SNSD, SOSHI FF

Short-Story #2 [Hollow – Pain]

Copyright © 2014, S2

disorder, life, alone

Kekosongan.
Seperti malam-malam sebelumnya. Hanya saja malam ini lebih hampa, lebih dingin, dan lebih menusuk dari biasanya. Setelah menghabiskan hampir separuh hari di tempat kerja, ruangan lima kali enam ini terasa begitu hampa. Bahkan dengan barang-barangku yang kubiarkan berserakan di tempat-tempat yang tidak normal.
Mataku tidak menangkap apapun yang menarik, hanya sekali melirik ke poster Monalisa yang sengaja kupasang tepat di samping meja rias. Senyum misteriusnya mengingatkan kondisiku yang menyedihkan, sarkasme yang ironis.
Setelah melemparkan sneakers dan hoodie bututku ke bagian terpojok kamar aku kembali seperti rutinitasku setiap malam, duduk memeluk lutut di atas kasur lantai. Diam, tidak bergerak, hanya irama napasku yang terdengar memenuhi ruangan. Ada sebuah televisi yang dan laptop yang lumayan bagus untuk membunuh waktu, namun jarang sekali kugunakan. Entah mengapa aku lebih suka seperti ini, dalam kondisiku yang memprihatinkan duduk menekuk lutut sampai dagu dan menatap lantai sampai mati bosan dan bangun keesokan paginya lalu pergi bekerja.
Siapa bilang aku tidak kesepian? Sejujurnya aku amat sangat mengharapkan kehadiran seseorang yang dapat meredakan sedikit kehampaan dalam hidupku. Ironinya, aku belum menemukan orang ‘tersebut’.
Aku sangat pendiam, bagiku hanya ada dua pilihan, berkata sejujurnya atau diam. Dan jika aku tidak ingin menyakiti perasaan orang lain, aku biasanya memilih untuk diam dan mendengarkan. Karena sebagian besar kejujuran yang kukatakan akan menyakiti hati siapapun yang mendengarnya. Aku terkenal sangat pendiam.
Bagian paling menyedihkan dalam hidupku adalah, aku kerap kali membayangkan betapa menyenangkannya punya seseorang yang menungguiku pulang setiap malam.
“Pastinya sangat menyenangkan saat aku pulang disambut dengan kecupan hangat, dan pelukan mesra.” Bodohnya, aku kembali berbicara dengan tembok yang selalu menjadi sahabatku yang paling setia. Pendengar paling baik, sayangnya aku tidak bisa kemana-mana dengan membawa tembok kamarku, kan?
“Bagaimana kabarmu hari ini?” Tanyaku seolah tembok itu bertanya padaku.
“Kurasa aku baik-baik saja, dalam definisiku saat ini aku dalam kondisi baik-baik saja, bagaimana dengan definisimu?” Jawabku seolah dalam tubuhku terdiri atas dua jiwa.
“Kurasa kau tak pernah ‘baik-baik saja’,” Kubuat tanganku terangkat membentuk dua tanda kutip dengan kedua jariku, mendramatisir akting payahku, seolah aku bisa lebih gila dari pada itu.
“Oh, ya benar. Aku memang tidak pernah waras kan? Aktingku di kantor benar-benar payah. Aku tetap dicap pendiam. Aku sudah berusaha untuk menyapa dua orang pagi ini.” Aku menatap kembali poster monalisa yang senyumnya kini berubah seringai merendahkan.
“Hey! Aku yang menyapa mereka duluan pagi ini! Ini rekor bagus selama setahun!” Kuteriaki poster tak bergerak itu yang seolah baru saja menghinaku.
“Aku menyapamu pertama kali setiap malam, apa bagusnya hal itu? Kau masih menjadi gadis kesepian yang menyedihkan.” Senyum miringnya terasa begitu aneh. Misterius dan penuh esensi kesadisan. Walaupun aku masih penasaran mengapa sisi kanannya lebih tinggi dari sisi kiri, tapi senyumnya benar-benar tidak bisa ditolerir.
