Fantasy, SNSD, SOSHI FF

Fatal Frame Part 4

fatal-frame1

“Sang pengkhianat yang mencurangi kematian, bersiaplah!

Mereka datang untuk menghabisimu”

~S2 Present, horror-thriller, Yuri~

Copyright © 2014, @sasyaa95

~

-40 Hari setelah Funeral-

Hasrat Seohyun untuk meninggal dikelilingi oleh buku-buku kesayangannya terwujud pada suatu siang yang cerah di pertengahan bulan Juli. Tentu saja ini adalah salah satu dari sejumlah hasrat yang tidak pernah diungkapkan dalam bentuk ungkapan atau pikiran.

Gadis jakung yang seluiruh hidupnya bergantung pada buku itu dengan amarah membara berlutut di sudut perpustakaan mini. Dia baru saja bertengkar hebat dengan Im Yoona, gara-gara pertanyaan konyolnya mengenai salah satu komposer musik terkenal. Sebelumnya, mereka telah memperdebatkan apakah Beethoven benar-benar tuli atau hanya khayalan belaka dan Seohyun telah berhasil membuktikan kebenarannya dalam salah satu buku asli edisi Eropa yang menyatakan bahwa sebenarnya musisi terkenal asal Jerman itu baru tuli seutuhnya pada tahun 1817 bukannya sejak lahir seperti yang dinyatakan sang aktris sok tahu Im Yoona.

Seohyun sebenarnya mengaggumi sosok Yoona yang bebas dan charming, namun gadis itu sangat impulsif, sulit dikendalikan dan senang bertindak semaunya sendiri seringkali membuat Seohyun jengkel. Satu kali mereka pernah berdebat tentang Rektor SM University bahkan sampai tali sepatu. Seohyun tidak dapat mempercayainya, dia adalah sosok gadis yang kalem, anggun dan intelektual. Namun, Yoona selalu menghancurkan logikanya dengan hal-hal gila. Menentang habis-habisan ke status quo-annya dengan gaya hidup sang aktris yang carefree.

Dan pagi ini, Yoona memulai kembali dengan argumennya soal musik. Seohyun sebagai seorang pianis, gitaris sekaligus komponis musik berbakat di usia muda berkat kejeniusannya pun tidak mau tinggal diam. Lagi pula, kenapa sih Yoona menyibukkan diri dengan menggali informasi tentang not balok untuk ‘berargumentasi’ dengannya, Seohyun juga tak habis pikir. Bukan kah Yoona punya banyak schedule syuting dan pemotretan yang jauh lebih penting ketimbang sesi ‘perdebatan sengit’ mereka kan?

Seohyun mendesah, dia sudah seharian ini mencari buku sialan itu. Demi membuktikan harga dirinya, kebenarannya dia rela berdesak-desakan dengan mahasiswa lainnya saat pulang dengan amarah mencari di toko buku kecil miliknya yang terletak di sudut jalan. Seohyun melangkah ke dalam toko yang diluputi kegelapan dan sama sekali tidak terlihat ramah, mengabaikan tanda tutup di dekat pintu pagar, tetapi senyuman lebar segera menghiasi wajahnya begitu dia menatap bagian depan bangunan, yang setiap hari dilihat dengan dengan indra penglihatannya, dihiasi huruf-huruf emas berkilauan, “Dofu Bookstore” yang dicat dari kaca jendelanya.

Seohyun biasanya membuka tokonya setelah dia menyelesaikan semua urusan perkuliahannya. Dia mengurus segalanya sendiri, mulai dari pembelian hingga pemesanan. Gadis itu menaruh harga dirinya pada toko buku kecil miliknya sepeninggalan ayahnya yang juga seorang maniak iptek.

Empat puluh hari yang lalu, selama seminggu Seohyun terpaksa harus menutup Dofu Bookstore untuk sementara waktu. Kejadian tragis yang merenggut sebagian besar temannya itu telah menguras habis tenaganya. Dia seharusnya juga termasuk dalam daftar yang tertulis di atas kertas setinggi satu setengah meter yang dipajang saat funeral di kampusnya. Dia seharusnya mati empat puluh hari yang lalu. Tapi Seohyun mendapat panggilan darurat dari sepupunya yang juga kuliah di tempat itu. Sepupunya itu meminta pertolongan Seohyun untuk mengatasi permasalahan internal dengan pencernaannya yang kurang beres. Seohyun terpaksa membantunya dan begitu selesai dan Seohyun menyadarinya, mereka harus menerima kenyataan bahwa mereka ditinggal oleh serombongan mahasiswa yang ikut study tour hari itu. Awalnya Seohyun sangat kecewa, karena—walau bagaimanapun Seohyun adalah seorang maniak ilmu pengetahuan, kapan pun dia punya kesempatan untuk belajar, dia akan mendayung di atas oli untuk mendapatkannya. Dan kini, sejak siang itu Seohyun belum mendapat kabar apapun tentang sepupunya. Seohyun berpikir mungkin saja sepupunya itu masih terlalu terkejut untuk melakukan apapun.

Seohyun benar-benar terpuruk saat berita itu sampai ditelinganya. Namun Seohyun adalah gadis yang cerdas, sehingga dia tahu kapan dia harus terus larut dalam kesedihan dan kapan dia harus kembali menatap matahari terbit.

Saat pertama kali melangkahkan kaki ke kampus setelah kejadian itu, Seohyun merasa ada yang hilang dalam hidupnya. Ia hampir tidak dapat berjalan tegak memasuki ruang kelas. Memang kampus sempat ditutup sementara waktu, tapi hey! Show must go on. Dan Seohyun sangat menyadarinya. Walau dengan wajah-wajah baru yang murung di kampus dan dengan dosen yang mengajar seperti robot di pagi hari, namun kecintaan Seohyun pada ilmu pengetahuan masih membara dan itu membangkitkan kembali semangat dalam dirinya untuk belajar.

