One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Colored Promises [One Shoot]

Untuk seseorang yang sedang lari dari kenyataan. I’ll bring it to you ❤

Hope you like it.

happyvalentinesday
cr image to the owner

~S2 Present, romance, Yuri~

Copyright © 2015, @sasyaa95

  • Orange

Terlambat satu setengah jam. Dia memainkan kalungnya yang sudah lama berubah jingga.

“Tiffany! Kau sudah janji padaku.”

Gadis itu berhenti sejenak, berusaha mengatur napasnya. Satu kali tarikan panjang hingga paru-parunya terisi udara. Dia tahu apa yang sedang dihadapinya akan menguras energi dalam tubuhnya, dan dia tak punya banyak energi yang tersisa. Dia menutup kedua matanya seiring dengan helaan napas yang dia ambil, kemudian membukanya saat menghembuskan karbon dioksida dalam paru-parunya. Senyum terpaksa terukir kaku di bibirnya.

“Maaf, Tae.” Satu hembusan napas. “Partnerku memintaku untuk mereview ulang script yang sudah diberikan untuk minggu depan. Dan dia ingin menghapus dan menambah beberapa bagian.” Kata Tiffany, masih dengan senyum yang sama. Setidaknya dia sudah berusaha.

“Tapi kau sudah janji!” Ulang Taeyeon, masih berdiri di hadapan Tiffany, dengan kedua tangan terlipat di depan dadanya dan ujung kaki kanannya menghentak aspal, Tiffany memperhatikannya. Gadis di hadapannya kini mulai kehilangan kesabaran, dan Tiffany tahu dia harus mengembalikannya.

“Aku sudah berusaha yang terbaik untuk menepatinya. Maafkan aku.” Tiffany masih dalam balutan atribut syutingnya. Kemeja merah muda tanpa lengan plus rok sepan hitam yang ia kenakan sampai lutut. Sepatu hak tingginya hampir lepas karena berlarian sepanjang jalan menuju tempat parkir. Rambut cokelatnya berantakan terkena angin. Sejujurnya dia terlihat seksi, namun Tiffany tak terlalu memperhatikan penampilannya, karena kini perhatiannya tertuju pada Taeyeon yang tengah berdiri di hadapannya dan bersungut-sungut. Memesoa.

“Kau selalu meremehkan janjimu. Siapa lagi namanya? Mark?” Taeyeon mengalihkan wajahnya dari Tiffany kemudian berbisik seolah berbicara pada diri sendiri. “Aku sudah tahu, begitu kau setuju dengan tawaran MC yang tak masuk akal itu, kau akan melupakanku. Jangan dipikir hanya karena namanya, dia bisa meninggalkan jejak padamu.” Namun sayang, Tiffany dapat mendengarnya dan dia pun tersenyum.

Lucu. Pikirnya. Sangat imut.

  • Green

Terkadang, cemburu menunjukan betapa kau mencintai seseorang. Tiffany percaya bahwa rasa cemburu dan cinta sama besarnya. Dan sekarang dia melihat orang yang sangat ia cintai menunjukkan hal itu.

“Hay!” Tiffany melambaikan tangan pada seorang pria yang kebetulan lewat di belakang Taeyeon.

Saat tahu siapa orang yang baru saja dipanggil oleh kekasihnya, wajah Taeyeon pun berubah drastis. Tiffany dapat melihatnya, kedua matanya berubah memancarkan kekecewaan, kepedihan, dan kekalahan. Tiffany tidak menyukainya, ia langsung tahu begitu melihat kalung yang dikenakannya berubah menjadi hijau limau.

“Oh, hello Tiff. Kupikir kau sudah pulang karena terburu-buru?” Pria itu mengangkat alisnya ke arah Tiffany.

Taeyeon segera mengamati pria itu dari ujung kepala hingga kaki. Rapi, gagah dan tinggi, dan walaupun Taeyeon tidak ingin mengakuinya, pria itu sangat, sangat tampan. Dia mengenakan jas dan sepatu hitam mengkilat, mengingatkan Taeyeon pada pemilik perusaahan sukses di usia muda pada drama-drama yang sering diputar di TV. Taeyeon tidak berusaha menyembunyikan perasaannya di hadapan pria itu, atau pun Tiffany.

