FF, One Shoot, SNSD, SOSHI FF

U R (Under the Rain)-bow

the-lightof-morning-decomposes-everything
cr image to the owner

cr image to the owner.

Special thanks to : dwiakon, Ija, taenykim27, tianuraida & TS07 yang sedikit banyak ceritanya dipublikasikan. Juga komentator yang sudah share pengalamannya di postingan sebelumnya, terima kasih atas inspirasinya.

~S2 Present, romance, yuri, Angst~

Copyright © 2016, @sasyaa95

Enjoy the story~

Hujan. Dulu dia menyukainya. Dia suka saat tetesan air hujan menghunus kulitnya seperti ribuan pisau tajam yang dilemparkan dari langit. Dia selalu membayangkan pisau-pisau itu menyayat kulitnya lalu dia akan berlarian pulang dengan tubuh berlumuran darah. Kakaknya akan keluar dan bermain dengannya, mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Mereka akan tertawa bersama. Hujan selalu membawa kenangan indah baginya.

Hujan membawa pertemuan dan perpisahan dalam hidupnya. Memberi kesan manis dan pahit dalam kotak memorinya. Jika diberi pilihan, dia ingin menghapus semua kenangan tentang hujan. Nila setitik rusak susu sebelangga.

Pertemuan itu bukan sesuatu yang spektakuler. Seharusnya kenangan itu tidak mengambil alih tempat spesial dalam hatinya. Namun takdir sedang tidak ingin berbaik hati padanya.

Siang itu hujan, bulan November tahun ini tidak bersikap manis terhadapnya. Hujan dan angin kencang. Dia berjalan dalam keributan, mungkin sedikit gila saat berusaha menerobos ribuan pisau yang membombardir tubuhnya tanpa ampun. Dia bisa terkena flu. Namun dia tak peduli.

Usianya baru empat belas, anak seusianya mungkin sudah tak lagi suka berdiri di tengah deru hujan. Keesokan harinya dia pun jatuh sakit, dia seharusnya tahu. Namun tak sekalipun dia menyesali keputusannya siang itu. Takdir membawa kisahnya pada kenangan indah yang tak terlupakan, terpatri dalam benaknya bertahun-tahun kemudian.

Pertemuan itu, kali pertama dia melihat payung merah muda memblokade hantaman pisau-pisau tak kasat mata yang dijatuhkan Tuhan dari langit, melindungi tubuhnya yang sudah berlumur darah. Dia tercengang saat matanya menatap sepasang berlian terindah dalam hidupnya.

“Kau bisa jatuh sakit.” Gadis itu tersenyum, menarik tubuhnya mendekat—dia seharusnya ketakutan jika tidak terlalu terpana.

Sejak saat itu dia selalu menunggu hujan tiba. Saat itulah seorang gadis pemilik senyum terindah akan menariknya mendekat dan perjalanan pulang kerumah takkan lagi terasa sepi.

“Kau sengaja tak pernah membawa payung ya?” Candanya suatu hari. Dia ikut tersenyum bersama gadis itu. Persahabatan indah mereka berawal dari sini. Segala sesuatu yang berakhir menyakitkan pasti punya awal yang indah kan? Kenangan itulah yang membuat perpisahan semakin terasa menyesakkan.

*

“Aku tidak membawa payung, jadi kita tidak bisa pulang.” Gadis pemilik senyum terindah itu berkata, membawa sensasi hangat dalam tubuhnya.

Tadinya dia hendak mengusulkan menerobos hujan, namun mengurungkan niat tersebut saat melihat kesempatan menghabiskan waktu berdua yang lebih panjang.

Dia mengangguk, menatap pelangi yang mewarnai jalanan. Puluhan manusia hilir mudik melintas, dia hanya dapat memandang sekilas dan bertanya-tanya bagaimana rasanya kembali berdiri melawan ribuan pisau yang meyerbu tubuhnya.

Mereka berdiri di depan sebuah kafe yang sudah disesaki pengunjung. Dia mengintip dari balik pintu kaca. Pasangan muda-mudi yang berteduh sambil menyeduh secangkir kopi panas dan bagel atau teh hangat dan roti bulan sabit, mereka tampak bahagia.

Dia ingin masuk ke dalam, menghangatkan tubuh dengan semangkuk sup ayam atau chili—hal itu langsung membuatnya rindu rumah.

Dia merasakan sentuhan di lengannya, gadis pemilik senyum terindah itu menunjuk ke dalam kafe, dia melihat sepasang kekasih hendak bersiap meninggalkan meja. Beberapa menit kemudian dia baru menyadari dirinya kini sudah berada di dalam kafe menyantap sup ayam ditemani sang gadis. Senyumnya melebar.

“Maaf, gara-gara aku kita harus terjebak disini selama beberapa jam kedepan.”

Dia menggeleng, tidak masalah. Pikirnya. Dia suka menghabiskan waktu dengan gadis itu, walaupun harus beberapa kali mengorbankan waktu bersenang-senangnya di bawah guyuran hujan. Dia menyukainya.

“Bagus. Nah, kau tahu gadis di kelasku yang pernah kuceritakan padamu. Jessi, dia….”

Dia suka mendengar ceritanya. Gadis itu sangat gemar bercerita, dan dia dengan sabar mendengarkan suaranya yang terdengar seperti melodi indah yang mengalun bersama dengan irama hujan. Dia suka memperhatikan cara gadis itu berbicara, bagaimana bibirnya bergerak sesuai dengan pengucapan kata yang hendak dia sampaikan, beberapa kali dia bertepuk tangan saat tertawa, atau mengerutkan kening jika merasa tidak setuju, bahkan caranya menelengkan kepala saat sedang berpikir atau mempertimbangkan sesuatu. Dia tak pernah tahu, suatu hari gadis ini akan menjadi orang yang membawa hujan dalam hidupnya.

*

Dia melakukan kesalahan sore itu. Dengan perasaan bingung dan sekelumit kekecewaan yang bersarang di hatinya. Dia melangkah dengan mantap meninggalkan halaman sekolah.

Di sela-sela gerbang sekolah mereka yang bersebelahan, dia dapat melihat Sang gadis pemilik senyum terindah tengah asyik bercengkrama dengan seorang teman lelakinya, bergandengan tangan dan tertawa. Dia tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, dia hanya tahu dia ingin segera pergi dari tempat itu. Dia ingin pulang dan bergelung di atas tempat tidur—atau mungkin menyapukan beberapa noda di atas kanvas.

Dia tidak menunggu gadis itu seperti rutinitas mereka setiap sore. Ada perasaan tidak nyaman dalam hatinya, namun apakah itu? Dia masih terlalu muda untuk mencari tahu jawaban atas kompleksitas perasaan itu.

Mengabaikan teriakan kakaknya, dia berjalan menuju kamar dan langsung merasa lega saat tubuhnya menyentuh matras. Ah, besok Sabtu.

Dia masih punya waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi gadis itu. Dia dapat mengurung diri dan tidak keluar dari tempat tidurnya. Rencana yang brilian sekali.

