Fantasy, SNSD, SOSHI FF, Three Shoot

MAGIC [1/3]

magic

~S2 Present, Fantasy, Yuri~

Copyright © 2015, @sasyaa95

Sebenarya mereka adalah rival, terikat dengan sumpah permanen yang melingkari jari manisnya. Walaupun cincin itu sudah lenyap menjadi kepulan asap bertahun-tahun yang lalu, namun ingatan akan sumpah klausul itu masih melekat dalam benak mereka. Orang tua lah yang paling berperan dalam duel ini. Menyatukan mereka dalam arena perang paling tak terduga. Mimpi buruk mereka.

Sudah hampir tiga menit berlalu mereka tetap bergeming. Saling menatap tanpa berkata, saling menyadari keberadaan satu sama lain, namun tak saling meyapa. Hanya seulas senyum yang tersungging di bibir wanita berambut perak mengilat. “Kau memutuskan untuk hadir.”  Wanita berambut perak berkata walau tak melepas pandangannya. “Aku takkan melewatkannya demi apa pun, Taeyeon.” Wajah porselennya tak berubah, tak ada senyum sopan, tak ada seringai merendahkan, hanya kepulan asap hangat yang keluar dari mulutnya saat dia berbicara.

“Namaku Erika, dan berhenti memanggilku Taeyeon. Dia sudah mati, aku yang membunuhnya.” Senyumnya menghilang, tergantikan guratan keras di alis sewarna rambutnya yang semakin berdekatan.

“Terserah, aku tak peduli. Mari kita selesaikan saja permainan bodoh ini.” Dia melepas sarung tangan putihnya dan melemparkanya begitu saja ke udara, tanpa peringatan. Namun, alih-alih jatuh begitu saja, kedua sarung tangan itu berubah menjadi bulu-bulu seputih salju, mengepak-ngepak lalu membentuk sepasang merpati yang terbang mengitari langit-langit arena, kemudian hinggap di kedua pundaknya.

Erika tak tampak terkejut, wajahnya yang tampak putih hanya menawarkan seulas senyum sopan. “Mengesankan.” Hanya itu yang dia ucapkan, tatapannya tak lepas dari rival yang kini tengah berdiri di depannya dengan sepasang merpati. Wanita itu terus menatapnya, atau sekarang lebih tepat dibilang mengamati.

Gaunnya berwarna jingga terang, berpotongan dada rendah nyaris memamerkan garis payudaranya, tanpa lengan yang berakhir di mata kaki berbalut bot merah. Menyisakan seuntai kalung rubi merah yang melingkari lehernya yang telanjang. Wanita ini pastinya berkelas, sangat kontras dengan dirinya yang tidak mau repot-repot bersolek. Erika hanya mengenakan kemeja putih dibalik jasnya yang berwarna raven mengilat sehingga membuat kulit putihnya tampak lebih pucat.

“Giliranmu, Taeyeon.” Senyumnya kembali lenyap, wanita itu masih saja keras kepala memanggilnya dengan nama yang sangat dibencinya. Kendati demikian, sepertinya wanita itu dengan sengaja mengabaikan reaksinya.

Erika melepas jasnya dengan kasar lalu melemparya jauh ke udara, jas itu kemudian terlipat rapi dengan sendirinya di atas kursi penonton barisan terdepan. Dengan cepat kain sutra itu berubah menjadi bulu-bulu hitam besar dan kaku lalu berdesing sebelum berubah menjadi burung gagak yang cukup besar dan berkoak-koak kemudian burung itu terbang dan hinggap di pinggir jendela, menanti. Sepertinya gagak itu tak patuh pada tuannya.

*

Februari 1994

Gadis kecil itu enggan membuka mantelnya walaupun suhu di dalam ruangan hangat, hanya menggeleng mantap saat diminta memberi alasan. Gadis itu duduk tenang di sebuah kursi keras di bawah sederetan poster berbingkai yang menampakkan seorang pria di tengah pertunjukan hebat, disertai tanggal di sudut kanan setiap bingkai serta tiket pertunjukan berbubuh tanda tangan yang serupa. Secangkir teh hangat disajikan di hadapannya lengkap dengan gula dan krimer rendah lemak, tapi minuman itu terbengkalai di mejanya, tak disentuh dan akhirnya dingin.

Gadis itu diam saja, sama sekali tidak bergerak di kursinya. Dia duduk tenang dengan tangan terlipat di atas pangkuannya. Tatapannya lurus ke bawah, terpusat ke sepatu botnya yang melayang di atas lantai lantaran kursi itu sepertinya tidak dibuat untuk bocah berusia lima tahun. Sepucuk amplop tertutup menggantung di saku mantelnya, menunggu yang berhak sampai tiba.

Gadis itu sudah mendengar kedatangannya sebelum pintu terbuka, karena langkahnya berat dan menggema di koridor. Pria itu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan, dia mengenakan mantel beledu hitam bertudung, tatapannya tajam. Saat pria itu menatap langsung ke arahnya, bocah itu langsung mengembalikan tatapannya ke sepatu botnya.

Pria itu menutup pintu,menjatuhkan tumpukan surat ke dekat cangkir teh di meja dan menatapnya. Dia mencabut amplop dari mantel gadis itu, membuatya terlonjak.

Terpampang di depan amplop adalah nama dan alamat mansionnya. Dengan hangat, sapaan yang tertera di suratnya menyambut pria itu dengan nama aslinya, Seung Guk Hwang. Dengan cepat-cepat dia membaca surat itu, mengabaikan dampak emosional yang diharapkan oleh penulisnya. Dia hanya sejenak berhenti membaca ketika tiba di satu-satunya fakta yang dianggapnya relevan: bahwa gadis kecil yang dipercayakan kepadanya ini adalah, jelas, putrinya sendiri, yang bernama Tiffany Hwang.

