SNSD, SOSHI FF, Thriller

Short-Story #1

depression

. .

~S2 Present~

AKU MELIHATNYA. Duduk di antara bebatuan kolam ikan sambil menatap kosong genangan di dalamnya. Aku ingin berteriak dan melawan, namun itu sama-sekali tidak membantu. Rasa perih mulai menjalari pergelangan tanganku saat besi dingin memborgol kedua tanganku. Makhluk-makhluk keparat berbaju putih dengan sigap mengangkut tubuhku ke dalam penjaraku—lagi. Ada jeda sesaat sebelum aku berhasil mencapai sudut kaki meja di depan tempat tidurku. Saat mereka sudah menghilang dari jarak pandang, kugigit kunci kecil yang dengan susah payah kuambil lalu kubuka borgol itu dengan mudah. Mereka tidak mungkin bisa membodohi mantan pengawal kepresidenan, kan?

Aku berlari. Tidak banyak penjaga yang harus kubereskan. Kebanyakan dari mereka sedang sibuk pergantian shift sore. Semakin dekat! Aku tampak kepayahan. Satu gambaran dariku yang tak pernah ingin kutunjukkan padanya.

Nyata atau tidak nyata? Aku duduk di sampingnya. Mengagumi parasnya seperti yang selama ini selama ini tak pernah absen kulakukan. Mata coklatnya menatapku intens. Kucoba mengorek sedikit informasi tersirat yang ada di dalamnya. Dia selalu menyembunyikan banyak hal dariku, tapi matanya tak pernah berbohong. Itulah caranya, saat dia terlalu sedih berbicara, matanya yang akan membantu.

Dia tersenyum. “Kau kabur.” Dia bahkan tidak repot-repot bertanya.

Aku tak melepaskan tatapanku, begitu pula dengannya. Saat kuharap ada sedikit keajaiban yang membuatku semakin percaya, namun yang kulihat dalam matanya hanya keraguan dan ketidakpastian yang membuatku semakin ketakutan. “Adakah yang baru dalam hal itu?”

“Kau harus berhenti melakukannya.” Dia mengalihkan muka, menyadari bahwa aku tengah berusaaha membaca matanya.

“Atau apa?” Aku menantangnya.

“Atau aku akan berhenti menemuimu lagi.”

Satu kalimat yang berhasil membuatku ingin mencari lemari kecilku yang aneh berisi pakaian bulu untuk bersembunyi. Tempat itu suram dan sunyi dan tak mungkin ditemukan. Aku ingin bergelung, membuat tubuhku menciut, berusaha menghilang sepenuhnya. Pemikiran itu membuatku ketakutan dan tidak ingin pergi kemana pun.

Kubungkus diriku dalam keheningan, kuputar-putar gelangku yang bertuliskan GANGGUAN MENTAL besar-besar. “Kau harus membantuku keluar.”

Namun jawaban yang kuperoleh hanya senyuman mematikan. Dan baru kusadari artinya; itu tidak mungkin. Sebelum tangan-tangan berseragam putih itu kembali membawaku entah kemana. Aku mencoba meronta—namun satu tatapan dari matanya membuatku tenang.

Perlahan, saat dia menghilang dari pandangan aku mulai lepas kendali seperti orang kalap. Hal terakhir yang kuingat adalah sebuah suntikan mematikan di lenganku dan bisikan kecil di telingaku, “kau harus berhenti ngomong sendiri, gadis malang.” Kemudian aku menghilang dalam pelarian ketidaksadaran.

Aku berubah menjadi seekor burung. Menyala, terbang di ketinggian tak terbatas. Saat sayapku mulai lemah kepakannya, aku kehilangan ketinggian, dan gaya gravitasi menarikku ke laut berbuih. Orang-orang yang kusayangi terbang laksana elang di atasku. Malayang, meliuk, memanggilku untuk bergabung bersama mereka, tapi air laut memenuhi sayapku, membuatku tak dapat mengangkatnya.

Tangan-tangan berseragam putih berada dalam air, menjadi makhluk-makhluk berisik yang mengerikan dan mencabik-cabik kuliku dengan gigi tajam mereka. Menggigitku berkali-kali. Menarikku ke bawah air dari permukaan.

Burung putih kecil bebercak pink meluncur dari atas, menancapkan cakarnya di dadaku, berusaha menahanku tetap mengambang. “Jangan Taetae! Jangan! Kau tak boleh pergi!”

Tapi mereka yang berseragam putih menang sekarang, dan jika dia memegangiku terus, dia juga akan ikut dengaku. “Fany, lepaskan!” Dan akhirnya dia pun melepaskannya.

Jauh dalam air, aku ditinggal seorang diri. Hanya ada suara napasku, butuh usaha yang amat besar untuk menghirup air, dan mengeluarkannya dari paru-paruku. Aku ingin berhenti, aku ingin menahan napasku, tapi air laut memaksa masuk dan keluar tanpa kukehendaki. “Biarkan aku mati. Biarkan aku mengikuti yang lain,” aku memohon pada siapa pun yang menahanku disini. Namun tak ada jawaban.

Aku terperangkap selama berhari-hari, bertahun-tahun, atau mungkin berabad-abad. Mati, tapi tidak dibiarkan mati. Hidup, tapi sama saja dengan mati. Aku merasa sendirian. Tak ada jalan kembali. Perlahan-lahan, aku terpaksa menerima siapa diriku. Gadis tanpa sayap yang menderita gangguan jiwa parah. Tak ada lagi Tiffany.

1012267_705161962851097_1342174165_n

Terinspirasi dari salah satu adegan dalam novel Mockingjay. Suzanne daebak!

Tercipta dari sebuah pemikiran yang kacau, absurd dan gila.

Iklan

34 thoughts on “Short-Story #1”

  1. Wash daebak thor😆
    Disinie yg jd karakter pette siapa thor?
    film favorit aq itu,
    diangkat jg kdm ff ia😊
    sangat suka, maen castnya taeny

  2. Hello author, suka sama ceritanya, ada feel seperti novel daripada ff hehe
    tapi it is good…
    Menampakkan ke Licksmithanmu secara jelas haha
    Author yang locksmith boleh request ff soosun tidak? hehe

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s