Matanya mulai terasa berat, ponsel di dekat lampu tidurnya tak berhenti bergetar—dia sengaja mengabaikannya. Dia tidak terbiasa menerima panggilan masuk lagi pula dia aman di dalam rumahnya.

Dia pun dengan cepat terlelap, bermimpi tentang bunga-bunga dan awan yang beterbangan. Lalu dia merasa jatuh, dia ingin berteriak namun tak ada suara yang keluar, tenggorokannya tercekat.

Dia terbangun dengan peluh yang membasuh tubuhnya. Dia meraih ponselnya dan melihat ada sepuluh pesan masuk dan dua panggilan tidak terjawab.

[From : HMY]

Yah! Kau meninggalkanku?

Kenapa kau tidak menungguku sore ini? Temanmu bilang kau sudah pulang duluan.

Kau marah padaku ya?

Apa yang kulakukan?

Hey, jawab aku!

Aku menghawatirkanmu sepanjang sore. Aku menunggumu di tempat biasa selama satu jam penuh namun kau tak juga datang. Aku bertanya pada teman sekelasmu, dia bilang melihatmu jalan sendiri. Kau sudah pulang kan?

Aku tidak tahu apa yang membuatmu marah padaku, tapi sejak bertemu denganmu aku merasa lebih bahagia dari kapanpun.

Aku minta maaf jika aku pernah melakukannya. Katakan padaku apa yang bisa kulakukan?

Hey, jika kau tidak ingin berteman denganku lagi aku tidak akan marah kok. Untuk segalanya, aku senang pernah mengenalmu.

Love you ❤

Saat itulah dia tahu dia sudah melakukan kesalahan. Dia harus memperbaikinya. Gadis itu tidak bersalah, dia lah yang bersalah karena merasa kecewa. Baiklah, gadis itu tidak tahu apa yang dia rasakan—jadi tidak apa. Dia akan pergi ke rumahnya dan meminta maaf.

Pagi itu langit gelap, pasukan bayangan yang bersembunyi di balik awan seolah sudah siap menyerbu kapan saja. Lagi-lagi dia tidak membawa payung.

Matahari yang baru saja terbit, bersembunyi di balik tandon air terbesar yang membumbung di langit. Hanya terlihat beberapa orang yang lalu lalang bersiap pergi ke pasar, atau tukang susu dan loper koran yang mengayuh sepeda dengan kecepatan penuh—menghindari serangan tiba-tiba Sang Pasukan bayangan.

Dia berdiri di bawah pagar, tidak membawa ponselnya. Dia mengetuk dua kali namun tak terdengar apa pun. Rumah gadis itu sepi.

Sabtu pagi ini akan hujan.

Dua kali lagi dia mengetukkan gembok pada jeruji besi, namun kembali tidak terjawab. Udara semakin dingin, bakteri-bakteri yang ada di dalam tanah mulai bersemerebak, membawa aroma khas sebelum hujan, sayangnya dia tidak memakai pakaian tebal.

Rintik hujan mulai membasuh jalan, pagarnya masih jauh dari atap yang melindungi hujan. Apapun yang terjadi pagi ini, dia harus meminta maaf. Mungkin bisa sedikit bercengkrama dengan kawan lama yang sudah lama tak dia kunjungi.

Halo pasukan bayangan, siap menghujamkan ribuan pisaumu padaku pagi ini?

Lama sekali sejak dia terakhir berdiri di bawah air hujan, membuat tubuhnya basah dan menggigil kedinginan. Sejak bertemu dengan gadis itu, dia tak pernah lagi kehujanan. Gadis pemilik senyum terindah dengan payung besar merah muda. Dia tersenyum, kemudian lenyap saat teringat kejadian sebelum pulang sekolah.

Apa yang dia rasakan?

Mengapa dia begitu marah?

Mengapa dia ingin segera pergi dari tempat itu?

Mengapa dia begitu ingin menghindari pertemuan mereka selanjutnya?

Mengapa dia merasa kecewa?

Mengapa? Mengapa? Dan mengapa?

Langit begitu galap dan ia belum menemukan jawaban yang tepat. Bahkan setelah lama diam berdiri di tempat yang sama dan kakinya terasa sangat lelah untuk ditegakkan lebih lama, saat langit terasa semakin gelap dan terdengar teriakan yang memekakan telinga.

Pintu itu akhirnya terbuka dan gadis yang dia tunggu-tunggu pun hadir dengan histeria, menyeretnya menjauh dari gerbang.

Aku minta maaf.

Tubuhnya terasa hangat dan dia pun menyerah pada hawa dingin yang menusuk tulang-tulangnya.

*

Rumah gadis itu memiliki perapian. Dia membayangkan jika rumah mereka sebesar ini, dia mungkin takkan suka pergi ke luar rumah dan bermain dengan hujan—seperti Sang gadis.

Dia merasa nyaman saat mereka duduk berhimpitan di bawah selimut besar, mencoba menghangatkan diri di depan perapian dengan secangkir cokelat hangat. Dengan kepala gadis itu di pundaknya dan satu lengannya di pinggang Sang gadis. Samar-samar dia tersenyum, mulai memahami semua kegilaan yang telah dia alami setahun belakangan. Seperti api unggun yang baru dinyalakan, cahayanya kecil dan samar namun terasa nyaman.

“Sudah kubilang jangan hujan-hujanan lagi. Terakhir kali kau berdiri kehujanan di depan rumahku… Ugh! Aku tak ingin mengingatnya lagi!”

Dia mempererat pelukannya pada gadis itu.

Aku tahu.

Pengalaman itu sepertinya takkan pernah bisa hilang dari kepalanya. Dia pingsan karena hipotermia. Tubuhnya remuk redam, tulang-tulangnya seakan mau copot. Dia menggigil hebat hingga merancu tidak jelas. Namun di atas semua itu, Sang gadis merawatnya dengan lembut. Mengeringkan tubuhnya dengan handuk, menghangatkannya, mengompres kepalanya dengan air jahe hangat, membuatkannya sup, mengganti pakaiannya. Dia tersipu mengingat hal terakhir itu.

Waktu itu dia panik sekali saat bangun dan mendapati pakaiannya sudah berganti. Dan Sang gadis dengan tenang menjelaskan apa yang terjadi, menanyakan apa yang sedang dia lakukan di depan rumahnya di pagi buta yang basah.

Pagi itu mereka membuat kesepakatan yang tak terucap. Mereka masih belum memahami apa yang terjadi, namun keduanya setuju untuk tidak melepaskan satu-sama lain. Untuk menggandeng jika salah satu dari mereka terjatuh dan memeluk jika salah satu dari mereka ingin menyerah.

Bukan payung merah muda yang mengawali persahabatan indah mereka, namun pagi buta yang dingin di depan perapian—salah satu dari mereka menyimpan perasaan terdalam, sedang yang lain hampir tidak bisa berdiri karena kedinginan dan kebingungan.