Oke, kau bisa menghinaku Mona, eh.. atau kau lebih suka dipanggil Lisa?” Sejenak aku teringat dengan salah satu guru SMA-ku yang super kejam dengan alis tebal dan bibir yang lipstiknya terlalu merah kemudian aku merasakan tubuhku mulai merinding. “Tidak, itu sangat salah. Aku tidak pernah berbicara padanya kecuali ya atau tidak.”
“Harusnya kau memikirkan nama yang romantis untukku sebelum memutuskan buat memajangku di tempat pengap membosankan ini.” Nada suaranya begitu mengimplikasikan aku cukup tolol karena baru memikirkannya.
“Kau memang cukup tolol.”
“Aku tidak memintamu untuk berbicara, bodoh.”
Aku hampir bisa membayangkan potret wanita yang terpajang di samping cermin itu memutar bola mata. “Aku tidak meminta untuk bicara, kaulah yang membicaraiku. Kau yang mewakili perkataanku.”
“Bisa tidak tidak usah membahas hal itu? Aku merasa seperti orang gila disni.”
“Baguslah jika kau menyadarinya.”
Aku diam sejenak untuk merenungkannya, kata-kata itu seolah menampar wajahku dengan tepat sasaran. Ada sensasi aneh ketika aku memikirkannya, aku sadar aku kerap kali berbicara dengan diriku sendiri solah dalam tubuhku terdiri atas dua jiwa, saling bertanya apa kabar dan segalanya. Dua jiwa dalam tubuhku terkadang saling berbagi cerita, memerankan peran yang berbeda.
Aku tahu menyadari bagi orang lain, aku mungkin terlihat gila. Tapi aku sepenuhnya waras, aku sepenuhnya sadar, aku dapat berpikir logis dan rasional. Bahkan mungkin terlalu rasional. Lalu aku ini apa? Skizoid? Anti sosial? Aku bisa bersosialisasi dengan baik, kalau aku menginginkannya.
Sejenak aku teringat salah satu film yang baru kutonton sendiri beberapa minggu lalu, divergent. Bisa saja aku salah satu dari mereka.
Pikiranku langsung melayang pada salah satu adegan dalam film tersebut. Aku berada di suatu tabung dan berusaha melarikan diri dengan cara mengetuk kaca. Lalu, aku akan berada di fraksi mana? Erudite? Abnegation? Lalu apa kekuatanku? Apakah aku akan mencintai Four?
Aku menggelengkan kepala berkali-kali, mencoba mengeluarkan semua pikiran gila itu.
Aku melirik jam dinding, tiga jam berlalu untuk memikirkan hal-hal gila. Waktu seolah kehilangan arti buatku. Mungkin matahari telah terbenam, mungkin fajar—aku tak berminat mencari referensi, terkubur dalam pengasingan. Membolak-balik lembar-lembar ingatanku secara menyedihkan, seperti menggonta-ganti saluran TV untuk mencari acara.
Sejenak, aku teringat perkataan yang kucuri dengar dari beberapa teman saat jam istirahat kantor.
Aku duduk secara menyedihkan di depan komputer, terlalu enggan untuk menyapa beberapa rekan kerja yang duduk tidak jauh dariku walau hanya sekedar permisi. Aku tidak tertarik dengan pembicaraan mereka. Aku tidak memiliki apa yang mereka punya, tentu saja. Keluarga, suami atau bahkan anak yang perlu diberi makan. Tidak, aku memang yang paling muda di tempat ini dan mungkin yang paling pintar. Karena—sejauh yang kuketahui, aku dapat menyimpulkan bahwa sebagian besar pekerjaan yang mereka lakukan hanya karena kebiasaan yang membosankan. Oleh karena itu, sebagian besar waktu mereka habiskan untuk bersosialisasi demi hal-hal yang tidak penting—semacam bergosip. Aku sama sekali tidak tertarik.