“Dia seharusnya menamaimu Stephany,” sambil terkekeh, pria berjuluk Leo itu berkata kepada si Bocah. “Menurutku dia tidak cukup cerdas untuk mendapatkan nama itu.”

Gadis itu kembali mendongak menatapnya. Mata kecoklatan memicing di bawah rambut kemerahan.

Cangkir teh di meja bergetar. Riak-riak bergolak di permukaan teh yang sedari tadi tenang, da retakan-retakan muncul di permukaan porselen bermotif bunga, yang hancur berkeping-keping sesaat kemudian. Teh dingin menetes ke lantai, meninggalkan jejak lengket di permukaan kayu yang terpoles halus.

Senyum pria itu lenyap. Dia menatap meja dengan kening berkerut, dan tumpahan teh kembali terangkat dari lantai. Serpihan-serpihan mengelilingi cairan itu, saling merekat kembali membentuk cangkir yang utuh, legkap, dengan uap yang membumbung ke udara.

Gadis kecil itu menatap cangkir, matanya membelalak.

Pria itu menatap putrinya, tampak terkesan. “Kau rupannya menarik.”

Bocah itu tak menjawab, dia hanya mengantarkan pesan dari ibunya yang tengah sekarat. Dia tidak pernah tahu jika dia harus tinggal bersama pria itu, selama berhari-hari, berminggu-minggu hingga bertahun-tahun. Walau bagaimana pun, gadis itu menolak panggilan apa pun, kecuali Tiffany.

*

Tiffany tak pernah tahu bahwa beberapa bulan setelah kedatangannya, pria itu menulis sepucuk surat yang dikirimkan melintasi samudera, tanpa alamat, namun surat itu tetap sampai tujuan.

*

Maret 1998

Gadis itu terus berlari menembus sisa-sisa salju musim dingin yang hampir berakhir. Mengabaikan sayatan-sayatan di kaki mungilnya saat melewati bebatuan tajam atau semak belukar. Dia sudah tidak tahan mendengar kedua orang tua dan kedua saudaranya yang tak henti-hentinya memanggil gadis itu anak aneh.

Dengan amarah memuncak, saat ulang tahunnya yang ke sembilan gadis itu mengemasi baju seadanya dan kabur melalui jendela. Dia bahkan tidak sempat membawa sepatu botnya. Gadis itu hanya terus berlari tanpa memandang ke belakang, hatinya sudah penuh tersayat luka.

Saat fajar sudah mulai terlihat di ufuk timur, dan gadis itu sangat kelelahan barulah dia memutuskan untuk beristirahat sejenak di sebuah gua. Gadis itu meletakkan ransel hitamnya di samping sebuah batu dan bersandar untuk mengambil napas.

Gua itu cukup gelap dan lembab, mengingat musim dingin belum hilang sepenuhnya walaupun bunga-bunga musim semi sudah mulai bermekaran. Udara masih beberapa derajat dibawah normal, namun gadis itu tak sedikit pun menunjukkan bahwa dia tengah kedinginan.

Setelah merasa cukup tenang, gadis itu mengeluarkan sebuah mantel dari ranselnya. Alih-alih untuk membalut tubuh mungilnya, mantel itu justru dijadikannya sebagai alas tidur berbantal batu. Dia sungguh kelelahan, berlari sejauh bermil-mil menguras habis energinya tanpa sisa. Setelah merasa cukup nyaman, gadis itu perlahan memejamkan mata dan jatuh tertidur.

*

Malam itu sunyi dan gelap, tak terlihat cahaya sejauh mata memandang. Dia duduk di trotoar jalan menuju sekolah. Seharusnya ini sudah pagi. Pikirnya.

Dia sudah rapi dengan seragam sekolah dan kaus kaki biru barunya. Walaupun sepatunya sudah usang dengan lubang di ujung sebelah kanan. Dia sudah bersiap pergi ke sekolah, namun sepanjang jalan dia hanya menemui kegelapan.

Dia berhenti di sebuah tempat yang dia pikir adalah halte bus dan duduk di pinggir trotoar, menanti. Namun bis tak kunjung datang, dan dia mulai bosan. Dia pun berjalan perlahan-lahan menuju stasiun, namun di tengah jalan dia terbentur sebuah tiang dengan suara tung nyaring yang terdengar ganjil. Seperti sebuah besi yang berdentum di ruang hampa. Dia pun mengeluarkan tangannya yang bercahaya untuk melihat sekitar.

Tepat setelah itu terlihat cahaya dari kejauhan yang menyorot langsung ke matanya sehingga dia harus menghalau pandangannya. Sebuah bis merah besar menuju ke arahnya dengan kecepatan cahaya lalu perlahan melambat hingga secepat kayuh sepeda, melintasinya.

Selama sepuluh detik, dia berdiri terpaku melihat teman-temannya dari jendela bis, berseragam sama persis seperti dirinya. Namun bedanya mereka tak hanya berdiri dan menunggu, apalagi terbentur tiang. Mereka mengolok-oloknya dari jendela bis, membuat wajah-wajah konyol lalu kata-kata ‘gadis aneh’ dan ‘anak setan’ menyesaki telinganya.

Dia tak bisa bergerak dari tempatnya karena teman-temannya kini tidak berkata-kata lagi namun mengaum menakutkan. Lalu saking cepatnya, ranselnya jatuh ke aspal lalu berubah ukuran menjadi lebih besar sepuluh kali lipat. Dia melihat ransel itu berubah menjadi monster mengerikan dengan resleting terbuka yang dijadikan mulut dan taring. Kini dia tak lagi berada di trotoar, melainkan sebuah arena pertunjukan. Seperti glade yang teramat luas dengan tepuk riuh penonton yang menyorakinya.

