One Shoot, SNSD, SOSHI FF

Heart-breaking Kiss [One Shoot]

heart-breaking-kiss
cr image to the owner

~S2 Present, romance, Yuri~

Copyright © 2016, @sasyaa95

Suara bep password pengaman terdengar dari luar membangunkan gadis malang yang terlalu lelah untuk mengangkat wajahnya, mengira itu hanya salah satu teman serumahnya. Orang yang dia tunggu sepanjang hari seharusnya memang belum pulang. Taeyeon membuat kalkulasi sederhana di kepalanya. “Latihannya selesai jam delapan, tapi aku yakin dia masih sibuk bersosialisasi paling tidak dua jam lamanya.” Taeyeon melirik jam digital di atas televisi lalu tersenyum teringat pemberian kekasihnya itu.

*

Tae… Aku membeli sesuatu. Suara Tiffany terdengar merdu di telinganya walau hanya melalui ponselnya.

Hmm.. Ya? Apa itu?

Aku teringat di ruang tamu kita tidak ada jam dinding jadi aku membelinya.

Ah.. Benar.. Kau perhatian sekali Fany-ah.

Haha. Karena aku mencarinya setiap kali aku berada di sana.

Baiklah, kapan kau akan pulang?

Aku akan pulang secepatnya. Sampai ketemu di rumah, bye boo…

Taeyeon tersipu mendengar sapaan itu, dia masih belum terbiasa mendegar nama panggilan yang seharusnya manis dari gadis itu. Apalagi jika Tiffany mengatakannya di depan kamera.

Ya, da dah..

Ohmygosh. Taeyeon merasakan jantungnya berdegup kencang, wajahnya memerah namun berusaha keras ia sembunyikan. Dia masih dalam suasana profesional, banyak kamera di mana-mana dia tidak boleh terlalu blak-blakan.

Malam itu, Taeyeon tak sabar melihat seperti apa jam yang dibelikan Tiffany. Walaupun sejujurnya dia hanya merindukan gadis itu.

*

“Kenapa kau masih disini?” Taeyeon membuka mata mendengar suara yang sudah dirindukannya seharian setelah sibuk rekaman untuk album keduanya.

“Fany? Kau sudah pulang?”

“Ya. Aku lelah, jadi kupikir aku pulang saja.”

Taeyeon bangkit lalu menepuk ruang kosong di sampingnya. Tanpa pikir panjang gadis yang baru saja tiba itu langsung duduk sambil melingkarkan lengan di pinggangnya.

“Ah, kau harus banyak beristirahat. Kau sudah makan Fannya?”

Gadis yang ditanyai menggeleng, menutup mata dalam pelukannya sambil menghirup napas dalam-dalam seolah berusaha mencari aroma familier dari tubuh kekasihnya. “I miss you.”

“I miss you too..” Taeyeon mengecup ujung hidung gadis yang kini tak ubahnya seekor koala yang memeluk pohonnya. “Tapi kau harus makan. Ya Tuhan, kau kurus sekali akhir-akhir ini Fany…”

Tiffany mengabaikan pertanyaan itu, sudah banyak orang yang komplain tentang berat badannya dan kali ini dia tidak ingin mendengar dari orang yang paling dicintainya di dunia ini. “Hmm.. Kukira tadi kau sudah tidur. Matamu terpejam dan kau senyum-senyum sendiri. Kupikir kau sedang mengigau atau semacamnya.”

Rona merah muncul di pipinya, satu dari kebiasaan memalukan yang dia benci.

“Biar kubuatkan kau makanan, Fany. Aku tidak ingin melihatmu jatuh sakit saat debut solomu baru saja dimulai.”

Tiffany menarik kedua tangannya saat Taeyeon hendak beranjak. “Taetae…”

“Kau ingin dimasakkan sesuatu?” Tanya Taeyeon lalu segera kembali duduk saat melihat kekasihnya menggeleng. “lalu?”

“Aku ingin membicarakan sesuatu, Tae…” Taeyeon merengut saat mendapati wajah serius kekasihnya. Dia tidak suka hal ini. Apapun itu akan lebih baik jika dia membiarkan Tiffany istirahat dan melanjutkannya besok pagi. Namun dia tahu betapa keras kepalanya gadis itu.

“Direktur memanggilku mengenai MV dari single yang akan kubawakan selanjutnya. Kau ingat? Heartbreak hotel?” Taeyeon mengangguk, tidak menyukai kehati-hatian kekasihnya kali ini dalam menyampaikan apa pun hal mendesak yang harus disampaikan oleh gadis itu.

