan darah. Saat ini dia sudah tidak bergerak, kuasumsikan mungkin dia juga sudah tidak bernapas. Aku langsung berdoa berharap segala yang terbaik untuknya di kehidupan selanjutnya.

Setelah kesadaranku mulai kembali, aku langsung memandang berkeliling. Orang-orang sedang sibuk menyelamatkan diri, melewati begitu saja jenazah Seohyun seolah gadis itu tak pernah bersama mereka. Aku tak yakin apalagi yang akan terjadi setelah ini, namun firasatku mengatakan bahwa ini bukanlah akhir, melainkan awal. Prolog dari serangkaian kejadian mengerikan yang akan segera terwujud. Aku langsung merinding memikirkannya.

Aku memutuskan untuk mempercayai firasatku mulai sekarang.

Kematian kedua lebih dramatis. Im Yoona, mahasiswi semester 4 dari kelas theater and art, berada satu meter dari Seohyun tergencet rak bagasi yang ambruk. Guncangan bus yang dahsyat menyebabkan sekat-sekat besi penyangga rak tersebut rantas. Semenit kemudian rak itu pun menghantam gadis tak berdosa yang hendak melihat jenazah temannya, Seohyun. Aku yakin demikian karena sekarang, tubuh mereka tergeletak tak berdaya di lantai bus dan Yoona sempat menggapai tangan Seohyun untuk menggenggamnya. Kini yang terlihat dari tubuh mereka hanya genggaman tangan dibalik reruntuhan rak besi. Aku bertanya-tanya apakah rak itu memang sengaja ingin membunuh Im Yoona saja karena rak yang lainnya tampak baik-baik saja—kecuali yang baru saja menghabisi nyawa Yoona, tentu saja.

Aku belum sempat berpaling dan melihat yang ketiga. Tubuhku gemetar hebat, Sooyoung terpental membentur kaca saat salah satu kursi penumpang yang berjarak satu meter darinya tiba-tiba terlepas dari las-nya. Hal tersebut lantas membuat genangan darah yang muncrat dari tubuhnya sejauh tiga meter. Aku tidak sanggup mendengar lologannya, gadis alim dan sangat taat agama—yang setiap minggu pergi ke gereja, mati tergerus kursi penumpang yang copot. Sooyoung yang malang.

Tapi sepertinya aku tidak bisa terus-terusan mengasihaninya. Belum sempat aku bernapas normal, hal genting kembali terjadi. Yuri, anak dari Fakultas kesehatan—salah satu atlet terbaik yang kami punya, melakukan gerakan kayang yang hebat sebelum tubuh s-line nya mencelat dan menancap pecahan kaca yang amat tajam dan menganga dengan vulgar. Tubuhnya tersayat sedalam—beberapa senti dan sungguh aku tidak mau repot-repot mengukurnya atau bertanya padanya apakah dia baik-baik saja, percayalah. Wajahnya tampak kesakitan sebelum sesuatu yang berkilauan pecah dan melayang kearahnya, menancap tepat pada dadanya. Gadis itu melenguh kesakitan sebelum akhirnya menyerah dan tertidur untuk selama-lamanya.

Betapa aku berharap aku tak menyaksikan semua ini. Kejadian ini mungkin akan meninggalkan trauma mendalam bagiku—itu pun kalau aku berhasil keluar dari sini dan masih bernapas. Dan ya, aku terlalu optimis untuk percaya bahwa aku bakal keluar dari sini hanya bersisakan seonggok daging yang tidak bernyawa. Lagi pula, untuk apa aku hidup? Untuk siapa aku bertahan hidup?

Gadis itu! Aku ingat. Ya, kemana dia sekarang? Dimana dia bersembunyi?

“TIFFANY!! TIFFANY!!” Teriakku, berharap dia akan keluar dari persembunyiannya atau setidaknya menyakinkan diriku bahwa dia masih eksis di dunia ini—walaupun pada dasarnya aku hanya sedang meyakinkan diriku sendiri.