Suara geram berat memecah konsentrasinya, gadis itu mendongak hingga melihat sebuah beruang raksasa. Anehnya beruang itu berwarna putih mengilat dan bercahaya hingga menyilaukan. Taring dan cakarnya yang sepanjang lengan membuatnya ketakutan. Apa yang penonton itu harapkan? Bocah sembilan tahun mengalahkan seekor beruang raksasa? Namun tepuk tangan malah semakin meriah.

Instingnya berkata dia harus berlari. Jadi dengan langkah kecil dia harus berlari sekuat tenaga, mencari tempat bersembunyi. Namun yang terlihat olehnya hanya rumput di arena luas, itu takkan cukup untuk menyembunyikan tubuhnya.

Langkah beruang itu tiga kali lebih jauh dibanding dirinya, jadi dengan cepat cakarnya meraup tubuh mungilnya dan melahapnya hingga dia jatuh ke gelapan tak berdasar. Dia berteriak namun suaranya tak terdengar di mana-mana, hanya gelap dan hampa.

Gadis itu terbangun dengan keringat bercucuran deras. Siang itu cukup terik, dan dia tak tahu sudah tidur berapa lama.

Merasa haus, gadis itu pun keluar untuk mencari sumber mata air. Hingga tibalah ia di sebuah sungai berbatu terjal. Dia memanjat salah satu batu terbesar lalu duduk dan meneguk seraup air. Saat dia sudah merasa cukup, gadis itu kembali ke guanya.

Ternyata ransel dan mantelnya lenyap, dia pun mencari lebih dalam, mengabaikan rasa takutnya akan kegelapan dan kalustrofobia. Namun suara geraman membuat gadis itu langsung menghentikan langkahnya. Dia teringat akan mimpi semalam. Dia pun berbalik dan berlari keluar, namun sebuah langkah berat mengikutinya dari belakang. Gadis itu mempercepat larinya hingga sampai ke permukaan gua.

Mata seokor beruang cokelat menatapnya tajam, seolah dia adalah santapan yang sudah ditunggunya selama bermusim-musim lamanya. Gadis itu begitu ketakutan hingga dirinya tersandung sebuah batu lalu jatuh telentang. Aku akan mati disini. Begitu pikirnya.

Beruang itu tak menyunggingkan senyum seperti dalam mimpinya, dan tak bertaring apalagi bercahaya. Hanya sederetan gigi runcing yang tajam serupa penggiling daging, menyapanya dengan tak ramah. Dia tak ingin melihat penggiling itu dan mengingatnya hingga ke akhirat, terbayang-bayang oleh giginya yang tajam, jadi gadis itu menutup mata rapat-rapat. Menunggu takdir membawanya entah kemana.

Terdengar auman memekakan telinga lalu sebuah debum hebat yang membuat tanah di sekitarnya bergetar. Gadis itu memberanikan diri utuk mengintip sedikit. Betapa terkejutnya ia saat mendapati beruang itu telah lenyap, menyisakan seekor tikus kecil yang menggigit ujung jari kakinya dan langsung menyingkirkan hewan itu.

Gadis itu masih kebingungan dengan apa yang terjadi hingga tatapannya bertemu dengan seorang pria bersetelan abu-abu yang berjarak sepuluh meter darinya, tidak mengatakan apa pun hanya menatapnya dari kejauhan.

Dia hendak berdiri dan kembali berlari sebelum pria itu berbicara, “diam di tempatmu dan tujukkanlah sesuatu yang hebat padaku.”

Gadis itu kembali gemetar saat tangannya mengeluarkan cahaya, sebuah batu di sampingnya terangkat lalu meluncur mulus menuju pria bersetelan abu-abu yang tengah berdiri tampak tak terkesan. Alih-alih menghantam wajah pria itu, batu itu malah melenceng sejauh tiga puluh senti ke arah yang salah hingga menabrak batang pohon di sampingnya. “Menarik, namun tidak cukup hebat. Kau akan menunjukkan padaku sesuatu yang lain. Sekarang, berdirilah dari tempat itu dan ikuti aku.” Katanya dengan nada datar, namun tatapannya begitu mengancam hingga dia tak mampu bergerak.

Gadis itu ragu-ragu, namun melihat bagaimana lemparannya meleset dari wajahnya, dia tahu bahwa pria itu tak bisa dilawan, dengan cara apa pun.

*

Agustus 1998

Tiffany dibesarkan di sebuah mansion terbesar di Chicago, juga beberapa arena pertunjukan. Leo membawanya kemana-mana saat dia masih teramat kecil untuk bepergian. Tiffany bahkan tak pernah ingat di kota mana tempat mereka tinggal selama beberapa minggu. Pernah ayahnya menyebut London, Paris, Roma lalu setahun kemudian New York, Boston, San Fransisco. Kota-kota itu larut dalam ketergesaan, beledu dan lampu neon hingga terkadang dia lupa di mana dirinya berada.

Setelah memutuskan bahwa Tiffany cukup besar untuk menjadi aksesoris menawan yang dapat dia pamerkan ke kolega dan rekan bisnis konglomeratnya, sang Ayah meninggalkannya di ruang ganti atau hotel bintang lima.

Terkadang Tiffany menunggu ayahnya pulang dengan menatap tali sepatunya yang kusut, mencoba menalinya kembali dengan sangat rapi.