Untungnya, Tiffany mengerti. Dia tidak memutuskan untuk melakukan hal ini karena ingin memperkeruh suasana. “Hay Michele, ya kami seharusnya sudah pergi dari tadi jika seseorang tidak bersikap kekanakan.” Kata Tiffany sambil tersenyum, namun kali ini berbeda, senyumnya ramah.

“Oh ya, kau ingat orang spesial dalam hidupku yang pernah kubilang? Yah, dia berdiri di sampingmu sekarang.”

Ada keterkejutan dalam wajahnya sekilas, sebelum berubah ramah. “Oh, hai… kau pasti orang itu. Namaku Michele, senang akhirnya bisa bertemu denganmu, secara langsung.” Pria itu mengulurkan tangannya pada Taeyeon, namun menariknya kembali setelah tidak mendapat respon dari gadis tersebut.

“Oh, ya. Namanya Taeyeon dan aku sangat mencintainya karena dia dapat bersikap dewasa.” Ada nada menyindir dalam intonasi yang digunakan Tiffany, keahlian gadis itu adalah, dia dapat membuat sindirannya terdengar seperti lelucon.

“Oh.” Pria itu tertawa dan Taeyeon merasa ingin ditelan bumi. “Kau tenang saja nona cantik, aku sudah berkali-kali mengajaknya kencan, namun dia terus-terusan menolak dengan alasan, ‘Maaf, aku sudah punya pacar dan aku sangat mencintainya.’ Dan sekarang aku tahu mengapa dia bicara seperti itu.” Ekspresi Taeyeon masih sama saat pria itu mengedipkan sebelah mata padanya.

“Hey! Dia milikku!” Tiffany menarik gadis yang berdiri kaku itu dan merangkulnya secara posesif. “Jangan coba-coba menggodanya Mike!”

Pria itu justru tertawa lebih keras dan Taeyeon ingin segera menghilang dari pemandagan itu. “Tenang saja nona-nona, aku memang memesona. Namun aku bukan perebut pacar orang. Aku tahu apa yang menjadi milikku dan tidak, dan harus kuakui kalian berdua sungguh cantik.” Pria itu mengangkat kedua alisnya dengan jenaka.

Tiffany memutar kedua matanya sambil tersenyum, dasar ego balon.

“Kalian akan menjadi pasangan paling hot saat pernikahan kalian. Dan aku menunggu undangannya! Dan.. ehem.. jangan lupa merekam bulan madu kalian ya.” Lanjut Michlele dengan nada menggoda.

“Yah! Teruslah bermimpi Mike!”

Mereka tertawa selama beberapa menit (kecuali Taeyeon yang masih berdiri dan tampak bingung).

“Kupikir kalian sedang buru-buru, maaf menganggu namun aku juga harus segera pergi.” Michele melirik jam tangannya. “Sampai jumpa lagi Tiff. Oh, jangan lupa scriptnya untuk minggu ini, karena jika tidak kau harus mau berkencan denganku.” Katanya sambil tertawa dan berlalu.

Taeyeon masih berdiri kebingungan sebelum Tiffany menyuruhnya untuk membuka mobil dan masuk ke dalamnya, masih tersenyum.

  • Grey

“Maafkan aku.” Taeyeon menyangga dagunya di samping kemudi, melihat apapun kecuali kedua mata Tiffany yang tengah menatapnya dengan terkagum-kagum.

“Permintaan maaf diterima.” Kata Tiffany dengan riang.

“Aku tahu aku bertindak tidak masuk akal.”

“Hum… hmm.”

“Kenapa kau tidak menerimanya saja?” Taeyeon memainkan ujung kemejanya dengan gugup. Tiffany memperhatikannya.

“Hmm?”

“Ajakan kencan Mic…hele. Kalian berdua terlihat serasi.”

Tiffany tidak mempercayai telinganya. Apakah Taeyeon menyuruhnya untuk berkencan dengan Michele? Sungguh tidak masuk akal. Setahun yang lalu, Tiffany tak pernah melihat sisi lain dari Taeyeon seperti ini. Mereka tak pernah bertengkar karena mereka tak pernah berbicara serius. Namun, kemudian Taeyeon membuat mereka membicarakannya, lalu gadis itu juga mulai menunjukkan banyak sisi dalam dirinya yang tak pernah Tiffany ketahui sebelumnya, selain bahwa Taeyeon adalah gadis yang sangat, tertutup. Dan Tiffany tidak suka saat Taeyeon mulai menutup dirinya kembali.

