One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Love, That One Word

i love you

Created by: Kapten Kaoru {~K2] (@valerinsini)

Genre: Yuri, Love story

Warning: Yuri (Girls x Girls)!!!

BGM:  My Confession – Afgan| That one word, Love – Taeyeon

Happy Reading

.

.

.

                Aku hanya salah satu dari ribuan orang yang mengagumi keindahan ciptaan Tuhan, salah satu dari ribuan bintang kecil di langit yang menghiasi angkasa. Bukan salah siapun jika dia tidak bisa melihatku atau jika dia tidak memilihku suatu saat nanti. Mungkin lebih baik seperti ini.

          Aku bukanlah sebuah lilin yang menyala di tengah kegelapan, karena  aku hanya sebuah bintang-bintang kecil yang mengitari bintang kejora di langit yang gelap. Aku bukan sesuatu yang mencolok sehingga mudah untuk dilihat.

         Melihatnya tersenyum padaku pun aku rasa sudah cukup bagiku, walau dia selalu menunjukan senyum manis itu ke semua orang yang dia temui. Kadang aku merasa dia memperlakukanku berbeda dengan orang lain. Tetapi aku tidak berani untuk beranggapan seperti itu, aku terlalu takut untuk patah hati kalau melihat kenyataan bahwa dia hanya sekedar bermain-main denganku.

         “Kau sendirian? Bolehkan kalau aku duduk disini?”

       Aku menghentikan aktivitas makanku dan mendongak untuk meyakinkan kembali siapa si pemilik suara yang familiar ditelingaku. Tiba-tiba aku benar-benar lupa bagaimana caranya bernapas. Dadaku sesak, udara yang aku hirup tidak mau memenuhi paru-paruku. Jantungku berdetak lebih kencang seperti mau meledak.

         Dia ada dihadapanku.

         “Y-ya.” Kataku gugup, “Ya. Kau boleh duduk disini.”

   Aku melirik sekilas saat dia tersenyum sebelum aku menundukan untuk menyembunyikan kegugupanku. Aku yakin, wajahku memerah saat ini. ini adala kali pertama dia berbicara denganku dan bereada sedekat ini denganku.

         “Uh! Kenapa makanan disini gak pernah berubah? Membosankan! Ppany-ah, apa kau suka?”

     Bagaimana dia tau namaku? Setahuku, kami tidak pernah kenalan secara resmi. Memang kami menjadi teman sekelas, tetapi aku rasa dia tidak pernah memanggil namaku sebelumnya.

       “Aku sangat suka. Ini mengingatkanku dengan suasana rumah.“ Aku membalas tatapan gadis pujaanku. “Bagaimana kau bisa makan begitu lahap ? Baru saja kau mengatakan kalau kau tidak suka makanan itu.”

      “Hahahaha~” Dia tertawa kencang, ”Aku sangat lapar, Ppany-ah. Test matematika tadi pagi menguras seluruh energiku. Kau tahu? Aku hampir pingsan lemas karena soal-soal gila itu. Ada satu soal yang benar-benar menyita seluruh pikiranku. Aku benar-benar gak tau harus jawab apa.”

         “Apa kau sangat-sangat lapar?”

     “Sangaaaat, Ppany-ah. Bahkan aku rasa aku butuh porsi sangat-sangat besar yang melebihi badanku sendiri.” Jelasnya dengan mata yang berbinar-binar. Aku sangat suka melihat dia seperti ini, bersifat kekanak-kanakan tetapi bisa menjadi dewasa dalam beberapa hal. Ingat, Hanya dalam beberapa hal saja.

       “Kau boleh mengambil bagianku.” Aku mendekatkan piringku agar dia bisa mengambil makananku, “Kalau kau mau, kau boleh mengambil semuanya.”

         Dia menatapku sejenak sebelum dia berteriak lagi, “Horeeeeee~”

       Dia menukarkan piring yang dia punya dengan piringku. Aku melihat dia begitu ceria dan dengan lahap memakan makanan dari piringku.