“Nah, direktur bilang aku akan membintanginya dengan seorang model pria.”

Taeyeon mengangguk, bukan hal yang mengejutkan. “Apa dia tampan?”

Tiffany mendesah, “kupikir SM tidak mempekerjakan artis buruk rupa?”

“Baiklah, kuanggap siapapun pria itu sangat tampan.” Taeyeon mencoba merasionalisasikan keadaan walau beribu pikiran merayunya untuk terjerumus dalam hal-hal yang membuatnya marah.

“Bukan itu masalahnya.” Tiffany meraih kedua tangannya. “Aku harus melakukan adegan yang kuyakin takkan kau sukai.”

Taeyeon terdiam. “Kiss Scene?”

Tiffany mengangguk pelan. “Yeah. Percayalah aku sudah berusaha untuk bernegosiasi dengan mereka agar tidak menyertakannya. Namun mereka bilang adengan ini sangat esensial dalam menghasilkan efek yang diharapkan dalam MV ini.”

Taeyeon menghirup udara dalam-dalam, mencoba menenangkan pikiran dan perasaannya. Mencoba mengubah Jelousy Girlfirend mode menjadi Professional Leader mode. “Baiklah. Jika memang itu yang harus kau lakukan. Ceritakan padaku bagaimana konsep yang mereka inginkan.”

Tiffany merengut mendengarnya seolah dia mengharapkan hal lain yang akan dikatakan oleh kekasihnya, bukan bertanya soal konsep atau yang lainnya. Taeyeon tidak bertanya, dia meminta. Walaupun Tiffany mengagumi sosok profesionalnya, namun kadang hal itu juga menyebalkan. “Yeah, sejauh yang kupahami. Mereka menginginkan MV ini diambil dengan latar belakang hotel—tentu saja, dan club. Aku bertemu dengan pria itu di club dan jatuh cinta padanya lalu dia membawaku ke hotel dan kami, yeah kau tahu.”

Mata Taeyeon hampir copot saking terkejutnya, Tiffany segera meluruskan maksudnya. “Bukan.. Yeah, tentu saja adegan seperti itu tidak akan dilakukan. Maksudku, hanya memberi kesan seperti itu. Dengan kiss scene.”

Wajahnya melunak. “Ah.. Ok, lanjutkan.”

“Lalu aku bangun keesokan paginya dan dia sudah pergi. Kau tahu, dari satu wanita ke wanita lain. Heartbreak hotel.”

Taeyeon mengernyit. “Kelihatannya buruk.”

Wajah Tiffany berubah gelap menyalah artikan maksudnya.

“Maksudku bukan kau yang buruk, tapi konsep ceritanya negatif. Sejujurnya, aku tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.”

Tiffany mendesah, kembali menenggelamkan dirinya dalam pelukan kekasihnya. “Hmm.. Lagi pula aku takkan melakukan hal itu dengan orang asing yang baru kutemui di club.”

“Siapa tahu.” Gumam Taeyeon secara implusif. Sifatnya yang pesimistis tidak membantu sama sekali.

Taeyeon merasakan Tiffany berubah kaku dalam pelukannya. “Kau tidak percaya padaku Tae? Aku tidak menyangka kau berpikiran seperti itu.”

Taeyeon menahan pelukannya pada gadis itu. “Aku percaya padamu, love. Maksudku bukan seperti itu. Lupakan apa yang kukatakan barusan.”

Tiffany terlalu lelah untuk beradu pendapat. Dia hanya dapat mendesah panjang, merutuki sifat itu dalam diri kekasihnya. Dia ingin mendapatkan respon yang positif. Namun sepertinya sulit dia dapatkan. Mereka sudah sepuluh tahun lamanya saling mengenal. Tiffany tahu dengan siapa dia menjalin hubungan, pun dengan konsekuensinya.

“Maafkan aku Fany,” Taeyeon menyapukan jemari pada helai-helai rambut kekasihnya sebagai pertanda bahwa ia sangat menyesal. Dia tahu tak seharusnya dia bersikap seperti itu, Tiffany lelah selepas latihan. Dia tidak berpikiran sejauh itu saat mengatakannya tadi.

Kekasihnya hanya menggumam sebagai balasan. Sebenarnya egonya sudah melambung dan ingin sekali melawan atau setidaknya berusaha menjejalkan beberapa hal yang masuk akal dalam kepala kekasihnya itu, namun logika mengalahkannya. Malam ini dia lelah dan tidak ingin merusak suasana. Terima kasih atas sapuan lembut tangan Taeyeon di kepalanya. Dia lebih merasa nyaman dari pada marah.

