SNSD, SOSHI FF

YEARS OF SILENCE [One Shoot]

credit image by: chanhee59 @Art Fantasy

~S2 Present, romance, Yuri~

Copyright © 2014–almost end, @sasyaa95

Semoga gak terlalu telat.. but.. Happy 3rd aniversary my baby soshiff9!

Its party everybody~ Just enjoy while it lasts.

“Halmoni, ayo ceritakan kisah semenjak halmoni tumbuh di pulau Jeju.” Cucu perempuanku yang mungil, Seulgi sedang melihat-lihat halaman album foto lamaku sepintas lalu. Wajahnya yang ceria itu memandangku penuh harap.

“Kisah mana yang mau kau dengar sekarang?” Aku bertanya. Ia membolak-balik halaman-halaman album itu dengan hati-hati dan perasaan agak hormat, masing-masing gambar dengan kisah berbeda-beda.

“Ceritakan tentang rumah itu, halmoni, dan juga cicak-cicak kecil yang merayap di dinding. Ceritakanlah tentang semua binatang yang halmoni punyai, kadal kecil yang berhasil halmoni tangkap, dan ketika halmoni kehilangan ikan kesayanganmu. Ceitakan tentang kakek dan bagaimana halmoni harus duduk dengan punggung tegak lurus di belakang meja… lalu ketika halmoni pergi ke pantai dan gunung-gunug. Ceritakanlah, ayo cerita, halmoni!”

Aku menatap wajah bocah yang gembira ini dan merasakan desakan yang kuat untuk menguraikan kisahku. Asal usulku, kisah hidupku, masa laluku. Semua itu ada di sana, terkubur di antara halaman-halaman album keluarga ini.

Meskipun demikian ada beberapa foto yang memang tidak ada, foto-foto yang tak sempat di potret. Gambaran-gambaran itu sangat mendalam dan nyata terukir selamanya dalam pikiranku, dan terkunci rapat di dalam hatiku, namun kisah-kisah yang tergambar itu terlalu menyakitkan untuk diungkapkan. Selama ini aku telah merahasiakannya dari putri-putri, cucu-cucu, keluarga dan teman-temanku. Namun kebutuhnan untuk menguraikan kisah-kisah yang lebih kelam ini bertumbuh semakin kuat dan sangat nyata.

Cucuku telah mendengar permulaan kisah itu, dan ada beberapa bagian peristiwa yang dibuat-buat, beberapa kali sebelumnya. Namun, seperti kebanyakan anak kecil lainnya, ia menyukai petualangan dan ketenangan mengetahui apa yang terjadi berikutnya. Aku menatap foto-foto itu, beberapa diantaranya telah memudar lantaran termakan usia.

Seolah aku dapat merasakan kembali semilir angin pantai yang sejuk, dan gemericik ombak yang menghantam bebatuan dengan alunan simponi yang harmonis. Meminum segelas jus limun saat musim panas dan meringkuk di depan perapian saat sedang salju. Aku sangat merindukan semua itu.

Awal dari kenangan itu adalah, saat aku sedang berlibur di sebuah pantai. Aku lahir dan dibesarkan di Jeolado lima puluh tahun yang lalu. Namun, ayah dan ibuku terpaksa harus pergi ke Jepang pada usiaku lima belas tahun dan aku harus tinggal di salah satu resort milik mereka di pulau Jeju hanya dengan seorang pembantu. Namanya Jin Ri wanita berusia tiga puluh lima tahun dan memiliki dua anak, aku biasa memanggilnya ajhumma. Ajhumma hanya pergi mengunjungiku dari pagi sampai sore, pada saat jam makan siang dan malam hari dia pulang untuk mengurus anaknya. Seperti aku, kedua anaknya juga di asuhkan pada orang lain.

Cerita itu dimulai saat aku baru saja merayakan ulang tahunku ke tujuh belas. Orang tuaku terbang dari Jepang untuk merayakan pesta barbeque di pantai. Walaupun keesokan harinya mereka harus terbang lagi tapi aku cukup bahagia melihat mereka.

Aku tinggal di pantai sedikit lebih lama. Semua teman-temanku sudah kembali ke rumahnya. Aku suka membungkus diriku dalam keheningan suara ombak. Aku menyukai suara kapal-kapal dari kejauhan dan bau airnya.

Aku hendak kembali ke resort saat mendengar sebuah jeritan kesakitan. Pada awalnya aku mengabaikannya karena kupikir itu hanya imajinasiku saja. Namun, saat suara itu semakin terdengar menderita, aku mau tak mau mencari asal suara itu.

Dari kejauhan bibir pantai, kulihat sesuatu bergerak diantara bebatuan karang. Kupikir itu hanya berang-berang yang kakinya tersangkut karang, jadi aku berniat membantunya. Namun ternyata aku salah besar. Saat aku dapat melihatnya dengan jelas, ternyata jeritan itu berasal dari seorang gadis yang rambutnya tersangkut sesuatu di bawah air.