Seperti saat ini, saat dia berusaha untuk mencari buku yang dimaksud untuk pembuktikan harga dirinya pada sang aktris Im Yoona, semangatnya masih membara. Dia berjalan ke balik meja kasir dan melepaskan jaket kulitnya. Dengan keringat yang masih bercucuran, Seohyun berjalan ke tengah-tengah toko yang terang-benderang itu dan melihat sekelilingnya dengan senyum puas.

Dia pelan-pelan berjalan di lorong-lorong antara rak, mengamati baris demi baris buku yang tertata rapi. Mata orang awam mungkin tidak akan menyadari seandainya ada perubahan sekecil apapun, tetapi Seohyun bahkan dapat menangkap perubahan sekecil apapun. Sejumlah buku telah dijual atau dipindahkan, berbagai buku baru telah diselipkan di antara buku-buku lama dan tumpukan buku yang telah dipindahkan atau disatukan. Pada saat melakukan pemeriksaan ini, Seohyun mendorong punggung buku sehingga semuanya tertata rapi dan memindahkan buku yang tidak pada tempatnya.

Setelah puas melihat hasil kerjanya, kini Seohyun berjalan menuju rak paling pojok. Kesayangannya berisi sejarah dan ilmu pengetahuan, dia berjongkok tepat di depan tulisan balok font Arial ‘Musik’ yang tersemat di sekat rak. Dengan jarinya yang lentik, gadis itu mengeksekusi satu persatu punggung buku sampai matanya menangkap kata-kata, ‘Rahasia Komponis Dunia.’ Senyum puas menghiasi wajahnya yang cantik.

Seohyun berencana hendak mendiskusikan penemuan barunya saat ponselnya berbunyi di dalam tas polo cokelatnya. Seohyun meraihnya dan melihat beberapa pesan singkat dan panggilan tidak terjawab.

Im Yoona

‘Hey! Dimana kau Seo Ju Hyun? Apa kau tidak dapat membuktikan argumenmu? Coba tebak fakta apa yang baru saja kutemukan!!!!!’

Tipikal Im Yoona, Seohyun memutar bola matanya dengan kesal. Tidakkah dia tahu apa perbedaan tanda tanya dan tanda seru?

Lalu dia membuka pesan selanjutnya, dia tidak mengerti mengapa dia menggigit bibirnya hingga berdarah.

Kim Tae Yeon Unnie.

‘Seohyun, ada yang harus kukatakan padamu. Bisakah kau mampir sebentar ke cafetaria setelah jam pelajaranmu berakhir?’

Gadis itu mengernyit. Seohyun baru mengenal dekat kakak kelasnya bernama Taeyeon itu tepat setelah funeral. Dia memang beberapa kali bertemu sapa dengannya bahkan sempat membantunya di kelas vokal. Namun, hubungan mereka tidak pernah sedekat ini. Bertukar nomor ponsel atau saling berkirim pesan dengan Kim Tae Yeon tak pernah terlintas sedikit pun dalam benaknya. Bukannya Seohyun tidak mau melakukannya, namun gadis itu merasa Kim Taeyeon adalah sosok yang misterius. Dia hanya berbicara jika diperlukan dan menjawab jika ditanya. Gadis itu pun selalu menangkap basah Kim Taeyeon tengah melamun sendiri di perpustakaan atau jika dia kebetulan melewati kelasnya.

Taeyeon bukanlah tipikal gadis yang akan iseng-iseng menghubungimu hanya untuk bersapa ‘hi.’ Jadi pesan singkat itu cukup membuat Seohyun khawatir. Seohyun hendak membalas pesan kakak kelasnya itu saat ponselnya berbunyi.

Dengan sedikit enggan Seohyun menyentuh tombol answer, “Ya?”

“Hey Juhyun! Di mana kau?” Suaranya terdengar kasar, dan khawatir.

“Di Dofu Bookstore, aku sedang mencari buku untuk membuktikan bahwa aku benar. Kenapa? Kau mengakui bahwa kau sebenarnya salah?” Seulas seringai tergambar di wajahnya.

“Terus saja bermimpi Seo.. Aku sedang menuju kesana. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Jangan berpindah sedikit pun dari tempatmu, mengerti?”

“Kenapa? Kau ingin mengajakku berdebat mengenai hal-hal tidak penting lagi? Seperti apa? Kenapa ada biji sambal yang nyangkut di gigimu? Kau membuat pilihan yang salah Im Yoona, aku sedang ada di surga buku ku, kau tahu kau tidak akan pernah menang?”

“Kau menempatkan harga dirimu terlalu tinggi bocah.. Tunggu satu jam lagi sebelum aku sampai di tempatmu. Kau tahu, aku telah mengorbankan jadwal pemotretanku yang akan berlangsung dua jam lagi, kau bocah! Jadi lebih baik kau jadi gadis kecil yang manis dan duduk diam. Aku dan Taeyeon Unnie akan menjelaskannya padamu setelah kami tiba di sana, mengerti?”

“Aku tidak memintamu untuk melakukannya, kau tahu.. membatalkan jadwalmu dan sebagainya.” Seohyun merengut, merasa sedikit bersalah. “Jika kau ingin berdebat denganku, kau bisa menunggu sampai kau tidak punya kerjaan lagi.” Seohyun mendesah, kemudian teringat sesuatu. “Oh, memangnya apa yang Taeyeon Unnie lakukan bersamamu?”

“Pertama, aku sedang tidak kurang kerjaan dan ini masalah penting yang harus ku katakan. Kedua, aku sedang tidak bersama Taeyeon Unnie, dia dan teman-temannya sedang menuju ke tempatmu jadi kau diam di situ dan jangan pergi kemana-mana.”

Hal itu membuat kerutan di kening Seohyun semakin dalam, “memangnya apa yang dilakukan Taeyeon Unnie dan teman-temannya di toko buku?”

