Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Fatal Frame Part 3

fatal-frame1

“Sang pengkhianat yang mencurangi kematian, bersiaplah!

Mereka datang untuk menghabisimu”

~S2 Present, horror-thriller, Yuri~

Copyright © 2014, Sasyaa95

~

Gaah! I’m back!! With super short chap!

Maaf terlalu lama~ Enjoy reading…

Yuri berhasil. Gadis berkulit gelap itu berhasil membawa calon kekasih idamanku keluar dari maut. Aku harus berterimakasih padanya nanti. Sekarang ada beberapa hal penting yang harus kubereskan terlebih dahulu.
Aku melihat sekelilingku, lima orang termasuk diriku sendiri sedang berkumpul di salah satu ruang kelas yang jarag terpakai. Tepat di depan taman. Aku memperhatikan wajahnya. Tiffany tampak begitu kesal dan marah, aku tidak menyalahkannya. Yuri melakukan hal yang sangat cerdas di saat-saat terakhir, menyembunyikan tas prada pink kesayangannya.
“Maaf Mick, tapi tadi tasku ketinggalan. Dan kau tahu aku punya beberapa barang yang cukup penting di dalamnya.” Kudengar Tiffany sedang berbicara dengan Micky sambil menyisipkan I-phone di antara bahu dan telinga kanannya sedangkan kedua tangannya sedang sibuk memeriksa isi tasnya. Aku merasakan sekelumit perasaan tidak menyenangkan di dalam dadaku yang menyebabkanku sulit bernapas selama sesaat. Cemburu, mungkin seperti ini rasanya.
“Ya, seseorang menyembunyikanfatal-frame1fatal-frame1 tas ku di dalam gudang dan… AARRGGGGHH!!!” Aku secara impulsif beringsut menghampirinya saat melihat Tiffany berteriak ketakutan seolah habis melihat setan. Sedetik kemudian kulihat sesuatu berhamburan keluar saat sebuah tas pink terlempar ke lantai. Bedak, lipstick, kaca, dompet dan… sesuatu bergerak merayap perlahan-lahan lalu terbang ke arah jendela. Tiffany berteriak semakin keras dan kami semua terpaksa menutup telinga kesakitan. Serangga itu terbang melalui sela-sela ventilasi dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi. Namun, aku dapat menebak dari ekspresi wajah Tiffany bahwa dia telah mengalami keterkejutan terhebat seumur hidupnya. Agak hiperbolis tapi coba rasakan berdiri di depannya saat Tiffany sedang berteriak layaknya satu menit yang lalu.
Tiffany masih gemetar di tempatnya jadi kucoba untuk sedikit menenangkannya, “tidak masalah Tiffany, itu hanya serangga kecil.” Dan wajahnya berubah lebih horor dari sadako saat Yuri tertawa tidak kepalang di barisan seberang tempat kami duduk.
“Kaau…” Jarinya menggantung ke udara tepat ke arah Yuri. Dan aku tidak butuh drama lain lagi, satu sudah cukup—tidak dua—ups tiga.. Adegan Fany berbicara pada Micky dan saat dia hampir menghancurkan gendang telinga kami juga termasuk drama dalam presepsiku.
“Sudah, benda itu sudah pergi dan kita harus tetap fokus menyelesaikan masalah ini.”