Itu dia! Aku mendapati sweeter merah muda yang dia kenakan. Sedetik kemudian aku baru menyadari apa yang sedang dia lakukan dengan susah payah—kabur lewat jendela. Dengan berpeluh-peluh gadis itu memengayunkan sebatang besi, sepertinya dia sedang berusaha memecahkan kaca jendela tanpa harus melukai tubuhnya. Ya, setidaknya dia harus berada dalam jarak lima meter untuk melakukannya—tapi tidak ada waktu dan tempatnya pun tak memungkinkan. Jadi, dia melakukannya dengan berhati-hati sekali. Tapi sayangnya hal itu tidak menyelesaikan masalah. Bagaimana kau bisa memecahkan kaca dengan gerakan seperti melempar boneka di atas tempat tidur? Sungguh.

Aku ingin menertawainya, tapi aku pasti kelihatan konyol. Aku tidak dapat membedakan apakah caraku tertawa yang begitu konyol, atau aku memang tidak dapat menemukan tempat dan waktu yang lebih tepat untuk tertawa.

Tiffany kelihatan tidak terlalu puas dengan hasil kerjanya yang hanya berhasil menghasilkan sedikit retakan di sudut jendela. Tapi dia mencobanya lagi, dan terus menerus hingga retakan tersebut berubah menjadi pecahan kecil—walaupun tampak seperti cuilan bagiku. Dia tidak berhasil memecahkan kaca tersebut, tapi setidaknya dia bisa menghasilkan sedikit rompalan kecil pada pinggiran kaca tebal itu.

“FANY!” Aku memanggilnya lagi, dan aku harus berterima kasih pada Tuhan atau siapapun yang mendengarkan—karena dia akhirnya menoleh ke arahku walaupun dengan wajah kebingungan.

“Minggir! Aku akan membantumu.” Kataku keluar dari persembunyian dan berjalan dengan berhati-hati menghampirinya. Mencoba menghindari genangan darah, pecahan kaca, atau benda aneh-aneh lainnya—termasuk tubuh-tubuh tak bernyawa yang bergeletakan bebas di lantai.

Dia memandangku skeptis. Ya, aku tidak menyalahkannya. Siapa yang peduli dengan hidup orang lain saat hidupmu sendiri sudah di ambang garis merah? Dia mungkin menganggapku ‘orang lain’ tapi aku tidak. Aku menganggapnya spesial—dan yah, selalu seperti itu. Aku merasakan seluruh sel dalam tubuhku berteriak-teriak, Kau harus menyelamatkannya bodoh! Buktikan padanya keberadaanmu di dunia ini setidaknya sedikit berguna.

Tanpa berpikir panjang lagi, aku langsung menerjang tubuhnya saat sebuah pipa sepanjang tiga meter bergerak maju—atau lebih tepatnya menggelinding dari atas rak dan siap menerjang kepalanya.

SYURRRTT

Tepat sekali! Satu detik saja terlambat aku pasti bakal menyesalinya seumur hidup. Kami berguling dengan eksotis di lantai besi bus yang hampir terbakar. Tiffany memandangiku dan pipa itu secara bergantian. Ekspresinya merupakan campuran dari takut, bingung dan lega. Kemudian tatapannya terkunci padaku—baik, dan bisa-bisanya jantungku berdebar-debar saat genting begini.

Kabar gembira; kami menggelinding tepat di depan pintu. Kabar buruknya; pintu keparat yang menjadi harapan kita satu-satunya itu macet. Yup, macet—tidak dapat berfungsi dengan baik, tersendat, serat atau apalah. Dan aku tidak bisa tidak berpikir betapa kurang beruntungnya kita saat pintu itu macet dalam keadaan tertutup.

Aku meraih tangan Tiffany, “kita harus keluar dari sini!”

Gadis memandangiku tidak percaya, “itulah yang sedang kulakukan dari tadi.”

Ya, dia betul banget dan aku tidak bisa tidak merasa bodoh.