“Hey,” Tiffany meraih kedua pergelangan tangan Taeyeon yang tengah sibuk bermain dengan kemejanya, memaksa Taeyeon untuk menatapnya. “Yeah, kuakui dia tampan. Aku mungkin akan mengencaninya jika aku belum bertemu denganmu.”

Mata Taeyeon mulai meredup. Ini dia! Hatinya terasa sangat sakit hingga untuk beberapa saat dia kesulitan bernapas.

Taeyeon membuka mulutnya untuk menjawab, barangkali menyetujui ide gila itu. Namun Tiffany lebih dulu melanjutkan kata-katanya.

“Namun aku tahu kau lebih baik. Jika aku berkencan dengannya dan kemudian bertemu denganmu, aku akan memilihmu. Aku lebih memilih untuk memilikimu. Karena kau spesial.” Secara perlahan-lahan, dia menangkup wajah Taeyeon. Mengelus sepanjang lengan dan lehernya. “Aku tidak membayangkan akan menjadi wanita pencemburu jika dengannya, pria itu sangat…. genit dengan semua wanita.” Tiffany merinding. “Nah! No no no.”

Satu kecupan melandas di bibir Taeyeon. “Yang pasti aku mencintaimu, lebih dari apapun.”

Tiffany tersenyum saat melihat warna merah mulai menghiasi kedua pipi Taeyeon. Ia mendekatkan wajahnya pada Taeyeon. Lebih dekat, sangat dekat hingga mereka dapat merasakan napas mereka beradu. “Aku suka jika kau cemburu.” Tiffany menyusurkan jemarinya sepanjang kalung Taeyeon yang mulai berubah dari abu-abu menjadi merah muda.

Tiffany menarik diri saat Taeyeon hendak menciumnya, menyebabkan gadis itu cemberut dan menjauhkan tubuh mereka.

Dia sudah kembali. Tiffany mencatat perubahan itu dalam kepalanya.

  • Red – Black

Mereka tidak berbicara selama tiga bulan. Tidak setelah Tiffany mulai berkencan dengan Nickhun. Karena hal itu terlalu menyakitkan bagi Taeyeon, dan terlalu membingungkan bagi Tiffany. Ada sebuah kesepakatan yang tak terucap di antara mereka. Jadi, selama tiga bulan, mereka telah menghindari kontak mata, menghindari rute yang sama setiap hari, dan tentu saja menghindari berada dalam ruangan yang sama—terlebih kamar tidur masing-masing. Suasana semakin memburuk di antara mereka. Dan, meskipun semua member selalu membuat suasana lebih baik, namun mereka tahu untuk tidak ikut campur.

Mereka bertengkar. Hebat.

Kamar mereka bersebelahan. Sungguh mustahil bagi mereka untuk menghindari satu-sama lain setiap hari, namun seolah mereka sudah menemukan cara untuk tidak saling berpapasan. Sampai pada saat Taeyeon mencari Ginger yang tidak berada di kamarnya saat ia pulang, dan harus mengecek ke kamar Tiffany.

Taeyeon tidak menyangka jika gadis itu sedang berada di kamarnya. Terakhir kali dia mengecek jadwal mereka, seharusnya Tiffany kembali dua jam kemudian. Namun, disanalah dia, tengah bermain dengan Prince dan Gingger. Pikiran untuk melupakan apa yang dia cari dan meninggalkannya begitu saja sempat terlintas di benaknya, namun bertemu tanpa mengatakan sesuatu sangat menyakitkan bagi Taeyeon. Jadi dia berjalan perlahan, dan mengangkat Ginger dari lantai.

Tiffany berusaha sekuat tenaga untuk tidak berlari dan melompat ke dalam pelukan Taeyeon. Dia menghitung sampai sepuluh dalam kepalanya, dia tidak tahu apa yang salah. Atau tak berusaha untuk mencari tahu, begitu Taeyeon mulai menjaga jarak darinya, dia tahu ada yang salah di antara mereka. Namun ia tak pernah menanyakannya.

Taeyeon tidak segera beranjak, sementara Tiffany mulai kehilangan kesabaran.

