One Shoot, SNSD, SOSHI FF

U R MY STaerlight [One Shoot]

obviously-youre-gonna-be-my
cr image to the owner
cr all pics to the owner

~S2 Present, romance, yuri~

Copyright © 2016, @sasyaa95

“Konsepnya imut.” Komentar gadis yang kini duduk di sampingnya dengan antusiasme terbesar yang dapat dia keluarkan—yang mana berarti sangat besar bagi Taeyeon, namun tidak mengejutkan jika ditunjukkan oleh Tiffany.

“Aku tahu, ya kan? Aku pribadi memilih konsep ini untuk Why. Sangat cocok dengan musim panas.” Taeyeon memainkan player yang diberikan oleh managernya siang tadi berisi foto tempat-tempat yang akan dijadikan lokasi syuting dan sketsa digital design konsep Music Video-nya.

“Whoooaa!” Tiffany berseru saat melihat slide bergerak yang menunjukkan gambar-gambar tempat yang tidak asing baginya. “Tempat terbaik di LA!”

Dia merasa bersemangat setelah melihat kilat antusiasme di mata kekasihnya. “Kau sudah pernah kemari?”

Tiffany mengangguk, matanya menerawang langit-langit, pada titik tertentu seolah dia kembali menjelajah masa lalu. “dulu sekali.”

Taeyeon ikut mengangguk, mendekap punggung gadis itu dan membiarkannya berkelana bersama waktu. Mengingat masa-masa muda bukanlah hal favorit Tiffany di dunia ini, gadis itu selalu memfokuskan dirinya pada tujuan-tujuan masa depannya. Namun, akhir-akhir ini mereka sangat kelelahan akibat jadwal yang mencekik. Jadi, sesekali mengenang masa dimana keduanya masih bebas berkelana dan bersenang-senang tanpa paparazi dan fans yang mengekor kemana pun mereka pergi adalah satu dari sedikit hal menyenangkan yang dapat mereka lakukan. Dia sendiri melakukannya setiap ada kesempatan.

“Aku akan mengawali solo keduaku dengan MV Starlight.” Taeyeon berkata dengan perlahan dan lembut, mencoba tidak mengejutkan kekasihnya yang sepertinya masih berada di antara dua waktu.

Gadis itu lalu berbalik dan merengut, “bukankah itu single duetmu dengan Dean?”

Taeyeon mengangguk, menyulut pertengkaran sia-sia adalah hal terakhir yang diinginkannya saat ini. “Memang. Sangat cocok dengan konsepnya.”

“Summer vibe. Mereka berencana membuat MV untuk single itu? Kupikir hanya Why.”

Taeyeon terkikik mendapati kekasihnya sangat imut saat cemberut seperti itu. “Ya, mereka membuat dua untuk album ini.”

“Mengapa Starlight? Menurutku Hands On Me lebih bagus.”

Taeyeon tersenyum padanya, memiliki kekasih yang mudah cemburu bukanlah hal yang mudah. Namun dia berpikir hal itu terkadang memang diperlukan dalam menjalin sebuah hubungan. Penambah cita rasa dalam seporsi makanan. Pikirnya. Dalam hubungan mereka, Tiffany adalah pembuat cita rasa itu. Mungkin karena dia sudah terbiasa melihat gadis itu mendeklarasikan ‘persahabatan’ pada semua orang yang ditemuinya dua kali. Pada awal-awal pertemuan mereka, dia sering kali merasa cemburu saat gadis itu memilih berteman dengan siapa pun yang ada di hadapannya—terkadang bahkan mengabaikannya sesaat. Namun pada akhirnya, gadis itu tetap kembali padanya—walaupun biasanya dengan hati terkoyak dan luka di sana-sini akibat penghianatan dan kekecewaan. Taeyeon pun lambat-laun menyadari bahwa Tiffany adalah tipe gadis yang lebih memilih menggunakan perasaannya dari pada logika. Walau berkali-kali disakiti, gadis itu tidak pernah mengurangi sedikit pun kebaikan dan ketulusan pada semua orang yang ditemuinya. Hal itu sudah biasa, meski bukan berarti Taeyeon senang melihatnya. Itu hanya satu dari sekian hal yang harus dia terima sebagai bagian dalam diri kekasihnya.