Tapi, aku tidak merenungi kebodohanku lama-lama karena kemudian aku melihat sesuatu yang berbahaya menggelinding ke arah kami—dan sungguh aku tidak mau tahu apa itu. Aku merasa kegelisahanku makin bertambah. Aku sangat lelah, sangat tegang, dan tak bisa memikirkan hal lain selain Tiffany sejak study tour ini dimulai. Kopi adalah kesalahan besar. Aku mengutuk diriku sendiri karena sempat meminumnya pagi tadi. Aku butuh pemicu lagi. Tubuhku sudah gemetar hebat dan napasku tersenggal-senggal, keringat menetes membasahi wajahku.

Tanpa buang-buang waktu, dengan tangan yang gemetaran—kucoba meraih sebatang besi yang hampir menghabisi nyawa kami sebelumnya lalu dengan sisa-sisa tenaga yang kupunya, kulemparkan pada kaca jendela terdekat sehingga menimbulkan suara pecahan yang hebat. Semua orang memandangi kami—dalam keheningan yang mencekam, kami semua bertemu pandang dengan satu pemikiran yang sama. Siapapun yang berhasil sampai duluan, merekalah yang selamat.

5…4…3…2…

Aku langsung menyerbu mereka semua sambil berteriak, “FANY! KELUAR LEWAT JENDELA!!”

Selama beberapa detik, kurasa Tiffany masih belum paham dengan kejadian yang sedang berlangsung di sekitarnya—dan aku benar-benar ingin melemparkannya ke luar jendela agar dia bisa selamat. Tapi aku harus menghalangi orang-orang keparat yang terus-terusan menyerbuku demi mendapatkan kesempatan yang sama seperti Tiffany. Dan aku tidak bisa membiarkan mereka lewat sebelum Tiffany. Karena, yah—aku punya firasat bus ini bakal segera meledak dan kemungkinan selamat dari ledakan tidaklah lebih dari 1%.

“FANYY!” Teriakku lagi, berusaha mendapatkan perhatiannya. “FANY KUMOHON!! LOMPAT!!” Teriakku seperti orang kalap. Sungguh, aku tidak melakukan semua ini agar dia bisa berdiri disitu dan tidak melakukan apapun. Aku mulai merasa kalut saat semua orang mulai mendorongku begitu kuat dan membuatku semakin tersudutkan, sebentar lagi mereka akan sampai di dekat jendela yang pecah dan Tiffany tidak akan mendapatkan kesempatan untuk menyelamatkan diri.

Tuhan mendengar doaku. Tiffany dengan tangkas memanjat kursi penumpang yang masih berdiri kokoh dengan satu kakinya lalu menoleh padaku, “bagaimana denganmu Tae?” dia masih sempat bertanya padaku. Aku merasa seperti baru saja memenangkan lotre.

“Lupakan, aku akan mencari cara. Selamatkan dirimu dulu.”

Dia tampak ragu-ragu namun melompat juga pada akhirnya. Pada saat itu juga kulepaskan peganganku pada kedua kursi dan sebelum kusadari tubuhku sudah terlempar ke sisi kiri sementara semua orang berhamburan menyelamatkan diri lewat jendela. Aku tidak mungkin bisa mengalahkan mereka berebutan melompat. Tenagaku sudah terkuras habis dan yang dapat kulakukan hanya bergelung di kursi dengan lengan nyut-nyutan.

BUM!!

Aku mendengar suara ledakan cukup keras dari arah jendela diikuti dengan jeritan-jeritan yang menyayat. Jantungku kembali berpacu. Tidak. Tidak. Tidak. Tiffany pasti selamat. Kuharap dia dapat berlari cukup jauh untuk menghindari ledakan itu. Meskipun jauh di dasar hatiku aku tahu bahwa hal itu mustahil namun aku tetap berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa dia akan baik-baik saja.