Leo melarangnya menggunakan tangan untuk hal apa pun, bahkan urusan sesederhana mengikat tali sepatu bot. Tiffany hanya menatap kakinya, dalam hati memerintah tali sepatunya untuk membuat ikatan sempurna, lalu menguraikannya lagi hingga berantakan, dan cemberut saat gagal.

Walaupun demikian, sang Ayah sangat pelit dalam memberikan penjelasan. Dia mengharuskan Tiffany untuk belajar sendiri, dari keterangan-keterangan kecil yang diberikan ayahnya dan hasil pengamatan selama bertahun-tahunlah yang membuatnya berhasil menggerakkan benda apa pun hanya dengan tatapan matanya.

Tiffany bukan hanya seorang gadis kecil, dia adalah keturunan penyihir terhebat di zamannya.

*

Desember 1999

Gadis berusia sepuluh tahun itu dibesarkan di sebuah rumah di Wyoming. Dia tidak pernah berjumpa dengan siapa pun, bahkan pada waktu makan, ketika hidangan mendadak muncul dalam baki tertutup di dekat pintu kamarnya, lalu menghilang begitu saja setelah dia selesai makan dan mengembalikannya. Sekali dalam sebulan, seorang wanita datang untuk merapikan rambutnya. Sekali dalam setahun, wanita yang sama mengukur badannya untuk menjahitkan beberapa pakaian baru.

Gadis itu menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menjelajah labirin bergerak di halaman rumahnya seluas dua hektare, menelusurinya, menciptakan jebakan-jebakan baru atau menggambar sketsa arena labirin tersebut. Labirin itu dipenuhi dengan simbol-simbol yang beberapa telah dipelajarinya, beberapa lagi masih berusaha dia temukan maknanya.

Pria bersetelan abu-abu itu mengunjungi kamarnya setiap hari, kerap membawakannya buku sketsa dan cat air dan mengajarinya trik-trik aneh yang Gadis itu sendiri tak yakin akan benar-benar dipahaminya.

Hanya sekali gadis itu menanyakan kapan dia akan di perbolehkan melakukan sesuatu, seperti yang sangat jarang didemonstrasikan oleh pria bersetelan abu-abu dalam latihan yang terjadwal ketat ini.

“Saat kau sudah siap,” adalah satu-satunya jawaban yang diperolehnya.

Lama kemudian, dia baru dianggap siap. Dia pun diberi sebuah cincin yang lenyap saat disemat di jari manisnya. Pria bersetelan abu-abu itu kini memanggilnya Erika.

*

Juni 1997

Bangunan itu bercat abu-abu, sewarna dengan trotoar di bawahnya dan langit di atasnya, tampak setipis awan, seolah-olah sewaktu-waktu bisa lenyap begitu saja. Tembok batu abu-abu suram menyarukannya dari bangunan di sekitarnya, kecuali lambang kusam yang menggantung di pintu.

Seorang wanita yang mengenakan pakaian abu-abu tua muncul saat Leo mengetuknya. Kendati demikian, pria itu tampak kurang sesuai berada di sana. Busananya terlalu bergaya. Dan, aksesoris mewah berjalan yang dibawanya terlalu bergengsi untuk memasuki bangunan yang hampir reyot itu.

Wanita itu mempersilahkan mereka duduk dengan canggung. Matanya awas mengamati gadis kecil yang ditenteng pria bersetelan hitam. Walau bagaimana pun, wanita itu tak berhak protes, mereka adalah tamu yang sudah lama ditunggu Tuannya.

Tak lama setelah secangkir kopi dan teh tersaji di atas meja bundar berbentuk bongkahan kayu, seorang pria bersetelan abu-abu serupa wanita itu muncul menyambut mereka dengan senyum sopan.

“Sahabatku, Hwang.” Sapanya ramah namun tampak separuh hati.

Leo menjabat tangannya sejenak sebelum kedua pria itu duduk, meninggalkan gadis kecil yang mengamati mereka dengan saksama, mencoba memahami pembicaraan mereka.

“Aku sudah menerima suratmu.” Kata pria bersetelan abu-abu memulai perbincangan.”Disitu kau menyebutkan bahwa kau memiliki penawaran untukku.”

“Ya, betul!” kata Leo, menepukkan kedua tangannya sekali. “Aku harap kau berminat pada permainan ini. Permainan terakhir kita sudah sangat lama berlalu. Tapi pertama-tama, kau harus menemui proyek baruku.”

“Kupikir kau sudah lama berhenti dari bisnis ini.”

“Memang, tapi untuk yang satu ini, aku tidak bisa menolak.” Leo berhenti sejenak, memandang putrinya yang duduk di sudut ruangan dengan kaki tergantung jauh di atas lantai. “Tiffany, Sayang,” panggilnya sebelum kembali menghadap pria itu.

Gadis yang dipanggil namanya itu langsung melompat dari kursi yang terlalu tinggi untuknya, busananya terlalu rapi untuk ruangan sesederhana itu. Dengan gaun dipenuhi pita dan renda, dia tampak sesempurna boneka baru, kecuali beberapa ikal rambut meranya yang mencuat dari kepangan.

Gadis itu maju beberapa langkah, lalu ragu-ragu melangkah, masih kebingungan bagaimana harus bersikap dengan orang baru.

“Tidak apa-apa sayang. Ini rekan bisnisku, jangan malu.” Kata Leo, melambai padanya.

Si Anak melangkah mendekat hingga sejajar dengan ayahnya dan menghormat sempurna, sampai renda di ujung gaunnya menyapu lantai yang kusam.