Ginger mulai memberotak dalam pelukan Taeyeon. Tiffany pun melakukan hal yang sudah lama tak dia lakukan, meraih Ginger dari Taeyeon. Dia berusaha untuk mendorongnya ke samping, dia tahu Ginger masih ingin bermain dengannya dan Prince.

“Jangan.”

Satu kata tak pernah terasa sangat menyakitkan sebelumnya.

“Apa? Kau menyakitinya.”

“Aku tidak menyakitinya. Aku melakukan apa yang seharusnya kulakukan!”

Saat itulah Tiffany mulai menyadari Taeyeon tidak berbicara mengenai Ginger.

“Kau menyakitinya. Dia tidak tahu apa-apa! Dia hanya ingin bermain dengan Prince, dan aku! Dia tidak bersalah. Kau mengambilnya!”

Tiffany tidak dapat mempercayainya. Setelah tiga bulan mereka tidak berbicara satu sama lain, kemudian mereka berteriak-teriak seperti orang kesetanan. Dia hanya ingin membantu, dia hanya tidak ingin Ginger terluka. Dia ingin membuat segalanya lebih mudah, hanya ingin membantunya mendapatkan apa yang dia inginkan tanpa harus memaksa, lalu gadis itu dapat pergi kemanapun dia inginkan. Sebelum semuanya terlambat diantara mereka.

Sangat menyakitkan.

“Kau sedang kesulitan dengan Ginger kan?” Tiffany kembali mendorongnya untuk melepaskan anjing malang itu.

“Aku baik-baik saja tanpamu!” Taeyeon melepaskan satu tangannya dari Gingger dan mendorong dada Tiffany sehingga membuat gadis itu terjatuh di atas tempat tidurnya.

Itu dia! Kesabaran Tiffany sudah benar-benar habis.

“Kau baik-baik saja, tapi orang lain tidak!”

“Urusi urusanmu sendiri! Pergi temui pacarmu yang bermulut besar itu!” Taeyeon balik menatap Tiffany dengan amarah yang membuncah berharap untuk mengakhiri pertikaian ini. Namun tidak, semua itu belum berakhir. Tiffany lebih dulu menyerangnya dari belakang, membuat Ginger jatuh ke lantai dan langsung bersembunyi bersama Prince di bawah tempat tidur.

Tiffany mengunci kedua pergelangan tangan Taeyeon, memborgolnya dengan sempurna. Taeyeon berusaha memberontak dengan sekuat tenaga, namun pandangannya tidak fokus karena kekurangan oksigen dan kepalanya yang terbentur lantai. Dia menendang-nendang kakinya untuk menyingkirkan gadis brunette itu dari atas tubuhnya. Kemudian ujung jemarinya berhasil meraih belakang piyama Tiffany. Dia menariknya, kuat-kuat dan mendengarnya sobek.

Tiffany menggeram, pikirannya teralikan cukup lama hingga Taeyeon dapat membalik posisi mereka. Dia memborgol paha Tiffany dengan kedua kakinya. Hal itu mempermudah Tiffany melilitkan kakinya pada pinggang Taeyeon dan menariknya semakin dekat. Tanpa segaja Tiffany menyikut bibir Taeyeon dan membuatnya berdarah.

Tak satupun dari mereka yang mau mengalah dan berdiri. Namun Taeyeon mulai merasa lelah, kehabisan napas dan melihat bintang-bintang melayang di hadapannya. Tiffany menguncinya di atas lantai, mengangkanginya.

Taeyeon menunggu pukulan yang akan mematakan hidungnya, namun tak pernah ada.

Justru dia merasakan sebuah bibir melandas di mulutnya yang berdarah, menekan bibirnya sangat kuat dan sangat mati-matian, entah untuk apa. Taeyeon mengernyit merasakan perih.

Rasa darah bercampur dengan lip gloss strawberry. Taeyeon tak pernah merasakan sesuatu senikmat ini seumur hidupnya. Pertikaian masih memanas, namun sesuatu yang sangat berbeda juga tumbuh di antara mereka. Mereka sama-sama menutup mata, lidah saling menari di dalam mulut mereka sedangkan tangan mereka mulai menangkup wajah-wajah yang bersemu, entah karena marah, senang, atau malu. Saling berusaha untuk mendekatkan tubuh mereka, hingga tak lagi ada jarak di antara mereka.