Saat aku bertanya apakah dia baik-baik saja namun dia justru menangis semakin keras. Aku kebingungan harus berbuat apa, akhirnya aku menceburkan diri ke pantai dan mencari titik dimana rambutnya terjerat di bawah karang. Taruhan, saat kusentuh yang kurasakan seolah bukan helai-helai rambut biasa, benar-benar lembut seperti lumut di bebatuan.

Aku meringis kesakitan saat lenganku tergores karang yang bersudut lancip. Aku berusaha mengabaikan rasa perihnya dan memfokuskan diri pada rambut gadis itu yang tersangkut karena sekarang dia belum berhenti menangis.

Aku hampir saja yakin bahwa rambut gadis itu bukannya tersangkut tetapi ditarik oleh sesuatu di balik batu-batu karang itu karena aku merasa seolah baru saja bermain tarik tambang.

Aku memekik saat gadis itu memeluk tubuhku dari belakang—dan aku dapat…. aku dapat merasakan…. tubuhnya yang… sepertinya telanjang di punggungku. Aku merasakan sesuatu yang hangat menetes di leherku, pastinya itu air mata karena dia tengah tersedu di punggungku.

Dengan sekuat tenaga, kutarik rambut itu hingga terlepas dari karang-karang dan dia menangis semakin keras seolah benar-benar ketakutan. Hal membuatku kikuk—mengingat kondisinya yang… telanjang. Aku tidak berani berbalik dan melihat apakah dia benar-benar telanjang atau—hanya halusinasiku saja.

Ingin rasanya aku mengutuk diriku sendiri—normalnya, aku harus menenangkan gadis yang tengah menangis sambil memeluk punggungku, kan? Maksudku, setidaknya aku bisa memeluknya balik dan mengusap punggungnya lalu berbisik padanya bahwa dia tidak usah takut lagi karena semuanya sudah berhasil kuatasi seperti seorang pahlawan. Namun semua keharusan itu dihancurkan oleh sebuah situasi; telanjang.

Dengan bajuku yang sudah separuh basah, kuberanikan diri untuk berbalik dan menatap matanya—berusaha sangat keras untuk tidak melirik semakin ke bawah. “Kau baik-baik saja?”

Dia mengangguk dan hendak memelukku kembali sebelum aku mundur satu langkah. Karena aku hanya menatap wajahnya, jadi aku tahu dia kecewa. Bukannya aku ingin menolak—aku hanya tidak yakin dengan diriku sendiri. Aku tidak bisa tidak membayangkan dia memelukku—dalam kondisi sedemikian rupa—aku memiliki kewajiban untuk membalas pelukannya, itu artinya aku harus menyentuh tubuhnya—lebih tepatnya punggungnya dan aku bahkan tidak bisa menjamin jika tanganku akan diam di tempatnya.

Aku masih cukup waras untuk tidak memanfaatkan gadis ini. Lagi pula sejak kapan aku suka menyentuh tubuh gadis-gadis?

Aku masih diam terpaku di tempat saat kurasakan semacam kecupan ringan di pipiku dan menyadari bahwa kini aku sudah sendirian di tempat itu.

*

“Taeyeon…” Aku merasa seseorang memanggilku, tapi aku mengabaikannya.

“Taeyeoooonn…” Kali ini kurasakan guncangan di pundakku jadi aku terpaksa mengalihkan pandanganku.

“Apa sih?” Tanyaku agak merasa iritasi. Aku tengah berpikir keras saat melihat seorang gadis tersenyum padaku, sepertinya aku penrnah melihat gadis itu di suatu tempat tapi aku tidak ingat persisnya di mana.

“Aku bertanya apa kau masih di sini? Karena sebentar lagi aku mau pergi.” Sooyoung, sahabatku yang doyan makan itu rupanya yang telah mengganggu proses berpikirku lima belas detik yang lalu. Aku menjawabnya dengan anggukan dan saat aku kembali memfokuskan pandanganku pada gadis itu, aku tidak lagi dapat menemukannya.

“Lagi lihat apa sih?” Sooyoung memutar kepala, mencoba mencari tahu.

“Entahlah, tadi sepertinya aku melihat seseorang yang kukenal di sini, tapi aku nggak yakin.” Aku mengangkat kedua pundakku di depan Sooyoung, mencoba menunjukkan padanya bahwa aku tidak peduli juga untuk membuat Sooyoung tidak bertanya lebih lanjut. Terkadang dia memang agak menyebalkan dan suka mengorek sesuatu sampai ke akarnya—jadi lebih baik kalau aku tidak terlihat peduli.

“Baiklah, jadi kakakku akan merayakan pesta pertunangannya di resort keluarga, kuharap kau muncul di sana.” Kata Sooyoung melanjutkan sambil membereskan barang-barangnya bersiap untuk pergi.