“Dengar Seo Ju Hyun, aku tidak dapat menjelaskan padamu karena sekarang aku sedang nyetir.”

Seohyun terlompat, “baik.” Dan dia memutus sambungan teleponnya sebelum Yoona sempat menjawab apapun. Gadis itu menggeleng, sudah berapa kali kuingatkan padanya untuk tidak berkendara sambil bertelepon, itu sangat berbahaya. Dasar Im Yoona keras kepala.

*

Yoona tengah berpacu dengan waktu, secara harfiah. Dia terus-terusan melirik jam di dashboard benz hitam nya. Gadis itu punya janji temu dengan Kim Taeyeon di Dofu Bookstore kurang dari tiga puluh menit. Dia juga masih bingung mengapa kakak kelasnya meminta ketemuan di jam-jam konyol seperti ini. Dia terpaksa membatalkan pemotretannya yang akan berlangsung dua jam lagi. Yoona berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan membunuh Taeyeon dengan tangannya sendiri jika kakak kelasnya itu memberikan alasan-alasan konyol yang harus menyita waktu berharganya.

Pemotretan ini penting sekali, Yoong.

Yoona mendesah untuk kesekian kalinya pagi ini. Kata-kata managernya masih terngiang-ngiang di kepalanya. Yah, benar memang pemotretan itu sangat penting baginya sepenting red carpet atau runway. Vendor ini sudah dibintangi banyak model terkenal, Ha Ji Won sampai Britney Spears. Yeah, produk mereka digunakan hampir semua wanita di dunia. Dan ini adalah kesempatan yang amat besar untuk melambungkan namanya di kancah internasional.

Tapi sayangnya, Yoona harus membatalkannya. Satu jam yang lalu, dia mendapat telepon dari Kim Taeyeon yang mengabarkan bahwa Seohyun dan dirinya sedang dalam bahaya dan kami harus berhati-hati. Sebetulnya, pertemuan ini adalah idenya. Seohyun dalam bahaya dan dia tidak bisa tinggal diam.

Pesan singkat yang dia kirimkan pada Seohyun beberapa waktu yang lalu pun tak kunjung mendapat jawaban. Yoona mempertimbangkan apakah dia harus menghubungi gadis itu atau tidak. Tentu saja Yoona tidak dapat menjelaskannya lewat telepon, tapi memastikan bahwa Seohyun berada di tempat yang aman sempat terbesit di benaknya.

Yoona mengerang frutasi, biasanya dia adalah gadis yang impulsif, bertindak sesuai gerak hati. Namun ini masalah serius dan Yoona tahu dia harus bertindak hati-hati. Dia mempercayai Taeyeon, keparat.. dia bahkan tidak ragu sedikit pun.

Jadi waktu dia berhenti di perempatan jalan saat lampu merah masih 99 detik, dia memutuskan untuk menghubungi Seohyun hanya untuk memastikan bahwa gadis itu tidak akan pergi kemana-mana.

Dengan cepat, dia menekan angka 1 di layarnya. Seohyun ada di urutan nomor satu panggilan cepatnya. Semua orang tahu mengapa, sayangnya Yoona sedikit terlambat mengetahui bahwa dia telah jatuh hati pada gadis itu. Terlambat, karena pada saat ia telah menyadarinya kini hidupnya dan Seohyun tengah berada di ambang kekacauan.

Yoona dengan tidak sabar menunggu jawaban dari Seohyun “Ya?”

“Hey Juhyun! Di mana kau?” Yoona tidak berusaha untuk menyembunyikan kekhawatirannya.

“Di Dofu Bookstore, aku sedang mencari buku untuk membuktikan bahwa aku benar. Kenapa? Kau mengakui bahwa kau sebenarnya salah?” Dia memutar bola matanya, Seohyun. Tetap saja, merasa bahwa dia tahu segalanya dan tidak dapat dikalahkan oleh siapa pun.

“Terus saja bermimpi Seo.. Aku sedang menuju kesana. Ada hal penting yang ingin kubicarakan denganmu. Jangan berpindah sedikit pun dari tempatmu, mengerti?”

“Kenapa? Kau ingin mengajakku berdebat mengenai hal-hal tidak penting lagi? Seperti apa? Kenapa ada biji sambal yang nyangkut di gigimu? Kau membuat pilihan yang salah Im Yoona, aku sedang ada di surga buku ku, kau tahu kau tidak akan pernah menang?”

Yoona mempertimbangkan jawabannya, tidak ada gunanya beradu argumen dengan Seohyun disaat-saat genting seperti ini.

“Kau menempatkan harga dirimu terlalu tinggi bocah.. Tunggu satu jam lagi sebelum aku sampai di tempatmu. Kau tahu, aku telah mengorbankan jadwal pemotretanku yang akan berlangsung dua jam lagi, kau bocah! Jadi lebih baik kau jadi gadis kecil yang manis dan duduk diam. Aku dan Taeyeon Unnie akan menjelaskannya padamu setelah kami tiba di sana, mengerti?”

“Aku tidak memintamu untuk melakukannya, kau tahu.. membatalkan jadwalmu dan sebagainya. Jika kau ingin berdebat denganku, kau bisa menunggu sampai kau tidak punya kerjaan lagi.” Yoona dapat mendengar Seohyun mendesah. “Oh, memangnya apa yang Taeyeon Unnie lakukan bersamamu?”

Kening Yoona berdenyut secara menyakitkan. Dia butuh obat pereda sakit kepala sekarang.

“Pertama, aku sedang tidak kurang kerjaan dan ini masalah penting yang harus ku katakan. Kedua, aku sedang tidak bersama Taeyeon Unnie, dia dan teman-temannya sedang menuju ke tempatmu jadi kau diam di situ dan jangan pergi kemana-mana.”

“Memangnya apa yang dilakukan Taeyeon Unnie dan teman-temannya di toko buku?”