Taeyeon masih merasa keheningan kekasihnya itu adalah konfrontasi yang tak terucap.  “Aku sungguh-sungguh minta maaf Fany, adakah hal yang bisa kulakukan untuk memperbaikinya?”

Tiffany diam-diam menyeringai. Muncul sebersit ide untuk memperbaiki suasana hatinya malam ini—atau mungkin sepanjang hari jika dia berhasil. “Ada. Kau tahu kan aku akan melakukan adegan berciuman dalam MV ku selanjutnya?”

“Uh.. oh?”

“Aku ingin kau menemaniku latihan.”

Taeyeon mendesah, itu mustahil. Dia hampir saja mematahkan kursi penonton saat terakhir kali melihat kiss scene Tiffany pada drama musikalnya, padahal waktu itu mereka belum menyatakan perasaan satu sama lain. Untung saja ada Sunny yang membantu menenangkan degup jantungnya—dan tangannya yang hendak mencekik leher pria itu. “Adakah pilihan lain Fany?”

Gadis itu menggeleng. “Tidak. Kau sendiri yang minta kan?”

“Kau menyiksaku Fannyah! Kau mengharuskanku duduk dan bersikap profesional, bahkan menampakkan wajah bahagia saat melihatmu berlatih mencium pria itu—yang mungkin akan terjadi beberapa kali? Bersorak untukmu padahal yang kuinginkan hanya mencekik leher pria itu sampai mati? Kau serius Fany?”

Gadis itu justru terkikik. “Siapa yang memintamu melihatku berlatih dengan pria itu?” Tiffany memainkan alisnya dengan nakal. “Maksudku adalah..” Tiffany berpindah, kini duduk di pangkuan kekasihnya. “Kau harus menjadi teman berlatihku hingga aku mahir melakukannya.”

Suara serak Tiffany membuatnya merinding. “Uh?”

Wajahnya memerah saat Tiffany mulai melingkarkan lengan di lehernya. “Yup. Aku harus berlatih agar tidak membuat kesalahan yang membuatku harus mengulanginya berkali-kali.”

“Tapi aku tidak berpengalaman Fany, kau kan yang pernah memainkan adegan itu sebelumnya. Aku tidak pernah benar-benar melakukannya.” Aku Taeyeon.

“Itu kan yang mereka kira. Kau memang tidak berpengalaman di depan kamera, tapi aku yakin kau hebat di belakang kamera. Aku sudah membuktikannya berkali-kali.”

Tawa Tiffany semakin hebat saat mendapati wajah kekasihnya makin serupa buah delima.

“Jadi, kau akan membantuku berlatih kan? Atau aku mencari orang lain saja untuk menggantikanmu.” Canda gadis penggoda itu.

“Tidak! Jangan!” Taeyeon mengumpulkan kembali kesadarannya. “Ahem.. Maksudku, aku akan melakukannya. Jadi kau tidak perlu mencari orang asing untuk kau ciumi.”

Tawa Tiffany kembali meledak. “Aku bisa saja mencari orang yang kukenal, Tae.. Yuri misalnya. Atau Oppa… Hmm.. Oppa…” Tiffany meraih ponselnya dan berpura-pura mengecek daftar kontaknya. Dia tahu Taeyeon akan menyetujuinya, gadis itu hanya perlu sedikit dorongan.

“Tidak.” Taeyeon langsung menyambar ponsel gadis itu dan melemparnya ke sofa kecil di di sampingnya. “Tidak ada Oppa untukmu Fany. Terakhir kali kau menghubungi ‘Oppa’ mu. Hasilnya tidak bagus.” Taeyeon merengut. “Entah kau terlalu sociable atau flirty.”

“Oh? Jelly?”

Taeyeon tidak tahu bahwa semua itu semata hanya usaha Tiffany untuk membuatnya cemburu. “Nggak.”

“Kalau begitu kau seharusnya tidak keberatan jika aku meminta bantuan mereka.” Taeyeon mulai kesal, kekasihnya itu hobi sekali menggodanya. Mereka seharusnya sudah berlatih jika Tiffany tidak mengulur-ngulur waktu dengan menggodanya.

“Aku yang akan melatihmu Fany. Perhatikan.”