        “Aku gak mau kau kelaparan, jadi kita bertukar piring. Sejak tadi aku tergoda makanan yang ada dipiringmu. ah! Ternyata enak juga.”

       Aku memakan makanan yang dia berikan sesekali melihat keceriaan yang terpancar dari wajahnya sembari mendengarkan celotehan-celotehan lucu yang dia buat.

        Sejak pertemuan hari itu, kami jadi semakin dekat. Dia duduk tepat didepan bangku yang aku duduki, bangku nomor dua dari pojok belakang sebelah kiri. Walaupun terkadang dia meninggalku sendirian saat istirahat, tetapi dia berusaha untuk berada disekitarku seperti ketika kami melakukan pelajaran olahraga di lapangan.

         Dia bukan gadis yang populer di sekolah kami. Dia hanya gadis sederhana yang begitu aktif mengikuti organisasi sekolah. Hal yang paling penting adalah gadis sederhana yang berhasil mencuri hatiku dan membuat aku benar-benar ingin memilikinya.

   “Ppany-ah, aku punya sepeda baru dan kau harus mencobanya. Aku akan mengantarmu pulang lalu kita bermain di taman kota.” Tiba-tiba dia menyambar tanganku tanpa menunggu jawabanku. Aku mencoba mengimbangi langkah kakinya yang cepat sambil menahan rasa sakit pergelangan tanganku yang dia genggam begitu erat.

        “Tapi aku gak bisa naik sepeda.”

    “Aku akan mengajarimu sampai kau bisa. Ingat, sampai kau benar-benar bisa naik sepeda!”

         Aku hanya bisa menuruti apa yang dia inginkan. Apapun yang bisa membuatn gadis pujaanku bahagia, aku akan berusaha melakukan dengan senang hati. Aku memang bodoh karena hanya bisa mengalah dan menuruti semua keinginannya. Inilah caraku untuk menumbuhkan rasa cintaku untuk gadis pujaanku, dengan cara-car yang terkadang menyiksa diriku sendiri.

        “Tangan!” Aku menunjukan tanganku saat kami sudah menaiki sepeda.  Dia menarik dan melingkarkan tanganku di pinggangnya, “Pengangan yang erat ya, demi keamanan. Aku juga belum mahir mengendarai sepeda.”

         Aku memeluknya. Aku memeluk orang yang aku cintai untuk pertama kali. Perlahan aku memejamkan mataku, menikmati harum tubuhnya dan kehangatan yang aku rasakan melalui pipiku, membiarkan jantungku berdetak lebih kencang. Aku bahkan tidak peduli lagi kalau nanti jantungku akan meledak seketika itu juga.

         “Bisakah kau ambil jalur tejauh menuju taman kota?”

         “Apa?”

    “Bisakah kau ambil jalur tejauh menuju taman kota?” Aku sedikit mengencangkan suaraku agar dia dapat mendengar apa yang aku katakan. “Aku ingin seperti ini lebih lama lagi.”

       Aku mengutarakan apa yang menajdi kemauanku. Aku sudah tidak peduli apakah setelah ini dia akan menjauhiku karena permintaanku yang aneh, atau yang lebih parah lagi dia tahu kalau aku menumbuhkan cinta untuknya. Aku memeluk tubuh gadis pujaanku lebih erat lagi, membiarkan seluruh energiku untuk mencintainya mengalir deras dalam nadiku. Aku tidak tahu dengan cara apa aku akan mengungkapkan perasaanku. Jika hari ini dia menjauhiku karena permintaanku ini, hal yang paling penting adalah bahwa aku pernah memeluk gadis pujaanku tanpa aku bisa mengutarakan perasaanku padanya.

         Dia melambatkan laju sepeda kami. Sepertinya dia juga enggan mengakhiri ini semua.