Sayup-sayup terdengar nada piano klasik Chopin – Nocturne op.9 No.2 mengalun lembut seakan menjawab beribu pertanyaannya dalam dingin yang membekukan. Dan perapian yang meneranginya dalam kebisuan.

*

Apa yang membuat manusia bisa melihat kepura-puraan pada manusia lain di hadapannya? Karena dia mengerti cukup jelas bahwa gadis itu kini sangat gelisah. Mungkin emosi memiliki bau atau rasa; barangkali mereka saling mengirimkannya secara diam-diam melalui getaran dalam udara. Apapun artinya, dia tahu pasti bahwa bukan dirinya yang membuat gadis itu waspada, melainkan fakta bahwa dia telah datang bersama orang lain dan orang itu asing baginya.

Saat Sang gadis pemilik senyum terindah menyapanya di depan gerbang sekolah, sepasang lengan lalu menggandengnya dengan posesif. Jika tebakannya benar, Sang gadis ingin menjauhkannya sebisa mungkin dari orang asing itu.

Orang asing itu memperkenalkan diri sebagai teman sekelasnya—yang faktanya memang demikian. Sang gadis menatap kedua matanya penuh dengan tanda tanya seakan meminta penjelasan dalam diam. Dia tak pernah menceritakan tentang orang itu. Sebenarnya, dia tak pernah menceritakan apapun pada Sang gadis. Mereka bersama atas dasar kenyamanan yang didapat dari satu sama lain.

Pertengkaran terbesar mereka terjadi hari itu. Sebelum pamit memasuki kereta bawah tanah, teman sekelasnya itu memeluknya lalu mengecup kedua pipinya yang merona kemudian berkata bahwa dia menyayanginya dan akan menunggunya sampai dia siap. Ya, dia memang mendapat pernyataan cinta siang itu, namun dengan sopan menolaknya. Ada orang lain yang sedang memenuhi kepalanya akhir-akhir ini. Sang gadis pemilik senyum terindah.

Seulas senyum kosong terplester di wajah sang gadis saat orang asing itu melambai padanya, mengucap perpisahan. Sepanjang hari mereka berjalan dalam kebisuan, tak ada yang memulai pembicaraan. Keduanya terlalu takut untuk mengutarakan apa yang mereka pikirkan, takut tidak sejalan.

*

Saat itu pertengahan semester sebelum kelulusan. Sekolahnya sedang mengadakan pertunjukan seni, dan tahun ini kelasnya diberi kehormatan untuk menjadi panitia. Seluruh murid diharuskan menyumbangkan satu karya seni yang dapat dihasilkan dalam keterbatasan mereka. Dia memilih sebuah lukisan.

Semakin siang, langit semakin gelap. Kerumunan murid sudah berkurang drastis akibat cuaca yang tidak dapat diprediksi.

Dia bersandar dengan bosan di luar ruangan. Tidak banyak yang dapat dia lakukan karena tugasnya sudah selesai. Dia hanya menunggu hingga pertunjukan usai.

Sang gadis belum menghubunginya sejak insiden di stasiun. Dia tidak merasa ada yang salah, apa yang membuat gadis itu begitu marah terhadapnya? Tidak ada.

 Dalam lamunannya, dia tidak menyadari bahwa sejak tadi ada gadis yang mengamatinya dari kejauhan. Gadis itu ragu-ragu sebelum mendekatinya, menyodorkan sebuah payung merah muda padanya.

“Hujan akan segera turun. Kau pasti tidak membawa payug, jadi aku membawakannya untukmu.”

Dia terpaku di tempat. Apakah dia berhalusinasi? Gadis itu kini berdiri di depannya.

“Maaf tidak membalas pesanmu. Aku… sedang berlibur.” Kata Sang gadis. “Namun kupastikan padamu aku akan membalas pesanmu mulai dari sekarang.”

Dia terpana oleh senyum gadis itu, entah apa yang membuatnya merindu. Namun setelah berhari-hari tidak bertemu, jantungnya terasa menderu-deru.

Sebenarnya, hatinya takut untuk berharap. Menganggap bahwa semua akan berakhir sia-sia. Namun, gadis itu mengejutkannya dengan mengusap pipinya dan merapikan rambutnya dengan sorot mata yang tak dapat dia terjemahkan. Namun dia yakin, tak ada seorang sahabat yang menatap sahabatnya dengan cara yang sekarang gadis itu lakukan padanya.

“Sebelumnya, aku ingin memastikan sesuatu.” Ujar Sang gadis, wajahnya memerah karena malu. “Jadi, siapa gadis di stasiun itu sebenarnya? Apa hubunganmu degannya?”

*

Udara malam terasa dingin, angin menderu-deru menerobos jendela, menerbangkan korden-korden. Malam itu dia berada di kebun belakang rumah Sang gadis yang masih memiliki sepasang ayunan. Ayahnya menginstal benda itu sewaktu membeli rumah ini, padahal saat itu usianya sudah empat belas tahun. Tepat saat pertemuan pertama mereka dibawah payung merah muda.

Saat ini keduanya sudah berada dalam fase dimana seharusnya mereka menghabiskan malam bersama pasangan. Walau demikian, tak satu pun dari mereka memilikinya. Pengumuman kelulusan sudah dipasang seminggu yang lalu, namun baru hari ini mereka dapat menikmati kebersamaan berdua di atas ayunan seperti ini. Kedua orang tua Sang gadis sedang tidak di rumah, dan malam ini dia bertugas untuk menemaninya.

“Ayahku ingin menyimpan kenangan masa kecil kami. Aku biasa bermain dengan saudariku di halaman rumah kami yang dulu. Kami memiliki semacam taman bermain pribadi. Ayah hanya berhasil menyelamatkan ayunan ini. Pihak logistik tidak memperbolehkan benda yang berbobot lebih dari seratus kilo untuk dimasukkan dalam van mereka. Ayahku secara pribadi menyewa kontainer.” Gadis itu tertawa sambil mencari bintang-bintang yang bersembunyi di balik awan.

Apakah dia merindukan kakaknya?

Udara semakin dingin dan dia mendapati tubuh Sang gadis menggigil kedinginan. Dia mengisyaratkan padanya untuk memasuki rumah, tiba-tiba saja ide menonton film di dekat perapian sangat menarik minatnya.

Namun Sang gadis menggeleng mantap, menolak idenya dan lebih menikmati udara malam yang tak bersahabat. Dia tidak punya pilihan lain selain menuruti kemauan tuan rumah.

“Awalnya, sangat berat tinggal di tempat ini. Aku sangat merindukan saudariku. Sampai sekarang pun aku masih merindukannya.” Gadis itu tersenyum, seluruh wajahnya tampak santai dan bahagia.

Jenis bahagia yang menyiratkan kesedihan mendalam, pikirnya.

Dia memperhatikan saat sudut-sudut matanya berkerut-kerut membentuk bulan sabit ketika mereka bertemu tatap. Ada sekelumit rasa takut yang mencakar-cakar kepalanya dari dalam. Ketakutan yang selama ini ada namun terpendam dalam benaknya, kini kembali muncul ke permukaan. Mengaduk-ngaduk isi kepalanya dalam keputusasaan. Harapan-harapan semu mulai bermunculan. Sebentar-sebentar singgah membentuk perasaan tak beraturan dalam hatinya.

