FF, SNSD, SOSHI FF, Thriller

Fatal Frame Part 2

fatal-frame1

“Sang pengkhianat yang mencurangi kematian, bersiaplah!

Mereka datang untuk menghabisimu”

~S2 Present, horror-thriller, Yuri~

Copyright © 2014, Sasyaa95

~

Happy early birthday Tiffany Hwang :* love ya~TaeTae

Happy early 7th birthday GG!!! Here’s come trouble!

Happy TaeNy day LS~!

KRIIIIIIIIING!!!

Aku terjungkal dan merasa tubuhku menyentuh lantai yang dingin. Jantungku masih berpacu dan tanganku gemetaran. Kusadari kemudian bahwa aku tengah menggiggil hebat. Aku duduk bersila, mencoba mengatur ritme napasku kembali normal. Setelah beberapa menit berselang, kupaksakan kakiku untuk berdiri walaupun masih cukup sulit.

Jam waker masih berbunyi nyaring dan aku mengabaikannya hampir selama sepuluh menit. Saat lolongannya semakin melengking, kuraih dan kutekan tombol off sampai suara menyebalkan itu benar-benar lenyap dan kuletakkan persis seperti sebelumnya. Kemudian, aku menatapnya lekat-lekat.

13 Juni 2014

Hari ini seharusnya study tour itu dilaksanakan. Kubiarkan sejenak otakku bekerja. Dua kali sudah aku dipermainkan oleh mimipi. Apa-apaan ini? Kecelakaan di tambang itu lalu bus yang tiba-tiba oleng dan meledak?

  1. 30

Dua setengah jam lagi bus akan berangkat.

Kejadian itu masih terekam jelas di otakku dan kini telah berhasil menghantuiku setengah mati. Masih ada waktu, pikirku.

Aku langsung menyambar ponselku dan berlari menuju rumah sejauh tiga blok dari sini. Aku belum mandi dan keringatku sudah berkucuran deras karena berlari. Sebelum aku menyadarinya, kakiku kini sudah menyentuh karpet merah jambu bertuliskan ‘welcome’ yang sudah dua kali tanpa sengaja kuinjak sebelumnya. Kutekan bel berkali-kali dengan tangan gemetar sambil berdoa semoga aku masih punya kesempatan untuk menyelamatkannya.

Gadis yang kutunggu-tunggu pun akhirnya membukakan pintu. Lalu, kusadari beberapa saat kemudian bahwa ia tengah cemberut.

“Taeyeon?” Tanyanya dengan wajah lucu. Aku tidak bisa tidak memperhatikan bibirnya yang manyun hingga kurasakan hasrat yang begitu kuat untuk mengecupnya. “Apa yang kau lakukan disini?”

“Aku…..” Aku tidak bisa menjelaskannya, yang pasti jangan pergi melangkah ke bus itu karena aku telah melihatnya menghancurkan tubuhmu menjadi berkeping-keping semalam.

Aku tidak dapat mengatakannya kan? Aku sudah pasti bakal dianggap tidak waras. Aku membeku di tempat, otakku mendadak kopong. Bagus, lalu sekarang apa yang harus kulakukan?

“Tae?” Tiffany mengamatiku lekat-lekat lalu kudengar dia tertawa. Aku suka caranya memanggilku. “Study tour masih dua seperempat jam lagi. Kurasa kau harus bersiap-siap sekarang.”

Oke, apa ada hal yang paling konyol dari pada berlarian seperti orang kesetanan masih dengan menggunakan piyama?

“Kau cantik seperti singa yang bangun kesiangan.” Komentarnya.

Aku tentu saja tidak bisa tidak merasa malu. Dan balasan yang kulontarkan begitu cerdas, seperti. “Uh, mmhh.. Anu.. Em..” Aku tak dapat menyangkal fakta bahwa aku merasa kupu-kupu beterbangan di perutku saat dia berkata bahwa aku cantik meskipun bagian singa bangun kesiangannya lebih baik dihilangkan saja.

Tiffany kembali tertawa, namun kali ini diselingi dengan tepuk tangan. “Oh, ayolah Taeyeon. Kau tidak mengira gosip yang beredar di kampus itu benar-benar nyata kan?”

“Gosip?” Kali ini aku benar-benar merasa bodoh dan tidak gaul.

“Yah, aku sudah mendengarnya beberapa kali dan kukira itu hanya bualan mahasiswa manajemen belaka karena aku tidak berpikir demikian tentangmu.”

Aku memekik, “aku?”

“Oh, ayolah.. masa kau tidak dengar sih?”

“Apa yang kau bicarakan Fany?”

Kubuat ekspresiku benar-benar serius sekarang. Aku merasa seperti alien yang baru menginjak dunia manusia. Apakah aku terlalu mengurung diriku sendiri hingga tidak mendengar gosip apapun tentang diriku? Masalahnya adalah, disini diriku yang dibicarakan, bukan orang lain. Tapi diriku? Yang benar saja.

“Taeyeon, kau tidak benar-benar menyukaiku kan?”

Saat itu juga kurasakan jantungku merosot sampai ke perut. Aku benar-benar berharap tanah akan membuka dan menelanku dalam-dalam.

Namun aku tertawa walaupun terdengar ganjil dan konyol. “Apa sih yang kau bicarakan?”

Sayangnya Tiffany menyadari hal itu. Kucoba memutar otak untuk mendistorsi pernyataanku yang sebenarnya. “Aku sakit.”