“Dengar Seo Ju Hyun,” Yoona mendesah, merasakan denyutan di keningnya semakin menjadi. “Aku tidak dapat menjelaskan padamu karena sekarang aku sedang nyetir.”

Yoona mendengar Seohyun menjawab ‘baik’ sebelum suara ‘dut dut dut’ terdengar dari loudspeaker ponselnya. Gadis itu terseyum mengingat betapa Seohyun selalu mengingatkannya untuk melakukan hal-hal yang tidak membahayakan hidupnya seperti memakai sabuk pengaman atau tidak bertelepon saat sedang nyetir.

Walaupun sudah tahu bahwa sebutir obat penghilang pening membuat tingkat konsentrasinya menurun, namun Yoona tetap meminumnya. Gadis itu nyaris selalu ingin mematahkan kepalanya saat serangan migren kembali menginvasinya. Yoona hanya berharap dia dapat sampai tujuan tepat waktu.

*

Seohyun melirik jam dinding tokonya beberapa kali, hanya untuk memastikan dia tidak sedang dibodohi oleh Im Yoona. Tiga puluh menit sebelum dia harus menunggu sang aktris.

Gadis itu kini tengah menuju balkon di tengah loteng yang mencolok. Dia sempat melalui beberapa rak buku dan meja kasir kemudian sampai ke bagian belakang toko tempat sebuah tangga mejulang sampai ke balkon di atasnya. Undakan tangga yang cukup tua itu mengerang dengan jelas saat dia menaikinya; tanpa ragu dia terus menaiki tangga dan tak lama sudah mencapai puncaknya. Di sana dia membalikkan badan dan menatap seluruh isi toko dari atas. Dengan menggunakan sedikit imajinasi, rak-rak buku di bawahnya mungkin akan terlihat seperti labirin semak-semak yang dipotong rapi, tetapi walaupun begitu tidaklah mungkin baginya untuk tersesat di labirin itu, lalu tatapan matanya mendarat pada dua buah koper yang terletak di dekat pintu.

Kerutan di kening dan ekspresi khawatir langsung menghiasi wajahnya, dan mata cokelatnya sepertinya menerawang dan tidak menatap lantai di bawahnya. Seohyun mengangkat bukunya dan mencium bau khas buku baru dan lem yang menguar dari sela-sela punggung buku yang dia pegang kemudian mengalihkan perhatiannya dari koper-koper ke rak-rak buku di belakang balkon. Seohyun suka bau buku baru. Baginya, itu merupakan semangat baru untuk mempelajari hal-hal baru.

Lampu di dalam lemari kaca memang sengaja dimatikan pada jam-jam tertentu—terutama saat matahari memancar menembus ventilasi udara dan membias pada lemari-lemari tersebut, memberikan kesan romantis, kilaulan keemasan pada buku-buku di dalamnya. Di belakang kaca tampak sejumlah buku yang dipajang bagaikan karya seni agung. Beberapa dibiarkan terbuka dan memamerkan berbagai ilustrasi berwarna dan gambaran fantasi dari cerita yang ada di dalamnya.

Seohyun berjalan perlahan di sepanjang balkon dengan satu tangan memegang pagar dan lainnya memegang punggung buku musik yang akan ditunjukkannya pada Im Yoona sambil membiarkan lirikan matanya menyapu isi lemari panjangan tersebut.

Seohyun baru saja memesan buku-buku baru untuk melengkapi koleksi edisi langka di surga kecilnya. Dia sengaja meletakkannya di koper dan sekarang dia hendak meletakkan buku-buku itu di lemari pajangan.

Saat itulah, ketika Seohyun mengambil tangga kecil diletakkan di sudut balkon dan gadis itu menyeret koper berisi buku-buku langkanya yang berharga menaiki tangga. Seohyun tertegun melihat salah satu buku yang tidak ada di sana sebelumnya.

Seohyun meletakkan kopernya lalu menempatkan tangga kecil itu tepat di depan lemari pajangan dari jati tua yang terletak di antara titik temu pagar tapal kuda balkonnya. Tempatnya sungguh sempurna, lemari pajagan ini hanya untuk memajang buku-buku sangat berharga dan tak ternilai harganya. Begitu pengunjung membuka pintu dan mendongak ke atas, lemari pajangan inilah yang tertangkap mata mereka. Oleh karena itu, Seohyun sengaja mendekor lemari ini sebaik mungkin tanpa meninggalkan kesan berlebihan.

Anggun dan sempurna, itu lah komentar yang kebanyakan pengunjung sampaikan padanya mengenai tempat ini dan Seohyun menempatkan harga dirinya pada lemari ini. Sayangnya, lemari ini berada terlalu dekat dengan bibir balkon.

Dengan hati-hati Seohyun menempatkan tangga karena—walau berapapun tingginya saat ini—tinggi lemari itu masih tiga puluh senti meter lebih tinggi darinya. Dan sialnya buku itu berada di tempat tertinggi lemari pajangan tersebut. Seohyun hampir kehilangan keseimbangan saat buku itu tiba-tiba terjatuh.

Seohyun meraih buku yang kini hampir jatuh melalui sela-sela bibir balkon. Sampulnya yang berwarna kuning keemasan yang sudah pudar, punggung bukunya menampilkan goresan-goresan putih melepuh seolah menunjukkan betapa tua nya buku tersebut sehingga membuatmu merasa harus menghormatinya seperti kitab suci.

Gadis jakung itu hendak meraih buku tersebut saat suara dering bell mengejutkannya hingga Seohyun terlonjak kaget dan terjembab dari tangga kecil itu. Seohyun hampir tergelincir sampai ke bibir balkon saat dia terjatuh. Tangan Seohyun sempat meraih buku tersebut saat beban tubuhnya membuat buku itu terseret sejauh satu meter dan jatuh dari atas balkon dengan suara bum keras.