Tawa Tiffany meledak, “Baiklah. Mari kita belajar dari Nona-yang-merasa-tidak-berpengalaman-Kim-Taeyeon.”

Tanpa banyak bicara lagi tangan kanan Taeyeon langsung menyambar belakang kepala gadis yang kini tengah berada di pangkuannya itu sementara tangan kirinya melingkar di pinggangnya sebagai pertahanan.

Taeyeon merasakan sensasi kembang api yang meledak-ledak begitu bibir mereka bersentuhan. Sensasi seperti itu takkan pernah hilang, pikirnya. Aku mengencani gadis yang entah sudah berapa lama kuimpikan. Memilikinya seperti ini, bahkan menciunnya berapa kali pun tetap terasa sureal.

Taeyeon memejamkan mata saat Tiffany mulai mengulum bibir bawahnya, sepertinya dia tidak mau menunggu lama. Perlahan dan dengan penuh kasih sayang mereka saling memberi dan menerima. Taeyeon tak dapat lagi menahannya saat Tiffany mulai menyapukan lidahnya di atas bibir Taeyeon, meminta akses masuk. Dengan malu-malu gadis itu membuka mulutnya. Lidah Tiffany langsung menyapa, menelusuri setiap inci mulutnya. Setiap sapuan memberikan sensasi kembang api yang berbeda. Taeyeon mendapati dirinya gemetar akan sentuhan-sentuhan intim yang diberikan kekasihnya tanpa henti.

Detik berlalu, jarak di antara mereka pun semakin berkurang. Seolah tak lagi ada dinding penghalang perasaan mereka yang saling beradu.

Lidah yang saling menyaput, bibir yang saling mengulum. Menari seirama jarum jam yang berdetik tiada henti, dentuman jantung mereka yang bergemuruh menyuruh logika untuk mendengarkan paru-paru yang berteriak memohon kehadiran udara yang sudah dirindukan.

Taeyeon menjadi orang pertama yang menarik diri, menghirup udara sebanyak yang ia bisa tanpa melepas pelukan mereka. Saat-saat seperti ini sangat berharga bagi mereka. Keheningan tercipta atas rasa nyaman walaupun berjuta kata hanya terucap lewat tatapan. Taeyeon senang kekasihnya tak pernah protes, bahkan tampak menikmatinya. Tiffany bukan orang yang suka diam, namun berada di dekat dirinya  membuat gadis itu lebih tenang. Taeyeon punya efek seperti itu.

“Sangat hebat.” Gumam Taeyeon.

“Kupikir seharusnya kau yang mengajariku, bukan justru sebaliknya?” Goda Tiffany, membuat wajahnya semakin memerah karena malu.

“Jika memang kau diharuskan untuk beradegan seperti itu, kumohon lakukan sekali saja setelah itu selesai. Jika kesulitan, pikirkanlah bahwa yang sedang kau cium itu aku.” Taeyeon merengut membayangkan kekasihnya mencium pria asing seperti yang baru saja mereka lakukan.

“Noted, songsaengnim.” Tiffany memainkan alisnya pada gadis yang kini tengah tertawa keras.

Malam itu mereka lupa akan argumen yang terjadi sebelumnya, dan tak pernah membahasnya kembali.

*

“Kau sudah nonton?” Taeyeon mendengar pintu kamarnya dibuka.

Taeyeon menggeleng menjawab pertanyaan gadis yang baru saja datang masih lengkap dengan konstum panggungnya.

“Kenapa?”

Aku tidak yakin aku bisa menangani perasaanku jika melihatmu mencium orang lain walaupun hanya sebatas profesionalitas. “Aku ingin menontonnya bersamamu.” Alasan yang bagus.

Taeyeon mengamati wajah kekasihnya langsung berubah cerah begitu mendengarnya. “Ah, tentu saja. Tunggu sebentar, aku akan melepas kostum gila ini.”

Taeyeon mengangguk, mengira kekasihnya akan kembali ke kamarnya dan berganti pakaian disana. Namun gadis itu justru menghancurkan logikanya, dengan santai melepas atasan pink dan celana pendeknya di depan Taeyeon malang yang hanya bisa menatap sambil menganga. Apa dia sudah gila?

Kini berdiri di hadapannya adalah dewi Yunani hanya berbalut dua lembar kain hitam yang menutupi area pribadinya. Entah kapan napas Taeyeon mulai berhenti, terperangkap di antara kerongkongannya.

“Aku ingat pernah menyimpan piyamaku di sini, Tae? Apa kau pernah lihat?”