Bagus, sekarang dia semakin menganggapku gila. Gadis yang menggedor-gedor pintu rumahnya pagi-pagi sekali, masih menggunakan piyama dan mengatakan dirinya sakit. Oh, aku pasti sangat sakit.

“Maksudku, aku.. yah jika kau tidak keberatan untuk menjagaku seharian ini karena Sunny.. eh, ya.. Sunny dan yang lain mengikuti study tour.. jadi…” Aku mulai kehilangan kata-kata. Aku bodoh. Yah, bodoh banget.

Tiffany masih tidak menjawab perkataanku namun dari tatapannya kutahu dia menganggapku sedang bercanda atau apalah. Aku baru menyadari bahwa dia tengah menungguku melanjutkan kata-kataku.

“Jadi.. maukah?”

Tiffany mendesah panjang, “bukannya aku menolak hal itu Taeyeon, tapi bukankah study tour itu dikhususkan untuk Manajemen? Sementara Sunny dan Sooyoung bahkan bukan anak Manajemen, jadi… kau tahu kan maksudku..”

Kurasakan wajahku jatuh. Yah, alasanku memang terdengar irasional ditilik dari segi manapun. Yah, kecuali jika perihal menyukainya diam-diam tidak diikutsertakan. Aku merasa sehat walafiat, tidak merasa pusing atau mual sedikit pun. Sebodoh apa aku hingga mengira Tiffany akan mempercayai kata-kataku?

Aku memikirkan segala alasan masuk akal yang mungkin bisa kulontarkan hingga mataku menangkap sesuatu di atas meja. Segelas kopi, mungkin sisa kemarin karena terdapat bercak pink bibir di sisinya yang berwarna putih. Tidak adanya kepulan asap menguatkan dugaan tersebut.

Aku tidak pernah bisa bertahan dengan kopi. Cairan itu selalu membuat tubuhku lemas seperti tersedot lubang hitam. Jantungku akan berpacu sangat cepat dalam waktu tiga menit setelah tetes terakhir. Hal itu memicu keringat dingin membasuh tubuhku seolah aku tengah berlari marathon selama lima jam non stop.

“Bisakah setidaknya aku masuk?” Tanyaku setelah jeda beberapa saat.

“Baiklah, jika itu maumu. Tapi aku harus bersiap-siap.” Tiffany dengan ragu-ragu memberiku celah untuk lewat. “Aku tidak janji bisa menemanimu Taeyeon, aku minta maaf jika terdengar kasar. Tapi Micky akan menjemputku satu jam lagi.” Suaranya terdengar dalam dan penuh penyesalan. Aku langsung merasa bersalah atas keributan yang sudah kuciptakan pagi-pagi buta begini. Tapi ini demi kebaikannya! Aku tidak bisa membiarkannya mati sia-sia di dalam bus sialan itu. Abaikan soal Micky, dari awal aku tidak pernah menyukai perangainya. Cowok asing pindahan yang mengerti sedikit bahasa Korea namun sangat angkuh. Hari pertama kedatangannya di kampus sudah berhasil membuat gempar dengan Lamborghini SUV merah keluaran terbaru yang terparkir di parkiran khusus staff. Beberapa hari kemudian aku mendengar kabar bawa ayahnya adalah sepupu pemilik yayasan dengan saham terbesar. Semua orang menyeganinya, kecuali aku tentunya. Aku tidak pernah berpura-pura menyapanya saat kami kebetulan berpapasan di cafetaria atau koridor sekitar kampus seperti anak-anak lainnya. Aku hanya melontarkan tatapan mematikan padanya—terlebih setelah kabar jadiannya tersebar luas. Dan kini aku tahu dia adalah ancaman terbesar yang tidak boleh diselamatkan.

Yang kutahu pasti, Micky bukan mahasiswa Management. Tidak pernah jelas apa prodi yang dipilihnya, namun dia selalu bermunculan di tempat-tempat yang membuatku muak. Dia bahkan hampir memaksaku melempar kaleng diet coke ke wajahnya saat hidungnya mendadak terlihat femmale locker—yang membuatku heran adalah dia berhasil membuat semua gadis yang tengah ganti baju berteriak kegirangan sebelum kuseret lengannya keluar.

“Aku akan pergi setelah kau ganti baju.” Tawarku, “tapi jika kau tidak keberatan, bisakah kau membawaku serta?”

Tiffany terpaku keheranan. “Kau mau pergi menggunakan piyama?”

Pertanyaan yang bagus. Ini jelas-jelas bukan gaya terbaru dalam peraturan kampus yang membolehkan  mahasiswanya mengikuti study tour menggukanan sepasang piyama biru despicable me? Rambut yang berantakan dan bau keringat juga bukan merupakan nilai tambah buatku.

Namun, trik itu tidak akan berhasil jika aku dalam kondisi sudah mandi! Pikirku.

“Em… kurasa aku akan menemui Sunny dan memintanya untuk menjagaku sementara waktu.”

Tiffany tampak tidak menghapus keraguan dalam tatapannya. “Aku tidak mengerti. Bukankah membutuhkan waktu lebih lama untuk berjalan kemari dari pada ke rumah Sunny?”

Death lock.

Perihal kecerdasan Tiffany di kampus memang sudah tidak diragukan lagi. Namun, terkadang masih membuatku tercengang bagaimana dia bisa berpikir sangat cepat dan logis dalam waktu yang bersamaan.

“Yah, mungkin Sunny bisa mengajak serta Sooyoung.”