“Kau tahu,” mulai Taeyeon dengan seulas senyum lalu meraih kedua tangan Tiffany dan meletakkannya di atas pangkuannya, menautkan jari-jari mereka. Dia sedang mencari kata-kata yang tepat untuk mengimbangi emosi gadis itu. “Starlight ibaratkan apetizer. Pembuka hidangan ringan yang tidak terlalu mewah, namun manis dan memuaskan. Lagi pula, apa kau ingin ada orang lain yang meletakkan tangannya di tubuhku, Fany?” Goda Taeyeon.

“Tidak!” Seru Tiffany dengan suara yang terlalu keras membuat Taeyeon yang terkejut lantas menutup telinganya. Dia mengira gadis itu hanya akan cemberut dan memukul lengannya, sesungguhnya tadi dia berinisiatif menggenggam tangan Tiffany agar gadis itu tidak mulai memukul-mukul tubuhnya saat merasa sangat senang, sangat marah atau sangat bersemangat, namun dugaannya meleset.

“Ouch! Fany, jangan berteriak.”

“Maaf, tapi itu tidak lucu!”

Taeyeon berusaha menahan senyum saat melihat kekasihnya merasa bersalah dan ingin memeluknya namun masih berusaha mempertahankan egonya dan gagal. “Baik. Baik. Tapi Starlight sangat catchy.”

“Dan kau akan berduet dengan Dean di MV itu?”

Senyum akhirnya merekah di wajah Taeyeon. Setidaknya kekasihnya itu masih bertanya bukannya bertingkah konyol dengan marah-marah, “yeah.”

“Aku tidak suka.” Tiffany memalingkan muka dan bersidekap—mungkin malu, atau marah. Barang kali keduanya.

Possesive Fany.

“Oh, ayolah Fany. Kau berduet dengan Simon—entahlah siapa namanya bahkan dengan kissing scene di dalamnya. Sedangkan aku, tidak ada.”

“Tapi Dean sangat tampan dan dia tidak mendadak jadi brengsek.”

Taeyeon pun tak kuasa menahan tawa saat mendengarnya. “Oh, ayolah. Jangan bilang kau cemburu, Fany.”

Sangat jelas kau cemburu, Fany. Aku hanya tidak mengatakannya dari awal. Aku punya cara tersendiri untuk menggodamu.

“Aku cuma tidak suka, Taetae…”

Tidak seperti kau, yang suka melempar bra dan celana dalam untuk menggodaku. Aku akan membuatmu mengakui apa yang sebenarnya kau rasakan. Aku akan membuatmu merasa inferior. Dia terkikik dalam hati.

“Bagiku tidak ada bedanya, Fany.”

“Bagaimana dengan single duetmu dengan Hyo? Ah! Pasti lebih bagus lagi!”

Suara tawa ajhumma memenuhi kamarnya. “Oh, Fany. Kau tahu itu tidak cocok dengan konsep ini. Lagi pula, menurutmu aku harus beradegan bagaimana? Lagu itu terlalu seksi, dan akan menghancurkan apapun konsep imut dalam album ini jika dijadikan MV.”

“Biarkan aku melihat scriptnya kalau begitu.”

Taeyeon mengamati gadis yang sedang serius membaca kata-kata di layar tabletnya.

“Ide siapa ini?”

“Aku mendiskusikannya dengan produser dan direktur, mereka menyetujui konsepnya.”

“Jadi.” Tiffany menatap Taeyeon. “Kau adalah gadis pemberontak yang menganggap dirinya dari planet lain dan bertemu lelaki tampan dengan kepribadian yang berbeda denganmu. Kau tertarik dengan sifatnya yang pendiam, kalem, introvert dan penyuka musik. Dia mengubahmu menjadi gadis yang lebih baik?” Tiffany menatap Taeyeon dengan aneh. “Kau yakin lelaki ini tidak gay?”

Taeyeon tertawa. “Bukankah justru lebih baik jika dia gay?”

“Benar. Setidaknya bagus kalau dia benar-benar gay. Tapi di MV, seharusnya tidak begitu.”

“Fany, bukankah kita memang cenderung lebih tertarik dengan orang yang memiliki kepribadian berbanding terbalik dengan kita? Lihat apa yang sedang kita jalani saat ini?”

Taeyeon mengamati pertahanan diri kekasihnya perlahan mulai runtuh. Seulas senyum merekah di wajahnya yang cantik, namun yang membuat hatinya terasa damai adalah saat senyum itu mencapai mata indahnya yang patut dikagumi.