“Ini putriku, Tiffany,” kata Leo kepada pria bersetelan abu-abu, seraya menepuk-nepuk kepala gadis itu. “Tiffany, ini Victor.”

“Senang bertemu dengan Anda,” sapa bocah itu dengan sopan, suaranya tidak lebih dari bisikan namun dalam dan serak, tidak seperti suara kebanyakan gadis kecil seumurannya.

Pria bersetelan abu-abu mengangguk sopan kepadanya.

“Tunjukkanlah kemampuanmu kepada pria ini,” kata Leo. Dia mengeluarkan jam saku perak berantai panjang dari rompinya dan meletakkannya di meja. “Ayo.”

Gadis itu membelalakkan mata.

“Kata Daddy aku tak boleh menunjukkannya kepada siapa pun,” katanya. “Daddy sudah menyuruhku berjanji.”

“Pria ini bukan sembarang orang,” jawab Leo sambil tertawa.

“Kata Daddy tanpa terkecuali,” Tiffany memprotes.

Senyum ayahnya memudar. Leo memegangi kedua bahu Tiffany dan menatapnya tajam.

“Ini kasus istimewa,” katanya. “Tunjukkanlah kemampuanmu kepada pria ini, seperti dalam latihanmu.” Dia mendorong bocah itu ke arah meja.

Gadis kecil itu mengangguk murung dan mengalihkan perhatiannya ke jam saku di meja, tangannya saling menjalin di balik punggung.

Sejenak kemudian, jam itu berputar perlahan, melingkar-lingkar di atas meja, diikuti oleh rantai yang membentuk pusaran.

Kemudian, jam itu terangkat dari meja, membubung ke udara dan melayang begitu saja, seolah-olah terapung di permukaan air.

Leo menantikan reaksi pria bersetelan abu-abu.

“Mengesankan,” kata pria itu. “Tapi terlalu dasar.”

Alis Tiffany terangkat dari atas mata hitamnya, dan jam itu seketika pecah, roda-roda giginya terlontar ke udara.

“Tiffany!” Tegur ayahnya.

Gadis itu tersipu malu mendengar nada tajam ayahnya dan menggumamkan permintaan maaf. Seketika itu juga, roda-roda gigi memasuki badan jam, terpasang rapi hingga jam saku itu utuh kembali, jarum-jarumnya berdetik seolah-olah tidak ada yang baru saja terjadi.

“Nah, itu lebih mengaggumkan,” pria bersetelan abu-abu mengakui. “Tapi dia belum bisa mengendalikan emosi.”

“Dia masih kecil,” kata Leo, menepuk-nepuk kepala Tiffany tanpa memedulikan kekesalan bocah itu. “Jika belum setahun belajar saja dia sudah selihai ini, kemampuannya sesudah dewasa nanti tidak akan tertandingi.”

“Aku bisa mengambil anak jalanan dan mengajari mereka dengan ilmu yang sama. Kau takkan bisa lagi menyebutnya tak tertandingi.”

“Ha!” seru Leo. “Jadi, kau bersedia bermain.”

“Berbisnis.” Pria bersetelan abu-abu sejenak ragu sebelum akhirnya mengangguk. “Mungkin.”

“Ini akan sedikit lebih rumit. Yang kumiliki disini adalah bakat alam. Niat yang besar mungkin berpengaruh, namun kemampuan yang ada sejak lahir merupakan hal langka.”

“Bakat alam adalah fenomena yang patut dipertanyakan.”

“Dia anakku, tentu saja dia punya kemampuan sejak lahir. Delapan bulan latihan dan dia bisa menerbangkan jam itu hanya dengan sekali percobaan.”

Pria bersetelan abu-abu mengalihkan perhatian pada Tiffany.

“Kau tidak merusak jam itu kan?” tanyannya mengangguk ke jam yang tergeletak di meja.

Tiffany mengerutkan kening dan mengangguk tipis.

“Untuk anak sekecil itu, dia memiliki pengendalian luar biasa,” kata pria bersetelan abu-abu kepada Leo. “Namun sifatnya yang mudah marah kurang menguntungkan. Itu bisa berujung pada tingkah implusif.”

“Sifat itu akan menghilang seiring pertambahan usiaya atau dia akan belajar mengendalikannya. Itu masalah kecil.”

Pria itu menatap Tiffany. “Kau mau menjadikan anakmu sendiri bahan taruhan?” katanya sambil bergumam.

“Dia takkan kalah,” balas Leo dengan gumaman serupa.

Pria bersetelan abu-abu kembali menatap Tiffany, “baiklah,” pria itu mengangguk.

Pria bersetelan abu-abu membungkuk dan membisikkan sesuatu ke telinga Tiffany. Senyum tipis mencerahkan wajah gadis cilik itu.

“Angkat tangan kananmu,” katanya, kembali bersandar di kursinya. Tiffany buru-buru mengangkat tangan, menadahkan telapak, tidak tahu akan mendapatkan apa. Tetapi, pria bersetelan abu-abu tidak meletakkan apa pun di sana. Dia malah membalik tangan Tiffany dan meletakkan sebuah cincin perak dari kelingkingnya sendiri. Dia memegang pergelangan tangan Tiffany dan menyematkan cincinnya ke jari manis gadis itu, walaupun masih terlalu longgar.

Tiffany sudah membuka mulut untuk menyampaikan fakta nyata bahwa cincin itu, meskipun sangat cantik, tidak pas di jarinya, ketika menyadari bahwa perhiasan itu menyusut di tangannya.

Namun, kegembiraan sesaatnya rusak akibat rasa nyeri yang meyerang saat cincin itu terus mengecil di jarinya, hingga logam terasa membakar kulitnya. Dia mencoba melepasnya, tapi pria abu-abu memegang pergelangan tangannya erat-erat.

