One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Kiss Butterfly [One Shoot]

12940060_538853509608709_990009218_n

~S2 Present, romance, Yuri~

Copyright © 2016, @sasyaa95

“Kau percaya?”

Sang gadis pirang mengalihkan perhatian dari naskah yang hampir berhasil dihafalkannya di luar kepala. “Soal?”

“Mereka melakukannya lagi.”

Dia melihat senyum tergambar di wajah gadis berambut coklat yang tengah menyandarkan kepala di bahunya, seharian menemaninya menghafalkan naskah untuk konser solo pertamanya. “Apa yang kau bicarakan, Fany?”

13113879_1569689583328870_433497720_a

“Ini” Sebuah gambar di layar tablet muncul di wajahnya, mengganti pemandangan kertas putih bernoda tinta menjadi layar berwarna.

“Ah, ya.. Mereka selalu melakukannya.” Sang gadis menyembunyikan senyumnya dibalik layar tablet, tersipu.

“Aww.. Kau imut sekali Boo..” Sebuah cubitan melayang di pipinya yang merona. Dia tak tahu harus berkomentar apa, setelah berjuta kupu-kupu beterbangan di perutnya yang sepertinya susah sekali disingkirkan jika dekat-dekat dengan gadis berambut coklat di sebelahnya.

Suasana kembali hening, hanya suara tawa tertahan yang sesekali terdengar dari gadis di sampingnya. Dia tak lagi dapat berkonsentrasi dengan naskahnya. Pikirannya melayang ke hari dimana mereka melakukan pemotretan untuk sebuah majalah fashion. Suasana pemotretan untuk majalah itu memang selalu terasa intim untuk mereka bertiga. Memang, sejak promosi solonya dimulai dan dengan sibuknya gadis di sampingnya melakukan fashion show di berbagai belahan dunia, membuat waktu yang mereka miliki untuk dihabiskan berdua sangat sedikit. Dan jika mereka mendapatkan waktu berdua saja, Taeyeon lebih senang dihabiskan dengan melakukan hal ini—tidak melakukan apapun, hanya duduk disampingnya dalam keheningan yang membuatnya lebih nyaman dari apapun.

Oh My God! Did they really make this?”

Taeyeon memang tak begitu fasih berbahasa Inggris, tapi dia mengerti sebagian besar apa yang diocehkan sahabatnya. Dia memilih untuk tidak menjawab, bersembunyi dibalik kemampuan bahasa Inggrisnya.

“Tae?”

“Hmm?”

“Kadang aku bertanya-tanya, apakah mereka katakan benar? Mereka terkadang masuk akal.”

Jantungnya berdegup kencang akibat pernyataan jujur itu. Apakah tingkahnya selama ini begitu jelas? Bahkan beberapa member sempat menanyakannya. Sepertinya tak peduli betapa keras usaha Sang gadis untuk menyembunyikan perasaannya, setidaknya akan ada satu orang yang menyadarinya. Dia hanya berharap orang itu bukan gadis yang kini tengah duduk disampingnya.

“Entahlah.” Dia tidak ingin berbohong padanya.

Sang gadis bernapas lega setelah sahabatnya memilih untuk tidak mendesaknya lebih jauh, karena tak ada satu hal pun yang terbesit di benaknya saat ini kecuali meneriakkan, “bukankah itu sudah jelas?” namun tidak dia lakukan, tentu saja.

Pikirannya kembali melayang pada hari ketika dia merasa begitu kesepian.

11850328_990985977658331_1496146109_n

OMG! YOU LOOK SO SAD!

Taeyeon membaca komentar di instagramnya, merasa lebih menyedihkan dibanding sebelumnya.

Kau akan menjadi seorang dewi di Abu Dhabi, jadi kita tak bisa bersama-sama.

Yeah, kau sendiri secantik malaikat di Paris.

Kau merindukanku Boo?