Walaupun aku yakin Tiffany masih belum sepenuhnya percaya dengan jawabanku yang asal dan terdengar ganjil. Namun aku bersyukur karena dia tidak berlama-lama mendebat. Micky akan tiba kurang dari satu jam lagi. Aku tidak ingin menahan Tiffany disini karena itu artinya mau tidak mau aku harus menahan pria sialan itu juga. Dia tidak akan pergi jika Tiffany tidak pergi, aku punya firasat bahwa Tiffany adalah tujuan utamanya.

*

Menunggu sebenarnya bukanlah hobiku. Namun kegiatan menunggu Tiffany selesai ganti baju merupakan hal yang paling menegangkan. Aku terus-terusan memikirkan bagaimana aku harus membawa Tiffany, Sunny dan Sooyoung keluar dari maut.

“Kau yakin mau pergi dengan itu?” Suara Tiffany mengagetkanku.

“Jika kau mungkin keberatan meminjamiku sesuatu, kurasa aku tidak masalah.”

“Kurasa aku bisa meminjamimu sweaterku.” Tiffany berjalan mendekati pintu, meraih sweater pinknya yang tergantung rapi gantungan. “Jika kau tidak keberatan, aku baru memakainya satu kali. Kupikir orang sakit tidak diperbolehkan berjalan-jalan dengan piyama.” Dia tersenyum lalu mengulurkan pakaian itu padaku.

Aku terharu karena sikapnya yang begitu baik padaku. Kita tidak mengenal begitu dekat, setidaknya tidak seperti aku dengan Sunny atau Sooyoung. Aku hanya kebetulan bertemu dengannya beberapa kali di cafetaria, perpustakaan dan kelas vokal. Namun kebaikannya padaku tak pernah luput membuatku tersentuh. Aku teringat saat dia dengan baik hati menawariku mengambil pudingnya setelah aku hampir mencekik leher Sunny waktu dia menjatuhkan puding terakhir yang tersisa. Atau bagaimana dia membantuku mengambilkan buku sosiologi di rak paling atas—bahkan Sooyoung pun menolak mengambilkan dan malah menertawaiku. Namun, yang paling kuingat adalah bagamana cara dia menatapku di kelas vokal. Dia selalu berkata bahwa aku adalah jelmaan dewi Iris—yang bernyanyi di surga lalu jatuh ke bumi melalui pelangi.

Suara dering nyaring dari pintu mengagetkan kami berdua. “Tiff, sudah siap?”

Sebenarnya, kedatangan Micky bukanlah gagasan yang bagus. Begitu melihatku, dia seolah ingin segera mencekikku. Kurasa gosip yang beredar dari internal mahasiswa Manajemen semakin memperburuk hubungan kami.

“Apa yang dia lakukan di sini?” Itu adalah kata-kata terdingin yang pernah kudengar keluar dari mulutnya.

“Oh Micky, jika kau tidak keberatan dia ingin menumpang kita ke kampus.” Tiffany cepat-cepat menjawab, seolah dia tahu ketidak sukaan pacarnya padaku.

“Kau yakin dia mau ke kampus?” Pertanyaan yang masuk akal. Sesungguhnya aku sama sekali tidak terlihat layak untuk pergi kemana pun, namun ini adalah satu-satunya cara membuatnya tidak jadi mati.

“Dia ingin bertemu dengan Sunny dan Sooyoung.”

“Oh, ya.. tentu saja, dia tidak punya teman lain.” Kata Micky sambil mencibir.

Saat itu juga kurasakan darahku berdesir dengan kecepatan luar biasa. Aku ingin sekali meninju wajahnya, namun hal itu mungkin hanya akan memperburuk akting sakitku.

“Kau ingin duduk-duduk dulu dan minum kopi Mick?” Tiffany sempat melirikku sekilas sebelum menatap Micky. “Aku masih harus bersiap-siap.”

Kopi! Brilian!

“Kurasa itu bukan ide buruk.” Sahutku.

*

Tiga puluh menit berlalu bagaikan neraka. Kucoba menghindari obrolan-obrolan kecil dengan Micky sambil menyesapi kopiku perlahan-lahan. Aku sedang tidak berselera berbaik-baik padanya. Satu-satunya hal yang ingin kulakukan hanyalah meninju wajahnya dan menyeretnya keluar dari tempat ini, tapi aku pasti bakal langsung kehilangan imaj ‘dewi iris yang jatuh dari surga’-ku di hadapan Tiffany.

Berkali-kali aku mendapatkan tatapan aneh dari Micky dan beberapa dari mereka seolah mengatakan, ‘apa-apaan maksudmu datang kemari?’ atau ‘bedebah kecil ini punya nyali juga.’ Sedangkan sebagian lagi bahkan dengan gamblang mengajakku tawuran. Aku pura-pura tidak lihat saja.

Akhirnya, setelah bokongku hampir gosong duduk di kursi panas bak di pengadilan, Tiffany akhirnya keluar juga, walau dengan rambut yang masih setengah basah—terlihat seksi juga.

“Maaf, lama menungguku.” Tiffany memunguti barang-barang yang sudah dipersiapkannya di atas meja. “Jadi, tunggu apa lagi?”

*

Tidak pernah sekali pun dalam hidupku aku bermimpi akan satu mobil dengan hantu jelmaan Mars. Nakal, angkuh, sok berkuasa—tapi sayangnya Tiffany sepertinya cinta setengah mati padanya. Jadi aku harus berbuat apa?