Taeyeon membuka mata dan mendorong tubuhnya, mencari oksigen. Tiffany masih duduk di pahanya, terengah-engah dan tampak terkejut.

“Kau berdarah.” Suaranya sangat cempreng, seolah dia tak mengerti dari mana darah itu berasal dan karena apa. Dia menyentuh bibir Taeyeon dengan gemetar, mengusap bagian yang robek.

Taeyeon mengernyit dan berusaha menjauh, namun Tiffany memeganginya erat-erat.

“Maafkan aku.” Bisiknya, mengusap bibir Taeyeon dengan sangat lembut. Kemudian dia menyentuh bibirnya sendiri, mungkin baru saja menyadari bahwa dia, juga berdarah, walaupun bukan darahnya. Dia menghela napas panjang lalu menghembuskannya.

“Maafkan aku.” Air mata membendung di kelopak matanya dan Taeyeon segera duduk menghadapnya, menarik Tiffany dalam pelukannya. “Kau tadi benar-benar membuatku marah. Maafkan aku.”

Taeyeon membelai rambut Taeyeon dengan sangat lembut. “Bukan masalah besar Fany, cuma sobek sedikit.”

Mereka berdua terlonjak saat Tiffany mendadak menarik diri, namun masih duduk di paha Taeyeon. “Bukan itu. Ya, itu juga. Tapi segalanya, Taeyeon. Aku… mencintaimu. Tapi kau membuatku sangat marah dan aku tidak tahu bagaimana cara memberitahumu. Aku tak pernah tahu bagaimana cara memberitahumu segalanya.”

Tiffany mulai menangis tersedu-sedu, dan sekarang giliran Taeyeon yang terpaku. “Kau bisa memberitahuku segalanya, Fany. Kau boleh marah, aku memang pengecut. Kau adalah sahabat terbaikku dan aku… menghilang begitu saja.”

“Kau bukan sahabat terbaikku.”

Kata-kata itu terlalu menyakitkan dan Taeyeon memalingkan muka.

“Kau tak hanya itu, tapi lebih. Kau lebih dari sekedar sahabat terbaikku. Lihatlah aku!”

Taeyeon mengangkat kepalanya dan menatap kedua mata yang sangat tulus memandangnya. Tak satu hal burukpun yang dilakukan Tiffany dan membuat Taeyeon berhenti mencintainya.

“Menikahlah denganku.”

Kata-kata itu terlontar dari hatinya yang terdalam. Dia tahu benar apa yang dia katakan.

“Apa?” Tiffany berdiri dan sisa piyama jatuh ke lantai, membuatnya bertelanjang dada. Dia benar-benar tercengang, sangat terkejut.

“Menikahlah denganku.” Ulang Taeyeon, meraih kedua tangan Tiffany dan mengecupnya.

Tiffany menatap kedua tangannya diantara tangan Taeyeon, ketakutan. Namun dia tidak bisa menariknya, dia tidak mau. “Aku dan Nickhun…” Alasan yang tak berdasar, Taeyeon tahu itu.

“Itu bukan berarti ‘tidak’ kan?” Jawab Taeyeon, tak terpengaruh

Tiffany menggigit bibirnya, tampak mempertimbangkan. Mereka tengah sendirian di dorm, Sunny masih dalam jadwal DJ-nya. Tak ada yang mendengar mereka. Tak ada yang dapat menjelaskan kebingungan Tiffany.

“Aku tidak bisa…” akhirnya. Taeyeon merasakan jantungnya melorot ke perut. “Aku tidak bisa mengatakan iya sekarang, Tidak selama aku masih bersama Nick.”

Harapan kembali naik dalam diri Taeyeon. “Katakan padaku kapan, kalau begitu.”

Tiffany menyandarkan pelipisnya pada Taeyeon sambil menghembuskan napas yang sangat, sangat panjag. “Aku janji, akan memberikan jawabannya satu tahun kemudian.”

Taeyeon mengangkat jari kelingkingnya. “Janji?”

“Aku janji.”

  •  Pink

Tiffany tersenyum saat mengetahui kemana tujuan mereka.

Pantai pribadi milik mereka, tentu saja.