“Kau benar boo.”

“Kau bisa berteman dengan siapa saja, aku tidak. Kau mudah cemburu, aku tidak. Kau sangat mampu mengekspresikan perasaanmu dengan kata-kata dan antusiasme, aku tidak. Dan banyak lagi hal-hal positif yang tidak kumiliki namun ada pada dirimu.”

“Mungkin itulah yang membuatku jatuh cinta padamu, Tae. Karena semua ketidaksempurnaanmu yang melengkapiku.”

Hatinya terasa berbunga-bunga. Baru kali ini Taeyeon merasa dirinya adalah orang yang paling bahagia di dunia.

“Katakan itu sekali lagi.”

“Kau tidak sempurna.”

“YAH!”

Tiffany tertawa. Suaranya mengalahkan semua lagu favorit di playlistnya. “Aku mencintaimu karena ketidaksempurnaanmu yang melengkapiku.” Gadis itu mencuri cium di bibir Taeyeon. Membuat wajahnya berubah semerah tomat.

“Aku tidak pernah tahu kau seromantis ini, Fany. Kupikir yang kau tahu hanya bekerja dengan penuh semangat dan mencari rekan.”

“Benarkah? Apa aku terlalu menyebalkan Tae?”

Taeyeon tersenyum, Tiffany adalah gadis yang sangat peduli dengan penilaian orang-orang di sekitarnya, salah satu dari yang tidak dia miliki. “Tidak. Bagiku kau sempurna.”

“Taeyeon….”

Gadis yang disebut kemudian meraih tangan kekasihnya. Seketia dunia tak sekejam yang selama ini dia rasakan. “Fany, kau tidak perlu menjadi orang lain jika bersamaku. Kau bisa menjadi dirimu sendiri dan aku akan tetap mencintaimu, kau paham? Aku tidak akan pernah menilaimu seperti orang lain, aku mencintaimu, aku mencintai kelebihanmu, kekuranganmu, kebaikanmu, keburukanmu. Aku jatuh cinta pada semua itu. Kecantikan dan kesempurnaan yang kau tunjukkan pada dunia, kau bisa melepasnya jika kau bersamaku Fany. Semua itu hanya bonus bagiku. Aku mencintai satu paket dalam dirimu.”

Air berlinang di matanya yang indah. Tiffany tak pernah merasa begitu dicintai sebelumnya. “Maafkan aku.”

“Kenapa?”

“Aku merasa aku tidak cukup baik untuk menerima semua ini darimu, Tae. Aku merasa tidak layak mendapatkan seseorang sepertimu.”

“Tidak, aku lah yang beruntung bisa memilikimu Fany. Aku harus bersaing dengan ribuan pria dan wanita di luar sana—mereka yang mengaku teman baikmu. Dan kau memilihku.”

Tiffany mendengus. “Tidak satu pun dari mereka yang mencintaiku seperti dirimu. Kau selalu menerimaku apa adanya, Tae. Apapun kondisiku saat itu. Jika aku diberi pilihan, untuk apa aku memilih mereka?”

“Entahlah, mungkin dari segi fisik mereka lebih baik? Lebih tinggi? Atletis? Atau lebih bersahabat daripada aku?”

“Tapi tipe ku adalah gadis yang imut, tapi bisa jadi sangat-sangat seksi, pendek namun cukup kuat di saat-saat yang dibutuhkan, perhatian, romantis, sweet talker, dan pengertian. Aku tidak mau mereka yang menarik banyak perhatian. Dan semua itu sudah ada di hadapanku. Buat apa aku mencari yang lain?”

Taeyeon tersipu. Dia mudah malu saat mendapat pujian, apalagi dari orang yang dicintainya.

“U R MY Starlight. Kau tahu apa artinya?”

Taeyeon menatapnya bingung. “Tentu, kau adalah bintangku.”

“U R MY Starlight. You Are Mi Young’s Starlight.”

“I am Your STaerlight.”

“Yeah. STaerlight. I love you.”

Taeyon tak pernah suka dipeluk sebelumnya. Hal itu biasanya mengancam pertahanan diri yang selama ini dengan susah payah dia bangun. Menjadi leader dari girl band internasional bukanlah hal yang mudah, kau adalah tumpuan seluruh membermu saat ada masalah. Dan tumpuan tidak seharusnya lemah, mereka haruslah yang terkuat. Taeyeon menyadari itu.