Di samping pemiliknya, mobil lamborghini SUV merah ini lumayan keren. Setahuku, mobil keluaran 2012 ini sebenarnya bernama Deimos. Dalam mitologi, Deimos mengidentifikasikan personifikasi dari ketakutan, kengerian dan teror. Sepertinya dia ingin menampilkan imaj keren dan kuat, namun gagal karena wajahnya yang seperti wanita itu menghianati imajinasinya. Kasihan.

Dengan sweater Tiffany yang sedikit kedodoran, dan tidak mandi selama seharian—dua hari karena kemarin tidak ada kelas dan kerjaanku hanya tidur dan makan. Bagus, sempurnalah penampilanku. Tapi ini tidak penting, buat apa aku datang ke Study tour mengenakan gaun baby blue ala Runway jika nantinya aku bakal mati di dalam bus—meledak—tersambar pintu yang copot.

“Taeyeon, aku tidak merasa bahwa kau sedang sakit.” Ujar Tiffany dari kursi penumpang, menoleh padaku dengan susah payah karena sandaran kursinya dilengkapi bantal super tebal yang menurutku sangat mengganggu—kurasa Micky segaja memasangnya agar siapapun orang yang sedang menumpang di mobilnya tidak terlalu memusingkan perihal apa yang dia dan pacarnya lakukan waktu bermesraan. Oh, betapa aku berharap dapat kuenyahkan pikiran menjijikkan itu dari benakku.

“Aku tidak enak badan, Fany.. Aku butuh bantuan, dan Sunny sepertinya dapat membantuku.”

Kopi memang memberikan efek yang sangat dahsyat bagiku—keringat dingin mulai mengalir perlahan-lahan membasahi punggung sweaterku.

“Baiklah kalau itu maumu.”

“Sepertinya kucing kecil ini memang sakit, kurasa aku tidak keberatan menurunkannya di rumah sakit jiwa terdekat.” Kalau saja sekarang kepalaku sedang tidak berdenyut-denyut menyakitkan, aku pasti sudah melempar sepatu ke hidungnya.

Tiffany tidak berkomentar apa-apa, jadi aku memutuskan untuk tidak menanggapi ocehan tidak masuk akalnya. Lebih baik diam dari pada kehilangan momen berhargaku menyelamatkan Tiffany. Aku masih tidak habis pikir apa yang Tiffany lihat dari setan menyebalkan ini?

Setelah sekitar tiga puluh menit perjalanan menyiksa yang seolah tiada habisnya, akhinya kami sampai juga. Dari sudut mataku, terlihat tubuh mungil dengan jumper jeans dipadu kaus oranye—sudah tidak diragukan lagi siapa pemiliknya. Aku sering melihat pakaian itu secara tidak jelas berserakan di sekitar ruang tamu.

“Hallo Fany, kau tampak cantik dengan baju itu.” Sunny berjalan dengan Sooyoung dibelakangnya masih sempat untuk berbasa-basi. Aku tidak bisa tidak berpikir apakah mereka menyadari bagaimana cara mereka mati di dalam bus setelah berbincang mengenai betapa cantiknya pakaian yang mereka kenakan saat ini.

“Taeyeon? Apa yang kau lakukan di mobil Micky?” Pertanyaan bagus. Aku di mobil Micky adalah hal yang hampir mustahil terjadi, seperti Sooyoung menghabiskan waktu dengan treadmill dan mengabaikan makan gratis di restoran seafood.

“Aku ingin bertemu Sunny. Bukan kau, jadi minggirlah shikshin.”

“Aku?” Sunny melepaskan diri dari perbincangan fashion sebelum mati-nya bersama Tiffany dan berjalan ke arahku dengan kebingungan. “Kenapa kau keluar dari mobil Micky?”

Aku mengabaikan pertanyaan itu. “Sunny aku butuh bantuanmu. Aku sakit.” Kataku tanpa pikir panjang. Aku yakin dia percaya bahwa aku benar-benar sakit. Jiwa.

“Oh, okay. Kau sakit demam atau—.”

“Atau. Jadi, maukah kau ikut denganku sebentar saja?”

“Tentu. Aku sih tak keberatan, tapi.. bajumu… kupikir kau sepertinya belum…”

“Ya. Itu bisa dibicarakan setelah ini. Jadi?” Aku mulai kehilangan kesabaran. Sunny benar-benar tahu cara mempermalukanku di depan umum.

“Baiklah.”

*

“APA?? KAU GILA?” Itu hanyalah seberapa dari seluruh reaksi yang Sunny keluarkan. Aku sudah cukup menduganya, aku tahu dia mempercayaiku tapi aku paham betul bahwa Sunny bukanlah gadis impulsif yang langsung memproses apapun yang baru saja dia dengar.

“Aku tahu aku gila dan bukankah itu hal yang sudah biasa buatmu?” Kataku sambil menatap ke luar jendela. Kami sepakat untuk berbicara di salah satu ruang kelas yang tidak terpakai di belakang halaman.

“Ya.. aku tahu.. tapi tetap saja. Aku tak bisa percaya begitu saja Taeng.”

“Aku juga berharap aku tak mempercayainya.” Desahku. Amarahku sudah memucuk—aku semakin frustasi. “tapi cobalah ingat apa yang tejadi waktu SMP? Aku tidak mempercayainya dan— dan—.”

Wajah Sunny melembut, sambil mengusap punggungku dia tersenyum penuh pengertian. “Baik, baik aku percaya padamu Kim Taeyeon.”

Keheningan mencekam menyelimuti kami selama kurang lebih sepuluh menit. Aku berhenti berbicara cukup lama dan membiarkan Sunny memproses kekacauan ini.

“Lalu apa yang harus kita lakukan?” tanya Sunny dengan suara tertahan.