Detik-detik kemudian cukup menegangkan, bagian belakang bus meledak. Mungkin akibat ledakan di luar jendela yang memicu ledakan-ledakan bermunculan di sekitarnya. Ledakan itu cukup membuat telingaku berdengung-dengung menyakitkan. Mataku bertemu pandang dengan Sunny saat gadis itu melayang karena gaya ledakan yang cukup besar—dan tubuhnya yang kecil sama sekali tidak membantu. Yang ada, dia malah terpental dan menatap langit-langit dengan cara yang cukup atraktif. Aku berteriak-teriak memanggil namanya—namun sudah terlambat. Wajahnya menghantam atap bus dengan teriakan melengking yang mengerikan—sekaligus menyakitkan. Aku tidak sanggup melihatnya, sungguh.

Aku berusaha menggapainya saat gaya grafitasi kembali membawanya tetap berada di lantai.

“Taeyeon…” Lirihnya. “Maafkan aku… botol…” Aku tidak sanggup melihat wajahnya, tapi dari suaranya dia terdengar begitu kesakitan.

“Sssh… Aku akan berusaha menyelamatkanmu. Kita akan selamat.” Kataku.

“Kau harus selamat Taeyeon, dan katakan pada Appa, Umma dan Unnie bahwa aku mencintai mereka semua.”

“Hey, kau ini ngomong apa sih? Kita akan sampaikan sama-sama. Aku akan tinggal bersamamu, okay?”

Tidak adanya jawaban dari Sunny adalah tanda-tanda yang paling mengerikan.

“Hey… Sunny… Bertahanlah..”

Namun yang kudapatkan hanya remasan pada genggaman tangan kami dan setelah itu aku tidak dapat merasakan apa-apa lagi—bahkan denyut nadinya. Aku sudah letih dengan semua ini. Bahkan Sunny pun lebih memilih untuk melarikan diri dalam ketidak sadaran selamanya. Apa lagi yang harus kuperbuat? Tiffany sepertinya sudah meledak berkeping-keping dan Sunny—sahabat terdekat yang sudah kuanggap saudara kandungku sendiri pun memilih untuk menyerah. Lalu buat apa aku masih bernapas sampai saat ini?

Dengan emosi yang masih membara, kuteguhkan tekadku bulat-bulat. Aku marah, sangat marah dengan semua ini. Ingin rasanya kuhancurkan bus keparat ini tanpa tersisa. Tidak ada jeritan lagi, tidak ada kesakitan dan segalanya berakhir. Aku ingin mengakhiri semua ini, secepatnya.

Aku bahkan tidak peduli saat sebuah baling-baling tajam yang mengerikan melewatiku begitu saja—mengabaikan fakta bahwa benda itu bisa saja menghabisi nyawaku saat itu juga. Tapi aku terlalu murka untuk memedulikannya. Walaupun aku tak bisa tidak penasaran darimana baling-baling sialan itu berasal. Kepalan tanganku mengeras saat melihat baling-baling itu mengiris leher gadis yang sedang berusaha menggedor-gedor pintu depan dengan tubuhnya. Lengkingan lumba-lumbanya tidak bisa tidak dikenali. Jessica. Sahabat Tiffany—sekaligus teman SMA ku. Dulu kami begitu dekat—sampai hubungan kami merenggang begitu saja, walaupun kami masih berhubungan. Rasanya aneh saja, sejujurnya Jessica adalah gadis yang baik—sangat baik sampai aku tidak mengenalnya lagi.

Genangan darah memenuhi lantai hingga licin. Aku melewatinya dengan tidak peduli—melangkah hendak mencekik siapapun yang menghalangi jalanku. Murka saja tidak cukup untuk menggambarkan bagaimana perasaanku saat ini. Aku yang mendapat penglihatan pagi tadi, dan sekarang aku yang mati paling akhir. Apa-apaan ini? Mengapa takdir mempermainkanku dengan begitu kejam?

Api mulai bermain-main di sudut belakang—saling menyulut hingga yang kulihat di sekelilingku hanya api. Tinggal sebentar lagi saja sebelum mereka menyentuh tabung bahan bakar dan benda ini meledak. Oh, betapa aku sangat menantikannya.