“Aku memasak sup iga hari ini.” Kata salah satu wanita berkepang. Dia memiliki wajah bulat dan bibir merah yang cukup berisi. Kedua alisnya tertaut berwarna hitam tebal, kulit putih pucat dan tubuh tidak terlalu tinggi. Raut mukanya garang setiap kali tersenyum, mengingatkanku pada salah satu karakter dalam film hunger games Effie Trinket, dengan dandanan yang cukup wow untuk dikenakan di kantor. Senyum manis dipaksakan, sosialita kelas dunia dan realita hidup untuk dipertontonkan pada khalayak.
“Oh, waw.. Aku tidak punya cukup waktu untuk berbelanja semalam, dan kami kehabisan bahan masakan, jadi aku terpaksa memesan makanan dari luar. Kami sibuk belanja untuk keperluan Eun Young.” Balas salah seorang dari kerumunan mereka. Yang satu ini tidak berdandan sekonyol wanita sebelumnya. Tapi ditinjau dari barang-barang yang dia kenakan, wanita ini pastinya bukan orang sembarangan. Wajahnya anggun namun angkuh, dengan dagu terangkat cukup tinggi dan kedua kakinya di silangkan ke depan.
“Ah, pasti menyenangkan. Tidakkah kau kesepian setiap kali suamimu pergi dinas ke luar kota?” Tanya wanita lainnya, kali ini sepertinya masih cukup muda walaupun aku yakin dia masih beberapa tahun di atasku.
Badanku agak bereaksi mendengar kata ‘kesepian’ tapi kubuat wajahku tidak teralihkan barang seincipun. Aku tidak mau mereka tahu bahwa aku tertarik, walaupun hanya sedikit.
“Syukurlah, semalam dia baru pulang dari Amerika, mereka baru saja melakukan rapat internal dengan pihak FBI untuk kasus kriminal yang belakangan ini marak terjadi di berbagai negara. Kalian tahu kan, yang ‘itu’.”
“Ya, kudengar akhir-akhir ini banyak sekali kejahatan yang terjadi. Kebanyakan menggunakan tekhnologi canggih. Penjahat semakin pintar.”
“Ya, kurasa kita harus lebih berhati-hati, terutama dengan orang pendiam yang pintar. Mereka terkadang bisa sangat membahayakan. Mendekam di rumah, dan tidak pernah keluar. Siapa tahu apa yang mereka lakukan. Merancang bom barangkali?”
Aku sedikit tersentak mendengarnya. Tidak bisa kupungkiri aku merasa sedikit tersindir walaupun tak satupun dari apa yang dia katakan benar kecuali bagian ‘pendiam dan pintar’ nya.
Aku merasa ada beberapa pasang mata yang tertuju tepat kepadaku. Kemudian aku mendengar bisik-bisik yang tak begitu jelas. Lalu seseorang berdeham. Aku membuat wajahku sedemikian tak terbaca, seolah tidak tertarik sedikitpun pada hal sekecil apapun yang mereka bicarakan.
“Jadi, Mi Eun bagaimana caramu mengatasi kesepian itu?”
“Tentu saja dengan Eun Young disisiku aku tidak lagi merasa kesepian. Malaikat kecilku yang manis selalu punya sesuatu yang baru untuk diucapkan.”
“Aww… pasti sangat lucu.”
“Tentu saja.”
“Bagaimana denganmu?”
“Suamiku terjebak di kantor seharian dan pulang ke rumah hampir setelah matahari terbenam. Namun aku selalu menyambutnya dengan pelukan dan kecupan. Kurasa dia menyukainya setelah seharian berkutat dengan hal membosankan itu.” Dia tengah mengimplikasikan pekerjaan di depan komputer. Aku tidak bisa tidak membayangkan adegan itu di kepalaku. Mendadak aku merinding karena membayangkan hal-hal romansa konyol. Dan yang paling mengerikan adalah, aku menginginkannya diluar logika.
“Tentu saja, kalian pasangan yang masih seumur jagung. Coba saja beberapa tahun kedepan apa lagi saat anak-anakmu sudah mulai tumbuh dewasa.” Komentar salah satu yang duduk paling ujung. Kurasa dari tadi dia hanya mendengarkan wanita-wanita yang lebih muda darinya memaparkan romansa-kehidupan-berumah-tangga mereka.
Dan percakapan mereka berlangsung hingga jam makan siang hampir usai. Aku memberanikan diri untuk tidak merasa canggung saat menyampaikan permisi agar bisa menghabiskan sisa makan siang yang kumakan sebagian pagi tadi. Hari itu pun kusadari, betapa menyedihkannya hidupku selama ini.
Hidupku? Aku meringis memikirkannya. Aku bahkan tak yakin aku memiliki sesuatu sebagus ‘kehidupan’. Aku berada diambang hidup dan mati. Atau boleh dibilang tubuhku hidup, tapi perasaanku mati.