Seohyun meringis atas kegagalannya. Dengan kaki yang jenjang dan sudut lutut yang tajam dan menyakitkan, Seohyun menendang tangga kayu kecil tidak jauh dari tempatnya terjatuh. Gadis itu sepertinya tidak memperhitungkan resikonya karena sekarang, tangga itu menghantam tepat sudut lemari pajagan tua itu hingga membuat satu kakinya patah.

Seohyun melotot dengan horor saat melihat lemari itu hampir ambruk menimpanya, dan tanpa pikir panjang Seohyun langsung merangkak menjauhi lemari tersebut. Dengan sedikit waktu yang tersisa, Seohyun berusaha menghindar saat terdengar suara jeritan dari luar toko bukunya. Gadis itu tidak menyadari bahwa dirinya kini tengah menghadapi maut yang kedua.

Dalam hitungan detik, lemari tua itu ambruk dan Seohyun tergelincir melalui bibir balkon dan terjatuh. Dia menutup mata erat-erat berusaha menggapai apa saja saat tangannya berhasil meraih salah satu besi pagar pembatas balkon lantai atas dan lantai bawah. Seohyun berdoa semoga apapun yang terjadi setelah ini, toko bukunya akan tetap ada sampai kapan pun.

Dari sudut matanya, Seohyun dapat mendengar Taeyeon berusaha menggedor-gedor pintu utama. Keringat dingin mengalir deras dari seluruh pori-pori tubuhnya, membasahi pakaian kampusnya.

“Unnie..” Tangan Seohyun sudah tidak sanggup lagi menahan berat tubuhnya. Dan Seohyun akhirnya terjatuh menghempas salah satu rak buku di bawahnya. Gadis itu meringis saat kepalanya membentur pinggiran kayu keras dengan suara menyakitkan. Napasnya yang sebelumnya memburu dan pendek-pendek kini berubah semakin pelan. Seohyun bernapas dalam-dalam, mencoba merasakan sisa-sisa oksigen yang dapat memenuhi paru-parunya untuk yang terakhir kalinya.

Mata Seohyun masih menatap langit-langit dan kata-kata dari bibirnya yang gemetar pun berakhir. Dia menangkap sesosok bayangan hitam yang melayang tak jauh dari tempatnya terjatuh, mengembangkan senyum tulus saat tangannya yang putih terulur kearahnya. Seorang gadis, Seohyun mencoba menyimpan informasi terakhir itu. Mata mereka bertemu, Seohyun dapat melihat dalam mata gadis itu terpancar ketulusan dan kebahagiaan masa depan.

Seohyun pun mengulurkan tangannya yang terasa sangat ringan. Dan gadis itu mengangkat tubuhnya ke atas perlahan-lahan dan tanpa rasa sakit yang sebelumnya dia rasakan. Seohyun tersenyum, melihat toko bukunya sekali lagi dengan perspektif berbeda. Kini dia siap untuk melangkah menuju masa depan yang sudah ditentukan untuknya. Seohyun siap untuk itu. Hanya saja, dia berharap di manapun masa depannya itu menetapkan takdirnya, Seohyun dapat terus belajar sampai dia bosan dan memutuskan tidur untuk selama-lamanya.

*

Im Yoona mengerang keras-keras saat gadis itu terjebak macet di jalan tol. Beberapa kali dia mengumpat, dia tahu Seohyun tidak akan menyukainya kalau dia tidak merubah sikapnya yang kekanakan. Bukankah itu salah satu dari sekian ribu alasan mengapa Seohyun membencinya?

Obat penghilang pening itu sepertinya manjur karena sekarang Yoona tidak lagi merasakan tusukan-tusukan di belakang kepalanya seperti yang beberapa waktu lalu ia rasakan. Sekarang, gadis itu merasa lebih rileks dan kepingin tidur.

Semakin cepat dia menyelesaikan semua ini, tentu semakin cepat pula dia dapat meringkuk di kursi belakang marcedes benz nya selama satu jam untuk menghilangkan efek obat. Jadi, Im Yoona memacu mobilnya menyalip beberapa mobil yang berjalan pelan-pelan. Sang aktris tidak ingin terlambat jika itu urusan hidup dan mati.

Satu deringan di ponselnya menyebabkan gadis itu terlonjak. Nama Taeyeon tertera dengan jelas di layarnya. Yoona mengerutkan kening dan mengabaikan panggilan itu. Dia terus memacu mobilnya seolah tujuannya sudah tepat di depan matanya.

Yoona dengan nekat melewati bahu jalan saat sebuah mobil Peugeot merangkak perlahan-lahan di depannya. Gadis itu tidak terlalu mempertimbangkan resikonya untuk mengambil jalur kiri.

Dengan kecepatan sembilan puluh kilo meter perjam, benz yang dikendarai sang aktris mengeluarkan suara berdecit menyakitkan saat menyalip Peugeot itu. Yoona mencoba menghindari hantaman pagar pembatas dengan membanting setir ke sebelah kanan. Namun, apa yang dihadapinya kini di luar dugaan.

Dengan tidak mengurangi kecepatan mobilnya, Yoona kembali mengambil lajur kiri dan setelah dia melihat apa yang ada di depannya kini, otaknya seolah mengalami gagal fungsi. Sebuah truk yang berhenti dalam jarak beberapa meter dari mobilnya. Yoona tahu ini adalah saatnya dia harus mengucapkan selamat tinggal pada hidupnya yang berharga.

Dengan kaki gemetar, Yoona mencoba menekan rem. Namun Yoona harus mengakui bahwa kecepatan benz memang tidak dapat diragukan lagi. Keputusan cepat harus dia ambil, menabrak pagar pembatas atau truck. Keduanya bukan pilihan yang menarik.