“Entahlah aku baru kepikiran untuk meyelamatkanmu, Sooyoung dan Tiffany saja.” Jawabku. Terus terang saja, aku tidak kepikiran yang lain lagi.

Sunny tertawa kecil, “Tiffany? Kenapa kau mau menyelamatkannya?” Ada sedikit kilatan nakal yang menari-nari di matanya. Sunny lalu memiringkan kepala, menunggu jawabanku dengan saksama.

Sejujurnya, aku tidak berniat menjawab pertanyaan itu dan mengabaikannya begitu saja, tapi wajah Sunny yang begitu penasaran dengan tulus membuatku mengubah pikiran itu.

“Aku tidak berpikir aku bisa menyelamatkan semua orang.” Jawabku tenang. “dan kau tahu alasan mengapa aku memilih menyelamatkanmu dan Sooyoung, dan mengapa aku mengikutsertakan Tiffany dalam daftarku. Jadi kuharap kau tidak bertanya lagi.”

Aku hendak pergi meninggalkan ruang kelas itu saat kudengar Sunny berbisik nakal.

“Tidak berpikir untuk memasukkan Micky dalam daftarmu?”

Aku langsung berbalik dan memelototinya.

“OH Tuhan! Aku harap dia mati gosong di dalam sana dan aku sama sekali tidak peduli.”

“Baik, aku paham. Jadi, bagaimana kita memberitahu mereka?”

Kata-kata sunny membuatku mengurungkan niat untuk meninggalkan kelas secepatnya.

*

Di sekitar bus, anehnya, sepi. Aku terbiasa melihat kerumunan mahasiswa mengantre di depan mesin minuman ringan atau snack, saling mendorong dan mencomoh satu sama lain. Tapi sekarang tidak ada orang sama sekali. Aku bertanya-tanya ke mana perginya semua orang.

“Loh, kok sepi?” Sunny bertanya dari balik tubuhku. “Sooyoung mana?”

“Jangan tanya aku. Jika aku tahu aku tak akan datang kemari.” Jawabku sambil mengangkat bahu.

Kami berjalan menyusuri sepanjang koridor menuju lantai atas. Efek kopi membuat keringat dingin semakin banyak mengucur dari pelipisku. Seolah-olah ada sesuatu yang tidak kasat mata terus-menerus mengusikku.

“Kau sakit.” Itu bahkan bukan sebuah pertanyaan.

“Kopi.” Jawabku nyaris seketika. Aku tidak perlu banyak berpikir karena aku tidak berniat berbohong pada Sunny, dia berhak tahu segalanya dan yang sebenar-benarnya.

“Kenapa kau meminumnya? Kau kan tahu efek kafein pada tubuhmu seperti alkohol.” Cibir Sunny.

“Kalau aku tidak berusaha sakit, Tiffany tidak akan membawaku kemari bodoh, dan jika aku melewatkannya. Kalian semua pasti sudah mati di sana.”

“Gagasan yang bagus.”

Ketika kami sampai di dasar anak tangga, aku mulai ragu-ragu. Dua lantai di atas akan ada pintu tingkap kecil yang mengarah ke aula. Aku berdiri diam dan berpikir. Namun suara-suara yang masuk dalam telingaku bukanlah apa yang kuduga-duga.

Isak tangis, teriakan dan jeritan.

“Aku mendengarnya, Sunny.” Kataku sambil berusaha menutupi telingaku untuk menghalau suara-suara yang tidak kuijinkan masuk.

Sunny merangkul pundakku. “Kuharap aku dapat membantumu melupakannya.”

“Ayo kita jalan terus saja.”

“INI NYATA!” Suara Sooyoung menggema di seluruh ruangan.

“Tidak masuk akal.” Aku mendengar banyak suara yang menertawainya.

Aku penasaran, orasi apa lagi yang di lakukan gadis pemakan segalanya itu sekarang.

“Sepertinya suara Sooyoung.” Bisik Sunny.

“Yup, bahkan dari jarak sejauh ini aku dapat mendengarnya.”

Aku dan Sunny berjalan berjingkat-jingkat memutar ke belakang tangga. Pintu aula sedikit terbuka. Aku memicingkan mata ke dalam dan melihat Sooyoung berdiri di depan kelas dengan segerumbulan siswa yang mengerumuninya dengan wajah seolah-olah Sooyoung tengah melucu. Sementara di sisi lain, wajah Sooyoung tampak tegang dan serius berbanding terbalik dengan masa yang ada di hadapannya.

Dari gesturenya, Sooyoung tampak begitu frustasi. Dia biasanya seperti itu karena dua hal; tidak di dengar dan tidak dapat makanan. Kurasa pilihan pertama lebih masuk akal. Aku melihat seorang siswa laki-laki mengenakan kaus garis-garis hitam sedang berusaha menenangkan kerumunan masa yang meneriaki Sooyoung.

“Apa yang dia lakukan di situ?” Tanyaku.

“Sepertinya bukan berebut makanan.” Jawab Sunny tanpa banyak berpikir.

Aku dan Sunny memutuskan untuk menunggu di sini sampai suasana mereda—dan sepertinya itu keputusan yang bijaksana.

“Percayalah, kita semua akan mati di bus itu!” Sooyoung berkata dengan kemarahan dalam suaranya.

Aku dan Sunny hampir terlonjak jatuh dari tangga. Dari mana dia mendapat gagasan itu?

Sunny mencengkeram tanganku saat aku hendak menerobos masuk. “Lebih baik kita dengarkan dulu saja.”