         Aku tidak melepaskan pelukanku sedetikpun sampai kita berhenti di taman kota. Aku turun dari sepeda dan melihat wajah gadis pujaannku memerah. Suasana mendadak canggung dan dia mendadak kehilangan kata-kata.

    “Hm… apa aku ingin mencoba sepedaku sekarang?” Katanya malu-malu sambil mengusap-usap butt. Aku menggeleng. “B-baiklah. Aku akan membeli eksrim. Kau tungu disini.”

     Baru kali ini aku melihat dia gugup seperti ini. Sepertinya dia sudah tahu tentang perasaanku. Kalau dia sudah tahu, mengapa dia tetap baik padaku? Apakah…

         “HOI!” Sebuah eskrim tiba-tiba muncul dan membuyarkan lamunanku. “Gadis cantik dilarang melamun di sore hari. Nanti diculik orang loh.”

     “Kalau penculiknya imut sepertimu, aku rela diculik dan aku tidak mau kembali hahaha”.

         Hanya terdengar tawaku, dan dia lagi-lagi terdiam. Entah, aku ingin tahu apa yang dia pikirkan tentangku. Apakah dia melihat kearahku atau hanya menganggapku teman biasa seperti yang lainnya. Dia selalu tertawa jika bersamaku, membantuku jika ada kesulitan dan mendadak murung ketika aku tidak bisa pulang bersamanya.

        “Melamun lagi.” Dia menyentuh pundaku dengan sedikit tenaga.

         “Aku hanya memikirkan beberapa hal.”

         “Beberapa hal? Seperti?”

         “Ah! Apakah kau pernah jatuh cinta dengan seseorang?”

       “Pernah. Aku pernah mengagumi laki-laki yang merupakan senior ekskul basket, tetapi aku gak pernah bisa mengungkapan perasaanku padanya. Kenapa? Kau sedang jatuh cinta?”

       Iya.  Dan aku mencintamu, “Entahlah. Aku gak tau apa atau bagaimana rasanya cinta. Bahkan aku juga gak tahu apakah yang aku rasakan ini cinta atau hanya sebatas mengagumi saja.”

         “Apakah jantungmu berdetak kencang ketika bersamanya?”

         Aku menoleh menatap wajahnya sebelum aku mengangguk.

       “Apakah kau selalu memimpikannya dan berharap dia adalah orang yang membuatmu tertawa?”

         Aku mengangguk lagi.

         “Apakah kau begitu dekat dengannya?”

         Aku berharap ini pertanyaan terakhir yang membuatku mengangguk.

         “Apakah orang itu aku? Apakah kau mencintaiku?”

        Seketika kau memalingkan wajahku. Aku tidak berani menatap matanya lagi, sepasang mata yang akan menangkap basah aku dari kedua mataku.

       “B-bukan. Aku rasa itu bukan kamu.”

      “Ah.. begitu ya. Apa aku mengenalnya? Coba katakan Ppany-ah, Kau jatuh cinta dengan siapa?”

         “A-aku.. Sepertinya aku harus pulang. Aku takut mom mencariku.”

       Aku berjalan meninggalkan dia yang masih duduk di bangku taman. Aku lebih memilih untuk menghindari pertanyaan yang dia ajukan.

         “Hey Ppany-ah! Tunggu aku!”

    Sejak saat itu, dia selalu mengikutiku kemanapun. Dia selalu memintaku untuk menemaninya kemanapun, tampak seperti dia tidak mengijinkan aku dekat dengan siapapun tanpa pengawasannnya.

        Aku benar-benar tidak punya keberanian untuk mengutarakan perasaanku, walau ada beribu kesempatan untuk mengatakannya. Satu kata itu susah diucapkan ketika aku memandang matanya, berada disisinya ataupun tertawa bersamanya. Dia sudah mendengar banyak tentang rahasiaku. Tetapi untuk mengatakan satu kata itu, aku rasa aku tidak akan pernah sanggup. Aku lebih memilih untuk menyimpan perasaanku entah sampai kapan. Mungkin sampai aku benar-benar siap kehilanganmu kalau saja kau menolaku dan enggan melihatku lagi setelah aku menutarakan perasaanku..