Walau sekuat apapun dia berusaha. Orang terkuat pasti memiliki tumpuan-tumpuan yang juga membuatnya kuat. Dan salah satu dari tumpuannya yang terkuat adalah Tiffany. Dia tidak yakin akan dapat berdiri setegar ini menghadapi dunia dimana dia mendapatkan kebencian dan juga cinta intens dari fans, media maupun ‘teman-teman’ nya.

Tiffany membuatnya kuat. Bahkan hanya dengan sebuah pelukan.

Dan dia tidak menemukan hal itu pada orang lain.

Hanya Tiffany.

photogrid_1469711308198.jpg

__________ curhatan author_______________ (warning! dapat merusak suasana)

Ps. Enjoy while it lasts guys..

Akhir-akhir ini gue agak disibukkan sama pekerjaan, entah apa yang bikin si bos mempromosikan gue jadi manager, finance (i know ugh!). Kuliah gue sendiri baru akan dimulai September dan gue udah ancang-ancang bikin surat dengan segala defensifme agar diijinkan telat setiap masuk kuliah karena alasan pekerjaan. They said I practically married to my job.

‘Sometimes you need to be selfish to stay alive.’ Setuju. Hal itu membuat managerku sebelumnya terusir dari pekerjaannya. OMG I dunno.. Kadang gue merasa bersalah, kadang gue juga merasa layak mendapatkannya, semua jerih payah yang gue lakuin selama ini akhirnya berbuah.

Yeah, ada saat gue bersyukur ditelantarkan sama kedua ortu gue bahkan sebelum gue bisa menyelesaikan persoalan matematika sederhana. I’ve become a fighter. Dan, disaat usia gue baru 21 tahun, bahkan sebelum gue lulus kuliah (faktanya gue baru mulai kuliah lagi dengan jurusan yang selama ini gue impikan tahun ini) membuat gue masih disebut lulusan SMK, dan bekerja di tempat ini baru dua tahun, dianggap sebagai alasan didepaknya manager gue yang sudah sepuluh tahun bekerja di sana dan baru diangkat jadi manager dua tahun lalu (tepat saat gue gabung disitu).

Gue galau! Antara gak enak hati sama manager gue yang dulu, diberi beban sebesar itu dan oke, bagi waktu antara kerjaan dan kuliah. Gue sih optimis bisa, tapi apa badan gue bisa menyesuaikan?

What would you do if you were me? Gue bingung. Asli.

Jawaban yang kebayakan gue dapetin : wah, lo hebat dong. Gue pengen deh kayak elo. (sumpah guys, kalo gue dikasih pilihan, gue bakalan milih menikmati masa muda tanpa mikirin bulan depan bayar kuliah pake duit apa, biaya hidup gue bulan depan gimana, perancanaan bugdet untuk bulan depan gimana, belanjain keluarga, biaya sekolah adek, dsb dst. Jangan guys. Gue bener-bener saranin kalian untuk sepenuhnya menikmati hidup yang kalian punya. Bersyukur dan berbahagialah) –Maaf merusak suasana. Tapi gue beneran butuh saran. Please visit https://sasyaa95.wordpress.com/2016/07/28/im-married-to-my-job/ and give me advice.

__________________________________________________________

Entah sejak kapan gue mulai cheesy!

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

24 thoughts on “U R MY STaerlight [One Shoot]”

  1. Gua suka ff yg kek gini Thor, kek dunia asli taeny jadi kesannya ngena gitu wkwkkk.
    Dan untuk saran gua kagak tau gua belom pernah kerja sebelum nya. Dan juga gua masih kuliah tapi ya gua masih minta uang sama ortu. Nggak kaya elo, hebat bisa nyari uang sendiri, bisa nyekolahin adek Lo. Gua salut.. tapi ya itu balik lagi ke diri elo, Lo kuat ngga ngejalanin nya wkwkkk btw semangatttt

  2. wahh keren thorr
    so sweet banget, saling melengkapi dan pengertian.

    anyways kuliah dmn thor.?

    saran saya sihh,,
    enak nya author gmn sm pkrjaan itu?

  3. Taeny :v
    Thor, coba ajak jalan jalan kek. Taeyeon emang peri rumah, tapi setidaknya dia juga pernah keluar rumah meski hanya sekedar beli makan wkwk :v

    || Jika nggak keberatan, maka jalani saja. Jika sebaliknya, lebih baik gak usah dilakukan :).||

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s