Dia tahu itu apa, namun tak pernah berani mengakuinya. Siapa dia jika dibandingkan dengan Sang gadis?

Dia melakukan satu-satunya hal yang terlintas di kepalanya. Melihat betapa menggigil tubuh gadis itu, dia memberanikan diri melepas jaketnya dan menyelimuti tubuh mungil itu.

“Kau…. memang berbeda..”

Sejenak, dia ragu-ragu sebelum mencondongkan badan. Tangan Sang gadis mengunci kedua lengannya erat-erat. Dengan keputusan terakhir, dia pun mengecup bibir gadis itu. Rasanya seperti gulungan awan yang berarak mendadak tersapu dari langit, membawa kembali gemintang yang berkelap-kelip. Kepalanya berdenyut, hanya sejenak, sebelum Sang gadis membalas ciumannya.

Sejenak, mereka melupakan segala-galanya—sejuta alasan mengapa hal ini seharusnya tidak mereka lakukan, segala ketakutan, masa depan, keterbatasan. Mereka saling mengecup di bawah ayunan tua, dengan awan sebagai saksi, bulan dan bintang yang malu-malu bersembunyi.

Dia merasa bebas tak terbatas. Diciumnya bibir mungil itu, dihirupnya aroma tubuh gadis itu, dibuainya rambut Sang gadis yang terasa lembut di sela-sela jarinya, menari-nari dalam keheningan malam yang dingin.

Kemudian dirinya seperti tersihir, tersadar akan apa yang baru saja terjadi. Dia menjauhkan tubuhnya.

Maaf.

Kedua mata gadis itu kini terbuka, menatapnya bagaikan sebuah bintang yang bersinar. “Lupakan. Aku menginginkanmu, kita nikmati saja malam ini.”

Sebelah tangannya terangkat, menyentuh wajahnya dengan lembut. Jemariya menelusuri tulang-tulang wajahnya yang indah.

“Sudah lama aku menginginkanmu. Tidakkah kau merasakan hal yang sama?”

Dia mengangguk walaupun ragu-ragu. Tidak, bukan perasaannyalah yang membuatnya ragu, namun apa yang akan terjadi kemudian lah yang merisaukannya.

Suara guntur terdengar sayup, bau hujan mulai membekukan udara. Namun seolah mengabaikannya, Sang gadis kembali mencondongkan tubuh, menyatukan kening, menautkan bibir, membaurkan napas. Dengan pelan dan samar, Sang gadis berbisik ‘aku membutuhkanmu’ sebelum keduanya memutuskan untuk masuk ke dalam rumah saat tetes air membasuh wajah mereka. Sebelum hujan menyapu jejak mereka. Mengaburkan kembali perasaan yang sudah dengan gamblang terpapar.

Dengan tubuh yang masih basah, keduanya berjalan dengan limbung menuju kamar Sang gadis, perasaan aneh itu semakin meluap-luap. Dia tak dapat menahannya lagi, sepertinya gadis itu juga merasakan hal yang sama.

Ragu-ragu, sang gadis meletakkan tangan di dadanya. Seperti gadis remaja pada umumnya, dia berjingkat dan menciumi wajahnya. Napasnya terhenti, dengan satu lengan yang tergantung di pundaknya, dia merasa kembali tersihir. Dengan kuat, dia menarik tubuh gadis itu mendekat.

[WARNING RATED SCENE—Skip if you want]

Mereka bercinta malam itu—keduanya dibungkus kepompong cahaya, tepi-tepinya melebur ke dalam bayang-bayang gelap ruangan.

Dia mengusapkan ibu jarinya di alis gadis itu, di lekungan tulang pipinya sampai ke dagunya.

Gadis itu kini miliknya.

Dia menyentuh tubuh Sang gadis dengan takjub. Gadis itu kini miliknya untuk disentuh, diraba, dan dimasuki. Bayangan ini nyaris tak sanggup dicernanya. Dia selalu mengira hal seperti ini hanyalah sebuah fantasi yang tak berwujud seperti udara. Dan sekarang, ketika dia paling tidak menduganya, gadis itu disini—daging dan darah yang indah—denyut nadinya menderu di bawah sentuhan jarinya. Mata Sang gadis berkilat indah dibalik kulitnya yang pucat. Sewaktu dia menyaputkan bibirnya, dia dapat menelusuri setiap jengkal bagian dalam mulutnya.

Dia menjumput juntaian rambut dan mencium pangkal leher Sang gadis, seperti terbuai sihir yang mematikan. Baunya seperti bunga mawar. Dia menggerakkan lidahnya melintasi tulang dada Sang gadis, dan menempelkan bibir ke kulit lembut di cekung lehernya.

Segala sesuatu tentang tubuh Sang gadis sungguh menakjubkan. Ujung kuku-kukunya yang menyerupai bulan-bulan separo yang pucat. Bagian bawah lengannya yang berkilau seperti mutiara. Lengkung halus pundaknya dengan kulit yang begitu lembut ketika disentuh. Di sudut bawah tulang rusuknya, terdapat tato yang baru dia sadari keberadaannya. Toujours belle. Kecantikan abadi.

Dia menaikkan lengan gadis itu ke atas kepalanya, dan menjilati setiap cekung yang tersingkap. Mulutnya berkelana di sepanjang tubuh Sang gadis: meniti ukiran bentuk tulang iga, pinggulnya yang membulat indah, dan pahanya yang panjang dan mulus. Di pergelangan kakinya, gadis itu memakai gelang emas berantai halus. Gelang itu bersinar. Dia menggenggam telapak kaki Sang gadis, mencium lekuknya yang terangkat, jari-jarinya yang bulat merah muda.

Dia mencium matanya, hidungnya, bibirnya, menangkup wajahnya dalam tangannya, mengusap lembut bagian itu satu demi satu. Sewaktu dia memberanikan diri memasukkan jarinya, dia langsung menyelinap begitu dalam. Di mana batas tubuhnya? Di mana tubuhnya sendiri dimulai?

Dia merasakan erangan muncul dari jauh di dalam lehernya. Jari-jari Sang gadis menepuk pundaknya. Dan kemudian dia merasakan cengkraman gadis itu menjadi makin erat, dan kuku-kukunya menancap tajam ke dalam kulit punggungnya. Sementara tangannya tak berhenti bergerak, gadis itu mulai kehilangan kendali. Dia mengetahui hal itu saat merasakan tubuh Sang gadis gemetar dibawah sentuhannya, dicengkeram oleh rasa kemenangan yang primitif.

Sang gadis berteriak, mengeluarkan suara seperti tercekik, setengah protes dan setengah tertawa.

Lalu gadis itu mendorongnya menjauh dan dengan lembut mengajaknya berbaring telungkap. Jemarinya bergerak dengan malu-malu menyelinap di antara kedua pangkal pahanya. Dia merasakan getaran terhebat saat tubuhnya dimasuki benda asing.