Ini bukan lagi tentang hidupnya, dan Yoona menyadari dia tidak dapat membanting setir sebelah kanan tak peduli seberapa kecil kesempatannya untuk selamat dari maut. Namun dia tidak mau membahayakan hidup orang lain. Jadi sambil menutup mata, Yoona membanting setir ke kiri, benznya dengan atraktif dan penuh adrenalin menghempas pembatas jalan dengan hebat. Seandainya saja ini hanya sebuah film, Yoona pasti akan bersorak atas keberanian sang aktor. Tapi, tentu saja sekarang dia tidak dapat melakukan hal itu kan?

Satu kali kepala Yoona menabrak setir. Seolah masih kurang, mobil itu pun terpental menabrak bumper truck. Posisinya saat ini sama sekali tidak dapat disebut menyenangkan. Benz hitamnya penyek terhimpit antara pagar pembatas dan truck. Kondisinya benar-benar memprihatinkan dan rungsep total.

Darah mengalir di pelipisnya yang berdenyut-denyut semakin keras. Yoona tidak merasakan apapun saat matanya menyerah untuk tetap terbuka. Tubuhnya semakin ringan seperti kapas dan Yoona pun tidur semakin dalam.

Wajah Seohyun sempat terlintas di benaknya sebelum tergantikan dengan wajah seorang gadis yang tidak dia kenal tersenyum kepadanya dan menuntunya semakin nyenyak dalam tidurnya.

*

Taeyeon datang sedikit tidak tepat waktu. Seharusnya dia tepat waktu jika Seohyun tidak mengunci toko bukunya. Saat Taeyeon dan Sunny berhasil mendobrak pintu utama perpustakaan itu dengan tenaga yang dapat mereka kumpulkan melalui tubuh kecil mereka, Seohyun sudah tergantung dengan satu lengan yang menyangga berat tubuhnya.

Taeyeon meneriakkan nama gadis itu berkali-kali, namun sepertinya usahanya sia-sia. Sunny sedikit lebih cerdas, gadis mungil itu berusaha menaiki tangga dan berencana menarik tubuh Seohyun dari atas. Namun, sebelum gadis itu dapat bertahan lebih lama lagi, pegangannya perlahan-lahan merosot dan tubuh Seohyun pun meluncur dari ketinggian dua puluh kaki dan menabrak rak buku dalam perjalanannya. Sehingga menyebabkan rak itu terjatuh dan bukunya berserakan mengenai tubuh Seohyun yang terlentang di atas karpet merah. Darah yang mengucur dari kepalanya membaur bersama merahnya warna karpet hingga seolah membentuk noda hitam di sekelilingnya.

Taeyeon berlari mengampiri tubuh gadis malang itu dan mendengar Sunny mengumpat keras-keras karena keterlambatannya. Dengan enggan gadis mungil itu kembali menuruni tangga menuju tempat Taeyeon dan tubuh Seohyun berada, di tengah-tengah ruangan.

Bibir Seohyun masih gemetar saat Sunny menghampirinya. Dia mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi ambulan, namun dia punya firasat bahwa semuanya bakal sia-sia saat dia kembali mengalihkan pandangannya pada wajah Seohyun.

Ekspresi panik dan kesakitan telah menghilang dari wajahnya. Kelembutan hinggap di mata gadis jakung itu dan ketenangan menghiasi wajahnya. Perlahan-lahan, Taeyeon mencondongkan tubuhnya pada gadis itu. Tangannya meraih satu buku yang sempat di genggam oleh Seohyun dan terkesiap.

Tidak lama kemudian, sejumlah rak yang tadinya sempat miring akibat insiden jatuhnya tubuh Seohyun dari lantai balkon, kini menimbulkan beberapa buku jatuh di sekitar mereka dan menyebabkan kepulan debu.

Tubuh Seohyun yang sudah tidak bernyawa kini dikelilingi buku-buku, kayu dan debu. Namun, tidak satupun dari buku atau kayu itu terjatuh menimpa tubuhnya. Buku-buku itu tersebar mengelilinginya. Persis seperti impian Seohyun kecil.

Taeyeon mengeluarkan ponselnya, berusaha untuk menghubungi Im Yoona dan mengatakan padanya bahwa mereka sudah terlambat kemudian mereka akan segera bergerak untuk menghampiri dimana gadis itu berada.

Sunny mencoba menghubungi rumah sakit terdekat untuk mengevakuasi tubuh Seohyun sementara Taeyeon berusaha menghubungi Yoona, namun tidak mendapat jawaban.

Taeyeon akhirnya menyerah dan membantu Sunny membereskan kekacauan yang terjadi. Dia mengamankan buku bersampul keemasan itu di salah satu meja display agar polisi tidak ikut mengevakuasi barang tersebut nantinya. Taeyeon punya firasat buku itu akan membantunya mengatasi anomali-anomali yang sedang terjadi belakangan.

“Kita terlambat Sunny.” Kata-kata Taeyeon menggema di seluruh toko.

Sunny mendesah sebelum menjawab dengan sepenuh hati, “kita sudah berusaha keras Taengoo..”

“Bagaimana kita menjelaskan hal ini pada yang lain? Pada Fany?” Taeyeon berusaha sekuat tenaga untuk menghentikan air matanya, namun tidak bisa.

“Jujur saja, aku tidak tahu Taeyeon…” Sunny mengambil salah satu buku yang terjatuh dari raknya dan mengembalikannya ke tempat semula.

“Kita semua akan mati kan?”

“Kuharap tidak, kuharap kita salah.”

Taeyeon hendak membuka mulut untuk menjawabnya namun raungan dering ponsel Taeyeon mengubur kembali kata-kata sarkasme yang hendak meluncur dari bibirnya.

Im Yoona.

“Yoona? Kemana….”

“Hallo..” Suaranya terdengar maskulin dan asing.

“Yoona…?” Taeyeon merasa tidak yakin.

“Dengar nona, sepertinya kau berusaha menghubungi temanmu beberapa menit yang lalu. Aku hanya ingin mengabarkan kalau temanmu ini telah mengalami kecelakaan hebat karena terjepit antara pagar pembatas dan truk. Kami sedang berusaha mengevakuasinya. Jika kau tidak keberatan segeralah menuju Daesug Road Km 7.”