Ide bagus.

“Soo..” Yuri berjalan di sampingnya, membisikkan sesuatu dan membuat wajah Sooyoung yang sebelumnya tegang menjadi lebih rileks.

“Terserah jika kalian tidak percaya. Aku hanya ingin menyelamatkan kalian semua. Silahkan pergi dan temui kematian kalian di sana. Aku sudah mengingatkan. Terima kasih atas perhatiannya.” Kemudian semua kerumunan bergumam keras-keras dan berjalan ke arah kami. Refleks, aku dan Sunny minggir dan bersembunyi di balik pintu.

“Aku hanya ingin menyelamatkan mereka Yul, apa itu salah?” Ujar Sooyoung dengan isak yang tertahan.

“Sudahlah, tidak semua orang percaya dengan hal-hal semacam itu Soo.” Kata Yuri.

“Jujurlah Yul, apa kau percaya padaku?”

“Eng..”

“Terima kasih sudah menjadi teman yang baik.” Gumam Sooyoung, dari suara langkah kakinya sepertinya dia hendak keluar aula. Aku merasakan tubuh Sunny mulai menegang di sebelahku.

“Bukan begitu Soo, aku—aku memang tidak percaya pada apa yang barusan kau katakan. Tapi aku janji aku tidak akan masuk dalam bus itu, aku akan menemanimu.”

“Aku tidak sakit Yul, jika itu yang kau pikirkan. Jadi terima kasih.”

“Ya, aku tahu kau hanya ingin menyelamatkanku kan? Dan aku berterima kasih untuk itu.”

“Haruskah kita masuk?” Tanyaku pada Sunny.

“Aku tidak yakin harus bicara apa padanya.”

Aku menatapnya curiga, “kau belum mengatakan apapun padanya kan?”

“Tiga puluh menit sejak kau mengatakannya padaku, aku sama sekali tidak hilang dari pandanganmu, dari mana kau mendapat ide bahwa aku bisa menghilang dan memberitahu si tukang makan itu?”

“Ya, masuk akal.”

“Kau harus menggunakan akalmu lebih sering.” Jawab Sunny sambil menjulurkan lidah dengan melucu.

Aku hendak menghantam kepalanya saat Sooyoung dan Yuri melanjutkan pembicaraan mereka.

“Kau yakin semua itu benar Soo? Karena study tour ini akan menentukan nilai kita semester ini—kau tahu kan aku jarang masuk kelas semenjak jadi instruktur Yoga.”

“Aku sempat mendengar pembicaraan Sunny dan Taeyeon beberapa waktu lalu. Taeyeon mendapat penglihatan-penglihatan dan Sunny memeprcayainya. Aku percaya pada Sunny dan Taeyeon tidak mungkin berbohong—karena wajahnya jelas menunjukkan keseriusan.”

Aku dan Sunny tidak bisa lebih terkejut lagi. Aku puas karena Sooyoung mempercayaiku. Namun pada saat yang bersamaan aku memaki diriku sendiri karena kecerobohan kecil itu.

“Gadis bodoh itu..” Gumam Sunny.

“Menurutmu, apa berdiri di sini sampai kakiku hampir patah merupakan ide yang bagus?” Tanyaku saat kakiku sudah hampir kesemutan. Kopi itu memang benar-benar ide yang brilian.

“Tidak, kita akan temukan cara lain yang lebih efektif Taeng.”

*

“Tapi semua orang dalam bahaya!” Teriak Sooyoung semakin menjadi setelah aku dan Sunny berhasil menariknya kembali ke dalam aula.

Aku beberapa kali merayu Yuri untuk mengawasi Tiffany agar tidak dekat-dekat dengan bus itu. Sesekali aku melirik ke depan jendela untuk memastikan bahwa Tiffany masih berada dalam jarak aman.

“Ya, tapi berteriak-teriak pada mereka untuk tidak mengikuti Study tour itu dan memberi alasan tidak masuk akal adalah tindakan yang bodoh Soo..” Ujar Sunny dengan nada super kalem. Sejak dulu aku selalu mengagumi ketenangannya dalam menghadapi berbagai masalah, dan dalam hal ini aku tidak meragukannya.

“Sangat bodoh.” Imbuhku dan langsung mendapatkan tatapan tajam dari mereka berdua, aku yakin aku tidak salah berkata, kan?

“Jangan ikut-ikut dalam hal ini Taeng,” Kata Sunny dengan nada dan garis muka yang menegaskan bahwa aku harus segera keluar dari jalur mereka.

“Ya… aku setuju.” Sahut Sooyoung.

“Bagaimana bisa, hidup kalian bergantung padaku. Bagaimana bisa aku tidak boleh ikut campur?” Bantahku.

Kemudian saat aku tidak sengaja melirik dari jendela aku bisa melihat Yuri dan Tiffany beserta Micky sedang berdebat di dekat pintu bus.

“Sepertinya aku harus membereskan sesuatu,” aku beringsut menuruni tangga dan langsung menuju halaman depan, mengabaikan napasku yang sudah tersenggal-senggal dan keringat dingin akibat dari kopi yang kuminum di rumah Tiffany pagi tadi.

Aku melihat Yuri mencoba menghalangi Tiffany masuk, yang itu artinya dia juga menghalangi Micky. Aku mencoba untuk tidak mendorong pria itu masuk dan menyeret Tiffany menjauh.

“Fany, aku butuh bantuanmu. Sebentar saja.. kumohon.” Pinta Yuri. Aku merasa agak bersalah padanya, Yuri bukanlah tipe orang yang mau menurunkan gengsinya di depan orang lain. Tapi dia mau melakukannya demi permintaanku.