“Kuusahakan.” Jawabku singkat lalu menyeruput kopiku. Kami memang bertemu dua jam yang lalu di kafe dekat kampus untuk membicarakan acara pertunangan kakaknya—yang bisa dibilang sepupu jauhku. Jadi, aku juga tidak percaya bahwa keluarga kami sebenarnya berhubungan. Lihatlah dia, berkulit gelap berwajah kurang oriental dan… makan seperti orang kesetanan, walaupun kuakui tinggi badannya cukup membuatku iri. Jika kau menyuruhku berdiri di sampingnya, ujung kepalaku hanya sampai pundaknya saja.

“Aku menunggumu.” Sooyoung meletakkan sepucuk undangan berwarna merah muda pastel di hadapanku. “Kau harus keluar lebih sering Tae,” Sooyoung menggeleng-gelengkan kepala. “Kau sudah hidup seperti monster dalam gua.”

“Apa aku terlihat seperti monster.” Tanyaku berusaha terlihat menakutkan, sayangnya aku tahu Sooyoug tahu banyak tentangku untuk mengaggap usahaku berhasil.

“Nope. Kau seperti serigala berbulu domba.”

“Ya! Apa maksudmu?”

Sooyoung tertawa. “Maksudku, tampangmu imut namun sebenarnya kau buas seperti serigala.” Sooyoung berlari sebelum aku berhasil menangkapnya.

Aku menggelengkan kepala berkali-kali lalu kembali menyesap kopiku yang barangkali sudah dingin.

*

Aku melihatnya lagi. Aku sudah tidak menghitung berapa kali lagi kami secara ‘kebetulan’ bertemu. Setiap kali kudekati, gadis itu selalu menghindar. Aku punya firasat kuat bahwa selama ini dia tengah mengikutiku kemanapun aku pergi, namun tampaknya tidak.

Dia sepertinya berusaha untuk tak tertangkap olehku, namun gagal. Aku selalu dapat menemukannya di balik keramaian—karena da tidakbenar-benar berusaha untuk tidak terlihat. Dia selalu menggunakan gaun berpotongan simple dan berwarna secerah lautan. Pernah sekali waktu dia menggunakan warna merah muda terang sementara orang-orang yang beralalu-lalang di sekitarku hanya berpotongan jas atau baju pastel cassual. Tidak sulit buatku menemukannya, meskipun setiap kali mata kami bertemu dia langsung mengalihkan pandangan.

Setelah beberapa minggu memiliki penguntit, aku pun jadi merasa terbiasa akan kehadirannya. Hari ini pun tidak berbeda, aku langsung menyadari kehadirannya beberapa meter dari tempatku berdiri. Dia bukan tipikal gadis yang takkan kau lihat—sungguh. Kecantikannya membuat semua mata tertuju padanya. Rambutnya yang kecoklatan, dan senyumnya yang khas dan menawan. Sangat sulit untuk tidak memperhatikannya.

Sepertinya dia juga sudah terbiasa menguntitku kemanapun. Dia sudah hapal kebiasaanku yang suka menyendiri. Dia tak pernah menggangguku, tak pernah sekali pun mengeluarkan suara jika berada di dekatku. Gadis misterius itu hanya mengamatiku, seolah aku bahan observasi yang sempurna. Jika aku berada di tengah keramaian teman-temanku, dia akan berdiri lebih jauh. Aku menyadari ini ketika berada di beberapa orang tertentu—seperti Sunny teman masa kecilku—yang sebentar lagi akan menikah dan Sooyoung dan Yuri. Dia akan berdiri sejauh mungkin dariku tapi tidak melepaskan padangannya sedikit pun padaku.

Apa aku merasa takut? Ya. Awalnya aku merasa khawatir, namun seiring berjalannya waktu tak kulihat gadis itu melakukan hal-hal yang konyol seperti menyerangku secara tiba-tiba atau menculikku atau menaruh kacang di supku. Jadi aku tidak merasa khawatir lagi. Memang awalnya terasa aneh tapi sekarang sudah terbiasa.

“Kau tidak mau masuk?” Tanyaku suatu hari, aku berlari begitu cepat ke arahnya sebelum dia punya kesempatan untuk menghilang—lagi saat aku mendekatinya.

Dia terlihat kebingungan lalu menggelengkan kepala dan berusaha kabur sebelum kuraih pergelangan tangannya.

“Kau hanya akan berdiri disini dan memandangiku setiap hari?”

Ada sesuatu yang aneh dari gadis ini selain wajahnya yang cantik.

“Jadi siapa namamu?”

Dia memandangku penuh harap, kupikir dia akan menjawab pertanyaanku namun dia hanya memandangiku.

Aku menunggu jawaban yang takkunjung datang sebelum kudengar seseorang memanggilku.

“Taeyeon! Hey, apa yang kau lakukan disana?”

Sooyoung, ugh!