Sebuah pesan masuk ke Kakaonya. Dia hampir saja mengetik Ya, tentu saja. Kau pergi begitu lama. Namun cepat-cepat menghapusnya dan justru mengetik Terima kasih atas pujianya. Kau akan merindukanku.

Ya, aku akan sangat merindukanmu. Aku sudah mengajak Bora untuk menginap di dorm selama kau pergi, jadi aku takkan merasa kesepian. Kuharap kau tak keberatan.

Aku keberatan. Hampir saja dia membalasnya. Tentu saja tidak, hv fun^^

Dia tidak suka kedekatan Tiffany dengan Bora. Namun bukan berarti dia tidak menyukai gadis itu, dia baik sekali dan ramah pada semua membernya, bahkan padanya. Dia hanya tidak bisa dekat dengan gadis itu seperti dirinya dengan Hyoyeon atau Yuri. Mereka akan saling sapa jika kebetulan bertemu di jalan, atau di belakang layar dan mengobrol seperti teman lama jika mereka bertiga bertemu di sebuah cafe. Namun Tiffany lain, jika mereka bertemu Tiffany akan bersikap seperti pacar Bora, hal itu membuat Taeyeon tidak nyaman.

Thanks Bae^^ Kau juga. Jika kau merasa kesepian disana, video call OK? (:

Taeyeon tersenyum saat membacanya. Tiffany mengenal dirinya lebih dari apapun di dunia ini.

Taeyeon tidak menghubunginya setelah itu. Malam-malam di Abu Dhabi sangat berat untuknya.

*

“Apa yang kau pikirkan Boo?” Tiffany menyandarkan kepala di pundaknya, menyadarkan Taeyeon dari lamunannya.

“Uh? Tidak. Tidak. Bukan apa-apa.” Taeyeon terdengar salah tingkah lalu cepat-cepat mengambil naskahnya untuk mengalihkan kegugupannya.

“Apa kau benar-benar menatapku seperti ini saat itu?” Kata Tiffany dengan mata berbinar-binar. Mereka tidak berbagi tatap. Taeyeon hanya melihat sisi wajah Tiffany yang disandarkan di pundaknya.

“Uh?”

“Apa kau benar-benar menatapku seperti itu?” Kali ini Tiffany melihatnya—melihat wajahnya yang semerah tomat.

“Ya.” Dia bukan pembohong yang baik.

“Ah…”

“Kau keberatan?”

Tiffany menampakkan eyesmile nya, “ah, tidak-tidak. Tentu saja tidak, kau ini bicara apa? Aku cuma.. Tak pernah memikirkannya sebelumnya.”

Taeyeon mengangguk, tidak yakin kemana arah pembicaraan ini. Menghindari gajah dalam ruangan, itulah yang selalu dia lakukan jika berada didekat Tiffany.

Lucu. Pikirnya. Dialah gadis yang penuh dengan emosi, berbeda jauh dibandingkan dengan Tiffany. Sayangnya, dia selalu memendam semua perasaan yang bergejolak dalam dirinya, tak peduli sebesar apapun itu. Sedangkan Tiffany, justru sebaliknya. Dia akan mengekspresikan sekecil apapun perasaan yang berkecimuk dalam batinnya.

“Tae?”

“Hmm?” Dia belum siap untuk percakapan ini, tak peduli betapa banyak dia memainkan sekenario itu dalam kepalanya.

“Mengapa kau memandangku seperti itu?”

“Memangnya tidak boleh?”

Tiffany tahu tanda-tanda jika dirinya sudah mulai defensif, dan Taeyeon merasa bodoh.

“Kita harus bicara, dan kau tidak bisa menghindariku lagi Taeyeon.”

Tiffany meletakkan tabletnya di atas meja lalu berbalik, menatap Taeyeon yang mencoba mengalihkan pandangan pada naskahnya.

“Kurasa tidak.”

“Taetae..” Tiffany merebut lembaran kertas itu, memaksa Taeyeon untuk bertatap muka dengannya.