Malam itu berakhir dengan Taeyeon yang berlutut di hadapan Tiffany, dengan sebuah cincin berlian berwarna silver yang ia beli di salah satu toko yang sesuai dengan namanya. Dan Tiffany berteriak. “Aku bersedia!” Sekencang-kencangnya. Mereka pun saling berciuman di tengah pantai seolah tiada hari esok.

  • Blue

“Bersediakah kau, Kim Taeyeon, menerima Tiffany Hwang sebagai istrimu?” Gadis berjubah putih yang bertindak sebagai pastor berdiri dibalik pantai saat matahari hampir terbenam, menjalankan tugas sebagai sahabat yang baik, dan sebagai pastor yang profesional.

“Aku bersedia.”

“Dan kau, Tiffany Hwang, bersediakah kau menerima Kim Taeyeon sebagai..”

“Aku sangat bersedia!” Kata Tiffany memotong gadis itu sehingga semua hadirin memutar matanya. Taeyeon tertawa melihat tingkah kekasih slash istrinya.

“Kalau begitu, dengan ini aku umumkan kalian sebagai pasangan suami… err.. pasangan istri dan istri. Silahkan men…. Lupakan!”

Sebelum sang pastor menyelesaikan kata-katanya, Tiffany langsung melompat ke dalam pelukan Taeyeon dan mereka berciuman hingga matahari benar-benar menghilang ditelan lautan.

“Okay, okay, cukup! Ladies!” Sang pastor berusaha memisahkan pasangan yang tidak tahu malu itu. Semua penonton, yang hanya berisi dua belas orang itu pun tersenyum pada kedua sahabat mereka yang akhirnya, menikah.

Sooyoung berdiri dan mengambil alih mikrofon, “Check..” Setelah suaranya terdengar menggema di tengah deru ombak, dia pun melanjutkan. “Okay, siapa sih yang tidak berpikir mereka akan menikah pada akhirnya?”

Seluruh penonton tertawa terbahak-bahak. “Oh, jangan menatapku seperti itu. Aku memperhatikan kalian berdua sejak kalian melangkahkan kaki di Seoul saat training. Kalian tak terpisahkan, nah.. saat mendengar kabar Tiffany berkencan dengan Nickhun, kupikir itu sangat.. sangat aneh.”

Jessica merebutnya dari Sooyoung, “YA! Kau sungguh bodoh saat itu Tiff, ugh! Dan Taeyeon..” Gadis itu memutar mata. “Yang kau lakukan hanya menghindarinya seperti hantu.”

“Kurasa mereka berdua sama-sama bodoh.” Komentar Sunny. “Untunglah mereka berakhir bersama-sama.” Gadis itu tersenyum juga pada akhirnya.

“Yeah, tak ada yang lebih membahagiakan selain melihat mereka berdua bersama-sama.” Yuri muncul dengan segelas cocktail.

“Unnie, aku sangat bahagia dengan pernikahan kalian. Aku akan mendoakan kalian yang terbaik. Jangan lupa untuk memakan sayuran setiap hari agar kalian tetap sehat selama bulan madu, dan jangan terlalu banyak melakukan sex, itu tidak baik untuk….”

“MAKNAE!!!”

-End.

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so, i know however you love my story or, simply not.

Mohon info jika ada typo, bukan hal yang mudah nulis tengah malam jumat begini. lol

Still miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

40 thoughts on “Colored Promises [One Shoot]”

  1. ahh suka sama OS nya boleh lah publish sering” buat os hehe
    ceritanya manis, suka 🙂
    taeny nya juga duh 😆😆
    ditunggu karya lainnya, makasih thor buat ceritanya 🙂

  2. Akhirnya baca ff di wordpress ini setelah sekian lama… tetep suka, tetep jadi favorit, tetep bikin baper. Rajin2 ngepost ya sya, gw suka semua karya lo 🙂

  3. Salam kenal thor,, reader baru

    Jd itu warna2 mewakili prasaan taeny gtu yah.. itu nasehat maknae ada2 aja deh. Awalnya agak ga ngerti sm jln critanya, tiap warna pnya crita beda soalnya, trs yg paling keren tu pas taeny brantem abis guling2an eh langsung nyosor aja ppany agak shock baanya kirain bakal tejadi pertumpahan darah gtu

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s