Wajah Tiffany melembut saat melihatku, “Taeyeon, kurasa tidak ada masalah lain kecuali kita ketinggalan bus untuk study tour.” Katanya sangat lembut, aku merasa seperti sampah yang tak layak mendapatkan perhatian semacam itu dari Tiffany.
Dia tidak marah padaku, aku tahu. Seseorang seperti Tiffany tidak akan pernah bisa marah. Dan Micky sialan itu telah memanfaatkan hal itu baik-baik.
“Tiffany..” Aku menatap tepat kedua matanya, menunjukkan bahwa aku serius dengan apa yang hendak kukatakan. “Aku tidak tahu harus bagaimana mengatakannya, aku tidak mengerti bagaimana aku dapat membuatmu percaya. Aku memang payah dalam berkata-kata, tapi apa yang hendak kukatakan adalah nyata.” Aku mengambil napas dalam, mempertimbangkan kata-kata yang tepat untuk kukatakan padanya. “Dulu, waktu aku masih kecil sesuatu hal yang buruk menimpaku.” Aku melirik sedikit pada Sunny dan kini dia tengah mengalihkan pandangan dariku. “Aku diasingkan, karena aku sering bermimpi buruk dan aku selalu menceritakannya pada kedua orang tuaku.” kucoba untuk menahan air mata yang mulai mendesak keluar melalui sudut-sudut mataku. “Aku melihat mereka hancur berkeping-keping dalam sebuah kecelakaan, dan.. dan… itu..” Aku mengedipkan mata berkali-kali. “Lalu aku diasingkan di sebuah kuil di atas gunung. Dan setelah itu mimpi buruk tidak pernah menggangguku lagi.”
Tiffany berjalan menghampiriku dan merangkul pundakku.
Aku menggelengkan kepala sebagai tanda bahwa aku baik-baik saja. Dan semua itu sudah terjadi sangat lama sehingga aku hampir lupa bahwa itu nyata.
Aku mengambil napas sedalam-dalamnya sebelum memulai kembail. “Dan…. kemarin aku mengalaminya lagi—mimpi buruk itu… kita…” Kubiarkan kata-kataku menggantung diudara. Aku tidak sanggup membawa diriku mengatakan hal-hal yang seharusnya kukatakan.
Kurasakan semua mata tertuju padaku. Kupaksakan bibirku membentuk sebuah senyuman, namun menilai dari semua tatapan ragu-ragu, aku tahu bahwa usahaku kali ini sia-sia.
Tentu saja pengalamanku tadi itu adalah salah satu dari sejumlah hasrat yang tidak pernah kuungkapkan dalam bentuk ucapan atau pikiran, tapi Tiffany membuatku ingin terlihat lemah di depannya, membuat logikaku hancur berantakan—itu pun kalau aku masih punya logika. Aku ingin Tiffany memperhatikanku. Dan aku berhasil, karena sekarang dia memelukku sambil menepuk-nepuk bahuku pelan saat aku sudah tidak sanggup lagi menahan air mataku.
“Aku minta maaf soal itu, kau harus baik-baik saja karena mereka pasti akan tersenyum padamu dari atas sana.” Tiffany menunjuk ke langit biru di luar jendela. Kurasakan kehangatan menyeruak di sela-sela dadaku. “Mommyku juga ada di sana, dan dia sedang menungguku melakukan hal-hal hebat.” Dia tertawa kecil. “Kau pasti sudah memendam hal ini terlalu dalam dan terlalu lama.”
Aku mengangguk dalam pelukannya sambil bergumam, “terima kasih Tiffany.” Kemudian terdengar seruan-seruan yang segera kuabaikan.