Aku berbalik untuk menjawabnya, “sebentar Soo! Aku tahu kau lapar, aku punya tamu.”

Kulihat dia melihatku kebingungan namun aku tidak bertanya kembali.

“Maaf, jadi siapa namamu?” Tanyaku pada udara, dia telah pergi. Entah kapan aku tidak menyadarinya lalu mengutuk diriku sendiri. Aku mencarinya ke sekeliling, aku tahu dia tengah bersembunyi di suatu tempat.

“Taeyeon… cepatlah..”

Ugh! Sooo…

Mungkin aku masih belum beruntung, lain kali jika aku melihatnya lagi kupastikan setidaknya aku tahu namanya.

“Baik Soo… baik..”

*

Kepalaku benar-benar terasa berat. Aku tidak mencintainya, aku yakin itu. Namun kenapa aku melakukan semua ini? Mungkin harga diriku yang terluka karena ku yakin hatiku baik-baik saja. Dia pria bangsat, dan aku mengencaninya selama satu bulan. Seharusnya aku senang kita akhirnya putus juga. Aku tidak mengerti mengapa dulu aku setuju untuk melakukan ini jika aku tidak sabar untuk menunggu endingnya. Sebagian dari harga diriku yang terluka adalah kebahagiaan untuk melepaskannya.

Aku berjalan tertatih-tatih dan hampir menabrak segalanya. Langkahku begitu ringan disamping kepalaku yang begitu berat. Aku tidak peduli dengan apapun saat ini, aku hannya ingin cepat sampai di rumah, tidur dan melupakan segalanya.

Saat aku yakin aku hampir menabrak sebuah mobil—menilai dari klakson yang dibunyikan begitu rupa, sampai kurasa aku kehilangan indera pendengarku, sesuatu menarikku kembali ke jalanan. Aku yakin tadi aku hampir mati, aku? Mati karena pria bangsat itu? Cih.. Dia bahkan not worth my time.

“Aku bahagia! Jangan sentuh aku pria bangsat…” Aku memekik dan mencoba melepaskan lenganku dari genggamannya. Namun dia hanya menggeleng.

“Apa maumu? Masih kurang bersenang-senang dengan gadis itu?” Tanyaku sambil tertawa—tawa yang kusadari begitu pahit.

“Aku tidak mencintaimu selama ini, kau hanya datang saat aku kesepian dan… dan yah, kucoba untuk mencintaimu, namun aku tak bisa. Apa kau tahu betapa bahagianya saat aku menemukanmu mengisap bibir gadis itu di tembok sekolah, menemukan taganmu dibalik kausnya?” Aku tersedu kemudian tertawa lagi. “Kau memang pria bangsat, kau tahu? Jika kau ingin mencumbunya begitu rupa, bisakah setidaknya kau memberitahuku baik-baik dan memutuskanku dengan damai?” Aku terus mengoceh walaupun tidak mendapatkan respon atau jawaban yang kuharapkan, namun setidaknya aku harus mengeluarkan segalanya dan kurasa ini adalah saat yang tepat.

“Kau bisa saja membuat semua orang percaya bahwa kau mencintaiku begitu pula sebaliknya, namun aku tidak merasakan adanya kembang api di perutku saat kau pertama kali menciumku, atau merasakan hatiku remuk saat melihatmu mencumbunya. Apakah itu cinta? Bukan, kurasa. Kau memang ganteng, semua orang bilang begitu, sialan.. aku pun mengakuinya. Namun kau bukan orang yang kucari, terima kasih sudah menginisiasikan perselingkuhan itu ngomong-ngomong.” Aku tertawa lebih keras dan dia akhirnya melepaskan tanganku.

“Aku tak pernah suka penghianatan, namun aku tidak bisa bilang aku tidak lega.” Kataku sambil tersenyum. “Aku tidak yakin aku bisa melihat wajahmu dan bersikap seolah tidak pernah terjadi apapun, namun aku tidak dendam padamu.” Yah, aku memang harus melepaskan segalanya, bukan? “Pergilah, kau terlihat cocok dengannya.” Kataku sambil mendorong lengannya.

Dia menggeleng kuat-kuat lalu memelukku, aku berusaha berontak. Dia bukan milikku lagi, dia tidak berhak menyentuhku kembali.

Hangat, sungguh nyaman. Aneh jika kukatakan pelukan ini sangatlah berbeda. Dia memang pernah memelukku beberapa kali, namun rasanya tidak seperti ini. Aku merasa seperti tengah berada di pinggir pantai dan merasakan kedamaian dalam semilir angin laut saat dia memelukku.

Aku mendongak, lalu kusadari bahwa yang memelukku bukanlah dia. Melainkan seseorang yang sudah lama tak kulihat keberadaannya. Penguntit cantik yang dulunya suka mengikutiku kemana pun aku pergi dan berusaha keras untuk tidak terlihat olehku namun sia-sia.