Ketegangan yang dia rasakan perlahan sirna saat gadis itu merebahkan tubuh di atas tubuhnya, dan mengecup-ngecup ringan leher hingga pundaknya. Dia dapat merasakan payudara Sang gadis yang empuk menempel di punggungnya. Salah satu tangannya yang tak digunakan untuk menyihirnya, bersandar pada lengannya; jari-jari mereka berjalinan.

Hingga titik kesenangan itu ditekan begitu keras dan dirinya meluap dalam lautan euforia pertama dalam hidupnya, dia merasa sempurna dan hakiki sebagai seorang manusia dewasa.

[END RATED SCENE—Thanks]

Setelahnya, dengan tubuh yang masih lembab oleh keringat, mereka tidur berdampingan dalam balutan kostum lahir mereka. Keduanya sama-sama lelah usai pertarungan. Mereka begitu dekat hingga kedua kaki mereka saling bersentuhan, lalu dengan malu-malu saling memilin; bersama-sama mereka memandangi keredap putih-biru ketika halilintar menghantam.

Dunia di sekitar mereka menyusut, sampai akhirnya yang tersisa hanyalah suara badai serta tirai-tirai tipis yang mengembang perlahan. Perapian sudah lama padam, tak satu pun dari mereka yang berniat kembali menyalakannya. Wangi parfum bunga mawar milik Sang gadis semerabak terbawa angin malam. Sayup-sayup terdengar denting piano & biola memainkan nada Beethoven – Moonlight Sonata. Rupanya musik klasik selalu mengalun lembut di rumah ini.

Sang gadis mengulurkan tangan untuk meraih tangannya; digenggamlah jemarinya. Sesaat, dia berpikir bahwa perasaan seperti ini takkan pernah dia rasakan lagi—perasaan terhubung yang begitu dalam dengan manusia lain.

“Mengagumkan.” Gadis itu memecahkan keheningan. Wajahnya diam dan tenang memandangi badai yang mengamuk.

Dia menoleh sekilas dan tersenyum.

Kau memang mengagumkan.

Entah sudah berapa lama mereka berbaring dalam keheningan, saling mendengarkan bunyi napas satu-sama lain yang kian pelan dan dalam, ditingkahi suara hujan dan Beethoven sebagai latar belakang; jemari mereka bertautan.

Dia tidak ingin pulang. Dia ingin berada di sini, selamanya.

Segalanya akan baik-baik saja. Ya, semuanya akan baik-baik saja.

Dan mereka pun terlelap hingga tak menyadari badai telah berhenti digantikan oleh embun yang mulai membalut udara dalam kehampaan.

*

Dia menunggu dalam keheningan. Sang gadis mengingkari janjinya, dia pergi tanpa memberi kabar. Satu minggu. Mungkin apa yang mereka lakukan terlalu cepat, mungkin Sang gadis merasa ketakutan. Namun setidaknya dia dapat memberi tahunya kan? Bukannya meninggalkannya dalam kebingungan.

Baiklah, dia akan menunggunya.

*

Siang itu matahari memutuskan untuk menampakakan diri, seolah memberi janji setelah berhari-hari bersembunyi. Hari ini dia terlihat angkuh menggantung di atas hamparan karpet biru. Tak tersaput awan sedikit pun.

Undangan pertemuan itu sangat mendadak. Setelah seminggu tidak memberi kabar sama-sekali Sang gadis menghubunginya pagi tadi, meminta bertemu di kafe dekat sekolah mereka dulu. Dia bisa merasakan keraguan dan kegelisahan gadis di hadapannya.

Dia tahu bahwa selama pertemuan mereka siang ini, mata Sang gadis menelusuri kemana pun namun tak sekali saja bertatap dengannya. Pandangannya berkelana ke orang-orang yang duduk di ruangan itu, pada pasangan paruh baya berwajah ramah yang tengah menyantap waffle dan kopi dingin, ini memang hari yang tepat untuk menyantap es krim setelah berhari-hari hujan menghantam tanpa ampun. Kemudian matanya beralih menatap pasangan muda yang bergandengan tangan di tengah semangkuk patbingsu berukuran jumbo—bersuap-suapan.

“Aku dan keluargaku mengunjungi kakakku di LA.” Itu adalah kata-kata pertama yang dia ucapkan setelah mereka bertemu.

Dia mendapati kulit Sang gadis yang semakin pucat, bukankah seharusnya cuaca di sana lebih hangat?

“Kakakku menelepon, ada masalah mendesak yang harus diselesaikan. Dan aku tidak ingin ditinggal sendirian.” Tangannya terus mengaduk omija dalam cangkirnya.

Dia berpikir mengapa gadis itu tidak memesan milkshake seperti terakhir kali mereka kemari.

“Aku ingin sekali memberitahumu tapi ponselku ketinggalan. Maaf.”

Bahkan samapai kata itu terucap, tak sekalipun Sang gadis menatap matanya. Pandangan terdekat hanya jatuh pada dahinya.

Apakah dia mempercayai perkataan gadis itu? Jawabannya adalah: tidak.

Gadis itu tidak menunjukkan sikap-sikap selayaknya orang yang berkata jujur. Namun dia percaya pada gadis itu, yakin bahwa Sang gadis takkan melakukan hal-hal yang akan menyakitinya.

Pada siang yang terik itu, dia memutuskan untuk menghargai pendapat Sang gadis. Terkadang, kita tidak perlu menyetujui suatu hal untuk percaya, kita hanya perlu meyakininya.

*

“Aku berencana melanjutkan sekolah di LA.”

Tibalah hari yang paling menakutkan baginya. Dia tahu tak seharusnya dia jatuh pada Sang gadis. Segalanya sudah salah sejak awal. Mereka tak seharusnya bertemu siang itu di bawah hujan. Dia seharusnya membawa payung pada hari itu, mungkin Sang gadis tak memiliki alasan untuk menariknya, menarik seluruh tubuhnya, menarik dunianya.

Seperti orang bodoh, dia membiarkan dirinya hanyut terlalu dalam pada perasaan yang menyesatkan, memabukkan dan mengerikan. Apa yang harus dia lakukan? Dia sudah jatuh terlalu dalam ke dalam lubang hitam.

Tidak ada jalan keluar, rasanya menyakitkan dikelilingi oleh dinding-dinding tak kasat mata. Perasaan itu menghantamnya seperti batu, mengurungnya seperti lorong-lorong yang tak berkesudahan. Kemana cahaya itu pergi?

Dia menggeleng kuat-kuat, tidak. Kau tidak boleh pergi. Aku membutuhkanmu di sini.

“Dengar, maafkan aku. Ini adalah mimpiku. Ayahku sudah merencanakannya jauh sebelum aku bertemu denganmu. Dia ingin aku bisa seperti kakakku.”

Sang gadis mencoba meraih tangannya, namun kali ini dia menarik diri. Terlalu sakit untuk menatap kedua matanya yang berlinang air mata.