“Kau tidak sedang berusaha memintaku untuk tidak ikut study tour kan Yuri?” Tanya Tiffany. Sedikit kecurigaan tersirat di wajah cantiknya.

“Tidak, percayalah. Aku sedang sangat butuh bantuanmu. Aku berjanji hanya lima menit.” Imbuh Yuri.

Apa yang sedang gadis itu rencanakan lagi pula?

“Jangan percaya gadis itu, dia sedang membual. Seperti temannya yang sudah gila di aula.” Kata Micky sambil tertawa dan aku sungguh sangat ingin menambahkan tonjokan sebelum benar-benar mendorongnya masuk ke dalam bus dan mati meledak menjadi kepingan-kepingan menjijikkan.

“Maaf Yuri, tapi lima menit lagi bus akan berangkat dan jika kau mau aku bisa membantumu di bus atau setelah Study tour ini berakhir.” Kata Tiffany.

Aku merasa seperti orang bodoh yang tidak berguna, hanya berdiri sekitar lima belas meter dari bus dan tidak melakukan apapun, cuma mendengarkan mereka saja.

“Oh baiklah, kurasa aku bisa menunggu. Terima kasih Tiffany, aku akan membutuhkan bantuanmu setelah ini.”

“Bagus. Sampai jumpa di bus.” Kata Tiffany kemudian menghilang di balik pintu dan Yuri dengan wajah bangga berjalan ke arahku.

“Well done, Taengu.” Katanya dengan senyum kemenangan dan aku tidak bisa tidak berteriak-teriak padanya.

“Yah!!! Kwon Yul! Kau berjanji padaku untuk mengeluarkannya dari tempat itu, tapi kenapa kau justru—“

“Ssshh… tenang Taeng, sebelum kau berteriak-teriak lebih lama lagi. Tenang dan lihatlah, aku yakin cintamu akan keluar dua menit dari sekarang.” Dengan bangga Yuri berkata dan berjalan melewatiku. Aku sadar wajahku sekarang pastilah semerah tomat.

Dan benar saja, tepat dua menit setelah Yuri melewatiku, aku melihat Tiffany keluar dari bus dan kebingungan. Dari kejauhan, aku dapat mendengarnya berbicara sendiri, “dimana tadi aku meletakkan tasku?”

-TBC-

~S2

Thanks for all those who comments my silly story.

II : Sejujurnya agak bingung sama konstruksi busnya. itu baling” dari mana sih? trus pas mulai ad yang mati gitu busnya ud berhenti atau gimana posisinya?Well, overall lumayan thrilling kok 😀 nice one chingu.

For II, semoga lo masih mau baca cerita super aneh ini. Oke, percaya gak sih kalo gue nulisnya gak pake mikir, ya. SUMPAH. Jujur gue sampe sekarang juga masih bingung itu posisinya gimana. Gue jawab yang bisa gue jawab yak.. Pas Seohyun mati itu, busnya masih oleng. Jadilah si tang itu nancep ke… err.. dia. Makasih komentarnya, next time gue bakal berusaha memperbaiki keganjilan-keganjilan semacam itu. Just wait and see ya 🙂

hana mutia : ini smw dr sisi taeyeon? kok gw ngerasa ky film final destination ya??? sumpah gw ngeri bacanya. smpe kringet dngin dah seriusan. lnjut deh kak sya.

For hana mutia, gue melihat nama lo berkeliaran di beberapa post gue, thanks for your effort 🙂 Yup, semua ini dari sudut pandang Taeyeon. Memang hampir mirip final destination, semacam itulah. Itu keringetnya monggo di lap dulu biar gak bau. Sure, gue bakal lanjut. Do’akan aja. Hahaha. Thanks..

maomao : judulnya fatal frame gue kira sama kaya di game nya. pake kamera sama ada hantunya wkwk. next chap percakapannya di banyakin ya thor :*

hai maomao, thanks ya commentnya 🙂 First, gue gak tahu gamenya sendiri kaya gimana. Pas gue cari judul yang pas di internet, nemu deh judul itu jadi gue pake. hahaha. Iya, ini lagi di consider dialognya 🙂 hope you like it. Have a nice day^^

CookieVanillass : Gue suka semua tulisanlo thor :’)

For CookieVanillass, aww.. thanks :’) i found this comment was indeed cute. Gue gak tahu apa yang ngebuat lo suka semua tulisan aneh gue yang pasti thanks anyway. It gives me some spirit to continue this story. Thanks for loving those silly stories of mine :)))

pappoi : Anyonggg new reader… Tulisanny, gayany jdi keingatan dlu sewaktu msh smp ska ngayal kek gini… lmyan lah kurang bnyak diksiny Hahahahaga, gomawo

Hai pappoi, new reader yaaa.. welcome to another galaxy! Gue suka ngayal dari kecil. Em, menurut kamu kurang banyak diksinya ya.. sejujurnya gue sendiri sih kurang paham ama penggunaan diksi. Tapi coba ntar gue pikirin lagi. Hahaha.. thanks for coming :)))

For initial_D, wow.. ini reader yang sering nongol di wp gue. Big thanks yak.. hahahaha.. sori, gak copas komen soalnya kepanjangan. lol. Iya, masih diusahakan lanjut kok. Ngomong-ngomong keren juga ntar kalo yang baca cucu lo. Hahaha.. piss..