Aku masih berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadaranku dan memastikan apa yang kulihat bukan imajinasiku saja. Namun sepertinya aku memang tengah berimajinasi, karena wajahnya berubah-ubah aku kesulitan mengidentifikasinya. Aku pasti sangat mabuk.

Aku melepaskan tubuhku darinya, menjauh dan pulang ke rumah. Namun, saat sepertinya aku hendak menubruk sesuatu dia menarikku lagi.

“Siapapun kamu, apa maumu huh?”

Tapi tak ada yang menjawabku. Saat aku hendak kembali berjalan, dia tidak melepaskan genggamannya. Kepalaku sungguh berat, aku tidak yakin bakal pulang selamat sendirian. Jadi ku biarkan siapa pun menuntunku kemana pun, aku hanya bisa berharap tujuannya sama seperti tujuanku.

*

Aku terbangun dan merasakan sakit kepalaku semakin menjadi, kucoba berdiri namun terjatuh lagi. Aku menyerah dan kembali berbaring, membiarkan sakit kepalaku menghilang dengan sendirinya.

Aku menatap langit-langit sambil memikirkan kejadian yang baru saja terjadi. Aku mendapati kekasihku bercumbu dengan gadis lain di lorong kampus—dan.. Aku mengernyit memikirkannya. Apa aku patah hati? Sepertinya tidak. Aku tidak merasakan sakit yang sesakit saat kecelakaan yang merenggut nyawa adikku saat aku berusia dua belas tahun. Atau saat-saat orang tuaku harus pergi pada hari ulang tahunku. Aku merasakan kekecewaan, tapi bukan sakit hati seperti yang semestinya kurasakan. Mungkin aku hanya merasa terhianati.

Pintu depan yang terbuka membuyarkan pikiranku, tadinya kupikir itu hanya Sooyoung atau Sunny. Karena hanya mereka berdua yang punya akses masuk ke rumahku. Jadi aku tidak bergerak, namun justru menutup mataku, berpura-pura tidur. Aku tahu apa yang akan terjadi—omelan tentang mabuk-mabukan dan lain sebagainya.

Aku langsung membuka mataku saat kurasakan seseorang membelai rambutku, tidak satu pun dari dua orang itu yang akan melakukannya, aku sangat yakin.

Dia!

Aku terlonjak begitu keras hingga hampir terjatuh dari sofa. Apa yang… apa yang dia lakukan disini?

Dia tampaknya juga sangat terkejut. Kita saling menatap selama beberapa saat, lalu kusadari dia tengah ketakutan. Jadi, dia yang membawaku kemari, aku tidak berhalusinasi waktu mabuk tadi.

“Terima kasih, kau pasti yang membawaku kemari.” Kataku lalu kembali duduk di sofa.

Dia tidak menjawab, hanya mengangguk dan tersenyum. Senyum yang tak hentinya mengejutkanku. Ada sesuatu dari senyumnya, sesuatu yang sepesial, yang membuatmu ingin selalu melihatnya.

“Kau menghilang selama sebulan.” Dia menuduk, bermain dengan jemarinya. “Kau bahkan belum mengatakan siapa namamu.” Kataku, lebih seperti pernyataan.

Dia mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan menuliskan ‘Tiffany.’

Aku mengangkat alis, dia…. tidak bisa berbicara?

“Aaah… Hay, Tiffany.. Kau pasti sudah tahu namaku kan?” Tanyaku, dia mengangguk.

Aku ikut tersenyum bersamanya. Aku merasa perutku ditarik ulur. Aku tidak pernah merasakan seperti ini sebelumnya. Aku tidak biasanya menyapa orang asing dan berbicara lepas dengan mereka, namun bersamanya aku merasa seolah kami adalah teman yang sudah sangat lama. Mungkin karena dia memang sudah lama mengikutiku kemana-mana.

Dia lalu meletakkan segelas air di atas meja setelah itu mengepalkan tangan kanannya dan menggerakkannya ke arah bibirnya. Aku tersenyum lalu meminumnya.

“Terima kasih, lagi, Tiffany.”

Dia mengangguk lalu menunjukku kemudian menggerakkan tangan di depan wajahnya setelah itu mengusap kedua matanya dan cemberut, berpura-pura menangis. Lalu menunjukku lagi kemudian menggunakan telunjuknya untuk membentuk bulan sabit terbalik di bibirnya, tersenyum sungguhan.

Aku mengangguk sambil terkekeh.

Dia mengangkat kelingkingnya dan menyodorkannya padaku dengan wajah mengancam yang lucu.

“Aku tahu, aku tahu, janji.”

Kami terdiam selama beberapa saat. Lalu dia menggelengkan kepala dan berjalan tergesa-gesa menuju dapur. Aku mengernyit dan melihat jam dinding. Sudah berapa lama dia di sini? Dia kelihatanya sudah belajar banyak hal dari rumah ini.