Cincin itu menipis dan memudar, hanya meninggalkan bekas luka merah yang melingkari jari manis Tiffany.

Pria bersetelan abu-abu melepaskan pergelangan tangannya, dan Tiffany langsung mundur, menyendiri di sudut, memeriksa tangannya.

“Anak baik,” kata ayahnya.

“Aku butuh waktu untuk mempersiapkan pemainku,” kata pria bersetelan abu-abu.

“Tentu saja,” kata Leo. “Habiskan waktumu sesukamu.” Dia melepas sebuah cincin emas dari tangannya sendiri dan meletakkannya di meja. “Ini kalau kau sudah menemukan pemainmu.”

“Kau tidak ingin mengambil sendiri kehormatan ini?”

“Aku memercayaimu.”

Pria bersetelan abu-abu mengangguk dan mengeluarkan sehelai saputangan dari kemeja abu-abunya, memungut cincin itu tanpa menyentuhnya, dan mengantonginya.

“Kuharap kau tidak melakukan ini karena pemainku berhasil memenangkan permainan kita terakhir.”

“Tentu tidak,” kata Leo. “Aku melakukan ini karena aku yakin pemainku bisa mengalahkan siapapun yang kau pilih, dan karena zaman sudah cukup berubah untuk menambah daya tarik permainan ini.”

Pria bersetelan abu-abu kembali menatap tajam Tiffany, membuat gadis itu semakin mengkerut di sudut ruangan sempit itu. “Apa kita perlu membuat klausul untuk bertindak secara terbuka?”

“Aku akan menghubungimu.” Leo berdiri, menepuk-nepuk debu yang menempel di lengan bajunya. Lalu menenteng kembali aksesoris mewahnya yang tengah berdiri ketakutan dan menyodok lengan gadis itu.

Tiffany kembali membungkuk sempurna pada pria itu walaupun tangannya masih gemetar.

“Senang bertemu denganmu, Miss Tiffany.”

Sepanjang perjalanan pulang, gadis itu tidak mengatakan apa pun kecuali menatap gurat merah yang masih terasa panas di jari manisnya.

*

Sesampainya di ruang ganti, Leo Hwang terkekeh sendiri sementara putrinya berdiri diam di sudut, terus menekuri bekas luka di tanganya. Rasa sakitnya memudar secepat lenyapnya cincin, tapi bekas merah itu tetap tinggal.

“Kenapa Daddy memanggil pria itu Victor?” tanya Tiffany.

“Itu pertanyaan bodoh.”

“Itu bukan namanya.”

“Nah, bagaimana kau tahu?” Leo bertanya kepada putrinya, mengangkat dagu bocah itu dan menatap mata hitamnya.

Tiffany membalas tatapannya, tidak tahu bagaimana harus menjelaskan. Dia mengingat-ingat kembali pria bersetelan abu-abu dengan mata serupa dan pembawaan kasar itu, mencoba mencari penjelasan mengapa namanya tidak sesuai dengan sosoknya.

“Itu bukan nama asli,” katanya. “Bukan nama yang selalu dipakainya. Nama itu hanya disandangnya seperti topi. Jadi, dia bisa melepasnya kapan pun dia mau. Seperti nama Leo bagi Daddy.”

“Kau ternyata lebih cerdas daripada yang kukira,” kata Leo, tanpa menyanggah ataupun mengiakan pemikiran Tiffany tentang nama rekan bisnisnya. “Nama tidak sepenting yang digembor-gemborkan orang.” Pria itu berlalu mengambil topi tingginya dari gantungan lalu memakainya, membiarkan sutra hitam menutupi sorot matanya yang penuh tanya. Bersiap menuju arena pertunjukan yang lain.

*

Januari 2000

Pria bersetelan abu-abu mengeluarkan saputangan dari saku dan menjatuhkannya di meja. Gedebuk samar terdengar, menandakan bahwa ada yang disembunyikan dibalik lipatan kain sutra itu. Dia mengangkat saputangan, membiarkan isinya, sebuah cincin emas, menggelinding di meja. Cincin itu agak kusam dan memiliki ukiran kata-kata yang menurut dugaan Gadis itu berbahasa Latin, walaupun tulisannya terlalu cantik dan keriting sampai-sampai dia kesulitan membacanya.

Pria bersetelan abu-abu mengantongi kembali saputangan yang telah kosong.

“Hari ini kita akan belajar tentang pengikatan,” katanya.

Ketika mereka tiba pada bagian yang membutuhkan demostrasi langsung, pria bersetelan abu-abu memerintahkan Gadis itu untuk memakai sendiri cincin itu. Dia tak pernah menyentuhnya, apa pun situasinya.

Gadis itu berusaha melepas cincin yang melebur ke dalam jari manisnya, tapi sia-sia saja.

“Pengikatan bersifat permanen, Nak,” kata pria bersetelan abu-abu.

“Pada apa aku diikat?” tanya Gadis itu, mengerutkan kening pada bekas luka tempat cincin emas itu terpasang beberapa saat sebelumnya.

“Tugas yang sudah kau emban, dan seseorang yang kelak akan kau temui. Detailnya belum terlalu penting sekarang. Ini hanyalah urusan teknis yang harus diselesaikan.”

Gadis itu hanya mengangguk-angguk tanpa bertanya lebih jauh, tapi malamnya, ketika sendirian dan sulit tidur, dia menghabiskan berjam-jam untuk menatap tangannya di bawah sinar rembulan, memikirkan kepada siapa dirinya diikat.

