diary, Uncategorized

Three words for Papa

funeral-arrangement

Kau akan tahu betapa berharganya sesuatu jika kau sudah kehilangan mereka.

Aku tak pernah tahu kata-kata itu begitu berarti hingga saat ini. Hingga aku kehilangan segalanya. Hidupku, orang-orang yang kusayangi. Hingga yang tersisa dalam diriku kini hanyalah sebuah memori.

Kemarin, aku bahkan tak sempat mengucap maaf padamu. Kubiarkan ego menguasai diriku.

Kau pergi begitu cepat, menyisakan rasa sesak akan penyesalan dan harapan yang belum sempat terwujud.

Kata sayang yang belum sempat terucap untuk yang terakhir kalinya.

Waktu.

Jika dapat kuputar ulang kembali. Takkan kukecewakan dirimu tuk yang kedua kali.

Papa, begitu banyak hal yang ingin kusampaikan padamu namun waktu merenggutnya dariku.

Maaf, aku tak sempat menjadi anak gadis yang begitu ingin kau miliki.

Maaf aku telah mengecewakanmu dengan begitu banyak hal yang tak sempat kulakukan dan banyak kata-kata indah yang tak sempat kuucapkan.

Aku tak layak menjadi putrimu, Papa. Karena yang pernah kuberikan padamu selama ini hanyalah luka.

Maafkan aku karena tumbuh menjadi seseorang yang tak pernah kau harapkan. Maaf, Papa.

Maaf karena aku bahkan tak pernah sanggup mengatakan bahwa aku menyayangimu.

Maaf, karena aku keluarga kita tidak pernah tumbuh menjadi keluarga yang normal. Bahkan, untuk menatap lama wajahmu saja aku tidak sanggup.

Aku tak pernah menyalahkan siapapun karena tumbuh seperti ini, Papa.

Maafkan aku karena tidak pernah terbuka tentang luka yang kualami semasa kecil. Tentang trauma-trauma yang membuatku tumbuh seperti ini, berbeda dengan gadis-gadis lain. Maafkan aku, Papa.

Jika sedikit saja aku mau terbuka, mungkin aku masih sempat memelukmu sebelum kau pergi menghadap-Nya. Mungkin kata maaf itu masih sempat terucap dari bibirku.

Kini, seiring dengan do’a yang kupanjatkan air mataku tak berhenti berlinang. Semua kenangan yang seharusnya kulakukan bersamamu bermain-main dengan indah di kepalaku, seolah mengolok, seolah mengejek, seolah menyalahkanku atas semua kebodohanku selama ini.

Tentang tiga kata yang tak pernah terucap.

Tentang hal-hal yang tak pernah terwujud.

Hatiku hancur.

Sangat menyakitkan, bagaimana satu-satunya hal yang menyatukan kita semua adalah kepergian.

Terima kasih, sudah mengajarkanku bagaimana bertahan hidup dalam keterpurukan.

Terima kasih, atas segala hal yang kau tunjukkan padaku. Kau mungkin tak pernah mengajarkanku, Papa. Kau menunjukkan caranya padaku. Cara yang entah mengapa sebelumnya tak pernah kumengerti.

Aku berjanji akan lebih peduli dengan sekitarku. Untuk tersenyum lebih banyak. Untuk lebih menerima keadaan. Untuk tidak selalu mengharapkan kesempurnaan.

Kau mengajarkanku kesempurnaan dalam ketidaksempurnaan. Kau bilang semua orang pasti membuat kesalahan, it’s okay to not be okay.

Selama ini yang kuinginkan hanya tak ingin merepotkan siapapun, apalagi dirimu.

Kau bilang aku tumbuh terlalu keras. Kau sendiri demikian. Kita sama dalam beberapa hal, seperti dua kutub magnet yang serupa.

Maaf, aku lalai mengetahui bahwa diam-diam kau membanggakanku. Sometimes, it just seemed that nobody cares bout me. Like literally nobody. Now, i know it was like that because i never opened my heart to anyone. I never told you about any of my problem, what caused me so restless, i‘ve always appeared to be okay like i had no problems at all. With my statue face, you must believed me that i was really okay everytime, like i never needed you but I did, I do. I just never said that. I never said anything. That was my fault.

Papa, ketahuilah bahwa tiga kata sederhana itu begitu nyata.

Aku mencintaimu, Papa.

 

Aku memandang sekitar, melihat kedelapan saudaraku menatapku dengan haru sebelum kututup surat itu dan kulepaskan bersama puluhan balon terbang. Berharap entah bagaimana surat itu akan terbaca olehnya.

Aku sudah berjanji untuk lebih terbuka mengenai apa yang aku rasakan, tidak semua orang harus terlihat kuat. Mereka mengajarkanku bahwa menunjukkan perasaanmu yang sebenarnya adalah tindakan orang-orang yang kuat, bukan sebaliknya.

Aku akan melawan rasa takutku, semua luka dan traumaku.

Terima kasih, karena meninggalkanku bersama kedelapan saudari yang telah menjadi keluarga baruku.

Aku akan melakukan yang terbaik untuk tidak lagi mengecewakanmu.

Be happy up there, Papa. I’m here to take over the rest. I’ll take a really good care of Mama. From your Daughter who loves you so much, S.

Iklan
Dengan kaitkata

12 thoughts on “Three words for Papa”

  1. Aku masih punya papa tapi selalu berbeda pendapat dan berbeda karakter, trkdang rasa kesal akan ada entah itu dia atau aku tp toh manusia mmng tak sempurna; membuat kesalahan dan marah adalah kodrat kita. Meskipun diumur ini aku tak prnh bertegur sapa lagi dengannya dalam satu rumah yg kurang harmonis, tp dengan diam aku mendoakan yg terbaik untuknya.

    Terimakasih sudh mengingatkan tentang waktu yg singkat bersama keluarga, aku kadang tak prnh bisa membyngkn kehilngn mereka, semoga kamu dan yang lainnya ttp kuat untuk mengabulkan harapan orng trcinta yg tak lagi ada disini.

  2. Huff… Sekuat apa pun prempuan pasti hati Dan pikiran gak akan singkron ^^ dimna aer mata kian merebak mengolok kesakitan hati yg tak mampu membendung sebuah kisah hidup seorang prempuan ^^.. Trauma? 1 kalimat mengerihkan bagi sebagaian orang yg mempunyai kenangan pait namun akan indah jika itu disebut memory, . jgn dihindari,, lawan lah dgn ke inginanmu ^^ kelak qm akan tau seberapa hebat dirimu mengalahkan trauma hingga detik nie. …
    Dan qm yg bterhebat… U strong girl ^^ … Ia qm dan hanya qm°^^

Komentar tidak dipungut biaya ✿ Tae♡Ny ✿

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s