*

Kopi pagi tadi sepertinya masih berefek padaku. Karena kini, kudapati diriku menggigil di sudut rumah Sunny. Kami semua memutuskan untuk berkumpul terlebih dahulu untuk memastikan bahwa semuanya masih aman. Aku sebenarnya ingin segera pulang dan tidur karena kepalaku kali ini benar-benar tidak bisa diajak kompromi. Tapi kekhawatiran yang masih tergambar jelas dalam raut wajah Sunny membuatku mau tidak mau harus menemaninya selama beberapa saat.
“Kau sepertinya demam Tae.” Kata Sunny, tapi anehnya dia tidak melakukan apapun.
“Kupikir tadi kau berbohong padaku.” Kata Tiffany sambil mengambilkan sebuah selimut yang ada di sofa lalu membungkus tubuhku dengan benda itu.
“Aku… seharusnya… sih…” Gigiku bergemeletuk. “Tapi… aku.. benar-benar….”
“Ssssh…” Tiffany merangkul tubuhku lalu meletakkan kepalaku di atas bantal.
“Aku tidak mau merawatmu.” Sunny menghujaniku dengan tatapan ‘Aku tahu kau sudah merencanakan hal ini sebelumnya kan?’
“Tapi, Sunny.. Bukankah kau sahabat terdekatnya?” Tanya Tiffany.
“Aku sudah bosan merawatnya dan dia tetap saja keras kepala.” Kata Sunny sebelum menghilang di balik dapur bersama Sooyoung.
“Kau tadi juga melihat Yoona di dalam mimpimu Taeng?” Yuri yang sedari tadi hanya duduk di depan Televisi tampak kebosanan, kini mulai mengajukan beberapa pertanyaan.
“Aku… melihat… hampir… semuanya…” Kataku masih terbata-bata.
“Oh…”
Aku hendak bertanya namun kusimpan pertanyaanku untuk nanti jika kondisiku sudah layak untuk menginterogasi. Namun, sepertinya Tiffany dengan baik hati melakukan hal itu untukku.
“Memangnya kenapa Yul?”
“Oh, tidak ada. Aku hanya berpapasan dengannya tadi di kamar mandi.”
“Sungguh? Kupikir dia ikut Study Tour itu?”
“Entahlah.. kurasa dia sedang mencari seseorang.”
Aku merinding mengingat kematian gadis malang itu. Dia memang tengah mencari seseorang. Pikiranku berpacu pada kepingan-kepingan kenangan yang tak seharusnya terjadi tadi. Dan kini kutemukan diriku semakin menggigil dan bergelung lebih dalam di sofa.
Tiffany sepertinya memahami konflik batinku karena sekarang dia tengah mengulurkan tangan dan menempelkan selembar handuk yang baru saja dicelupkan ke air hangat. Aku mengernyit karena kontras suhu yang terjadi pada dahiku. Tentu saja karena aku kedinginan, sangat berbeda dengan Sunny yang selalu memberikanku kompres air dingin.
“Kenapa air hangat?” Tanyaku setelah gigil di tubuhku mulai berangsur-angsur menghilang.
“Aku mungkin bukan anak kedokteran, tapi aku tahu cara-cara mudah dan tepat untuk mengobati beberapa sakit ringan, seperti demam dan menggigil, benar kan Yuri?”
Yuri hanya mengangkat bahu dan melanjutkan nonton Televisinya.
“Suhu tubuhmu dipengaruhi oleh suhu di sekitarmu.” Kata Tiffany saat mencoba mengusap sebulir air hangat yang menetes dari pelipisku menggunakan tissue. Aku mengamatinya dengan hati berdebar-debar. Dia benar-benar malaikat yang sangat cantik. “Tubuh kita punya daya adaptasi. Jika suhu dalam tubuh panas, maka kau harus diberi pancingan berupa suhu yang panas di sekitarmu supaya suhu tubuhmu segera beradaptasi dengan menurunkan suhu tubuhmu. Makannya jika kau demam, kau harus diberi selimut berlapis-lapis agar tubuhmu segera menurunkan suhunya.” Tiffany tertawa kecil. Jujur saja, aku tidak terlalu memperhatikan perkataannya. Namun, melihat kilatan di matanya saat menatapku, membuat tubuhku semakin melemah. Sepertinya aku bukan demam karena kopi, tapi karena Tiffany dan aku harus segera menemukan obatnya.
Suara sesuatu yang pecah memutuskan ajang saling menatap antara diriku dan Tiffany yang aku sendiri tidak ingat kapan atau mengapa kita melakukannya. Aku memang menyukai Tiffany dari dulu, tapi aku tidak pernah tahu bahwa matanya sebegitu dalam dan mencandu.
Dengan enggan aku melirik sumber suara, Yuri. Matanya terbuka selebar-lebarnya terkunci pada Televisi, dan aku yakin dia telah menimbulkan semacam lubang tak kasat mata pada Plasma TV kesayangan Sunny dengan kedua matanya. Seluruh tubuhnya mulai berguncang keras dan wajahnya yang biasa terlihat anggun kini berubah meringis dengan buruknya.
Jarinya yang lentik mulai menunjuk televisi dan saat kulihat aku pun mendesah. Aku tahu ini akan terjadi. Apa yang membuat Yuri begitu terkejut lagi pula?