Beberapa menit kemudian aku melihatnya dengan gelas dan sendok yang berkelintingan. Berhati-hati berjalan ke arahku lalu meletakkan gelas itu di samping gelas air putih yang sudah ludes isinya.

Dia menunjuk ke gelas itu, lalu menunjukkan gesture yang sama seperti saat dia menyuruhku meminum air putih setelah itu dia membungkus dirinya sendiri, dan menggigil lalu menggeleng.

Aku mengangguk dan menyeruputnya, cokelat hangat ditambah susu. Sempurna.

Aku mengangkat jempolku padanya, “Enak. Terima kasih.”

Dia mengangguk dan tersenyum untuk ke sekian kalinya malam ini.

Dia mengeluarkan kertas dari sakunya dan menulis. ‘Aku harus pulang.’

Saat dia hendak berdiri dan pergi, aku menarik lengannya.

“Sudah malam, biar kuantar.”

Namun dia menarik lenganku lalu menunjukku dan meletakkan kedua tangannya yang disatukan di telinga kanannya sambil membungkuk ke samping.

“Aku menggeleng, aku bisa tidur nanti, aku baik-baik saja.” Tiba-tiba kurasakan belakang kepalaku mulai kejang, “sepertinya.”

Dia menggeleng lagi lalu menunjuk dirinya sendiri dan membuat gesture berjalan dengan jari telunjuk dan jari tengah kanannya di atas telapak tangan kirinya.

Aku menggeleng, dia tidak bisa berteriak kan? Aku tidak menginginkannya namun gambaran-gambaran mengerikan Tiffany diserang oleh segerombolan preman seolah-olah menyerang kepalaku. Tidak. Tidak. Tidak.

“Nggak Fany, boleh aku memanggilmu begitu kan? Kau tahu ini sudah malam dan aku ingin sekali mengantarkanmu pulang tetapi yah—seperti yang kau tahu kepalaku tidak bisa diajak kompromi dan kurasa mobilku ketinggalan di bar..” Aku merogoh saku ku dan mengeluarkan kunci hitam yang mobilnya masih kutinggal. “Jadi.. pilihan terakhir yang bisa kau lakukan, bermalam disini.” Kataku lebih kepada diriku sendiri, karena aku yakin aku tidak memberikan alasan lain padanya.

‘Aku baik-baik saja.’ Secarik kertas ditunjukkannya padaku.

“Tidak, Tiffany.” Kataku tegas. “Kalau kau kenapa-napa, siapa yang bakal membawaku pulang lain kali?” Candaku sejenak, mencoba mengubah suasana.

Dengan kaki yang terasa masih mengawang dan bagian belakang kepala yang terasa seolah menghujamku dengan ribuan kerikil, aku berjalan ke arah pintu dan mengunci kodenya. Kode rahasia yang hanya aku dan Ajhumma yang tahu, tidak Sunny atau pun Sooyoung.

Dia akhirnya mengangguk lalu duduk di sofa dengan kikkuk. Dia merasakannya kan? Sepertinya dia tidak tahu harus berbuat apa. Jadi aku menuntunnya ke dalam kamarku. “Kau boleh memakai kamarku.”

Dia kembali menggeleng, kurasa dia adalah gadis yang sangat keras kepala. Jadi aku mendorongnya, syukurlah dia tidak menolak.

“Selamat tidur, Fany.” Aku lalu menutup kamarnya dan berjalan keluar. Siap melenyapkan diriku dibalik sofa.

*

Aku mengalami insomnia, aku yakin itu. Setelah kira-kira satu jam yang terasa satu abad lamanya aku hanya bergulat dengan sofa, aku pun menyerah. Tiffany tidak keberatan jika kita berdua tidur di kasurku, kan? Kurasa. Atau lebih tepatnya, kurharap. Lagi pula tempat tidurku berukuran king size, bahkan cukup untuk empat orang.

Kamarku gelap, itu yang pertama kali kusadari. Aku jarang mematikan lampu, aku akan melakukannya jika aku benar-benar menginginkannya—namun aku jarang melakukannya. Aku berpikir hendak menyalakannya saat kupikir lebih baik kubiarkan saja. Aku akan menyelinap diam-diam dan Tiffany tidak akan menyadarinya. Ide yang sangat brilian, kan!

Aku memposisikan diriku dengan sempurna dibalik selimut sambil tersenyum. Saat kupikir aku hendak terlelap, aku merasakan Tiffany bergerak di sampingku, beringsut mendekat lalu sekonyong-konyong dia memelukku.

Aku terlalu terkejut hingga melenyapkan rasa kantukku yang sangat sulit kudapatkan satu jam yang lalu. Aku tidak tahu harus melakukan apa, memeluknya balik?

Aku secara tidak sadar menggerakkan tanganku di belakang punggungnya, memeluknya erat lalu dia terbangun dan berteriak.

Aku menggeleng berkali-kali. Tidak. Dia pasti ketakutan!