“Apa yang salah Fany?”

“Kau.”

Taeyeon tidak mengantisipasi jawaban itu.

“Pertama, Taeyeon. Kau selalu menghindariku jika aku bertanya tetang hal yang.. yang sensitif untukmu. Kedua, kau akhir-akhir ini tidak nyaman jika aku menyentuhmu—maksudku memelukmu dan sebagainya. Dan ya… aku merasa, apa yang mereka katakan, masuk akal.”

Taeyeon mencoba menenagkan rasa paniknya dengan tertawa—walaupun terdengar aneh. “Kau terlalu banyak membaca fanfics, fannyah. Dan jangan melihat gambar-gambar yang mereka buat.”

Tiffany hanya menatapnya tak percaya dan membuat rasa paniknya semakin hebat.

“Baiklah, aku menatapmu seperti itu karena aku.. uh? Suka warna lipstick yang kau pakai saat pemotretan.”

Kebohongan. Hanya itu yang bisa dia katakan.

Tiffany mendesah dan menyandarkan kepalanya ke sofa, satu tangannya meraih tablet yang ia letakkan di meja.

“Baiklah kalau begitu. Aku akan memberitahumu merek dan warnanya jika kau sangat menyukainya. Lagipula, beberapa hari yang lalu aku mendapat pesan dari Chan Wo Oppa.”

Layar tablet Tiffany terpampang jelas di depan wajah Taeyeon, dia tak menyukai isinya. Tidak sama sekali.

“Awalnya aku ingin menolak, tapi karena besok siang aku tak ada acara dan kau harus pergi latihan, yeah.. Why not.”

“Kau menyukainya?” Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya sebelum Taeyeon dapat mencegahnya.

Tiffany memandangnya sebentar, mengerutkan kening. Taeyeon tidak dapat menebak apa yang ada dalam kepala gadis itu, namun satu hal yang dia tahu betul. Tiffany sedang mempertimbangkan apa yang akan dia katakan.

Taeyeon terkejut saat gadis berambut coklat itu tiba-tiba tertawa.

“Jika kau mengira aku menyukainya, layaknya seorang pacar. Tidak. Tapi, aku tahu dia pria baik, jadi yeah.. aku menyukainya sebagai seorang pria.”

Hal itu tidak membuatnya lebih baik. “Jika kau menyukainya, kau bisa mengencaninya.” Akhirnya. Semua fantasi ini akan segera berakhir. Setelah dia pikir segala hal soal khunfany telah usai. Ia tahu hal itu takkan bertahan lama, fantasi itu.

Tiffany menggelengkan kepalanya. “Kim Taeyeon… Kim Taeyeon… Ckk..”

Taeyeon tidak merespon hal itu. Pikirannya sibuk membuat mimpi dan kenyataan dapat bertukar tempat.

“Coba pikir, untuk apa selama ini aku menolak pria-pria yang mengajakku kencan?”

Hal itu mengejutkannya. Taeyeon menemukan dirinya tengah beradu tatap dengan Tiffany. Ada sesuatu yang berbeda dari tatapan gadis itu. Jauh di lubuk hatinya, Taeyeon mungkin tahu apa artinya. Namun dia tidak ingin mengambil resiko menempatkan harapannya terlalu tinggi. Dia takut hatinya tak kan terselamatkan jika dihancurkan oleh gadis yang kini menatapnya dengan mata yang meneriakkan seribu bahasa.

Taeyeon menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan. “Entahlah. Mungkin kau merasa mereka tidak cukup baik untukmu.”

“Tidak. Tidak, bagaimana aku tahu jika mereka tidak cukup baik untukku?”

Taeyeon mengangguk, mencoba meraih kembali naskahnya. Namun dihentikan oleh Tiffany.

“Kau tidak ingin tahu?”

Dia ingin tahu, tentu saja. Namun dia tidak yakin apakah hatinya cukup kuat mendengar apapun yang ingin gadis itu katakan.