-Breaking News-
Sebuah bus Pariwisata meledak di dekat jurang tanpa diketahui penyebabnya. Semua orang tewas tanpa terkecuali. Diduga bus ini membawa seluruh mahasiswa SM University yang sedang mengadakan study tour di salah satu kawasan industri. Namun naas, diduga salah satu ban bus tersebut meledak dan bus beserta isinya oleng hingga masuk jurang dan meledak karena ketidakstabilan tanki bahan bakar. Sekarang tim sedang mengadakan evakuasi di tempat kejadian untuk mengidentifikasi siapa saja korban kecelakaan naas ini.

Tiffany langsung menghampiri Yuri yang masih terkejut. Kemudian dia berlutut di depan Televisi saat kameramen menyorot tempat kejadian dan tanpa sengaja menampakkan salah satu topi yang sangat kukenal—dan kubenci keadaannya. Topi baseball kebanggaan Micky. Dan puing-puing bus yang hampir saja merenggut kelima nyawa kami.
Aku tahu apa yang terjadi selanjutnya—Tiffany berlutut di depan Televisi sambil menutupi seluruh wajahnya dengan telapak tangan—mencoba menahan air matanya. Yuri segera mengambil tindakan untuk menenangkan. Sedangkan aku, bergelung di atas sofa masih mencerna segalanya.
“Ada apa? Aku hampir tertidur saat kudengar—“ Sunny keluar dari kamar. Kekesalan segera terhapus dari wajahnya saat dia menyadari apa yang tengah terjadi. Namun gadis itu masih sempat melirik padaku untuk memastikan dugaannya dan aku sedikit mengangguk. Sepertinya dia juga sama terkejutnya. “Soo..” Panggilnya memasuki dapur meninggalkanku dengan segala kebodohanku karena ketidaktahuanku untuk melakukan apapun.
Kupaksakan diriku untuk berdiri dan melepas selimut-selimut hangat yang baru saja mulai kusukai. Namun aku tidak mau membiarkan Tiffany menangis, aku tidak suka melihatnya menangis seperti itu apa lagi semua itu disebabkan oleh Micky—musuh bebuyutanku yang seharusnya kini aku harus mengucapkan salam perpisahan terakhirku padanya.
Kompres di dahiku juga terjatuh di perjalanan, namun aku tidak peduli. Yang menjadi perhatian utamaku saat ini adalah Tiffany, Tiffany dan Tiffany.
Kudekapkan tubuhku padanya, kurasakan kehangatan tubuhya menjalariku—alih-alih dingin yang sebelumnya kurasakan. Kubirkan malaikatku menangis sejadi-jadinya di pundakku—aku akan menjaganya mulai saat ini aku berjanji akan selalu ada untuknya. Karena sekarang, tidak ada lagi Micky—tidak ada lagi orang yang akan mengambil permataku dariku.