Apakah semua ini kesalahan Sang gadis? Tidak. Ini murni kesalahannya. Dia yang mengijinkan dirinya sendiri jatuh ke lubang yang tak berujung. Dia tersesat dalam sihir yang menjerat seluruh akal sehatnya. Inikah yang dia khawatirkan selama ini? Hilang dan tak tahu jalan kembali? Jatuh dan tak tahu cara untuk bangkit lagi? Sesak namun lupa caranya bernapas kembali?

Bersama hujan, air mata merenggut kedamaian dalam hatinya. Mengapa? Oh mengapa dunia begitu kejam padanya? Tidak kah cukup selama ini dia hidup dalam kesunyian?

Dia ingin berlari sejauh kaki dapat membawa, namun dia terlalu lemah untuk melakukannya. Dia ingin berteriak sekencang-kencangnya dan marah pada keadaan yang tak berpihak padanya, namun dia tak pernah menemukan suaranya. Di tengah deru hujan, seluruh tubuhnya tertanam pada seorang gadis. Gadis yang akan meninggalkannya sebentar lagi.

Betapa malang nasibnya wahai anak adam. Yang dia inginkan hanya secercah cahaya dalam kegelapan, yang dapat menyuarakan isi hatinya, yang dapat memberinya kasih sayang.

Dia ingin tertawa, menertawakan matahari yang terlalu pengecut dan enggan bersinar. Menertawakan hujan yang berubah menjadi pisau berduri dan kini melukai tubuhnya. Menertawakan dirinya yang begitu lemah dan membiarkannya terjebak dalam kompleksitas.

Cintanya pada Sang gadis begitu tulus seperti hujan di malam itu, tetap jatuh ke bumi meski tak menjanjikan pelangi.

Hingga akhirnya dibiarkannya hujan menghapus jejak kakinya yang ragu-ragu.

*

Rinai hujan mengiringi air mata,

Menetes jauh tanpa suara,

Merasakan sakitnya luka,

Yang indah hanyalah mimpi belaka

Panggilan itu sangat mendadak. Dia masih ingat semalam dia meringkuk di sudut kamarnya dengan tubuh setengah basah akibat kehujanan. Tanpa selimut yang menghangatkannya dan dengan kekosongan yang mengisi hatinya.

Pagi ini dia sudah berada di rumah sakit tanpa sempat mengganti pakaiannya—dan dua pasang lengan yang melingkari tubuhnya, membawa kenyamanan. Walaupun yang dia butuhkan kali ini adalah ketenangan.

“Maafkan kami. Dia kolaps dari semalam.” Kata seorang wanita paruh baya, dia biasa melihatnya di rumah Sang gadis sebelum mereka pergi bermain.

“Anak itu pasti tidak memberitahumu, ya kan?” Kali ini giliran Sang ayah.

Dia mengerjap, apa yang tidak diberitahukan padanya?

“Duduklah. Biar kuceritakan.” Kata pria paruh baya itu, menyuruhnya duduk di salah satu kursi pengunjung. “Tolong belikan minuman hangat untuk gadis malang ini. Dia pasti kedinginan.”

Wanita itu mengangguk tanpa banyak bertanya, meninggalkan mereka berdua dalam keheningan sebelum Sang ayah memulai ceritanya.

“Anak itu menderita Pneumothorax sejak lahir, paru-parunya tidak bekerja seperti orang-orang normal biasanya. Dia hidup dengan bantuan alat-alat medis. Dia hidup disini.” Mulai ayahnya. “Tidak seperti kakaknya yang tumbuh sehat dan bisa pergi ke mana-mana, dia sangat rapuh dan selalu terkurung di rumah. Walau aku tahu kadang dia suka berkeliaran ketika hujan. Aku selalu memperingatkannya untuk tinggal di dalam saat udara dingin, itu sangat berbahaya untuknya. Saat dia kecil, dia sering sekali kolaps seperti ini. Dan dokter berhasil memberinya obat yang dapat mencegahnya terjadi.”

Sang ayah menghela napas panjang, menatap dinding dengan tatapan kesedihan yang kosong.

“Walau bagaimana pun, dokter berkata akan berbahaya sekali jika dia sampai kolaps lagi. Dulu, dokter menyarankan agar kami tidak banyak berharap, mereka memprediksi dia tidak akan menginjak umur dua puluh….”

Dia tidak dapat menghentikannya, keterkejutan itu seolah menarik keluar jiwanya dan meninggalkan seberkas perasaan hampa. Air mataya mengalir tanpa bisa dia hentikan.

Tidak! Mereka pasti salah!

“Saat itu kami meminta operasi, namun dokter menolak karena belum pernah ada pasien yang selamat setelah melakukan operasi untuk penyembuhan Pneumothorax. Jadi, kami membiarkannya tumbuh dengan alat-alat medis dan obat-obatan.”

“Sangat sulit melihatnya tumbuh berbeda dari anak-anak lainnya.” Kali ini Sang ibu datang, meletakkan dua gelas cokelat panas di kursi kosong lalu memeluknya.

“Namun, sejak dia bertemu denganmu. Dia menjadi orang yang berbeda. Sangat menyenangkan melihatnya bahagia seperti itu. Awalnya kami tidak mengerti, namun selama dia bahagia—kami akan melakukan apa pun untuknya. Walaupun itu berarti dia berkali-kali mengusir kami tiap malam hanya untuk berduaan denganmu.” Wanita itu tertawa kecil.

Jika saja situasinya berbeda, dia pasti sudah sangat malu sekarang. Namun, kali ini yang dia rasakan hanya kesedihan dan keputusasaan yang mendalam.

“Semalam, dia terus-terusan memanggil namamu sebelum kolaps, aku ingin sekali menghubungimu saat itu, namun suamiku menyarankan pagi ini, sebelum kami dapat melarikannya ke rumah sakit, dia sudah kolaps dalam perjalanan.” Wanita itu megusap air matanya berkali-kali.

“Sekarang dokter masih menanganinya, bisakah..” Pria itu melirik istrinya sebentar lalu menatapnya. “Bisakah kau menemuinya jika dia sudah siuman?”

Dia langsung mengangguk mendengar permintaan itu. Dia akan melakukan apapun demi Sang gadis, walau pun itu harus dihargai dengan nyawanya.

*

Hujan tak pernah begitu kejam padanya.

Dia meringkuk di bawah pohon, merasakan hujan yang menusuk kulitnya seperti duri walaupun rasa sakitnya tidak bisa menandingi apa yang hatinya rasakan.

Seseorang menepuk pundaknya dan saat mendongak dia mendapati seorang pria paruh baya tersenyum padanya tanpa kata-kata lalu menunjuk ke samping, di mana Sang gadis tengah menunggu di koridor. Sungguh menyakitkan melihatnya duduk di kursi roda dengan selang-selang dan tabung oksigen yang menempel di hidungnya, juga selimut yang membalut tubuhnya.

Perlahan, dia berjalan mendekat pada Sang gadis, mengambil langkah dengan sangat hati-hati. Seolah tiap langkah akan membawanya semakin menjauh.