*

September 2002

Gerbang itu tiga kali lebih tinggi dari tubuhnya, dan tulisan yang berbunyi ‘Midnight Gala Spectacle’ nyaris tak terlihat pada malam hari, padahal setiap hurufnya mungkin seukuran semangka. Di gerbang terdapat gembok yang tampak rumit dan tulisan indah yang berbunyi.

Grand Mansion

PENYUSUP AKAN DIJATUHI HUKUMAN SETIMPAL

Erika tidak memahami konsep hukuman yang setimpal, tapi bunyinya tidak terlalu menyenangkan. Rumah besar di dalamnya tampak aneh, terlalu sunyi. Tidak ada keriuhan pelayan seperti selayaknya rumah-rumah besar lainnya. Hanya kerik jangkrik dan gemerisik dedaunan. Bahkan, tidak ada seorang pun di sana, seolah-olah seluruh tempat itu memang terbengkalai.

Gadis itu mengamati sketsa yang dia lukis semalam setelah kembali bermimpi aneh tentang beruang raksasa berwarna putih menyala. Sketsa teka-teki arena pertunjukan terspektakuler yang pernah dia lihat. Dan sketsa itu, sayangnya menuntunnya ke gerbang ini.

Dia tidak lagi yakin akan keinginannya menyelesaikan tantangan, dan kalaupun harus melakukan itu, dia tidak ingin orang lain menyaksikannya.

Sebagian besar pagar berbatasan langsung dengan puluhan gazebo dari batu pualam yang tertutup sempurna oleh terpal putih, berbeda dengan gazebo secara umumnya—hanya tersisa celah untuk keluar masuk, lebih mirip tenda kemah raksasa daripada gazebo. Erika mengamati dari kejauhan, tak ada celah untuk masuk.

Gadis itu terus berjalan.

Beberapa menit kemudian, setelah dia menemukan bagian pagar yang berbatasan langsung dengan sebuah jalan kecil, semacam gang di antara dua gazebo, berkelok seperti sungai yang menghilang di bagian terjauh. Bagi penyusup, ini adalah tempat yang ideal untuk mencoba masuk.

Erika menyadari bahwa dirinya, sesungguhnya memang ingin masuk. Selain karena ingin mengikuti sketsa dari mimpi buruknya, dia juga penasaran setengah mati. Rasa penasaran yang menggelegak dan tidak tertahankan.

Jeruji pagar itu tebal dan halus, dan tanpa mencoba pun Erika sudah tahu bahwa dia tidak akan bisa memanjatnya. Di samping fakta bahwa tidak ada pijakan, bagian atas pagar dilengkapi semacam paku-paku tajam. Pagar itu sebenarnya tidak menakutkan, namun jelas tidak mudah diterobos.

Namun, pagar itu rupanya tidak dibangun untuk menghalangi bocah tiga belas tahun, karena meskipun kokoh, masing-masing jerujinya berjarak sekitar tiga puluh sentimeter. Dan Erika, yang bertubuh mungil, bisa dengan mudah menyusup.

Dia ragu-ragu, hanya sejenak, tetapi menyadari bahwa dia akan membenci dirinya sendiri jika tidak mencoba, apapun yang terjadi nanti.

Erika menimbang-nimbang arah yang akan ditujunya, sambil menggambar sketsa dalam kepalanya yang kelak akan dijadikan cetak biru olehnya. Dia menduga penghuni mansion pastinya sudah tertidur di tengah malam begini, dan menilai dari tidak adanya penjaga gerbang, takkan ada yang menangkap basah seorang gadis berusia tiga belas tahun menyusup ke dalam rumahnya.

Erika berbelok ke kanan di ujung jalan, dan mendapati dirinya berada di depan sebuah gazebo dengan lambang Romawi yang berarti Jupiter, itu adalah gazebo terbesar sepanjang gadis itu berjalan.

Berkat kesensitifan telinganya, Erika mendengar suara letupan kembang api mirip kerik jangkrik tertahan. Gadis itu langsung tahu bahwa tadi itu gemerisik api. Karena penasaran, gadis itu pun mencoba mencari tahu sambil tetap berusaha menyembunyikan dirinya di balik batu-batu pualam raksasa.

Tibalah ia di sebuah gazebo di tengah-tengah halaman. Yang membuatnya berbeda adalah gazebo itu tidak dilengkapi terpal seperti yang lainnya, dan simbol matahari besar menyala di atasnya. Terlebih, yang menarik perhatian Erika adalah, ada seorang gadis kecil yang hampir tertimpa lampu gantung di langit-langit gazebo. Untuk apa sebuah gazebo terbuka dilengkapi sebuah lampu? Erika jelas tidak tahu, namun instingnya dengan cepat mengatakan dia harus menyelamatkan gadis itu.

Refleks saja, tangannya terangkat dan mendorong lampu itu hingga jatuh sepuluh meter dari gadis itu. Erika bahkan terkejut dengan apa yang baru saja dilakukannya. Dirinya tak pernah menggerakkan benda ke udara lebih dari apa yang bisa dia angkat dengan kedua tangannya. Dan lampu-lampu itu, pastilah sangat berat dan mahal.

Gadis itu berdiri di tengah gazebo, diam saja, mungkin sedikit terkejut. Entahlah, Erika tak dapat memastikan rautnya dengan pencahayaan seminim itu. Usianya mungkin sebaya dengan dirinya, dan busananya bisa disebut kostum, kerena jelas bukan pakaian biasa. Sepatu bot putih dengan banyak kancing, stoking putih, gaun putih dari berbagai macam bahan—gabungan dari renda, sutra, katun dilengkapi dengan sarung tangan putih. Namun wajahnya sulit terlihat dari kejauhan. Hanya kostum putihnya dan rambut merahnya yang mencolok.