Namun Tiffany tetaplah Tiffany. Dia tidak akan mengalah demi apapun sebelum keinginannya terpenuhi. Setelah lebih dari sepuluh tahun hidup bersama, Taeyeon tak kesulitan menebak.

“Kuanggap kau ingin tahu. Nah, alasannya adalah karena ada seseorang yang—bagaimana ya aku menyebutnya? Tidak cukup baik tapi aku mencintainya. Dan dia sedikit bodoh.”

Taeyeon menatapnya. Tidak. Tidak pernah sekalipun sebelumnya Tiffany mengatakan dia mencintai seseorang, bahkan pada mantan sebelumnya. Dia hanya mengatakan ‘aku menyukainya. Dia baik.’ Hanya itu. Tidak mencintai. Dia pastilah sudah menyukai orang itu cukup lama. Dan Tiffany tidak memberitahunya???? Taeyeon tidak mempercayainya, namun mungkin itulah yang terbaik. Tidak mengetahui apapun menyelamatkamu dari rasa sakit apapun yang akan ditimbulkannya.

“Oh?”

Tiffany mengangguk, agak frustasi mendengar jawabannya. “Kau tak ingin tahu siapa dia?”

Uh Oh, ini dia.

“Taeyeon. Aku.. aku tidak tahu sejak kapan aku menyimpan rasa ini untuknya. Awalnya aku hanya mengaggap dia sebagai teman biasa. Namun dia begitu baik padaku, bahkan pada saat aku benar-benar terpuruk dan menyingkirkan semua orang. Dia tidak sekalipun meninggalkanku. Aku mulai menganggapnya teman terbaikku. Sahabatku, soulmate ku. Kurasa dia tidak menyadari hal itu, kadang kupikir dia menyadarinya. Kadang tidak. Kurasa dia juga ketakutan. Semua ini berat. Karena aku tidak yakin apa aku bisa bersamanya seperti pasangan-pasangan lainnya.”

Jantung Taeyeon berdegup kencang. Dia tahu semua teman-teman Tiffany, apalagi sahabatnya. Dia pasti orang terdekat gadis itu. Tapi semua deskripsi itu mengarah pada.. Tidak. Tidak. Aku hanya berimajinasi.

“Bagaimana menurutmu?”

Pro Taeyeon. “Kupikir kau harus mengatakannya.”

“Hmhm..” Tiffany mengangguk. “tapi, sayangnya dia tidak mau membicarakan hal itu.”

“Tiffany….”

“Kim Taeyeon.” Jantungnya berdegup semakin kencang saat Tiffany menangkup wajahnya. “Apa kau suka jika aku bersamanya? Menciumnya? Bercinta dengannya?”

Kini mereka saling beradu tatap, dunia seolah memudar disekelilingnya.

Taeyeon membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun tidak ada yang keluar, dia kembali diam.

“Jawab aku Taetae..”

Taeyeon hanya bisa menggeleng. Merasa kalah. Seluruh perasaannya kini ditelanjangi oleh gadis itu. Dia tidak yakin dapat kembali lari dari perasaannya.

“Kenapa Tae? Kenapa kau tidak menyukainya?”

“Aku…” Tffany masih tidak melepaskan wajahnya, hal itu membuatnya kesulitan bernapas. “Aku… ak—“

Tiffany menutup matanya, perlahan wajah mereka semakin dekat. Taeyeon gemetar. Mencoba meredam puluhan kupu-kupu yang bersemarak di perutnya. Saat bibir mereka bersentuhan perlahan, jutaan kupu-kupu itu melesak dari dalam perutnya. Beterbangan. Melepaskan rasa yang lama terpendam dalam hatinya.