*

Kami berlima menghadiri acara semi funeral teman-teman kami di aula utama SM University. Kudapati beberapa karangan bunga berdiri dengan menyedihkan di kedua pintu, di dekat jendela, di tengah-tengah aula, di dekat mimbar, podium, di tempat-tempat yang tidak kuinginkan keberadaannya.
Aku dan Sunny bergandengan menuju ruang tengah, Tiffany sepertinya tidak ingin melihat-lihat keironisan ini. Karena sekarang dia hanya duduk di samping foto Micky dan lainnya yang sengaja dipampang di tengah-tengah ruangan. Total korban diperkirakan ada 45 orang. Aku mengernyit, 45?
Aku melirik Sunny, bukankah seluruh total mahasiswi yang ikut study tour seharusnya memang empat puluh lima? Termasuk lima dari kami? Empat puluh lima terasa begitu ganjil. Namun gadis itu hanya mengangkat bahunya.
Pemandangan di sekelilingku membuatku tertarik, beberapa orang tua tampak menangisi foto anak-anak mereka, oke mungkin bukan fotonya. Aku mulai menghitung, namun sembilan foto paling belakang tampak begitu sulit kukenali. Aku mengabaikannya karena kupikir hal itu tidak penting.
Kulepaskan tangan Sunny dan berjalan menuju Tiffany yang tampak sangat patah hati. “Kau baik-baik saja?” Tanyaku sambil mengulurkan sebungkus tissue padanya.
Dia hanya mengangguk namun menolak menatapku dan meninggalkanku dengan seribu pertanyaan mengapa. Aku tahu ini adalah saat yang tepat untuk meninggalkannya sendirian. Dia ingin sendiri, setelah bertahun-tahun hidup dengan manusia aku sedikit banyak memahami emosi mereka. Namun alih-alih melakukannya, aku malah duduk tidak jauh darinya dan memutuskan untuk mengamatinya diam-diam, seperti yang selama ini aku lakukan.
Aku tahu ini semua akan terjadi. Walaupun aku juga masih terkejut, namun jauh dalam hatiku sudah mengantisipasi segalanya. Ini memang bukan kali pertama aku mendapat penglihatan-penglihatan dan semuanya berakhir menghancurkan hatiku. Betapa aku berharap aku tidak terlahir seperti ini, betapa aku berharap aku dapat hidup normal seperti anak-anak lainnya. Aku memang sempat normal selama beberapa saat, namun semua itu seolah fatamorgana, yang berlalu hanya sesaat dan aku kembali abnormal.
“Taeyeon…” Aku mendongak untuk melihat siapa yang telah menginterupsi pikiran gilaku. Tiffany.
“Ya?” Dia duduk di sampingku.
“Terima kasih.”
“Untuk?”
“Menemaniku.” Tiffany berbalik menghadapku, kedua mata kami saling bertaut. “Seperti saat ini.”
Aku tersenyum, kupu-kupu beterbangan menggelitk perutku. “Tentu saja.”
“Ayo kita pulang.” Tiffany menarik lenganku keluar dari aula.
“Hee..i.. kenapa buru-buru?”
“Aku sudah selesai, dan… kulihat kau tidak punya siapapun untuk kau tangisi?” Dalam kata-katanya aku mendengar sedikit nada sarkasme, tapi kucoba untuk tidak terlalu memikirkannya. Dia masih kehilangan. Kataku berulang-ulang.
“Tapi Sunny..” Kulihat Sunny kini sedang melihat-lihat di kehebohan yang sedang terjadi di tempat ini. Beberapa orang tua masih tidak menerima kenyataan bahwa anaknya sudah pergi mendahului mereka. “dan yang lainnya…”
“Kau masih menunggu mereka?” Tiffany berpaling padaku, menatap jauh kedalam mataku. Aku menerka-nerka sedikit tanda yang ada di mataya, dia ingin… aku menemaninya?
“Eh…. Aku harus memberitahu Sunny dulu.” Kataku, dan dia mengangguk.
Aku berjalan meninggalkan Tiffany di depan aula, dia setuju untuk menungguku di bangku dekat taman air mancur. Aku menghentikan diriku untuk sedikit-sedikit melirik ke arahnya. Suasananya benar-benar tepat, backlight, air mancur, sunset, saat inilah aku ingin menyatakan perasaanku padanya, namun aku punya firasat bahwa dia sebenarnya sudah tahu. Momen seperti ini benar-benar spesial.
Namun kusadari bahwa niatku telah gagal karena kali ini Sunny yang menghampiriku alih-alih sebaliknya. “Taeyeon…” Sapanya.
“Sunny, aku minta maaf… Tiffany, sepertinya dia ingin aku menemaninya selama beberapa saat jika kau tak keberatan.” Kataku, dan dia mengagguk. Sunny paham, atau setidaknya aku berharap dia memahami perasaanku terhadap Tiffany.
“Ya…” Bola mata Sunny bergerak-gerak dengan tidak nyaman. “Tapi sebelum itu, kupikir kau ingin melihat ini…dulu.” Sunny menunjuk selembar kertas setinggi satu meter yang ditempel di tengah-tengah ruangan atau lebih tepatnya di tengah-tengah empat puluh lima foto yang berjajar rapi dan dupa-dupa, bunga-bunga yang ditata melingkar. Ada sebuah kertas putih besar berisikan daftar—yang kuasumsikan daftar nama-nama korban.
Aku melihat satu persatu nama yang tertera. Mataku terpaku pada kesembilan daftar paling bawah. Aku tidak yakin mengapa mereka menempatkannya dalam daftar terbawah. Seo Ju Hyun, aku mengernyit mengingat gadis itu. Lalu Im Yoona, Choi Soo Young, aku melihat gadis jakung yang tengah berlutut di samping foto seorang pria, oh.. lelaki yang dia taksir beberapa waktu lalu aku masih tidak percaya dia bisa naksir sesuatu selain makanan. Kemudian Kwon Yuri, Kim Hyo Yeon, tanpa sadar aku melotot melihat list selanjutnya, konyol. Hwang Tiffany, Lee Sunny, Jung Jessica, dan terakhir—yang tidak ingin kulihat sebelumnya. Namaku, tertera di urutan paling akhir dengan tinta merah menyala, Kim Tae Yeon. Lalu kulirik kesembilan foto yang dijajar paling belakang. Foto kami! Dan aku mendapati diriku tersenyum konyol di ujung ruangan di sebelah karangan bunga turut berduka cita.