Taeyeon tanpa sengaja menahan napas. “Ba…baik.. terima kasih atas informasinya.” Sambungan telepon terputus.

“Taeyeon?” Sunny melambaikan tangannya di depan Taeyeon yang tengah melamun.

“Sonkyu… kita harus pergi sekarang.” Taeyeon akhirnya menatap sahabatnya itu lekat-lekat. “Kita terlambat lagi…”

“Yoona?” Sunny bertanya dengan nada khawatir.

Taeyeon mengangguk sebelum mendesah untuk mempersiapkan diri mengatakan berita yang dia tau takkan disukai Sunny. “Dia.. kecelakaan mobil di Daesug Road.”

Taeyeon mencari penyangga untuk mempertahankan posisi tubuhnya. Kedua kakinya kini gemetar seperti jelly.

“Kurasa kita tidak perlu pergi.” Sunny merangkul pundak Taeyeon untuk membantunya berdiri. “Sudah terlambat, double. Kita tidak perlu melihat apa kita masih beruntung atau tidak.”

“Tapi Sunny-ah, mereka menghubungiku.”

“Aku akan menghubungi keluarganya, juga Seohyun.” Sunny menangkap tatapan ragu Taeyeon padanya. “Itu yang terbaik, Taeyeon. Tidak ada yang dapat kita lakukan kecuali membereskan semuanya. Kita masih punya banyak masalah untuk diselesaikan.”

“Aku benci saat kau benar.”

“Ya, aku juga mencintaimu. Sekarang kumpulkan energimu untuk mencari solusi dan cara yang tepat untuk memberi tahu yang lainnya, terutama Tiffany.” Sunny menatap Taeyeon sebentar, mencoba menerka reaksinya seperti yang sudah biasa dia lakukan. Taeyeon mungkin bukan orang yang ekspresif dalam berkata-kata, tapi wajah dan matanya lebih ekspresif dari pada siapa pun yang pernah Sunny kenal. Dia benar-benar payah dalam ber-poker face, sangat berbanding terbalik dengan dirinya.

*

Yoona melirik jam tangannya. Lima belas menit sebelum study tour dimulai. Dia dan Seohyun masih punya argumentasi hebat yang belum terselesaikan pagi ini. Dan sekarang, gadis sok tahu segalanya itu tiba-tiba menghilang. Yoona sempat melihatnya di dalam bus beberapa menit yang lalu, namun sekarang gadis itu tak terlihat di mana pun.

Buku dan tas Seohyun masih terletak dengan rapi di kursi dekat jendela dalam bus. Tapi pemiliknya menghilang, padahal Yoona baru saja menemukan fakta yang dapat memperkuat pendapatnya. Dia tidak sabar untuk memberitahukannya pada Seohyun!

Yoona akhirnya memutuskan untuk keluar dari bus dan mencarinya di sekitar. Hanya untuk memberitahukan bahwa bus akan segera berangkat—dan memilih untuk menyelesaikan apapun yang ingin mereka selesaikan di dalam bus. Gadis itu menyeringai, dia punya sesuatu yang akan menjaganya agar tidak bosan selama perjalanan—Seohyun.

Yoona melewati taman menuju perpustakaan, mengira Seohyun sedang mencari bahan tentang debat sengit mereka. Namun saat melewati ruang kelas di dekat taman paling ujung, Yoona tidak dapat menahan rasa penasarannya. Sekitar lima orang kakak kelasnya sedang berkumpul di dalam kelas. Bukankah seharusnya mereka sudah ada dalam bus? Namun Yoona segera mengabaikan hal itu dan melewatinya begitu saja. Dia mengira bahwa mereka mungkin saja tidak terlibat dalam urusan Study tour itu.

Gadis itu melewati beberapa anak tangga sebelum sampai di ruangan paling ujung di koridor yang dilewatinya. Yoona membuka sedikit pintunya dan mengintip. Namun yang dapat dia lihat hanya rak-rak buku, koridor-koridor kosong dan tumpukan buku yang setengah dibaca di kursi duduk pengunjung. Tidak ada tanda-tanda kehidupan kecuali burung-burung kecil yang hinggap di jendela dan bercicit seolah mengundangnya untuk duduk-duduk menikmati keindahan itu.

Yoona hampir tergoda, untung saja dia teringat bahwa dia harus turun dalam waktu sepuluh menit sebelum bus berangkat. Jadi dia memutuskan untuk menyusuri lorong-lorong yang sepertinya kosong tersebut, melihat ke sudut-sudut ruangan hanya untuk memastikan ruangan itu benar-benar kosong dan Seohyun sedang tidak berusaha untuk bersembunyi di balik rak-rak tersebut.

Sejenak, Yoona tersadar bahwa semua ini bukanlah tipikal Seohyun. Gadis yang tidak akan mau dibayar berapapun untuk terlambat? Yoona menyeringai.

Baiklah, sepertinya dia pasti sudah kembali.

Jadi Yoona memutuskan untuk kembali turun. Gadis itu berpikiran untuk berjalan memutar lewat taman belakang hanya untuk memastikan bahwa Seohyun tidak ada disana tapi duduk manis di bus pariwisata.

Saat melewati toilet, Yoona berhenti sebentar karena sepertinya dia mendengar jeritan. Seorang gadis berkulit kecoklatan yang terlihat seperti kakak kelasnya tampak keluar dari salah satu bilik kamar mandi sambil bergumam sendiri. Yoona dapat mendengar sedikit kata-katanya, ‘tidur di kamar mandi, yang benar saja?’ sebelum gadis itu menoleh dan tersenyum padanya. Yoona mengangkat alisnya, gadis itu membawa kantong plastik berisi kecoa. Yoona membuat catatan bahwa dia akan mencari tahu tentang gadis itu nanti. Dia merasa bahwa mereka akan menjadi sepasang prankster terhebat di seluruh kampus.