Pasti menyenangkan, pulang ke rumah dan melihat senyuman seseorang yang kita sayangi. Dan pertanyaanku adalah, siapakah orang tersebut? Pastinya bukan Monalisa. Aku kembali meringis, mengakui kondisi menyedihkan bahwa aku memang butuh sentuhan, perhatian, kasih sayang dan cinta. Aku merinding mendengar kata terakhir.
“Mona, tidakkah kau merasa hidupku cukup menyedihkan?” Aku kembali bertanya poster kesayanganku
“Cukup bahkan tidak dapat menggambarkan betapa menyedihkannya hidupmu, Kim Taeyeon.” Kutarik kembali kata-kataku, dia bukan kesayangan lagi saat tersenyum seperti itu. Tapi sayangnya senyumnya memang seperti itu.
“Yah! Kau tidak perlu mengintakanku berkali-kali seperti itu! Ya, aku memang menyedihkan. Barbicara dengan poster seolah mereka dengan ajaib dapat menjawab semua perkataanku walaupun pada kenyataannya aku yang menjawab semuanya! Demi Tuhan! Aku menghabiskan seluruh hidupku dengan berbica pada diriku sendiri, memanifestasikan segalanya dalam bentuk-bentuk konyol. Menanyakan kondisi yang pada akhirnya akan kujawab sendiri. Merancang begitu banyak percakapan cerdas yang sangat jarang digunakan! Ya! Aku memang gila jika semua itu membuatmu puas.”
Mendadak, poster monalisa itu terasa sangat diam, sangat bungkam, sangat… hampa. Hidupku yang semula hampa, terasa semakin kosong. Aku tidak lagi dapat membendung air mataku saat kenyataan ironi itu menampar wajahku begitu rupa. Aku ingin sekali menertawakan hidupku yang begitu memilukan namun yang keluar justru air mata.
Aku hampir menjerit mendengar pintu apartemenku diketuk. Hampir tiga tahun aku tinggal di tempat ini dan belum ada yang mengetuk pintuku sebelumnya. Aku tidak pernah terlambat membayar sewa dan iuran bulanan. Jadi tidak mungkin salah satu dari mereka.
Aku sedikit bersyukur pintu ini memiliki peephole walaupun sangat-jarang-sekali kugunakan. Perlahan, dengan hati berdebar kuberanikan diri mengintip dari balik lubang kecil itu. Namun, yang kulihat hampir membuat jantungku copot.
Sebuah kotak hati besar berwarna merah muncul di depan pintuku.
Aku berencana untuk mengabaikannya, mungkin saja aku memang benar-benar gila sekarang. Namun, saat kudengar ketukan untuk kedua kalinya. Dengan sangat pelan kubuka pintu. Mengintip dan bersiap menjerit jika orang yang bersembunyi dibalik kotak hati besar itu berniat membunuhku atau merampokku atau apalah.
Namun yang terjadi selanjutnya sungguh mengejutkan. Seorang gadis—mungkin seusiaku dengan senyum termanis berteriak “Surprise! Happy Birthday!”
Aku mengamati wajahnya. Oval dengan bibir tipis dan senyum yang menawan. Sepertinya dia belum menyadari keberadaanku, matanya menghilang saat tersenyum. Cantik.
Kemudian, saat dia mulai menyadarinya. Ekspresinya berubah menyesal, dengan wajah super merah, dia membungkuk sangat dalam.
“Maaf, maaf sudah menganggu.” Lalu kulihat gadis itu melirik sekali lagi pada nomor kamar yang tertera di atas pintu apartemenku kemudian membuka ponselnya.
Gadis itu sangat lucu saat menyumpahi dirinya sendiri dengan wajah seperti kepiting rebus. “Maaf sudah mengganggu tidurmu, aku berniat mengejutkan sepupuku yang sedang berulang tahun hari ini namun sepertinya aku salah kamar.” Dia membungkuk sekali lagi lalu mata kita bertemu dalam pandangan singkat.
Kondisiku benar-benar menyedihkan, peluh bercampur air mata, rambut acak-acakan. Benar-benar tak ada yang dapat kubanggakan dariku saat ada gadis super cantik yang kesasar di depan apartemenku.
Tiga detik sangat berharga yang pernah terjadi dalam hidupku adalah saat gadis itu memutuskan untuk memberiku kotak coklat itu sebagai tanda penyesalan, kemudian pergi. Aku tidak bisa tidak merasa kehilangan. Satu menit dapat mengubah segalanya, termasuk hidupku, dan perasaanku yang sudah lama mati suri.
Dan disaat yang tak pernah kuinginkan, pada waktu yang begitu tidak tepat. Cinta itu datang di tempat yang salah.
Mereka bilang, cinta itu buta. Aku tidak bisa bilang bahwa aku setuju seperti aku tidak dapat menjelaskan siapa saja ‘mereka’ itu. Cinta itu membutakan. Bagi mereka yang cukup bodoh untuk percaya pada hal-hal seperti itu. Namun kali ini, sepertinya aku akan mencoba untuk membodohi diriku sendiri.