*

-TBC-

Note:

Part selanjutnya mungkin aku udah gak make Taeyeon Pov lagi. Cuma beberapa scene aja.

Thanks for your comment guys~

Vanilla/cookievanillas : Terimakasih udah baca, maaf belum sempet mampir. Ntar kalo ada waktu aku usahain (: tapi mungkin gak bisa ninggalin komen di wepe, kalo gak keberatan di wassap/twiit aja 😀

initial_D : hello D! Gue lupa kalo suka Typo.. maap, yang lagi ngetren sekarang kan si Nick*tiiit* Maklum yee.. terimakasih udah diingetin. Kali ini dijamin gak Typo 😀

Taeng- jjang : udah dapet THRnya… sayangnya udah abis duluan .___.

TaeKid : maap, kali ini agak pendek yaa.. soalnya mau mecah antara Taeyeon pov sama yang lain. Makasih udah mampir dan suka sama gaya bahasa ff ini *membungkuk*

Little Kim dee : makasih udah suka dan gak bosen. *tebar bunga* *membungkuk dalam-dalam*

Xiao Prince : Selanjutnya bukan Taeyeon lagi POV nya, tapi Taeyeon POV bakalan sering muncul juga.. yang lainnya cuma selingan aja. Terima kasih udah mampir :))

Darkness : Terimakasih doanya dan terima kasih udah mampir (: Semoga gak bener-bener kegelapan ya 😀

RuzNhy : Terimakasih udah mampir, yang keren bukan authornya. Tapi yang udah ngasi semangat buat FF ini! Thanks GUYS~

Oh, maaf aku jarang mampir.. kehidupan nyata menguras waktu dan tenangaku habis-habisan. Tapi aku bakal terus keep up buat my baby Febri~

Aku punya banyak ide-ide cerita gila.. tapi mungkin next time.. 😉 *wink

Ngomong-ngomong aku mau share ff bagus buat kalian yang suka baca ff english di aff. Aku gak tahu apa kalian udah pernah baca ini apa belum. Tapi ff ini bener-bener bikin perasaan aku campur aduk. Mungkin gak sesempurna yang aku bayangin sebelumnya sih, ada beberapa keganjilan dan cara penulisannya menurutku agak rumit dan muter-muter. TAPI! Begitu kalian baca chap 2. Aku yakin kalian gak bisa berhenti buat baca chap-chap selanjutnya. Cuma… ada satu hal yang aku benci dari ff ini…. yang bikin bener-bener geregetan sampai sekarang…

Kalo penasaran, silahkan cari tahu di sini… [The Iron Maiden]

Iklan

30 thoughts on “Fatal Frame Part 3”

  1. Nah akhirnya bs baca juga chap ini. Just wanna say, this is really intriguing and i’m pumped for your next update. Hwaiting!

  2. Nama org” yg blum mati kok dicantumkan juga?
    apa mereka semua dah pada mati? Trus tulisan nama Taeyeon pake tinta merah tu artinya apa. . . ?

  3. anyeong author-shii . ^^
    saya reader baru *bow
    ijin baca ff2mu, hehe.
    critamu keren-keren thor, saya suka !
    ff ini ditunggu chap slanjut.a , fighting !!! ^^b

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s