Erika menghampirinya, karena toh dia sudah tertangkap basah menyusup.

“Kau tidak boleh berada di sini,” bisik gadis berambut merah itu. Sepertinya dia tidak marah, hanya terkejut. Erika mengerjapkan mata beberapa kali sebelum bisa menjawab.

“Aku… uh, aku tahu,” katanya, merasa sudah mengatakan hal tertolol di dunia, tapi gadis itu hanya menatapnya.

“Maafkan aku..” tambah Erika, merasa semakin tolol.

“Mungkin sebaiknya kau pergi sebelum ayahku pulang,” kata anak perempuan itu, menoleh ke balik bahunya, tapi Erika tidak tahu apa yang dicarinya. “Dari mana kau masuk?”

“Belakang…” Erika menoleh ke belakang, menunjuk celah sempit di antara dua gazebo.

“Tak apa-apa, ikuti aku saja,” gadis itu menggandeng Erika dengan tangan bersarung putihnya dan menariknya melewati salah satu jalan. Dia tidak mengucapkan apa pun lagi selama mereka melewati sejumlah gazebo, walaupun saat mereka tiba di belokan, dia menyuruh Erika berhenti. Dia menimbang-nimbang mengapa gadis itu tidak berterima kasih padanya karena telah menyelamatkan nyawa gadis itu, namun Erika memilih diam daripada menanyakannya.

“Kau muat melewati pagar?” tanyanya, dan Erika mengangguk. “Keluarlah dari sini, kau akan baik-baik saja.”

Dia membantu Erika keluar melalui sela-sela jeruji, yang agak lebih rapat di beberapa bagian.

“Apa artinya dijatuhi hukuman yang setimpal?” tanya Erika begitu sampai di luar.

Gadis itu tersenyum. “Artinya, kau mungkin akan dihukum gantung. Tergantung seberapa berat kasus penyusupanmu. Jika kau mengambil barang-barang ayahku, mungkin dia akan menyedot seluruh darahmu hingga kau benar-benar kering.” Katanya. “Namun dia tak pernah benar-benar melakukannya, kurasa.”

Erika mengangkat sebelah alisnya, namun tak bertanya tentang hal itu. “Terima kasih sudah tidak memberi tahu ayahmu.”

“Terima kasih sudah menyelamatkanku.” Gadis itu mengulurkan tangan bersarung putihnya. “Namaku Tiffany.”

“Terima kasih, Tiffany.” Kata Erika sebelum gadis itu akan pergi.

“Lain kali, berhati-hatilah.” Hal itu membuat mata Erika berbinar-binar. “Kapan aku bisa bertemu denganmu lagi?”

“Datanglah selepas Senja dan pulanglah sebelum Fajar di tempat ini.”

“Baik, aku akan menemuimu lagi besok.” Ada sesuatu dalam mata gadis itu yang membuat Erika tertarik, seperti gaya gravitasi yang membuat semua benda jatuh. Erika telah dilatih oleh instrukturnya cara melawan gaya gravitasi, walaupun sesungguhnya dia sudah tahu. Namun, gaya gravitasi dalam mata gadis ini mengalahkan semua teori yang sudah didemonstrasikan sang Instruktur, dan Erika menemukan dirinya kebingungan.

Tiffany terkekeh, “kau belum menyebutkan namamu.”

Gadis itu menimbang-nimbang, apakah dia harus menyebutkan nama aslinya atau nama yang diberikan sang Instruktur. Namun, karena dia sudah bersumpah untuk melupakan masa lalunya, dia menyebutkan nama yang kini disandangnya. “Kau bisa memanggilku Erika.”

Tiffany diam sejenak, menekuri siluet Erika dalam kegelapan. “Itu bukan namamu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?”

“Nama itu tak cocok untukmu,” jawabnya. “Aku akan memanggilmu dengan nama yang lain.”

“Terserah kau saja. Aku biasa dipanggil apapun.” Balas Erika, melirik langit di belakangnya yang sudah mulai menampakkan cahaya Fajar. “Kupikir, aku harus segera pergi.”

“Kau benar. Ayahku sebentar lagi kembali.” Tiffany melepaskan sebelah sarung tangannya lalu memberikannya pada Erika. “Simpanlah, dan bawalah tiap kali kau kemari.”

“Terima kasih. Senang bertemu denganmu, Tiffany.” Erika mengamati punggung anak perempuan itu hingga menghilang di balik deretan gazebo, memikirkan mengapa senyumnya begitu terpatri dalam benaknya dan mengapa dadanya serupa drum yang tak henti-hentinya ditabuh.

Erika tidak menyadari, beberapa meter dari tempatnya berdiri, di dalam sebuah gazebo berselimut terpal, tersembunyi di balik bayangan yang terbentuk antara sebuah lampu dan pilar, Tiffany Hwang meringkuk menekuri bekas merah di jari manisnya, menangis.

Perlahan, pecahan lampu itu kembali mewujud seperti layaknya sebuah lampu yang tak pernah terjatuh.

*End Part 1*

Sepertinya, lagi-lagi saya tidak bisa ngedit karena sudah terlalu malam, dan mengejar tanggal 27 Dec! 4th Aniv.

Gak kerasa udah 4 tahun aja blog ini ada. *hug* Let’s spread more love

Happy 4th bday my lovely Febri. Be my forever baby and XOXO.

Silahkan komen dibawah jika ada kesalahan pengetikan, dan saya akan menggantinya secepat yang saya bisa 🙂

~S2

s2 logo

Iklan

21 thoughts on “MAGIC [1/3]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s