         Kim Taeyeon, kau benar-benar membuatku gila.

***

         “Wah, Ppany-ah. Kenapa kau tidak mengatakan kalau kau menyukaiku sejak kita ada dibangku sekolah? Bagaimana kau bisa menyimpan cinta untuku selama itu?”

         Taeyeon meletakan buku merah muda yang baru saja dia baca tepat disebelah meja tempat Tiffany berbaring tidak sadarkan diri.

        “Kupikir aku yang begitu lama menyimpan rasa untukmu, ternyata kau yang lebih dulu menyukaiku. Ppany-ah.. Maaf aku tidak mneyadarinya sejak dulu. Cepatlah sadar dan aku berjanji akan mencintaimu lebih baik dari kemarin.”

        Taeyeon bangkit berdiri. Dia mencium kening, mata yang terpejam, dan mengecup  bibir Tiffany lama. Deru napas Taeyeon menerpa wajah Tiffany, berharap Tiffany cepat sadarkan diri dan kembali padanya.

         “Bangunlah, Ppany-ah. Aku ingin kau mengejarku dan marah-marah padaku karena aku membaca tulisan di halaman pertama buku harian kesayanganmu.” Taeyeon menahan airmatanya. Dia tidak boleh sedih bahkan menangis dihadapan Tiffany.

         “Hahaha.. kalau kau tahu aku melakukannya, kau pasti tidak akan membiarkan aku hidup. Benarkan? Kau selalu menolak ketika aku ingin membaca buku harianmu. Semakin lama kau tidak sadar, semakin banyak tulisan yang akan aku baca. Rahasiamu semakin terbongkar dan aku tentu saja akan mengejekmu ketika kau sadar nanti.”

       Sebutir air mata Taeyeon jatuh tepat di pipi Tiffany, “Aku mohon, buka matamu untukku.”

FIN

Eyy~ ini bukan songfict loh ya. Berhubung aku bingung judulnnya mau kek gimana, ya udah deh pake judul lagunya Taeyeon yang paling baru soalnya mirip-mirip dikit sm lagunya. Udah pada dengerin belom? aslilah itu lagunya asdfghjkl!!

Iya aku tau ceritanya biasa aja. tolong itu yang dipojokan(?) berhenti dulu ngepelnya ini kaoru mau ngomong! “kapten, kenapa sih oneshoot terus? Berchapter napa?” hm.. sebelum aku jawab pertanyaannya. Aku mau kabur  dulu ya wkkk paipai!!! #jedotinkepalakedadasica

Thank You

Kapten Kaoru

Iklan

53 thoughts on “Love, That One Word”

  1. Sekian.. gomawoyo chapten nyempetin nulis oneshoot taeny..
    Aq msh ambigu untuk baca ini.. heheheh^^ mian thor.. cz alurnya cepet bwgd.. jd belum tau.. fanya knp ga bs bangun? N tae ternyata hanya baca buku harian pany.. itu tuh cepet aja.. ia begitu doank..

    Aq bukan pengamat.. hanya reader yg menikmati hasil tulisan author.. krna dikolom ini sy bs ngebacot tanpa dipungut biaya.. well aq suka, why not^^

  2. Sekian.. gomawoyo chapten nyempetin nulis oneshoot taeny..
    Aq msh ambigu untuk baca ini.. heheheh^^ mian thor.. cz alurnya cepet bwgd.. jd belum tau.. fanya knp ga bs bangun? N tae ternyata hanya baca buku harian pany.. itu tuh cepet aja.. ia begitu doank..

    Aq bukan pengamat.. hanya reader yg menikmati hasil tulisan author.. krna dikolom ini sy bs ngebacaot tanpa dipungut biaya.. well aq suka, why not^^

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s