“Uh?” Bekerjalah otak tolol! Lepaskan pandanganmu dari lekuk tubuhnya yang indah, pahanya yang semulus porselain, dadannya yang—ohmygosh! Sekarang dia berjongkok dan menunduk—lihatlah dadanya yang—dasar mesum! Berhenti memikirkan yang tidak-tidak! Taeyeon merutuki dirinya sendiri.

“Tae?”

Tiffany menangkap tatapannya. Taeyeon merasa ingin mengubur dirinya hidup-hidup saat mendapati kekasihnya melemparkan seringai. Dia pasti ketahuan menatap tubuhn setengah telanjangnya seperti orang mesum—walaupun pada kenyatannya memang demikian.

“Ah, lupakan soal piyama.” Tiffany berhenti mencari—apapun yang sedang dia cari kemudian dengan santai berjalan ke arahnya.

Taeyeon bersumpah dia melihat gadis itu menggoyangkan pinggulnya dengan menggoda, bahkan melemparkan kedipan sebelah mata, dan melangkah dengan sangat-sangat pelan—menyebalkan.

“K—ku pikir ki—kita mau nonton..?” Saat berhasil menemukan kembali suaranya, yang keluar dari mulutnya justru gagap tolol dan membuat Taeyeon benar-benar ingin berada di manapun kecuali di hadapan Tiffany, yang kini tengah menatapnya. Menggoda. Terkesan. Mungkin terkesan akan ketololannya.

“Ya. Tadinya. Atau, kau punya rencana lain?” Gadis penggoda itu kini duduk di pahanya—entah siapa yang menyuhnya, melingkarkan kedua lengan pada gadis malang itu.

Taeyeon tak dapat menahan godaan untuk menatap dada Tiffany yang hanya dibalut bra hitam setengah cup. Memperlihatkan lekukan sempurna di antara kedua payudaranya.

“Uh, oh. Mataku di atas sini, boo..” Tiffany mengangkat dagu kekasihnya sambil tertawa.

“Nonton.” Taeyeon hanya dapat mengatakan apapun yang terlintas di kepalanya. Untung saja itu tidak termasuk mengungkapkan secara terang-terangan kata-kata anatomi seksi sekaligus memalukan seperti payudara, paha, dan yang lainnya. Karena saat ini hanya itu yang memenuhi pikirannya.

“Nonton MV ku, atau nonton yang lain?” Bisik gadis itu di telinganya, menunduk seolah memberikan Taeyeon akses penuh untuk melihat payudaranya yang kini berada tepat di depan matanya.

Taeyeon tak dapat menahan kecuali berteriak, “boobs.” Lalu menutup mulutnya rapat-rapat.

Tawa Tiffany meledak seketika itu juga, membuat gadis itu kini terjatuh di atas matras dan menggelung tubuhnya sambil terbahak-bahak.

Taeyeon tak pernah merasa sememalukan ini, dia meraih bantal terdekat dan menyembunyikan wajahnya di balik benda itu. Mengerang, merutuki diri sendiri akibat kebodohannya.

“Oh my God, Taetae…” gadis penggoda itu berusaha melepaskan bantal dalam genggamannya, namun Taeyeon terlalu malu untuk melepaskannya.

“Ayolah. Aku akan berpakaian dan kita nonton videoku bersama-sama, okay?”

Bahkan, saat dia tak lagi merasakan Tiffany di dekatnya namun suara kikikan gadis itu tak pernah hilang dari kamarnya. Tiffany benar-benar sebuah siksaan!

“Nah, sudah.” Gadis itu dengan mudah melepaskan bantal dari wajahnya. Hal pertama yang Taeyeon lihat setelah boobs—adegan memalukan itu adalah senyum merekah Tiffany.

Gadis itu kini tengah memakai T-Shirt abu-abu jumbo see-through selutut miliknya. Taeyeon mendapati ada yang aneh dengan baju itu. Benar kan, dia adalah siksaan buatku!

“Fany?” Taeyeon mengumpulkan keberaniannya.

“Ya?”

“Kemana perginya bra dan celana dalammu?”

Gadis itu menunjuk keranjang di pojok kamar Taeyeon dengan dagunya. “Aku akan mengambilnya besok pagi. Jangan khawatir.”

Taeyeon mengangguk, lalu sebuah pikiran menghantamnya seperti truk. Dia akan tidur di sini malam ini! Dan di balik pakaian malang itu…

Sebelum Taeyeon dapat memprotes, Tiffany sudah meletakkan tabletnya di hadapan Taeyeon lalu menyandarkan kepala di pundaknya.