Keheningan membalut udara di sekitar mereka, hanya hujan yang bersuara.

“Maaf, aku tak jujur padamu.” Kata sang gadis pada akhirnya. Apakah dia menyesali keadaan mereka? Tentu saja. Semua ini tak adil baginya. Dia tumbuh dan mengira takkan ada yang akan mengisi hari-harinya. Saat gadis itu datang dalam hidupnya, dia mulai berani berharap. Namun, segalanya tidak harus selalu berakhir bahagia kan?

*

Tahukah kau, betapa sulitnya tidak mengucapkan apa-apa? Padahal setiap atom di dalam tubuhmu berjuang untuk melakukan sebaliknya? Dia sudah dipaksa melakukan hal tersebut sejak kecil.

Aku merindukanmu.

Sang gadis tidak merespon seperti biasanya, mereka bertemu tatap dalam keheningan. Air mata sepertinya tak ingin berhenti menggenangi pipinya.

Kumohon, bicaralah padaku.

Sang gadis menjadi lebih rileks. “Kemarilah.” Kata sang gadis, menyuruhnya mendekat, dia ragu-ragu sejenak, takut menyakitinya. “Ayo. Kemarilah, di sini, di tempat tidur ini. Persis di sebelahku.”

Saat itu barulah dia menyadari ekspresi wajah sang gadis yang berubah lega. Bahwa gadis itu senang melihat wajah yang sangat dia rindukan, bahkan dalam mimpi-mimpinya yang terdalam.

Dia sendiri juga senang bukan kepalang dapat bertemu lagi dengannya dengan cara yang tidak akan pernah bisa disampaikannya. Dia meyakinkan diri sendiri bahwa ini saja sudah cukup. Dapat bertemu dan mendengarnya berbicara.

Dia pun merebahkan diri di sampingnya, di tempat tidur itu, dan diletakkannya tangannya di tubuh Sang gadis, disandarkannya kepalanya di pundak gadis itu, dibiarkannya tubuhnya menyerap gerakan dadanya yang naik turun perlahan walau dengan bantuan peralatan medis.

Dia memejamkan mata, menghirup aroma tubuh Sang gadis—masih tetap aroma mawar yang terasa mahal, meski di dalam kamar yang berbau segar dan hambar dan bercampur bau samar desinfektan yang agak mengganggu.  Dia mencoba mengosongkan pikiran. Tubuh mereka begitu rapat, sehingga waktu gadis itu berbicara, suaranya seolah bergetar lembut di sekujur tubuhnya.

“Aku juga sangat merindukanmu.”

Sang gadis mulai bercerita kepadanya, tentang sesuatu yang indah. Tempat yang ingin ia kunjungi bersamanya. Gadis itu seolah menciptakan dunia baru. Dimana langit biru bersinar dan pesisir pantai berwarna merah muda.

Waktu seolah melambat, lalu berhenti. Yang ada hanya mereka berdua, dengan suara-suara lembut yang tak pernah bisa dijelaskan. Dia tidak banyak bertanya, lebih memilih untuk mendengarkan.

Dan, Sang gadis pun mengakhiri ceritanya dengan, “kau adalah hal terbaik yang pernah kutemukan dalam hidupku.”

Timbul keheningan yang panjang. Lucunya, dia juga merasa demikian.

Tahu-tahu hatinya terasa pecah, dengan tiba-tiba. Tangisnya meledak, sikap tenangnya lenyap, dipelukya gadis itu erat-erat, isak tangis mengguncang tubuh mereka, namun mereka tak peduli, sebab gelombang kesedihan yang amat sangat melanda keduanya. Mengalahkan logika, merobek-robek hatinya, menyeretnya untuk tenggelam dan dia merasa tak berdaya.

*

Udara siang itu terasa hangat, angin sepoi-sepoi membawa aroma berbekyu dari kejauhan, minyak hangat yang dibalurkan di kulit, serta bau asin samar-samar dari laut. Dia dan Sang gadis berpiknik di bawah pohon kelapa yang bengkok. Pasir di depan mereka berwarna kehitaman dan berbau arang, sepertinya ada yang telah menyalakan perapian semalam, barang kali untuk memasak atau menghangatkan diri sebelum bara api itu tersapu ombak pasang.

“Aku tidak ingin pulang.” Sang gadis berkata memecah keheningan.

Dia tak dapat mengira maksud gadis itu sebenarnya, dia tidak ingin pulang. Pertanyaannya adalah, pulang kemana?

Memang berat untuk meninggalkan tempat ini. Dia tak menyangka tempat-tempat seperti ini ada tak jauh dari tempatnya tinggal dan bukan hanya ada di film-film.

Pantai itu sepi, biasanya orang-orang akan berpiknik pada musim panas. Dia mengamati beberapa pasangan hanya berjalan di bibir pantai, bermain air atau pasir kemudian pulang, digantikan dengan pasangan lainnya.

Tempat mereka cukup tersembunyi, tak banyak menarik perhatian. Hanya beberapa orang yang kebetulan lewat di hadapan mereka dengan wajah bertanya-tanya apa yang dilakukan dua orang gadis remaja berpiknik di pantai saat musim dimana hujan biasanya datang.

Waktu. Satu hal yang tidak banyak mereka miliki.

Mendamba waktu.

“Jika suatu hari nanti, kau harus kembali sendiri. Sampaikan padaku sebuah pesan yang dapat mengarungi samudera. Mungkin, ikan-ikan akan membawanya padaku.”

Dia tidak tahu kapan dadanya mulai sesak, pandangannya mulai kabur dan tubuhnya gemetar. Wajahnya basah oleh hujan air mata.

Sang gadis membungkuk, menautkan bibir mereka. Secara inisiatif dia mengangkat tangan dan merengkuh pundaknya. Dia ingin detik ini berlangsung selamanya, dengan berat tubuh Sang gadis yang lembut dalam pelukannya. Tapi bahkan dalam ciuman mereka pun, dia merasa kesepian.

Dalam keheningan napas mereka menyatu, air mata menjadi garam pada kulitnya, dan dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa di suatu tempat, partikel-partikel kecil diri gadis itu akan menjadi partikel-partikel kecil dirinya, yang akan dicerna, ditelan, dihirup dan hidup, tak lekang oleh waktu.

Setelah beberapa menit, dia mundur dan memegangi kepala Sang gadis dengan kedua lengannya dan menatap mata dengan bulu mata lentik itu. Apa yang ada di balik mata itu? Sensasi dan gambar dan dunia-dunia yang hanya bisa diterkanya. Dia mencintai gadis ini.

“Jaga dirimu baik-baik.”

Dengan berlinang air mata, dia mengangguk.

Aku mencintaimu.

Wajah Sang gadis bercahaya dan dia tersenyum begitu manis hingga hatinya terasa perih. Dia tahu dia takkan pernah melupakan momen ini.

“Dan aku padamu.”

Waktu.

Bersama terbatasnya waktu, mereka bernyanyi, tertawa dan menangis untuk terakhir kalinya dibawah langit biru. Menyuarakan janji-janji yang tak terucap bersama kicau burung.