For Roti, thanks udah mampir beb.. gak gue copas komenlo.. agak malu-maluin gimana gitu. Nggak, nggak bakalan jadi dark thriller or horror kok.. mungkin agak muter di misteri aja. Oke, makasih kunjungannya rot :*

Gue mau membuat sedikit pengakuan, entah karena terlalu lama atau gimana gue jadi kehilangan selera sama ini cerita. Tapi gue coba paksa diri gue dengan mikirin hal-hal positif (gue sering kayak begini dan jika gak keberatan boleh kali sharing gimana cara mengatasinya)

Gue baru sadar akhir-akhir ini kalo gue punya tendensi dengan dua hal ini : OCD dan ADD (ini dua hal yang sangat bertolak belakang dan mengganggu) obsesive complusive disorder ato gangguan kepribadian obsesif komplusif yang terlalu memikirkan hal-hal dengan mendalam kadang gak penting ini yang ngebikin gue terobsesi sama suatu hal kadang-kadang. Nah, di satu sisi, alter ego gue juga punya kelainan kepribadian lainnya yaitu ADD ato GPP Gangguan Pemusatan Perhatian dan ini adalah masalah besar gue yang bersangkutan dengan penulisan. Gangguan Pemusatan Perhatian yang gue derita ini paling merepotkan saat gue udah tergila-gila sama satu hal (OCD mode on) dan mendadak dalam hitungan detik mendadak gue udah gak tertarik lagi dengan hal itu. Gue bisa menggilai satu hal dan melupakannya pada detik berikutnya seperti kebanyakan tulisan gue yang terabaikan. (ini adalah satu penjelasan yang sangat rasional kenapa gue banyak mengabaikan tulisan-tulisan gue yang berharga) lo boleh bilang ini seperti bipolar. Iya, gue gak ngelak kalo kalian pada nganggep gue kelainan itu karena itu adalah sebuah fakta. Ini hanya sebagian kecil hal yang merepotkan gue yang berhubungan dengan kebipolaran gue itu.

Nah, setelah itu… gue agak heran sama diri gue akhir-akhir ini karena ‘pokoknya-ada-sesuatu-yang-berubah-dalam-diri-gue’ dan membuat gue ketemu sama salah satu sodaranya temen gue yang katanya ‘pinter’. Dan katanya, katanya..  gue ini salah satu anak indigo (dari aura gue) gue sih gak tau gimana cara melihat aura dan sebagainya. Cuma, itu agak melegakan gue karena gue gak perlu bertanya-tanya lagi mengenai ‘keanehan’ yang terjadi akhir-akhi ini dan kenapa gue bisa melakukan banyak hal tanpa perlu repot-repot bersusah payah mengerjakannya seperti anak-anak lainnya. Anak indigo disini, katanya.. katanya, mereka gak cuma harus ber-spiritual tinggi tapi juga ber-intelektual tinggi. Itulah kenapa anak indigo gak bisa di atur, cuek dan lain sebagainya. Gue juga baru tahu kalo IQ gue 130+ (gue gak mau ngomong tepatnya berapa) sementara orang bisa dibilang jenius adalah orang dengan IQ 140+. Jadi, plis gue minta maaf kalo gue mungkin cuek. Tapi gue bener-bener bukan orang yang bisa mengungkapkan perasaan gue dengan gamblang. Atau mungkin lebih tepatnya gue orang yang lebih mengedepankan logika dari pada perasaan? Bisa jadi. Pokoknya gue geli dengan hal-hal yang berhubungan dengan perasaan dan semacamnya. Maaf kalo gue ngomongnya lompat-lompat, gue gak bisa fokus pada satu hal dalam rentan waktu yang lama. Yah, pokoknya gitu deh..

So, I need you all~ really really need you. Gue butuh kalian ngingetin kalo gue masih punya reader yang harus dikasi makan fanfics. Kadang gue bisa terbang terlalu tinggi ke awan dan gak bisa balik ato sebaliknya tenggelam ke dasar samudera dan hilang. Gue bisa bener-bener ilang kalo gak ada yang nunjukin gue jalan pulang. Kadang, sesekali ada reader yang ngajak gue ngobrol dan gue inget kalo gue adalah author di blog ini dan akhirnya mikirin fanfics gue yang terbengkalai, lagi.

Gue sadar sepenuhnya kalo gue bukan… errr.. orang yang menyenangkan di ajak ngobrol kadang-kadang (karena cuek, dingin, jutek dan sebagainya) tapi… tapi… i value more than that.. lo bisa nanya ke kapten kok kalo gue sebenarnya gak semengerikan luaranya, percaya deh. Hahaha.. ok deh, maaf kalo gue ngerancu sampe lebih dari 1000 kata, jadi kalo kalian punya solusi ato mau sharing pengalaman, sok atuh. See you next time! Thanks my amazing readers~

Selamat hari raya idul fitri, mohon maaf lahir dan bathin. 🙂

Sasyaa95

Iklan

28 thoughts on “Fatal Frame Part 2”

  1. annyeong……Thor 🙂 lam kenal
    gw agak bingung ma ni cerita tapi pas gw bca ulng dan bener2 menghayati ni cerita baru deh gw ngerti he…he…he #plaak…
    oya Thor lo keren deh mnrut gw. krna lo bsa punya dua kepribadian dah itu indigo lagi
    ya lau lo kadng2 ga bsa fokus ma satu hal tapi gw harap lo bisa terus ngelanjut ni cerita dan gw doain buat lo selalu sukses di ff atau pun hal yg lgi lo kerjain sekarang.
    #sorry lau k’pnjangan n gaje :)))

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s