SOSHI FF

Short-Story #3 [All of Me]

heart_rain_by_pon_zi_forever-d567bgg

I love rain.

Yeah, aku suka hujan. Aku suka mencium bau gerimis yang masih baru membasahi tanah. Aku suka butiran air yang berlomba mengalir dari kaca jendelaku. Aku suka langit biru mulai berubah kelabu. Aku suka suara air hujan menghantam atap kamar lotengku. Aku suka mengamati orang-orang berlarian mencari tempat berteduh. Yang paling penting, aku suka menatap gadis berjas hujan merah muda yang berlarian bersama anjing kecil berwarna putihnya setiap kali gerimis tiba. Aku suka melihatnya tertawa dan bermain kejar-kejaran bersama anjingnya. Aku suka cara gadis itu selalu melambai ke arahku sambil tersenyum.

Walaupun begitu, ada banyak hal yang tak kusuka dari hujan.

Hujan membuat tanah basah dan berlumpur. Aku tidak suka mendengar suara guntur beradu. Aku tidak suka melihat orang-orang ketakutan melihat petir. Aku tidak suka melihat mereka menyumpahi apapun dan bersedih karena hujan. Aku tidak suka angin kencang yang terkadang menerbangkan payung-payung dan benda lainnya. Aku tidak suka hujan deras yang membuat langit gelap gulita. Aku tidak suka saat hujan dan gadis itu tidak terlihat bersenang-senang. Aku benci saat hujan membuatnya sakit. Aku benci saat hujan karena jantungku berdetak kencang.

Namun sore ini gadis itu sedang bahagia bersama anjing kecilnya, berlari-larian. Gadis itu tidak secantik dan sesempurna malaikat. Suaranya yang terlalu keras terkadang membuat beberapa orang yang mendengarnya menjadi kesal. Tingkahnya yang ceroboh membuatnya beberapa kali tergelincir ke kubangan lalu wajahnya menjadi penuh lumpur. Sikapnya yang manja selalu menyalahkan apapun yang membuatnya terjatuh, namun bagiku semua itu lucu, melengkapi semua nilai positif yang dimilikinya. Bagiku, tak ada yang lebih sempurna darinya walaupun dalam kesederhanaan jas hujan merah muda yang menutupi ujung kepala hingga lututnya. Tudung jasnya akan terbuka jika dia tanpa sengaja terpeleset sehingga membuat rambut ikat kudanya tercelup kubangan. Lumpur tak pernah membuat kecantikan wajahnya berkurang, aku tak pernah lebih bersyukur daripada itu.

Sore ini tak jauh berbeda dengan kemarin. Dia melambai kearahku sambil tersenyum bersamaan dengan kedua matanya yang mengalahkan rembulan. Aku balas tersenyum seperti biasanya sebelum mengamatinya menghilang dibalik pagar hitam yang membatasi rumah kami. Sekarang yang kulihat hanya tinggal bunga-bunga dan rerumputan yang menari dibasuh air hujan.

Kuhela napas panjang dan memajamkan mata. Mencoba mengingat-ingat kecantikannya yang terpatri dalam benakku. Mengingat senyumnya dan kedua matanya, tawanya dan kesempurnaan dalam dirinya yang membuat aliran kebahagiaan membanjiri seluruh tubuhku. Malaikatku.

Aku melirik piano tua yang berdiri kokoh selama bertahun-tahun dalam loteng kemudian perlahan menghampirinya. Masih dengan gambaran sama dalam kepalaku, jemariku mulai menyentuh tuts demi tuts, menari dalam hitam dan putih. Mulutku mulai bergerak seirama dengan jemari dan gambaran dalam kepalaku. Kuungkapkan semua yang selama ini hanya bermain dalam benakku melalui tuts hitam putih di hadapanku. Perasaan kebahagiaan, kekaguman dan cinta.

(All of Me – Tiffany Alvord)

What would I do without your smart mouth?
Drawing me in, and you kicking me out
You’ve got my head spinning, no kidding, I can’t pin you down
What’s going on in that beautiful mind
I’m on your magical mystery ride
And I’m so dizzy, don’t know what hit me, but I’ll be alright
My head’s under water But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

 ‘Cause all of me Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning
‘Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh –

Suaraku terhenti bersamaan dengan keterkejutan yang mengaliri tubuhku. “Kau basah.” Bisikku masih dengan mata tertutup, aku tak perlu membuka mata untuk memastikan apa yang akan kulihat.

“Tolong lanjutkan.” Kurasakan kecupan-kecupan ringan di leherku, aku tidak dapat bergerak. Kedua lengannya terkunci sempurna di pinggangku.

“Aku tidak bisa sebelum kau melepaskanku.” Kataku dengan separuh kesadaran dari euphoria yang kuciptakan dari rangkaian memori dan lantunan melodi.

“Tak kan pernah sayang..”

Aku harus memaksanya sebelum sensasi itu menghilang sepenuhnya.

Aku berbalik meninggalkan piano tua itu dan menghadapnya, menangkup wajahnya dalam kedua tanganku lalu mengecup keningnya dengan perasaan sebesar saat aku mulai melantunkan melodi untuknya. “Duduk dan jadilah gadis manis. Tatap mataku dan dengarkan.”

Dia mengangguk dan berjalan melewati piano tua dengan senyuman. Tatapan kami bertemu saat jemariku mulai kembali menari di antara tuts piano. Jauh lebih mudah mengungkapkan perasaanku saat menatap langsung dalam kedua matanya. Ini sungguh gila, mengapa kita menutup mata saat berciuman? Mengapa kita menutup mata saat berdoa atau bernyanyi? Itu karena kita sangat mencintai dan menikmati apa yang kita lakukan. Namun aku tidak perlu menutup mata untuk mencintai apa yang kulakukan. Hanya dengan menatap matanya membuat seluruh perasaanku mengalir seperti air mata yang membanjiri wajah kami. Kebahagiaan, kekaguman dan cinta semuanya terpancar dalam kedua mata kami. Perasaan kami menyatu melalui melodi yang mengalun hangat dalam dinginnya hujan.

How many times do I have to tell you
Even when you’re crying you’re beautiful too
The world is beating you down,
I’m around through every mood
You’re my downfall, you’re my muse
My worst distraction, my rhythm and blues
I can’t stop singing, it’s ringing, in my head for you
My head’s under water But I’m breathing fine
You’re crazy and I’m out of my mind

 ‘Cause all of me Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning

 ‘Cause I give you all of me
And you give me all of you
Give me all of you
Cards on the table, we’re both showing hearts
Risking it all, though it’s hard

 ‘Cause all of me Loves all of you
Love your curves and all your edges
All your perfect imperfections
Give your all to me I’ll give my all to you
You’re my end and my beginning
Even when I lose I’m winning

 ‘Cause I give you all of me
And you give me all of you, oh
I give you all of me
And you give me all of you, oh –

I love you Tiffany…

s2 logo

Iklan

14 thoughts on “Short-Story #3 [All of Me]”

  1. Keren taetae
    I love you so much more taeny
    satu Hal yg tdk pernah bs dibohongi ketika mata yg berbicara cinta dan hati yg merespon kehangatan 2 orang mnjadi satu, TAENY😊

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s