*

Langit berwarna kelabu diselang hujan.

Dia gemetaran hebat dan wajahnya terasa perih karena dingin. Apa yang sering dikatakan Sang gadis padanya? ‘Jangan hujan-hujanan atau kau akan sakit!.’ Namun saat ini dia tidak peduli.

Sudah beberapa jam dia berdiri di tempat yang sama. Tetapi tak terbesit dalam benaknya untuk pergi.

Anomali.

Apa yang lebih ganjil dari hujan yang turun dibulan Agustus? Hujan yang meresonansi kenangan yang pernah terjalin.

Di atas batu nisan, dia ingin melupakan hujan. Mungkin dengan itu, dia dapat memusnahkan rasa sakit yang menghantam dadanya, membuatnya tenggelam dalam keputusasaan. Dia ingin melupakan semua kenangan tentang hujan, seperti hujan itu sendiri yang menyapu jajak rasa dalam hatinya.

Sejenak kenangan-kenangan membanjir kembali. Sesaat dia memejamkan mata, kepedihan dari kenangan begitu terasa sehingga tanpa sadar dia menyentuh dadanya.

Dia dengan mudah dapat memainkan kembali kenangan di mana mereka tertawa lepas, semua lagu yang mereka nyanyikan, namun hal itu  membawanya semakin larut dalam kesedihan.

Dia dapat dengan mudah menemukan jalan menuju rumah dengan ayunan tua. Bersandar dengan kaki terayun dan air mata yang membasahi tanah, berharap waktu akan membawanya kembali pada saat dia dapat menggenggam tangan Sang gadis, mengecup dahinya, melihat senyum terindahnya. Namun dia tidak akan pernah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Sang gadis meninggalkan banyak kenangan bersamanya. Kenangan yang dia harap bisa dihapusnya bersama hujan terakhir yang membasuh bumi.

Dia mengadahkan wajah ke langit kelabu, menantang kejamnya hujan. Menyampaikan pesan pada arak-arakan awan serupa jelaga.

Adakah di sana kau bertanya? Masihkah kau memandang hujan yang sama? Ingatkah saat kita basah bersama? Berdiri berhadapan. Saling bertatapan. Dalam gigil namaku kau panggil. Masihkah kau ingat nama itu?

Jika memang hujan tak dapat menghapus kenangan, setidaknya dia berharap hujan dapat membawa gadis itu kembali.

“Aku merindukannya.”

Suara itu.

Dia tidak mempercayai apa yang ada di hadapannya kali ini.

“Kau juga?”

Itu dia. Sang gadis berjongkok di sampingnya, tersenyum dengan kesedihan yang mendalam.

“Aku Tiffany.”

Apakah dia bermimpi? Apakah dia sudah berada di surga sekarang dan bertemu dengan cintanya? Jika memang begitu, biarkanlah dia berada dalam momen seperti ini selamanya. Hujan mengabulkan permintaanya.

“Aku mendengar banyak tentangmu.” Gadis itu tertawa kecil, menyembunyikan kesedihan dalam tawanya.

“Sebenarnya belakangan Miyoung hanya bercerita tentangmu.”

Gadis itu mengamatinya, menunggu jawaban sebelum kembali melanjutkan. “Ah, dia pasti tidak menceritakannya padamu. Ya, dia adikku. Kami hanya berbeda satu menit.” Dia kembali tertawa. “Namun dalam beberapa hal kami sangat berbeda, walaupun kami sama-sama menggilai merah muda. Aku sangat merindukannya, kau juga kan?”

Mereka begitu mirip, dia takkan bisa membedakan mereka jika rambut Tiffany tidak dicat merah. Dia tidak dapat menahan dorongan untuk menyentuh wajah Sang kembaran, wajah yang sangat dia rindukan. Dia ingin dapat memeluk wajah itu selamanya.

Saat tangannya hendak menyentuh ujung rambutnya, Tiffany menghentikannya sambil menggeleng.

“Aku bukan Mi Young.”

Dia merasakan hatinya kembali hancur untuk kedua kalinya. Rasa sakitnya kali ini tak terbendung. Tentu saja dia membayangkan mereka berdua adalah sama. Namun dia tidak bisa memperlakukan mereka dengan sama kan?

Walaupun keduanya memiliki senyum yang sama, dia menemukan dirinya tak dapat mengalihkan pandangan dari wajah Sang kembaran.

“Aku akan kembali ke LA dalam waktu dekat.”

Wajahnya ragu-ragu dan dipenuhi kehati-hatian. Tiffany tak seimplusif dan seceria Mi Young. Gadis itu lebih dewasa dan lebih berhati-hati.

“Aku tidak tahu kapan aku akan kembali. Namun aku pasti kembali. Mom dan Dad butuh anak untuk diasuh.” Lagi, lagi dia tertawa sendiri.

“Dan, jika saat itu tiba. Kuharap hatimu sudah sembuh karena aku ingin berteman denganmu.”

Tanpa dia duga, Tiffany melandaskan ciuman di pipinya sebelum akhirnya gadis itu pergi, meninggalkannya bersama sebuah payung merah muda.

Berjam-jam terlewati, matanya menangkap spektrum cahaya warna-warni yang dihasilkan oleh matahari yang muncul setelah hujan pergi. Seperti pelangi, alam berjanji bahwa masa buruk telah usai dan masa depan sedang menunggu untuk ditelusuri.

Seperti pelangi, Tiffany datang dalam hidupku dan menyapu pilu yang mengakar dalam rindu. Dalam badai yang tak bersuara, kusampaikan janjiku pada rintik hujan di atas batu nisan, kali ini aku akan menjaga sebagian dari dirinya yang tertinggal.

END-

Note :

Dia : Taeyeon.

Sang gadis/Gadis itu : Hwang MiYoung.

Sang kembaran : Hwang Tiffany.

Ya, Taeyeon adalah seorang gadis bisu. Ya, MiYoung mengidap penyakit paru-paru yang tidak dijelaskan. Ya, mereka bisa berkomunikasi dengan cara yang tidak bisa dijelaskan.

Dan Ya, saya butuh banyak riset untuk menulis rated scene itu. Thanks. 😀

Dan sangat ya, saya punya 10 lembar karya tulis untuk diselesaikan, (yang mana belum terjamah sama sekali) *lol*

Entah sejak kapan gue mulai puitis!

Comments are HIGHLY appreciated. Please leave a comment so i know whether you love my story or, simply not.

Mohon maaf jika ada typo,

Miss you, xoxo

~S2s2 logo

Iklan

30 thoughts on “U R (Under the Rain)-bow”

  1. Ini cerita emang aga sulit di pahami karena rangkaian katanya yang tidak sederhana. tapi ketika kita benar2 membaca nya sumpah ini cerita berkelas sekali beda dari yang lain,pokonya kece banget😂😂

  2. Feel ny dapet keren tae kasihan di tinggal miyoung tapi gk papa ada kembarannya tiffany.ngomong” gue telat baca mulu nih wkwkwk

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s