Dan aku benar, jeritan itu mulai mengalir dari punggung bawah lalu naik menyusuri tubuhku hingga akhirnya tersangkut di tenggorokanku. Aku bisu selama sesaat, tersedak kesedihanku sendiri. Bahkan jika aku bisa melepaskan otot di leherku, membiarkan bunyinya merobek udara, apakah akan ada yang memperhatikannya?

Tidak ada, hanya aku sendiri. Ya, hanya aku yang tersisa di sini. Semuanya sudah kabur, meledak atau tergeletak tidak bernyawa dalam lautan darah. Aku jatuh—merasa apapun yang kutiduri ini sangat empuk dan baru kusadari bahwa aku terbaring di atas rumput. Tubuhku pasti terpental dari dalam bus yang meledak dan ajaibnya aku selamat dari ledakan. Mereka semua berusaha menyelamatkan diri dan akhirnya mati sia-sia. Dan aku, tidak peduli apakah aku akan hidup atau mati, dengan tekat bulat menantang maut dan selamat dalam ledakan? Sungguh tidak masuk akal.

Aku berusaha berdiri, puing-puing bekas ledakan berserakan di sekitarku. Pemandangan yang ku harap takkan pernah lagi kulihat seumur hidup. Kubayangkan neraka di sekelilingku. Kudapati langit mulai agak gelap. Debu yang berasal dari ledakan bus menyergap udara membuatku sesak napas.

Aku berada di tengah antah-berantah. Sejauh yang kulihat hanyalah pepohonan, rumput dan bebatuan. Aku mencoba berjalan memasuki hutan, tapi aku hanya berhasil merangkak sejauh tiga meter dari tempatku terlempar tadi. Kakiku terluka parah, sehingga mustahil untukku berjalan apalagi berlari.

Mendadak saja, sesuatu yang luar biasa terjadi. Ledakan mahadahsyat terdengar dari puing-puing bus—kurasa benda itu belum terbakar sepenuhnya. Kupingku berdarah, aku menyadarinya saat kurasakan sesuatu menetes di bahuku. Semenit kemudian hidupku dihabisi oleh sebongkah pintu yang melayang dan menghantamku habis-habisan hingga aku bahkan tak sempat merasakan sakit—tubuhku seringan kapas dan kupikir semenit lagi aku sudah tiba di surga.

-TBC-

~S2

Ps.

Hello? Anybody miss me? :3

*sya, lo narsis bingit sih? biarin :p*

Seharusnya cerita ini cuma bakal jadi 3 part. Sungguh! Draftnya bilang gitu! Sayang, kelihatannya mustahil. Jadi gue bikin berchap aja. Tapi paling juga gak sampe 10 part.

And also! Gue gak janji bisa apdet sering-sering 😀 sebulan sekali aja untung-untungan. Pokoknya, i’ll make it worth the time.

Maksudnya? Kalian gak nunggu lama-lama buat cerita yang gak bagus kan? Aku bakal berusaha sebaik mungkin untuk menulis sebagus mungkin. Yah, termasuk harga yang harus dibayar adalah–nunggunya sampe lumutan 😀 Karena cerita yang bagus gak datang dalam sehari-dua hari ato seminggu aja.. See, JK Rowling butuh waktu? 17 tahun buat nulis HP.. well~ it’s worth the time right? k k k~

Anyway, banyak yang nanya kenapa gue gak pernah balesin komen?

Gue bakal balesin kritik dan saran kalian di chap-chap selanjutnya, (i mean.. kritik dan saran sungguhan kayak yang di Gone With The Wind, bakal gue balesin di Come in With The Rain)

Ok~ it’s time.. thanks for waiting and reading although i might be annoying sometimes :p

Sampai jumpa di part selanjutnya~

~Sasyaa95

Iklan

35 thoughts on “Fatal Frame Part 1”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s