Dengan seringai penuh kemenangan, Yoona pun memasuki kamar mandi, mencoba mencari tahu siapa yang sedang tidur di kamar mandi. Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba ada seseorang di baliknya yang mendorong pintu tersebut hingga terbuka lebar.

“Yah! Seohyun!” Teriak Yoona saat melihat siapa yang ada di balik pintu tersebut.

“Oh, Yoona.. Apa yang kau lakukan di sini?”

“Aku… tadinya kupikir kau di perpus mencari bahan argumen.”

“Tidak…. aku tidak mau buang-buang waktu mencarinya. Ada hal darurat yang harus kuselesaikan.”

Yoona nyengir saat Seohyun memukul pundaknya. “Aku sudah selesai. Kita harus pergi, sepertinya busnya akan segera berangkat.”

“Tentu..” Mereka berjalan setengah berlari menuju halaman depan. “Kupikir kau tidur di kamar mandi.”

“Oh.. memang ada seseorang, tapi entah siapa. Tadi ramai sekali.”

Yoona mengangguk, menganggap gadis berkulit kecoklatan tadi pasti keren sekali.

Seohyun tiba-tiba berhenti, terpaku.

“Ada apa?” Tanya Yoona.

“Bukannya busnya tadi ada di sekitar sini?”

“Kalian terlambat.” Kata seorang gadis yang kemudian berjalan di samping pepohonan. “Busnya sudah berangkat.”

“Unnie… tapi…”

“Mereka sudah berangkat Seo…”

“Unnie, mengapa unnie masih ada di sini?”

“Menyelamatkan diriku.” Jawabnya singkat.

Seohyun mengangkat sebelah alisnya. “Kenapa?”

“Kau tahu, aku tidak suka hal-hal seperti itu. Jadi aku menyelamatkan diriku dari kebosanan.” Gadis itu lalu berdiri dan berjalan melewati taman sebelum menghilang dibalik tembok-tembok kelas.

-TBC-

~S2

Thanks feedback nya 😉

Psyco : yang ini gak terlalu lama kan? 😀 silahkan dibaca dulu chap sebelumnya kalo masih bingung :))

Vanilla : haha. Ngomong-ngomong itu ff nya cuma satu itu indigen doang kah?Blm selesai ya? Em.. nunggu selesai aja deh 😀 *dasar*

jeje : diikutin dulu aja, ntar lama-lama juga terkuak sendiri misterinya. 🙂 Gud luck!

Lisa : hi lis~ lama gak keliatan. Kemana aja?

leha/? : kkk~ non leha mah.. YEAY! Mari kita rayakan! Non leha sekarang udah tau cara komen di wp! SELAMAT~

Kimrahmahwang : di ikutin aja dulu ceritanya, pasti tar nyambung sendiri kok 😀

Ai5 : Seperti yang udah gue bilang sebelumnya, diikutin dulu aja ya… maaf kalo banyak bikin kebingungan 😀

hutamikim93 : Thanks!

Taeng- jjang👏 : Preferensi bahasa baku? Padahal ini aku nulisnya pake bahasa santai sih.. hahaha.. bahasa terlalu baku kadang jadi aneh apalagi kalo pake sudut pandang orang pertama 😀

kwon dee : maap, jadi nunggu terlalu lama *bow*

initial_D : D! OMG! Gue mesti jantungan deh baca komenan elu.. hahaha… Errr… gue gak janji kalo nyisa yee.. hahaha… Bagus, cukup bagus kalo bisa nyampe kolom ‘rekomendasi’ di wepe gue lah.. hahaha.. Well, selamat berusaha ‘membaca’

joe : wahahaha.. boleh! Ide lu bagus juga lah..hahaha.. makasih udah mampir.

Xiao Prince : hahaha… terima kasih udah mampir :))

Pitylee_SS : hahaha.. iseng-iseng berhadiah? Ni.. aku kasih lagi deh biar gak iseng-iseng lagi 😀 Iyakah? Rasanya ini gak seberapa deh. Hahaha.. Tetep makasih ya..

cing chaota : (y) terima kasih dan selamat datang!

First, buat readers baru–maupun lama, gue ingetin lagi dan lagi dan lagi. Jangan panggil gue ‘thor’. Apa gue perlu bawa godam segede betis gue sambil gedor-gedor batu? lol. Lagian bibir gue juga gak jon-thor jon-thor amat. lol. Cukup panggil gue, simple aja. Sasya. Gue suka nama itu, udah itu aja 😀

Kedua, buat new readers yang mungkin belum tau/belum pernah baca.. gue mau relaunch ff yang belum lama ini gue tulis ‘gone with the wind‘ in case kalian belum baca. Gue cukup bangga nulis ff ini. Hahaha..

Ketiga, feel free buat re-posting semua ff gue (GUE, SASYA) asal… asal tolong setidaknya cantumkan nama gue sebagai pengarang asli DAN link ke wepe ini. Gue tahu banyak banget yang menginspirasi semua tulisan-tulisan gue. Gue juga seneng banget kalo tulisan-tulisan gue diapresiasi seperti tulisan-tulisan mereka *(yang menginspirasi gue)

Follow our official twitter @soshiff9 . Stay updated, Alliens!

Saya tunggu feedback nya  =))

Iklan

24 thoughts on “Fatal Frame Part 4”

  1. wew, ampe lupa mo komen apah .. hadeh.
    itu duo maknae bneran mati, sya?
    sumpah tegang baca inih !!! ><
    dtunggu chap slanjut.a 😉

  2. Ninggalin jejak dlu hehe
    Makin intens dan alurnya bagus menurut saya
    Lagi nunggu ad yang unexpected atau apakah alur ny bakal sprt yg saya bayangkan
    Hahaha hwaiting ya chinggu
    Saya suka ff kamu (y)

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s