Taeyeon pernah berimajinasi akan mencium gadis itu, namun perasaan ini begitu sureal. Ia pun perlahan memejamkan mata, berharap jikalau semua ini hanya mimpi, mimpi ini akan bertahan cukup lama hingga dia bisa mengingatnya seumur hidup. Memutar ulang kenangan beserta kepingan perasaan yang ia rasakan saat ini.

Ciuman itu lebih dari apa yang dia harapkan. Kedua lengan Tiffany kini melingkari lehernya, dan Taeyeon dengan malu-malu melingkarkan lengan ke pinggang langsing Tiffany. Mempersempit jarak antara tubuh mereka hingga keduanya dapat merasakan debaran jantung yang bersemarak layaknya drum yang tak henti ditabuh.

Perlahan Tiffany memimpin pertarungan, mengunci bibir atasnya dan mengulumnya dengan lembut. Mereka berhasil bertahan lima belas menit kemudian sampai akhirnya Tiffany melepaskan bibirnya dan menarik napas tanpa mengalihkan pandangan mereka. Dahi dengan dahi, hidung dengan hidung, lutut dengan paha, semuanya terkunci dengan sempurna. Taeyeon telah menemukan kepingan puzzle nya yang hilang. Dia merasa sempurna sekarang. Tiffany melengkapinya.

Senyum terlebar mengembang di bibirnya. Ekspresi mereka mencerminkan satu sama lain.

“Be mine, Taeyeon.”

Taeyeon menggeleng dan Tiffany merasakan jantungnya merosot ke perut.

“Tidak. Sebelum kau mengatakan tidak pada tawaran Chan Wo.”

Tiffany segera menyambar tabletnya dan mengetik. ‘Maaf Oppa, tapi kurasa seseorang tidak akan senang jika aku pergi berdua denganmu. Semoga kau menemukan gadis yang dapat menerima perasaanmu.’

“Selesai.” Tablet itu terlempar ke sisi sofa. “Be mine, Taetae.”

“I’ve always been yours.”

Taeyeon percaya, beberapa kata memang tak perlu terucap. Cukup dengan perlakuan sederhana. Seperti berciuman, misalnya.

Tiffany miliknya, dan sebaliknya.

 

12519195_522494787928223_1532640450_n

Ps.

Is it too late for me to say sorry? Ok. OK. I know, I’m so swoooreeh. I’ve been so busy lately. (excuse-excuse-excuse). Butt, I’m trying OK? kekeke.

Sepertinya saya hanya bisa menyajikan one-shoot aja untuk selanjutnya. Sebenarnya, ide ini muncul tanggal 02 April, tapi karena kesibukan (dan kemalesan) baru selesai sekarang 😀

Let’s ngabuburit sambil nulis 😀

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

55 thoughts on “Kiss Butterfly [One Shoot]”

  1. Wahh udh lama gk mampir ke sini, dan ketinggalan banyak cerita.
    Kirain udh gk eksis lgi, tpi trnyata masih konsisten sama kegiatan nulis nya.
    Kemampuan nulis sama bhsa nya jga semakin baik aja, good job for you..
    Keep fighting!!
    Thanks for write this ff.. 😉

  2. waaaah agresif fany bisa mengalahkan pengecut taeyeon yg gamau ngakuin perasaannya, akhirnya tae ngakuin juga kan kalo di pancing”. taeny jjang!!
    author jjang!!

  3. did tiffany agresif in her real life?
    soalnya hampir di semua ff yg pernah aku baca fany eonni sifatnya agresif

  4. Akhirnya taeny bersatu jga☺
    Tae ny pengecut gk mau ngakuin persaan’a untung tiffany ny agresif klo gk udh keburu d ambil orang😃

  5. ahaha akhir’y lu CB jg thor 😁
    sperti biasa karya” lu slalu indah buat di baca 😁
    taeyeon pengecut, selalu tiffany yg hrus mancing ikan *ehh 😂
    untung tiffany nya agresif, klw gak ydh smpe taeyeon brubah jd cowo jg taeny gak bkal bersatu 😌

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s