Sejak saat itu gadis itu tidak pernah berhenti mengunjungiku dengan alasan peyesalan yang sama, setiap malam.
Sampai hari dimana kami memutuskan untuk tinggal bersama, dan aku tak perlu tertawa hingga menangis lagi dengan alasan-alasan konyol seperti kesepian. Karena sekarang, aku memiliki apa yang selama ini aku harapkan. Seseorang yang akan menyambutku saat aku kelelahan seusai bekerja, membanjiriku dengan kecupan-kecupan cinta yang tiada habisnya, dan pada malam-malam penuh gairah seperti api yang membakar seluruh tubuh kami. Membakar, ya.. cinta itu membakar.
Membakar sampai kau tidak lagi dapat bernapas.
Membakar sampai kau mulai kehilangan logika.

~S2

Ps. Jika kalian paham dengan jalan ceritanya! Selamat! Selamat datang di dunia alien. Dimana semuanya serba aneh. Ya, sebagian memang terjadi di dunia nyata. Jangan menutup mata, banyak orang dengan kelainan tersebut ‘berkeliaran’ disekitar kalian.

2nd. Err.. Mengenai masalah yang akhir-akhir ini terjadi.. em..

I can’t say much, my heart </3 😥

BUT

 

Here is for sone ❤

Don’t ever leave because of it, it means you are weak. We are not weak, we are strong enough to grow up and be better person :’)

Hope all the best for them guys..

Iklan

20 thoughts on “Short-Story #2 [Hollow – Pain]”

  1. Anaknya ga ngerti nie cerita mau dibw kmna to stelah dibaca lg n lg akhirnya paham jg hehehe😆
    Main thor telat bwgd bacanya

  2. Sifat si Taeyeon mirip seperti gue deh author…
    ngomong sama tembok dan kurang doyan sama sorotan publik, gue termasuk orang yang tidak suka terlalu menonjol, hehe
    Anyway ini ff daebak…

  3. anniyeong ?
    Ezzy imnida ..
    ya aku sangat setuju, karena hampir mirip dgn diriku, tapi bedanya aku mengkhayalkan suatu ceirta ..
    membayangkan smua org menutup mata dn menoleransi hubungan “cinta yang tidak wajar” ..

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s