Pikiran Taeyeon sulit fokus dengan keberadaan gadis yang katakanlah hampir telanjang di sampingnya—lengan melingkar di pinggangnya.

Taeyeon hanya perlu menggeser lengannya sedikit agar dapat menyentuh—menyentuh,

Tiffany menyodok perutnya,

Saat itulah adegan yang ia harap tak kan pernah dia tonton, muncul di layar tablet pink itu. Taeyeon sudah mempersiapkan hatinya agar tidak bertindak di luar kendali.

Perlahan, di dalam gelap bibir Tiffany mulai menyentuh pria itu. Satu-dua-tiga detik. Lalu muncul adegan selanjutnya. Taeyeon terus menatap layar itu hingga yang tersisa hanya hitam.

“Hanya itu?” Taeyeon tak lagi dapat menahan rasa penasarannya.

Tiffany menatapnya seolah dia gila. “Ya? Kau ingin lebih?”

Taeyeon menggeleng kuat-kuat. Tidak. Tentu saja tidak. “Tapi, di sesi latihan itu.” Wajahnya memerah mengingat kejadian beberapa minggu yang lalu. “Kau bilang….”

Tiffany terkikik, melingkarkan kembali lengannya di pinggang Taeyeon. Sayangnya, gadis itu tidak dapat merasakan apapun kecuali payudara tanpa bra Tiffany yang kini menekan punggungnya. “Aku hanya bilang akan ada kiss scene tapi aku tidak pernah bilang berapa lama atau gaya seperti apa yang akan kumainkan, kan?”

Taeyeon hanya mengangguk sambil menimbang-nimbang kelembutan benda yang kini menempel dengan agung di punggugnya.

“Lagi pula aku tidak keberatan berlatih denganmu. Bagaimana menurutmu Tae?”

“Apa?” Tarikan keluar dari dunia imajinasinya begitu kuat hingga Taeyeon merasa ling-lung dibuatnya.

“Kubilang, aku tidak keberatan berlatih denganmu. Mengenai adegan itu. Atau jika kau mau, kita bisa memperpanjangnya.” Taeyeon merasakan bibir kekasihnya menyaput daun telinganya. “Semaumu.”

Yas!

Taeyeon langsung berbalik, membuat tablet pink itu terjatuh di atas matras dan Tiffany tertawa melihatnya. “Santai, boo…”

“Aku milikmu, semalaman.”

“Kau milikku, selamanya.”

tumblr_o0guhatMM31sewbc1o1_1280

Ps. 

I did promised, didn’t I? 😀

Nah, jika kalian penasaran apa yang terjadi selanjutnya, saya juga nggak tahu. Silahkan bertanya pada yang bersangkutan. 😀

Jika kemarin ada yang request, minta adegan cemburu-cemburuan. Mohon maafkan saya karena hanya sebatas ini yang saya bisa suguhkan. Saya juga mohon maaf karena gak bisa balesin komen satu-satu, tapi jika ada pertanyaan ataupun ingin ngobrol dengan saya, silahkan line di @sasyaa95 saya akan membalas semampu saya.

Sudah ah, formalitasnya.:D

Setelah kemarin berhasil menaklukan ‘satu jam menulis ff’, kali ini aku menantang diri sendiri untuk mendisiplinkan diri dengan ‘satu novel untuk satu cerita’ artinya saya baru boleh membaca satu novel jika sudah memposting satu cerita begitu juga saya baru boleh memposting satu cerita jika sudah menamatkan sebuah novel. Cerita ini saya tulis setelah dikagumkan oleh Pulang-nya bang Tere Liye.

Tenang saja, saya belum melupakan balas dendamnya Taeyeon di Starlight kok. Berdoalah semoga novel Season of the Witch bener-bener seru hingga cuma butuh sehari buat melahapnya. 😀

Last,

Buat New Reader, Old Reader, Loyal, Etc..

Saya pribadi mengucapkan Minal Aidzin Walfaidzin  mohon maaf lahir batin dari hati yang terdalam. Maaf jarang update, sekalinya posting typos dimana-mana. Maafkan ya, juga mungkin ada kata-kata yang menyakiti, saya juga mohon maaf.

Selamat Idul Fitri 1437H bagi saudaraku sekalian yang merayakannya.

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

41 thoughts on “Heart-breaking Kiss [One Shoot]”

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s