Jadi kuputuskan utnuk diam saja dan tidak bergerak sedikit pun, walau masih kesulitan mengatur napasku kembali normal. Dimanakah harus kuletakkan tanganku? Tidak akan nyaman rasanya jika aku tidak memeluk sesuatu, seperti malam-malam yang biasa kulakukan, memeluk guling yang sekarang tengah berbaring dengan damai di samping Tiffany.

Setelah beberapa menit berlalu dan aku masih belum bisa tidur, entah mengapa tapi aku merasa tidak nyaman. Aku ingin memeluknya. Tidak. Aku tidak boleh melakukannya.

Setelah dia berbalik, aku beringsut dari kasur menuju ke dapur. Tentu saja aku tidak bisa tidur, aku baru saja bangun beberapa jam lalu.

Sambil meraih sebotol air dan sebuah apel dari kulkas aku kembali menemukan diriku tengah menatap kosong jendela. Kenapa aku merasa sedepresi ini? Mataku lalu menuju hiasan pintu kulkas yang beberapa minggu lalu kubeli dengannya. Kesedihan kembali menenggelamaknku. Tidak banyak memori yang kita bagi bersama, tapi beberapa momen manis sempat terekam di kepalaku. Seperti saat kita pergi ke pasar malam berdua saat kami baru saja satu minggu berpacaran. Kau tahu rasanya? Aku tidak punya banyak kekasih di masa lalu, jadi semua itu terasa begitu menyenangkan.

Tanpa terasa sebutir air mata kembali menetes di pipiku, lalu segera kuusap dengan kaus lenganku. Memori itu terasa begitu nyata seolah aku tengah memainkan kembali kepingan-kepingan kenangan yang seharusnya kulupakan.

Mataku meraih sebotol soju terbaik milik ayah yang terletak di rak paling atas. Dia selalu menyembunyikannya di tempat-tempat tinggi, dan aku selalu menyembunyikan tangga-tangga kecil di tempat rendah dan tersembunyi.

Satu teguk takkan sakit kan? Mungkin aku bahkan bisa melupakan rasa sakitnya. Rasa sakit yang seharusnya tak kurasakan, bukan, ini bukan sakit hati. Aku yakin itu. Aku mungkin terlalu yakin pada banyak hal, tapi itu yang membuatku… diriku.

Tanpa terasa botol yang tadi kuyakini hanya sekali teguk ternyata kini sudah penuh terisi udara. Aku mendesah, kepalaku kembali berat. Tapi dengan ini aku bisa melupakan segalanya, kesendirian abadi.

Selalu sendiri. Ya, aku memang ditakdirkan seperti itu. Bukankah dulu kita memang terlahir sendiri? Jadi tidak ada alasan buatku untuk menangisi hal itu.

Aku mengangkat tubuhku yang seolah terperangkap di kursi. Aku hanya ingin satu hal; tidur dan melupakan segalanya. Apakah aku siap untuk menghadapi hari-hariku ke depan, sendirian lagi? Aku pun tak yakin.

Memang tidak ada yang mengalahkan kasur dan selimutku yang nyaman. Tiba-tiba terasa sangat dingin, satu botol soju seharusnya menghangatkan tubuhku bukan malah sebaliknya.

Sesuatu bergerak disamping tempat tidur membuatku terkejut. Beberapa detik kemudian aku baru tersadar bahwa di kamarku ada penghuni lain selain diriku.

“Besok kau juga bakalan pergi meninggalkanku kan? Seperti yang lain. Seperti Umma dan Appa, seperti Sunny yang sebentar lagi akan menikah, seperti Sooyoung yang sudah punya kekasih baru, seperti Baekhyun…” Aku mengernyit mengingat yang terakhir.

Dia menarik tanganku. Menggenggamnya beberapa menit lalu menepuk kedua pipiku.

“Kau suka gelap?” Tanyaku begitu saja. “Tidakkah itu terasa begitu dingin? Menakutkan? Kesepian?” Ucapku, lebih pada diriku sendiri. “Aku tidak suka gelap. Aku berani, aku hanya tidak suka.”

Aku memeluknya, mencoba mencari kehangatan dalam dirinya. Dan yang kurasakan memang benar-benar hangat. Aku bahkan tidak peduli saat dia menggeliat dalam pelukanku—tampak tidak nyaman.

Tangaku mulai bergerak-gerak dengan sendirinya, mengusap punggungnya. Awalnya Tiffany mencoba menolak, namun semakin lama dia mulai menyukainya. Aku tahu saat dia menyisipkan kepalanya semakin dalam di pelukanku. Rasanya benar-benar seperti…

Aku membuka selimut dan menemukan sesuatu yang kupikir takkan kulihat. Ya Tuhan, dia benar-benar telanjang! Tak heran dia bertingkah seperti itu tadi.

Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, namun tanganku sulit untuk kukendalikan. Dalam kegelapan aku dapat melihat rambutnya, hidungnya, matanya, bibirnya. Dan hal yang benar-benar ingin kusentuh saat ini juga.

Dia mendongak, menatapku dalam diam. Aku setengah mabuk, dia tahu itu. Namun kilatan dalam matanya sungguh membuatku sulit mengendalikan diriku sendiri.

Tanpa sadar, air mataku kembali jatuh. Konflik antara hati dan pikiranku menuai begitu banyak kemelut. Dia mendorong tubuhnya mendekat, hampir membuatku kehilangan akal sehat saat dia mengecup pipiku dan mengusap air mataku, menujukku dengan jari telunjuknya lalu mengangkat jari kelingkingnya.

Aku sudah berjanji.

Apakah aku bisa menepatinya? Untuk pertama kalinya aku merasa tidak yakin.

Namun, saat dia menatapku kurasakan ada yang berbeda dalam diriku. Dia membuatku berbeda. Aku tidak berjanji untuk selalu bahagia, bukankah semua manusia punya masanya?

Apakah dia orangnya? Apakah dia orang yang tepat untuk membawaku keluar dari kegelapan? Dia gadis yang baik hati. Mungkin akan sedikit sulit untuk berkomunikasi dengannya, dan itu membuatku kembali tidak yakin.

‘Orang yang tepat biasanya datang pada waktu yang tidak tepat.’ Aku tidak suka kata-kata yang keluar dari mulut Ummaku. Tapi kadang apa yang tidak kau sukai justru menjadi kenyataan dan tak ada yang bisa kau lakukan kecuali menerimanya.

Ya, mungkin aku harus memberi kesempatan pada yang lain. Aku mungkin baru saja patah hati, namun orang yang tepat memang datang pada saat yang tidak tepat kan?

Ini saat yang tepat dalam ketidaktepatan, maksudku aku akan memberikan diriku sendiri kesempatan untuk bahagia. Tanganku mungkin yang akan merasakannya duluan, karena sekarang mereka sudah mulai menjelajah di tempat-tempat yang tidak seharusnya mereka jajah.

Tiffany tak keberatan, dia bisa saja melarikan diri meskipun tidak berteriak. Dia bisa saja berpikir aku adalah orang jahat yang hanya ingin memanfaatkan dirinya saja. Ya, tapi dia tidak menolak, justru menarikku semakin dalam. Tidak salah jika aku mengambil tindakan-tindakan lebih jauh, kan?

Aku tidak pernah tahu jika selama ini aku memelihara monster dalam tubuhku, mungkin dia terbangun saat tamparan keras ingatan itu menghantamku—dengan sedikit mabuk.

Monster itu menjelajahinya, mengambil alih tubuhku. Mencoba merasakan kenikmatan gairah yang menggebu.

Gelap.

Memang.

Namun cahaya dari matanya membuatku kembali menemukan jalanku.

Tiffany.

Sungguh nama yang indah, bukan? Nama yang indah untuk seorang pencuri. Terlalu cantik, terlalu seksi. Dulu, aku selalu berpikir seorang pencuri memiliki badan besar dan wajah sedikit menyeramkan—dan keren maksudku. Namun gadis ini seorang pencuri yang tak pernah kupikirkan sebelumnya—dan aku ingin sekali berteriak ‘kembalikan hatiku.’ padanya.

Aku selalu yakin kan? Dan sekarang aku ingin meyakinkan diriku bahwa gadis ini adalah orang selanjutnya yang tepat untukku. Aku bahkan tidak mau berpikir apa yang akan orang katakan padaku. Umma.. Appa.. Jika mereka tahu apa yang kini tengah anak gadis satu-satunya yang mereka punya, tengah bermain api.

Sudahlah, aku hanya ingin merengkuhnya, membelai punggungnya setiap malam, membangunkan monster dalam diriku yang terdalam. Aku sungguh-sungguh mencobanya, namun sulit untukku mengendalikan hewan buas dalam diriku saat aku berada di dalam nya.

Biar kunikmati kesenangan sesaat ini sebelum aku harus menghadapi badai esok hari. Aku ingin mencari tahu dimana kebahagiaanku dan apakah aku memilih jalan yang benar. Setidaknya aku memiliki satu atau dua kisah yang bisa kuceritakan pada cucu-cucuku kelak, kan?

-End-

Maaf kalo typo. Belum sempat ngereview. Kejar deadline *semoga masih 27 Desember. Masih kan? Telat 23 jam gak papa kalik yaaaak… hahaha… Typonya dibenerin besok aja yak? Hehehe

Gak terasa udah tiga tahun baby febri menemani kalian semua. ^.~ Give her your present and wishes, Aliens!

Oh, bakalan ada hadiah buat para readers yang beruntung. Staytune di soshiff9 yaa~ and follow akun twitter official kami @soshiff9

Gud luck!

~S2

s2 logo

Iklan

37 thoughts on “YEARS OF SILENCE [One Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s